Category Archives: Catatan Kaki 21 – 30

Catatan Kaki 30: Ternyata Aku dan Einstein Pernah Sama-sama ‘Sontoloyo’

Standar

Karena ingat Einstein yang ‘bodoh’, terkenanglah aku pada ‘sontoloyo’.

Sebuah umpatan sangat menyakitkan, yang pernah kuterima dari Pak Jono. Kata-kata yang sempat membuat semangat belajarku di kelas 4 benar-benar loyo.

Kata itu pula yang semalam menjadikan buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’nya Bung Karno kembali kubaca. Buku yang sangat tebal dan mahal yang merupakan karya monumental dari Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi Indonesia.

Dua jilid buku yang tebalnya seperti bantal itu pernah menjadi buku yang sangat dicari karena merupakan buku langka. Hingga untuk satu buku yang terbitan pertama, tahun 1959, dibanderol oleh para kolektor dari 25 hingga 60 juta. Sementara untuk cetakan berikutnya, tahun 1963, diberi harga antara 10 hingga 30 juta perbukunya.

Dan aku telah memiliki lengkap keduanya. Dengan harga yang murah, karena telah lewat masa euforianya. Aku mendapatkannya hanya dengan harga 500 ribu saja.

Namun sampai sekarang, setelah dua tahun terbeli, belum kuselesaikan membacanya. Hanya pada beberapa bagian saja. Aku masih menunggu saat yang tepat untuk mengkaji pemikiran Bung Karno. Pemikiran yang dikumpulkan dari tulisan-tulisan perenungannya, ketika dalam pembuangan pada jaman penjajahan Belanda.

Dan semalam sempat membuka jilid pertama, karena di dalamnya terdapat artikel ‘Islam Sontoloyo’. Pemikiran yang dituliskan sewaktu dalam pembuangan di Bengkulu, di saat ia menjadi guru SD Muhammadiyah. Ketika sang Bung sedang sangat berminat mendalami ilmu Islam. Setelah banyak bertukar pikiran dengan Ustadz A. Hasan, pemimpin Persis Bandung, lewat surat menyuratnya ketika masih dalam pembuangan di Ende.

Namun setelah membaca pemikirannya itu, aku tak menemukan kejelasan dari kata ‘sontoloyo’ yang pernah diucapkan oleh guru sekolah dasarku. Karena yang dimaksud dengan ‘Islam Sontoloyo’ dalam kacamata Bung Karno adalah sebuah kritikan bagi para pengikut Islam yang ‘terlalu mementingkan kulit daripada isi’.

Padahal umpatan ‘sontoloyo’ yang pernah diberikan guruku waktu itu, karena kesalahanku yang suka ribut ketika diterangkan. Swaktu Pak Jono menjelaskan tentang wayang, aku asyik bercanda dengan teman sebangkuku yang kepalanya pitak. Di tengah rambutnya yang lebat, ada bekas luka yang membuat kulit kepalanya tidak ditumbuhi rambut. Dan untuk menutupi ‘lapangan kutu’ itu, dia suka memintaku untuk menutupinya, dengan cara mencoretkan bolpen memenuhi bagian yang pitak.

Karena merasa telah mengetahui soal nama-nama wayang berikut kerajaannya, aku menganggap tak penting memerhatikannya. Lebih asyik membantu menghitamkan pitak kepala temanku. Namun justru karena niat baik itu membuat marah Pak Jono. Kemudian melempar kepalaku dengan penghapus kayu, sambil memberikan umpatan ‘sontoloyo’.

Seluruh kelas mentertawakan kejadian itu.

Betapa malunya mukaku. Juga sangatlah sakit hatiku. Sakit hati dan malu yang menggumpal membatu. Menjadikanku kecewa sekaligus membenci guruku.

Entah apa maksudnya, ada seorang guru yang memberikan julukan demikian jeleknya pada muridnya. Apalagi aku pun tak paham, arti kata umpatan yang telah diucapkannya.

Yang kutahu, teman-teman sekelas kemudian ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan itu. Menjadi ejekan yang sangat memalukan. Sekaligus mematikan. Aku pun marah dan jengkel dengan panggilan itu. Marah pada Pak Jono yang telah melontarkan umpatan itu. Jengkel pada teman-teman yang selalu mengolok-olokku. Meski aku pun yakin, saat itu mereka sebenarnya tak memahami benar makna ledekannya padaku.

Namun ternyata, bertahun-tahun kemudian kejadian itu masih membeku di batinku. Terbawa hingga usia tuaku, meski peristiwanya telah lewat 22 tahun berlalu.

Sontoloyo!

Dan karena umpatan memalukan itu, semangat belajarku langsung turun tiba-tiba. Yang sebelumnya pada catur wulan 1 dan 2 aku menduduki ranking 2, anjlok menjadi ranking 4 pada catur wulan 3. Karena tidak masuk dalam 3 besar, membuatku tak mendapatkan hadiah buku seperti pada catur wulan-catur wulan sebelumnya, sejak aku kelas 2.

Namun karena beban ‘murid sontoloyo’ pula, aku mulai bangkit lagi setelah naik kelas 5. Setelah Pak Jono tak lagi menjadi guru kelasnya. Untuk membuktikan bahwa aku bisa berprestasi lagi. Sejak itu, aku makin giat belajar hingga prestasiku melonjak kembali.

Di kelas 5 aku bisa menduduki ranking 2 pada catur wulan ke 1 dan 2. Bahkan pada catur wulan 3 aku mampu menjadi ranking pertama. Prestasi yang tak pernah kudapatkan sebelumnya, sejak aku kelas 2.

Semangat belajarku terus kukembangkan dengan mengulang pelajaran yang diterangkan guru di kelas. Setiap pulang sekolah, aku menuliskan rangkuman yang telah disampaikan. Jadi aku mempunyai 2 buku setiap pelajaran. Satu buku pelajaran yang diberikan ketika guru mengajarkan, satu lagi yang kubuat sendiri di rumah sebagai rangkuman.

Dan ternyata kebiasaan itu sangat membantu proses belajarku. Hingga setelah naik ke kelas 6, aku bisa ranking pertama dalam setiap catur wulannya. Bahkan kemudian berhasil lulus dengan NEM tertinggi di sekolahan. Dan hadiah buku pun kembali kudapatkan.

Setelah aku renungkan, sepertinya orang semacam aku memang seharusnya diumpat lebih dulu untuk bisa bangkit. Karena kalau tidak dimaki dengan julukan ‘sontoloyo’ itu, mungkin aku hanya berpuas diri menjadi ranking 2 di kelas. Dan setelah dipermalukan di kelas itulah, aku menjadi lebih tekun belajar, dan tak lagi ribut ketika guru menjelaskan.

Maka mungkin benar adanya, bahwa ejekan dan olok-olok tidak selamanya berakibat merugikan. Karena kadangkala, justru bisa dijadikan lecutan membangkitkan semakat. Semacam pijakan untuk bangkit dan berdiri lebih tegak dari sebelumnya.

Bukankah pernah kita baca kisah tentang nasib kuda yang terperosok lobang. Sang kuda yang sudah bernasib sial itu, semakin sial karena tak ada seorang manusia pun mau menolongnya. Bahkan kesialan berikutnya datang, ketika manusia justru menjadikan lubang besar itu menjadi tempat sampah mereka. Tiap hari mereka membuang sampah ke dalam lubang itu. Namun tak disangka, dengan menjadikan sampah-sampah itu sebagai pijakan kakinya, setahap demi setahap sang kuda bisa naik ke atas. Hingga akhirnya bisa keluar dari lubang yang memerangkapnya. Dan kembalilah ia menghirup udara segar.

Aku pun menjadi tersadarkan. Meski datang setelah 22 tahun kemudian.

Namun untuk mengobati penasaranku tentang kata ‘sontoloyo’ itu, aku pun mencarinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam buku terbitan Balai Pustaka itu, ternyata ‘sontoloyo’ berarti konyol, tidak beres, dan bodoh, yang dipakai sebagai kata makian.

Aku baru tahu, bahwa dulu aku ternyata dianggap ‘konyol dan bodoh’ oleh guruku!

Dan aku pun kembali terkenang pada kisah masa kecil Einstein. Yang konon pada waktu sekolahnya pun, sang jenius itu pernah dicap sebagai ‘anak bodoh yang berotak udang’ oleh gurunya. Karena sampai kelas 6, ia masih belum lancar membaca, dan selalu ranking terakhir di sekolahnya. Hingga sang guru yang merasa tak sanggup mengajar kemudian mengeluarkan dari sekolah, lalu mengembalikan pada orang tuanya.

Namun meski sama-sama pernah dicap ‘anak bodoh’ di sekolahnya, nasibku dan Enstein ternyata jauh berbeda. Otakku tetap tak bisa menjadi sejenius otaknya, bahkan hingga menginjak usiaku yang sudah berkepala tiga. Tetap saja menjadi otak udang, rasanya.

Aku pun kembali tergelitik mencari penyebabnya. Mengapa akibatnya berbeda dengan Einstein yang kemudian menjadi sosok super jenius dunia. Di mana sebab bedanya.

Apa mungkin karena aku sudah lancar membaca sebelum kelas enam? Apa karena aku belum pernah menjadi ranking terakhir di kelas? Apa karena dulu tak sampai dikeluarkan dari sekolah dan disuruh belajar di rumah?

Atau karena potongan rambutku yang lebih rapi daripada potongan rambutnya? Atau karena wajahku lebih cakep dan penampilanku lebih klimis dari dia? Atau karena aku berkacamata?

Coba aku tanya Ummi saja, siapa tahu istriku justru mempunyai jawabannya!

oleh Nassirun Purwokartun pada 12 Januari 2011 pukul 22:45

Iklan

Catatan Kaki 29: Dalam Kamar Gelap yang Pengap

Standar

Kesadaran itu seperti sebuah sorotan cahaya. Begitu petuah bijak berkata.

Sebelum mampu memancarkan cahaya batin pada apa yang terjadi dalam diri, kemungkinan akan terus merasa tersesat, bingung berada dalam kegelapan.

Dan itulah sungguh yang sedang kurasakan. Paling tidak seharian ini. Sejak pagi hingga sore tadi, aku bingung akan mengerjakan apa. Mau membaca, malas. Mau menulis, berat. Menggambar, enggan. Hingga suntuk sungguh rasa di jiwa.

Seolah hidup tak ada gairah. Tak ada semangat untuk melakukan apa pun, mengerjakan apa pun. Bahkan sekadar berpikir pun, otak terasa tumpul. Hati turut beku. Kaku. Dingin.

Aku seakan berada dalam gelap yang pengap. Tanpa ada cercah sinar, pertanda ada harapan memancar. Seolah berada dalam ruang hampa udara, yang menyesakkan.

Aku terjebak dalam gelap kamar kebosanan yang menjemukan.

Untuk sekadar membuang penat, aku pun masuk dalam kamar buku. Telentang di tengah ruangan, dengan beralaskan tikar pandan yang kubentangkan. Kutatap rak-rak buku yang menyesak di kamarku. Keempat sisi dindingnya penuh dengan jajaran lemari, dari lantai hingga menyentuh atap. Hanya meluangkan ruang pintu dan jendela saja. Aku lihat satu per satu dari lemari kiri ke kanan. Seolah mengabsen buku yang pernah kubaca, dan kuingat isinya. Dari lemari buku agama, sejarah, budaya, sastra, hingga humaniora.

Ingin sekali menuangkan pengetahuan yang ada dari ribuan buku itu, untuk kemudian kutuliskan menjadi buku. Menjadi warisan pemikiran untuk kedua anakku, sekadar kebanggaan yang ingin kusematkan di namaku. Tapi kebosanan itu mendadak menyergap. Hari ini aku sangat malas membaca, sekaligus berat menulis.

Benarlah kata-kata Ali Thantawi, “Kemalasan yang ada pada diri kita, seringkali terasa lebih manis dibandingkan madu.”

Kaca mata kubuka. Kuletakkan di rak buku terdekat, agar tak lupa. Sudah berulangkali aku kebingungan mencarinya setiap bangun tidur. Bahkan beberapa kali pecah, karena tak sengaja mendudukinya.

Kemudian lampu kamar kumatikan. Tiduran lagi dalam suasana gelap. Mata sengaja tidak dipejamkan. Berdiam diri dalam gelapnya kamar buku, yang hanya menyisakan cahaya dari kisi-kisi di atas jendela.

Aku terdiam. Tidak melakukan kegiatan apa pun. Membisu.

Dalam gelap, membuat kita tenang, tapi sekaligus membawa kesadaran.

Perenungan datang ketika dalam kegelapan. Kesadaran pun datang, ketika ruang tak ada lampu yang menyala. Gelap yang membuat hati lebih lembut untuk menangkap segala lintasan pikiran dan perasaan.

Bahkan dalam kamar gelap, membuatku banyak menemukan ide-ide brilian.

Gelap. Ah, ini bisa diasosiasikan sebagai kegelapan batin juga. Ketika hati kita sedang mengalami kegelapan, mengalami kegelisahan, kecemasan, keresahan. Itulah di saat asa serasa hampir putus, tak ada bayangan harapan yang membuat hidup lebih bergairah.

Itulah yang kurasa saat ini. Berdiam dalam kamar buku yang gelap. Membayangkan ribuan buku yang telah menyesak dalam otakku. Namun tetap tak membuatku bijak dalam meniti liku kehidupan. Pengetahuan hanya menjadi wawasan tanpa pengamalan.

Dan itu pulalah yang mungkin membuatku sesak. Seolah merasakan kepengapan hidup, dalam suasana yang semakin gelap. Aku hidup dengan nafas yang selalu terburu, bergegas seolah dikejar waktu. Hingga waktu habis untuk kerja, kerja, dan kerja.

Sesekali mungkin memang harus merasakan bosan. Agar bisa masuk dalam gelap perenungan. Untuk kemudian menemukan cahaya, yang bermakna kesadaran.

Maka mestinya aku pun tak perlu mengutuk kegelapan itu. Kegelapan batin dan jiwa. Karena kegelapan itu pun sesungguhnya aku sendiri yang membuatnya. Seperti ruangan kamar bukuku yang menjadi gelap, karena aku pula yang mematikan lampunya.

Aku harus mulai menyalakan lampu, agar suasana kamar menjadi benderang.

Aku pun harus menyalakan pelita hatiku, agar suasana jiwa menjadi terang. Lapang.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 11 Januari 2011 pukul 22:31

Catatan Kaki 28: Siapa Mau Membeli Rongsokan Batinku?

Standar

Kebanyakan kita menjaga sisi gelap kita, untuk tetap tersembunyi.

Karena kita tidak pernah ingin kejelekan kita diketahui orang lain. Hingga kita sembunyikan rapat-rapat, seperti kebiasaan menyimpan sampah kecil di dalam laci.

Padahal konon, bersembunyi dari bagian diri yang terlihat cacat ini, sebenarnya hanya menghalangi perkembangan kita sebagai manusia. Karena justru, menghadapi kebaikan, keburukan, dan kejelekan lah yang akan benar-benar melepaskan energi negatif. Yang akibatnya bisa meningkatkan rasa kecintaan pada diri.

Maka hari ini aku jadi teringat tentang ‘dendamku’ pada laci lemari.

Sudah lama aku memendam rencana untuk membersihkan laci bawah lemari pakaian Ummi. Laci yang selama ini kugunakan untuk menyimpan benda-benda peralatan listrik dan segala macam alat pertukangan.

Tempat penyimpanan paku-paku dalam beragam bentuk dan ukuran. Dari paku pinus, paku jamur, paku payung, paku besi, hingga paku beton. Berikut gergaji kayu, gergaji besi, gergaji triplek, palu, pencabut, tang, behel, kabel-kabel listrik, obeng, skrup, mur, baut, dan segala peralatan kecil lainnya.

Awalnya aku menyimpan peralatanku di laci tempat penyimpanan kain-kain Ummi, karena lemari itu berada di gudang. Maka laci itu sangat tepat menjadi tempat paling aman, karena sulit dan jauh dari jangkauan anak-anak. Apalagi rak yang menjadi kotak laci tersebut terbuat dari papan jati tebal. Yang karenanya, semakin membuat anak-anak tak bisa mengambilnya. Tak bisa menarik dan membukanya, karena saking beratnya. Jadi aku tak khawatir barang-barang yang bisa berbahaya itu menjadi mainan anak-anak.

Tapi lama kelamaan, tempat yang aman itu justru menjadi tempat yang ternyaman untuk menyimpan segala benda lainnya. Bahkan benda-benda yang tak diketahui kegunaannya. Bekas-bekas alat listrik yang tak terpakai kemudian ikut tersimpan di dalamnya. Dari mulai kabel-kabel, stop kontak, jek, dan segala barang elektronik yang bekas dipakai.

Semacam ada rasa sayang untuk membuangnya, seteleah mengganti kabel lama dengan kabel baru, atau stop kontak dan jeknya. Akhirnya aku pun menyimpannya di rak laci tersebut. Pertimbangannya hanya satu, siapa tahu kapan-kapan bisa dipakai lagi. Dan disimpan di tempat yang tidak kelihatan, jadi tidak mengonggok seperti sampah.

Padahal setelah kupikir ulang, semua barang itu sesungguhnya adalah sampah.

Maka kemarin aku ingin merapikannya. Apalagi setelah paku-paku bekas pun semakin banyak. Yang sebelumnya tersimpan dalam toples-toples kecil, suatu kali pernah tumpah tersenggol tangan. Hingga paku-paku kecil itu pun memenuhi seluruh rak.

Ini semakin membuat berantakan isi laci. Dan semakin menyulitkan ketika hendak mencari sesuatu yang diperlukan. Membuatku tak bisa mendapatkannya dengan cepat. Karena harus diteliti, menghindari tertusuk paku yang berserak. Dan harus menyibak bermacam barang-barang rongsokan yang telah memenuhi ruangan rak.

Maka yang barang-barang pengganggu semacam itu harus disingkirkan.

Rak pun aku tarik dari lacinya. Dua-duanya, yang kiri dan yang kanan. Semua peralatan listrik yang tak terpakai dan kemungkinan besar tak layak pakai lagi, aku masukkan kardus. Juga alat-alat yang lain, yang menurut perkiraan sudah sedikit kegunaannya..

Semua harus disingkirkan. Laci harus dibersihkan. Hanya barang yang kuanggap berguna, dan benar-benar bermanfaat saja yang boleh berada dalam rak.

Kemudian untuk memudahkan pengambilan, paku-paku aku kumpulkan dan kembali kumasukan dalam toples-toples kecil. Semua kumasukkan sesuai ukuran paku-paku itu. Yang besar dan yang kecil dibedakan tempatnya. Juga untuk paku payung dan paku jamur. Berikut dengan bermacam mur dan baud yang kujadkan satu toples.

Dan selesailah semua. Rakku telah teratur. Bersih, rapi, dan tertata.

Bahkan Ummi pun lumayan gembira. Laci rak lemari kain-kainnya tak lagi penuh sampah seperti sarang tikus.

Namun yang lebih gembira lagi, karena barang-barang yang tak terpakai itu, bisa dijualnya pada pedagang rongsokan keliling. Berikut kardus, bekas kertas gambar, koran-koran, dan majalah bekas yang juga kubersihkan dari kamar buku.

“Lumayan, Bi, bisa buat beli bakso rusuk!”

Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata Ummi masih ingat dengan makanan kesukaannya. Yang sudah lumayan lama aku tak mengajaknya makan bersama.

Lalu setelah lelah beres-beres, sambil membaca buku ‘Babad Syekh Siti Jenar’, aku mendadak seperti tersadar. Bahwa rencanaku untuk membereskan laci rak peralatanku telah terlaksana. Dan ternyata hanya butuh waktu satu jam untuk merapikannya. Namun karena selalu menganggap tak begitu penting, rencana itu telah tertunda setahun lamanya.

Maka aku jadi berpikir. Setelah bisa membersihkan rak laci peralatanku, membuang semua barang yang kurasa tak ada gunanya. Menyingkirkan benda yang tidak ketahuan pasti gunanya, atau yang hanya setengah berguna, aku mestinya bisa melanjutkan pada tahap kedua. Membersihkan rak laci jiwaku. Yang sudah bertahun-tahun kuabaikan.

Mungkin hari ini, sudah menumpuk perasaan-perasaan yang tak berguna untuk kehidupan. Yang selama ini mungkin sengaja atau tak sengaja kusimpan. Atau bahkan yang memang dengan sepenuh niatan untuk dengan rapat menyembunyikan.

Aku merasa, sekaranglah saatnya untuk membuang dari penyimpanan laci batinku. Berani membuang semua hal-hal yang tak bermanfaat bagi perkembangan jiwaku. Hal-hal yang justru akan menghambat kemajuan pribadiku.

Aku harus berani memutuskan, mana yang bisa bermanfaat, dan mana yang hanya rongsokan. Yang justru akan terus menerus membuat kotor jiwa.

Harus kubuang semua rasa kecewa. Rasa tidak nyaman yang menyesakkan perasaan. Harus kubuang segera. Agar jiwaku lebih tenang. Bersih, rapi, dan tertata.

Dan akan kumulai sejak hari ini. Dengan cara mencatatnya, agar tak terlupa.

Maka selain tiap pagi menuliskan kenangan masa kecil, aku sesekali akan membuat renungan. Catatan-catan kecil tentang kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan. Yang harus kuhindari pada langkahku kemudian. Agar tidak menjadi keledai dungu yang rela dua kali masuk dalam kubangan.

Catatan-catatan yang mungkin bernada membuka kejelekanku sendiri. Tapi bagiku, biarlah itu menjadi pembelajaranku di kemudian hari. Aku mencoba tidak malu untuk mengakui, bahwa aku pernah jatuh, tergelincir, bahkan terserimpung kakiku sendiri. Aku akan menuliskannya sekadar sebagai cara untuk mengeluarkan energi negatif dalam diri.

Dan lagi, siapa tahu rongsokan batinku pun, kalau dikumpulkan ada yang mau beli.

Paling tidak sekadar untuk bisa membeli bakso uleg khas Temanggung yang konon rasanya berbeda. Kebetulan di jalan dekat rumah ada cabang yang baru buka.

Dan Ummi sedang penasaran untuk mencicipinya

oleh Nassirun Purwokartun pada 10 Januari 2011 pukul 22:20 ·

Catatan Kaki 27: Pagi Ini adalah Pagi yang Baru, dan Aku Ingin Menjadi Aku yang Baru, pada Pagi Ini

Standar

bahagia! wong dapat 15 juta!

“Tataplah diri di depan cermin. Berdirilah dengan tenang dan benar-benar melihat. Pertama menggunakan mata kiri, kemudian ganti dengan mata yang kanan. Bisikanlah pertanyaan, ‘Siapa aku ini?’ Lagi. Dan lagi. Kemudian buka kedua mata sekaligus, yang kiri dan yang kanan. Maka temukanlah diri Anda berada dalam keadaan baru dan mengejutkan. Diri Anda yang baru!”

Dan aku pun melakukannya.

Berdiri di depan cermin kamar bukuku. Ku tarik nafas dalam-dalam. Mata kupicingkan. Aku ingin melihat diriku yang baru. Diriku yang berbeda dengan yang kemarin.

Pagi ini aku ingin bangun menjadi diriku yang baru. Meski pun semalam baru bisa tidur jam setengah tiga. Lalu tadi pagi kupaksakan bisa bangun jam empat. Demi untuk menyambut pagi yang baru. Pagiku yang baru. Pagi yang berbeda dengan pagi yang kemarin.

Maka pagi ini, pagi dan aku, sama-sama baru. Pagi yang baru dan aku yang baru, bertemu dalam rasa syukur. Dan aku benar-benar ingin melihat diriku yang baru, ketika menatap cermin itu.

Cukup lama aku berdiri di depan cermin. Karena ini memang kesenanganku sejak kecil. Dulu, aku sering mengamati diriku sendiri. Memerhatikan wajah dan segala apa yang ada di mukaku. Kadang dengan tatapan mata memicing. Kadang dengan melotot. Kadang dengan memejamkan salah satu. Dengan mulut rapat terkunci. Dengan senyum tersungging. Atau bahkan dibuka lebar seperti menguap. Aku juga suka menggerak-gerakkan bibirku ke samping. Lalu ke atas, ke bawah, ke depan. Seperti sedang senam mulut. Sendirian. KarEna malu juga kalau ketahuan.

Dan aku sangat menikmati itu. Menikmati memainkan wajah di depan cermin. Kebiasaan yang berlanjut sampai sekarang. Hingga di kamar kerja dan kamar bukuku kupasang cermin setinggi badan. Tentu selain untuk memberi kesan luas pada ruangan yang sempit. Yang pada ketiga sisi dindingnya, telah penuh dengan rak buku yang menyentuh hingga langit-langit.

Aku juga suka berbicara sendiri di depan cermin. Mengungkapkan kata-kata yang kadang ada maknanya, kadang hanya sekadar celoteh dan olok-olok belaka. Tapi ketika terpaku pada wajahku, kuperhatikan sorot mata yang memancarkan jiwa, sering juga terlontar ucapan untuk mensugesti diri sendiri. Kata-kata untuk memotivasi diri. Ucapan yang seolah hanya celoteh, tapi justru tanpa disadari sepenuhnya, datang dari jiwa yang terpendam. Dan diucapkan untuk jiwa yang terdalam. Kata-kata yang terbukti seringkali mampu membangkitkan keterpurukanku.

Dan pagi ini, aku pun menatap cermin kembali. Untuk bertanya, “Siapakah aku ini?”

Aku ingin menemukan diriku yang baru. Yang tertangkap dalam cermin di kamar bukuku. Aku yang terlihat sangat kuyu dan kusam. Karena tidur yang tak lebih dari satu jam.

Namun dalam kekuyuan itu, masih jelas terlihat wajah asliku. Yang nampak tegang. Sangat angker dan mengerikan. Tatapan matanya dingin dan dalam. Pandangannya tak bercahaya. Tak memancarkan sinar persahabatan yang hangat. Beku dan kaku. Seram dan menakutkan.

Wajah yang membuatku tersenyum sendiri, “Inikah wajahku yang sejati?”

Namun begitu ujung bibir kutarik kiri kanan. Senyum kusunggingkan. Selarik kecerahan mulai memancar. Apalagi ketika sedikit dibuka dengan memerlihatkan jajaran ujung giginya. Sungguh, keangkeran itu mendadak sirna. Beku, kaku, dan wajah dingin, seketika lenyap. Pandangan pun menjadi bersinar hangat. Sangat menampakkan wajah bersahabat. Renyah dan ramah.

Aku pun semakin menikmati wajah itu. Wajah yang tengah tersenyum malu-malu. Senyuman yang menurut Ummi, “Penuh pesona dan kharisma. Lembut dan berwibawa. Memancarkan kedamaian dan ketenangan. Senyuman yang menawan.”

Maka pagi ini, senyuman itu pun kuulang berkali-kali.

Aku menyunggingkan senyuman seperti kalau hendak difoto. Entah mengapa, aku memang selalu tersenyum ketika sedang difoto. Aku suka dengan gaya sedang tertawa. Seolah memberikan kesan bahwa aku adalah orang yang bahagia, dan suka bercanda.

Maka kalau aku perhatikan dalam cermin, aku seperti punya kepribadian ganda.

Yang satu adalah yang diriku yang beku, dingin, dan kaku. Yang angker, seram, dan menakutkan. Mungkin itulah pancaran jiwa seriusku. Karena sesungguhnya aku orangnya sangat serius, ketika menghadapi sesuatu yang menarik minatku. Contohnya, untuk mengungkap sosok Penangsang yang sangat hitam dalam sejarah tanah Jawa. Aku sangat serius menggalinya.

Termasuk ketika menuliskannya. Berikut dengan konsekuensi, bahwa dengan menjadikannya novel trilogi, aku mengorbankan semuanya. Termasuk pekerjaan yang dilepas. Lalu pendapatan bulanan yang tanpa kepastian. Harus meninggalkan istri tercinta dan anak-anak tersayang. Hanya untuk menyusuri kegelapan sejarah dan berusaha menguaknya sebagai wacana tafsir ulang.

Kalau sudah begitu, aku pun sangat serius. Puluhan buku kubaca, kueja, kumakna. Aku berubah menjadi orang yang jarang tersenyum. Waktunya habis untuk berpikir dan merenung.

Namun kalau sudah lepas dari beban penasanan, aku pun mulai bisa tersenyum kembali. Wajah ramahku datang. Dan kalau sudah tertawa, tampang ceriaku memancar terang. Aku menjadi orang yang tak berhenti tertawa, ketika bercanda dengan istri dan anak-anak. Di mana saja.

Bahkan apa saja bisa kujadikan bahan pemancing ketawa. Maka sering kurasa, bahwa aku termasuk orang yang bisa dengan mudah membuat orang tertawa. Mungkin karena aku kartunis, yang mempunyai kepekaan humor di atas rata-rata.

Namun dalam batin, justru sering bertanya, “Jangan-jangan senantiasa bisa tertawa, sekadar untuk menghapus deritaku saja?”

Karena hidupku tak lebih hanya cerita duka. Kehidupanku adalah perjalanan panjang penuh luka. Maka untuk menghibur diriku sendiri, aku harus bermain sandiwara. Dengan mengungkapkan kecewa menggunakan cara penuh canda. Mengubah duka menjadi tawa. Meski sesungguhnya, dalam deritaku selalu ada tawa. Dan di balik tawaku, masih tersimpan duka.

Salahkah sifat begini? Yang angker seram sekaligus ceria ramah? Yang beku dingin namun juga hangat cair? Yang bisa sangat tidak pedulian namun juga mampu untuk amat perhatian?

Atau justru yang beku kaku dingin seram menakutkan tak bersahabat adalah sifat asliku? Sementara yang hangat ramah cair ceria penuh perhatian hanyalah pelarian jiwaku?

Jangan-jangan hanya ingin melarikan diri dari kedukaan, dengan berpura-pura bahagia. Menjadi pribadi yang ceria, karena dalam jiwa terdalamku justru memendam duka. Menjadi sosok yang suka tertawa bahagia, hanya untuk menipu diri bahwa sebagai orang yang menderita. Karena dalam perjalanan panjang kehidupanku, justru bukanlah orang yang penuh rasa bahagia.

Aku berpura-pura bahagia untuk mengubur dalam-dalam deritaku. Mengubur semua keminderan yang sekian lama mendera. Kemiskinanku, kebodohanku, ketidakpastian hidupku, kekacauan jalan hidupku, ketidaklayakan pekerjaanku, dan segala macam kebimbangan yang menggelayut, membuat aku harus berpura-pura bahagia dengan segala yang ada pada diriku.

Aku menjadi seorang pemurung yang penuh canda tawa bahagia.

Namun sering juga aku bertanya, “Atau malah sesungguhnya justru seorang perenung, yang mampu memadukan penderitaan dengan kejenakaan?”

Yang bisa menatap setiap sinisme sepenuh optimisme. Yang melihat duka bukan untuk diratapi, tapi untuk dipelajari. Yang menatap derita dengan ceria. Yang menikmati luka dengan tawa. Yang merasakan kecewa dengan gembira. Yang meyakini bahwa kesedihan tak perlu dibagi, namun dikali. Yang harus dikuadrat dan dipangkat agar justru bisa menghasilkan kebahagiaan.

Karena konon, realitas diri itu tersusun dari beberapa lapisan. Persis seperti kulit bawang merah. Dan mengajukan pertanyaan adalah salah satu cara untuk menguliti lapisan tipis itu satu per satu. Maka seperti juga mengupas bawang merah, membuka lapisan diri pun kadang membuat mata harus berkaca-kaca. Ingin menolak kenyataan yang ada. Bahwa itulah diriku yang sebenarnya.

Namun pagi ini aku telah melakukan itu. Dengan cara bertanya pada cermin di depanku. Untuk sekadar menemukan apakah yang saat ini benar-benar diriku. Diriku yang baru.

Karena pagi ini adalah pagi yang baru. Dan aku ingin menjadi diriku yang baru, mulai pagi ini.

Bismillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 10 Januari 2011 pukul 7:23

Catatan Kaki 26: Gigi Tua Belajar Mengunyah

Standar

Mengunyah merupakan aktivitas yang utama. Sekaligus memuaskan.

Kita jarang benar-benar merasakan manisnya makanan, karena tidak meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh menikmatinya. Dengan sepenuh perasaan

Dan ini yang sekian lama kuabaikan. Tidak menikmati makanan yang sudah kumakan. Lidah hanya selintas saja merasakannya. Begitu terasa enak, langsung ditelan. Kalau tidak enak, dimuntahkan. Aku tak meluangkan waktu untuk merasakan nikmatnya makanan.

Namun kemarin, tiba-tiba aku terbetik untuk menikmati nikmatnya makanan.

Aku teringat pada sebuah pengetahuan, yang kudapatkan dari buku yang pernah kubaca. Yang dengan berlalunya waktu, buku itu habis kubaca, namun ilmunya tak kulaksanakan. Hanya berhenti menjadi pengetahuan. Sesuatu yang menambah wawasan dan pemahaman, namun tak berlanjut menjadi penghayatan. Padahal untuk menjadi ilmu, pengetahuan harus dilakukan.

Maka aku pun mengingat petunjuk di buku yang telah kubaca 2 tahun lalu. Cara sederhana untuk bisa mendatangkan kebahagiaan, dengan jalan menikmati manisnya makanan.

Caranya sangat sederhana. “Hanya dengan memasukan potongan kecil buah-buahan yang dapat dikunyah di mulut. Gelindingkan di sekitar lidah untuk bisa merasakan teksturnya. Lalu kunyah dengan sangat lambat. Perhatikan betapa rasa manis yang sangat kaya merembes keluar penuh cita rasa. Nikmati rasa tersebut dan jangan buru-buru menelannya. Hal ini mungkin sulit, karena tidak terbiasa dengan cara seperti itu. Tapi bagaimana pun, cobalah.”

Ya. Ini akan kucoba. Harus kulakukan. Apalagi aku yang sekian lama menganggap bahwa kegiatan makan adalah peristiwa yang hanya membuang waktu saja. Sebuah aktivitas yang harus segera kuselesaikan, untuk melanjutkan pada aktivitas yang lebih penting lainnya.

Hingga aku sempat terpikir, andaikata ada obat pengenyang yang bisa membuang lapar, alangkah nikmatnya. Biar aku tak perlu repot-repot sarapan, makan siang, makan malam, yang membuang waktu minimal setengah hingga 1 jam. Kalau itu bisa digantikan dengan meminum tablet dan langsung kenyang, sekali makan hanya cukup 1 menit saja. Alangkah praktisnya.

Apalagi selama ini, aku makan memang karena faktor lapar saja. Kalau sedang banyak kegiatan, bahkan sampai lupa makan. Dan hasilnya beberapa harus kali kena magh dan typus. Aku makan karena lapar, bukan karena ingin makan enak. Maka jarang kunikmati makanan yang masuk dalam mulutku. Karena kuingin, kegiatan makan tidak mengganggu aktivitasku. Jadi makan yang hanya sekadar memakan makanan saja, sungguh buang-buang waktu percuma.

Hingga jalan tengahnya, aku sering makan dengan tetap melakukan kegiatan. Bisa sambil menulis, menggambar, baca buku, koran, majalah, atau dengan melihat berita.

Tapi justru karena ingin cepat-cepat selesai, maka tak sempat kunikmati makanan yang kumakan. Hanya sekilas saja merasa enak, makan dilanjutkan. Begitu seterusnya, sampai selesai. Dan tak pernah berpikir untuk menikmatinya ketika tengah mengunyahnya.

Karena prinsipku, semakin cepat selesai semakin baik. Maka nasi pun, aku minta pada Ummi untuk selalu dibuatkan yang lembek. Yang banyak airnya, hingga ketika matang mirip bubur. Yang sudah sangat liat. Jadi tinggal kunyah sebentar, langsung bisa menelannya.

Namun kemarin, semua itu ingin kuhentikan. Aku ingin menikmati setiap makanan yang masuk mulutku. Aku ingin benar-benar meluangkan waktu untuk menikmatinya. Kufungsikan secara maksimal lidahku, dan seluruh indera perasa agar apa pun yang masuk, bisa terasa manisnya.

Maka ketika Ummi akan belanja, aku nitip untuk dibelikan buah apel yang murah. Aku pernah melihatnya di warung sebelah.

“Untuk apa to, Bi?”

“Untuk belajar mengunyah.”

Ummi ketawa, “Gigi udah tua masih belajar mengunyah? Kaya’ Iqro saja!”

Aku pun jadi ikut tertawa.

Dan kubuka kantong plastik dari Ummi. Sekantong apel murah. Harganya 3 ribu rupiah, isinya 7 buah. Besarnya sekepalan tangan bayi. Aku pun langsung mencicipi. Asamnya sangat terasa, wong apel belum matang. Dan sama sekali bukan apel yang menggiurkan untuk dinikmati. Apel kelas teri. Yang tak dijual di toko-toko buah.

Aku ambil pisau, dan kukupas kulitnya. Kemudian kuiris kecil-kecil. Satu buah diiris jadi 4 potongan. Dengan ukuran sekecil itu, sekali masuk mulut, bisa langsung kukunyah, dan segera kutelan.

Tapi kali ini, aku akan mengunyahnya dengan pelan. Akan kurasakan betul nikmatnya apel yang asam itu. Dan akan kunikmati betul, bahwa apel asam itu adalah salah satu kenikmatan juga. Jadi nikmatnya rasa buah apel, dan nikmatnya  masih bisa makan apel.

Potongan apel kecil itu aku gigit. Aku potong lagi menjadi 3 bagian. Kumasukkan dalam mulut. Kukunyah pelan. Sambil kuratakan ke seluruh lidah. Pelan, dan kurasakan benar rasanya. Kukecap-kecap dan kusedot dengan sepenuh rasa. Kunikmati rasanya secara sempurna.

Dan ternyata betul. Rasa apel yang selama ini terasa tidak manis, bahkan kadang amat asam, sekarang manisnya sangat terasa di lidah. Tercecap sangat manis. Sungguh ini sesuatu yang selama ini tak sempat ternikmati. Sesuatu yang kuabaikan. Dan kulewatkan.

Potongan-potongan apel itu pun satu per satu masuk dalam mulutku. Satu per satu kukunyah dengan pelan, dan kunikmati dengan sempurna. Pelan, nikmat, penuh perasaan. Penghayatan.

Ternyata benar. Setidak nikmat apa pun makanan yang kita makan, kalau mengunyahnya dengan sempurna, rasa nikmat itu akan datang. Bahkan ternyata bukan sekadar di lidah, tapi jauh di dalam perasaan, nikmat itu akan lebih terasa. Dan baru sekarang aku tersadarkan.

Maka setelah menghayati nikmatnya mengunyah pelan, aku ingin menjadikannya kebiasaan. Termasuk ketika kemarin aku mengunyah tempe goreng ketika makan siang. Aku jadi lebih merasakan kenikmatan pada sepotong tempe. Sungguh lebih nikmat dari biasanya. Meski tetap tempe, ketika dikecap dengan sepenuh rasa, nikmatnya benar-benar berubah luar biasa.

Ya nikmatnya sepotong tempe sebagai makanan, dan nikmatnya sebagai karunia Allah. Nikmat sebagai makanan yang telah aku suka sejak lama. Juga nikmat sebagai karunia Allah, yang harus selalu aku syukuri, bahwa sampai hari ini aku masih bisa makan.

Rasa nikmat. Ini soal rasa yang selalu kulewatkan untuk dinikmati. Padahal rasa ternyata dapat menyenangkan. Karena konon, sebuah survey pernah menemukan kesimpulan demikian. Bahwa para manula yang berumur lebih dari 80 tahun amat mendambakan dapat menikmati sensasi rasa luar biasa, yang didapatkan ketika mengunyah.

Maka benar adanya, kenikmatan baru terasakan ketika sudah terlewatkan.

Dan aku tak mau seperti mereka, yang ingin merasakan nikmatnya mengunyah di saat sudah tak lagi bisa mengunyah. Sekarang gigiku masih kuat. Masih banyak kenikmatan-kenikmatan yang bisa kudapatkan. Dan akan kulakukan betul, sebagai sebuah syukur nikmat.

Sebuah pelajaran luar biasa, tiba-tiba kudapatkan dari cara yang sangat sederhana. Mengunyah dengan sempurna. Pelajaran untuk bersabar . Agar segala ketidaknikmatan, apa pun bentuknya, tetap menjadi nikmat yang senantiasa mendatangkan kebahagiaan.

Sungguh aku tergugah, ternyata mengunyah pun bisa menjadi laku ibadah.

Subhanallah!

Catatan Kaki 25: Kupinang Kau dengan Puisi

Standar

Ummi! kelebihanmu adalah menerima lamaranku, walau tak membaca puisiku!

aku ingin kau tak jadi aku

seperti aku pun tak ingin jadi kau

kau dan aku tak perlu saling mengaku

aku dan kau telah saling menyatu”

Ya, sekali lagi kukatakan, “Aku ingin kau tak jadi aku.” Karena aku membutuhkan perbedaan itu. Jadi berbanggalah kau dengan ke’engkau’anmu. Tetaplah dengan seluruh apa yang ada pada dirimu. Dengan keramahanmu, keluwesanmu, dan segala yang membuatmu berbeda total denganku.

Sungguh, aku sangat membutuhkan perbedaanmu. Karena aku telah terlanjur menjadi ‘aku’. Yang dingin dan beku. Yang tak bisa hangat dan ramah. Tidak sepertimu. Maka aku tak bisa untuk menjadi sepertimu. Biarlah aku berbahagia dengan segala kekuranganku, kau berbangga dengan kelebihanmu. Berikut seluruh kelebihanku, semua kekuranganmu. Aku tak akan pernah memaksamu menjadi sepertiku. Karena aku membutuhkan ke’engkau’anmu. Kau yang betul-betul berbeda denganku.

Kau tetaplah menjadi engkau, yang mempunyai kemampuan berpikir logis dan sistematis. Aku pun tetap menjadi aku, yang melebihkan perasaan sebagai bekal emosi liris melankolis. Kau tak perlu menjadi aku, introvert yang mencintai kesendirian dalam perenungan yang panjang. Dan aku pun tak harus menjadi kau, ekstrovert yang menikmati hubungan dalam pergaulan dengan banyak orang.

Biarlah semua perbedaan menjadi niatan untuk saling menghargai dan menghormati. Biarlah segala ketidaksamaan menjadi jalan untuk terus menerus saling mengerti dan memahami.

Mungkin seperti yin dan yang atau pun adanya gelap dan terang. Atau bahkan seperti siang dan malam yang sangat nyata segala bedanya. Namun perbedaan itu ada, bukan saling membedakan untuk kemudian mempertentangkan. Sejak dulu aku mencintai perbedaan, karena agar tak ada warna serupa dalam kanvas kehidupan. Justru tinggal disepakati, perbedaan adalah jalan untuk saling mengisi dan melengkapi. Saling sinergi. Karena aku yakin, kau dan aku telah saling menyatukan hati.

Seperti dzikir yang selalu kita baca tiap sore dan pagi, “Ya Allah, Engkau tahu, hati-hati kami telah berpadu, dalam cinta dan taat hanya kepadaMu. Ya Allah, Engkau tahu hati-hati kami telah bersatu, untuk dakwah dan menegakkan syariatMu. Ya Allah, teguhkan hati kami, abadikan cintanya. Tunjukilah jalannya, penuhilah ia dengan cahyaMu. Ya Allah, lapangkan dada ini, dengan iman dan tawakal. Hidupkan dengan ma’rifah, matikan kami sebagai syuhada. ”

hanya waktu dan bukan menunggu

akulah panas dari airmu

engkaulah dingin dalam apiku

kau dan aku sering panas dingin

mencair dan membeku”

“Demi Masa,” demikian Allah bersaksi dengan jelasnya, bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian sepanjang waktunya. “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”

Maka aku pun mengamininya, “Hanya waktu, dan bukan menunggu.” Waktu akan membunuh segala kesempatan, ketika kita tak bisa memanfaatkan. Muhammad Iqbal telah mengisyaratkan, “Berhenti tak ada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang akan maju ke depan. Mereka yang menunggu, meski hanya sekilas, pasti tergilas.”

Dan aku tak ingin menunggu. Aku telah memilih untuk maju. Bahkan dengan segala kekuranganku. Dengan langkah pertama, mampu menundukkan waktu. Sekadar untuk melepaskan diri dari barisan orang-orang yang mengalami kerugian. Yang hari ini sama, atau bahkan lebih buruk dari kemarinku. Aku mau kini dan esokku, lebih baik dari kemarin. Maka sekali lagi, hanya waktu, dan bukan menunggu.

Untuk itulah, kita harus bersatu.

Akulah panas yang selalu ada dalam dingin batinmu. Dan engkaulah dingin yang selalu ada dalam panas jiwaku. Keluasan dan kedalaman samudera kesabaranmu, menjadi muara sungai ketergesaanku. Namun aku sadar, proses saling memertemukan pemahaman kadang membutuhkan gesekan. Mencoba menggembalakan ego yang seringkali harus membuat otak dan hati panas dingin, saling menahan emosi.

aku di sini kau di situ

mari berpadu, mari berpacu

menata laku meniti liku

mencari sebenar Pintu

kau atau aku

kan sampai lebih dulu”

Aku di sini dengan jiwa kesenimananku yang acak abstrak tak terpeta. Dan kau di situ dengan logika berpikirmu yang lurus dan tertata. Aku berpijak di duniaku yang kadang maya dan tak teraba. Kau pun tegak di duniamu yang tegar di dada semesta. Dan marilah kita berpadu, dalam semangat yang sama menuju pintu yang senantiasa terbuka, pintu kebahagiaan untuk kita bersama. Pintu gerbang Surga.

Kita berpacu dengan segala potensiku dan juga potensimu. Maksimalkan apa yang telah menjadi kelebihanku, sekecil apa pun itu. Menyempurnakana kekuranganmu, apa juga itu. Kubur rasa mindermu, karena di mataku kekuranganmu tak ada, meski hanya seujung kuku. Dan aku tak pernah meributkan itu.

Tinggal bagaimana kita menata laku jalan kita, untuk meniti liku tanjak jalanNya. Telah kupahami, perbedaan pasti membuahkan ketidaksamaan pandangan. Tapi untuk saling menemukan sebenar kebahagiaan, cukuplah kita agungkan persamaan. Memahami perbedaan, menyepakati persamaan.

Niatan itulah yang membuat kita harus berlomba. Berlomba dalam kebaikan menjadi sebenar-benar diriku, dan sebenar-benar dirimu. Berlomba menjadi sebaik-baik diriku dan sebaik-baik dirimu.

Dan sepertinya kau yang akan sampai lebih dulu. Yakinku, kau lebih segalanya daripada aku.

(Inilah terjemahan bebas dari puisiku yang berjudul ‘Hanya Waktu dan Bukan Menunggu’.

Puisi yang sangat kuhafal di luar kepala, karena kutuliskan sepenuh jiwa. Waktu itu kucipta dengan satu tujuan, untuk melamar calon istriku. Mungkin inilah puisi cinta paling tidak romantis yang pernah ada.

Maka tak heran kalau kemudian lamaran keluargaku diterima olehnya. Tentu aku sangat bahagia, karena kita belum saling kenal sebelumnya. Namun pasti karena ia telah dulu membaca puisiku.

Maka beberapa bulan setelah menikah, aku pun penasaran dan mencoba meminta komentarnya.

Dan jawabannya sungguh membuat hatiku melayang berbahagia, “Ummi kan orangnya nggak suka puisi. Jadi ya sama sekali nggak bisa mengerti kata-kata dan makna dalam puisi Abi.”

Alhamdulillah!)

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 Januari 2011 pukul 18:38

Catatan Kaki 24: Bersenang-senang Bersama ‘Senang’

Standar

senanglah, meski sedang tak ingin senang. senangkan orang lain, agar diri turut senang. senang melihat orang lain senang!

Angka tujuh, konon angka paling laku.

Seminggu terdiri dari 7 hari, dari Senin sampai Minggu. Not lagu ada 7 jenis nada, dari do sampai si. Warna pelangi ada 7 macam, mejikuhibiniu dari merah sampai ungu.

Kita kenal cerita detektif cilik, Sapta Siaga. Di dunia prajurit Indonesia ada Sapta Marga. Di dunia Pariwisata ada Sapta Pesona. Dalam cerita anak-anak, Putri Salju selalu ditemani 7 kurcaci. Dan James Bond detektif ciptaan Ian Fleming punya kode sandi 007.

Angka 7 juga lekat dengan tradisi Jawa, seperti mandi bunga 7 warna, puasa 7 hari 7 malam, dan minum dari 7 sumber mata air. Anga 7 sering dipakai untuk istilah, pusing 7 keliling, tobat 7 turunan, juga kaya 7 turunan. Dan konon, jembatan shirotol mustaqim pun ibarat sebuah titian rambut dibelah 7.

Supaya senang, tahun ini mestinya kita tidak mendengar lagi, kalau SMAnya tanpa jurusan, lulusannya nanti juga tanpa tujuan. Ada 19 remaja Malang yang  malang nasibnya, ditangkap dan dituduh pesta seks. Ada kakek usia 62 tahun memperkosa gadis usia 4,5 tahun. Ada PM Singapura menghina Presiden RI pertama dan memuji Presiden RI kedua. Ada gelar baru bagi bus malam, Bus Pencabut Nyawa.

Aku senang Meriam bellina, karena aku mantan penembak meriam di artileri. Aku senang Adrianus Mooy gubernur Bank Indonesia, karena gubernur non propinsi. Aku senang Munawir Sazali, karena dihimbau mundur malah maju. Aku senang Saddam Husein karena aku penjual obat kumis.

Aku senang TV swasta, karena dari TK sampai kuliah aku sekolah di swasta. Aku senang polantas, karena punya ajian sakti, sekali gerakkan tangan puluhan mobil berhenti. Aku senang iklan, karena tidak mau jadi yang nomor 2. Aku senang telepon, karena bukan jam beker tapi bisa membangunkan orang.

Perang adalah kerjaan rutinku bersama istriku. Penjajah adalah melarang istri ikut arisan. Mafia adalah kelompok orang sadis bertampang modis. BBM adalah bawa banyak masalah. Disesuaikan adalah kebijakan pemerintah yang belum pernah berarti turun. Nampang adalah jongos berlagak bos.

Ada banyak Hari-Hari yang terkenal. Ada Hari Rusli, cucu sastrawan Marah Rusli yang jawara musik. Ada Hari Sabar, komposer musik film Saur Sepuh. Ada Hari Capri, bintang film yang pengusaha restoran Padang. Ada Hari Mukti sang rocker kutu loncat. Ada Hari Toos, pencipta lagu Hati Selembut Salju. Ada Hari Darsono, perancang mode pesohor. Ada Hari van Hoeve, pencipta lagu yang sering muncul di Aneka Ria Safari. Ada juga Hilman Hariwijaya, pengarang novel Lupus yang banyak digandrungi remaja.

“Senang itu menyangkut rasa. Sulit dijabarkan dengan kata-kata, gampang dicontohkan. Seperti saat pertama ‘Senang’ diedarkan tanggal 16 Juni 1989. Ada perasaan dag dig dug. Laku apa tidak  ya?”

Demikian Arswendo memberikan sambutan dalam selamatan satu tahun majalahnya. Ketika ternyata majalah buatannya meledak di pasaran, menjadi majalah dua mingguan terbesar di Indonesia. Setiap dua minggu sekali 200 ribu eksemplar majalah habis dibeli dan dibaca masyarakat. Bahkan menjadi majalah teratas dan terlucu di antara 37 majalah dua mingguan lainnya, yang terbit di Indonesia.

Senangnya bersenang-senang bersama ‘Senang’.

Kutipan di atas adalah sebagian kecil kenanganku bersama majalah Senang. Majalah yang kulihat pertama kali waktu kelas 5 SD, ketika aku ikut ibu ke tempat saudara yang baru pulang dari Jakarta. Ketika  anak yang lainnya asyik berebut jajan yang dibawa, aku asyik membuka-buka majalah yang tegeletak di ruang tengah. Majalah Senang, namanya. Langka, nyata, bahagia, menjadi slogannya.

Majalah yang isinya menceritakan hal-hal yang langka tapi nyata, dan membuat pembacanya bahagia. Kumpulan berita-berita yang ‘ter’ terangkum semua di sana. Dari manusia terkuat, tertinggi, terbesar, terkecil, hingga manusia terpendek yang ada di Indonesia.

Manusia terkuat adalah Cokrowiyarjo dari Jogja, yang mampu menarik mobil dengan rambutnya. Manusia tertinggi adalah Santoso dari Sragen, yang mempunyai tinggi 215 cm. Manusia terbesar adalah Tarida Gloria, dengan berat badan 114 kg. Manusia terkecil adalah Sanewi dari Madura, dengan tinggi 79 cm dan berat 25 kg pada usianya yang sudah 50 tahun. Dan manusia terpendek adalah Partimah, perempuan dari Wonosobo dengan tinggi badan 65 cm.

Karena isinya seperti kumpulan rekor yang ada di seluruh Indonesia, membuat majalah Senang pun sempat dijuluki ‘guiness magazines ot the record made in Indonesia’.

Sampai hari ini, kenangan tentang majalah Senang sulit hilang. Bukan karena pemrednya adalah Arswendo, yang di saat itu sedang kugandrungi gaya berceritanya. Tapi karena keunikannya. Majalah ini tidak berisi berita. Namun berisi pengetahuan. Sesuatu yang membuatku merasa menjadi banyak tahu. Sesuatu yang mungkin bukan berarti ilmu. Tapi wawasan yang memancingku mengetahui banyak hal.

Salah satu pengetahuan yang masih terkenang adalah cerita dari jazirah Arab dan negeri Cina.

Di Turki, hukuman mati pada abad 17 diberlakukan bagi siapa saja yang kedapatan minum kopi. Raja Jaffar dari Persia di abad 13, tak pernah malu mengakui di depan tamunya bahwa ayahnya hanya seorang buruh kasar. Kalender pertama dibuat di Mesir pada 2780 SM. Dan banyak kisah unik lainnya.

Sedangkan cerita dari Cina, rekor menangis dipegang Pangeran Chao, yang menangis selama 168 jam. Enskiklopedi sudah jadi pegangan murid di abad 15 sebanyak lebih dari 11 ribu jilid. Cara bunuh diri gaya Cina lama adalah dengan makan garam sebanyak-banyaknya. Dan banyak lagi kisah aneh lainnya.

Tapi yang sangat membekas dari pembelajaranku pada majalah Senang adalah menjadi menyukai keunikan. Membuatku berani tampil beda dan dengan itu, aku menjadi ada. Karena demikian pula dengan majalah Senang dibanding majalah lainnya. Ia beda, tidak bicara berita, justru laku luar biasa.

Senang juga mengajariku untuk berani berpikir di luar kotak. Seperti rubrik ‘Aku senang ini karena itu’ dan ‘Kata ini adalah itu’  yang secara tidak langsung memancing untuk berpikir liar. Belajar menentukan alasan yang kadang tak masuk akal tapi justru lebih menjelaskan. Atau mendefinisikan ulang sesuatu dengan cara yang sangat tidak biasa. Rangsangan untuk selalu menawarkan kebaruan. Ide brilian!

Hingga kebiasaan yang kudapatkan waktu kelas 5 itulah yang kemudian melekat dalam sikapku. Untuk berani berpikir di luar logika biasa, dan bertindak meloncat melompati keterbatasan. Mampu melihat yang tak sempat terbayangkan orang sebelumnya. Mampu membaca yang tak seluruhnya tereja mata. Yang lalu kukembang menjadi bentuk kepribadianku, yang mungkin bernama kreativitas tanpa batas.

Jadi aku merasa sangat senang mendapatkan majalah Senang, kenangan dari  saudara yang menjadi pembantu di Jakarta. Oleh-oleh yang tidak seperti diterima saudara lainnya. Yang setelah dimakan, masuk perut, dan tak ada bekasnya ketika dibuang esok harinya. Sementara oleh-olehku menjadi bahan bacaan serta pembelajaran. Dan tetap bertahan meski sudah 20 tahun lamanya. Bahkan kemudian terbukti menjadi bekal hidup menghadapi kehidupan yang sering tidak menyenangkan. Tidak mengenakkan!

Seperti ketika matinya majalah Senang pada tahun 1990. Bersamaan dengan ditahannya Arswendo dalam kasus ‘monitor’. Tabloid yang juga dipimpinnya, yang diajukan ke pengadilan karena menerbitkan survey orang-orang berpengaruh, dan menempatkan Nabi Muhammad pada urutan ke sepuluh.

Tapi paling tidak aku telah belajar banyak hal pada majalah yang hanya berumur 1 tahun itu. Belajar untuk selalu merasa senang menghadapi segala hal yang benar-benar tidak menyenangkan. Seperti cuplikan artikel Arswendo yang selalu muncul menjadi insipirasi dengan renungan-renungan segarnya.

O iya, ada satu lagi yang masih teringat dari majalah lama itu. Majalah yang kemudian kutemukan di kios loakan, setelah sepuluh tahun memburunya. Bahwa kata ‘perkara’ atau ‘masalah yang sangat rumit’ dalam bahasa Cina ditulis dalam satu bentuk huruf kanji. Huruf yang merupakan simbol dari gambar dua wanita dalam satu atap. Entah kenapa, jadi teringat pada Aa Gym yang lagi jadi berita hangat.

Sungguh, aku merasa senang pernah bersenang-senang dengan majalah ‘Senang’!

oleh Nassirun Purwokartun pada 7 Januari 2011 pukul 9:47

Catatan Kaki 23: Hartaku Hanya Buku dan Cinta!

Standar

Sketsa kamarku sebelum menjadi ‘sarang tikus’ yang kubuat tahun 1995. yang semalam mengingatkanku, bahwa aku pernah menjadikannya mahar!

Begitu pintu kamar dibuka, maka nampaklah sebuah ranjang kayu tua.

Tapi jangan pernah berpikir, bahwa ranjang itu adalah tempat tidurku yang sesungguhnya.

Karena sejak dibuatkan kamar pada waktu kelas 5, aku jarang sekali tidur di sana. Apalagi aku tak pernah menganggap ranjang itu adalah tempat ‘resmi’ untuk melepas penatku. Hingga aku pun lebih sering tidur di mana saja kusuka. Pokoknya, begitu kantuk mendatangiku, di situlah tempat tidurku. Maka sangat beruntung kalau dalam sebulan aku bisa 4 atau 5 kali tidur di atas ranjang itu.

Dan meski namanya ranjang, jangan pernah membayangkan sebagai sebuah tempat tidur yang nyaman. Dengan sprei kencang terbentang, berikut guling dan bantal yang berwarna merah muda bergambar bunga. Jangan pernah bayangkan apa pun juga, agar tak kecewa ketika mendapatkannya.

Karena ranjang tidurku itu, justru bersepreikan buku. Maksudnya, tentu bukan sprei yang bergambar buku-buku. Tapi serakan buku yang memenuhi seluruh permukaan ranjangku. Buku-buku yang bergeletakan tak beraturan, hingga betul-betul menutupi sprei aslinya, yang bermotif batik biru.

Hingga kalau sesekali hendak tidur di ranjang itu, aku harus menyingkirkan serakan buku-buku itu lebih dulu. Harus berbagi tempat di sebelah kanan dengan buku-buku itu. Namun kalau badan sudah sangat penat dan kantuk pun menyerang tanpa bisa ditunda, aku pun langsung berbaring begitu saja di atasnya. Langsung tidur, tanpa sempat menyingkirkan serakan yang jumlahnya lebih dari seratus buku. Meski resikonya, ketika bangun ada saja buku yang rusak sampulnya karena tergesek badan.

Awalnya, ranjang itu sebenarnya rapi-rapi saja. Tidak ada satu pun serakan di atasnya. Karena di kamarku sudah ada 2 lemari besar yang menjadi tempat menyimpan buku-bukuku. Dua lemari kayu dengan 10 rak pada pintu kiri dan kanan. Lemari baju yang justru penuh dengan buku. Karena dari 20 rak itu, 18 penuh buku, dan hanya 2 rak yang berisi baju. Sepertinya aku memang lebih sering beli buku daripada beli baju.

Maka ketika ranjang itu bersih dari buku, aku pun tidur di atasnya. Ketika spreinya diganti, dan kasur pun baru dijemur. Saat itulah aku merasa tidur yang paling nyaman. Beralaskan kasur hangat dan bantal serta selimut yang harum baunya. Ketika bangun pun badan terasa lebih segar.

Tapi pada malam menjelang, ketika kantuk belum datang, aku suka menjemputnya dengan membaca buku. Awalnya hanya 1 buku yang kuambil dari lemari. Namun ketika di tengah membaca aku menemukan bahasan yang berkaitan dengan buku lainnya, aku pun mencari buku tersebut ke lemari. Dan begitu seterusnya, ketika membutuhkan cros cek dengan buku yang lain lagi. Hingga satu per satu buku-buku yang tertata rapi di lemari, keluar memenuhi ranjangku. Dan jumlahnya tak lagi satu dua, namun bisa berpuluh-puluh tergantung bahasan apa yang sedang kubutuhkan untuk dibaca.

Apalagi gaya membacaku memang tidak menyukai langsung selesai satu buku begitu saja. Bahkan ketika belum menemukan jawaban atas penasaran, buku-buku pendukung itu tak akan kukembalikan ke lemari. Hingga tiap malam bisa bertambah buku yang kubutuhkan untuk dihubungkan. Itu berlangsung berhari-hari, dan tiap hari. Maka puluhan buku pun kemudian menemani malamku, memenuhi ranjangku.

Sebenarnya, aku sendiri sangat menikmati suasana ranjang dengan serakan buku semacam itu. Karena ketika mau kembali membaca, tinggal mencarinya di antara serakan pada ranjangku. Tak perlu mencarinya di lemari buku, yang berarti harus membongkar satu per satu di antara seribuan buku.

Namun justru ibu yang selalu tak tahan melihatnya. Kalau sudah seminggu dan sangat berantakan, beliaulah yang kemudian memberikan ‘pujian’. “Ranjangmu kok makin mirip sarang tikus?!”

Tentu aku cuma tersenyum mendengar ‘pujian’nya.

Setelah itu, ibu pun lalu menyuruhku untuk membereskan kamarku. Kasur dan bantal dijemur, dan sprei dicuci. Aku pun harus mengembalikan buku-buku ke lemari. Namun karena saking banyaknya, aku pun asal saja memasukan begitu saja. Hingga kalau mencari 1 buku saja, harus kembali membongkarnya.

Setelah kasur dijemur, sprei diganti, ranjangku pun rapi kembali. Harum dan nyaman lagi.

Tapi keteraturan dan kerapian itu tak berlangsung lama. Tak lebih dari 3 hari, akan kembali semula. Buku dan majalah berserakan, bercampur kertas gambar dan bermacam kertas coretan. Hingga kemudian ibu meningkatkan ‘sanjungan, “Ini kalau nanti jadi menikah, kira-kira istrimu mau disuruh tidur di mana?”

Aku pun kembali memberikan senyuman sebagai jawaban ‘sanjungan’.

Dan selalu berulang begitu. Setiap diingatkan dengan ‘pujian setulus sanjungan’ dari ibu, aku pun kembali merapikan ranjangku. Buku-buku kumasukan ke dalam lemari. Majalah-majalah kumasukan dalam laci. Begitu juga dengan kertas-kertas dan bermacam  alat gambar lainnya.

Namun tak lebih dari 1 atau 2 hari, keadaan akan kembali lagi. Buku-buku akan berhamburan dan berserakan kembali. Dan ibu pun semakin meningkatkan ‘kekaguman’. “Kalau kamar saja seperti sarang tikus begini, apa ada istri yang mau tidur di sini?”

Dan sepertinya, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain senyuman sebagai balasan.

Sebab bagiku, buku-buku yang bertahun kukumpulkan inilah hartaku yang paling berharga. Biarlah orang lain banyak yang membanggakan membanggakan tabungan emas dan uangnya. Namun karena aku tak punya itu semua, cukuplah 2 lemari buku itu yang kubanggakan sebagai ‘harta simpanan’.

Kebanggaan semu, yang menurut keluargaku hanyalah barang yang tak ada gunanya. Tak lebih hanya sampah belaka. Karena setiap tahu aku membeli buku, ibu pasti memberikan ‘sambutan’, “Buku lagi, buku lagi. Apa bisa kenyang kalau dimakan anak istri? Buat apa ditumpuk-tumpuk di lemari?”

Aku dengan senyum sering menjawab, “Mau kuwariskan untuk anak cucu nanti.”

Tapi ayah biasanya turut menimpali, “Siapa anak jaman sekarang yang mau diwarisi buku? Dijual lagi pun tak akan laku. Kecuali kalau dijual kiloan untuk bungkus tempe mendoan.”

Memang sejak bisa mencari uang sendiri, anggaran terbesarku untuk membeli buku. Hingga saudara-saudara pun banyak yang turut memberikan ‘dukungan’, “Beli buku terus, apa tidak bosan? Lebih baik uangnya dikumpulkan atau dibelikan emas, biar kalau nikah sudah punya mas kawinnya.”

Maka setiap ‘dukungan’ itu dilontarkan aku pun dengan bercanda memberikan jawaban, “Ini juga dalam pencarian istri idaman. Yang mau diberi buku dua lemari sebagai mahar pernikahan.”

Aku tahu bahwa duniaku memang berbeda dengan keluargaku. Dan aku pun sadar, bahwa aku tak bisa menerangkan mengapa aku begitu ‘gila’ dalam membeli dan membaca buku. Bahkan aku pun juga sangat memahami, jawabanku selama ini pun sulit diterima oleh pemikiran mereka. Karena justru aku yang kemudian dianggap ‘tidak punya pikiran’, ketika uangku justru banyak untuk beli buku. Apalagi ketika kukatakan buku-buku hendak kuwariskan dan akan kujadikan mas kawin pernikahan.

Dan aku memang sedang memikirkan penikahan. Mencari sesiapa pun dia yang bersedia menerima apa adanya. Tanpa meminta apa yang aku tidak punya. Karena konon, kebahagiaan terbesar dalam kehidupan adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Lebih tepatnya, dicintai sebagaimana apa adanya diri kita.

Maka hari ini, yang aku nanti hanyalah yang mau mengerti dan memahami. Yang aku tunggu hanyalah yang mau tahu siapa diriku.

Bukan yang salut, apalagi terkejut.

Solo, 10 Agustus 2003

(Catatan ini hanyalah petikan ‘surat cinta’ yang 7 tahun lalu pernah kusampaikan pada Ummi. Kukirimkan seminggu setelah lamaran, tepat sebulan sebelum pernikahan. Surat cinta yang aslinya setebal 20 lembar, dan isinya sama sekali tidak romantis. Kuyakinkan pada ‘si dia’, bahwa mahar untuknya telah kusiapkan. Berupa 2 lemari ‘harta karun’ dan seperangkat ‘sarang tikus’. Tunai!)

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 Januari 2011 pukul 10:25

Catatan Kaki 22: Aku Jadi Mengerti, Bahwa Srikandi Ternyata Laki-laki

Standar

Tak sengaja semalam aku mendengarkan nyanyian Sujiwo Tedjo, ‘Gugur Bisma’.

Dan pagi ini penggalan kisah Bharatayudha itu tiba-tiba terbayang lagi di kepala.

Seorang resi tua, dengan tatapan tegar menjemput ajal di tengah padang gersang kurusetra. Pada sekujur badannya, dari telapak kaki hingga dada, telah tertembus ratusan anak panah. Mata panah yang menembus tubuhnya, hingga ketika dia rebah, panah-panah itulah yang menjadi penopangnya. Yang membuatnya serupa terpanggang ratusan panah penyangga tubuh rentanya, juga kepalanya.

Resi Bisma, sang Begawan telah mengetahui bahwa ajalnya akan tiba. Kutukan Dewi Amba, perempuan cantik yang pernah jatuh cinta padanya sudah di ambang mata, untuk menjemputnya. Ia yang pada waktu muda menolak cintanya, ditakdirkan akan mati oleh anak panah seorang wanita. Wanita yang dalam dirinya telah menitis sukma Dewi Amba. Dan perempuan itu adalah Srikandi, istri terakhir Arjuna.

Maka Bisma, senopati Astina yang sakti mandraguna pun memilih tak melawan, ketika Srikandi menyemburkan anak panahnya. Karena dalam pandangan matanya, Dewi Ambalah yang datang menjemput kematiannya. Yang cintanya ditolak di dunia, namun berharap mendapatkannya di nirwana. Hingga Bisma pun gugur dalam hujanan anak panah Srikandi, dengan ketegaran seorang brahmana.

Gambaran-gambaran itu masih terbayang di kepalaku dengan segarnya. Padahal kalau dihitung lamanya, sudah seperempat abad lewat. Tepatnya ketika aku masih SD kelas lima.

Ketika aku sering menonton teman-teman sebayaku bermain umbul wayang di pelataran rumah tetangga. Teman-teman yang mempunyai banyak uang, membeli gambar umbul untuk saling diadu dengan temannya. Permainan sederhana, cukup dengan cara diumbul (dilempar) ke atas. Bagi siapa yang gambar umbulnya terbuka, dialah pemenangnya. Sedang pemain yang gambar umbulnya tertutup, dialah yang kalah dan harus membayar dengan memberikan sejumlah gambar umbulnya.

Saat itu aku cukup senang menjadi penonton saja, karena tak punya uang untuk membeli gambar umbul. Tentu, karena uang jajanku yang tak seberapa sedang kukumpulkan untuk membeli majalah bekasan.

Sesekali beberapa teman yang kasihan, memberiku gambar umbul untuk modal permainan. Tapi mungkin karena tak berbakat pemenang, dalam setiap permaian aku selalu kalah duluan. Modal pun habis untuk membayar para pemenang, yang membuatku harus tersingkir dari permainan.

Karena nasibku selalu kalah, teman-teman yang memberi pun semakin enggan. Dan aku benar-benar harus keluar dari kalangan. Cukup kembali duduk sendirian, menjadi penonton di pinggiran.

Pada saat itulah aku menyingkir dari pelataran. Tak lagi bersemangat menonton permainan. Aku minggir dari halaman yang riuh oleh teriakan. Memilih masuk ke ruang tamu tetanggaku yang lapang.

Pada sebuah meja kayu di pojok ruangan, aku lalu melihat beberapa buku tebal. Bersampul kumal coklat tua, dengan gambar tokoh wayang purwa. Aku yang memang suka dengan cerita wayang langsung mengambilnya. Ternyata buku-buku komik dengan judul ‘Mahabharata’ dan ‘Bharatayudha’.

Aku pun langsung tertarik membacanya. Menikmati gambar-gambarnya yang jelas berbicara.

Lalu setiap hari, ketika teman-teman lain bergembira dengan permaian umbul wayangnya, aku semakin asyik dengan buku komik wayang yang membuatku terlena.

Dan betul-betul terlena, karena hidupnya penggambaran dalam komik tersebut. Aku seolah bisa membayangkan para tokoh wayang kulit, menjadi serupa wayang orang. Saling adu taktik, intrik, dan kelicikan yang mengantar kedua keturunan Bharata saling berperang di padang Kurusetra.

Namun yang lebih menarik lagi, dalam komik kumal itu aku menemukan perbedaan cerita. Aku mendapatkan cerita yang tak sama dengan yang selama ini kubaca di rubrik ‘Pedhalangan’ Panjebar Semangat. Salah satu cerita yang sangat membuatku terhenyak adalah tentang Wara Srikandhi.

Dalam pemahamanku sebelumnya, Dewi Srikandhi adalah istri Arjuna.

Namun dalam komik karya R.A Kosasih itu, tidaklah demikian adanya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, Srikandhi pun ternyata bukan perempuan. Atau tepatnya, bukan asli perempuan. Karena ia adalah seorang laki-laki yang mengubah dirinya, dari seorang perempuan bernama Sikhandi.

Dikisahkan di sana, bahwa Sikhandi terlahir sebagai bayi perempuan. Namun ayah ibunya, Prabu Drupada dan Dewi Gandawati yang raja Pancala memperlakukannya sebagai anak laki-laki. Sejak kecil hingga remaja, selalu dididik menjadi laki-laki. Lengkap dengan ketangkasan berkuda dan memanah yang menjadi kemahirannya. Keahlian yang kemudian membuat Putri Hiranyawati jatuh cinta padanya.

Sikhandi pun kemudian dinikahkan dengan putri negeri Darsana tersebut. Pernikahan yang penuh keanehan, karena Sikhandi tak pernah sekalipun menyentuh istrinya. Sampai sang istri yang curiga memergoki, bahwa suaminya adalah ternyata seorang perempuan juga.

Sikhandi pun minggat kebingungan. Berlari tanpa tujuan, hingga akhirnya tersesat di hutan. Ia lalu bertemu dengan raksasa bernama Stuna. Sikhandi bercerita tentang masalahnya. Lalu mereka bersepakat untuk saling bertukar kelaminnya. Dengan janji untuk sementara. Namun ketika Sang Raja mengetahuinya, raksasa yang marah itu justru mengutuk Stuna menjadi perempuan untuk selamanya.

Kutukan yang secara tidak langsung, membuat Sikhandi pun berubah menjadi lelaki seutuhnya.

Kisah aneh bin ajaib itu sampai sekarang masih terbayang. Termasuk bayangan bentuk komik kumal tebal itu, yang kemudian memaksaku memburunya di seluruh pasar loakan untuk kukoleksi. Buku yang sudah berusia lebih dari 30 tahun, karena cetak pertama di tahun 1977. Buku yang kemudian melegenda, menjadi tonggak komik wayang dengan gaya India, sebagai saduran resmi Kitab Mahabharata.

Dan konon, tentang Sikhandi yang laki-laki itu juga terdapat dalam Kitab Bhismaparwa Jawa Kuno, yang ceritanya mengacu pada versi Sansekerta India. Sedangkan Srikandi yang perempuan adalah cerita wayang Jawa. Kemungkinan hasil kreasi para Wali dalam menerjemahkan Islam, karena tak mungkin mengajarkan kisah tentang seorang perempuan yang menikah dengan perempuan.

Maka begitu pula yang kemudian kudapatkan ketika membuka-buka lembaran Serat Centhini. Dalam naskah yang dianggap sebagai ensiklopedi terlengkap budaya Jawa itu, sosok Srikandi pun adalah salah seorang istri Arjuna. Dan dalam karya sastra yang aslinya berjudul Suluk Tambangraras itu, pribadi Srikandi menjadi salah satu contoh kepribadian wanita Jawa. Teladan yang juga menceritakan 4 istri Arjuna lainnya, yakni Wara Sumbadra, Dyah Manuhara, Dewi Ulupi, dan Dewi Gandawati.

Dalam Serat Centhini pupuh ke-86 yang bertembang Asmarandana, dari bait 68 hingga 79 digambarkan dengan detail pribadi Srikandi. Yakni seorang perempuan yang mampu bersikap sangat tegas, keras hati, namun tidak kasar, dan terhadap suami sangat sayang dan cinta. Banyak ilmunya, karena suka membaca kitab-kitab, pandai dalam soal sastra, tembang dan kesenian. Terampil merias diri, luwes dan ramah dalam pergaulan. Hormat sekali pada mertuanya, Dewi Kunti, serta pandai melayaninya.

Entah kenapa, setelah membaca bait itu selengkapnya, dalam hatiku tiba-tiba ingat Ummi tercinta.

Beberapa sifatnya sangat mirip dengan penggambarannya. Terutama dalam hal sayang dan hormatnya pada suami serta mertua. Mungkin yang beda hanya soal kesukaannya pada seni dan sastra.

Dan tentu saja, tidak seperti Sikhandi yang tak jelas jenis kelaminnya. Karena haqqul yaqin, Ummi adalah seorang perempuan seutuhnya. Kalau tidak, masa dulu aku nekad menikahinya sepenuh keikhlasan.

Tak mungkin jeruk makan jeruk, kan?!

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 Januari 2011 pukul 17:32

Catatan Kaki 21: Catatanku Catatan Kaki!

Standar

“Kok tulisan Kang Nass namanya ‘Catatan Kaki’, apa menulisnya pakai kaki?”

Kali ini, seorang teman berkomentar lagi.

Meski kalau dibaca koment-nya dengan seksama, sepertinya sekadar main-main saja. Tapi entah kenapa aku terpancing menjawabnya. Dan catatan ini adalah sekadar koment balik untuk dia. Mengapa ‘Catatan Kaki’ menjadi penting adanya.

Seperti kita tahu bersama, dalam setiap buku ilmiah, catatan kaki adalah keterangan khusus yang digunakan untuk memberikan keterangan atau komentar. Catatan kaki juga berfungsi untuk menjelaskan sumber kutipan atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan. Dan catatan kaki ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab. Karena posisinya di bawah itulah, maka disebut sebagai catatan kaki. Mungkin kalau diletakkan di atas, jadi catatan kepala.

Jadi ketika aku menulis catatan harianku, aku sedang membayangkan, bahwa  kehidupanku selama ini adalah sebuah buku tebal. Sebuah kitab sejarah yang besar dan sangat tebal. Yang kalau dihitung lembar, dan tiap hari adalah lembaran baru, maka ketebalan buku itu sudah lebih dari 12.000 halaman. Ini sesuai dengan usiaku yang telah lebih dari 30 tahun.

Dengan pengandaian begitulah, maka catatan ini hanya berfungsi layaknya catatan kaki dari sebuah Kitab Keseharian yang telah ditulis Sang Pencatat.

Harap kembali diingat, bahwa tanpa kita sadari, selalu ada malaikat pencatat yang selalu menulis tingkah laku kita. Sejak kita lahir hingga mati nanti. Sejak dalam buaian hingga kita dikuburkan. Dan itu berlangsung tiap hari, konon, di sebelah kanan dan kiri kita. Catatan itulah ‘biografi’ hidup kita, yang telah dibakukan. Dan akan dipertontonkan kelak di hari kemudian. Tanpa bisa kita tolak, karena itulah senyata kenyataan. Senyata catatan perjalanan kehidupan. Biografi tanpa pretensi!

Nah, karena biografi besar itu telah ditulis oleh sang pencatat dengan teliti dan telaten, maka tinggal kita mencoba menyesuaikan saja. Agar tidak banyak yang berbeda. Dan itu membutuhkan kejujuran dari kita, sebagai tokoh utamanya. Maka kejujuran itulah yang sedang kupelajari kembali. Sedang kuhayati untuk kemudian kuajarkan pada anakku nanti.

Meski kita sadar, ‘biografi’ yang merupakan buku yang sangat ilmiah dan tak diragukan kebenarannya, sebetulnya tak lagi memerlukan catatan kaki dari kita. Dari tokoh utamanya. Karena sang penulis utama lebih mengetahui, bahkan tanpa memerlukan adanya catatan kaki.

Tapi karena ‘biografi’ itu hanya akan dibuka di hari kemudian, padahal hari ini aku membutuhkan, maka kucoba tuliskan kenangan-kenangan itu. Kenangan kecil dan remeh temeh yang telah lalu. Di hari-hari masa kecilku, yang waktu itu sangat kurasakan sama sekali tidak menyenangkan. Namun hari ini, akan kunikmati sebagai kenangan yang membahagiakan.

Maka kalau pun ada kejadian pahit di mana lalu, kesedihan itu tak akan kuceritakan pada anakku. Biarlah kesedihan hanya menjadi milikku sendiri, tak perlu dibagikan. Justru kesedihan masa lalu kukalikan, agar bisa berlipat pangkat menjadi kebahagiaan dengan penuh hikmah kebijaksanaan. Mencoba membingkai masa lalu dengan tatapan penuh pembelajaran. Reframing!

Mungkin ini kesannya sok bijak. Tapi sesekali aku ingin melakukannya. Paling tidak untuk diriku sendiri, agar mencoba mensyukuri apa yang telah terjadi. Itulah mengapa catatan harian ini kunamakan ‘Catatan Kaki’. Catatan yang hanya ada di bawah kaki tulisan utama kita sendiri.

Kemudian soal catatan ini, mengapa harus kutulis tiap pagi. Dengan cepat sekali.

Ini sebenarnya adalah prosesku untuk belajar menulis kembali. Aku sedang belajar pada ayah yang petani sejati. Yang walaupun tak punya sawah, tetap istiqomah di jalannya dengan terus bertani tiap hari.

Mestinya demikian pula dengan yang harus kulakukan, yang ingin menjadi seorang penulis.

Aku harus selalu mengasah penaku, seperti ayah mengasah cangkul dan sabitnya setiap hari, agar bisa menghasilkan tulisan. Maka tiap pagi, sebelum atau selepas shubuh, aku melatih ingatan dan tanganku untuk menuliskan sebuah kenangan. Suatu kenangan masa kecil, yang tidak penuh keceriaan dan kegembiraan, tapi (sekali lagi!) bagiku sangat menyimpan hangat kebahagiaan.

Karena aku ingin agak PD disebut penulis. Maka caranya dengan benar-benar menulis tiap hari. Jadi kalau suatu saat anakku tanya, apa kerjaku selama ini sebagai penulis. Catatan harian ini menjadi bukti.

Aku sengaja menyediakan waktu 1 jam untuk menuliskan catatan harian ini. Di sela-sela merampungkan novel, novel kartun-grafish, membuat kartun strip, dan juga pekerjaan lainnya, baik di kantor atau pun di rumah. Waktu 1 jam tiap pagi ini untuk membuktikan pada diriku sendiri, aku bisa menjaga stamina diri. Bahkan di saat yang tak mungkin. Tak ada alasan sibuk, atau tak ada waktu!

Karena kita telah diajarkan, amal yang baik bukanlah yang banyak namun hanya sekali dilakukan. Melainkan yang sedikit, tapi terus menerus dikerjakan. Maka demikianlah yang tengah kejalankan.

Sebab bagiku, menulis catatan yang menarik dengan waktu lama, adalah hal biasa. Semua penulis bisa. Tapi menulis catatan menarik dengan waktu yang cepat, barulah luar biasa. Dengan waktu yang dibatasi, namun bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca, itu yang ingin kucapai dari pembelajaran menulis ini.

Tapi sepertinya untuk mencapai itu butuh proses. Dan ketekunan. Maka aku ambil jalan tengah saja. Yakni belajar menulis hal yang biasa dengan waktu yang cepat. Menurutku ini bukan hal biasa, juga bukan hal yang luar biasa. Tema tulisannya biasa saja, tapi waktunya yang dibatasi. Dengan waktu semepet mungkin. Apa pun yang terjadi, harus selesai dalam 1 jam!

Maka yang aku tulispun catatan remeh temeh belaka. Tentang kenangan masa kecil. Masa-masa yang membentukku di hari lalu, dan mewujud di hari ini. Aku menjadi seperti sekarang ini, adalah hasil pahatan masa laluku. Masa kecilku. Proses pembelajaran yang kutempuh sendiri, sebagai otodidak murni.

Dan karena sangat sederhananya tulisan ini, maka hanya pantas kalau disebut ‘catatan kaki’. Karena kisah ini hanya komentar dari apa yang sesunguhnya telah tertulis dengan rapi di ‘biografi’ kita. Hanya sekadar pengingat dari yang pasti telah lebih lengkap menuliskannya. Hanya mencoba mengingat sedikit apa yang masih perlu diingat.

Namun karena hanya catatan kaki, seperti juga kita sering melewatkannya dan menganggap tidak penting, maka demikian pula catatan ini. Maka aku pun sadar kalau catatan kecil ini sangat tidak penting bagi siapa saja. Tapi mungkin tidak bagiku, sama seperti penulis buku lainnya, yang selalu merasa penting dengan apa yang dituliskannya.

Jadi sekali lagi, kunamakan ‘Catatan Kaki’ bukan karena kutulis dengan kaki.

Karena aku pun sadar, menulis dengan tangan saja tulisanku sulit dibaca, apalagi kalau dituliskan dengan kaki. Dengan kaki kiri, lagi!

Bismillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 Januari 2011 pukul 17:32