KENANGAN RAMADHAN 5: MALU HATI PADA MBAH HAJI

Standar

Mendengar banyaknya komentar miring tentang “ustadz selebritis”, yang konon bertarif tinggi saat mengisi kajian Ramadhan di tivi, membuatku terkenang pada Mbah Haji.

Waktu itu, mushola belum ada. Orang yang sholat pun masih jarang. Sampai kemudian seorang haji dari desa tetangga datang ke kampung kami. Berkeliling tiap rumah, mengajak orang-orang tua, kakek-kakek dan nenek-nenek, untuk mengaji. Mengajari mereka bacaan dan gerakan sholat.

Salah satunya yang diajak adalah nenekku.

Karena tiap pekan didatangi, tiap datang diajari, nenek pun jadi bisa sholat. Padahal umurnya sudah lebih dari 60 tahun, dan buta huruf juga. Jadi, nenek adalah generasi awal yang sholat, bersama kakek-kakek dan nenek-nenek yang lain.

Dari mengajar ngaji keliling rumah itu, lama kelamaan mulai banyak kakek-nenek yang sholat. Sholat sendiri-sendiri, di rumahnya masing-masing. Penandanya adalah adzan dari kampung seberang, dari masjid besar Mbah Haji.

Karena rumah kami berlantai tanah, nenek sholatnya di amben kayu. Dengan menggelar tikar pandan sebagai sajadahnya. Aku ingat, amben itu juga yang ketika nenek meninggal digunakan untuk memandikan.

Lama kelamaan, banyak orang muda yang ikut belajar sholat. Terutama yang pekerjaannya adalah pegawai negeri, golongan terpandang di kampung kami. Mereka tidak diajari satu persatu di rumahnya, namun berombongan di rumah salah seorang dari mereka. Kemudian, dari kumpulan merekalah tercetus untuk memulai sholat berjamaah. Dengan memanfaatkan rumah kosong sebagai musholanya.

Lama aku memendam tanya, mengapa dulu Mbah Haji memilih orang-orang tua sebagai sasaran awal dakwahnya? Mengapa hanya para kakek-nenek saja yang diajaknya sholat? Mengapa bukan orang yang lebih muda dulu, seperti kedua orang tuaku, misalnya.

Ada jawaban dari ibu yang pernah kudapat. Konon, karena saat itu, kakek-nenek adalah para penghuni rumah. Mereka yang selalu berada di rumah sejak pagi hingga sore. Sementara orang yang lebih muda, sepantaran orang tua kami waktu itu, siang hari tak pernah di rumah. Sejak pagi ayah dan ibu sudah berangkat ke sawah. Siangnya, ayah mencari rumput untuk pakan sapi ke hutan. Ibu berkebun ke ladang. Jadi, Mbah Haji hanya menemui para orang tua saja, yang bisa diajarinya sholat.

Namun ada pendapat lain. Katanya memang ia sengaja mencari yang tua, sebab dalam pandangan umum, merekalah yang sudah memikirkan jalan pulang. Lebih mencari ketenangan jiwa, daripada sibuk mengejar kebutuhan dunia. Jadi, lebih mudah ketika diajak sholat. Meluangkan waktu untuk belajar dan menyempatkan waktunya untuk menjalankan sholat 5 waktu.

Sementara yang muda, yang masih harus bekerja keras, apalagi sebagai petani penggarap yang tak punya sawah seperti orang tuaku, selalu beralasan kehabisan waktu. Sudah kerja keras banting tulang pun, kebutuhan harian masih tidak mencukupi.

Dua puluhan tahun kemudian, saat melihat mushola telah ramai dengan anak yang mengaji, remaja yang giat berdakwah, orang tua yang mendukung kegiatan kami, aku terkenang pada sosok haji itu. Kalau tak ada “kerja dakwah”nya, mungkin tak ada orang yang sholat di kampung kami. Dan, mushola pun mustahil berdiri.

Namun, yang kemudian selalu terkenang di hati, adalah ketekunannya datang berkeliling dari rumah ke rumah. Mengakrabi satu per satu orang yang ditemui di rumah yang didatangi, sebelum mengajaknya sholat. Telaten datang tiap hari, berganti-ganti orang yang berbeda-beda taraf kecerdasan dan emosinya.

Seorang pendakwah yang mengingatkanku pada para ustadz generasi kami. Harus ada jamaah yang banyak dulu, baru mau datang mengajari. Harus diundang dulu, baru mau mengisi. Itu pun hanya sekadar memberi kajian dari mimbar. Bukan yang telaten mengajari satu per satu, dengan pendekatan personal sekali. Mengajak mendekat Illahi dengan sentuhan hati.

Maka kini, setiap melihat “ustadz selebritis”, aku selalu terkenang sosok Mbah Haji. Bukan untuk membandingkan “kerja dakwah” mereka lagi. Tapi sekedar menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Berkaca pada ketekunannya yang membuatku malu hati.

oleh Nassirun Purwokartun pada 24 Juli 2012 pukul 9:42

One response »

  1. Mohon share ke Fb.Sebuah tulisan yang mengugah untuk kita renungkan mengapa islam menjadi agama yang kurang disegani,mungkin karena para ulama dan uztadnya lebih memperhatikan materi daripada misi dakwahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s