Catatan Kaki 71: Ringin Kembar yang Tak Kembar, Seperti Rakyat dan Wakilnya

Standar

Tidak selamanya yang bernama kembar, harus selalu kembar.

Dan itulah yang kulihat dalam jalan-jalan ke alun-alun kidul keraton Solo.

Karena mestinya yang ada di tengah alun-alun adalah ringin kembar, atau beringin kembar. Namun beringin Ki Jayandaru ternyata lebih subur tumbuhnya dari beringin Ki Dewandaru yang kurus kering dan meranggas. Maka karena yang tumbuh di kanan jalan tak sama besar dengan yang di kiri, mungkin lebih baik kalau diganti nama menjadi ‘ringin ora kembar’, atau beringin yang tidak kembar.

Jadi meskipun kembar, dan memiliki nama yang  sama maknanya (Dewandaru dan Jayandaru sama-sama bermakna kejayaan), karena beringin adalah pohon yang juga makhluk hidup, tumbuhnya tak harus sama. Mungkin tergantung perawatan yang tidak sama baiknya antara yang kiri dan kanan. Sebuah perhatian yang mungkin telah timpang.

Dan soal ketimpangan itu bukan hanya pada pohon beringin saja. Karena ketidaksamaan itu terjadi pada seluruh bangungan keraton di sebelah selatan. Dari mulai Magangan, Gadhungmlati, Saleko. Brojonolo Kidul, Sitinggil Kidul, dan sekarang alun-alun kidul.

Padahal mestinya, karena alun-alun kidul adalah pasangan dari alun-alun lor, maka perawatannya pun harus sama. Sebagai bentuk keadilan dari ke-adiluhung-an yang tak selayaknya mban cinde mban siladan pada bangunan yang saling berpasangan.

Namun entah kenapa, alun-alun kidul seperti luput dari perhatian. Bahkan selama puluhan tahun seolah tak terawat dan terbengkalai. Hingga kawasan yang seharunya merupakan halaman depan keraton pun menjadi kumuh dan kotor. Kekumuhan yang membuat kesan mesum pada kawasan yang dulu sempat rimbun oleh semak. Yang ketika malam hari menjadi gelap remang-remang tanpa penerangan lampu yang mencukupi. Yang membuat alun-alun kidul sempat menjadi tempat ‘remang-remang plus-plus’.

Dan soal ‘keplus-plusan’ kawasan ini, sempat menjadi ikon ‘kurang baik’ tentang Solo. Apalagi ketika beberapa tahun silam, Solo mempunyai kawasan prostitusi ‘resmi’ di daerah Silir. Dan alun-alun kidul, yang akrab disebut alkid, menjadi tempat yang tak resmi untuk transaksi ‘jalanan’nya.

Mengenang kawasan alkid Solo sebagai kawasan ‘transaksi;, aku jadi teringat sebuah cerpen karya Marselli Sumarno, yang kubaca sepuluhan tahun lalu. Sebuah cerpen yang dimuat di harian KOMPAS, dengan judul (kalau tak salah) ‘Puteri Keraton.

Dikisahkan dalam cerpen itu, ada seorang boss dari Jakarta yang datang ke Solo. Sebagai lelaki hidung belang, sudah lama ia sangat terobsesi untuk bisa ‘menikmati’ putri keraton yang telah terkenal dengan kecantikannya. Maka ketika si boss ini menginap di hotel berbintang di Solo, ia pun memesan ‘teman’ khusus pada resepsionis. Dan dia berani membayar mahal, asal malam itu bisa ‘menikmati’ putri keraton.

Resepsionis hotel yang dipesan pun kelabakan. Karena selama ini, stok perempuan yang bisa diajak kencan hanyalah perempuan biasa. Maka permintaan itu pun ditolak, karena tak mungkin bisa mengundang puteri keraton untuk bertindak ‘plus-plus’.

Namun dengan iming-iming uang yang besar, akhirnya ia menerima. Dan setelah berusaha seharian, akhirnya ia benar-benar bisa membawa seorang putri keraton ke hotelnya. Dan si boss pun merasa bangga dan bahagia, bisa menikmati Solo di waktu malam dengan ditemani putri keraton yang terkenal kehalusan budinya. Sebuah tindak yang dianggapnya sebagai pencapaian terpuncak atas ‘kehidung belangannnya’.

Maka setelah itu, si resepsionis pun mendapatkan bayaran mahal atas kerja kerasnya. Bayaran yang harus dibagi dua dengan seorang tukang becak yang ditemuinya ketika mangkal di alun-alun kidul. Tukang becak yang mempunyai kerabat putri keraton.

Tukang becak yang tanpa diketahuinya, sebenarnya telah melakukan ‘penipuan’ padanya. Sebab putri keraton yang dibawa dalam becaknya, hanya bohong-bohongan belaka. Perempuan yang lemah lembut itu bukanlah putri dari keraton Solo. Melainkan pelacur alkid langganannya, yang ‘dipermak’ untuk mengaku menjadi seorang ‘putri’. Perempuan nakal pinggir jalan yang harus mengaku sebagai putri keraton Solo.

Namun itu cerita masa lalu, ketika alkid masih menjadi kawasan kumuh dan remang-remang. Sebab sekarang, kekumuhan itu sudah tak ada. Termasuk jalan yang melingkar pun telah diperbaiki dan ditata rapi. Sebuah kerja dari pemkot Solo yang layak dipuji.

Untuk melanjutkan perjalanan, aku pun melangkah ke tengah alun-alun kidul, sambil melupakan image alkid yang mesum itu. Kawasan yang pada sepuluhan tahun silam masih menjadi tempat yang terkenal dengan ‘becak bergoyang’nya. Yang di bawah ringin kurung, konon, justru menjadi tempat terfavorit untuk ‘bergelap-gelapan’.

Dan karena sejak awal masuk alun-alun kidul sudah tertarik (tepatnya: terusik) dengan tidak kembarnya ringin kembar, maka aku langsung menuju ke sepasang beringin itu. Untuk melihat dari dekat ketidak kembaran sesuatu yang seharusnya kembar.

Tapi begitu sampai di tengah alun-alun, aku jadi agak takut untuk mendekat. Karena tepat di bawah kerindangan ringin kembar itu, sedang berkumpul anak-anak punk dengan duduk melingkar. Para remaja dengan dandangan rambut Mohawk yang menjigrak ke atas. Dengan baju lecek dan jeans yang tak kalah kumal. Dan dandanan anting yang tak hanya terpasang di telinga, namun juga di hidung dan bibirnya.

Aku yang ingin memotret ringin kembar menjadi agak ragu mengetahui keberadaan mereka. Karena konon anak-anak punk paling tidak suka dipotret. Dan akan terpancing amarahnya kalau mengetahui ada orang yang berani memotret mereka.

Dan ternyata dugaan itu benar adanya. Sebab begitu aku mendekat dan memotret ringin kembar, mereka langsung berteriak-teriak. Sepertinya mereka menyangka aku tengah memotret kegiatan mereka. Maka dengan umpatan kasar mereka beramai-ramai berteriak mengusirku. Meski saat itu aku sudah berpura-pura tidak melihat dan memperhatikan keberadaan mereka.

Namun aku mencoba cuek saja. Tetap meneruskan memotret meski masih menyimpan perasaan takut. Dan untuk langkah aman, yang kupotret  kali ini bukan lagi ringin kembar. Melainkan pemandangan yang ada di sekelilingnya.

Saat itu tiba-tiba aku tertarik melihat seorang nenek tua yang sedang menjemur pakaian. Menjemur dengan cara digelar dan digeletakkan begitu saja di atas rumputan. Dari mulai baju, celana pendek, celana panjang, training, kaos, kain jarik, sampai pakaian dalam. Sebuah pemandangan yang mengingatkanku pada sebuah ‘pameran busana’.

Aku pun memotret ‘pameran busana’ yang menurutku unik itu. Meski harus dari kejauhan, karena takut nenek itu mengusirku seperti anak-anak punk sebelumnya.

Akhirnya, dengan kamera yang kubuat zoom, bisa kufoto semua ‘benda pamerannya’. Terutama baju-baju yang membuatku ‘terpesona’. Yakni kaos-kaos yang terdiri dari bermacam warna dan gambar. Dari mulai kaos merah bergambar banteng berhidung putih, kaos biru bergambar bintang segi tiga, kaos putih bergambar kotak hitam dan bulan sabit, kaos hijau bergambar ka’bah, dan bermacam warna serta gambar lainnya. Karena sesungguhnya, kaos yang tengah dijemurnya adalah kaos bermacam partai. Kaos yang mungkin didapatnya ketika pemilu lalu, dari bermacam kampanye yang diikutinya.

Sementara di sebelah ‘pameran busana’, kutemukan lagi bermacam gambar-gambar yang juga tengah dipamerkan. Terdapat di hamparan rumput itu, gambar televisi, tape recorder, kulkas, radio, juga computer. Dan ini adalah gambar-gambar yang terdapat dalam kardus bungkus peralatan elektronika. Yang rupanya merupakan hasil kerja kakek-kakek pemulung yang sedang menjemur kardus-kardus basah. Kumpulan ‘harta karun’ yang baru diambilnya dari berkeliling memungutinya di tempat-tempat sampah.

Sepertinya, meskipun sudah ditata menjadi taman kota, para gelandangan penghuni lama masih tetap berdiam di alkid. Karena di barat alun-alun, kemudian kulihat gubuk-gubuk kecil berderet berhimpitan menempel pada tembok keliling yang kusam. Dan banyak kulihat mereka sedang berkumpul dan bercengkerama di sana.

Termasuk nenek dan kakek yang sebelumnya kulihat tengah menjemur pakaian dan kardus di tengah alun-alun. Yang telah membuatku terpesona dengan ‘pameran busana’ dan ‘pameran gambar’ yang sudah digelarnya.

Sejenak aku termenung, andai partai-partai itu bukan hanya menjanjikan kesejahteraan rakyat dalam kampanye pemilu saja. Kalau saja bukan sekadar memberikan kaos pada para rakyat pemilihnya. Namun benar-benar bertindak nyata mengentaskan mereka, mungkin gelandangan-gelandangan itu tak harus hidup demikian sengsaranya. Tanpa pekerjaan dan penghasilan yang layak untuk hidup layak sebagai rakyat yang hidup di negeri yang terkenal kaya raya.

Namun hari ini, sepertinya partai-partai itu hanya baru bisa memberi janji dan kaos saja. Hingga rakyat harus terus menderita dan sengsara, karena kesejahteraan miliknya masih saja ‘diwakili’ untuk dinikmati oleh wakil mereka.

Dan hubungan antara rakyat dan wakilnya terus terjadi perbedaan yang sangat lebar. Persis seperti ringin kembar yang seharusnya kembar namun ternyata tidak kembar.

oleh Nassirun Purwokartun pada 14 Maret 2011 pukul 23:26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s