Catatan Kaki 87: Mengenang Ketika Disidang dengan Kasus ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’

Standar

 

Buku bacaan di kampungku waktu itu, seperti musuh bagi orang tua.

Bagi mereka, seperti obat terlarang yang melenakan dan membahayakan anak-anaknya. Sesuatu yang mereka anggap akan membuat anak-anak menjadi malas bekerja membantu orang tua. Apalagi buku bacaan berbentuk komik. Betul-betul dianggap sebagai benda haram yang menjadikan anak jadi berani membantah.

Kalau dikatakan bahwa buku menjadikan anak pintar, merekapun tak menganggap benar pemikiran itu. Buat apa pintar, kalau dengan lulus SD saja bisa langsung kerja membantu orang tua di sawah atau merantau cari kerja ke kota. Buat apa pintar-pintar, bukankah cukup bisa baca dan tidak buta huruf saja. Kalau pintar malah percuma, karena selepas SD juga tidak melanjutkan sekolah. Kuliah hanya buang-buang biaya yang tidak sedikit, begitu alasannya.

Bagi mereka, membaca adalah pekerjaan orang menganggur. Maka anak yang suka membaca, adalah anak pemalas. Anak yang tidak suka bekerja  keras dan tidak mau membantu orang tua.

Kebiasaan anak-anak seusiaku di kampungku, setelah pulang sekolah adalah membantu orang tua di sawah atau di kebun. Yang laki-laki bisa menyabit rumput untuk ternaknya, membantu mencangkul dan menggarap kebun, atau mencari kayu bakar untuk memasak. Yang perempuan, memasak untuk mengirim makan orang tua yang bekerja di kebun, mengurus rumah selama ditinggal ke sawah seharian, atau mengasuh adiknya yang ditinggal orang tuanya.

Maka kalau ada yang tidak mengerjakan pekerjaan membantu orang tua semacam itu, dicap sebagai anak malas, yang kerjanya hanya sekolah dan membaca. Bagi mereka, belajar cukup hanya di sekolahan. Dan di rumah, kewajibannya adalah membantu kerja orang tua.

Orang tuaku pun sebetulnya termasuk yang berpandangan semacam itu. Hanya saja tidak sekeras dan sekaku orang tua yang lain. Mungkin karena aku anak tunggal, jadi ada kecenderungan lebih dimanjakan. Tidak dilarang ketika kedapatan asyik membaca. Dan tidak terlalu dibebani untuk membantu orang tua, seperti mencari rumput untuk sapi ataupun membantu kerja di sawah.

Apalagi mereka mungkin juga melihat minat membacaku yang dinilai lebih daripada anak-anak lain. Bahkan akhirnya orang tuaku malah mendukung. Ibuku kemudian sering membawakanku oleh-oleh majalah dan koran bekas sepulang dari pasar. Majalah dan Koran bekas itu dibelinya dari penjual nasi di pasar, yang mestinya untuk bungkus nasi. Termasuk ayahku yang telah mogok berangkat Kejar itu pun, sering meminjamkan modul pada pak RTku yang kebetulan jadi guru Kejar Paket A.

Karena dukungan itu, kumanfaatkan waktuku untuk banyak belajar dan banyak membaca. Akan kubuktikan pada guruku, bahwa banyak membaca buku cerita tak menghalangi prestasi belajar di sekolah. Akan kubuktikan pada masyarakat di sekelilingku, tetangga-tetanggaku, bahwa membaca bukan pekerjaan sia-sia. Dan itu aku buktikan dengan giat belajar. Hingga di antara anak-anak di lingkunganku, aku termasuk yang lumayan berprestasi di sekolah.

Aku sungguh tak habis pikir waktu itu, bahwa membaca seolah menjadi suatu perbuatan tercela di lingkunganku. Tapi aku tetap bertahan dengan kegemaranku membacaku. Bahkan kemudian membeli majalah-majalah loakan dan juga buku-buku bekasan.

Karena lingkungan yang semacam itu, setiap membeli buku, aku selalu kucing-kucingan. Jangan sampai ketahuan oleh keluargaku. Kalau ditanya, selalu kujawab buku itu adalah pinjaman di perpustakaan. Setelah habis dibaca, kusimpan rapat-rapat. Kesembunyikan di almari pakaian, di rak paling bawah, tertutup oleh kain-kain jarik simpanan keluarga.

Namun lama kelamaan ketahuan juga, bahwa aku suka beli buku. Karena di buku itu selalu kutuliskan tanggal pembelian, dan tanda tanganku. Aku tak bias mengelak dan berkelit dengan alasan itu buku pinjaman dari perpustakaan.

Maka kemudian yang kulakukan adalah jangan sampai ketahuan harga yang sebenarnya. Setiap membeli buku, label yang ada di sampul harus kubersihkan. Karena satu buku sastra pada waktu itu, harganya rata-rata 10 sampai 20 ribu. Itu senilai dengan 20 sampai 40 kilo beras. Yang berarti bisa untuk hidup kami sekeluarga selama sebulan lebih.

Aku masih ingat, ketika kumpulan kolom ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’-nya Umar Kayam terbit. Karena sejak SMP aku suka dengan gaya penceritaan Umar Kayam di Koran Kedaulatan Rakyat, maka aku langsung membelinya. Untuk belajar menulis kolom yang sederhana, namun memikat.

Waktu itu harganya adalah 10 ribu. Yang kalau dihubungkan dengan harga beras, itu sama dengan 25 kilo beras, karena harga beras masih 400 rupiah.

Karena keasyikan membaca buku yang memikat itu, aku sampai lupa melepas labelnya. Dan aku membaca di sriban depan, sampai ketiduran. Hingga tanpa kusadari, harga buku yang tertera pun terlihat oleh keluargaku. Oleh ayah ibuku, nenek, paman, dan bibiku.

Tak ayal lagi, mereka mencercaku. Menyidangku bersama-sama. Karena mereka menganggap, aku lebih mementingkan beli buku daripada beli beras. Kebutuhan harian sehari-hari yang lebih utama.

Mereka bahkan tetap tak menerima alasanku, ketika kusampaikan bahwa buku itu kubeli dengan uangku sendiri. Uang yang seharusnya untuk naik angkot dari terminal ke sekolahku.

Waktu itu aku diberi uang harian 1.000 rupiah. Karena jarak dari desaku ke sekolah lumayan jauh, harus naik bus dua kali. Dengan tarip pelajar, aku membayar 150 rupiah untuk naik bus ke terminal. Dari terminal ke sekolahan, taripnya 250 rupiah. Jadi pulang pergi ke sekolah, menghabiskan 800 rupiah. Dan ada sisa 200 rupiah untuk jajan.

Namun karena aku sedang ingin membeli buku-buku sastra terbaru, dari terminal ke sekolahan aku jalan kaki pulang pergi. Aku rela berpanas-panas lima kilo meter setiap hari demi keinginan beli buku baru. Yang artinya, dari 1.000 rupiah bekalku, aku hanya menghabiskan 300 rupiah saja. Untuk bis pulang pergi dari terminal ke rumah.

Sedangkan jatah untuk naik angkot dan jajan tidak kugunakan. Namun aku simpan, dan dari uang itulah, tiap bulan aku bisa membeli satu buku sastra terbaru.

Namun alasan itu tetap saja tak diterima oleh orang tua dan saudara.

Ya sudah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Maret 2011 pukul 17:38

One response »

  1. Ha3x……jadi inget sewaktu nyukjo, pasti kolom mister Rigen, madame Mbelgeduwelbeh yang jadi jujukan. Wah temenku yang Umbulharjo dimana yah sekarang, dia yang mbantu ncariin di gramed en ngirim ke tanah sebrang lor………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s