Catatan Kaki 70: Hingga Kerbau pun Boleh Buang Kotoran di Singgasana

Standar

Bangunan keraton dibuat seperti sebuah lingkaran yang sama dan sebangun.

Dengan meletakkan Dalem Ageng Prabasuyasa, rumah kediaman raja sebagai titik pusatnya. Lalu bangunan benteng Baluwarti sebagai lingkaran pertama. Dan Kori Brojonolo menjadi lingkaran kedua sekaligus gerbang terluarnya.

Jadi kalau kita mau masuk keraton dari arah utara, akan melewati urutan yang sama dengan ketika masuk dari arah selatan. Dari pintu masuk utara akan melalui gapura Gladhag, alun-alun utara, Sitinggil utara, Kori Brojonolo utara, Kori Kamandungan, Sri Manganti, dan barulah bisa masuk ke keraton.

Maka demikian pula kalau kita masuk dari arah selatan, yang merupakan kebalikannya. Akan melewati gapura Gadhing, kemudian alun-alun selatan, Sitinggil selatan, Kori Brojonolo selatan, Kori Saleko, Magangan, dan sampailah di keraton.

Terjadi yang demikian, karena sebenarnya sisi bangunan selatan adalah penyeimbang dari bangunan utara. Karena itulah maka bentuk bangunannya pun sama. Misalnya bangunan gapura Gladhag yang sama dan sebangun dengan gapura Gadhing.

Tentang sisi selatan dan utara yang sama sebangun itu, sebenarnya merupakan simbolisasi dari sebuah keseimbangan alam raya. Sebuah perlambang keberadaan seorang raja yang merupakan sumbunya semesta. Sebab gelar raja Solo adalah Paku Buwono, yang berarti ‘Sumbunya Semesta’. Sebuah penafsiran ala Jawa, terhadap hadirnya kekuasaan manusia sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di muka bumi.

Hal ini pun sama, ketika kemudian keraton Solo pecah jadi dua. Pecahan dari keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi keraton Kesultanan Jogjakarta Hadiningrat, dengan gelar rajanya menggunakan Hamengku Buwono. Kalimat yang sama maknanya dengan Paku Buwono, sebab Hamengku Buwono berarti ‘Memangku Semesta’.

Dan itu pun terjadi lagi, ketika Keraton Solo harus pecah lagi menjadi dua wilayah kekuasaan dengan keraton Mangkunegara. Sang raja yang bergelar Mangku Negara pun sama maknanya, karena dalam bahasa Jawa berarti ‘Memangku Negara’. Sedangkan pecahan dari keraton Kesultanan Jogjakarta Hadiningrat yang menjadi Pakualaman, gelar rajanya pun Paku Alam. Sebuah kata yang berarti ‘Sumbu Alam’.

Maka tak heran, kalau bangunan keraton Jogja pun sama dengan susunan keraton Solo sebagai induk utamanya. Namun tidak demikian dengan Mangkunegaran dan Pakualaman, yang kedudukannya sebenarnya berada di bawah kedua kerajaan tersebut. Karena keduanya hanya berstatus kadipaten. Maka bangunannya tidak berpola lingkaran dengan sebelah utara dan selatan saling mengimbangi.

Namun meskipun bangunan di sebelah selatan dalah penyeimbang, dan bangunannya pun sama, sepertinya tidak begitu dengan pemeliharaannya. Paling tidak itu yang kulihat dari keberadaan bagian selatan bangunan keraton Solo. Salah satunya yang kulihat dengan penuh keprihatinan adalah ketika memasuki alun-alun kidul.

Begitu memasuki pelatarannya, di sana telah berdiri gagah pintu gerbang bernama Kori Brojonolo Kidul. Gerbang pintu selatan ini sama fungsinya dengan Kori Brojonolo Lor yang berada di sebelah utara, tepat di depan Kamandungan. Sebuah gerbang yang menjadi jalan keluar masuk keraton, dan menjadi jalan melingkari Baluwarti.

Sebagai pertahanan belakang keraton, di Kori Brojonolo Kidul juga terdapat bangsal untuk berjaga para prajurit. Dua buah bangsal jaga yang juga bernama Bangsal Brojonolo Kidul yang dulu dijaga rapat oleh prajurit tamtama. Yang di kanan kirinya menjadi tempat kediaman mereka. Yang sekarang telah menjadi sebuah perkampungan dengan nama Tamtaman.

Namun sekarang tak ada lagi kulihat satu pun prajurit yang bersiaga di sana. Karena yang kudapatkan kini hanyalah jajaran penjual makanan kaki lima. Menjadi tempat yang asyik untuk menikmati bermacam jualan mereka. Tersedia komplit dari mulai bakso, mie ayam, sate ayam, ayam goreng, es buah, es kelapa muda, siomay, hingga ayam bakar .

Dan karena sejak berangkat tadi aku belum istirahat, maka aku pun tertarik melepas lelah sejenak di sana. Mengikuti arus pembeli yang paling banyak masuk ke sebuah warung, maka aku pun memesan seporsi ayam goreng. Dan kukira itulah cara yang paling sederhana untuk mengetahui makanan mana yang paling enak di antara semua jajaran penjual yang ada. Yaitu dengan penuh dan tidaknya para pembeli yang ada.

Aku pun turut beristiratahat, dan memesan seporsi ayam goreng dengan kepulan nasi panas yang mengundang selera. Sambil membayangkan pada jaman dulu, hal semacam ini mungkin tak akan diperbolehkan oleh para prajurit jaga.

Ayam goreng kremes tak lama kuhabiskan. Karena sejak dulu aku selalu mengidap penyakit sulit menikmati makanan. Selalu ingin cepat menghabiskan, agar terbebas dari rasa lapar, hingga kemudian bisa melanjutkan pekerjaan selanjutnya.

Maka demikian pula pada siang kemarin, saat aku menghabiskan ayam goreng yang sangat garing dan gurih itu. Tak butuh lama untuk menandaskannya. Karena jam di hapeku telah menunjukkan pukul setengah lima. Dan senja sebentar lagi datang.

Setelah membayar makanan dan minuman yang kumakan, aku melanjutkan perjalanan. Yang sebenarnya tinggal selangkah lagi, sebab aku sudah berada tepat di ambang alun-alun selatan. Karena dalam petaku, setelah melewati Kori Brojonolo Kidul, akan bertemu dengan Sitinggil Kidul yang langsung berhadap-hadapan dengan alun-alun selatan.

Dan tak kusangka sebelumnya, bahwa tempat yang saat itu kulewati adalah Sitinggil Kidul. Dalam pengetahuanku, Sitinggil adalah tempat raja bertakhta. Karena sebutan Sitinggil bermula dari candrasengkala Siti Inggil Palenggahaning Ratu, yang berarti ‘tanah yang ditinggikan sebagai tempat bertakthanya Raja’.

Maka aku benar-benar tak menduga, bangunan yang berada tepat di depanku waktu itu adalah Sitinggil. Karena begitu aku datang, sebuah lenguhan kerbau langsung menyambutnya.

Yang ketika kuperhatikan dengan seksama, ada lima ekor kerbau yang mendiami tempat yang kumuh dan kotor itu. Yang sepertinya memang telah dijadikan menjadi kandang baginya. Lengkap dengan keberadaan kolam lumpur sebagai tempat mandinya.

Tentu karena telah menjadi kandang kerbau, Sitinggil pun menjadi tempat makan, tidur, dan buang kotoran baginya. Dan bau kotoran kerbau yang memenuhi hampir seluruh bangunan sangat memualkan. Sangat menyengat penciuman. Apalagi untukku, yang perutnya baru terisi ayam goreng. Serasa mual mencium kotoran kerbau yang menjijikkan dan menebarkan bau busuk menyengat.

Karena tak tahan dengan baunya, aku pun segera meninggalkan bekas singgasana raja itu. Takut kalau lama-lama di sana, justru mual yang kutahan bisa berlanjut menjadi muntah betulan. Namun sekadar untuk kenang-kenangan, sempat kupotret dua ekor kerbau yang tengah mandi di kubangan. Dan seekor lagi yang ada di bangunan singgasana.

Sungguh luar biasa, seekor kerbau duduk di atas takhta, batinku penuh keheranan.

Sambil berjalan melingkar benakku mendadak berputar. Dan tak bisa kupahami, ketika sebuah peninggalan sejarah, sebuah area yang bagi keraton sendiri merupakan tempat yang sakral, justru dijadikan sebagai kandang kerbau. Entah ini sebuah kehormatan, atau suatu penghinaan atas kekuasaan.

Dan setelah itu, sungguh aku tak berani mengambil kesimpulan apa pun juga. Tentang keberadaan kerbau-kerbau di Sitinggil itu, yang sesungguhnya mungkin bisa menjadi cerminan kondisi keraton hari ini. Ketika raja telah kehilangan kekuasaannya.

Hingga seekor kerbau pun boleh buang kotoran di singgasananya.

oleh Nassirun Purwokartun pada 11 Maret 2011 pukul 22:31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s