Catatan Kaki 76: Setelah Tak Lagi Menikmati Perpustakaan dan Punya Uang Jajan

Standar

Waktu SMP, aku lebih sering nyepi di perpustakaan daripada nongkrong di kantin sekolahan.

Tentu karena aku memang tidak seberuntung teman-teman yang bisa berbahagia dengan punya cukup uang jajan. Hinga sebelum jam masuk sekolah berdetang, mereka sudah berebutan kursi di kantin sambil riuh dalam obrolan. Begitu pun ketika jam istirahat tiba, semua berlarian kantin depan atau belakang sekolahan, untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak sedang kelaparan.

Sementara aku, hanya sesekali saja datang ke kantin, ketika betul-betul lapar. Misalnya ketika setelah pelajaran olahraga, yang memang banyak mengeluarkan tenaga. Hingga persediaan makanan di perut mungkin telah habis dipakai untuk ngonthel sepeda ketika berangkat sekolah. Dan habis tenaga untuk terus berkonsentrasi menyimak pelajaran. Belajar pada jam yang sebenarnya lebih asyik untuk tidur siang daripada mengunyah mata pelajaran.

Maka beruntunglah mereka yang punya uang jajan. Hingga jajan di kantin adalah salah satu cara untuk menghilangkan kantuk yang sering tak tertahan. Misalnya dengan makan soto dengan sambal yang sangat pedas. Atau makan gorengan, dengan lombok yang melebihi takaran.

Sementara aku harus berpikir dua kali kalau harus datang ke kantin. Sebab uang jajanku memang sangat sedikit, tak mungkin untuk membayar semangkok soto ayam. Dan uang  yang sedikit itu memang sedang kukumpulkan. Yang tiap Minggu pagi, kubawa ngonthel sepeda ke kota, untuk kubelikan majalah-majalah loakan.

Waktu itu, karena sekolahku kekurangan ruang kelas, maka jam masuk belajar dibagi dua. Untuk kelas dua dan tiga masuk pagi, sementara yang kelas satu masuk siang. Karena masuk siang itulah membuatku punya banyak waktu untuk berlama-lama di perpustakaan.

Sesuai peraturan, sebenarnya kelas satu masuknya jam satu siang. Tapi aku sengaja berangkat lebih awal dari rumah. Jam sebelas aku sudah mandi, makan siang, dan setengah dua belas langsung ngonthel sepeda. Sebelum sampai sekolahan, aku mampir masjid yang terlewati untuk dhuhuran.

Sesampai di sekolahan, anak kelas dua dan tiga belum keluar. Aku sudah masuk ke perpustakaan.  Sambil menunggu jam masuk, aku gunakan untuk membaca buku sebanyak-banyaknya. Karena memang peraturannya hanya boleh baca di tempat. Tak boleh dibawa pulang.

Namun dari waktu yang satu jam tiap hari itu, aku jadi banyak mengunyah buku-buku sastra dan sejarah. Bacaan yang sudah menjadi kesukaanku sejak SD, ketika setiap hari numpang membaca di ruang kepala sekolah. Hanya yang sekarang kubaca, bukan lagi buku-buku produk inpres dari pemerintah. Tapi banyak buku sastra terbitan Balai Pustaka yang berbentuk roman, yang kemudian judul-judulnya dikenalkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Karena setiap hari ada di perpustakaan, ternyata ada seorang guru kelas dua yang memperhatikanku. Beliau sebenarnya guru olahraga, tapi ternyata menyukai sastra. Setelah berkenalan, aku sering diajaknya ngobrol sebelum beliau pulang mengajar. Setelah sering bercakap-cakap di perpustakaan, kemudian pak guru tersebut menawari buku sastra untuk kubaca. Buku-buku sastra terbaru, yang bukan terbitan Balai Pustaka, yang tak ada di perpustakaan sekolahku.

Aku masih ingat, buku pertama yang dipinjamkan padaku waktu itu adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel trilogi karya Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas yang ternyata guru dari guru olahraga itu. Dan itulah buku sastra pertama yang kubaca, selain yang roman Balai Pustaka yang telah kubaca di perpustakaan.

Dari guru olahraga itulah kemudian makin banyak nama sastrawan yang kukenal. Aku mulai mengenal nama Umar Kayam, Goenawan Mohamad, dan Emha Ainun Nadjib, dan nama sastrawan lain yang nama tak kutemukan dalam buku pelajaran.

Dari buku-buku itulah, aku jadi tertarik untuk menulis seperti tulisan mereka. Ingin menulis novel dengan latar Banyumas yang memikat seperti karya-karya Ahmad Tohari. Ingin menulis kolom yang memikat dan nikmat seringan tulisan Umar Kayam. Ingin menulis kolom yang cerdas serumit kalimat Goenawan Mohamad. Ingin menulis puisi yang menyentuh hati seperti renungan-renungan kehidupan Emha Ainun Nadjib yang menggugah.

Bahkan aku kemudian mengidolakan mereka. Seolah merekalah guru menulisku, guru imajinerku, yang mengajariku menulis dengan tulisan-tulisan mereka.

Dan aku membayangkan, mereka benar-benar ada ketika aku sedang menulis. Ketika belajar menulis cerpen yang akan kukirimkan ke majalah, seakan-akan Ahmad Tohari berada di belakangku memperhatikan dan memberikan dukungan. Begitupun yang kurasakan ketika sedang belajar menulis kolom dan  puisi untuk kupasang di mading. Seakan-akan Umar Kayam, Goenawan Mohamad dan Emha Ainun Nadjib bediri sambil menepuk-nepuk punggungku.

Sungguh waktu itu, aku seperti seorang Bambang Ekalaya yang belajar memanah hanya dengan ditemani patung Pandita Durna, guru imajinernya. Aku pun demikian. Belajar menulis dengan ditemani buku-buku karya sastrawan besar Indonesia, sebagai guru khayalanku.

Maka sekarang aku bersyukur karena tak punya uang jajan. Hingga lebih sering ke perpustakaan daripada ke kantin sekolahan. Andai aku punya banyak uang, mungkin hanya perut yang kukenyangkan dengan soto dan gorengan. Bukan otak yang kuasah dengan bermacam pemikiran dan perasan perasaan para sastrawan besar.

Dan kesenangan itu berlanjut ketika kemudian aku di STM. Di usia remaja itu, aku pun lebih sering menyendiri di pojok perpustakaan, daripada menggerombol di pinggir jalan. Berkumpul dengan teman-teman dengan saling bercanda dan belajar merokok sebelum jam masuk sekolah. Atau pun menggoda cewek-cewek SMA yang lewat sepulang sekolah.

Namun anehnya, sekarang aku justru tak lagi menikmati membaca buku di perpustakaan. Aku benar-benar tak bisa menikmati buku yang bukan milikku sendiri.  Otak seakan tumpul ketika harus membaca buku-buku hasil pinjaman..

Mungkin karena sekarang sudah bisa beli buku sendiri, hingga kebiasaan lama itu tak lagi merupakan kenikmatan pembelajaran.

Padahal sungguh, sampai sekarang aku tetap tak punya uang jajan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 18 Maret 2011 pukul 19:38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s