Melodi Sunyi 8: ….. antara kita, mati datang tidak membelah

Standar

Suatu hari di tahun 1943, datanglah ia ke redaksi Panji Pustaka.

Dan pada hari itulah, dia bertemu dengan Jasin untuk yang pertama kalinya.

Dalam pandangan Jasin, dia seorang pemuda kurus pucat, dengan baju tak terurus, mata merah agak liar,  bahasa wajah seolah tengah berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti tingkah orang yang tak mudah peduli.

Dia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Panji Pustaka. Namun didapatnya jawaban bahwa sajak-sajaknya tak mungkin dimuat. Kata pemimpin redaksinya, puisinya tak ada harganya.

“Sajak-sajaknya sangat individualistis. Yang lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan pribadi pengarangnya saja. Kiasan-kiasannya terlalu Barat.”

Namun penolakan itu tak menyurutkan langkahnya dalam menulis puisi. Dia tetap menulis, dia tetap mengirimkan, tak peduli cibiran orang, tak peduli penolakan pemuatan. Dan dia pun mulai bergaul dengan para seniman di Jakarta. Baik para penyair, sastrawan, pemain teater, hingga para pelukis.

Ketika pemerintah Jepang mendirikan Keimin Bunka Sidhoso (Kantor Pusat Kebudayaan) pada 1 April 1943, dia sering datang ke sana. Berbincang-bincang dengan Armijn Pane, ketua bagian kesusastraan di kantor tersebut. Dari lingkungan pergaulan seniman itulah, namanya mulai muncul dan dikenal banyak kalangan.

Pada pertengahan Juli 1943, mestinya dia akan berbicara di Forum Angkatan Muda. Namun batal tampil, karena saat itu ia ditangkap oleh polisi rahasia Jepang. Kasusnya, pencurian buku.

Ya, dia adalah orang yang sangat besar minat bacanya pada sastra-sastra Barat, namun uang selalu tak dimilikinya. Maka mencuri buku di toko kemudian menjadi hobinya. Hingga kamar sumpeknya penuh dengan buku-buku sastra, dari Barat hingga Timur. Dari WH. Auden, RM. Rilke, E Du Peron, John Cornford, Conrad Aiken, sampai Hsu Chih Mon. Namun sepandai-pandainya pencuri buku melompat, suatu saat tertangkap polisi Jepang juga.

Yang paling konyol adalah ketika ingin mencuri buku Nietzhe yang berjudul ‘Zarathustra’. Sebuah buku yang telah lama diidamkan, sebuah buku tebal bersampul hitam yang akan segera dimilikinya, tentu saja dengan jalan mencurinya. Maka dengan tampang datar ia datang ke toko buku. Matanya tajam mengawasi para pelayan toko dan pengunjung yang ada. Sementara tangannya sibuk mengambil buku di rak, untuk kemudian memasukkannya ke balik bajunya.

Pencurian berhasil sempurna, tanpa ada pelayan yang melihatnya. Hanya kekagetan ketika ia membuka buku itu di rumahnya. Karena yang telah dicuri bukan buku karya besar Nietsche, melainkan kitab injil.

“Habis sama-sama tebal, dan bersampul hitam sih!” umpatnya ketika bercerita di depan teman-temannya. Sebuah kesialan yang langsung menjadi bahan olok-olokan di antara mereka.

Aku pernah datang ke Paron, Ngawi. Karena kebetulan ada temanku yang asli sana, menikah. Dan ternyata dia juga pernah punya pacar seorang gadis asal Paron. Gadis jelita yang mempunyai hobbi melukis. Sumirat, namanya.

Perkenalan terjadi ketika di pantai Cilincing, Jakarta Utara. Ketika itu dia sedang duduk bersandar di sebatang pohon kelapa, dengan ditemani buku bacaan yang setebal bantal. Mula-mula Sumirat tidak memperhatikannya. Tapi beberapa kali melewatinya, melihat ketekunan dia membaca dan tanpa peduli sekelilingnya, membuatnya heran. Aneh, pikirnya. Orang lain datang ke pantai untuk bersenang-senang, dia malah lebih asyik tenggelam bersama buku-bukunya.

Pertemuan pertama itu ternyata membekas di hati Sumirat. Dalam perjalanan pulang, pikirannya tak lepas dari bayangan sosoknya. Dikhayalkannya apa yang sedang bermain dalam angannya. Sikapnya yang acuh dan masa bodoh serta tak ambil peduli dengan perhatiannya, justru semakin membuat Sumirat tertarik.

Di Jakarta, Sumirat menumpang hidup di tempat saudaranya yang menjadi hakim. Pada suatu hari, saudaranya tersebut bercerita, bahwa ia baru bertemu dengan orang yang pernah ditemuinya di pantai Cilincing.

Orang tersebut sedang berurusan dengan pengadilan, karena dituduh mencuri. Dia kena denda, namun karena tak mempunyai uang, akhirnya dipenjara lebih lama. Maka Sumirat yang mendengar kabar itu segera minta pada saudaranya, agar bias membebaskannya. Dan Sumirat yang bersedia akan membayarkan dendanya.

Dan benar adanya, akhirnya dia pun bebas. Karena ternyata keesokan harinya dia sudah datang ke tempat Sumirat. Kunjungan itu ternyata bersambut berpanjangan. Sumirat benar-benar tertarik padanya. Dan mereka pun akhirnya berpacaran.

Sumirat yang hobi melukis, di Jakarta bergabung dengan galeri milik Basuki Abdullah. Dan dia sering datang ke tempat itu untuk menemani pacarnya melukis.

Sambil menemani, sering kali dia membacakan puisi-puisinya yang romantis. Yang memang diciptakan untuk Sumirat.

 

hidup dari segala hidupku pintu terbuka

selama matamu bagiku menengadah

selama kau darah mengalir dari luka

antara kita, mati datang tidak membelah

 

buat Miratku, ratuku

kubentuk dunia sendiri

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati

di alam ini

 

Suatu hari dia ingin mengajak Sumirat menonton film. Dijemputlah sang pacar di galeri tempatnya belajar. Dia sudah berpakaian necis, bercelana putih berkemeja putih. Maka begitu melihat jas putih Basuki Abdullah tersampir di kursi, dia langsung mengenakannya. Hingga semakin trendilah penampilannya.

Kemudian digandenglah Sumirat dengan penuh kebanggaan. Hingga membuat teman-teman seniman berdecak kagum padanya, karena memang Sumirat manis dan cantik, serta banyak seniman lain yang naksir.

Setelah menonton film, pulanglah Sumirat ke rumah saudaranya. Sementara dia, kembali ke galeri Basuki Abdullah untuk memmbanggakan diri dan membawakan teman-temannya makanan dari tempatnya makan malam. Berceritalah dia bagaimana asyiknya menonton film dan mengajak Sumirat makan di restoran.

Semua teman-teman seniman dan Basuki Abdullah sendiri mendengarkan dengan semangat. Apalagi dia membawa banyak makanan enak dari restoran tempat dia sudah makan malam bersama Sumirat.

Seminggu kemudian Basuki Abdullah yang akan mendatangi acara, menanyakan jas putih yang dipinjamnya.

Dengan enteng dia menjawab; “Sudah masuk ke perut kamu dan teman-teman. Memangnya dari mana aku punya uang untuk mentraktir Sumirat nonton dan makan?”

Ternyata dia telah menjual jas pinjaman itu ke pasar loak.

 

13  April , sepuluh tahun lalu

oleh Nassirun Purwokartun pada 14 April 2011 pukul 17:36

2 responses »

  1. weleh2 tiba’nya njenengan tuh pernah ke paron ngawi tho, daerah nggelung kah? masih keinget sumur’e cethek2. ndok balikpapan di muara rapak en sumberejo, bakso2. lha nek sukoharjo dimananya patung2 wayang hayoooo……. di balikpapan terkenal rujaknya mas sukoharjo je. mas nassirun, dah kadada sabaran ni lawan trilogi nya aryo penangsang, mbokya dicuuuueeepeetin……lha disambi ama Sabdo Palon 1-2, trus Sunan Kalijaga (novel) lan Joko Tingkir versi serial….justru tambah penasaran kok kaya2nya ada interlink nya je, tetapi dengan nuansa kebahasaan yang sangat berbeda, point of view ndak sama dan itu lho…………ngingetin jas merah……………sukarno

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s