KENANGAN RAMADHAN 7: BLABUR IWAK

Standar

Kami menyebutnya blabur iwak atau banjir ikan. Karena di hari-hari itu, bahkan selama sepekan kemudian, akan terjadi banjir masakan ikan di semua meja makan.

Pada hari itu, bisa dipastikan, semua rumah di kampungku, lauk utamanya adalah ikan. Ada yang disayur santan, dicampur oseng, digoreng, dibakar, dipepes, disate, dan bermacam cara olahan lainnya. Termasuk juga dijemur untuk dijadikan ikan asin atau diasap, agar lebih lama disimpan.

Hanya ketika ada yang butuh dan tidak sempat mendapatkan saja, ikan itu baru kami dijual. Tentu dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah harga pada hari-hari biasa. Banjir ikan di tiap rumah yang kemudian membuat harga ikan di pasar pun jatuh drastis, bahkan sampai tidak laku.

Hari itu memang menjadi hari istimewa. Lauk ikan menjadi terbalik porsinya dengan nasi. Bagi keluargaku yang jarang makan ikan, makan dengan lauk ikan adalah istimewa. Yang biasanya sepiring nasi, lauk ikannya cuma sepotong, hari itu boleh berpotong-potong. Bahkan porsi nasinya lebih sedikit daripada lauknya. Hingga lebih seperti ikan itu menjadi nasi, dan nasi menjadi lauknya.

Hari pertama benar-benar menjadi pesta ikan. Bermacam masakan dengan bahan utama ikan terhidang di meja makan. Bisa karena dimasak oleh ibuku sendiri, bisa juga dari pemberian tetangga atau saudara. Apa yang ibu masak, sebagian dibagikan ke tetangga. Dan, tetangga pun memberikan masakan ikan yang diolahnya dengan cara yang berbeda.

Maka, nikmat pun berlebih di hari itu. Kenikmatan yang akan berlanjut hingga hari ke dua atau ke tiga. Perasaan nikmat akan ikan yang masih bisa kami rasa. Namun mulai hari ke empat atau ke lima, ada perasaan bosan juga dengan tiap hari makan ikan. Apa yang sebelumnya sangat istimewa, berubah menjadi biasa, bahkan menjemukan, karena terlalu banyaknya yang dimakan.

Karena bosan itu, bisa berakibat pada hilangnya nafsu makan ikan. Bahkan aku pernah sampai beberapa bulan tidak doyan makan ikan. Mencium amisnya saja sudah mual ingin muntah. Orang-orang menyebutnya dengan istilah mendem iwak atau mabuk ikan.

Kenangan blabur iwak itu mendadak kukenang, ketika selama Ramadhan ini, kami selalu sahur dan berbuka dengan menu masakan ikan.

Kenangan blabur iwak adalah kenangan ketika Sungai Serayu yang mengalir di kampungku, tengah membagikan ikan-ikannya pada kami. Ketika kami sebagai pemukim di sepanjang pinggiran sungai menjadi akrab dengan berkah tahunan itu.

Bahkan bukan hanya orang tua yang paham akan datangnya penanda, aku pun yang saat itu baru kelas 1 SD sudah bisa menengarai. Pokoknya, setelah terjadi kemarau panjang, saat air sungai Serayu menjadi bening dan dangkal, kemudian datang hujan pertama semalaman, itulah saat datangnya blabur iwak .

Selama semalaman kami tidur tidak tenang karena sambil berharap dan berdoa, semoga esok harinya adalah saat blabur iwak datang. Maka, begitu pagi menjelang, kami beramai-ramai ke pinggiran sungai, untuk mengecek apakah berkah itu sudah datang. Berkah dari panen ikan.

Ketika blabur iwak benar-benar datang, orang yang pertama mengetahui akan segera membunyikan kentongan. Setelah itu, berbondong-bondong penduduk seluruh kampung menyerbu sungai. Pagi buta selepas shubuh seluruh pinggiran sungai pun telah penuh jajaran orang.

Hanya beralatkan alat tangkap sederhana, kami dengan mudah mendapatkan ikan. Ada yang menggunakan ember, baskom, tudung saji, keranjang, pengki, dan lainnya. Hanya dengan itu saja, ikan berember-ember bisa kami dapatkan, tanpa susah-susah dengan menjaring atau memancing. Bahkan, cukup dengan tangan kosong saja, ikan itu bisa dengan mudah kami tangkap.

Bahkan pernah saat Ramadhan, ketika banjir iwak datang, semua jamaah tak melanjutkan dengan kuliah shubuh seperti biasa. Tidak juga diteruskan tadarus pagi. Begitu sholat selesai, semuanya langsung berhamburan ke sungai. Termasuk aku pun ikut-ikutan tidak pulang ke rumah dulu. Sarung yang kami pakai saat itu, bisa langsung dijadikan alat penangkap ikan.

Hari itu memang hari istimewa yang selalu kami tunggu. Hari ketika air sungai Serayu yang sebelumnya bening, dengan adanya hujan lebat semalaman, mengakibatkan banjir. Banjir besar yang membuat air sungai menjadi pekat coklat bercampur lumpur. Banjir itulah yang membuat ikan-ikan di sungai Serayu menjadi mabuk. Ikan-ikan yang kemudian berenang ke pinggir, hingga dengan mudah ditangkap oleh para penduduk.

Peristiwa itu selalu berulang setiap kemarau datang. Saat hujan pertama turun lebat, esoknya dipastikan akan terjadi blabur iwak.

Namun,hal itu sekarang tinggal kenangan. Terakhir blabur iwak terjadi, saat aku kelas 2 STM. Aku yang asyik menangkap iklan dari shubuh sampai jam 9, sampai lupa untuk berangkat sekolah.

Berkah blabur iwak  berhenti, setelah Bendung Gerak Serayu selesai dibangun. Bendungan besar yang diresmikan oleh Presiden Soeharto itulah yang membuat air Sungai Serayu selalu menggenang, hingga tidak mengalir lancar seperti sebelumnya. Genangan yang tak memungkinkan terjadi banjir lagi, ketika hujan pertama datang setelah kemarau panjang.

Sambil sahur dengan lauk ikan, sambil mengenang blabur iwak, aku membayangkan bahwa fenomena banjir ikan pun seperti juga Ramadhan.

Setelah kemarau iman berkepanjangan selama 11 bulan, hujan ampunan akan membanjir saat Ramadhan, hingga pahala pun lebih mudah ditangkap.

oleh Nassirun Purwokartun (Catatan) pada 26 Juli 2012 pukul 6:10

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s