Catatan Kaki 81: Ketika Ijazah-Ijazah Kebanggaanku Itu Disobeknya…

Standar

Selepas STM, aku tak bisa kuliah, karena tak ada biaya.

Orang tua sudah tak lagi punya tanah yang bisa diagunkan sebagai jaminan pembayar hutang.

Maka daripada menganggur di kampung, aku memilih pergi ke Bandung. Dengan berbekal ijazah STM hasil ‘tukar guling’ dengan tanah orang tuaku, aku pun mantap untuk mencari pekerjaan. Paling tidak mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikanku.

Namun sampai sebulan di Bandung aku tetap menjadi pengangguran. Sudah berkeliling membawa lamaran, tetap tak ada pekerjaan yang kudapatkan. Padahal hampir semua pabrik tekstil telah kudatangi untuk kukirimkan lamaran. Namun tak satu pun yang sedang membuka lowongan.

Lima bulan menjadi pengangguran yang menumpang di tempat saudara, membuatku tak enak hati. Karena saudara yang kutumpangipun bukan keluarga berada. Hanya bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan, dengan tanggungan lima orang anak yang masih kecil-kecil. Yang masih membutuhkan banyak biaya. Maka aku ingin segera kerja, agar bisa lepas sebagai bebannya.

Suatu hari, tetangga saudaraku memberitahu, katanya ada lowongan di tempatnya bekerja. Ia bekerja di stasiun kota Bandung, sebagai pencuci gerbong kereta. Karena tak ada pilihan lain, aku pun mencoba melamar.

Dan hari itu juga kubuat surat lamaran lengkap, berikut segepok lampiran-lampirannya. Dan aku sangat percaya diri akan diterima, karena tetangga saudaraku yang tak tamat SMP pun diterima di sana. Dengan keyakinan itu, aku pun membawa lamaran ke kantor PJKA di stasiun Bandung.

“Kamu lulusan STM kok mau melamar kerja kasar semacam ini?” ucap si penerima lamaran, seorang bapak tua yang berseragam PJKA.

Aku hanya tersenyum, meski dalam hati berkata, “Terpaksa, daripada nganggur di kota.”

Bapak berseragam biru itu membuka berkas-berkas lamaranku. Termasuk lampiran fotokopi ijazah SD, SMP dan STMku yang kulampirkan lengkap.

“Nilainya baik-baik, ya?” katanya lagi sambil melihat daftar di balik kertas foto kopian itu.

Kembali aku tersenyum. Meski jarang belajar, karena waktunya habis untuk  menulis dan menggambar kartun, selama di STM aku selalu tiga besar. Yang kesimpulanku waktu itu, bukan karena aku yang cerdas. Melainkan karena teman-temankulah yang lebih bodoh dariku.

“Pekerjaan mencuci kereta adalah pekerjaan kasar. Sayang ijazah STM dengan nilai sebaik ini, kalau hanya untuk melamar menjadi pencuci gerbong kereta.”

Kami pun kemudian terlibat perbincangan yang lumayan panjang. Berikut alasan yang kusampaikan, bahwa aku bekerja tak memilih yang ‘halus’ atau pun yang kasar. Namun hanya ingin sekadar tidak membebani saudara yang memang telah banyak bebannya.

Akhirnya dengan sedikit kupaksa, bapak PJKA pun memberikan jalan tengah, “Tanpa bermaksud merendahkan, dan ini permintaan kamu sendiri. Kami bisa menerima kerja di sini. Namun saya terima dengan lamaran ijazah SD saja. Bagaimana?”

Entah kekuatan dari mana, aku mengangguk mengiyakan.

Dan bapak PJKA itu menyobek foto kopian ijazah SMP dan SMAku, “Ini saya kembalikan. Saya anggap, kamu sama dengan pekerja lainnya, yang hanya lulusan SD.”

Dan sejak hari itu, aku dapat pekerjaan sebagai pencuci kereta malam. Justru hanya dengan modal ijazah SD saja. Dan bukannya ijazah STM yang sebelumnya kubanggakan, yang telah membuat empat lahan tanah orang tuaku melayang sebagai agunan.

“Besok datang jam sembilan. Jangan pakai baju rapi begitu. Pakai kaos yang jelek saja!” Bapak dari PJKA itu berpesan padaku, setelah menerimaku sebagai pekerjanya.

Dan esok harinya, aku pun resmi menjadi tukang cuci kereta. Baju yang sebelumnya rapi dan kusterika licin, aku ganti dengan kaos paling jelek yang kupunya.

Dan sungguh, sampai sekarang aku masih mengenang peristiwa siang itu. Peristiwa yang telah berselang enam belas tahun silam. Ketika ijazah-ijazah kebanggaanku itu disobeknya….

oleh Nassirun Purwokartun pada 22 Maret 2011 pukul 23:33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s