Monthly Archives: Februari 2013

KENANGAN RAMADHAN 5: MALU HATI PADA MBAH HAJI

Standar

Mendengar banyaknya komentar miring tentang “ustadz selebritis”, yang konon bertarif tinggi saat mengisi kajian Ramadhan di tivi, membuatku terkenang pada Mbah Haji.

Waktu itu, mushola belum ada. Orang yang sholat pun masih jarang. Sampai kemudian seorang haji dari desa tetangga datang ke kampung kami. Berkeliling tiap rumah, mengajak orang-orang tua, kakek-kakek dan nenek-nenek, untuk mengaji. Mengajari mereka bacaan dan gerakan sholat.

Salah satunya yang diajak adalah nenekku.

Karena tiap pekan didatangi, tiap datang diajari, nenek pun jadi bisa sholat. Padahal umurnya sudah lebih dari 60 tahun, dan buta huruf juga. Jadi, nenek adalah generasi awal yang sholat, bersama kakek-kakek dan nenek-nenek yang lain.

Dari mengajar ngaji keliling rumah itu, lama kelamaan mulai banyak kakek-nenek yang sholat. Sholat sendiri-sendiri, di rumahnya masing-masing. Penandanya adalah adzan dari kampung seberang, dari masjid besar Mbah Haji.

Karena rumah kami berlantai tanah, nenek sholatnya di amben kayu. Dengan menggelar tikar pandan sebagai sajadahnya. Aku ingat, amben itu juga yang ketika nenek meninggal digunakan untuk memandikan.

Lama kelamaan, banyak orang muda yang ikut belajar sholat. Terutama yang pekerjaannya adalah pegawai negeri, golongan terpandang di kampung kami. Mereka tidak diajari satu persatu di rumahnya, namun berombongan di rumah salah seorang dari mereka. Kemudian, dari kumpulan merekalah tercetus untuk memulai sholat berjamaah. Dengan memanfaatkan rumah kosong sebagai musholanya.

Lama aku memendam tanya, mengapa dulu Mbah Haji memilih orang-orang tua sebagai sasaran awal dakwahnya? Mengapa hanya para kakek-nenek saja yang diajaknya sholat? Mengapa bukan orang yang lebih muda dulu, seperti kedua orang tuaku, misalnya.

Ada jawaban dari ibu yang pernah kudapat. Konon, karena saat itu, kakek-nenek adalah para penghuni rumah. Mereka yang selalu berada di rumah sejak pagi hingga sore. Sementara orang yang lebih muda, sepantaran orang tua kami waktu itu, siang hari tak pernah di rumah. Sejak pagi ayah dan ibu sudah berangkat ke sawah. Siangnya, ayah mencari rumput untuk pakan sapi ke hutan. Ibu berkebun ke ladang. Jadi, Mbah Haji hanya menemui para orang tua saja, yang bisa diajarinya sholat.

Namun ada pendapat lain. Katanya memang ia sengaja mencari yang tua, sebab dalam pandangan umum, merekalah yang sudah memikirkan jalan pulang. Lebih mencari ketenangan jiwa, daripada sibuk mengejar kebutuhan dunia. Jadi, lebih mudah ketika diajak sholat. Meluangkan waktu untuk belajar dan menyempatkan waktunya untuk menjalankan sholat 5 waktu.

Sementara yang muda, yang masih harus bekerja keras, apalagi sebagai petani penggarap yang tak punya sawah seperti orang tuaku, selalu beralasan kehabisan waktu. Sudah kerja keras banting tulang pun, kebutuhan harian masih tidak mencukupi.

Dua puluhan tahun kemudian, saat melihat mushola telah ramai dengan anak yang mengaji, remaja yang giat berdakwah, orang tua yang mendukung kegiatan kami, aku terkenang pada sosok haji itu. Kalau tak ada “kerja dakwah”nya, mungkin tak ada orang yang sholat di kampung kami. Dan, mushola pun mustahil berdiri.

Namun, yang kemudian selalu terkenang di hati, adalah ketekunannya datang berkeliling dari rumah ke rumah. Mengakrabi satu per satu orang yang ditemui di rumah yang didatangi, sebelum mengajaknya sholat. Telaten datang tiap hari, berganti-ganti orang yang berbeda-beda taraf kecerdasan dan emosinya.

Seorang pendakwah yang mengingatkanku pada para ustadz generasi kami. Harus ada jamaah yang banyak dulu, baru mau datang mengajari. Harus diundang dulu, baru mau mengisi. Itu pun hanya sekadar memberi kajian dari mimbar. Bukan yang telaten mengajari satu per satu, dengan pendekatan personal sekali. Mengajak mendekat Illahi dengan sentuhan hati.

Maka kini, setiap melihat “ustadz selebritis”, aku selalu terkenang sosok Mbah Haji. Bukan untuk membandingkan “kerja dakwah” mereka lagi. Tapi sekedar menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Berkaca pada ketekunannya yang membuatku malu hati.

oleh Nassirun Purwokartun pada 24 Juli 2012 pukul 9:42

Iklan

KENANGAN RAMADHAN 4: MUSHOLA YANG HILANG

Standar

Selain rumah orang tua, tempat yang selalu menawarkan kedamaian dan kenangan saat aku pulang kampung adalah mushola.

Bangunan itu pertama kali berdiri, seingatku, waktu aku SD kelas 1. Sebelumnya warga kampung menumpang di sebuah rumah tua untuk melaksanakan sholat maghrib, dilanjutkan mengaji, dan sholat isya. Waktu itu bangunannya masih kecil dan sangat sederhana. Dinding sudah ditembok, tapi lantai masih kasar, hingga yang sholat harus menggelar tikar.

Aku jarang ikut ke mushola untuk sholat maghrib dan mengaji. Namun, karena waktu siang bangunan itu juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak, aku pun sering berada di sana. Bermacam permainan anak-anak kami gelar dengan riang gembira, seperti di poskamling saja.

Aku masih sangat ingat bentuk bangunannya. Atapnya yang susun dua, dengan lapis bawah dari genting dan lapis atas dari ijuk dengan pinggiran seng. Dua bingkai jendela kayu tanpa daun di kiri dan kanan, serta pintu bentuk kupu tarung yang hanya ada satu berada di tengah. Sebuah mushola yang sering mengingatkanku pada bangunan cungkup kuburan.

Dengan iuran warga, bangunan mulai diperbaiki. Lantai diplester semen, jendela yang hanya bingkai diganti, pintu pun diubah model engsel. Namun jendela tetap tanpa daun, hanya dipasang jeruji kayu bulat-bulat berjajar di tengahnya, membuatku terbayang pada pintu penjara.

Sampai masuk SMP, aku masih sering di mushola. Tentu untuk bermain umbul wayang di siang hari, dan bukannya mengaji turutan pada sore harinya. Atau permainan dam-daman (catur Jawa) dengan bidak pecahan genting dan bermain karet atau kelereng yang sangat menyenangkan.

Aku baru benar-benar menjadi penghuni mushola sesungguhnya saat STM kelas 1. Ketika ada “panggilan” yang entah datang dari mana, mendorongku untuk belajar iqro. Waktu aku menjadi tontonan anak kecil yang mungkin keheranan, ada remaja yang masih belajar iqro jilid 1.

Mushola saat itu sudah dalam perbaikan kembali. Eternit pada langit-langit sudah dipasang, hingga tokek yang ada di atap tidak bisa buang kotoran seenaknya ke lantai. Pintu yang di tengah ditutup dan dibuat pintu baru di kanan dan kiri, sebagai pintu putra dan putri. Lantai plester semen pun diganti tegel sumbangan orang. Hanya jendela “penjara” saja yang masih asli seperti sebelumnya.

Ada yang beda saat aku mulai aktiv di mushola. Siang hari sudah tidak menjadi “taman bermain” anak-anak lagi. Mungkin ini pengaruh tontonan di tivi yang lebih menarik. Namun sore harinya tetap ramai untuk anak-anak yang belajar iqro’. Metode pembelajaran baca qur’an yang baru “in” saat itu, menggantikan metode turutan yang kami kenal waktu kecil dulu.

Setiap maghrib sampai isya, mushola selalu ramai. Ada remaja yang mengajar anak-anak, juga ibu-ibu yang mengaji bersama. Sementara bapak-bapak mengadakan pengajiannya selepas isya. Suasana yang hangat akrab penuh kedamaian, yang selalu aku rindukan.

Sebab sekarang, setiap aku pulang kampung, suasana itu sudah tak kutemukan lagi. Tak ada anak-anak ataupun ibu-ibu yang ramai mengaji dengan para remaja yang mengajari. Alasannya, karena anak-anak sudah TPA di masjid besar saat sore harinya, juga karena banyak yang sudah bersekolah di TK dan SD Islam. Jadi waktu malam mereka gunakan untuk belajar pelajaran sekolah.

Hingga setiap selepas maghrib, saat jamaah pulang ke rumah masing-masing, aku sengaja berdiam sendirian di mushola. Mengenang saat masih ramai dengan canda tawa anak-anak yang tengah mengaji dalam lingkaran.

Sambil menunggu saat ‘isya tiba, aku mencoba “menikmati” mushola yang sudah terbangun megah. Luasnya sudah lebih dari 4 kali bangunan semula, karena mendapat wakaf tambahan. Dibangun kembali dengan gaya modern yang kokoh dan mewah. Lengkap dengan lantai keramik yang licin mengkilat, serta dinding-dinding yang kuat. Pintu-pintu dari kayu jati tebal dan mahal, serta jendela kaca penuh hiasan.

Saat itulah, entah mengapa, aku selalu ingin berlama-lama di sana. Menikmati kesendirian dalam larut kenangan. Kedamaian yang memprihatinkan. Saat aku seperti meratapi musholaku yang hilang.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Juli 2012 pukul 11:31