Catatan Kaki 95: Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (2)

Standar

“Bagaimana tentang hukum menggambar makhluk bernyawa?”

Membincangkan kartun dan karikatur, selalu terhubungkan dengan pro kontra boleh tidaknya membuat gambar makhluk bernyawa.

Dan untuk memantapkan niatku, aku bersandar pada fatwa yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Qardhawi. Dalam buku ‘Islam Bicara Seni’, disebutkan tentang kesimpulan hokum menggambar, sebagai berikut:

Satu, jenis gambar yang paling berat keharamannya dan dosanya adalah gambar sesuatu yang disembah selain Allah. Karena ia menyebabkan pembuatnya kafir, apabila ia mengetahui hal itu dan sengaja berbuat.

Dua, menggambar suatu objek yang tidak disembah, namun dengan tujuan meniru ciptaan Allah. Dan menganggap diri bisa mencipta sebagaimana Allah mencipta.

Tiga, menggambar tokoh-tokoh yang tidak disembah, tapi dipajang dan ditempelkan untuk diagung-agungkan. Seperti gambar raja-raja, panglima, pemimpin, dan tokoh idola lainnya.

Empat, menggambar yang tidak diagungkan, tapi menjadi gaya hidup mewah dan berlebih-lebihan. Seperti untuk menghias dinding dan semacamnya. Hal ini hukumnya makruh.

Lima, menggambar yang tidak bernyawa, seperti pohon, gunung, laut, sawah, yang merupakan pemandangan alam, maka yang menggambar dan merawatnya tidak berdosa. Asalkan hal itu tidak melalaikannya dari ketaatan atau mengarah pada kemewahan hidup. Jika itu terjadi, makruh hukumnya.

Enam, karya fotografi, hukumnya mubah, asalkan objeknya tidak mengandung unsur haram.

Tujuh, gambar yang diharamkan atau dimakruhkan, apabila sudah dialihfungsikan, maka bergeser hukumnya dari haram dan makruh kepada mubah.

Dengan bersandar itulah, aku meniatkan, agar gambarkut terhindar dari keharaman dan kemakruhan. Melainkan sesuatu yang telah difungsikan sebagai penyampai pesan pendidikan dan kebenaran, hingga bisa bermanfaat. Dan mubahlah hukumnya.

Sebab aku mantap berkartun pun sesungguhnya berawal dari sebuah keprihatinan.

Ketika kartun pun bisa menjelma menjadi senjata untuk memojokan Islam, sementara kita tak punya senjata untuk melawannya.

Di waktu kecil, tetanggaku yang aktivis agama lain sering membagi-bagikan buku-buku komik yang ceritanya diambil dari kitab mereka. Ternyata banyak yang suka, dan ajarannya pun mudah dicerna oleh teman-teman sebayaku.

Hingga timbul pertanyaan, apakah kita tidak bisa membuat hal yang serupa. Mengemas ajaran-ajaran Islam dengan bentuk komik dan cergam. Hingga mudah diterima dan disukai oleh anak kecil?

Kemudian beranjak ketika remaja, aku berkenalan dengan banyak kartun dari banyak media. Yang masing-masing mereka membawa misinya sendiri-sendiri. Aku pun mulai berkenalan dengan media Islam. Tapi tak kutemukan kartun di sana.

Kalaupun ada, adalah saduran dari majalah-majalah Timur Tengah, yang kurang dimengerti pesan-pesannya. Karena beberapa ilustrasinya ditambah dengan huruf-huruf Arab gundul, yang tak semua orang bisa mudah membacanya.

Hingga timbul pertanyaan serupa, apakaah tidak ada kartunis muslim yang tergerak ke sana?

Maka sepertinya aku setuju pada Iqbal, bahwa ‘seni adalah juga merupakan sebagian dari bentuk manuver musuh-musuh Islam’.

Maka aku mantapkan aku akan berseni kartun, untuk menghadapi manuver tersebut. Aku mantap terjun ke dalamnya.

Kalau orang lain berdakwah dengan khotbah-khotbahnya, dengan tulisan-tulisannya, dengan pedangnya, dengan uangnya, dengan segala potensinya, maka biarlah aku mencoba dengan gambar-gambarku saja.

Akan kuasah mata pena gambarku sejatam pedang, sebagai senjata untuk mengajak kebenaran dan menghunus kemungkaran.

Itulah niatanku berdakwah lewat kartun, yang telah hamper 17 tahun aku pancangkan.

Dan niatan itu belum padam, meski belum banyak yang memahami niatan ini.

Namun aku terus mencoba. Terus berusaha. Semampu kekuatanku saja, tentunya.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 April 2011 pukul 23:16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s