Melodi Sunyi 6 : Pelajaran dari Dahlan

Standar

Akhirnya selesai juga, membaca buku dengan sangat cepatnya.

Buku setebal 260an halaman, berjudul ‘Pelajaran dari Tiongkok’, tuntas dalam beberapa jam saja.

Maka kalau tadi pagi aku tuliskan pengamatanku yang belum lengkap, karena baru membaca beberapa halaman, sore ini sudah seluruh halaman catatannya kulahap. Namun ternyata, kesan yang kutangkap setelah selesai membaca tak beda dengan ketika baru sedikit mencicipinya. Bahwa Dahlan memang dahsyat. Bahwa catatan Dahlan memang sarat pelajaran. Yang secara sepintas pagi tadi sudah aku tuliskan dengan beberapa catatan pelajaran.

Namun selain pelajaran tentang menulis catatan harian yang penuh hikmah, aku juga menemukan hikmah yang lain dari seluruh tulisannya. Dan inilah pelajaran yang kudapatkan dari tiga buku catatan harian Dahlan Iskan itu.

Satu. Semangat belajar yang tak kunjung padam. Di usianya yang sudah setengah abad, masih mau repot-repot belajar bahasa mandarin. Bahkan langsung mengambil kuliah bahasa tersebut dari negeri asalnya, Tongkok. Benar-benar menjadi mahasiswa baru lagi, memulai segalanya sedari awal lagi, dengan kos dan hidup sendiri, dengan jam masuk 17 jam sehari.

Dua. Di posisinya yang sudah mapan, menjadi CEO sebuah perusahaan besar, dan masih mengurusi banyak anak perusahaan yang lain, ternyata masih mau belajar dan menyempatkan diri menuliskan catatan hariannya. Dengan kekayaan yang sudah tak perlu disangsikan lagi, bahkan mungkin bisa untuk menghidupi tujuh turunan, ternyata tak menghalanginya untuk terus belajar mendapatkan sebanyak mungkin pengetahuan.

Tiga. Dengan usia tua yang konon otak usia setengah abad sudah malas berpikir berat, dia masih mau belajar Bahasa mandarin yang sedemikian sulitnya. Banyak kata yang bermakna ganda. Dari sekadar beda nada saja sudah beda arti. Dari kata yang sama bisa mengandung arti yang 17 macam. Sedemikian sulitnya, sedemikian rumitnya, tapi besar benar tekadnya untuk bisa. Sesuatu memang butuh pengorbanan, butuh keseriusan. Dan dia telah melakukan.

Empat. Aku menemukan ‘hikmah nabi’ yang berbunyi ‘tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina’ secara meyakinkan, adalah di cerita-ceritanya. Ternyata untuk menuntut ilmu ke negeri cina, bukan faktor jauhnya tempat kita ke negeri Cina. Bukan karena jarak. Bukan seolah bahwa untuk menuntut ilmu harus rela mengambilnya dari tempat yang jauh. Tapi lebih karena sulitnya. Sedemikian sulit bahasa cina dipelajari, hingga pemerintah cina pun sempat melakukan penyederhanaan. Belajar ke cina, bukan karena jauhnya. Tapi karena sulitnya. Bahwa tuntutlah ilmu, meski pun sulit mendapatkannya. Bukan jauh mengambilnya.

Aku mestinya bisa berkaca padanya. Dan malulah rasanya, kalau sampai tak bisa.

Dia yang sedemikian sibuk dan padat agenda hariannya, selalu bisa menemukan hikmah. Yang dalam sehari bisa mempunyai agenda berbeda dalam empat kota. Harus terbang ke mana-mana, namun selalu bisa mencuri waktu untuk menuliskan ‘pelajaran’ dalam perjalanan kesehariannya.

Sedemikian peka radarnya, hingga bisa menangkap semua pelajaran dalam hidupnya. Sementera aku yang tak punya kesibukan apa pun, sampai hari ini tak menemukan cahaya. Atau mungkin aku yang tertutup cahaya?

Dia yang sedemikian sibuknya, selalu bisa meluangkan waktu untuk menulis catatan harian. Tak pernah absen  setiap hari. Selalu ada waktu untuk memfokuskan pikiran, menenangkan perasaan, dan menuliskan catatan kehidupan yang sarat pelajaran.

Dia yang sedemikian tua, masih mau repot belajar bahasa yang sulitnya minta ampun. Mestinya tak ada kata menyerah untuk terus belajar. Tak ada kata terlambat untuk memulai.

Maka, sekaranglah waktunya bagiku untuk membuktikan keseriusanku menulis. Mungkin inilah rencana yang bisa kulakukan, sebagai pelajaran bahwa aku memang mau hidup dari menulis.

Satu. Aku harus benar-benar fokus pada menulis. Tak ada pekerjaan apa pun yang dilakukan, hingga menjadikan alasan tidak fokus pada menulis. Aku mungkin menolak semua order pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan tulis menulis. Semacam desain dan setting, aku hanya meluangkan waktu seminggu tiap bulan, untuk biaya hidup saja. Jadi yang seminggu untuk kerja, yang tiga minggu untuk fokus belajar menulis.

Dua. Benar-benar memaknai yang dibaca. Semua yang dibaca, selalu dicerna dengan jiwa, hingga ada hikmah yang bisa diambil manfaatnya. Dan benar-benar mendalam, tidak sekadar lewat saja.

Aku akan mencoba membaca buku-buku yang telah kupunya dengan samangat belajar yang berbeda. Bukan lagi sekadar baca, yang nempel di otak, tapi kemudian lewat. Akan kudata buku mana saja yang bisa menunjang belajarku untuk menulis. Dan akan kutiru gayanya, agar aku mendapatkan kemampuan menulis yang sama. Untuk kemudian belajar lepas dari pengaruhnya.

Tiga. Benar-benar peka pada gerak pelajaran. Aku harus melembutkan hati, agar tak terlewatkan segala hikmah yang mampir di kehidupanku sehari-hari. Intinya, aku harus menguatkan ibadah harianku. Paling tidak, kalau selama ini hanya shalat jamaah dan dhuha saja, dan sering bolong rowatibnya, harus segera didisiplinkan untuk tidak jadi kebiasaan.

Empat. Benar-benar belajar menulis dengan waktu yang disiplin. Harus benar-benar menulis. Apapun yang ditulis. Dan aku telah memilih waktu pagi hari. Dari semenjak bangun tidur, sampai shalat dhuhur. Aku harus menulis. Semua kegiatan yang lain, dipindahkan ke habis dhuhur. Jadi dari bangun, harus menulis, sampai dhuhur.

Ya allah, berilah aku kekuatan. Sejak hari ini, semua pelajaran akan kutangkap, sebagai bentuk syukur nikmat.

Dan pagi ini, telah kutangkap ‘Pelajaran dari Tiongkok’.

Pelajaran dari Dahlan Iskan!

Jumat, 08 Mei 2009

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 13 April 2011 pukul 17:41

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s