Catatan Kaki 77: Taman Paling Indah di Dunia

Standar

Karena tiap hari ke perpustakaan, aku malah yang jadi kebingungan.

Karena begitu naik kelas dua, dalam satu tahun, hampir semua buku sastra di perpustakaan sekolah sudah kubaca. Buku-buku sastra di sekolah para tukang yang memang tidak seberapa banyak itu, telah kuhabiskan semua.

Namun lapar-dahaga akan bacaan masih tetap menggejala. Aku butuh bacaan tiap hari. Sementara untuk beli buku sendiri jelas tak mungkin. Sebab biaya sekolah pun, orang tuaku ternyata minta dibantu saudara, dengan perjanjian akan dibayar dengan tanah selepas aku lulus nanti.

Jadi biaya sekolahku selama di STM ditanggung dengan tanah yang akan dianggap sebagai pembayaran hutang. Kadang aku bersyukur, masih ada yang bisa diagunkan untuk biaya sekolah. Tapi kadang aku kecewa , karena harus merelakan empat tempat tanah orang tuaku melayang untuk selembar ijazahku, yang di kemudian hari tak pernah bisa kugunakan melamar pekerjaan.

Tapi yang lebih sering membuatku sedih, adalah tentang mahalnya biaya pendidikan. Hingga setelah lulus STM terpaksa aku tak bisa kuliah, karena orang tuaku tak punya lagi yang bisa diagunkan. Maka cukup sampai di STM akhir pendidikan formalku. Tapi aku bertekad, bahwa sekolah bukan satu-satunya tempat untuk menimba ilmu dan menangguk pengetahuan. Akan kucari dan kudapatkan di luar bangku perkuliahan.

Karena butuh bacaan, akhirnya aku menjadi pelanggan Perpustakaan Daerah Kabupaten. Tiap dua hari sekali, aku jalan kaki sepulang sekolah untuk pinjam di sana.

Letak Perpusda dari sekolahku agak jauh, ada sekitar tiga kilometer. Sepulang sekolah, aku mampir dulu ke sana, untuk baca dan pinjam. Tapi kalau sedang capai setelah seharian pelajaran praktek, aku hanya pinjam saja. Tidak membaca di situ. Meminjam dua tiga buku untuk kubawa pulang, dan kukembalikan tiga hari berikutnya.

Perpusda buku-bukunya memang lebih banyak macamnya daripada buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahku. Tapi buku-buku sastranya tak jauh beda. Tak ada buku sastra terbitan baru yang tersedia di sana. Hanya terbitan Balai Pustaka dan beberapa terbitan Proyek Bacaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tapi kemudian aku mendapatkan tempat yang kuidamkan.

Ada sebuah perpustakaan besar milik yayasan Kristen yang tak sengaja kutemukan. Sepulang sekolah, seperti biasa aku jalan kaki ke terminal yang jaraknya sekitar enam kilometer. Sambil jalan kaki di bawah terik yang menyengat, tak sengaja mataku menatap gedung tua yang selama ini luput dari perhatian. Di papan namanya jelas terpampang sebuah perpustakaan untuk umum.

Dengan agak takut dan malu karena bersebelahan dengan gereja, aku masuk ke gedung itu. Setelah berkeliling untuk melihat-lihat isinya, ternyata perpustakaan ini menyediakan banyak buku-buku sastra. Meskipun bukan terbitan baru, tapi lebih lumayan baru daripada buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahku atau di Perpusda.

Aku pun kemudian mendaftar jadi anggota perpustakaan itu.

Ada dua jenis keanggotaan di perpustakaan tersebut, Pelanggan Baca dan Pelanggan Pinjam. Karena kalau jadi anggota Pelanggan Pinjam uang pendaftarannya mahal, aku hanya mampu menjadi Pelanggan Baca. Jadi hanya datang, dan baca di tempat. Buku tidak boleh dibawa pulang.

Dengan keuanganku yang minim, tak mungkin aku menjadi Pelanggan Pinjam. Uang pendaftarannya saja dua kali lebih besar dari SPPku waktu itu. Dan lebih tidak mungkin lagi, ketika harus meminjam dengan biaya pinjaman tiap buku yang lebih besar dari uang jajanku. Maka kupuaskan hanya baca di sana.

Aku cukup menjadi pelanggan baca saja. Yang biaya pendaftarannya terjangkau. Dan dapat kartu anggota baca yang berlaku untuk 20 kali datang. Setelah habis masanya, harus bayar kartu lagi. Persis seperti karcis.

Tapi karena hanya langganan baca, pasti ada kelemahannya. Misalnya kalau aku sedang baca sebuah novel. Novel yang rata-rata tebal itu, tak mungkin kubaca dalam waktu sekali datang. Perlu tiga empat kali, dengan waktu baca 2-3 jam. Itu kalau lancar, dan bukunya selalu ada. Bisa saja terjadi, ketika kemarin baru aku baca seperempat bagian, hari ini buku tersebut tak kudapatkan di rak. Bisa karena sedang dibaca orang lain, atau bahkan sedang dipinjam Pelanggan Pinjam. Tak bisa lain, harus menunggu sampai buku itu selesai dibaca orang, atau sampai dikembalikan oleh peminjam. Maka sering terjadi, selama seminggu aku hanya mampu membaca bagian-bagian awal dari sebuah novel, yang tiap hari berganti-ganti judul bukunya, karena tak kudapatkan lagi di hari besoknya.

Tapi bagaimanapun, aku bersyukur ada perpustakaan yang mampu memberikan penawar dahagaku akan buku, tanpa harus membelinya.

Waktu itu, aku sangat suka datang ke perpustakaan. Karena bagiku, itulah taman paling indah di dunia.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Maret 2011 pukul 20:58

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s