Catatan Kaki 92: Kalaulah Memang Anakmu Harus Pergi Meninggalkanmu

Standar

Tadi pagi ibu pulang ke Purwokerto, setelah dua minggu di Solo.

Ibu sengaja datang, karena sudah hampir setahun aku tak bisa pulang. Karena banyaknya pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan anakku yang memang harus selalu terapi selama empat tahun proses penyembuhan.

Aku sebenarnya ingin pulang tiap bulan, menjenguk orang tua dan rumah yang sudah dua puluh tahun kutinggalkan. Apalagi aku adalah anak tunggal, yang sejak kecil sudah jarang berada di rumah. Sejak SD aku sudah jarang tidur di kamarku. Lebih sering menginap di mushola, setelah membantu orang tua dan belajar malam. Begitu pun ketika SMP dan STM, aku lebih sering menginap di masjid dan di rumah saudara.

Awalnya sebenarnya sekadar niatan ’emosional’ seorang anak kecil, ketika aku SD, sering risih dianggap anak manja karena aku anak tunggal. Akhirnya aku menunjukkan, dengan giat belajar agar bisa meraih prestasi tertinggi di sekolahan, dan jarang sekali meminta apa pun pada orang tua. Selain juga karena memang, keadaan orang tua pun tidak berpunya. Jadi tak mungkin meminta yang tidak-tidak, untuk sekedar beli tas atau sepatu, misalnya.

Ketika aku SD, aku punya sepatu hanya waktu kelas 1. Setelah sepatu itu tak lagi muat di kakiku, aku tak beli sepatu lagi. Dan aku gembira-gembira saja sekolah tanpa alas kaki, karena saat itu bukan aku saja yang sekolah dengan kaki nyeker. Banyak teman lainnya, yang orang tuanya tidak berpunya, yang sekolah dengan kaki telanjang.

Aku beli sepatu lagi, setelah naik ke kelas 5. Itu pun karena aku terpilih oleh sekolah untuk menjadi pemimpin regu pramuka, untuk maju ke perlombaan tingkat kecamatan. Sepatu murahan warna hitam, yang kalau dipakai justru bikin kaki lecet. Sepatu yang dibeli setelah ibu dapat arisan RT.

Dan karena sepatu yang bikin lecet itu, ketika sekolah pun aku jarang memakainya. Lebih aman dan nyaman dengan nyeker saja. Aku memakainya hanya setiap hari Senin, kalau bertugas sebagai pemimpin upacara. Itu pun hanya di saat upacara saja. Setelah selesai upacara dan masuk kelas, sepatu kucopot kembali. Dan pulang pun dengan ditenteng.

Setelah itu, tak pernah lagi beli sepatu sampai lulus SD.

Dan sungguh, awalnya aku tak tidur di rumah karena ingin menunjukkan pada tetangga-tetangga yang suka bilang, bahwa anak tunggal pasti manja. Maka dengan prestasi di sekolah, kutunjukkan pada mereka, meski aku anak tunggal, tapi bisa untuk tidak manja.

Namun semangat menunjukkan itu kebablasan. Setelah kelas 5 aku sudah tak pernah di rumah. Setelah pulang sekolah, setelah makan siang, aku membantu ayah ke hutan untuk mencari rumput. Ayahku memelihara seekor sapi, hasil maro dengan tetangga. Jadi sapi itu milik tetangga, yang ketika nanti dipelihara dan beranak, anaknya itu menjadi milik berdua. Separoh milik ayahku, sebagai upah memelihara sekian lama.

Setelah mencari rumput di hutan pinus, aku pulang sambil membawa sekarung rumput. Sementara ayah membawa lebih banyak, dengan dipikul dan berat yang sangat. Sebuah pasokan makan untuk selama dua hari. Karena esoknya, ayah harus menggarap sawah. Sebidang sawah yang harus ditanami, yang juga bukan milik keluarga kami. Melainkan milik saudara, yang orang tuaku hanya menggarapkan saja. Dengan upah, ketika panen akan mendapatkan bagian.

Dari hasil panenan itulah, kami makan sekeluarga. Dan dari anak sapi yang dijual itulah, nantinya yang menjadi biayaku selama SMP.

Hari ini, aku teringat ibu, setelah tadi pagi mengantarkan kepulangannya. Mendadak ada rasa bersalah, ketika dulu aku selalu meninggalkannya.

Setelah mencari rumput, aku membantu ayah lagi. Membersihkan kandang sapi, dari rumput-rumput kering yang tak dimakan, dan dari kotoran yang berserakan. Dibuang ke jugangan yang berada di belakang kandang. Dikumpulkan untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk kandang.

Hari sore aku habiskan dengan menyapu rumah. Lantai yang masih tanah, dibersihkan dengan diperciki air terlebih dulu, agar bersih dari debu. Setelah itu, barulah disapu.

Sambil menunggu senja datang, aku buka buku pelajaran. Kubelajar dengan iringan musik dari RRI, dengan nyanyian lagu-lagu pop cengeng, yang saat itu sedang menjadi trend. Ada banyak lagu romantis yang banyak kudengarkan, dan kuhafalkan, dan masih terkenang sampai sekarang.

Setelah malam datang, waktu maghrib menjelang, aku berangkat ke mushola. Sholat maghrib dan mengaji di sana. Dan setelah isya, bermain di pelataran. Untuk kemudian menginap di mushola bersama-sama. Pagi setelah shubuh, barulah kami pulang. Untuk mandi, sarapan, dan berangkat sekolah.

Jadi sejak SD aku memang jarang tidur di rumah. Yang itu berlanjut ketika SMP dan STM. Bahkan setelah lulus, hanya berjarak setengah bulan, aku sudah langsung ke Bandung. Hampir delapan bulan di sana, kemudian pulang ke Purwokerto. Namun itu pun tak lama, karena aku kemudian ke Kalimantan, dan pindah lagi ke Cilacap.

Jadi sejak dulu aku memang tak pernah tidur di rumah. Kamarku hanya kujadikan ruang ganti baju, dan tempat menyimpan ratusan buku.

Dan hari ini, ketika aku tadi pagi mengantarkan kepulangan ibu, tiba-tiba aku terkenang kenangan rumah. Mendadak ada kerinduan untuk mencium pengap kamarku, yang telah dua puluh tahun tak pernah kutempati. Karena ketika pulang ke Purwokerto pun, aku lebih sering tidur di rumah istri.

Maka malam ini, entah mengapa, mendadak aku terkenang rumah. Dan mungkin, bulan depan aku niatkan untuk pulang. Untuk sekadar tidur di kamar tengah. Kamar yang dulu kujadikan gudang buku, dengan berantakan dan serakan buku yang memenuhi tempat tidurku. Buku-buku yang ketika kutinggal ke Solo, entah telah hilang ke mana. Konon banyak dipinjam orang, tapi tak pernah dikembalikan.

Dan setelah sepuluh tahun menetap di Solo, sungguh malam ini aku ingin merasakan kepengapan kamarku. Kamar dengan jendela kecil di sebelah barat, yang kordennya dari jarik ibu yang disobek menjadi empat. Kamar yang konon menjadi tempatku dilahirkan oleh ibuku, pada tiga puluhan tahun silam.

Malam ini aku belum bisa tidur di kamar itu.

Namun tadi aku sempat pesan, agar malam ini ibu mau tidur di kamarku.

Ada yang menyesak dalam batinku, ketika tadi ibu sempat memintaku untuk pulang. Setelah sepuluh tahun menetap di Solo menjadi perantauan sebagai kaum kabur kanginan. Namun dengan keadaanku yang sekarang, sepertinya aku belum berani pulang.

Maka malam ini, dengan terkenang pada ibu, aku teringat sebuah puisi yang kutulis sepuluh tahun lalu, ketika  berpamitan pada ibu.

 

“kalaulah memang

anakmu harus pergi meninggalkamu

sebab buah tak harus menggantung

di pohon selamanya

sesekali anak panah

harus lepas dari busurnya

tuk coba cari arah mata angin

sendiri

 

bebas

lepas

seperti anak burung

yang coba susun sarang

di dahan tinggi

 

tak usah khawatir

tak perlu bimbang

anakmu tak akan lupa

jalan pulang

 

yakinlah

sebab sesekali kapal pasti merapat

di pelabuhan

tuk membongkar muatan

 

dan kerbau pun akan pulang kandang

bila datang petang

 


(‘Catatan Kaki’ paling cepat yang pernah aku buat. Hanya 34 menit! Karena dari pagi hingga malam ini, sulit sekali ‘mencuri waktu’.)

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 April 2011 pukul 23:47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s