KENANGAN RAMADHAN 2: TAK PERNAH LAGI

Standar

Qur’annya sederhana saja. Bukan yang warna, karena ada penanda tajwidnya. Bukan pula yang lengkap dengan terjemah atau bahkan lafdhiyah per kata. Bukan juga yang lengkap berikut “miracle the reference” yang mempunyai 22 manfaat itu.

Namun, ternyata itulah qur’an istimewa. Qur’an yang selama ini selalu aku baca setiap tahun, saat tadarus Ramadhan. Tepatnya, sejak aku menikah, dan mendapatkan itu sebagai kado pernikahan.

Saat tilawah tadi pagi, tak sengaja aku tersadar akan keberadaan qur’an itu. Qur’an paling sederhana yang kupunya. Karena hanya berisi larik ayat dan surat. Dengan cover warna keemasan yang kasar, serta cetakan isi kertas putih biasa. Tapi qur’an itu tiba-tiba jadi istimewa, karena mendadak aku teringat pada yang memberikan.

“Hanya bisa kasih ini saja, mas,” katanya saat ia memberikan kado pada pernikahanku.

Aku tersenyum, dan melupakan apa yang ia berikan. Bukan untuk menyepelekan, tapi ia mampu memberikan kado saja sudah luar biasa bagiku. Ia datang dari keluarga sederhana. Ayahnya dikenal sebagai penjudi, dan ibunya penghutang. Ia pun dikenal sebagai anak yang keras wataknya. Bicaranya kasar, meskipun seorang bocah perempuan. Namun setelah kenal denganku, kami akrab, dan kekerasannya mulai berkurang. Paling tidak ketika bersama kami di mushola.

Aku pertama mengenalnya, sejak ia ikut TPA. Bersama seorang temanku , aku mengajar lebih dari 60 santri. Karena pengajar hanya 2, akhirnya aku memilih anak-anak yang sudah hampir iqro 6 untuk aku training. Aku dapatkan 10 anak yang sudah iqro’ jilid 6. Mereka kuajar lebih intens, agar bisa membantu kami, mengajar santri yang lain. Santri yang iqro’nya di bawah mereka,  iqro 1 sampai 4. Sementara santri iqro jilid 5 diajar oleh temanku.

Ia adalah 1 dari 10 anak yang kuajar di kelasku. Bersamanya ada 5 santri putra dan 5 santri putri. Secara kemampuan, ia hanya rata-rata saja. Hingga hanya aku percayakan 2 santri yang diajar olehnya. Tentu selain pertimbangan, karena dia pun kasar pada anak kecil dan masih suka bicara kasar.

Bermula dari sekadar membantu mengajar iqro, 10 anak itu aku arahkan menjadi pengurus mushola. Anak usia kelas 4 dan 6 SD, serta 2 anak yang kelas 1 SMP. Aku sendiri saat itu kelas 2 SMA. Aku beri nama pada kelompok mereka, Pesan Ashkaf. Singkatan dari Pengajar Santri Ashhabul Kahfi. Yang selain membantu mengajar santri, juga bertanggungjawab atas mushola. Dari soal kebersihan, sampai jadwal adzan.

Karena menjadi pengurus mushola, kemampuan mereka pun selalu kami tingkatkan. Setelah lulus iqro,mereka lanjut ke tadarus qur’an. Kebetulan, saat itu menjelang Ramadhan. Kami berencana melakukan suatu pencapaian yang “beda”di Ramadhan itu.

Biasanya, para remaja dan ibu-ibu bertadarus bersama, dan khatam 1 kali. Kami merencanakan yang lebih. Yakni, berencana mengkhatamkan qur’an sebanyak 5 kali. Caranya, setiap shalat jamaah, kami melingkar dan bertadarus bersama sebanyak 1 juz. Hingga sehari selesai 5 juz, dan khatam dalam 6 hari. Alhamdulillah berhasil khatam 5 kali, meski ada 2 santri yang gagal. Bukan karena malas, tapi karena 2 santri putri itu ternyata sudah mendapatkan “tanda kedewasaan” mereka.

Tadi pagi, saat aku bertadarus memakai qur’an pemberiannya, aku jadi terkenang peristiwa yang telah lewat belasan tahun silam itu. Mengenang anak-anak kecil yang baru lulus iqro, namun langsung bisa bersemangat untuk sholat berjamaah tanpa putus saat Ramadhan, dan dilanjutkan tadarus 1 juz. Bisa dibayangkan, bagaimana lamanya menghabiskan 1 juz dari anak yang masih terbata-bata membaca 1 ayat.

Mendadak, kenangan itu membayang kembali. Bahkan, ada malu dalam hati, sebab itulah kali pertama dan satu-satunya, aku pernah mengkhatamkan sampai 5 kali. Sesudahnya tak pernah lagi.

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 21 Juli 2012 pukul 13:05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s