Catatan Kaki 74: Kirab Boyong Kedhaton yang Ingin Kutonton

Standar

Berjalan sambil melamun, itulah yang kemudian kulakukan.

Ketika kemarin aku berjalan meninggalkan alun-alun selatan. Dan tak terasa langkah kakiku telah sampai di gapura Gading, gapura terakhir dari keraton Solo. Gerbang yang berada di selatan yang menjadi penyeimbang dari gapura Gladhag di sebelah utara.

Dari gapura inilah jenazah para raja dan kerabatnya dilepaskan untuk dimakamkan. Gapura ini dinamakan Gadhing, karena bermakna putih seperti gading gajah. Menjadi perlambang, agar kematian kita bisa bersih kembali tanpa adanya noda dosa.

Sore itu, perjalanan ‘mubeng kraton’ atau berkeliling keraton kuanggap selesai. Aku pun segera menyeberang untuk menyetop bus pulang.

Sambil menunggu bus kota yang menuju ke arah barat, mendadak lamunanku terkenang pada boyong kedhaton. Upacara perpindahan keraton dari Kartasura ke desa Solo. Yang dari perpindahan itu desa Solo kemudian menjadi keraton Surakarta.

Sementara hari perpindahan itu sekarang dikenang sebagai hari lahir kota Solo. Yang sampai hari ini, selalu diperingati tiap tahun dengan upacara boyong kedhaton juga. Sebuah upacara iring-iringan meniru perpindahan pada dua setengah abad silam

Sigra jengkar saking Kartawani, ngalih kadhaton mring dhusun Sala.“  Segera berangkat dari Kartasura, pindah keraton ke desa Solo. Begitu terbaca dalam Serat Babad Kedhaton, yang menceritakan secara runtut jalannya perpindahan keraton saat itu.

Perpindahan yang dikarenakan keraton Kartasura telah runtuh karena pemberontakan Raden Mas Garendi. Paku Buwono II, raja berusia 26 yahun yang ketakutan hingga melarikan diri ke Ponorogo. Dalam pelarian itu ia kemudian meminta bantuan pada Belanda, untuk merebut kembali takhtanya. Dengan sekalian meminta pada bangsa kolonial itu, untuk bisa membangunkan keraton yang baru baginya.

Belanda yang melihat peluang untuk mengokohkan kaki-kaki kolonialnya, dengan senang hati menyanggupinya. Dan itulah cengkeraman terdalam pada penguasa Jawa, yang makin membuat keraton kehilangan kekuasaan politik dan kekuatan pertahanannya. Karena dari perjanjian itu, wilayah keraton Solo makin menyempit daerah kekuasaannya, karena harus diberikan pada Belanda. Dan keraton pun makin tunduk pada kuasanya.

Sambil menunggu bus, bayanganku melayang pada prosesi upacara perpindahan keraton itu. Ketika pada Rabu pagi, 17 Februari 1745, Paku Buwono II memberangkatkan seluruh kerabat, pejabat dan juga rakyatnya untuk pindah ke keraton yang baru di desa Solo.

Dalam buku Babad Solo dikisahkan, Mayor Hohendorf sebagai wakil Belanda memimpin pasukannya, berada di depan dengan diiringi lima kompi pasukan. Sementara sang raja Paku Buwono II berikut pejabat dan kerabatnya berjalan di belakangnya. Pelepasannya dari keraton lama diawali oleh tembakan meriam, dan tiupan terompet.

Pada barisan berikutnya, sepasang ringin kurung sakembaran (dua batang pohon beringin) yang telah diberi kain cinde digotong oleh pasukan abdi dalem. Kemudian di belakangnya, bangunan Bangsal Pangwarit diangkut, dengan diiringi oleh prajurit Kalang, Gowong, Undhagi, dan Selakerti.

Dalam rombongan itu, Paku Buwono II berjalan dengan menaiki gajah, yang dituntun oleh abdi dalem Srati. Sementara kuda tunggangannya dituntun oleh abdi dalem Gamel. Iring-iringan raja ini diikuti oleh para pejabat terdekatnya, dari mulai Bupati Nayaka Jawi Kiwo dan Tengen: Panumping, Panekar, Sewu Numbak Anyar, Siti Ageng Kiwo Tengen, Bumi, dan Bumija. Kuda-kuda para pejabat keraton itu diiringi oleh abdi dalem Kliwon, Panewu, dan Mantri, yang bertugas menuntun kuda mereka serta memayunginya.

Rombongan di belakang raja adalah para abdi dalem Bupati Anom Anon-Anon beserta para Panewu dan Mantrinya. Rombongan ini diiringi pula para bawanan bupati yang terdiri dari para ahli pertukangan atau pembuat peralatan kerajaan. Mereka adalah abdi dalem kemasan, greji, pandhe, sayang, gembleg, puntu, samak, tukang laras, tukang warangka, tukang ukir, jlagra, slembar,  tukang cekathak, dan  tukang landheyan.

Bersama rombongan ini pula turut digotong gamelan keraton yang terdiri dari Kyai Surak, Kyai Sekar Delima, dan Kyai Sekar Gadhung. Gamelan-gamelan itu dibawa oleh para penabuhnya dengan diberi tutup dan payung kuning.

Dalam rombongan berikutnya, adalah para tukang yang mengurusi peralatan kebesaran dan perlengkapan perang keraton. Mereka adalah para tukang song-song (payung), tukang pasar, tukang tulup, tukang jemparing (panah), tukang jungkat (sisir), teluk, gebyar, dan para pembatik. Memimpin rombongan ini adalah Patih Raden Adipati Pringgalaya dan Patih Raden Adipati Sindureja.

Di belakangnya berjalan barisan abdi dalem prajurit Sarageni dan Sarantaka. Yang kemudian disambung dengan barisan para pejabat keagamaan keraton. Yakni abdi dalem Merbot, Penghulu, Khetib, Ulama, kebayan, dan pradikan. Dalam rombongan ini pula turut dibawa mimbar, dan bedhug masjid yang bernama Kyai Rembeg.

Rombongan berikutnya adalah keluarga raja, yakni para kerabat keraton. Dari mulai para Sentana, Panji, dan Riya Pangeran. Bersama rombongan ini diangkut pula benda-benda pusaka kerajaan. Yakni  Gong Kyai Bicak, Carak Kyai Nakula Sadewa, cemeti milik raja yang bernama Kyai Pecut, dan juga Cengkal Baladewa. Sebagai pengiringnya adalah barisan prajurit Tamtama yang berada di kiri kanan barisan, dengan jumlah masing-masing adalah dua ratus orang prajurit.

Di belakangnya adalah rombongan para perempuan dari keputren. Yang pada barisan depan dipimpin oleh Nyai Lurah Keparak Jawi dan Nyai Lurah Keparak Lebet dengan naik tandu. Disambung para Wedana, Panewu, Mantri, Kliwon beserta anak buahnya. Kemudian istri Patih Pringgalaya dan Patih Danurejo. Disambung abdi dalem Bedaya Srimpi Manggung Ketanggung atau pembawa benda-benda upacara. Kemudian permaisuri raja diiringi oleh abdi dalem Gedhong Kiwa, abdi dalem Gedhong Tengen, abdi dalem Kliwon, Panewu, dan Mantri Jajar. Disamping putera-puteri raja dan para selir, serta para istri Bupati Mancanagara. Semua rombongan perempuan keraton ini berjalan dengan menaiki tandu yang digotong oleh para prajurit.

Di belakangnya adlaah para abdi dalem perempuan yang bekerja dapur, berikut dengan perlengkapan dapurnya. Mereka itu adalah abdi dalem Krapyak dengan membawa beras, ayam, ikan, dan, upeti dari para adipati bawahan. Kemudian abdi dalem Jajar beserta perlengkapan rumah tangganya. Lalu abdi dalem Pamajegan yang membawa kayu bakar, arang, sapit, sajen, tampah, tebok, ancak, bakul, tumbu, sapu, daun, ethong, lesung, lempong, alu ujon, kukusan, irus, solet, dan sejenis peralatan dapur lainnya.

Setelah itu adalah barisan dari yang membawa pusaka kerajaan yakni Dandang Kyai Dhudha, pusaka Panjang Kyai Blawong, Kendhil Kyai Marica. Pusaka yang berupa peralatan masak itu dijaga oleh pemimpinnya yang bernama Nyai Gandarasa. Perempuan pemimpin dapur kerajaan ini berjalan dengan naik tandu, diiringi oleh Bupati Gading Mataram besarta anak buahnya. Kemudian disambung oleh Galadhag Pacitan yang membawa tempat minum harian milik raja. Juga keperluan raja lainnya seperti Sela Gilang, teras di Bangsal Pangrawit, Bangsal Manguntur Tangkil dan batu-batu pasalatan yang dipakaiu ntuk alas sembahyang, serta padasan untuk tempat air wudhu.

Setelah itu adalan barisan prajurit yang membawa pohon waringin pungkuran. Beringin kembar yang akan ditanam di alun-alun selatan. Barisan ini diiringi oleh abdi dalem Pancar Mancanagara. Dalam rombongan ini turut serta abdi dalem dagang, yakni para pedangan yang terdiri dari sudagar, kriya, pangindung, blatik (pedagang kambing), mudel, umbal, mranggi, dan para pangukir.

Barisan berikutnya adalah ribuan rakyat yang turut pindah, dengan membawa ternak milik para putera sentana, para Bupati, Kliwon, Panewu Mantri beserta anak buahnya. Juga abdi dalem Pandhelegan, tukang mencari ikan, tukang baita (perahu), pambelah, jurumudi, dan tukang jagal (penyembelih hewan).

Sementara barisan terakhir adalah rombongan abdi dalem Mancanagara wetan dan kulon. Iring-iringan ini membawa pusaka meriam Nyai Setomi dan meriam lainnya.

Konon menurut sejarah, yang ikut dalam perpindahan ini kurang lebih ada 50 ribu orang. Jarak antara istana Kartasura sampai desa Solo memakan waktu tujuh jam. Jalan yang dilalui, mula-mula merupakan jalan setapak melewati hutan dan semak belukar. Hutan dan semak belukar itu ditebas untuk dijadikan jalan perpindahan. Jalan inilah yang sekarang menjadi jalur dari pasar Klewer ke barat terus sampai ke pasar Kartasura.

Setelah sampai di desa Solo, seluruh pengikut raja dikumpulkan di alun-alun. Dalam pertemuan itu Paku Buwono II berdiri di atas panggung sederhana yang dibuat dari anyaman bamu. Kemudian raja yang didampingi gubernur jenderal Belanda itu memberikan sambutan pada seluruh rakyat yang telah ikut berpindah dengannya.

“Heh kawulaningsun, kabeh padha ana miyarsakna pangandikaningsun! Ingsun karsa ing mengko wiwit dina iki, desa ing Sala ingsun pundhut jenenge, ingsun tetepake dadi negaraningsun, ingsun paringi jeneng Negara Surakarta Hadiningrat. Sira padha angertekna sakawulaningsun satalatah ing Nusa Jawa kabeh.“

Hai hambaku, dengarkan semuanya sabda saya. Saya berkeinginan sejak hari ini, desa di Sala saya ambil namanya, saya tetapkan menjadi negara saya, saya beri nama negara Surakarta Hadiningrat. Kalian siarkanlah ke seluruh rakyatku di seluruh wilayah Tanah Jawa seluruhnya.“

Sejak itulah, dusun Solo menjadi kota Surakarta. Dan hari itu, Rabu, 17 Februari 1745 menjadi hari lahir kota Surakarta. Dan setiap tanggal 17 Februari selalu diperingati sebagai hari jadi. Berikut upacara boyong kedhaton, seperti yang dulu terjadi.

Namun sayangnya, upacara napak tilas itu tidak seperti aslinya. Karena iring-iringan pawai itu bukan bermula dari bekas keraton lama di Kartasura. Padahal jalan penuh semak yang dulunya setiap akan dilalui harus dibabad dulu, sekarang telah menjadi jalan besar. Yakni jalan lurus dari pasar Kartasura yang akan berujung di pasar Klewer, yang sekarang bernama Jalan Radjiman.

Maka sungguh, aku ingin menonton boyong kedhaton, seperti yang dulu terjadi. Bukan seperti yang selama ini dilakukan tiap hari jadi. Yang peserta pawai diberangkatkan dari lapangan Kotabarat. Sebuah tempat yang tak ada hubungannya dengan perjalanan perpindahan boyong kedhaton.

Maka andai bisa dilaksanakan seperti sejarah asilnya, mungkin lebih berkesan. Dan itulah kirab boyong kedhaton yang selalu ingin kutonton dalam upacara peringatan.

Dan bukan sekadar kulamunkan, seperti yang kemarin kulakukan, sambil menunggu bus di perempatan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 17 Maret 2011 pukul 21:31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s