Catatan Kaki 83: In Memoriam si Dul

Standar

Namanya Dal.

Tapi kami sudal deal memanggilnya Dul. Kepalanya dari batu granit. Keras bukan main. Kalau dijitak bunyi ‘thing’. Konon karena ada isinya. “Think!”, katanya.

Kami sama-sama tak suka tertawa, tapi sangat keranjingan membaca. Membaca apa saja. Dan apa yang kubaca, dia baca. Tapi ujung-ujungnya harus tertawa. Karena ternyata kami satu selera.

Kami sama-sama tak doyan nasi, tapi maniak puisi. Kalau bicara puisi, bisa sampai pagi. Hingga mendarah daging, semua kata-kata kami pun menjadi puisi.

Seperti malam itu. Dia menuliskan puisi untukku. Puisi paling romantis yang pernah ditulisnya. Setelah kehilangan bayang-bayangnya yang hilang ke Palembang. Setelah kehilangan kunang-kunang yang timbul tenggelam dan benar-benar terbang. Setelah layang-layangnya melayang jauh ke negeri awang-awang karena putus benang.

Malam itu dia tuliskan puisi paling romantis untukku. Namun bukan untukku. Sekali lagi, bukan untukku.

“Kau Ada Karena”, begitu judulnya.

Dan bait pertama pun masuk ke hapeku.

 

“tak tahukah kau getar bahagia ini

bintang yang dulu hanya bisa kutatap

kini terdekap erat menjadi mentari hati

lelap sudah dalam takdir tersurat”

 

“Mau bicara tentang getar bahagia?” tanyaku.

Dan dia menerangkan dengan penuh penghayatan. Tentang harapan adalah bintang. Tentang keinginan adalan tatapan. Tentang kenyataan adalah dekapan. Dan kebahagiaan adalah takdir suratan.

Aku tertawa mendengar penuturannya. Persis sebuah pelangi. Yang warnanya tak kunjung aku mengerti. Tapi mentari hati, dan lelap yang tersurat, cukup aku sukai.

Kami pun deal menamakannya sebuah pertanyaan yang tak butuh jawaban.

Pembicaran pun beralih kisah tentang gelisah. Berlanjut ke rasa resah. Namun bukan tentang sesuatu yang salah.

Kalimatnya pun meluncur lancar. Penuh janji-janji dan puji puja. Tentang tak perlu menengok ke belakang. Tak perlu mengenang yang telah hilang. Cerita lama yang sudah saatnya dilupa. Tentang bayang-bayang yang tak lagi sepanjang badan.

 

“tak usahlah lagi kisah

tentang segala yang menebar resah”

 

Aku sepakati kesepakatan itu. Tak usah ada lagi kisah yang membuat resah. Tak perlu lagi membuka cerita lama, kisah-kisah kesah penuh kesyahduan tak syah. Juga segala apa yang membuat hati terluka. Luka dan bisa kubawa berlari, hingga hilang pedi peri. Aku terkenang teriak Chairil membaca baitnya yang sederhana tapi dalam maknanya.

Dan kami pun deal untuk tak membahas lagi apa pun yang bernama kisah.

Cerita berlanjut tentang kebahagiaan. Ketika kenyataan seindah harapan. Ketika apa yang diinginkan menjelma nyata di depan mata. Ketika apa yang diangan inginkan telah terlaksana sesuai yang dipinta.

 

“kau yang dulu bertakhta dalam doa

kini telah bermahkota istana kalbu

rasakan seutuh alunan syukurku”

 

Dan syukur itu meluncur serupa mantra. Hatinya penuh bunga bahagia. Doa-doanya terkabul semua. Sesuatu yang dulu sangat diharap, sekarang telah ditatap. Tanpa jarak, tanpa jeda. Sebuah bahagia yang purna.

 

“kasih, kau ada karena

cintaku pada Cinta”

 

Aku tertawa membaca bait terakhirnya. Cinta itu masih dipertahankan dengan C besar. Dan aku berdoa untuknya. Ia mendapatkan cinta-Nya. Tepatnya, Cinta-Nya.

Namun tertawaku tak berakhir mengeja puisinya. Namun juga sms pamitannya.

“Aku mau mati!”

Awalnya tak aku mengerti. Tapi setelah penjelasan yang tak jelas dan tak berarti, aku justru sangat bisa memahami. Bahwa dia memang sangat butuh mati.

Maka sejak tiga hari kemarin, dia telah benar-benar mati. Dia sudah tak ada lagi.

Ada yang hilang. Ada yang harus hilang. Tapi tak harus ada yang kehilangan.

“Kelingan. Kelangan.” Aku membalas pamitannya.

Ada haru. Juga sendu. Tapi tak lebih dari sedetik, telah berlalu. Kami sama-sama kembali tertawa. Hidup adalah belajar, katanya. Dan kembali granit di kepalanya membukit.

“Ra sah digagas, lak wis!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 24 Maret 2011 pukul 23:32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s