Catatan Kaki 89: Dengan Buku, Aku ingin Menjadi ‘Ibu’ bagi Anakku

Standar

Ibuku yang pertama kali mengenalkanku pada buku.

Ibuku yang mengenalkanku pada Modul Kejar Paket A yang sangat berjasa itu. Yang sampai hari ini kusimpan sebagai benda yang bersejarah bagi proses pembelajaranku. Yang akan kuceritakan pada anak-anakku, meski mereka mungkin hanya akan mentertawakan kesentimentilanku.

Ibuku yang pertama kali membuatku jatuh cinta pada buku.

Hari ini ketika aku betul-betul berkerja di dunia media, kecintaanku pada buku tidak akan luntur. Kecintaanku pada buku, seperti kecintaanku pada ibuku. Karena bukulah, yang membesarkanku, setelah aku dilahirkan ibuku.

Dengan dikenalkan ibu pada modul berjasa itu, aku merasa seperti dilahirkan kembali oleh ibuku. Kelahiran pertama adalah keluarnya jabang bayiku dari rahim ibu. Kelahiran kedua adalah terbukanya mataku yang menjadikan aku tidak buta aksara.

Ibulah yang melahirkan aku. Yang melahirkanku menjadi seorang bayi yang belajar membuka mata. Sekaligus yang menjadikan anak yang belajar membuka mata untuk membaca.

Kecintaanku pada buku, seperti kecintaanku pada ibuku.

Dari buku-buku yang kubacalah, aku menjadi mengenal dunia. Mengenal dunia yang sungguh mengasyikkan yang bernama membaca.

Benarlah yang dikatakan orang, bahwa jika kita bisa membaca, kita bisa menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan yang kita inginkan.

Dengan membaca kita bisa menemukan kebahagiaan kehidupan. Hidup tanpa membaca seakan gelap dan membosankan.

Sejak kecil, aku merasakan kebahagiaan dan kenikmatan itu. Sehingga meskipun sulit kudapatkan bahan bacaan di waktu itu, aku tetap berjuang untuk memperolehnya. Karena ilmu dan pengetahuan adalah hak semua manusia. Bukan hanya hak mereka yang kuliah saja.

Orang tua bilang, selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha. Selalu ada cara untuk mereka yang mau belajar.

Telah kucoba sekuat tenaga sepanjang perjalanan hidupku untuk belajar membaca kata, agar kutemukan bermacam makna. Dan itu kudapatkan di buku-buku yang tak terkirakan jasanya dalam perkembangan diriku.

Buku-bukulah yang telah menemani proses belajarku sekian lama.

Buku  jugalah yang telah mengobati penyakit minder yang kuidap sekian lama, menjadi seorang yang percaya diri dengan status ‘Lulusan TK Pertiwi’ saja.

Dengan membaca ribuan buku aku menjadi terpacu untuk terus belajar.

Aku ingin terus belajar. Meskipun harus berada di luar bangku perkuliahan.

Aku ingat, aku pernah diberi kado oleh Izzatul Jannah, penulis idolaku itu. Sebuah puisi Ang Tek Khun, yang berbunyi:

 

Aku belajar

bahwa belajar seringkali bukanlah ketersediaan waktu

melainkan pada kesediaan

pada ketundukan hati

 

Aku belajar

bahwa belajar seringkali bukanlah rangkaian aksi

melainkan proses membuka diri

proses menerima

 

Akupun ingin menceritakan pengalamanku waktu kecil pada anakku. Justru di era kini, ketika banyak buku yang menawarkan pentingnya arti membaca sejak dini.

Aku tidak ingin gairah membaca anakku lemah, ketika orangtua dan lingkungannya justru mendukungnya untuk gemar membaca. Akupun tidak ingin minat membaca anakku mati, ketika kondisi zaman memanjakan dengan beragam tontonan di televisi.

Waktu kecil, keluargaku memang tidak mempunyai radio apalagi televisi. Maka saingan keasyikan bagiku adalah bermain dengan teman dan perintah membantu kerja orang tua.

Tapi dengan pengalamanku waktu kecil, aku akan bertindak seperti ibuku.

Akulah yang akan mengajari anakku belajar mengenal aksara dan membaca. Akan kudampingi anakku untuk mencintai buku. Agar dia gemar membaca dan juga mencintai buku.

Tak akan kuhalangi anakku membaca sebanyak apapun buku. Karena bagiku, buku adalah ibuku. Ibu yang membesarkanku, setelah aku dilahirkan ibuku.

oleh Nassirun Purwokartun pada 29 Maret 2011 pukul 18:42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s