Melodi Sunyi 7: ….. dan duka mahatuan bertakhta

Standar

Mungkin kau sudah mengenalnya, namun tak ada salahkan aku kenalkan ulang sekarang.

Seorang lelaki bertubuh kerempeng dengan tulang pipi menonjol dan sorot mata tajam. Seorang yang di masa mudanya suka berpakaian necis dan rambut selalu tersisir rapi. Seorang pribadi laki-laki yang banyak memikat rasa hati perempuan. Bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kecerdasannya.

Dia perantauan dari Medan, namun kelahiran Payakumbuh, 22 Juli 1922.

Ayahnya seorang pegawai Belanda yang berkedudukan tinggi. Sebuah jabatan yang cukup disegani kala itu. Nama ayahnya sangat Indonesia, yaitu Tulus, tapi perawakannya tinggi besar, gagah, dengan kulit melintang, membuat orang menyangkanya bukan orang Indonesia. Sementara ibunya gemuk pendek berkacamata. Saleha, namanya. Dia anak kedua dari dua bersaudara.

Kehidupan orang tuanya selalu diwarnai pertengkaran. Keduanya sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan tak pernah ada yang mau mengalah. Seolah pertemuan mereka bak besi dan api, yang selalu memercikkan nyala merah berpercikan bara api. Di tengah api pertengkaran yang demikian itulah dia dibesarkan.

Maka tak heran, kalau sifatnya pun menjadi makin menonjol sebagai anak manja dan dimanjakan, hingga tak pernah mau disalahkan dan dikalahkan. Apa yang diminta pada orang tuanya, pasti akan dikabulkan. Mainan anak-anak, makanan yang enak-enak, sepeda yang bagus, baju yang bagus, dan semuanya yang kelas satu.

Bukan hanya dalam lingkungan keluarga sendiri, di luarpun ia dimanjakan oleh masyarakat. Karena ayahnya dan neneknya adalah tokoh yang disegani di daerahnya. Dan dia sendiri termasuk murid yang pandai dan cerdas di sekolah, hingga guru-guru pun turut membanggakannya. Pendeknya, masa kakak-kanak hingga anak-anaknya selalu dilingkupi kehidupan yang mewah. Bahkan berlebih-lebihan menurut ukuran ketika itu.

Di Medan, ia hanya sekolah sampai kelas 1 MULO (setingkat SMP sekarang), karena kemudian ayahnya menikah lagi setelah bercerai dengan ibunya. Namun dengan kecerdasannya, dia sudah membaca seluruh buku yang diajarkan di MULO, bahkan buku-buku bacaan yang mestinya hanya boleh dibaca murid AMS (setingkat SMA sekarang).

Akibat perceraian orang tuanya itulah, kebencian dan dendamnya terhadap ayahnya timbul. Dia tidak dapat menerima bahwa ayahnya kawin lagi dan meninggalkan ibunya. Tentulah keretakan rumah tangga demikian menimbulkan kekecewaan yang mendalam dalam kehidupannya. Hingga sejak saat itu, jiwanya mulai resah gelisah dan menginginkan kehidupan lain.

Saat itu dia telah mendengar kabar tentang Jakarta, maka dia ingin segera pindah ke sana, ke sebuah kota besar tempat menggantungkan harapannya, dan melupakan kekecewaannya.

Tahun 1941, dia pindah ke Jakarta dan melanjutkan MULO kelas dua. Biaya sekolah masih ditanggung oleh ayahnya, dikirimkan dari Medan. Beberapa bulan kemudian, ibunya menyusul ke Jakarta.

Namun dalam perjalanannya kemudian, sekolahnya tersebut terhenti. Bahkan dia tak sampai tamat MULO. Pertama, karena kesulitan ekonomi, karena ayahnya tak lagi mengirimi biaya sekolah. Kedua, pada Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Jawa, hingga keadaan Jakarta pun tak menentu.

Sementara dia sendiri masih menyukai gaya hidup glamour, sebagai akibat dari pemanjaan selama di Medan. Hingga perhiasan ibunya, habis untuk membiayai gaya hidupnya. Untuk membeli pakaian model terbaru, dan untuk datang ke pesta-pesta yang di sana banyak perempuan Belandanya.

Bulan Oktober 1942, ada kabar duka dari Medan. Neneknya yang sangat menyayangi dan memanjakannya meninggal dunia. Berdukalah dia, dan ditulisnya dalam sajak untuk mengenang neneknya. Sebuah puisi menggetarkan, yang ditulisnya di usia 20 tahunnya.

“bukan kematian benar menusuk kalbu

keridhaanmu menerima segala tiba

tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta”

 

CATATAN:

Kutulis ulang, sebuah surat yang pernah kukirimkan pada seseorang, yang sekarang telah hilang, pada pertengahan April sepuluh tahun silam. 13 April 2001, tanggal yang (kebetulan) masih belum kulupa!

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 13 April 2011 pukul 19:03

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s