Catatan Kaki 72: Sang Pecundang yang Terbang dengan Layang-Layang

Standar

Aku pernah merasakan sedihnya menjadi seorang pecundang.

Dan itu kurasakan waktu kecil dulu, ketika dalam permainan aku hanya dijadikan pupuk bawang. Hanya anak bawang kothong yang sekadar sebagai pelengkap permainan. Yang sesungguhnya, keberadaanku tidak masuk dalam hitungan. Karena tanpa aku pun permainan tetap berlangsung. Bahkan mungkin lebih meriah.

Sedih ketika mengingat masa-masa itu. Ketika aku betul-betul dianggap sebagai anak yang tak punya kemampuan apa-apa. Yang tak mempunyai kelebihan apa pun dalam seluruh permainan, kecuali menjadi penonton di pinggir lapangan.

Misalnya dalam permainan sepakbola. Di persawahan kering yang kami anggap lapangan, aku dan teman-teman sering bermain di sana. Namun karena semua tahu aku tak pandai membawa bola, mereka selalu memasangku sebagai penjaga gawang.

Sebagai penjaga gawang sesungguhnya pemain bola yang tidak dianggap pemain. Karena gawangnya hanya terbuat dari batu yang ditata selebar dua langkah, yang tanpa perlu dijaga pun, akan sulit bagi seorang pemain bisa menjebolnya. Hanya pemain yang benar-benar terlatih saja yang bisa menembak tanpa melenceng dari gawang. Jadi sebagai penjaga aku hanya berdiri saja di tengah, yang sesungguhnya, sama saja dengan posisi sebagai penonton.

Karena tak bisa main bola, aku pun memilih menjauh dari lapangan. Karena merasa bosan hanya jadi pelengkap, aku tak mau lagi dipasang jadi penjaga gawang. Aku menolak menjadi pemain yang hanya sebagai pelengkap permainan.

Maka ketika banyak anak-anak yang bermain layang-layang, aku pun tertarik ikut mereka. Namun dalam permainan ini pun, aku kembali menjadi pecundang. Dari seluruh temanku, hanya layang-layangku sendiri yang tak pernah bisa terbang.

Sudah kucoba berulang kali, bahkan dibantu dengan dipegang dan dibawa berlari, tetap saja tak bisa terbang. Sementara layang -layang temanku sudah mengangkasa semua. Meliuk liuk di udara dengan ekornya yang panjang seperti sebuah gerak tarian. Bahkan kemudian bisa berperang di udara, dengan saling menggesekkan benang yang tajam.

Dan aku pun kembali menjadi penonton. Karena layang -layangku masih saja di tanah. Seolah angin telah pilih kasih padaku hingga tak mau membawa layang-layangku terbang. Dan hanya bisa dimainkan dengan cara kubawa lari keliling lapangan saja.

Sebuah kenangan pahit tentang nasib menjadi seorang pecundang. Yang sepanjang pergaulan selalu dianggap tak punya keahlian apa pun dalam permainan. Mereka mengatakan kakiku kaku hingga tak bisa membawa dan memainkan bola. Demikian juga dengan tanganku yang tak bisa lihai menerbangkan layang-layang ke udara.

Dan entah kenapa, kenangan menyedihkan itu kemarin terbayang lagi. Ketika aku berjalan-jalan ke alun-alun utara pada saat menjelang senja hari.

Di alun-alun luas itu kulihat sekelompok anak yang sedang bermain bola. Dan di antara dua puluh anak yang sedang ramai bermain, kulihat seorang anak yang duduk sendirian di pinggir lapangan. Dia tidak ikut permainan, karena katanya pemainnya telah lengkap dan mengaku memang tak pintar main bola seperti teman lainnya.

Sejenak, aku merasa senasib dengannya, pada dua puluhan tahun yang silam. Menjadi pecundang yang tak pernah berhak terlibat dalam permainan. Menjadi anak bawang yang tak boleh turut bersenang-senang, apalagi untuk jadi pemenang. Dan untuk sekadar menghiburnya, anak itu kuajak ngobrol sambil beli somay di pinggir lapangan.

Dan kejadian yang sama kudapatkan ketika berjalan ke alun-alun sebelah barat. Kulihat sekelompok anak lainnya sedang bermain layang -layang. Di kelompok itu, kudapati juga seorang anak kecil yang sibuk dengan layangannya yang tak mau terbang. Sudah dicoba berlari berkeliling lapangan, namun tetap jatuh juga ke tanah. Sebuah nasib menyedihkan yang dulu pernah kualami juga.

Namun aku tak mendekati anak itu. Yang seolah telah putus asa untuk menaikkan layang -layangnya. Karena kemudian ia berlari meninggalkan alun-alun. Lalu asyik mencabuti rumput untuk diberikan pada kerbau bule di kandang yang ada di ujung utara alun-alun.

Sementara aku sendiri, kemudian asyik menonton anak-anak yang menerbangkan layang -layang. Sebagai anak yang tak pernah bisa menerbangkan, aku masih menyimpan kekaguman pada mereka. Yang seolah bisa membaca bahasa angin dan arahnya, hingga bisa membuat layang -layangnya terbang melayang. Dan kekaguman itu masih tersimpan sampai kini, meski berikut kenangan pahit dan menyedihkan turut membayang.

Ketika tengah menikmati layang-layang yang beterbangan itulah, tiba-tiba ingatanku melayang pada kisah Prabangkara. Salah satu tokoh yang ada dalam Babad Jaka Tingkir, sebagai tokoh yang dikisahkan pernah terbang menggunakan layang-layang.

Dikisahkan, Prabangkara adalah pelukis yang mampu menggambar persis seperti aslinya. Hingga Raja Majapahit memerintahkan untuk melukis seluruh keluarga istana yang ratusan jumlahnya. Tak terkecuali salah satu istri muda yang paling dicintainya. Namun khusus untuk dia, Prabangkara diminta untuk melukis dalam gambar tanpa busana. Namun tentu, ketika dilukis sang putri tak boleh menanggalkan pakainnya.

Maka dengan kemampuan imajenasinya, Prabangkara melukis hanya dengan menonton perempuan cantik yang  tetap berpakaian lengkap. Ia melukis dengan sepenuh rasa agar hasil yang tergambar sempurna, walau harus dengan cara membayangkan saja.

Namun sayang, karena ketidak hati-hatiannya, cat hitam yang ada pada kuas, menetes jauh ke kain gambar. Dan jatuhnya tepat di sekitar (maaf) kemaluan sang istri raja. Dan sebelum sempat noda cat itu dihilangkan, raja telah datang dan keburu melihatnya.

Maka tanpa disangka sebelumnya, raja justru kaget dan marah melihat hasilnya. Karena gambarnya ternyata sama persis dengan aslinya. Bahwa tanpa diketahui Prabangkara, ternyata di sekitar ‘tempat rahasia’ istrinya memang terdapat tahi lalat hitam.

Raja pun marah luar biasa. Bahkan menuduh Prabangkara telah berbuat tidak senonoh dengan istrinya. Tidak mungkin ia mengetahui ada tahi lalat, kalau tidak melepas pakaian istrinya. Prabangkara pun hendak dibunuh oleh sang raja.

Namun patih Majapahit memberikan jalan tengah, agar Prabangkara diusir saja. Karena bagaimana pun ia pernah berjasa. Maka ia pun diusir cara halus. Yakni diperintahkan untuk melukis seluruh alam angkasa lengkap dengan seisinya. Dari bermacam burung yang terbang di udara. Hingga bintang gemintang yang ada di atas sana.

Untuk melaksanakan itu semua, Patih membuatkan sangkar burung dengan ukuran yang besar, sebagai tempat Prabangkara menggambar. Sementara untuk membuatnya terbang, dibuatkan sebuah layang-layang raksasa. Dengan sangkar yang dicantolkan pada layang-layang itu Prabangkara dilepaskan ke angkasa.

Setelah itu, tali panjang yang ada pada layang-layang dilepaskan. Dan layang-layang raksasa itu pun membawa Prabangkara terbang ke angkasa. Terbang melayang sangat jauhnya dari Pulau Jawa, hingga konon Prabangkara mendarat di negeri Cina. Dia kemudian menikah dengan putri raja di Cina, dan beranak pinak di sana.

Terkenang kisah ini, jadi teringat buku ‘Putri Cina’ karya Sindhunata. Yang mencoba menarik kesimpulan, bahwa etnis Cina bukanlah bangsa asing bagi Indonesia. Karena mereka sebenarnya sama saja dengan berdiam di negeri leluhurnya, Prabangkara

Dan membaca sejarah panjang tentang etnis Cina di Indonesia, seperti membentang gulungan sejarah tentang pecundang dan pemenang. Ketika dalam bidang politik dan kekuasaan, mungkin mereka menjadi pecundang. Menjadi korban dalam setiap aksi kerusuhan massa yang berbau SARA. Namun dalam bidang ekonomi, merekalah sebenarnya sang pemenang. Sementara orang pribumilah si pecundang.

Maka berbicara tentang pecundang, aku sedang ingin sekali mengubah nasib menjadi pemenang. Karena sejak kecil dulu, aku telah kenyang menjadi pecundang!

oleh Nassirun Purwokartun pada 15 Maret 2011 pukul 23:37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s