Catatan Kaki 82: Mengenang Bekerja di ‘Tempat Basah’

Standar

Sejak hari itu aku pun resmi bekerja sebagai tukang cuci gerbong kereta.

Pekerjaan pertama yang kudapatkan setelah lulus sekolah, dengan nilai pelajaran yang sangat kubanggakan. Setelah mendapat selembar ijazah yang harus ditebus orang tuaku dengan tanah empat lahan.  Pekerjaan yang kudapatkan setelah menganggur di tempat saudara selama hampir lima bulan.

Gerbong-gerbong kereta api eksekutif jurusan Bandung-Surabaya serta Bandung-Jakarta menjadi tugasku untuk dibersihkan. Bersama sembilan orang lainnya, kami berkerja sama mencuci gerbong-gerbong yang akan diberangkatkan.

Sepuluh orang pekerja itu dibagi dua, empat orang perempuan membersihkan bagian dalam, sedangkan laki-laki mencuci bagian luar. Tugas membersihkan ruangan dalam adalah menyapu lantai kereta, membersihkan jendela dan kursi, merapikan korden, merapikan sandaran kursi, dan memberikan pengharum ruangan. Pekerjaan yang cukup ringan, dibandingkan kami yang harus bekerja mencuci gerbong luar.

Kami para laki-laki harus mencuci gerbong bagian luar, yang itu terdiri dari atap gerbong, samping kanan kiri berikut jendela bagian luar, serta sisi depan belakang yang merupakan sambungan gerbong.

Alat cucinya adalah ember berisi air sabun, ember berisi cairan pembersih, sikat WC yang disambung dengan galah yang panjang, slang air yang disambungkan ke kran, serta tangga sebagai alat untuk naik ke atap gerbong.

Tak pernah kubayangkan, bagaimana sulitnya mencuci gerbong kereta yang sepanjang perjalanan dibanjiri debu. Debu-debu yang sangat halus yang demikian lekat menempel, sulit sekali dibersihkan meski sepuluh kali disikat dan disiram dengan slang air yang memancar.

Dan untuk kesulitan itu, ternyata ada rahasianya. Yang cara itu pun diberi tahu oleh temanku, setelah berulang kali aku menggosok sekuat tenaga, namun tetap tak bersih juga.

Ternyata, sebelum disemprot dengan air, debu-debu yang menempel di sebelah kanan kiri dan atap gerbong, harus digosok dulu dengan cairan pembersih. Cairan ini keras sekali. Entah campuran dari apa. Mungkin larutan kimia. Karena kalau kena mata, perih sekali. Konon katanya, kalau terpercik ke mata dan tidak langsung dibilas dengan air bersih, mata bisa buta.

Aku pun pernah mencoba memasukkan uang logam ke cairan itu. Ternyata ketika dijatuhi logam, airnya seperti mendidih. Berbuih-buih. Dan ketika uang logam diangkat, sudah bersih dari kotoran. Pantas saja kalau debu yang demikian susah digosok pun akan luntur karenanya.

Pertama kerja, aku takut naik ke atap gerbong sambil membawa slang panjang. Tapi dengan bentakan dari teman-teman yang sangat tidak bersahabat, aku beranikan diriku untuk merambat.

Setelah semua tubuh kereta api digosok dengan cairan pembersih itu, barulah disemprot dengan air. Sampai bersih dan tidak tertinggal noda-noda dari cairan pembersih itu. Setelah disemprot, baru dibersihkan dengan air sabun. Digosok kembali dengan sikat WC yang bergagang panjang.

Setelah semua dicuci dengan sabun, tahap terakhir adalah menyemprotnya dengan air. Sampai benar-benar bersih tanpa noda debu menempel di seluruh badan kereta.

Dan itulah tiap hari kerjaku. Di terik yang panas, berdiri di atap dengan slang panjang untuk membasahi gerbong. Karena di atap sangat panas, selain menyemprotkan air kea tap gerbong, kami pun sambil membasahi badan kami sendiri. Jadi kami berbasah-basahan baju dan celana, agar selama kerja merasa tetap dingin meski di terik siang yang sangat panas.

Selama bekerja di stasiun, banyak pelajaran yang kemudian kudapatkan. Ternyata stasiun tak ubahnya terminal, yang juga lekat dengan dunia preman. Banyak kutemui gerbong-gerbong kosong yang digunakan untuk bermain judi dan mabuk-mabukkan oleh para preman.

Bahkan pernah pula karena tak sengaja kumasuki gerbong yang kusangka kosong, ternyata itu adalah kerajaan preman. Aku yang ingin beristirahat, masuk ke gerbong yang di dalamnya kutemukan orang yang sedang berkasih-kasihan. Aku gemetar dan takut karena aku dibentak serta dihujani sumpah serapah juga ancaman.

Pernah kusaksikan pula, dalam sebuah gerbong itu para preman yang sedang berjudi, dengan dikelilingi wanita-wanita malam stasiun. Ada yang sedang memijiti punggung si boss preman. Ada juga yang menyuapi makannya. Benar-benar seperti raja saja.

Dan pekerjaan menjadi tukang cuci kereta itu, hanya bertahan 2 bulan. Aku tak kuat dengan kondisi kerja yang keras dan penuh kekasaran.

Selain lingkungan yang aku tak bisa akrab, kerja menjadi tukang cuci kereta ternyata tak ubahnya tukang becak. Harus sabar menunggu permintaan. Tidak tiap saat ada kerjaan. Bisa saja seharian tak ada segerbong kereta pun yang minta dicuci. Padahal satu gerbong hanya dihargai 4.500 rupiah. Itu harus dibagi satu kelompok yang terdiri dari sepuluh orang.

Jadi kalau ada yang ingin bekerja di tempat yang basah, aku pernah merasakannya. Seluruh pakaianku basah, karena semprotan air untuk mendinginkan badan di terik siang, di atas atap kereta.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Maret 2011 pukul 19:46

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s