Catatan Kaki 93: Bukittinggi dan Buku yang Dibeli Tiga Kali

Standar

“Bukittinggi adalah sebuah kota kecil yang terletak di tengah-tengah dataran tinggi Agam.

Letaknya indah di ujung Gunung Merapi dan Gunung Singgalang dan di sebelah utaranya kelihatan pula melingkung cabang-cabang Bukit Barisan.

Antara Bukittinggi dan Gunung Singgalang terbentang sebuah ngarai yang dalam dan bagus pemandangannya. Agak jauh dari tempat itu, di jurusan sebelah timur, tampak Gunung Sago.”

 

Kalimat itu aku baca sepuluhan tahun belakangan. Ketika aku menemukan sebuah buku bersampul coklat tua, terbitan tahun tujuh puluhan. Sebuah buku langka, yang kudapatkan di kios buku loakan Gladhag, ujung utara alun-alun Solo. Buku tebal berjudul ‘Memoir’, yang merupakan autobiografi Bung Hatta. Yang konon ditulis sendiri oleh Bung Hatta bertahun-tahun lamanya. Sejak akhir tahun enam puluhan, hingga akhir delapan puluhan. Beberapa saat sebelum beliau wafat pada 14 Maret 1980.

Sejak SD aku sudah mengagumi pribadi Bung Hatta. Sejak membaca kisah hidupnya, dalam buku cerita yang kudapatkan di perpustakaan sekolah. Buku bersampul kuning, dengan foto Bung Hatta yang botak kepalanya. Dengan kaca mata dan pandangan mata lurus ke depan mencerminkan keteguhan dan keseriusan. Buku tipis berjudul ‘Bung Hatta Sang Proklamator’, yang sudah aku lupa entah karangan siapa. Namun kalau tak salah, penerbitnya adalah Aries Lima, dan merupakan buku proyek inpres pemerintah.

Aku terpesona dengan sosok Bung Hatta, karena kecintaannya pada buku, yang menurutku sangat mengagumkan. Dan itu sangat membekas di hatiku, sebagai anak kecil yang juga sedang sangat bergelora semangat membacanya. Hingga selama setahun di kelas 6, seluruh buku bacaan yang ada di perpustakaan, yang memang jumlahnya tak lebih dari satu rak saja, sudah habis aku baca.

Menginjak SMP, aku menemukan buku yang lebih berat lagi. Sebuah buku bersampul hitam yang kutemukan di pojok almari perpustakaan sekolah. Buku tebal dengan kertas buram yang terhimpit di antara ratusan buku pelajaran. Buku yang mungkin tak pernah seorang pun sempat memegangnya, apalagi membacanya. Terlihat dari licinnya sampul dan rapatnya kertas isi dalamnya. Buku berjudul ‘Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan’. Buku berisi kumpulan kenangan sahabat-sahabat Bung Hatta, yang dikumpulkan oleh Meutia Farida, anak sulungnya.

Namun sayang sungguh sayang, aku tak sempat merampungkan buku itu. Karena baru beberapa hari membacanya, mendadak buku itu tak kudapatkan lagi di lemari perpustakaan. Dan ketika kutanyakan pada penjaganya, konon dipinjam oleh seorang guru kelas tiga. Namun aku tunggu sekian lama, berhari-hari berbulan-bulan, bahkan sampai kemudian lulus, sepertinya buku itu tak pernah kembali ke perpustakaan.

Dan karena terkenang pada buku itu, aku pun selalu merindukan untuk bisa kembali mendapatkan. Untuk kemudian merampungkan bacanya. Dan baru lima belas tahun kemudian, aku mendapatkan kembali di kios loakan di Pasar Senen, Jakarta. Ketika aku datang ke Jakarta, ketika memenangkan juara I lomba karikatur KPK. Sebagian hadiahnya aku belikan buku di sana, sampai sekardus AQUA banyaknya.

Kekaguman pada Hatta, membuatku ingin terus menelusuri jejaknya. Bahkan ada niatan untuk mendatangi rumah kelahirannya, yang sudah kuidamkan sejak kelas 2 SMP. Yang terus kuniatkan, kalau ada dana dan kesempatan, harus segera kutunaikan.

Dan cita-cita itu baru tertunai setelah aku keluar dari kerja. Dengan tak lagi terikat jam kerja, aku jadi bisa bebas ke mana-mana. Termasuk ke Bukitinggi dan Padang selama delapan hari lamanya. Tentu dengan menabung selama setahun dari honor kartunku di sebuah media. Agar biaya selama perjalanan dan selama di sana tak mengganggu ‘perekonomian’ rumah tangga.

Aku pun berbahagia, bisa tiduran sejenak di lantai kamarnya. Sebuah rumah yang terletak di pusat kota Bukittinggi. Tak jauh dari bangunan Jam Gadang yang merupakan landmark kota itu. Rumah besar peninggalan saudagar kaya kakek Hatta, yang dibangun ulang karena rumah aslinya sudah lama runtuh. Dan karena pelebaran jalan, akhirnya bentuk bangunan pun digeser beberapa meter ke belakang dari letak aslinya.

Satu kenanganku pada Bung Hatta, yang membuatku kagum, adalah kecintaannya pada buku. Yang secara tak sadar, ternyata aku pun kemudian mengikuti jejaknya.

Ketika Hatta dibuang ke Digul, untuk kemudian diasingkan ke Banda, Hatta yang selama di pembuangan rajin menulis, meminta honornya diganti dengan buku. Dan selama bertahun-tahun di Tanah Merah, semakin banyaklah buku yang terkirim dari berbagai koran. Dan terbukti, ketika mendarat di pelabuhan Banda bersama Syahrir yang sama-sama diasingkan di sana, ada 16 peti besar yang berisi buku-buku Hatta.

Kecintaannya pada buku terus berlanjut hingga tua. Hingga saat Hatta tak lagi sepaham dengan karibnya, Bung Karno, yang tengah menjalankan ide demokrasi terpimpin. Akibat provokasi PKI yang tak suka dengan Hatta, akhirnya Dwi Tunggal pun tanggal. PKI yang mengetahui Hatta sosok yang sangat anti komunis, tak ingin pendapatnya tersebut bisa mempengaruhi Bung Karno yang tengah terbuai dengan ide NASAKOMnya. Hingga pada 1 Desember 1956, Hatta pun meletakan jabatannya sebagai wakil presiden Indonesia. Yang otomatis harus pindah dari rumah dinasnya di Jalan Merdeka Selatan 13 ke rumah di Jalan Diponegoro.

Dalam prosesi pindah rumah itulah, Hatta yang sangat cinta buku lebih mendahulukan buku-bukunya daripada perabotan rumah tangga lainnya. Buku-buku yang ribuan itu telah diikat sesuai tanda raknya, dan dimasukan dalam peti aluminium agar terhindar dari kerusakan. Karena memang kehati-hatian dalam merawat buku, sudah menjadi kebiasaannya. Hingga Hatta bisa sangat marah, ketika ada pembantu yang mengotori bukunya, atau bahkan ada yang menatanya dengan terbalik atas bawahnya.

“Mana ada orang yang berjalan dengan kepala di bawah,” begitu selalu hardiknya.

Dan kecintaan pada buku berlanjut ketika perpustakaannya makin banyak koleksinya. Hatta membayar pembantu untuk merawat ribuan bukunya. Yang tugasnya khusus untuk mengelap buku satu per satu buku koleksinya. Yang harus penuh kehati-hatian, supaya tidak terjatuh dan robek.

Dan itu pun terjadi padaku, ketika pindah rumah beberapa tahun lalu. Untuk mengangkut lima ribu bukuku, membutuhkan diangkut pickup sebanyak enam kali. Berikut dengan lemari dan rak-raknya. Sementara perabot lainnya kupindah belakangan. Setelah selesai menata buku di kamar kerjaku.

Kekaguman pada Hatta, membuat aku pun mengoleksi semua karya tulisnya. Dari naskah pidatonya ketika masih jadi mahasiswa di Belanda, kumpulan karangannya ketika dalam pengasingan, kumpulan pidatonya ketika menjadi wakil presiden, kumpulan surat-suratnya kepada Bung Karno setelah tak lagi jadi wakilnya, biografi yang ditulis oleh sejarawan, otobiografi yang ditulisnya sendiri oleh Hatta, bahkan beberapa buku yang berisi kenang-kenangan dari pada sahabat ketika Hatta berulang tahun.

Intinya semua tulisan yang berkaitan dengan Bung Hatta, aku koleksi, dan tak akan terlewatkan untuk menambah kelengkapan pengetahuan.

Maka begitu kemarin ada teman yang memberitahu, bahwa ada buku baru tentang Hatta aku pun langsung mencarinya. Buku baru berjudul ‘Untuk Negeriku’, yang konon ditulis oleh Bung Hatta sendiri. Aku pun langsung tertarik, karena sebelumnya aku sudah mempunyai otobiografi Hatta yang berjudul ‘Memoir’.

Sampai di Gramedia, tanpa banyak tanya, aku langsung membelinya. Harganya 125 ribu rupiah, terdiri dari 3 buku. Termasuk murah untuk buku trilogy semacam itu. Yang jilid satu berjudul ‘Dari Bukittinggi ke Rotterdam Lewat Betawi’, yang menceritakan perjalanan masa kecil Hatta hingga remaja, ketika menjadi mahasiswa di Belanda. Buku kedua berjudul ‘Berjuang dan Dibuang’, berisi kisah hidupnya setelah kembali ke Indonesia, menjadi aktivis pergerakan yang kemudian akrab dengan pembuangan. Sedangkan buku terakhir berjudul ‘Menuju Gerbang Kemerdekaan’, yang bercerita tentang persiapan menuju dan menjelang kemerdekaan yang penuh perdebatan.

Sebuah buku luar biasa, yang begitu sampai rumah langsung aku baca.

Pertama aku baca pengantarnya, yang disampaikan Meutia Farida mewakili pihak keluarga Hatta.

Kekagetan langsung terjadi, ketika baru membaca beberapa paragrafnya. Karena ternyata, buku ‘Untuk Negeriku’ ini adalah bukan buku baru. Melainkan buku lama yang diterbitkan dengan judul baru. Dan buku lama itu adalah ‘Memoir’, yang terbit pada 32 tahun lalu.

Untuk meyakinkan, aku buka lembar berikutnya. Lembar awal dari otobiografi itu, yang berjudul ‘Bukittinggi’. Di sana tertulis kalimat yang masih sangat kuhafal di luar kepala. Yakni tentang pelukisan suasana Bukittinggi, yang sangat indah dan mempesona.

 

“Apabila tidak ada kabut, kelihatan dari jauh barat laut Gunung Pasaman yang tersohor dalam dongeng sebagai gunung yang mengandung emas. Ngarai dan gunung-gunung serta Bukit-bukit Barisan yang kelihatan sekitarnya itu memberikan kepada kota Bukittinggi suatu pemandangan yang indah sekali. Hawanya sejuk, pada malam hari malahan dingin. Berbagai jenis bunga subur tumbuh di sana. Orang-orang yagn datang bertamasya dari daerah pesisir sering menamakan Bukittinggi ‘Kota Kebun Bunga Mawar’.”

 

Aku sempat kecewa, karena ternyata aku membeli buku yang sudah aku miliki sebelumnya.

Ini adalah buku ketiga yang aku beli berulang. Karena ‘Memoir’ yang kubeli pertama dulu dipinjam adikku, namun sampai sekarang tidak dikembalikan. Maka ketika tahun lalu aku menemukan buku langka itu di Jogja, aku langsung membelinya.

Dan ternyata, yang kubeli sekarang pun buku yang sama.

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 April 2011 pukul 21:46

2 responses »

  1. Wweleh2, kok pada wae, punya buku tiba2 ilang….ya…beli lagi yang sama. Trus, beli tapi kok double….ya cari aja alasan untuk kasih yang lain. Ning, si nopel Aryo Penangsang ketiga……………….kemana yaaa…..ketangsang nang ndi………..ya……….. Happy fasting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s