Catatan Kaki 86: Guru Terbaik Sepanjang Waktu

Standar

Orang yang ingin pintar bikin roti, harus banyak makan roti.

Resep itu kudapat dari Izzatul Jannah, penulis idolaku . Konon Izzatul Jannah pun bisa menulis cerpen karena waktu kecil banyak membaca cerpen.

Itu pula yang kurasakan. Selama aku kecanduan buku, aku merasa bisa belajar apa saja. Bukan saja belajar menulis seperti yang kucita-citakan sejak kecil.

Ketika aku membaca suatu buku, selain menyelami isi dan mengikat maknanya, aku juga memperhatikan betul ‘fisik buku’ itu. Semacam pemilihan huruf, lay out, ilustrasi, komposisi, dan tak lupa desain covernya. Aku tertarik ingin bisa mendesain sebuah buku yang menarik. Aku pelajari dengan seksama setiap huruf dan garis yang ada. Bahkan setelah sekian banyak melahap buku, aku berani mengatakan pada diri sendiri ‘kalau cuma begini, aku pun bisa’. Bukankah aku juga bisa menggambar kartun dan pernah melay out majalah?

Maka aku pun belajar membuat desain buku. Dari mulai setting isinya, sampai desain covernya. Bahkan kemudian sampai pracetak dan cetaknya.

Sampai sekarang, dari mendesain buku inilah kugantungkan hidupku. Kudirikan sebuah biro desain, untuk melayani permintaan membuat buku. Dari naskah mentah sampai buku jadi adalah kerjaanku sehari-hari.

Semua hanya kupelajari dari buku yang aku baca.

Bidang pekerjaanku sekarang adalah bidang produksi, mengurusi masalah desain dan cetak. Maka bisa dikatakan, aku kerja di bidang yang dari kecil kugeluti. Dari SD yang mulai belajar bikin majalah-majalahan itu. Kemudian dari mengurusi majalah dinding di bangku SMP dan STM dulu.

Semua prosesnya adalah sama. Menata agar menjadi menarik. Bedanya adalah dulu manual, sekarang dengan komputer. Dulu semua kutulis tangan, sekarang dicetak.

Otomatis, karena sudah punya pekerjaan tetap, kebutuhanku beli buku sudah tidak ada kendala lagi. Lumayan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ‘gila bacaku’. Bahkan aku justru lebih mengutamakan beli buku daripada beli baju.

Aku tidak perlu mencuri-curi menjual ayam lagi untuk sekadar beli buku.

Aku bersyukur dengan ketidakmampuanku kuliah, hingga memaksaku demikian cinta dengan buku. Karena aku merasa, aku bisa kerja di penerbitan seperti sekarang ini, adalah karena sejak kecil aku akrab dengan buku. Mungkin kalau tak cinta pada buku, aku masih menjadi tukang cuci kereta, tukang penjaga WC, atau tukang parkir di pasar.

Bersyukur masih ada buku, yang mampu menjadi guru terbaik sepanjang waktu.

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Maret 2011 pukul 20:59

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s