KENANGAN RAMADHAN 4: MUSHOLA YANG HILANG

Standar

Selain rumah orang tua, tempat yang selalu menawarkan kedamaian dan kenangan saat aku pulang kampung adalah mushola.

Bangunan itu pertama kali berdiri, seingatku, waktu aku SD kelas 1. Sebelumnya warga kampung menumpang di sebuah rumah tua untuk melaksanakan sholat maghrib, dilanjutkan mengaji, dan sholat isya. Waktu itu bangunannya masih kecil dan sangat sederhana. Dinding sudah ditembok, tapi lantai masih kasar, hingga yang sholat harus menggelar tikar.

Aku jarang ikut ke mushola untuk sholat maghrib dan mengaji. Namun, karena waktu siang bangunan itu juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak, aku pun sering berada di sana. Bermacam permainan anak-anak kami gelar dengan riang gembira, seperti di poskamling saja.

Aku masih sangat ingat bentuk bangunannya. Atapnya yang susun dua, dengan lapis bawah dari genting dan lapis atas dari ijuk dengan pinggiran seng. Dua bingkai jendela kayu tanpa daun di kiri dan kanan, serta pintu bentuk kupu tarung yang hanya ada satu berada di tengah. Sebuah mushola yang sering mengingatkanku pada bangunan cungkup kuburan.

Dengan iuran warga, bangunan mulai diperbaiki. Lantai diplester semen, jendela yang hanya bingkai diganti, pintu pun diubah model engsel. Namun jendela tetap tanpa daun, hanya dipasang jeruji kayu bulat-bulat berjajar di tengahnya, membuatku terbayang pada pintu penjara.

Sampai masuk SMP, aku masih sering di mushola. Tentu untuk bermain umbul wayang di siang hari, dan bukannya mengaji turutan pada sore harinya. Atau permainan dam-daman (catur Jawa) dengan bidak pecahan genting dan bermain karet atau kelereng yang sangat menyenangkan.

Aku baru benar-benar menjadi penghuni mushola sesungguhnya saat STM kelas 1. Ketika ada “panggilan” yang entah datang dari mana, mendorongku untuk belajar iqro. Waktu aku menjadi tontonan anak kecil yang mungkin keheranan, ada remaja yang masih belajar iqro jilid 1.

Mushola saat itu sudah dalam perbaikan kembali. Eternit pada langit-langit sudah dipasang, hingga tokek yang ada di atap tidak bisa buang kotoran seenaknya ke lantai. Pintu yang di tengah ditutup dan dibuat pintu baru di kanan dan kiri, sebagai pintu putra dan putri. Lantai plester semen pun diganti tegel sumbangan orang. Hanya jendela “penjara” saja yang masih asli seperti sebelumnya.

Ada yang beda saat aku mulai aktiv di mushola. Siang hari sudah tidak menjadi “taman bermain” anak-anak lagi. Mungkin ini pengaruh tontonan di tivi yang lebih menarik. Namun sore harinya tetap ramai untuk anak-anak yang belajar iqro’. Metode pembelajaran baca qur’an yang baru “in” saat itu, menggantikan metode turutan yang kami kenal waktu kecil dulu.

Setiap maghrib sampai isya, mushola selalu ramai. Ada remaja yang mengajar anak-anak, juga ibu-ibu yang mengaji bersama. Sementara bapak-bapak mengadakan pengajiannya selepas isya. Suasana yang hangat akrab penuh kedamaian, yang selalu aku rindukan.

Sebab sekarang, setiap aku pulang kampung, suasana itu sudah tak kutemukan lagi. Tak ada anak-anak ataupun ibu-ibu yang ramai mengaji dengan para remaja yang mengajari. Alasannya, karena anak-anak sudah TPA di masjid besar saat sore harinya, juga karena banyak yang sudah bersekolah di TK dan SD Islam. Jadi waktu malam mereka gunakan untuk belajar pelajaran sekolah.

Hingga setiap selepas maghrib, saat jamaah pulang ke rumah masing-masing, aku sengaja berdiam sendirian di mushola. Mengenang saat masih ramai dengan canda tawa anak-anak yang tengah mengaji dalam lingkaran.

Sambil menunggu saat ‘isya tiba, aku mencoba “menikmati” mushola yang sudah terbangun megah. Luasnya sudah lebih dari 4 kali bangunan semula, karena mendapat wakaf tambahan. Dibangun kembali dengan gaya modern yang kokoh dan mewah. Lengkap dengan lantai keramik yang licin mengkilat, serta dinding-dinding yang kuat. Pintu-pintu dari kayu jati tebal dan mahal, serta jendela kaca penuh hiasan.

Saat itulah, entah mengapa, aku selalu ingin berlama-lama di sana. Menikmati kesendirian dalam larut kenangan. Kedamaian yang memprihatinkan. Saat aku seperti meratapi musholaku yang hilang.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Juli 2012 pukul 11:31

3 responses »

  1. suddenly ujug-ujug pengin mbuka blog iki
    tiba’e trilogi mo diwedar sasi juni
    lak njur bungah tho…atiku iki
    ……
    membaca sejarah
    mengeja langkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s