Catatan Kaki 78: Honor Pertama yang Tak Pernah Kuterima

Standar

“Aku Ingin Jadi Penulis.”

Itulah judul yang kubuat dalam ulangan catur wulan Tes Hasil Belajar kelas 4 SD. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada soal mengarang dengan pilihan tema: berlibur ke rumah nenek, belajar kelompok, dan cita-citaku. Aku memilih yang terakhir.

Ternyata, hampir separuh teman sekelasku memilih tema itu. Tapi di antara teman-temanku, ternyata hanya aku yang membuat karangan dengan cita-cita sebagai penulis. Karena tata-rata mereka memilih cita-cita yang tinggi, macam dokter, insinyur, polisi, guru, tentara, bahkan presiden.

Tapi entah kenapa, meskipun dengan cita-cita yang sederhana itu, justru aku mendapat perhatian lebih dari guruku. Setelah pembagian rapot, aku disuruh maju untuk membacakan karanganku itu. Bangga sekali rasanya. Dan bahagia.

Menginjak kelas 5, aku mulai mencoba mengirimkan tulisanku ke majalah anak SD. Kebetulan untuk karesidenan Banyumas, ada majalah MITRA yang terbit tiap bulan. Mungkin hasil kerjasama dengan Dinas P dan K Kabupaten. Ini majalah khusus untuk sekolahan, karena tidak dijual di toko buku.

Pertama kali, aku mencoba mengirimkan tulisanku yang berbentuk puisi. Kebetulan saat itu aku memang sedang senang-senangnya dengan puisi. Hingga aku selalu jadi wakil sekolah ke Porseni kecamatan untuk lomba baca puisi.

Untuk majalah MITRA, aku mengirim puisi hampir tiap minggu. Dengan uang jajan yang kukumpulkan selama seminggu untuk beli prangkonya. Puisi-puisi itu kutulis tangan di kertas buku tulis dengan rangkap dua. Satu untuk dikirimkan, satu untuk disimpan. Sampai lulus SD, aku punya kumpulan puisi sebanyak 2 buku tebal tulisan tangan.

Namun berbulan-bulan kemudian, bukan puisi yang dimuat di MITRA. Melainkan gambarku yang muncul dan dimuat di majalah itu.

Memang selain puisi, aku juga mengirimkan gambar, yang ruang rubriknya bareng dengan puisi. Aku masih ingat, gambarku waktu itu adalah gambar seekor burung beo putih dengan jambul kuning. Gambar yang kutiru dari kalender toko mas yang terpasang di dinding bambu rumahku. Kugambar dengan tinta boxi di selembar kertas buku gambar cap ‘Burung Gelatik’.

Dari pemuatan itulah, aku merasa menjadi mulai dikenal. Baik antar sekolahan, maupun di tingkat kecamatan. Teman-teman lain kelas yang sekomplek dengan sekolahku jadi mengenalku, anak kelas 5 yang gambarnya pernah dimuat di majalah kabupaten. Juga teman-teman siswa sekolah lain, yang ketemu waktu jadi perwakilan siswa teladan.

Aku bangga sekali dikenal oleh mereka. Karena waktu itu, untuk tingkat kecamatan baru aku yang karyanya bisa dimuat di MITRA. Padahal aku datang dari SD yang selama ini tak pernah diperhitungkan dalam perlombaan apa pun di tingkat kecamatan. Jadi meskipun tidak terpilih jadi siswa teladan, dada ini serasa sesak menerima pujian.

Bahkan meskipun dari pemuatan gambar tersebut aku tidak mendapatkan honor, aku tetap merasa bangga dan bahagia.

Mestinya, kata guru-guruku waktu itu, honor pemuatan di MITRA adalah 5.000 rupiah. Tapi mungkin karena letak sekolahku jauh dari kabupaten, jadinya honor tidak dikirimkan. Apalagi petugas pos pun, hanya datang seminggu tiga kali. Itu pun hanya diantar ke balai desa, tidak langsung ke alamat tujuan. Pak Kebayan lah yang bertugas mengantarkan.

Mungkin memang bukan honor yang menjadi alasanku untuk menulis dan mengirimkan tulisan. Tapi memang ada bara yang menyala-nyala di dada untuk dipijarkan dalam kata-kata.

Padahal tanpa sepengetahuanku, orang tuaku yang juga tahu dari tetanggaku yang guru, sudah menunggu-nunggu datangnya honor itu.

Lima ribu rupiah untuk ukuran keluarga kami adalah uang yang sangat besar. Kala itu, nilainya sama dengan 15 kilo beras.

Yang berarti bisa untuk makan kami sekeluarga selama setengah bulan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Maret 2011 pukul 23:41

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s