Category Archives: Catatan Kaki 11 – 20

Catatan Kaki 20: 20 Tahun, Ayam-ayam itu Bertengger di Bukuku

Standar

sepertinya aku punya bakat jadi pesulap juga. buktinya bisa mengubah ‘brontok’ menjadi ‘lupus’!

Waktu kecil dulu aku punya beberapa ekor ayam.

Dan aku suka memberi nama pada mereka, sesuai dengan warna bulunya.

Kalau ayam itu bulunya putih, aku beri nama ‘si Putih’. Kalau bulunya hitam, aku beri nama ‘si Cemani’. Sedangkan yang berbulu putih campur hitam, namanya ‘si Brintik’. Nama ‘si Brontok’ untuk yang berbulu coklat bercampur hitam. Nama ‘si Blirik’ untuk yang coklat berbelang merah. Lalu nama ‘si Klawu’ untuk yang abu-abu.

Itu untuk nama-nama anak ayam betina. Sedangkan untuk anak ayam jantan tinggal dikasih nama depan ‘Jengger’. Maka kalau pejantan itu berbulu putih, berarti namanya ‘si Jengger Putih’. Demikian pula untuk yang berbulu hitam, disebut ‘si Jengger Cemani’. Begitu seterusnya dengan ‘si Jengger Brintik’, ‘si Jengger Brontok’, ‘si Jengger Blirik’, dan juga ‘si Jengger Klawu.’

Ayam-ayam kecil itu bukan ayah atau ibu yang membelikan. Melaiankan orang-orang tualah yang memberikan. Ada yang pemberian Pakdhe, Budhe, Paklik, Bulik, ada juga yang dari Kaki dan Nini.

Sudah kebiasaan di kampungku waktu dulu, anak-anak kecil kalau berkunjung menjelang lebaran ke orang yang lebih tua, selalu dikasih anak ayam untuk dipelihara. Kedatangan seorang anak kecil yang sesungguhnya karena disuruh orang tuanya, untuk mengirimkan makanan Lebaran.

Mungkin ini sama dengan budaya orang kota, yang suka memberi uang saku pada anak-anak kecil di hari Lebaran. Hanya bedanya, kalau di kampung tidak memberi uang, tapi berupa anak ayam.

Entah apa alasan mereka dengan memberi anak ayam. Mungkin kalau memberi uang, mereka tidak punya. Atau mungkin justru dinilai kurang mendidik. Karena akan menumbuhkan budaya boros dan membuat anak suka jajan. Sedangkan memberi anak ayam untuk dipelihara justru melatih kemandirian.

Begitu pun denganku. Setiap menjelang lebaran, aku selalu disuruh untuk mengantar makanan ke tempat saudara. Dan pulangnya selalu mendapatkan anak ayam yang usianya masih tanggung. Belum terlalu tua, dan juga bukan anak ayam yang baru menetas. Kami menyebutnya dengan sebutan ‘Dere’. Dan dari ‘Dere-Dere’ pemberian itulah, ayam-ayamku kemudian beranak pinak menjadi banyak.

Waktu itu aku sudah naik kelas lima. Saat ketika aku sudah meninggalkan bacaan-bacaan anak, karena mulai tertarik dengan cerita-cerita remaja.

Kesukaan yang bermula dari banyaknya membaca majalah ‘hai’ yang kubeli dari kios loakan di Jalan Pereng. Letak kiosnya tepat di pojokan jalan yang memang miring dan menurun. Setiap minggu pagi aku bersepeda dua jam lamanya, untuk sekadar medapatkan bekasan majalah ‘hai’ itu.

Dan di dalam majalah ‘hai’ itu terdapat serial cerita remaja yang ditulis oleh Hilman Hariwijaya. Tokohnya bernama Lupus, seorang anak SMA yang cuek namun kreativ. Selain menjadi pelajar, dia pun ‘nyambi’ kerja sebagai wartawan di sebuah majalah remaja.

Ciri khas ABG ini adalah tampil seenaknya, dengan rambut gondrong yang depannya awut-awutan. Konon karena meniru vokalis grup Duran-Duran. Cara berpakaiannya selalu mengenakan baju yang kedombrongan, yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Ketika bersekolah menggunakan tas yang sangat panjang talinya, dengan gelembung permen karet tak pernah lepas dari mulutnya.

Setelah banyak membaca serial itu, aku pun terpikat dengan pesona Lupus. Sosok remaja yang kreativ, konyol, mandiri, setia kawan, patuh pada orang tua, sedikit nakal namun jago menulis.

Sebagai anak kecil yang membutuhkan tokoh yang diidolakan, aku pun terpikat dengan gaya Lupus. Hingga aku bermimpi, suatu kali bisa seperti Lupus. Menjadi remaja yang mandiri dan suka menulis.

Menginjak kelas enam, aku sudah mulai mengenal toko buku. Toko yang menjual buku-buku baru. Karena tak jauh dari Jalan Pereng itu terdapat toko buku besar bernama ‘Angkasa’.

Pertama aku datang ke sana, karena setelah kubeli tiap minggu majalah ‘hai’ yang ada di kios Jalan Perang habis juga. Suasananya beda dengan kios loakan yang hanya berisi lapak biasa. Toko buku ini suasananya nyaman, rapi, dan dingin karena ada beberapa kipas angin besar pada langit-langitnya. Lumayan bisa menghilangkan keringat setelah mengayuh sepeda dan berpanas-panasan.

Dengan takut-takut aku memasuki pintu toko buku ‘Angkasa’, yang letaknya naik ke atas dari jalan raya.

Selain takut karena baru pertama itulah aku masuk toko buku besar, aku pun khawatir dengan sepeda onthelku yang kuparkir di tepi jalan. Kalau di kios loak Jalan Pereng, sepeda aku letakkan begitu saja dan bisa dilihat dari tempatku memilih majalah. Sementara di toko buku Angkasa ini, jarak antara jalan raya dengan toko ada trotoar yang cukup lebar. Dari trotoar ke pintu masuk toko juga ada jarak, karena tokonya lebih tinggi dari jalan. Maka aku selalu kepikiran dengan sepeda onthelku yang kuparkir di jalan. Dalam hati ada perasaan takut hilang, karena sepedaku itu tak ada kuncinya.

Ketika sedang memilih-milih majalah ‘hai’ itulah aku melihat serial Lupus yang sudah dibukukan. Ada beberapa judul yang telah terbit menjadi beberapa buah buku. Ada yang memang diambil dari serial yang selama ini sudah muncul di majalah, ada juga yang memang cerita baru yang belum pernah dimuat.

Aku tertarik dengan serial baru, karena belum pernah membacanya. Aku pun mencoba melihat judul-judulnya. Sampulnya yang menarik, hasil gambar dari Wedha sang illustrator ‘hai’. Aku buka-buka isinya, penuh cerita yang menarik minat baca. Juga perjalanan keliling daerah dari penulisnya untuk bertemu penggemarnya, yang diberi judul ‘Jumpa Lupus’. Aku sungguh ingin segera membelinya.

Namun uangku sudah terlanjur habis untuk membeli majalah. Dan kalau pun untuk membeli 1 buku itu, uangku pasti tidak cukup. Novel Lupus itu harganya satu buku 1.600 rupiah. Harga yang sama untuk mendapatkan 8 majalah bekas yang hanya 200 rupiah. Sementara uangku hanya 1000 rupiah.

Hingga keinginan membeli novel Lupus pun kutunda. Tapi semakin kutunda, ternyata semakin menggoda. Semakin ingin segera memilikinya. Dorongan semakin kuat untuk cepat membelinya.

Maka entah ide datang dari mana, aku berpikir untuk menjual seekor ayamku saja. Ayam peliharaan yang sudah lumayan besar, yang kukira harganya cukup untuk membeli beberapa buku Lupus sekaligus.

Dan esok paginya, rencana itu pun langsung kujalankan. Minggu pagi kutangkap seekor ayam berbulu hitam berlirik-lirik putih. Kujual ke tetanggaku yang penjual ayam di pasar Patikraja. Badannya yang sehat dan besar membuatnya laku empat ribu rupiah. Dan segera saja setelah uang ada di tangan, aku langsung mengayuh sepedaku ke toko buku Angkasa. Kubeli novel Lupus, dua buku sekaligus.

Aku pun bangga sekali. Dapat membeli buku sendiri, tanpa meminta uang ke orang tua lagi.

Namun justru setelah itu, penyesalan datang padaku. Bahkan aku merasa sangat bersalah pada ibu. Karena tanpa aku tau, ibu ternyata sudah punya rencana lain pada ayamku. Si Brintik itu sudah dijual ibu ke tentangga, untuk melunasi hutang arisan RT yang telah menunggak empat bulan.

Kejadian itu, kemudian membuatku tak berani menjual ayam sendiri, meski sebenarnya itu piaraanku sendiri. Selalu ibu yang menjualnya, baru aku minta bagianku, untuk kubelikan buku-buku.

Maka ketika kemarin aku buka lemari ‘museumku’, melihat ada nama ‘Brontok’ di bukuku, aku terkenang pada ayamku yang berbulu coklat bercampur hitam itu. Karena dulu, setiap membeli buku, pada halaman pertama kutulis tanggal pembelian. Sedangkan pada halaman rakhir kutuliskan nama ayam berikut harga penjualan. Sekadar pengenang pada ayam-ayamku yang telah menjelma menjadi buku.

Dan aku tersenyum membaca nama-nama ayamku, yang telah 20 tahun bertengger di bukuku.

Tentu kisah ini akan kuceritakan pada anakku. Bahwa ayahnya pernah menjadi seorang pesulap di masa kecil dulu. Yang dengan kekuatan ilmu ‘kepepet’, mampu mengubah ayam menjadi sebuah buku.

Abrakadabra, eh …. Alhamdulillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Januari 2011 pukul 9:36

Catatan Kaki 19: Ilmu Bekasan dari Kampus Loakan

Standar

seorang teman suka meledekku, dengan menuliskan ‘gelar luar biasa’ pada alamat paket yang dikirim padaku. hwahahahaha

“Endingnya monoton! Ujung-ujungnya pasar loak!”

Tadi malam, seorang teman istimewa mengirimkan komentar ‘istimewa’nya.

Dari pertemanan di facebook, dia adalah salah satu teman dari jenis ‘spesies langka’. Selalu membaca statusku, namun tak pernah berkomentar. Kalau pun koment, tidak ditulis di status, namun sms yang dikirimkan. Dan tak kuduga, catatan harian yang kutulis ini pun dibacanya. Konon sejak hari pertama, hingga yang ku upload semalam. Dan tetap, dia tak memberikan komentar apa pun di catatanku. Hanya semalam dia sempat bertanya, “Kenapa harus pasar loak terus, sih?”

Namun sms-nya itu tak sempat kujawab, karena aku sedang padat acara. Kalau pun dijawab, dia pun telah lari entah ke mana. Karena selalu begitu tabiatnya. Maka catatan yang kutulis ini, untuk menjawab tanyanya.

Bahwa sesungguhnya tulisan ini hanyalah sebuah catatan harian. Bukan semacam cerpen yang membutuhkan ending. Kalau pun catatan ini berujung pada kios loak, itu pun bukanlah ending. Karena kios loak hanyalah suatu tempat di mana selama ini aku sering hunting.

Aku memang sedang mengumpulkan barang-barang yang dulu kumiliki. Benda-benda yang sekarang telah hilang entah ke mana pergi, padahal bagiku sangatlah berarti. Aku berusaha untuk memilikinya kembali, sebagai sebuah prasasti diri. Sekadar melengkapi museum kecil untuk sendiri.

Aku sadar, semua barang itu bukanlah benda berharga, apalagi bersejarah. Karena itu tak mungkin aku mencarinya ke museum-museum pemerintah. Maka benda yang bagi orang lain dianggap sampah itu, mau tidak mau harus kucari lagi di pasar loak atau, yang juga disebut pasar ‘sampah’.

Disebut pasar sampah karena di situ tersedia benda-benda yang telah dianggap sampah oleh pemiliknya. Segala benda yang tak dibutuhkan lagi dan sudah dibuang pemakainya. Dari majalah bekas, buku bekas, kaset bekas, baju bekas, hiasan bekas, telepon bekas, jam bekas, hingga peralatan makan bekas. Seluruh benda yang tidak digunakan, hingga telah dibuang ke tempat sampah. Namun ternyata, sampah bagi seseorang bisa jadi merupakan harta karun bagi orang lain.

Demikian pula denganku. Aku yang ingin mengumpulkan segala benda-benda bersejarah dalam kehidupanku, menemukannya di situ. Dari buku yang pertama kali kubaca, majalah yang pertama kali kukenal, hingga bermacam kaset yang pertama kali kudengar. Semua kenangan itu pun kembali kudapatkan.

Maka aku pun menjadi petualang pasar loak. Karena ternyata, ada keasyikan tersendiri ketika berburu ‘sampah-sampah’ itu. Persis seorang pemburu yang mengincar binatang buruan, aku pun berkelana ke sejumlah pasar klithikan. Untuk di Solo, bisa dipastikan dua hari sekali aku pasti jalan-jalan ke Gladhag. Kalau ke Jogja, sebulan sekali pasti dolan ke Shoping. Aku punya langganan yang masih menyediakan buku loak, di tengah kepungan kios yang menawarkan buku baru dengan harga diskon. Demikian juga kalau ke Semarang untuk mencari kaset bekas di pinggiran pasar Johar. Begitu pula kalau Malang, pasti mampir ke Jalan Wilis atau pun kios loakan yang ada di depan stasiun kota.

Jadi kalau orang lain ke luar kota, yang didatangi tempat wisata berikut tempat kuliner atau mall-mallnya, tidak demikian denganku. Aku lebih memilih pergi ke museum atau pun pasar-pasar loaknya.

Mungkin benar kata sosiolog, bahwa sesungguhnya pasar loak pun tak ubahnya museum. Karena ia turut menyimpan jejak peradaban. Bahkan kalau museum resmi sifatnya monoton dan menjejalkan pesan satu arah bagi pengunjungnya, tidak demikian dengan pasar loak. Pasar barang bekas itu justru mampu menjadi museum parsitipatif, di mana semua orang bisa bertemu dan bertukar pesan tentang masa lalu mereka. Sebuah ruang publik yang membuat warga saling berbagi pemahaman dan pengalaman masa lalunya masing-masing dengan benda yang mereka inginkan.

Tapi aku tidak sedang bercerita pasar loak sebagai museum peradaban. Karena dalam pengalamanku sendiri, pasar loak justru merupakan kampus bagi seluruh proses pembelajaran.

Sebab sejak aku keranjingan bacaan, kios loakan adalah mata air segar di tengah padang kehausan pengetahuan. Dengan harga yang murah, bisa kudapatkan buku-buku lama, yang tak mungkin mampu kubeli baru di toko buku. Dengan harga yang murah pula, bisa mendapatkan bermacam pengetahuan yang kubutuhkan. Apalagi bagiku, pengetahuan bukan barang yang gampang basi dengan berlalunya waktu. Karena ia bukan berita, yang seperti dinyanyikan Rita Rubby Hartland: hari ini dibaca, esok jadi pembungkus, lusa di tempat sampah.

Bermula dari buku dan majalah yang kudapat di pasar loaklah, aku sekarang bisa mengambar dan menulis. Bisa dengan sedikit PD mengenalkan diri sebagai seorang kartunis atau pun penulis.

Sekadar contoh, ketika ingin menjadi penulis, aku banyak belajar pada majalah ‘hai’. Majalah remaja yang waktu itu dikomandani Arswendo Atmowiloto, penulis ternama dengan segudang karya. Dan di dalam asuhannya, lahirlah barisan penulis muda yang karyanya banyak menghiasi majalah remaja. Semacam Hilman Hariwijaya, Gola Gong, Zarra Zettira, Adra P. Daniel, Bubin Lantang, Arini Suryokusumo, Yanti Raharjo, Gustin Suradji, dan banyak lagi yang lainnya. Dari cerita-cerita karya merekalah aku mencoba mencicipi mimpi menjadi remaja yang menikmati masa-masa indah. Meski pun sampai dewasa, mimpi itu hanya ada dalam cerita. Karena aku tidak memilih jalan ‘cinta’nya.

Untuk mendapatkan majalah ‘hai’ edisi bekasan itu aku harus mengayuh sepeda 15 km ke kota Purwokerto dari kampungku. Perjalanan yang cukup membuat keringat yang kulakukan setiap minggu. Demi membeli majalah dengan bekal uang jajan yang kukumpulkan selama sepekan. Dengan uang sekitar 500 hingga 1000 rupiah aku bisa mendapatkan 3 – 5 majalah bekasan.

Dan aku memilih naik sepeda, karena agar irit ongkos tentunya. Sebab uang tabunganku tidak seberapa. Sementara kalau naik angkot, harus jalan dulu ke Pasar Patikraja yang lumayan jauh dari rumahku. Sedangkan dari Pasar ke Purwokerto, sekali jalan sudah 200 rupiah. Pulang pergi menghabiskan 400 rupiah. Kalau tidak mau jalan kaki, untuk menitipkan sepeda di Pasar, 100 rupiah. Sudah menghabiskan 500 rupiah, yang semestinya aku bisa dapatkan 3 majalah.

Jadi sebenarnya bukan hari ini saja aku akrab dengan pasar loak. Karena sudah sejak dulu, barang-barang loakan sudah sangat akrab dengan kehidupanku. Dan bukan hanya majalah ‘hai’ yang kudapatkan di sana. Karena seluruh pengetahuanku, ternyata bermula dari buku dan majalah bekas.

Sekadar contoh saja, ketika aku ingin belajar menulis puisi, cerpen dan artikel, ilmu itu kudapatkan dari majalah Horison bekas. Ketika memahami cara menulis kolom, belajar dari tulisan Umar Kayam dan Gunawan Mohamad di majalah TEMPO bekas. Dari majalah itu pula aku juga belajar bagaimana menulis cerita yang bertutur, gaya reportase yang dikenal sebagai jurnalisme sastrawi.

Begitu pun ketika ingin menjadi seorang kartunis. Aku banyak belajar menggambar dari kartun yang ada di majalah Senang bekas. Juga sewaktu belajar menggambar komik sejarah gaya ‘Sawung Kampret’nya Dwi Koendoro, yang kupelajari semua dari majalah HumOr bekas.

Jadi harus kuakui, majalah dan buku bekaslah yang sekian lama menjadi sumber ilmuku. Dan pasar loakan lah yang menjadi tempatku menimba ilmu. Ilmu bekasan yang justru sangat berguna bagi kehidupan, dibadingkan dengan yang kudapatkan di bangku sekolahan.

Jadi bisa kukatakan, pasar loak adalah kampusku yang sesungguhnya.

Kampus yang (celakanya!) tak pernah mampu membuatku lulus apalagi diwisuda. Hingga aku pun tak pernah mendapatkan gelar sarjana apa pun juga, karena tak ketahuan siapa rektornya.

Alhamdulillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 2 Januari 2011 pukul 17:3

Catatan Kaki 18: Wong Jawa Ilang Jawane

Standar

majalah PS edisi mei 1987, yang di dalamnya ada cerita misteri ‘siluman buaya’ itu, kutemukan di gladhag. melengkapi prasasti-prasasti kecilku!

Setajam-tajamnya pisau, kalau lama tak diasah, akan tumpul juga.

Begitu pun dengan pengetahuan. Akan hilang kalau tak pernah digunakan.

Itulah yang kemarin sempat kurasakan. Ketika sedang giat-giatnya membaca bermacam Serat dan Babad. Untuk mendukung penulisan novelku, aku ingin mendalami khazanah sastra Jawa dari sumber aslinya. Bukan yang sudah disalin ke huruf Latin, atau bahkan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Namun ternyata, kitab-kitab kuno dengan aksara Jawa itu bungkam. Karena aku tak bisa membacanya. Huruf ‘ha na ca ra ka’ itu bisu dalam ‘taling tarung wulu suku pepet’ yang tak lagi bisa kueja. Aku benar-benar mati kata. Sudah kucoba mengingat semua hurufnya, namun tetap tak bisa.

Aku betul-betul seperti ungkapan kekhawatiran para pecinta budaya Jawa. Sebagai orang Jawa yang telah kehilangan ke’jawa’annya. Buktinya, aku benar-benar tak lagi bisa membaca aksara Jawa.

Padahal waktu SD dulu, huruf Jawa merupakan hafalan di luar kepala. Sangat lancar membaca, bahkan menuliskannya. Karena sejak kelas 1 sudah diajarkan. Berbarengan dengan pengenalan huruf Latin. Dan kebetulan aku menyukainya, bersamaan dengan kesukaanku pada wayang dan tembang-tembang Jawa.

Kesukaan yang berlanjut hingga kelas 3 SD, ketika aku mulai mengenal majalah berbahasa Jawa. Ketika adik ibu yang menjadi guru di SMP Banyumas, sering membawa pulang Panjebar Semangat dari tempatnya mengajar. Aku sering main ke rumahnya, untuk ikut membaca.

Dari majalah itulah, kemampuan berbahasa Jawaku semakin terasah. Mulai mendalami bahasa Jawa gaya Solo-Jogja, yang oleh orang Banyumas disebut dengan ‘Bahasa Bandhek’. Bahasa yang bermula dari ungkapan para ‘Gandhek’, yang berbeda dengan yang kugunakan sehari-hari, yakni bahasa Banyumasan. Bahasa yang oleh orang Solo-Jogja sering dicemooh dengan sebutan ‘Bahasa Ngapak’.

Majalah Panjebar Semangat pun mulai mewarnai pengetahuanku. Sebagai anak kecil 10 tahun yang menggemari wayang, seperti menemukan wawasan baru. Karena dalam majalah tersebut, terdapat rubrik ‘Pedhalangan’, yang banyak menceritakan kisah-kisah pewayangan. Aku pun menjadi semakin matang memahami lakonnya, sejak Ramayana, Mahabharata, Baratayudha, bahkan hingga Pandhawa Seda.

Dalam majalah itu pula kudapatkan pengetahuan baru yang mengenalkanku pada ‘dunia lain’. Yaitu rubrik yang banyak menceritakan kejadian yang berhubungan dunia para hantu, yang konon merupakan kisah nyata dari penulisnya. Keingintahuanku membuatku tak pernah melewatkannya. Meski setelah membaca, ada ketakutan yang mulai membayang. Nama rubriknya adalah ‘Alaming Lelembut’.

Ada satu kisah yang sangat berkesan. Cerita yang sempat membuatku meninggalkan permainan yang sangat mengasyikkan, yaitu berenang menyeberang sungai Serayu.

Dalam edisi itu diceritakan, bahwa penulis yang tinggal di Brebes  pernah menemukan kejadian tentang buaya siluman. Buaya yang berdiam di kali Pamali, tak jauh dari rumahnya.

Konon, suatu hari ada perempuan cantik yang bertamu ke rumahnya. Perempuan itu meminta minum padanya. Setelah diberi minum air putih, ia pamit pulang. Namun ketika keluar dari rumahnya, berpapasan dengan 3 anak kecil. Ia menyapa 2 diantara 3 anak kecil yang akan bermain di kali Pamali.

Sore harinya terjadi kegemparan, karena 2 anak kecil itu diberitakan tenggelam di kali Pamali. Satu temannya mengatakan, bahwa ketika sedang berenang mereka berebut batang pisang yang hanyut. Dua temannya mengejar menangkap batang pisang di tengah sungai. Ia sendiri menunggu di pinggir.

Dua anak itu kemudian ditemukan telah mati. Dengan tubuh yang tidak utuh lagi. Menurut kepercayaan orang-orang, anak itu dimakan oleh buaya. Buaya siluman yang sebelumnya naik ke darat, dengan menyamar menjadi seorang perempuan. Perempuan yang meminta minum padanya.

Cerita itu sungguh terkenang-kenang dalam bayanganku. Hingga membuatku tak berani lagi berenang di sungai Serayu. Kebetulan saat itu sedang beredar kabar, banyak ternak peliharaan orang di pinggiran sungai Serayu yang hilang. Dicurigai dimakan oleh buaya besar yang mendiami palung dalam, tepat di atas tempat kami biasa bermain di pinggirannya. Beberapa orang, konon pernah melihatnya.

Bahkan karena takut, ketika teman-teman lain pindah ke pinggiran sungai yang lain, aku memilih tidak ikut. Aku benar-benar terpengaruh dengan cerita yang kubaca tersebut. Aku selalu membayangkan sedang melihat jelmaan siluman buaya, setiap kali melihat batang pisang yang terhanyut.

Dan cerita itu terbayang lagi, ketika tak sengaja majalah Panjebar Semangat itu kembali kutemukan. Majalah yang telah kubaca 20an tahun lalu, yang telah kudapatkan lagi di kios loakan. Ketika kulihat kembali judulnya, aku perhatikan gambarnya. Entah mengapa, getar itu masih tersisa.

Selain rubrik ‘Dunia Hantu’ itu, aku pun menyukai rubrik ‘Cangkriman’. Yaitu semacam teka teki yang disampaikan dengan bentuk tembang macapat. Yang masih kuingat adalah sebuah tebakan lucu, yang dinyanyikan dalam tembang Gambuh. Teka-teki sulit, namun ternyata jawabannya sangat mudah.

Beginilah cangkrimannya: “Wonten prabata agung, ajajar kekalih guwanipun, ing jro rungkud midid lesus angebeki , mawi tuk ilining ladhu, yen gora rimbagan miyos.”

Dan tahukah jawabannya? Ya, hidung!

Dan majalah itu sekarang kukoleksi. Semacam prasasti kecil, bahwa bacaan itu telah turut mewarnai masa kecilku. Majalah yang didirikan oleh Dokter Sutomo, sang pendiri Boedi Oetomo yang menjadi tonggak kelahiran Kebangkitan Nasional, diniatkan sebagai media pergerakan. Memasang jargon suci, ‘sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti’. Kalimat sakti serupa mantra, ‘segala keangkaramurkaan kekuasaan di atas dunia, akan hancur oleh sikap tunduk dan kepasrahan pada kekuatan Tuhan.’

Satu lagi kenanganku dalam membaca Panjebar Semangat. Yaitu rubrik ‘Geguritan’. Aku yang sangat menyukai pengucapan Ki Dalang ketika membawakan suluk, membuatku mulai mencintai puisi Jawa.

Ada 2 puisi yang sampai sekarang hafal di luar kepala. Suatu puisi pendek saja, namun dalam maknanya.

Judulnya ‘Epigram Urip’. Begini bunyinya, ‘nandhur pari, durung karuwan ngundhuh pari, apa maneh nandur rawe.’ Artinya, ‘menanam padi saja belum tentu memanen padi, apalagi menanam belukar’. Maknanya, menebar kebaikan saja belum tentu berbuah kebaikan, apalagi menabur kejahatan.

Sementara geguritan satunya justru sangat mengena di hatiku hari-hari ini. Judulnya ‘Epigram Tentrem’. Syairnya singkat, namun padat. ‘Yen katentreman ing panuju, sauren sakabehing utangmu.”

‘Kalau ketentraman hidup yang hendak kau tuju, lunasilah dulu seluruh hutang-hutangmu.’

Adakah kamu, yang mau membantuku?

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 Januari 2011 pukul 17:46

Catatan Kaki 17: Sobekan ‘Koran Doyok’ Pembungkus Nasi

Standar

bertahun-tahun aku mencari koran doyok yang sangat bersejarah itu. edisi 22 september 1988. dan kudapatkan di museum pers solo. tentu bukan dalam bentuk sobekan bungkus nasi. tapi dokumentasi utuh


“Kang Nass ini sebenarnya kartunis apa penulis?”

Seorang teman pernah bertanya begitu padaku. Dan hanya kujawab dengan senyuman saja, waktu itu.

Karena bagiku, yang disebut petani adalah mereka yang pekerjaannya memang bertani. Atau mereka yang mempunyai sawah untuk menanam padi. Atau seperti ayahku, yang tak punya sawah sendiri, hingga rela menjadi buruh tani. Tiap hari pergi ke sawah, untuk mencangkul, menyemai benih, mengairi, menyiangi, dan memanennya di kemudian hari. Yakni mereka yang makan nasi dari padi hasil keringatnya sendiri.

Maka demikian pula dengan seorang yang disebut kartunis atau juga penulis. Mestinya sebutan itu untuk mereka yang pekerjaannya memang betul-betul menggambar kartun atau yang benar-benar menulis.

Sementara aku? Apa tidak malu mengaku kartunis, kalau selama ini hanya membuat kartun asal jadi yang hasilnya tidak terpublish? Karena tidak bekerja di koran/majalah (seperti juga sawah bagi petani), tempat aku bisa menerbitkan (seperti juga menyebar benih dan menanam) kartun-kartunku.

Begitu pula kalau harus mengaku sebagai penulis. Mestinya kerjaku adalah benar-benar menulis (seperti petani yang tiap hari bekerja di sawah menanam padi), dan menghasilkan tulisan (seperti petani yang kemudian memanen padi). Aku malu menyebut diriku penulis, karena sampai setua ini belum mempunyai 1 pun buku yang diterbitkan, sebagai bukti bahwa pekerjaanku adalah menulis.

Bermula dari pertanyaan itu, aku bertekad memastikan posisiku.

Bahwa aku harus menjawabnya. Bukan menjawab pertanyaan temanku, tapi memberikan jawaban kepada diriku sendiri. Bukan dengan ucapan lagi, tapi dengan tindakan dan aksi. Aku harus kembali menulis, agar tidak malu ketika mengenalkan diri sebagai seorang penulis. Aku harus terus menggambar kartun, agar sah ketika menyebut diri sebagai kartunis.

Maka kalau pertanyaan itu diulang lagi, sekarang bisa kujawab dengan penuh percaya diri.

Hari ini aku bekerja di media (menjadi kartunis Koran O, koran peristiwa terkini), yang menuntutku harus menggambar kartun setiap hari. Yang setiap hari pula kartun-kartun stripku diterbitkan.

Hari ini pula aku sedang menyelesaikan trilogi novelku, Penangsang. Yang telah masuk jilid kedua, hingga menuntutku harus rajin menulis setiap hari. Maka ketika aku mengenalkan diri sebagai penulis, novelkulah yang dengan bangga kusebut sebagai ‘kartu nama’ perkenalannya.

Sekarang setiap malam aku harus menggambar 1 kartun strip, untuk diterbitkan tiap pagi. Kartun dengan 3 panel yang meyoroti perbincangan isyu terkini, dengan sindiran khas orang pinggiran.

Seorang teman pernah bertanya, “Kok bisa Kang Nass menggambar tiap hari, menyoroti peristiwa terkini? Apa mampu menjaga stamina agar tidak kehabisan ide yang dikuras tiap pagi?”

Aku kembali menjawabnya dengan senyuman. Karena ingin menjelaskan dengan pembuktian.

Bahwa menggambar komik tiap hari, adalah bagian cita-cita masa kecil. Keingingan yang telah kuidamkan sejak 26 tahun lalu. Ketika pertama terpesona dengan strip yang ada pada sobekan koran.

Sobekan koran yang waktu itu aku menyebutnya dengan nama ‘Koran Doyok’. Karena pada sobekan itu ada tulisan ‘DOYOK’ di pojok kanan atas. Dan di bawahnya terdapat kartun strip dengan tokoh utamanya bernama Doyok. Seorang laki-laki pengangguran dengan pakaian khas pembantu Jawa. Memakai celana cingkrang tiga perempat, baju surjan lurik merah, dan blangkon hitam sebagai penutup kepala.

Dan itulah komik pertama yang pernah kulihat. Komik yang langsung membuatku meniru gambarnya. Bahkan bercita-cita, suatu saat kelak aku bisa membuat komik serupa pada sebuah koran.

Aku mendapatkan koran itu, bukan dengan membelinya. Namun diperoleh ibu ketika membeli nasi bungkus buatku. Sobekan koran itulah yang menjadi pembungkus luarnya.

Pembungkus yang kemudian aku perhatikan seksama, setelah kuhabiskan nasinya.

Sungguh membuatku terpesona. Hingga sobekan itu aku simpan. Aku amati gambar tiap panelnya. Tiap perpindahan adegannya. Gaya garis gambarnya. Ekspresi wajah tokohnya. Bentuk tubuhnya. Balon kata-katanya. Ucapan tokohnya. Dan semua yang tergambar di sana, kujadikan pelajaran untuk menirukan. Aku gambar berulang-ulang hingga bisa kubuat tanpa perlu lagi melihatnya. Aku menjiplak betulan.

Dan setelah itu, tiap ibu berangkat ke pasar, aku selalu nitip agar beli nasi di warung makan itu. Dan minta agar dibungkus dengan ‘Koran Doyok’. Ibu pun selalu memenuhi permintaan itu. Hingga tiap ibu pulang dari pasar, bukan jajan yang kunantikan. Tapi bungkus nasi yang ada gambar strip kartun Doyok.

Setelah menginjak SMP baru aku tahu, bahwa ‘Koran Doyok’ itu adalah sisipan dari Koran Pos Kota. Koran berita dan peristiwa ibu kota, yang merupakan surat kabar dengan oplah terbesar di Jakarta. Dengan pangsa pembaca kelas bawah, yang banyak memberitakan peristiwa kejahatan. Hingga GM Sudarta (kartunis KOMPAS) pernah berseloroh, bahwa kalau Koran Pos Kota diperas akan mengucur darah. Karena banyaknya berita-berita criminal yang memenuhi halaman pertamanya.

Jadi kalau hari ini aku membuat komik strip untuk koran tempatku bekerja, itu semua adalah hasil belajarku ketika kelas 4 SD dulu. Mata pelajaran yang pernah kupelajari dengan seksama pada 20 tahun lalu. Ketika aku mencermati betul komik strip Doyok , hasil gambar kartunis bernama senior Keliek Siswoyo. Komik strip yang muncul tiap hari, hingga menjadi ikon branding dari Koran Pos Kota. Menjadi sosok yang mewakili suara rakyat bawah, penduduk urban ibu kota yang dipinggirkan.

Hingga aku pun berbangga, ketika pada kelas 2 SMA, kartunku masuk dalam Pameran Kartun Nasional di Purna Budaya Jogja. Pameran yang membuatku bertemu Keliek Siswoyo. Kukatakan padanya, bahwa komik stripnya adalah pelajaran pertama yang kupelajari ketika memahami komik strip. Aku pun berfoto bersama dengannya, sebagai kenang-kenangan yang membahagiakan.

Dan kejadian 16 tahun lalu itu terulang lagi 2 tahun lalu. Pada tahun 2008, ketika ketemu lagi di Bali dalam peresmian Museum Kartun Indonesia. Ada bahagia yang terulang. Seperti seorang murid yang bertemu dengan guru besarnya. Guru imajiner yang mengajariku membuat komik strip tiap hari.

Jadi kalau sekarang aku mampu membuat komik strip setiap hari, semua karena jasa sobekan koran pembungkus nasi. Dan kalau sekarang pun aku mau membuat komik strip setiap hari, semua karena keinginan untuk mencari sesuap nasi. Karena kata Arswendo Atmowiloto, tugas utama seorang penulis (dan semestinya demikian juga dengan kartunis!) adalah memberi makan untuk anak istri.

Tentunya bukan dengan memberikan sobekan koran. Tapi dengan nasi yang mengenyangkan.

Bismillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 31 Desember 2010 pukul 9:38

Catatan Kaki 16: Sebatang Paku pada Amben Kayu Ruang Tamu

Standar

buku yang luar biasa. karena ternyata pengarangnya (mbah Toeriman), adalah ayah temanku (mas Cipto Pratomo), seorang seniman banyumas. dan ketika kukatakan padanya, bukunya berjasa pada masa kecilku, beliau terharu. Karena mbah Toeriman juga tak mempunyai arsipnya lagi.


Aku akan bercerita tentang paku.

Paku yang masih menancap di amben kayu ruang tamu rumahku.

Ruang tamu yang kutinggalkan 10 tahun lalu, isinya masih sama dan penempatannya pun tetap begitu. Bahkan mungkin sejak 30an tahun lalu, sewaktu aku baru dilahirkan di rumah itu.

Sama sekali tak ada yang berubah. Dan tak ada yang mengubah. Jendela depan masih dicat hijau muda dan jendela samping dengan warna merah. Demikian juga dinding-dindingnnya, masih dengan anyaman bambu hasil karya ayah. Lantainya pun masih tanah.

Semua masih seperti dulu. Hingga kalau aku pulang, seolah sedang memasuki masa lalu.

Pada ruang sebelah kanan terdapat 2 pasang meja papan. Dengan 4 kursi kayu kasar di sisi kiri dan 2 sriban panjang di sisi kanan. Di belakangnya terdapat 1 amben kayu, yang diletakkan merapat ke dinding anyaman bambu.

Pada amben kayu itulah terdapat paku itu. Sebatang paku sebesar lidi yang telah menancap sejak 26 tahun lalu. Dan tak sengaja sempat kulihat, ketika aku pulang kampung beberapa bulan lalu.

Paku yang tiba-tiba mengingatkanku pada kesukaan masa kecil dulu.

Sejak kelas 2 SD, entah kenapa aku sangat menggemari pertunjukan wayang kulit. Setiap ada pagelaran di balai desa, aku selalu ingin menyaksikan. Dan betul-betul menyaksikan pakeliran. Memerhatikan aksi Ki Dalang memainkan sabetan. Menyimak betul lakon dan mengikuti alur cerita yang disampaikan. Berikut mengamati bermacam tokoh wayang yang sedang dimainkan.

Untuk ukuran anak sekecil itu mungkin ini sebuah keanehan. Karena teman sebayaku, kalau menonton wayang, tujuannya sebagai hiburan. Hanya untuk bersenang-senang bersama keluarga atau teman-teman. Untuk sekadar jalan-jalan, membeli bermacam jajan dan mainan.  Bukan untuk menyaksikan pementasannya. Apalagi mengikuti hingga tancep kayon di pagi harinya.

Karena di setiap pertunjukan, pasti bermacam penjual akan berjajar di sepanjang jalan. Dari penjual makan ringan semacam arum manis, manisan, kacang goreng, es lilin, es potong, dawet ayu, hingga makan berat seperti sroto babat, bakso urat, ataupun tahu kupat. Juga bermacam penjual mainan tradisional seperti thoet-thoet, othok-othok, jedhoran, gangsing bambu, pistol kayu, topeng kertas, wayang kardus, dan bermacam bentuk celengan.

Tapi entah kenapa, aku tak tertarik dengan bermacam jajanan atau pun segala mainan itu.

Aku justru selalu meminta ayah untuk menggendongku maju ke depan dan menaikkan ke panggung pertunjukan. Tempat di mana Ki Dalang memainkan pementasan dan seluruh penayagan (penabuh gamelan) serta waranggana (penyanyi) mengiringi pakeliran. Tenang duduk bersila di barisan belakang, dititipkan kepada tukang tabuh kenong yang berada di pojokan.

Lalu dengan tekun aku pun mengikuti penuturan Ki Dalang. Sejak suluk pembuka yang penuh lirik seperti sedang berpuisi, hingga perang kembang yang penuh dengan lagu saling menantang. Bahkan sampai waktu goro-goro datang, ketika para punakawan saling bercanda riang. Dan semalaman itu pula ayah dengan penuh sayang akan menemaniku begadang.

Kecintaan pada wayang pula, yang kemudian membuatku meminta hadiah waktu naik kelas dengan ranking 1 Hadiah berupa buku cerita wayang yang telah lama kuminta pada ibu.

Dan sangat luar biasa bahagia, ketika ternyata ibu mengabulkan permintaanku. Meski membelinya harus dengan uang tabungan jajanku. Namun karena tak pernah ke kota, apalagi ke toko buku, ibu minta tolong dibelikan pada seorang saudara yang kerja di kantor DPU.

Buku itulah yang kemudian menjadi ‘pakem pedalangan’ku yang pertama. Menjadi acuan memahami silsilah tokoh wayang purwa. Dimulai dari Betara Guru dan jajaran para dewa yang berdiam di kahyangan, para begawan yang bertempat di padepokan, tokoh kesatria yang bertakhta di seluruh kisah sejak Ramayana, Mahabarata, hingga Baratayudha. Lengkap dengan bermacam tokoh buta, punakawan, ksatria Pandawa, dan tentu saja para Kurawa.

Buku yang masih kuingat bentuknya, bahkan isi tiap halamannya. Baik gambar-gambar tokoh wayangnya maupun jalan ceritanya. Karena sejak pertama pegang sudah puluhan kali kubaca, hingga mengerti dan memahami betul silsilah, juga hubungan antar tokoh-tokohnya.

Buku itu sangat berkesan di hati, bukan sekadar karena menunjang kecintaanku pada wayang. Tapi juga karena itulah buku pertama yang mampu kubeli, dan bisa kumiliki. Sampulnya berwarna coklat tua, dengan hiasan gunungan di tengahnya berikut gambar tokoh wayang Baladewa. Judulnya ‘Wayang Purwa’ jilid 2. Harganya pun sangat murah, hanya 200 rupiah.

Buku yang membuatku mengetahui bahwa Pandita Durna yang kita kenal dengan kelicikannya, ternyata seorang brahmana yang pada mudanya seorang pemuda tampan bernama Bambang Kumbayana. Berasal dari negara Atasangin di seberang tanah Jawa, dan mempunyai saudara angkat bernama Drupada, yang menjadi raja di Pancala.

Suatu kali ia berniat menyusul ke seberang lautan menuju ke tanah Jawa. Namun karena tak bisa terbang, ia pun mengucapkan sayembara. Barangsiapa yang bisa menyeberangkan, kalau laki-laki akan diangkat sebagai saudara, kalau perempuan akan dijadikan istrinya.

Tiba-tiba datanglah seekor kuda betina, yang menyanggupi akan menyeberangkan Bambang Kumbayana. Pemuda tampan itu terkejut, namun tak mungkin mengurungkan sumpahnya. Maka dari perkawinan itulah lahir Bambang Aswatama, seorang bayi laki-laki dengan kaki mirip kuda.

Dan masih banyak kisah lainnya, yang terus terkenang hingga aku dewasa. Karena berbekal buku itu pula, dulu sempat membuatku bercita-cita menjadi seorang dalang.

Dengan menggunakan amben kayu ruang tamu yang kujadikan panggung pertunjukan. Berbekal wayang kardus yang kubuat sendiri, aku beraksi seperti seorang Ki Dalang betulan. Wayang-wayang yang kugambar dari kertas kardus yang dibeli ibu di warung. Wayang-wayang yang gambarnya kutiru dari buku ‘Wayang Purwa’ itu. Dan teman-teman sepermainanku membantuku menjadi penayagan, para penabuh gamelan yang menggunakan mulutnya sebagai alat musiknya. Ada yang bersuara mirip kenong, kendang, kempul, saron, rebab, dan gongnya.

Aku sebagai dalang pun lengkap dengan peralatannya. Yakni kecrek dan kethok untuk mengiringi suluk dan penanda bermacam pergantian adegan. Kethok yang menimbulkan bunyi ‘thok trok thok thok’ itu aku buat dari botol pewangi. Botol yang aku temukan di tempat sampah tetangga yang punya anak gadis yang hobby berdandan. Sedangkan kecreknya yang menimbulkan bunyi ‘cek crek cek cek’ aku buat dari tumpukan beberapa penyangga aluminium obat nyamuk bakar. Setelah dibuang tengahnya, dirangkai dengan kawat bangunan.

Kethok aku pegang dengan tangan kiri dan kupukulkan pada pegangan amben setiap mengiringi permainan wayangku. Sedangkan kecrek yang cara membunyikannya dengan dihentak pakai ujung kaki kanan, aku gantungkan pada sebatang paku.

Paku itulah yang masih tersisa sampai kini. Setelah berlalu 26 tahun lamanya. Sementara wayang buatanku, entah sudah ke mana. Padahal pada waktu masih di rumah, wayang-wayang itu aku simpan di sebuah kotak kayu di kamarku. Mungkin sudah dimakan rayap, atau malah sudah diambil orang. Karena sejak aku SD pun sudah banyak tetangga yang menyukai wayangku. Memesan dibuatkan wayang untuk dipajang di dinding rumahnya.

Dan karena melihat paku itulah, aku jadi teringat masa laluku. Wayang-wayangku. Teman-teman yang pernah menjadi penayaganku. Dan terutama pada buku bersampul coklat tua itu. Buku “Wayang Purwa’ yang merupakan hadiah kenaikan kelasku.

Pada waktu pulang kampung pula, aku mencoba mencari buku itu. Tentu tidak mencari di rumahku, karena tak mungkin ketemu. Buku itu telah hilang entah ke mana. Karena terlalu seringnya menjadi contoh menggambar, telah rusak di semua bagian. Sampulnya sudah lepas, gambarnya sudah banyak coretan, dan lembaran isinya pun sudah penuh sobekan.

Namun yang aku cari adalah buku yang sama. Buku terbitan tahun 1982. Yang setelah bertahun-tahun mencari di kios loakan, aku justru menemukannya di kios buku ‘M. Atma’.

Aku mendapatkan, setelah bertanya pada saudaraku yang dulu membelikan. Dan ternyata, setelah tertumpuk berdebu selama 26 tahun, buku itu masih terpajang di tokonya.

Aku sungguh bahagia. Kubaca ulang dari halaman pertama. Kunikmati kembali ceritanya. Gambaran tentang kehidupan manusia yang sangat beragam kisah kasih kesahnya.

Tiba-tiba aku pun terkenang kisah Bambang Kumbayana.

Membayangkan bisa membuat sayembara, “Barangsiapa yang hari ini bisa menjadikanku orang terkaya di indonesia, kalau laki-laki akan kuangkat sebagai saudara, kalau perempuan akan kujadikan ……..”

Bismillah… eh, Astaghfirullah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 30 Desember 2010 pukul 22:33

Catatan Kaki 15: Sejarah Mengapa Aku Suka Sejarah

Standar

ANANDA yang umurnya telah 26 tahun itu. yang gambarnya masih terbayang di ingatanku. bagaimana aku susahnya menjiplak itu!


“Kok bisa sih, Abi suka sejarah?” tanya Ummi suatu kali.

Karena menurutnya, mata pelajaran Sejarah adalah yang paling menyebalkan dan membosankan untuk dipelajari. Harus menghafalkan bermacam kejadian dan tragedi, yang semua itu berhubungan dengan nama tokoh dan tanggal kapan peristiwa tersebut terjadi. Pelajaran yang membikin Ummi alergi.

“Makanya Ummi memilih kuliah di Ekonomi?” tanyaku seolah menegaskan. Padahal sebenarnya karena aku sungguh tak bisa memberikan jawaban. Bahkan tak bisa menjelaskan apa yang menjadi alasan.

“Iya, ya? Kok aku bisa jadi sangat suka dengan sejarah?” renungku kemudian.

Padahal aku dulu sekolahnya di STM Bangunan Gedung. Mata pelajaran Sejarah hanya sampai di kelas 1 saja. Setelah kelas 2 dan penjurusan, lebih banyak mempelajari mata pelajaran Bangunan. Semacam Mekanika Teknik, Rencana Anggaran Bangunan, Gambar Konstruksi, dan bermacam bentuk pondasi.

Aku jadi bertanya pada diriku sendiri. Tersadar secara tak sengaja karena pertanyaan Ummi.

Dan ketika kemudian aku masuk ‘gudang’ku, kudapati tiga lemari penuh yang berisi buku-buku bertemakan sejarah. Lalu setelah kubaca ulang cerpen-cerpen yang pernah kutulis, ternyata sebagian besar juga bertemakan sejarah. Semua ceritanya berlatarkan sejarah orang-orang yang kalah.

Kemudian sekarang, novel ‘Penangsang’ jilid kedua yang sedang kurampungkan pun merupakan novel sejarah. Novel yang membutuhkan banyak referensi dari buku-buku ‘babon’ sejarah, yang setelah aku data untuk keperluan daftar pustaka, ada 80 judul buku yang mendukungnya.

Bahkan ketika aku melihat novel-grafis ‘Slow in Solo’ yang sedang kurancang, itu pun ternyata berlatarkan sejarah. Sejarah kota Solo sebagai pusata budaya Jawa, dan berkembangnya pergerakan nasional di jaman kejayaan batik Laweyan dan Kauman. Pun era keruntuhan dan kebangkrutannya.

Sejenak aku berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Ummi. Pertanyaan yang baginya mungkin hanya sekadar celetukan sederhana. Pertanyaan sambil lalu saja, dari sekadar obrolan biasa. Namun bagiku justru menjadi suatu pertanyaan serius, yang sangat mengusik rasa penasaran.

Lama aku merenungkannya. Berminggu pula memikirkannya.

Hingga kemudian aku teringat pada sebuah majalah yang pernah menemani masa kecilku. Dan sepertinya, itulah jawaban sederhana yang bisa mengawali terbukanya penasaran atas minatku.

Bermula waktu masih kelas 5 SD juga, ketika setiap pagi membaca di ruang Kepala Sekolah. Di antara buku-buku bacaan inpres pemerintah, ada satu rak yang berisi jajaran majalah. Majalah-majalah anak yang ada dalam lemari tua, yang aku masih hafal namanya. Ada Ceria, Belia, Mitra, dan Ananda.

Majalah Ananda lah yang sepertinya akan menjadi jawaban dari seluruh rasa penasaran.

Aku sangat ingat, dalam majalah Ananda pada halaman 2 dan 3, selalu ada cerita kepahlawanan. Cerita para pahlawan yang menurutku waktu itu, dikisahkan dengan sangat menarik oleh penceritanya. Dan juga digambarkan dengan sangat asyik oleh ilustratornya. Nama rubriknya adalah ‘Serial Kepahlawanan’.

Dari lembaran majalah itulah aku kemudian mengenal siapa itu Pangeran Diponegoro yang berjuang gigih melawan Belanda dari Goa Selarong. Tuanku Imam Bonjol yang memimpin perang Paderi dan membangun benteng di Bonjol. Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram yang menggempur VOC di Batavia. Kapiten Patimura, pemuda Maluku yang memimpin penyerbuan ke benteng Duurstede. Pangeran Antasari dari Kesultanan Banjar yang memimpin perlawanan terhadap Belanda, namun wafat karena penyakit cacar. Teuku Cik Di Tiro yang bernama asli Mohammad Saman, pemimpin perang Aceh dalam pasukan Angkatan Perang Sabil. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Cerita tentang pahlawan yang hanya sekilas-sekilat itu, ternyata mampu menjadi dasar pemahamanku pada Sejarah Indonesia.

Dan ketika kemarin aku membongkar koleksiku, aku menemukan majalah Ananda itu. Majalah yang waktu kelas 5 SD dulu pernah kubaca. Tentu yang kupunya sekarang, bukan majalah asli yang dulu pernah akrab kubaca. Karena majalah itu hanya kubaca di sekolah saja. Tapi majalah yang kumiliki ini adalah majalah dengan edisi yang sama. Majalah Ananda terbitan tanggal 20 – 26 Januari 1984.

Baru tahun kemarin aku menemukannya di kios loak Gladhag di pojok barat alun-alun utara. Tempat aku biasa bertamasya memanjakan hasrat dahaga baca yang tak pernah tuntas dilunaskan. Di antara majalah lama yang sedang kubongkar, kutemukan majalah terbitan 26 tahun silam itu.

Sewaktu aku beli untuk kemudian kukoleksi, bukan berpikiran bahwa (ternyata!) dari majalah Ananda lah aku pertama menyukai sejarah. Namun karena di majalah Ananda itu, aku terkenang pada gambarku dulu.

Waktu kelas 5 SD pula, aku pernah menjadi wakil sekolah untuk maju ke Porseni tingkat Kecamatan. Dan inilah kebahagiaan yang mampu mengganti kecewaku, karena ketika maju sebagai Siswa Teladan aku kalah. Namun dengan gambarku ini, aku bisa maju ke Porseni tingkat Kabupaten.

Dan gambar yang kubuat waktu itu adalah suasana pertempuran perang Aceh. Perang rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Cik Di Tiro melawan tentara Belanda di bawah pimpinan Van Der Hooven.

Aku sangat hafal adegan pertempuran itu.

Bahkan ketika pertama kali melihat gambar itu di kios loak, hatiku langsung bergetar. Aku seperti bertemu dengan ‘saudara’ yang telah puluhan tahun berpisah. Karena suasana perang itu, masih membayang di ingatanku. Gambar ilustrasi itu benar-benar pernah aku contoh persis dari semua bagiannya. Aku pernah berusaha keras untuk menjiplak gambar itu. Berusaha menggambar semirip mungkin dengan gambar tersebut. Bagaimana bentuk senjata laras panjangnya, bagaimana pakaian tentara Belanda lengkap dengan topi bajanya, juga wajah-wajah tentara dan rakyat yang tertembak.

Porseni yang kuikuti saat itu diadakan di Depdikbud Kecamatan. Peserta dilarang membawa contekan untuk menggambar. Namun aku berhasil membawa contekan, yang telah kuhafalkan di dalam ingatan.

Aku telah latihan menggambar berhari-hari di rumah. Jadi gambar yang ada di majalah Ananda itu telah berulang kali aku gambar ulang di buku gambarku. Pertama dengan melihat gambar yang ada di majalah, baru kemudian kutirukan. Berkali-kali meniru, hingga menghabiskan berlembar-lembar kertas gambar.

Tiap hari aku menggambar gambar yang sama, sampai benar-benar tak memerlukan melihat gambar yang ada di majalah lagi. Sampai benar-benar hafal gambar itu untuk kemudian bisa kugambar sendiri. Aku hafalkan bagaimana bentuk senjatanya, bentuk penutup kepalanya, bentuk wajah orang menembak, bentuk wajah orang tertembak, dan semua yang ada dalam gambar itu. Aku hafalkan habis-habisan.

Jadi kemenanganku pada Porseni waktu itu, adalah karena gambar contekan dari majalah Ananda. Majalah yang ternyata memantikku pertama kali untuk menyukai sejarah. Dan kebahagiaan kemenangan itu masih terasa sampai saat ini, ketika aku membuka kembali halaman yang terdapat gambar itu.

Kebahagiaan yang sama, yang mungkin dirasakan oleh anakku juga. Ketika beberapa bulan lalu ia membawa pulang piala lomba menggambar, ketika mewakili sekolahnya.

Anakku yang tak suka baca buku itu, sepertinya mewarisi kesukaanku dalam keasyikan menggambar. Buktinya seluruh dinding rumah telah penuh oleh coretan-coretannya. Namun bagaimanapun, aku selalu mencoba mendukung minatnya. Karena sepertinya dia lebih berbakat dari ayahnya.

Anakku menang lomba, karena menggambar murni hanya mengandalkan imajenasinya. Sementara aku, menang lomba karena hasil menjiplak gambar dari majalah Ananda.

Hingga rasanya tak perlu kukatakan padanya, bahwa bukan hanya Matematika saja yang membutuhkan contekan. Ternyata, menggambar pun juga.

Alhamdulillah, … eh, Astaghfirullah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 29 Desember 2010 pukul 16:23

Catatan Kaki 14: Bukan Cerita dari Negeri Dongeng!

Standar

aku menemukan majalah bobo taun 1984-1986 di kios gladag. majalah yang aku baca 20an tahun silam. alhamdulillah!


Pada waktu kelas 3 SD, kami kedatangan murid baru.

Anak baru itu pindahan dari Ambon. Ayahnya yang tentara pindah dinas di Purwokerto. Atau tepatnya pulang kampung, setelah bertahun-tahun bertugas di Ambon. Karena orang tuanya sebenarnya kelahiran Purwokerto. Ayahnya asli kampung kami, sementara ibunya berasal dari desa sebelah.

Keluarga baru itu menempati rumah yang dibangun kakeknya, di daerah paling barat kampung kami.

Di antara teman sekelas yang lain, akulah yang pertama diajaknya berkenalan. Karena kebetulan aku adalah ketua kelasnya. Hingga suatu hari diajak main ke rumahnya, dan aku pun memenuhinya.

Sewaktu main ke rumah barunya itulah, di bawah meja ruang tamu kutemukan setumpuk majalah anak-anak. Nafsu membacaku langsung berbinar. Kuambil satu persatu majalah dengan sampul depan bergambar lucu-lucu itu. Kubaca nama-namanya. Ada Bobo, Tomtom, Ananda, Kawanku, dan Siswa.

Sontak aku berbahagia. Setelah hilangnya majalah-majalah wanita yang ada di rumah tetanggaku, kini aku menemukan majalah anak-anak. Seketika, kesedihanku pun terobati. Dan sejak saat itu, setiap sore aku jadi makin sering datang ke rumahnya. Dengan alasan belajar kelompok atau sekadar bermain saja.

Kebetulan rumah teman baruku itu ada di pinggir sungai Serayu. Setiap kemarau datang, permainan yang paling mengasyikkan bagi anak-anak di kampungku adalah di tepian sungai Serayu. Dari mencari udang kecil di bebatuan, balapan berenang menyeberang, atau sekadar main pasir di pinggirannya. Dengan membuat sumur yang dalam, atau membangun istana. Aku termasuk yang paling suka berlomba menyeberang. Demikian juga teman baruku itu, yang ternyata juga pandai berenang.

Maka sebelum berangkat ke sungai di sore hari, aku mampir dulu ke rumah temanku itu untuk membaca majalah-majalahnya. Aku dan temanku asyik membaca di teras samping rumahnya, sambil menunggu teman-teman yang lain lewat untuk berangkat bersama-sama.

Ternyata orang tuanya pun senang dengan persahabatan kami. Karena aku telah menjadi teman akrabnya yang pertama. Bahkan ketika mengetahui aku suka membaca, ibunya sangat mendukungnya. Setiap pulang dari rapat istri-istri tentara, selalu membawakan majalah-majalah baru untuk kami baca.

Sejak saat itu, aku seperti menikmati berlangganan majalah. Bukan majalah bekas seperti sebelumnya, melainkan majalah baru. Dan juga bukan majalah yang sebenarnya untuk ibu rumah tangga, tapi majalah anak-anak. Aku merasa sangat bangga dan berbahagia. Meskipun hanya sekadar numpang baca.

Dan di antara majalah-majalah yang sering dibelinya itu, yang terbanyak adalah majalah Bobo. Maka aku pun kemudian sangat menikmati majalah Bobo.

Aku begitu terpesona dengan seluruh isi majalah tersebut.

Diriku yang anak kampung seolah diajak masuk dalam dunia imajinasi yang ditawarkan olehnya. Berkenalan dengan ‘keluarga Bobo’, yang terdiri dari Bapak yang bertanggungjawab, Emak yang sangat perhatian pada anak-anaknya. Juga Bobo sebagai anak sulung yang sayang pada adik-adiknya, Coreng dan Upik yang bandel tapi menyenangkan. Sebuah potret keluarga bahagia yang sempat terekam dalam benakku saat itu. Sebagai anak tunggal yang sedang terpancing iri, karena tak bisa berbagi kasih sayang atau sekadar menikmati kebandelan adik-adiknya.

Setelah itu, aku pun berkenalan dengan dunia fantasi lainnya. Aku diajaknya bertamasya dalam ‘Cerita dari Negeri Dongeng’ oleh Oki dan Nirmala. Oki sang adik lelaki yang bandel, berpasangan dengan Nirmala yang cantik dan baik hatinya. Kakak beradik yang saling sayang menyayangi di sebuah istana antah berantah, tempat Ratu Bidadari bertahta sebagai rajanya.

Kemudian aku pun diajaknya bertemu dengan Paman Kikuk, Husin, dan Asta.  Paman Kikuk yang selalu kikuk dalam setiap tindakannya, mempunyai keponakan laki-laki bernama Husin yang cerdas, berikut anjing putih belang piaraannya yang bernama Asta. Kejadian yang menggelikan selalu terjadi, karena kesialan Paman Kikuk yang diakibatkan dari tindakan cerobohnya.

Selanjutnya, aku pun berkenalan dengan Si Sirik yang jahat dan Juwita yang baik hatinya. Aku seolah diajak untuk mengenali kebaikan dan kejahatan dari kedua tokoh itu. Juwita yang berpakaian seperti peri hijau lengkap dengan tongkat ajaibnya yang bisa mengubah apa saja, cukup dengan mengucap ‘Abrakadabra’. Lalu Si Sirik sang penyihir licik yang selalu sirik yang tak lepas dari sapu terbangnya. Juga mantra khasnya yang berbunyi ‘Alakazam’ yang selalu mengantarkan pada kesialan.

Di Bobo pula aku diajak masuk dalam sebuah petualangan Pak Janggut yang selalu menegangkan. Petualangan manusia cebol berjanggut dengan kantong ajaib yang selalu dipanggulnya ke mana pun ia pergi mengembara. Kantong yang selalu menyediakan jalan keluar, di saat keadaan terjepit menimpanya. Dari seluruh petualangan yang diikuti, aku sangat terpesona dengan petualangannya ketika bertemu Monster Danau Kabut. Sebuah monster menakutkan berbentuk Dinosaurus yang sangat menyeramkan. Yang ternyata adalah hasil dari kelicikan sosok jahat musuh Pak Janggut yang bernama Ludo.

Selain itu, aku pun berteman dengan seekor gajah kecil yang lugu dan seekor kucing yang lucu. Persahabatan dua binatang yang sangat mengesankan. Gajah kecil bernama Bona, yang bisa memanjangkan belalainya ketika akan menolong sesama. Berteman dengan Rong Rong, seekor kucing belang yang manis, yang sering usil pada si Gajah yang lebih sering mengalah.

Aku menikmati majalah Bobo, sama persis dengan menyantap makanan yang nikmat. Tak sedikit pun kulewatkan dari bacaan. Semua dibaca, dari sampul depan hingga halaman terakhir. Aku baca tuntas seluruh isi majalah itu. Bukan hanya cergam-cergamnya saja, namun juga seluruh cerita-ceritanya. Bahkan aku amati betul sampai dengan bentuk judul huruf dan gambarnya. Hingga aku hafal siapa saja penggambar ilustrasi pada cerita-cerita yang ada, dari nama yang tertera di pojok gambarnya.

Aku juga kemudian hafal urutan isi majalah Bobo. Dari halaman pertama yang berisi ‘Menu Minggu Ini’ dan ‘Halo Apa Kabar, Bo?” yang berisi daftar isi majalah itu, dan surat-surat dari para pembaca. Masuk halaman berikutnya akan ada cerita-cerita. Dari mulai cerpen, hingga cerita bersambung yang sangat kusuka, yaitu ‘Kelompok Tangan Hitam’. Sebuah cerita bersambung yang mengisahkan tentang detektif cilik. Berikutnya akan bertemu dengan ‘Tertawa Sejenak’ yang berisi cerita-cerita lelucon.

Lalu ada rubrik ‘Arena Kecil’ yang berisi cerita pengalaman berkesan, bersama “Tak Disangka’ yang bercerita tentang kisah yang menggelikan. Disambung kisah ‘Cici dan Sekitar Kita’ yang sarat pengetahuan, yang ditulis dan digambar oleh Cik DK. Aku suka gambarnya, karena lucu dan sederhananya. Selain rubrik ‘Untuk Latihan Di Rumah’ yang sangat membantuku untuk belajar sendiri, pelajaran yang sama seperti yang tengah kupelajari di sekolah.

Satu rubrik lagi yang sampai hari ini masih terkenang adalah ‘Uji Imajinasi’. Aku benar-benar diajak berpikir untuk menyelesaikan soal yang diajukan, yang berisi kisah keseharian. Pertanyaan yang setelah aku dewasa baru sadar, bahwa soal-soal itu adalah untuk menguji kecerdasan emosional anak-anak.

Tapi yang tak bisa kulupakan dari Bobo adalah ternyata, dari majalah itu, aku menjadi tahu seluk beluk majalah. Dari penamaan rubrik hingga isi-isinya. Yang di kemudian hari sangat membantuku memahami isi dan karakter majalah, ketika kemudian aku benar-benar bekerja di sebuah majalah.

Maka kalau sekarang aku pun masih bekerja di media, semua bermula dari persahabatan dengan teman baruku itu. Pertemanan yang membuatku berkenalan dengan Si Sirik dan Juwita. Persahabatan yang membuat masa kecilku bahagia, bisa belajar mengenal baik dan buruk dan segala akibatnya.

Dan juga pelajaran kehidupan, bahwa segala sesuatu tak bisa berubah hanya dengan ‘Abrakadabra’ saja, atau ‘Alakazam’ semata. Karena hidup yang sesungguhnya, bukan seperti ‘Cerita dari Negeri Dongeng’.

Alhamdulillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Desember 2010 pukul 16:58

Catatan Kaki 13: Majalah Wanita di Rak Piring Tetangga

Standar

lembaran buncil yang ada di dalam majalah ayahbunda. dengan tokoh tongki si bebek yang dulu suka kutiru gambarnya. amazing!


Aku mengenal majalah sejak ayahku tak lagi ikut Kejar Paket A.

Sejak ayah mogok sekolah lagi seperti waktu kecil dulu, maka tak ada buku bacaan yang bisa kudapatkan di rumah. Modul Kejar Paket A yang itu-itu saja, telah berulang kubaca. Hingga hafal ceritanya, bahkan ketika aku tidak membacanya. Karena seringnya dibuka dan kuulang menggambarnya.

Akhirnya aku suka main ke tetangga yang kutahu, punya banyak simpanan majalah. Beberapa ibu-ibu tetangga sering pinjam ke rumahnya. Karena kebanyakan majalah yang disimpannya di lemari piringnya adalah majalah-majalah wanita.  Ada majalah Kartini, Famili, Sarinah, Femina, dan Ayahbunda.

Tetanggaku sebenarnya tidak langganan majalah-majalah itu. Bahkan setahuku, sekampungku tak ada seorang pun yang langganan majalah semacam itu waktu aku kecil. Bahkan yang beli eceran sekalipun. Dan di lingkunganku, hanya dialah yang punya banyak simpanan majalah. Majalah yang bertumpuk-tumpuk itu disimpan di lemari piring yang terletak di ruang tamu. Di rak paling bawah yang ada si samping kiri dan kanan. Bermacam majalah yang rata-rata sudah kusam dan beberapa yang sobek halamannya. Bukan majalah baru lagi, bahkan ada yang sudah 4 – 5 tahun yang lampau. Tapi tetap kami baca, karena hanya itu yang ada.

Aku sering bermain ke tetanggaku itu, karena kebetulan anak bungsunya seusia denganku. Teman sepermainanku. Di pelatarannya yang luas, setiap sore selalu dijadikan tempat mangkal anak-anak untuk bermain. Selepas ashar, anak-anak di lingkunganku berkumpul di bawah pohon jambu yang rindang. Bermain sesuai kesepakatan bersama. Tapi lebih sering bermain umbul wayang, gundu, gangsingan, dan main lempar karet. Sesekali gobak sodor atau petak umpet, yang waktu itu kami menyebutnya ‘chip-chipan’. Kami sedang demam film bertema polisi berjudul ‘Chip’ yang sedang tayang di TVRI waktu itu.

Di antara banyak teman sebaya, hanya aku yang datang tiap sore bukan untuk bermain di halaman rumahnya. Melainkan datang paling awal, hanya dengan niat untuk numpang membaca. Aku hanya diam menonton teman-teman yang lain riang bermain. Setelah itu aku mengambil beberapa majalah untuk dibaca di teras depan. Pada bangku beton di kanan kiri teras yang bentuknya berundak, hingga nyaman ketika aku jadikan meja baca. Aku bisa membaca dengan membungkuk, selama 2-3 jam lamanya.

Menjelang petang, aku pun pulang dengan kepuasan membaca.

Tidak mudah untuk sekadar ikut numpang baca di tetanggaku itu. Karena ibunya tidak suka kalau ada anak yang asyik membaca. Bahkan anak-anaknya sendiri, kalau terlalu sering membaca akan dimarahi. Katanya anak yang suka baca jadi malas. Sulit diperintah untuk bersih-bersih atau membantu di dapur. Jadi pintar alasan kalau diperintah dan suka membantah.

Hingga pernah, majalah satu rak dibakar di tempat sampah, karena anaknya disuruh menyapu halaman tidak segera dikerjakan. Anaknya minta menunggu setelah selesai membaca cerita yang ada di majalah. Tapi si ibu tidak sabar lagi, hingga hilanglah majalah yang selama ini menjadi bahan bacaanku.

Maka aku harus kucing-kucingan dengan si ibu tetanggaku itu. Jangan sampai ketahuan aku ikut numpang membaca. Harus melihat situasi dulu. Kalau aku datang si ibu itu masih di rumah, maka aku akan ikut bermain dengan teman-teman yang lain. Tapi kalau si ibu itu sedang berada di kebun dan belum pulang, aku langsung asyik dengan majalah-majalah wanita itu.

Tetanggaku itu sebenarnya tidak langganan majalah. Tetapi anak perempuannya yang sulung jadi pembantu di Jakarta. Tiap pulang lebaran, selalu bawa oleh-oleh majalah-majalah dari rumah majikannya. Jadi semuanya bukan majalah baru. Tapi majalah yang mungkin harusnya diloakkan, oleh anak tetanggaku dibawa pulang untuk oleh-oleh adik-adiknya yang perempuan. Mereka suka sekali dibawakan majalah-majalah, yang berisi cerita-cerita orang kota. Dari mulai rumah-rumah yang gedungnya megah dan mewah, cerita-cerita kehidupan orang kaya dan para artis ibu kota, cerita-cerita kota-kota di Indonesia dan luar negeri yang menjadi tujuan wisata, hingga bentuk-bentuk pakaian-pakaian yang tak pernah kelihatan dipakai di desa.

Aku yang waktu itu masih kelas 2, seringnya hanya melihat-lihat gambar-gambarnya saja. Karena hurufnya terlalu kecil untuk ukuranku waktu itu. Dan lagi aku kurang begitu tahu maksudnya. Hanya majalah Ayahbunda yang sering kupinjam, karena di tengahnya ada sisipan untuk anak.

Aku suka sekali dengan cerita-cerita anak dan gambarnya. Tokoh bebek yang menjadi sampulnya sangat memikatku, dengan warna kuning dan oranyenya. Terrekam sampai aku dewasa. Dan setelah dewasa pula, baru aku tahu bahwa sisipan itu sebenarnya untuk anak balita. Bukan untuk anak SD kelas 2.

Tapi waktu itu, aku sungguh menikmati semua bacaan yang ada sisipan itu. Dari mulai cerita, cergam, hingga permainannya. Maka aku tidak merasa bahwa itu adalah bacaan anak balita. Sebab aku pun suka.

Saat itu sering aku berpikir, betapa bahagianya jadi anak balita orang kaya, yang sejak kecil sudah disediakan bacaan untuk mereka. Bahkan orang tuanya mendukung mengajarinya, dengan dibacakan atau dituntun belajar. Sementara sebagai anak desa, baru di kelas 2 aku mengenal yang namanya majalah. Itupun majalah ibu-ibu rumah tangga. Dan bacaan yang dibacanya ternyata adalah konsumsi anak balita. Bahkan untuk membacanya pun harus kucing-kucingan dengan yang punya.

Setahun kemudian anak perempuan tetanggaku itu menikah. Dengan seorang tukang kebun majikannya yang dikenalnya ketika menjadi pembantu rumah tangga. Setelah menikah, ia pun tak jadi pembantu lagi di Jakarta. Ikut suaminya di lain kota, sebagai buruh pembuat batu bata. Maka sejak saat itu, otomatis tak ada lagi majalah yang dibawa pulang ketika lebaran. Tak lagi ada bacaan ‘orang kota’ yang bisa dipinjam untuk ikut kubaca. Tak lagi ada majalah yang bisa kubaca.

Dan setelah anaknya menikah, majalah itu pun tak lagi kutemukan di rak lemari piring yang ada di ruang tamu. Mungkin ikut dibawa oleh anak perempuannya itu. Atau mungkin sudah dibakar juga oleh ibunya.

Sejak itu, aku sungguh sangat kehilangan.

Susahnya menjadi orang miskin yang tak bisa mendapat bahan bacaan, menjadi pemikiran yang terus terbawa sampai aku dewasa. Hingga setelah itu aku berniat, kalau kelak punya anak, akan kusediakan bermacam buku bacaan dan majalah. Agar sejak sekecil mungkin, ia telah akrab dengan kegiatan membaca. Agar otaknya terasah sempurna. Dan tak ada alasan, tak suka membaca karena tak ada buku yang hendak dibaca.

Dan itu sudah kulakukan sekarang. Bermacam buku dan majalah kusediakan di rumah. Sejak anakku baru berusia 6 bulan, sudah kubelikan buku untuknya. Buku-buku bersampul tebal yang berisi pengenalan huruf dan angka. Sampai dia sekarang hendak bersekolah di SD. Buku selalu kubelikan tiap bulannya.

Namun sepertinya, tak selamanya buah jatuh dekat dari pohonnya. Anakku justru sama sekali tak ada gairah untuk menyentuhnya. Meskipun sudah dipaksa menyukainya. Bahkan dengan membacakannya.

Dan ia tetap lebih suka menonton film daripada membaca.

Alhamdulillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Desember 2010 pukul 17:12

Catatan Kaki 12: Ruang Kepala Sekolah yang ‘Angker’

Standar


 ketika jalan-jalan ke malang, mampir loakan dekat stasiun, dapat buku-buku ini. yang dulu kubaca di ruang kepala sekolah itu. subhanallah!


Sejak mengenal buku bacaan, aku seperti keranjingan.

Seperti anak yang kecanduan, itu pula yang kurasakan. Setiap hari harus selalu tersedia bahan bacaan untuk dimakan. Ada keasyikan yang seakan tak mungkin tergantikan oleh semua permainan yang kukenal bersama teman-teman.

Saking kecanduannya membaca, pada waktu kelas 5, membuatku berani minta ijin Kepala Sekolah untuk masuk ke ruangannya. Meminta ijin pada seseorang yang paling menakutkan di mata kami, para murid. Dengan takut-takut, meminta ijin memanfaatkan buku-buku yang selama ini tersimpan di almari kantornya. Padahal saat itu tak satupun anak berani dan mau memasukinya, kecuali disuruh gurunya. Karena kepala sekolah kami termasuk orang yang sangat pendiam, hingga terkesan ‘angker’.

Waktu itu sekolahku tidak mempunyai perpustakaan sekolah. Yang ada hanya sebuah almari pakaian yang dijadikan tempat menyimpan buku paket pelajaran dan buku-buku bacaan inpres terbitan pemerintah. Almari tersebut berada di pojok ruangan Kepala Sekolah.

Aku melihat pertama kali, ketika disuruh guruku mengambil buku paket pelajaran PMP di ruangan itu. Buku paket inpres yang masih berada dalam kardus. Dalam rak terbawah dari lemari kayu tua itu.

Di rak-rak atas, terdapat jajaran buku bacaan yang masih baru dan seperti tak pernah tersentuh tangan. Maka melihat banyaknya buku yang tak termanfaatkan, membuatku kemudian berani minta ijin ikut membaca. Dengan janji, setiap pagi kupinjam, dan kukembalikan esok paginya.

Kemudian dengan seorang teman, aku pun membuat kesepakatan. Aku tahu dia juga suka sekali membaca. Maka ketika kutawari untuk membaca buku di perpustakaan, ia langsung mengiyakan.

Sejak itu, aku selalu berangkat sekolah sebelum jarum jam menunjukkan angka 6. Berangkat berdua dengannya, saling menunggu siapa duluan yang sampai di jalan. Setelah bertemu, lalu kami berdua berjalan kaki ke sekolah tanpa sepatu.

Waktu itu bersekolah dengan telanjang kaki masih biasa. Sesuatu yang wajar. Karena kami bersepatu hanya kalau hari Senin saja, untuk upacara bendera. Itu pun bagi yang punya. Karena aku sendiri punya sepatu hanya waktu kelas 1. Setelah kelas 2 sampai kelas 4 tak pernah memakainya, karena memang tidak punya. Baru kelas 5 bisa beli sepatu, karena waktu jambore pramuka terpilih menjadi pemimpin regu.

Sekolah kami adalah sekolah desa, yang hampir semua muridnya adalah anak-anak petani, peladang, atau penyadap pinus. Banyak yang rumahnya berada di pinggirah hutan. Hingga kalau bersepatu malah sulit, karena jalan tanah yang menurun dan licin. Apalagi kalau semalaman turun hujan. Berarti paginya harus membawa pakaian ganti, karena harus menyeberangi sungai kecil terlebih dahulu. Tak ada jembatan untuk menyeberang. Hanya sebatang bambu yang dilintangkan di atasnya. Maka kalau banjir, jembatan itupun hilang terbawa arus air dari hutan. Jadi menyeberangnya harus dengan tubuh masuk ke kali. Buku dan pakaian seragam disunggi di atas kepala. Baru setelah sampai di seberang, berganti seragam sekolah.

Aku cukup beruntung, karena rumahku tidak dekat hutan yang harus menyeberangi sungai kecil itu.

Karena jam setengah 6 sekolah belum dibuka, kami harus ambil kunci dulu di rumah penjaga sekolah. Sebelumnya kami sudah ijin Kepala Sekolah untuk masuk ruangannya sampai jam masuk sekolah. Kepala sekolah membolehkan rencana kami, bahkan mendukung. Kebetulan aku dan temanku adalah ranking 1 dan 2 di sekolahan, jadi seperti mendapat kepercayaan.

Ditambah lagi, aku pernah menjadi juara menulis ketika ada porseni di tingkat kecamatan. Dan sudah ada karyaku yang dimuat di majalah anak-anak kabupaten.

Meskipun begitu, kami tetap bikin kesepakatan dengan penjaga sekolah. Bahwa kami akan membantu membersihkan ruangan itu setiap pagi, sebelum kami membaca buku-buku di ruang Kepala Sekolah.

Maka tiap jam 6 kurang seperempat, aku sudah menyapu lantai ruangan, membersihkan kaca, dan menata buku-buku yang ada di ruang guru serta ruang kepala sekolah.  Temanku kuberi tugas membersihkan gelas dan piring kotor yang ada di dapur kantor. Sekaligus mengisi bak kamar mandi.

Perlu waktu seperempat jam untuk melakukan semua itu. Tapi paling tidak, kami masih punya waktu empat puluh lima menit untuk asyik membaca di ruangan Kepala Sekolah yang kami anggap sebagai perpustakaan itu. Begitu guru-guru datang, sekitar jam tujuh kurang, kami berangkat ke kelas kami. Dengan tak lupa, sebuah buku bacaan di dalam tas untuk dibaca di rumah.

Membaca bagiku kemudian benar-benar menjadi kegiatan yang sangat mengasyikkan. Setiap buku yang habis aku baca, selalu kuceritakan pada teman-teman. Agar mereka tertarik membaca juga. Karena selama ini almari itu hanya diisi, tanpa ada yang mau datang dan membaca. Kalaupun datang, hanya untuk baca majalah anak-anak. Sementara buku-buku cerita itu sama sekali tak tersentuh.

Aku sempat berpikir, mengapa teman-temanku waktu itu tak ada yang mau datang?

Mungkin karena minat membaca anak-anak yang memang kurang. Sangat sulit menemukan adanya minat membaca pada anak-anak di kampung kami. Dunia mereka adalah dunia kerja dan bermain. Bagi yang menyukai kerja, sepulang sekolah membantu orang tua dengan mencari rumput atau mencari kayu bakar ke hutan. Bagi yang menyukai bermain, sepulang sekolah habis waktu hingga sore untuk bermain di sawah dan di sungai. Hingga kegiatan membaca, adalah dunia asing bagi mereka.

Atau mungkin pihak sekolah, yaitu guru-gurunya yang kurang mendorong minat baca anak-anak itu. Kusaksikan sendiri, banyak sekali buku-buku bacaan paket dari pemerintah, masih utuh dalam dus tanpa pernah dibuka. Kamilah yang kemudian membukanya, dan menatanya dalam rak setelah kami baca.

Atau mungkin guru-guru kami waktu itu juga masih belum menganggap begitu penting artinya membaca? Tak jarang, ada beberapa guru yang juga kurang suka dengan anak-anak yang suka membaca buku bacaan. Dan aku pernah ditegurnya. Konon beliau takut kami akan ketinggalan pelajaran, karena keasyikan dengan buku bacaan. Takut lebih mementingkan buku bacaan daripada buku pelajaran. Bagiku sungguh aneh, ketika seorang guru pun tak tertanam sebelumnya dengan kebiasaan membaca.

Tapi bisa juga karena letak almari tersebut yang ada di dalam ruangan Kepala Sekolah. Jadi kalau masuk harus melewati jejeran meja-meja guru, kemudian masuk ke ruangan paling dalam. Itu juga mungkin menjadikan anak-anak enggan dan segan untuk masuk. Padahal banyak sekali cerita-cerita menarik di sana, yang ketika kita baca mampu memperkaya wawasan kita.

Hingga di antara sekian banyak teman-teman sekolahku tak ada seorang pun yang tertarik ikut dengan kami. Sampai dengan lulus SD, mungkin hanya kami berdua yang mau memasuki ‘tempat angker’ tersebut.

Dan karena rutinnya membaca tiap hari, hampir semua buku-buku cerita anak terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang ada di lemari tersebut, sudah kubaca sebelum naik kelas 6.

Sejak saat itu, aku merasa makin kecanduan saja.

Namun bukan lagi pada bacaan anak-anak. Aku mulai menyukai bacaan remaja. Mulai menikmati cerita bertema cinta. Karena aku pun sedang jatuh cinta. Pada adik kelasku, anak kelas 5.

Astaghfirullah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 26 Desember 2010 pukul 22:22

Catatan Kaki 11: Modul Kejar Paket A, Awal Mula Jatuh Cinta

Standar


sungguh beruntung, setelah 25 tahun berpisah dengan buku yang sangat berjasa ini, aku bisa menemukannya kembali. Aku mencarinya di loakan Malang, Solo, Jogja, dan Semarang. Kejar Paket A, ‘Sahabat’ dan ‘Guru’ku yang Pertama!

Modul Kejar Paket A, sungguh besar jasanya.

Bukan hanya bagi mereka, orang-orang tua yang waktu itu sedang ikut program Pemberantasan Buta Huruf saja. Tapi terutama bagiku, anak TK yang sedang giat-giatnya belajar membaca.

Sejak bisa membaca, apa saja yang berbentuk tulisan selalu aku baca.

Dari tulisan yang ada pada bungkus mie instan, kopi bubuk, teh, garam dapur, kecap, kertas sigaret, korek api, rokok, tas belanjaan, papan nama jalan, papan nama pejabat kelurahan, spanduk pinggir jalan, iklan di warung-warung, hingga kaos yang sedang dipakai orang.

Kehidupan kami yang sangat tidak berada, tidak memungkinkan adanya buku bacaan, apalagi majalah anak di rumah. Buku bacaan adalah barang mewah bagi kehidupan kami. Tak ada buku tersedia di rumah-rumah, selain buku tulis atau buku gambar keperluan sekolah. Kalaupun ada buku bacaan, itu adalah buku pelajaran paket pinjaman dari sekolah. Kehidupan kami di kampong seakan terbebas dari benda yang bernama buku bacaan.

Begitupun denganku. Yang tersedia di rumahku, hanyalah buku-buku modul KEJAR (kelompok belajar) Paket A milik ayahku.

Ayah waktu kecil hanya sempat sekolah sampai kelas 2 SD saja. Sejak kecil harus menggembala kerbau, dan membantu kakek bekerja di sawah. Ayah adalah anak pertama, dengan kehidupan keluarga yang juga tidak berada. Jadi secara tidak langsung, harus ikut memikul tanggungjawab mencari nafkah untuk makan adik-adiknya yang berjumlah tujuh orang.

Karena harus membantu kakek bekerja membajak sawah-sawah orang, ayah pun sering tidak masuk sekolah. Itu tentu membuat selalu ketinggalan pelajaran. Menjadikan tiap tahun tak bisa naik kelas. Karena itulah, setelah 2 kali tinggal kelas, ayah pun tidak naik ke kelas 3. Daripada malu diolok-olok temannya, lebih baik keluar sekolah. Dan tidak lulus Sekolah Dasar. Ayah pun buta huruf.

Pada awal tahun 1980an, pemerintah mengadakan program Pemberantasan Buta Huruf. Orang-orang desa yang belum bisa membaca, dikumpulkan tiap hari Minggu pagi untuk belajar kembali. Belajar pelajaran yang mirip dengan pelajaran kelas 1 Sekolah Dasar. Pemerintah merencanakan agar Indonesia benar-benar melek huruf. Minimal semua masyarakat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ayah pun terdaftar untuk ikut sekolah yang pembelajarannya dilakukan di Balai Desa.

Banyak kejadian lucu dalam proses belajar-mengajar para orang tua. Hanya sekadar mengenalkan huruf pun, seolah-olah otak mereka sudah kendor. Usia tua dan daya ingat yang lemah mengakibatkan sulitnya proses pembelajaran. Yang minggu kemarin sudah hafal, minggu ini hilang lagi. Begitu seterusnya. Termasuk ayah. Huruf-huruf yang ketika belajar di rumah sudah hafal, di Balai Desa menjadi hilang. Atau ketika di Balai Desa bisa, sampai rumah tak lagi ingat. Begitu selalu.

Maka untuk membantu pengajaran, dibagikanlah buku-buku modul untuk dibawa pulang. Untuk latihan membaca di rumah. Boleh berlatih sendiri, atau bersama-sama dengan tetangga lainnya. Boleh diajari suami atau istrinya, atau diajari anaknya yang sudah bisa membaca. Ayah pun tiap Minggu pagi selalu pulang dengan membawa modul-modul itu.

Namun ayah yang sudah merasa patah arang sejak pertama didaftar oleh Pak RT, hanya mendiamkan saja buku-buku itu. Bagi ayah, bisa membaca atau tidak, tidak akan mengubah nasibnya. Kalau pun bisa membaca, menurutnya hal itu tidak akan membuatnya kenyang. Tidak akan mengubahnya menjadi perangkat desa, misalnya. Jadi daripada susah-susah belajar membaca yang selalu membuatnya pusing kepala, lebih baik waktunya digunakan untuk menyelesaikan kerja di sawah. Mencangkul, membajak, menanam padi, menyiangi, atau mengairi. Yakin itu pasti membuat kenyang seluruh keluarga.

Dengan alasan demikian, ibu yang berniat mengajari ayah di rumahpun jadi tak lagi bisa memaksa. Maka buku-buku modul itu hanya ditumpuk di laci bawah meja.

Akulah yang kemudian memanfaatkannya.

Awalnya hanya dilihat-lihat gambarnya. Gambar-gambarnya menarik, dengan goresan tangan yang kuat dan sederhana namun sangat memikat. Setelah puas melihat-lihat gambarnya, kemudian minta ibu untuk mengajari membaca. Akhirnya setiap ayah berangkat ke Balai Desa, aku pesan untuk dibawakan modul yang banyak. Dan ayah pun memenuhi. Mungkin gurunya pun merasa bangga, ketika ada muridnya yang meminta modul lebih banyak. Dikiranya memang benar untuk belajar di rumah.

Dan karena sukanya membaca, telah kubaca habis modul-modul itu sampai jilid A15 waktu aku kelas 1 SD.

Jadi harus kuakui sekarang, bahwa buku-buku modul yang berisi tentang pertanian dan peternakan itulah yang ternyata sangat berjasa melancarkan kemampuan bacaku. Buku terbitan Departemen P dan K tahun 1982 yang bersampul hijau dan biru itu betul-betul menjadi teman belajarku.

Isi buku-buku itu kebanyakan mengajarkan teknik peternakan dan pertanian. Seperti memelihara ayam, kambing, domba, ikan mas, mujahir, gurame, dan bermacam hewan ternak. Cara bercocok tanam, seperti pepaya, pisang, jeruk, tomat, bayam, kacang panjang, cabai, dan berbagai sayur dan buah-buahan lainya. Intinya bermacam hal yang berhubungan dengan kehidupan desa. Tetapi dari cerita-cerita itu dihubungkan dengan materi baca-tulis-hitung sebagai tujuan utama Program Bebas Tiga Buta.

Sebagai anak kecil yang juga gemar menggambar, aku suka sekali dengan buku itu karena ilustrasi sampul dan isinya juga bagus-bagus. Aku yang sedang senang-senangnya belajar menggambar, suka sekali mencontohnya. Gambar kambing, sapi, ayam, bebek, beragam jenis ikan, tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang yang digambar dengan bentuk lucu membuatku tertarik meniru.

Yang lebih mengasyikkan, di sampul dalam bagian belakang selalu ada teks nyanyian lagu-lagu kebangsaan. Macam ‘Desaku yang Kucinta’, ‘Dari Sabang sampai Merauke’, ‘Halo-halo Bandung’, ‘Hari Merdeka’, dan banyak lainnya. Jadi selain belajar lancar membaca, buku itu juga mengajariku pintar menggambar sekaligus mahir menyanyi.

Maka bisa dikatakan, dari modul-modul itulah aku menjadi benar-benar bebas buta huruf. Aku yang baru kelas 1 SD sudah sangat lancar membaca, menulis, dan berhitung. Ditambah juga pintar menggambar dan bernyanyi.

Sementara ayah, karena kerja di sawah dan ladang lebih mendesak untuk menghidupi keluarga, berhenti sebelum program Kejar Paket A itu selesai. Sampai kemudian desaku dinyatakan bebas buta huruf. Plang-plang bertuliskan “Anda Memasuki Wilayah Bebas Tiga Buta” dipasang di mana-mana. Di tiap perempatan dan pertigaan jalan yang masuk ke desaku.

Sejak itu, konon, Indonesia pun benar-benar bebas buta huruf. Kecuali ayahku.

oleh Nassirun Purwokartun pada 25 Desember 2010 pukul 9:21