Category Archives: Catatan Kaki 41 – 50

Catatan Kaki 50: Ketika Pulau Muria Masih Terpisah dari Pulau Jawa

Standar

rancangan awal, waktu masih berupa lampiran draft novel. sebelum didesain sangat menarik, yang kemudian menjadi bonus novel Penangsang.

“Bonus peta Jawa abad lima belas. Ketika pulau Muria masih terpisah dari pulau Jawa.”

Pada sudut kanan atas novel Penangsang, dalam sebuah desain pojokan buku yang seperti tengah membuka, terbaca kalimat tersebut.

Karena memang itulah bonus dari novelku. Yakni sebuah peta lama yang menggambarkan bahwa dulunya pulau Muria pernah ada. Dan letaknya terpisah dari pulau Jawa.

Mungkin banyak yang tidak mengetahuinya. Bahkan malah bertanya-tanya, “Pulau Muria itu di mana?”

Karena itulah, kemudian kusertakan dalam lampiran novelku. Sekadar untuk memberi pemahaman awal, bahwa ada sesuatu yang bisa untuk menambah pengetahuan. Yang melengkapi semangat novelku, yang ingin menawarkan alternatif penafsiran.

Aku pertama menemukan itu, ketika penasaran dengan letak Demak, yang konon merupakan kerajaan maritim. Sebuah kesultanan yang terletak di tepi laut. Sebagai kejayaan pelanjut Majapahit yang telah runtuh karena kericuhan dari dalam, sejak perang Paregreg.

Dan Demak berjaya lebih dari setengah abad lamanya sebagai negara yang menguasai lautan. Beberapa kali sempat menyerang Portugis di Malaka, dengan armada laut yang sangat tangguh. Bahkan mengusirnya dari Sunda Kelapa dengan penuh kemenangan, hingga mengganti namanya menjadi Jayakarta. Dan semua itu karena ketangguhan kapal perang Demak, sebagai kerajaan maritim yang diakui hingga seberang lautan.

Jadi mestinya, Demak memang berada di tepi lautan, pada pesisir utara pulau Jawa.

Sebab konflik kebijakan kemudian membuat Demak runtuh dari dalam. Ketika Sunan Kalijogo tidak menyetujui kebijakan Demak yang lebih banyak memikirkan daerah pesisir. Sejak era Raden Patah hingga Pati Unus, yang membentangkan kekuasaan dari pesisir kilen hingga bang wetan. Dari Banten, Jayakarta, Cirebon, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Rembang, Lasem, Tuban, Lamongan, Sedayu, Giri, Gresik, hingga Pasuruwan.

Bahkan di akhir kekuasaan Sultan Trenggono, hendak melebarkan kekuasaan sampai ke ujung timur pulau Jawa, ke Panarukan dan Blambangan. Namun rencana itu tidak terlaksana, karena sang Sultan yang menjadi panglima terbunuh di benteng Panarukan.

Menurut Sunan Kalijogo, karena terlalu memikirkan pesisir, Demak sampai melupakan pedalaman. Untuk itulah, ia menyetujui Joko Tingkir ketika memindah kerajaan Demak ke Pajang. Yang kemudian justru menjadi awal keruntuhan Demak sebagai kekuatan maritim.

Penasaranku adalah, mengapa Demak disebut sebagai kerajaan maritim?

Padahal ketika aku datang ke sana, letak kota Demak sangat jauh dari laut. Bahkan jauhnya jarak ke pantai, lebih dari 30 kilometer. Dan hanya ada sungai kecil yang menghubungkan dengan lautan, yaitu sungai Tuntang yang bermata air di Rawa Pening.

Aku pun terus mencoba mencari jawabannya. Dan titik cerah itu kemudian kudapatkan pada beberapa buku yang kubaca.

Pertama aku menemukan penjelasan, dari dua buku penelitian Sjamsudduha, terbitan JP Books. Yang satu berjudul ‘Walisanga Tak Pernah Ada?’ dan satunya ‘ Sejarah Sunan Ampel’. Menurut buku yang merupakan telaah naskah pegon Badu Wanar dan Drajat itu, pendiri kesultanan Demak adalah Raden Hasan. Seorang santri utama Sunan Ampel di pesantern Ampeldenta yang kemudian diangkat menantu. Dan setelah menjadi sultan Demak dikenal sebagai Raden Patah.

Konon pesantren Ampeldenta yang didirikan Sunan Ampel sengaja memilih tempat di tepi lautan, yang juga di daerah pinggiran sungai. Suatu tempat yang subur lahannya, dan strategis karena berhubungan langsung dengan lautan. Yang kemudian dari kapal-kapal yang merapat di pelabuhan, akan mudah mendapatkan bermacam pengetahuan dari seberang lautan. Dan dari pedagang yang singgah akan memudahkan untuk berjual beli barang dagangan.

Dengan pertimbangan yang sama pula, kemudian Raden Patah mendirikan pesantrennya di daerah Glagahwangi. Yang juga berada di tepi laut, dan di pinggiran sungai besar.

Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Sunan Ampel menyuruh Raden Patah untuk mendirikan pesantren. Dan menurutnya, tanah yang baik adalah kalau menemukan tumbuhan glagah yang berbau wangi. Maka berangkatlah ia menuju ke arah barat dari pesantren Ampeldenta. Dan bertemulah dengan lahan yang banyak tumbuhan glagah di sebuah tepian sungai dan lautan, yang menebarkan bau harum.

Maka dibangunlah sebuah pesantren di tanah berawa tersebut. Semakin hari, perkampungan nelayan itu semakin ramai, dan Raden Patah menjadi pemimpinnya. Sebagai putra Prabu Kertabumi, ia kemudian dipercaya mendirikan sebuah kadipaten baru. Kadipaten bawahan Majapahit bernama Kadipaten Glagah Wangi. Dan Raden Patah pun menjadi adipatinya.

Jadi daerah Glagah Wangi, yang menjadi cikal bakal Kesultanan Demak, memang dulunya berada di tepian pantai. Persis seperti pesantren gurunya, Ampeldenta di Surabaya.

Itulah jawaban atas penasaranku yang pertama.

Sedang penjelasan lebih lengkap, kudapatkan dalam tiga buku sekaligus. Pertama adalah buku penelitian H.J. De Graaf dan Th. Pigeaud yang sangat terkenal, ‘Kerajaan Islam Pertama di Jawa’. Penjelasan yang  juga dikuatkan buku Dennys Lombard yang tak kalah monumental, ‘Nusa Jawa Silang Budaya’. Serta buku Prof. Dr. Slamet Muljana, ‘Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.’

Dalam buku ‘Kerajaan Islam Pertama di Jawa’ aku dapatkan keterangan tentang letak Demak yang berada di tepi laut, pada bab yang kedua. Di sana dituliskan, bahwa letak Demak sangat menguntungkan, baik untuk perdagangan maupun pertanian. Karena pada jaman dulu, wilayah Demak terletak di tepi selat antara pulau Muria dan pulau Jawa.

Bahkan dijelaskan pula, sebelumnya selat yang membelah antara pulau Muria dan pulau Jawa lumayan lebar. Sehingga dapat dilayari, dan kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk berlayar ke Rembang. Begitu pun sebaliknya. Tanpa perlu mengitari pelabuhan Jepara di pulau Muria pada ujung utara.

Dalam sejarah juga kita temukan hubungan Demak dan Jepara yang amat dekat. Putri sulung Sultan Trenggono yang bernama Ratu Kalinyamat mendiami wilayah tersebut, bahkan mampu memajukannya. Melebihi pelabuhan Semarang, karena keuntungan pantai Jepara yang tenang terlindung tiga gugusan bukit. Dan pada masa itu, Jepara terletak di pulau Muria.

Jadi dulunya, jalur jalan raya yang menghubungkan Semarang, Demak, Kudus, Pati, Rembang, hingga Lasem masih berupa perairan. Selat yang memisahkan pulau Jawa dan pulau Muria. Namun pada abad tujuh belas, selat tersebut tidak lagi dapat dilayari, karena pengendapan lumpur .

Bahkan pendangkalan yang parah, menyebabkan Demak memindah pelabuhannya ke Jepara. Hingga ketika menyerang portugis yang menjajah Malaka, Pati Unus pun melepas angkatan lautnya dari pantai Jepara. Demikian juga dengan Fatahillah ketika merebut Banten dan Sundakelapa. Dan Sultan Trenggono ketika menaklukan Pasuruwan dan Panarukan. Juga Ratu Kalinyamat ketika kembali mengulang penyerangan terhadap Malaka.

Ulasan dari bab ‘Kelahiran dan Kejayaan Kerajaan Demak’ itu cukup mengobati penasaranku.

Dan makin terpuaskan ketika membaca ‘Nusa Jawa Silang Budaya’. Karena dalam buku yang sangat lama kutunggu penerbitan ulangnya itu, terdapat peta pulau Jawa abad lima belas. Ketika pulau Muria masih merupakan pulau kecil di utara Demak.

Aku sengaja menyertakan peta itu dalam lampiran naskah novelku, karena untuk memudahkan bayangan pembaca. Bahwa dulu Demak memang berada di tepi lautan.

Aku sertakan peta itu bersama lembaran silsilah Raden Patah, Joko Tingkir, dan Penangsang. Agar pembaca semakin mudah memahami tokoh yang ada dalam novelku, dan hubungan antar mereka. Yang kalau tidak dipandu silsilah, mungkin akan meruwetkan.

Karena kepentingan itulah, penerbit menyertakannya sebagai lampiran di belakang novelku. Dan peta Jawa abad lima belas didesain sangat cantik, sebagai bonus untuk novelku.

Aku menyetujuinya. Semoga bermanfaat bagi pembaca, untuk sekadar menambah wawasan sejarah kita semua.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 7 Februari 2011 pukul 22:30

Catatan Kaki 49: Lelaki Buaya Darat; Dari Sinetron Sampai Pasemon

Standar

papan-papan kayu tua di petilasan Pajang, yang konon adalah bekas rakit Joko Tingkir.

“Kok beda dengan yang di sinetron?”

Adikku yang penggemar sinteron ‘Joko Tingkir’ berkomentar setelah membaca novel Penangsang.

Aku tersenyum saja. Karena memang demikianlah yang kuceritakan dalam novelku.

Di dalamnya tidak ada cerita tentang pertempuran Joko Tingkir melawan kawanan buaya. Hingga tidak pula ada kelincahan meloncat-loncat di atas punggung binatang berkulit keras itu. Yang konon kemudian takluk, hingga mengantarkan Joko Tingkir dengan mendorong rakit yang dinaikinya. Seperti yang ditontonnya dalam cerita sinetron.

Dan memang itulah yang kuyakini sebagai sebuah cerita, yang mungkin lebih mendekati kebenaran. Daripada kisah keperkasaan yang selama ini beredar luas, bahwa Joko Tingkir pernah menaklukan 40 ekor buaya di Kedung Srengenge.

Meski pun aku juga tak bisa menjamin seratus persen, bahwa yang kuceritakan dalam novelku lah yang benar. Bahwa cerita tentang Joko Tingkir mengalahkan kawanan buaya, sesungguhnya tak pernah ada. Hanya isapan jempol pemanis cerita babad saja.

Karena waktu yang terentang lima abad lamanya, tak mungkin terlacak pasti, apalagi sumber ceritanya pun hanya berdasarkan pada babad. Sesuatu yang menurut para ahli sejarah, lebih banyak dongengnya, hingga tak layak menjadi rujukan kebenaran sejarah.

Maka benarlah kata Seno Gumira Ajidarma, bahwa untuk mengetahui kebenaran sejarah, hanya mampu mengira-ngira saja dari peninggalan-peninggalan yang ada. Sedangkan untuk mengetahui secara mutlak kebenarannya, hanya mesin waktu yang bisa menjawabnya. Yang dengan mesin itu, kita masuk ke dalam masa dahulu kala, saat di mana Joko Tingkir hidup pada abad ke lima belas.

Dan sayangnya, mesin semacam itu tidak pernah ada. Atau tepatnya, belum ada yang mampu menciptakannya. Kalau pun ada, hanya dalam serial Doraemon saja. Jadi apapun perkiraan tentang sejarah, mestinya tak ada yang menganggap mutlak paling benar.

Apalagi yang kutulis ini pun bukan buku sejarah. Melainkan novel sejarah. Jadi meskipun bersinggungan dengan sejarah, karya ini tidak bernilai sebagai buku kajian sejarah. Namun hanya fiksi belaka. Jadi ketika ada yang meragukan pendapatku, ya aku terima dengan terbuka. Karena mungkin memang kita beda dalam menafsirkannya.

Termasuk ketika dalam sebuah bedah buku Penangsang ini, ada pembaca yang mendebat bahwa ceritaku hanya permainan imajenasi saja. Karena buktinya di petilasan Pajang dan petilasan Butuh, kayu rakit Joko Tingkir masih ada. Dan itu nyata adanya. “Bagaimana mungkin rakitnya ada, buktinya ada, kalau ceritanya tak ada?”

Aku pun hanya tersenyum.

Dan ingatanku terkenang pada sebuah papan kayu tua hitam lapuk yang berada di petilasan Pajang. Belahan kayu yang berdiri di pinggiran sungai Premulung, karena konon setiap kali dirobohkan dan diletakkan di tanah, kayu itu berdiri sendiri. Tegak seperti pohon hidup. Maka sejak saat itu, oleh sang juru kunci papan kayu itu tidak diletakkan di bawah, tapi diberdirikan. Dan sebagai kenang-kenangan, aku pun berfoto dengan kayu itu.

Juga ketika aku datang ke petilasan Ki Ageng Butuh, di Sragen. Kutemukan di sana sebatang kayu tua, seperti yang berada di petilasan Jipang. Sebatang papan kayu tua yang tinggal tersisa sebatang saja, karena konon tiap orang datang selalu mencuil batangnya. Karena mereka percaya, potongan kayu itu bisa mendatangkan berkah. Hingga yang awalnya dulu ada delapan batang, kini hanya tersisa sebatang saja. Yang karena semakin banyaknya orang yang berziarah, sekarang diamankan dalam sebuah kotak kaca, agar keberadaannya tidak hilang semua.

Dan aku pun berfoto dengan kayu kering tua yang konon bernama Kyai Tambak Boro itu. Kayu kering yang diyakini sebagai rakit peninggalan Joko Tingkir. Karena di Butuh itulah, makam Joko Tingkir berada. Lengkap dengan kedua orang tuanya.

Namun apa kita juga bisa memastikan, bahwa kayu itu memang benar-benar rakit yang dibuat oleh murid Ki Ageng Banyubiru, guru Joko Tingkir. Yang telah menyuruh muridnya untuk berangkat dari Getasaji menuju pesanggrahan Prawoto, dengan mengendarai rakit dan menyusuri Bengawan Semanggi. Siapa bisa menjamin pasti?

Lagi-lagi, karena waktu tidak dapat dikumpar, dan kita tidak bisa melongok kejadian yang telah lewat berabad lamanya, maka aku pun tak bisa menyakini itu sebagai sebuah kebenaran sejarah yang mutlak. Lima abad lalu, belum ada video yang merekam bagaimana pertempuran sengit sang Joko Tingkir dengan 40 ekor buaya. Jadi sah-sah saja kalau aku lebih memercayai pendapat yang beredar, bahwa kisah itu hanya kiasan belaka.

Aku mendapatkan kisah itu pada sebuah buku lama. Yang kudapatkan sekitar delapan tahun lalu. Buku tipis karya Andjar Ani yang berjudul ‘Ranggawarsita, Apa yang Terjadi?’ Sebuah buku yang sebenarnya menceritakan misteri meninggalnya sang pujangga Jawa terakhir itu, yang konon mati dibunuh, karena dalam karya terakhirnya sang pujangga bisa menuliskan dengan tepat hari tanggal dan jam kematiannya sendiri.

Tapi dalam salah satu bagiannya, Andjar Ani menuliskan bahwa kisah Joko Tingkir perihal Kebo Ndanu dan pertempuran melawan buaya di Kedung Srengenge adalah sebuah kiasan saja. Sebuah kisah yang tidak sebenarnya terjadi.

Maka bertolak dari pendapat itu, aku mengumpulkan pendapat dari cerita-cerita yang juga berkembang di Jipang. Juga cerita dari pesisiran. Yang aku menemukan kesatuan pendapat, bahwa pujasastra, Babad Tanah Jawi sarat dengan simbol-simbol pasemon.

Dan pendapat itu ternyata dibenarkan oleh juru kunci petilasan Pajang, ketika aku beberapa kali datang ke sana.

Menurutnya, bahkan makam Joko Tingkir bukan berada di Butuh, seperti yang diyakini banyak orang sekarang. Melainkan berada di Pajang, tepat di sebelah timur sendang kecil di pinggiran sungai Premulung. Aku pun diajaknya masuk ke dalam ruangan gelap itu, yang konon di bawahnya bersemayam jasad Joko Tingkir.

Sementara yang terkubur di Butuh adalah kosong belaka, setelah jasad Joko Tingkir dicuri oleh prajurit Mataram utusan Panembahan Senopati. Bahkan untuk meyakinkanku, juru kunci itu mengaku sering berkomunikasi dengan arwah Joko Tingkir, yang oleh dia dipanggil dengan sebutan ‘Eyang’.

Salah satu yang menurutnya sebuah pasemon adalah perihal Joko Tingkir mengalahkan kawanan buaya.

Menurutnya, kisah ini adalah sebuah kiasan untuk kejelekan moral Joko Tingkir, yang telah merenggut keperawanan seorang perempuan. Buaya adalah sebutan untuk orang yang sukanya mengganggu perempuan. Dan itulah yang terjadi dengan Joko Tingkir setelah terusir dari Kesultanan Demak karena kasus Dadung Awuk.

Dikisahkan, Joko Tingkir menghadap kembali pada gurunya, Ki Buyut Banyubiru. Dan oleh gurunya diperintahkan untuk datang ke pesanggrahan Prawoto, menemui Sultan Trenggono. Ki Buyut Banyubiru telah memberikan bekal mantra, yang akan membuat Sultan Trenggono yang telah mengusirnya menjadi menerima kembali Joko Tingkir

Dalam perjalanan ke Prawoto, Joko Tingkir terpikat dengan kecantikan perempuan. Seorang anak gadis lurah Kedung Srengenge. Joko Tingkir pun merenggut kehormatan putri Ki Lurah Baurekso. Namun Joko Tingkir yang telah menodai sang gadis, ternyata lari dari tanggung jawab.

Dalam Babad Tanah jawi dilukiskan bahwa Joko Tingkir bertempur dengan kawanan buaya di Kedung Srengenge. Kawanan buaya di bawah pimpinan raja buaya bernama Baurekso berhasil dikalahkan. Bahkan kemudian Joko Tingkir diantarkan ke Demak dengan kawalan kawanan buaya.

Dari cerita ini kita dikenalkan dengan sebuah lagu yang berbunyi, “Sigro milir, sang gethek sinonggo bajul, kawan doso kang njageni. Ing ngarso miwah ing pungkur. Tanapi ing kanan keri. Sang gethek lampahnya alon…”

Sebuah nyanyian yang kurang lebih artinya adalah, “Bergolak air sungai mengalir, ada rakit yang didukung oleh buaya. Empat puluh ekor yang mendorongnya. Di depan dan juga di belakang. Di sisi kanan dan juga kiri. Rakit pun melaju tenang….”

Namun sesungguhnya, dari kisah itu ada kode sinonggo bajul, atau dikawal dan diantarkan oleh buaya. Bahkan ada yang membacanya sinonggo mbajul, yang artinya diantarkan dengan sifat kebuayaan, mbajul. Yang artinya hampir sama dengan umpatan ‘buaya darat!’

Dan memang, konon buaya daratlah, yang telah merenggut kehormatan anak gadis Ki Baurekso tanpa mau bertanggungjawab. Dikiaskan bisa mengantarkan ke Demak, karena dengan tidak menikahi gadis itu, Joko Tingkir kemudian bisa menikahi putri Sultan Trenggono. Sebuah awalan untuk masuk dalam lingkaran Kesultanan.

Dari kisah-kisah yang penuh pasemon itu, aku pun kemudian menemukan cerita kiasan lainnya. Yaitu tentang Dadung Awuk dan juga Kebo Ndanu. Ternyata tidak seperti yang tertulis harfiah. Namun ada tindak kebejatan moral yang disembunyikan.

Dan itu semua kutuliskan dalam novelku, sebagai sesuatu yang mungkin dianggap baru oleh beberapa kalangan. Hingga mengagetkan mereka, dan kemudian mendebatnya. Namun sesungguhnya telah lama juga menjadi sebuah gunjingan diam-diam. Hanya belum ada yang berani mengungkapkan secara terang-terangan.

Maka aku pun kemudian merenung, menekuri kisah pasemon itu. Sebuah kekhalifahan macam apa yang bisa ditegakkan oleh seorang pemimpin yang cacat moralnya.

Maka tak heran kalau kemudian kita tak menemukan jejak keislaman yang lurus, dari sebuah dinasti panjang kekuasaan yang telah didirikannya.

Maka untuk itulah, aku bersemangat menuliskan. Sekadar sebagai obat penasaran. Untuk kemudian menjadi sebuah tawaran penafsiran.

Dan semoga juga bisa sebagai penyeimbang dari cerita sinetron, yang telah berulang ditayangkan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 Februari 2011 pukul 22:56

Catatan Kaki 48: Penangsang Bukan Pemberontak!

Standar

Terima kasih, untuk Gusti Pangeran Haryo Poeger Suryo Bandono, budayawan-sejarawan Keraton Kasusunan Surakartahadiningrat, yang telah banyak memberikan ‘semangat’ dan masukannya. matur nuwun, Gusti!

“Penangsang bukanlah pemberontak.”

Begitu dengan mantap Gusti Puger menjawab pertanyaanku.

Aku sengaja datang menemuinya, karena novel yang kutuliskan adalah tentang leluhur keraton Solo. Sebab keraton Solo adalah penerus dari kerajaan Mataram, yang didirikan Panembahan Senopati. Sementara Panembahan Senopati sendiri adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang diangkat anak oleh Joko Tingkir. Sedangkan Joko Tingkir adalah raja Pajang, setelah merebut takhta Demak dari tangan Penangsang.

“Jadi sebagai pewaris takhta Demak yang syah, Penangsang hanya menuntut hak.”

Dengan jawaban Gusti Puger tersebut, aku seolah menemukan pembenaran atas dugaanku. Bahwa Penangsang ketika berperang melawan Joko Tingkir, bukanlah memberontak pada Demak. Namun ia hanya menuntut hak atas takhta peninggalan kakeknya. Sebab sebagai cucu Raden Patah, ia merasa lebih layak menggantikan Sunan Prawoto, daripada Joko Tingkir yang hanya seorang cucu menantu.

Dalam silsilah Kesultanan, Joko Tingkir menjadi keluarga Demak, karena ia menikahi Ratu Ayu Cempokoningrum. Yakni anak ke empat Sultan Trenggono dari ibu yang merupakan putri Sunan Kalijogo. Dengan itulah, ia menjadi cucu menantu Raden Patah.

Novel yang sedang kutulis berkisah tentang sosok Penangsang. Tepatnya melihat kekisruhan tenggelamnya kekhalifahan Islam Demak dari sudut pandang Penangsang. Sebab selama ini yang telah beredar berabad-abad lamanya dalam bermacam babad, adalah kisah dari kaca mata Joko Tingkir sebagai sang pemenang. Sedangkan aku menulis kisah sandyakalaning Demak Bintoro itu dari pandangan tokoh yang kalah.

Jadi novelku ini seperti membalik cerita yang selama ini telah beredar.

Karena kisah ini aku tulis dari sudut Penangsang, maka Penangsang lah yang menjadi tokoh utamnya. Penangsang menjadi tokoh protagonisnya. Maka mau tidak mau, sosok Joko Tingkir yang membunuh Penangsang menjadi tokoh antagonisnya. Untuk sebab itulah, maka aku merasa perlu meminta pendapat dari pihak keraton.

Karena bagaimana pun, aku kawatir, kalau nanti ada salah paham dalam membaca novelku. Seolah-olah aku menulis Penangsang karena ingin menjelek-jelekkan sosok Joko Tingkir, yang selama ini kita kenal sebagai raja yang arif bijaksana. Paling tidak, begitu yang tergambar dalam bermacam pagelaran kethoprak.

Dan untuk pendapat dari keraton, aku pun meminta pendapat dari Gusti Puger. Beliau sebagai pengageng sentana keraton yang membawahi bidang budaya, sepertinya tepat untuk tujuan penulisan ini. Apalagi beliau selalu bisa ditemui di kantornya.

Kebetulan aku telah lumayan dekat dengan beliau. Karena selama proses penulisan bukuku yang berjudul ‘Slow In Solo: Alon-Alon Waton Keraton’, aku sudah sering minta masukannya. Buku trilogi novel-grafis tentang sejarah Solo itu telah membuatku sering datang ke kantor Gusti Puger, yang berada di barat Sitinggil keraton Solo.

Di bawah rindangnya pohon kepel batu, aku banyak meminta masukan kesejarahan dari adik Raja Solo tersebut. Karena Gusti Puger adalah putra almarhum SISKS Paku Buwono XII. Yang juga adik dari Gusti Behi, raja Solo sekarang yang bergelar Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SKIS) Paku Buwono XIII.

Dengan semangat itulah, kemantapanku untuk menuliskan sisi gelapnya Joko Tingkir semakin matang. Keraguan yang membayang, sedikit menghilang. Apalagi sebelumnya, aku juga menemui juru kunci Pajang, yang merupakan bekas keraton Joko Tingkir.

Menurutnya, apa yang tertulis dalam Babad Tanah Jawi adalah pasemon. Sesuatu yang sengaja disamarkan karena itu menyangkut kejelekan Joko Tingkir. Menurutnya, dalam membaca kisah Joko Tingkir, kita janganlah menelan mentah-mentah secara harfiah.

Seperti tentang kisah Joko Tingkir yang meremukkan kepala Dadung Awuk. Jangan dimaknai bahwa Joko Tingkir benar-benar membunuh pemuda Kedupingit itu dengan lintingan daun sirih. Juga dengan pembunuhan Kebo Ndanu, yang mengobrak-abik pesanggrahan Prawoto, yang dibunuh dengan rajah tanah merah. Bahkan juga kisah yang terkenal, tentang Joko Tingkir menaklukan 40 ekor buaya di Kedung Srengenge.

Menurutnya, semua adalah pasemon belaka. Kisah itu ditulis begitu hanyalah upaya untuk menutupi kebejatan moral dari Joko Tingkir, yang sesungguhnya mata keranjang.

Maka dengan berbekal dua pendapat itu, dari orang yang ‘dekat’ dengan Joko Tingkir, makin memantapkanku untuk menuliskan kisah seputar Penangsang.

Kisah yang bermula dengan terbunuhnya Sultan Trenggono, yang kemudian dilanjutkan dengan wafatnya Sunan Prawoto. Kisah yang berawal dari kekosongan takhta Demak, karenta kematian rajanya yang berulang dalam selang waktu 4 tahun.

Sebab bermula dari meninggalnya Prawoto, Joko Tingkir yang telah lama mengincar takhta Demak mulai bermain siasat. Anak Prawoto yang bernama Pangiri dinikahkan dengan anak perempuan Joko Tingkir. Maka untuk naik takhta, ia merasa telah mempunyai dua alasan kuat.

Pertama, karena ia telah 4 tahun menjadi pendamping Prawoto, yang menjadi pelaksana pemerintahan Kesultanan. Yang kedua, anak Prawoto masih kecil-kecil, hingga tak layak menjadi Sultan. Joko Tingkir sebagai mertua punya hak menggantikan takhta sang menantu, yakni Pangiri yang merupakan anak sulung Prawoto.

Dan siasat itu berhasil, karena Sunan Kalijogo pun menyetujui usul tersebut. Dan sejak itu Kesultanan Demak pun berada dalam genggaman tangan Joko Tingkir.

Sementara dengan keputusan tersebut, Sunan Kudus semakin merasa Kesultanan Demak berada dalam ancaman.

Karena begitu Joko Tingkir naik takhta, Waliyyul Amri benar-benar dibubarkan. Dewan Wali yang didirikan Sunan Giri, sebagai pengontrol Sultan yang merupakan ulil amri menjadi tiada lagi. Dewan ulama yang selama setengah abad menjadi penasehat pemerintahan, agar jalannya tidak melenceng dari aturan agama, mendadak dihapuskan dengan naiknya Joko Tingkir.

Sebagai gantinya, Joko Tingkir yang telah menjadi Sultan Demak bergelar Sultan Hadiwijaya, kemudian mengangkat para penasehat kerajaan, yang merupakan sahabat lamanya. Tiga orang yang sejak muda telah akrab dengan Joko Tingkir, ketika masih menjadi murid Ki Ageng Selo. Tiga orang yang kemudian sama-sama menjadi tamtama di Demak, yang dikenal sebagai Ki Juru Mertani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Penjawi.

Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan adalah cucu Ki Ageng Selo, yang sempat kecewa pada Demak karena pernah ditolak Raden Patah menjadi pasukan pengawal kerajaan. Sementara Ki Penjawi adalah anak Ki Ageng Ngrawa, yang diangkat anak oleh Ki Ageng Ngenis, ayah Ki Ageng Pemanahan.

Sedangkan Joko Tingkir adalah anak Ki Ageng Pengging, yang diasuh oleh janda Ki Ageng Tingkir. Yang setelah remaja menjadi murid Ki Ageng Selo.

Bertemunya cucu-cucu Ki Ageng Selo dan anak Ki Ageng Pengging benar-benar membuat Sunan Kudus melihat Demak akan semakin suram. Kerja para ulama untuk mengislamkan Tanah Jawa sejak jaman Maulana Malik Ibrahim akan ternodai dengan dikukuhkannya ajaran Syekh Siti Jenar sebagai landasan pemerintahan.

Penangsang pun diperintah untuk menyelamatkan takhta Demak.

Namun dalam perebutan takhta itu, Penangsang mengalami kekalahan.

Joko Tingkir dengan penuh kelicikan mampu membunuh Penangsang dari belakang.

Sejak itu Demak runtuh sebagai sebuah kekhalifahan di Tanah Jawa. Pusat pemerintahan pun dipindah dari pesisir utara ke pedalaman selatan. Sebuah pemikiran Mas Karebet untuk menghidupkan kembali keraton Pengging, istana peninggalan kakeknya, Prabu Handayaningrat, telah terlaksana. Dan ajaran Syekh Siti Jenar, ajaran peninggalan guru ayahnya, Ki Ageng Pengging pun berkembang dengan luasnya, karena telah dijadikan sebagai ajaran negara.

Joko Tingkir yang naik takhta menjadi Sultan Demak, meminta Pangeran Karanggayam untuk menuliskan kisahnya. Kisah yang menjadi cikal bakal tersusunnya Babad Tanah Jawi. Kitab yang sampai sekarang dianggap orang sebagai buku sejarah Tanah Jawa, sejak Nabi Adam hingga era Kartasura.

Babad Tanah Jawi lah yang telah berhasil memutihkan semua hitamnya Joko Tingkir

Dan sebagai pihak yang kalah, Penangsang pun dihitamkan dari sejarah.

Dari rangkaian panjang itu, maka kutemukan jawaban untuk pertanyaanku yang pertama. Bahwa aku meragukan Penangsang, yang merupakan jagonya Sunan Kudus, demikian jelek perangainya.

Maka bukan tidak mungkin, jeleknya Penangsang adalah hasil dari politik kampanye hitamnya Joko Tingkir belaka. Untuk menutupi kejelekannya sendiri.

Karena bagaimana pun, babad adalah sebuah pujasastra. Sebuah karya yang dimaksudkan sebagai bentuk legitimasi dari para penguasa. Ketika Joko Tingkir yang menang, maka Penangsang lah yang dijelekkan.

Maka sepertinya tak salah komentar Prof. Dr. Hasanu Simon pada cover novelku.

Penulis buku best seller ‘Misteri Syekh Siti Jenar’ itu memberikan endorsement,  “Seperti hendak membalik kisah Babad Tanah Jawi. Haryo Penangsang dalam novel ini adalah sosok pemberani. Pembela kebenaran dan keadilan. Serta penganut ajaran Islam yang bersih. Sekaligus penentang sinkretisme di tanah Jawa yang gigih.”

Jadi sekali lagi, menirukan ucapan Gusti Puger, “Penangsang bukanlah pemberontak!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 5 Februari 2011 pukul 22:55

Catatan Kaki 47: Menafsir Ulang Joko Tingkir Sang Pemenang

Standar

di petilasan Pajang, keraton Joko Tingkir setelah memindahkan takhta dari Kesultanan Demak.

Aku menulis novel Penangsang, bermula dari rasa penasaran.

Kok bisa, keraton Solo yang konon kelanjutan dari Kesultanan Demak, kekhalifahan Islam di Tanah Jawa, hanya menyisakan sinkretisme-nya saja. Demikian pula dengan keraton lainnya, yakni Kesultanan Jogja, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran.

Sama sekali tak ada warna Islam yang lurus yang bisa kutemui di sana. Benar-benar bertolak belakang dengan yang kupahami dari kisah awal Maulana Malik Ibrahim, ketika pertama kali datang ke Jawa. Ketika bersama 8 ulama lainnya, sebagai utusan Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki yang datang di akhir kekuasaan Majapahit di tangan Wikramawardhana. Juga para ulama Wali Songo yang melanjutkan tugas sucinya, menyebarkan Islam sebagai jalan keselamatan yang anti kemistikan.

Karena penasaran itulah, aku menjadi rakus terhadap bacaan yang berkisah tentang sejarah Jawa. Bermacam serat dan babad aku lahap, untuk memenuhi dahaga atas keingintahuan itu. Aku pun menjadi banyak datang ke teman-teman yang mempunyai minat serupa. Para pemerhati sejarah Jawa dan beberapa budayawan.

Dan setelah banyak membaca juga diskusi dengan mereka, aku temukanlah dugaan sementara. Semua bermula sejak wafatnya Sultan Trenggono yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Sunan Prawoto. Namun tak lama, karena raja yang buta dan sakit-sakitan itu pun wafat setelah berkuasa selama 3 tahun. Dan kekuasaan yang kosong itu digantikan oleh Joko Tingkir, sang menantu Sultan Trenggono.

Sejak itulah, semangat Demak sebagai kekhalifahan Islam sebagaimana amanat suci Sunan Ampel telah hilang. Bahkan kekuasaan sebagai kerajaan maritim pun runtuh ketika dipindahkan ke Pajang, yang berada di pedalaman selatan Jawa.

Pada masa kerajaan Pajang itulah, kemurnian Islam mulai bercampur dengan budaya lama yang telah mengakar di Jawa. Hingga Islam yang berkembang di Jawa bukanlah Islam murni, seperti yang pertama kali disebarkan oleh Walisongo.

Bahkan yang menyedihkan pula, kisah para ulama penyebar agama Islam itupun tak lepas dari pengaruh itu. Bahkan sampai hari ini, yang terkenal dari kisah para wali adalah kehebatannya yang sering kali lebih berbau mistik bercampur takhayul. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan kisah awal perkembangan Islam di Indonesia, sebagai sebuah agama yang sangat keras menentang kemusyrikan.

Kita lebih mengenal sosok-sosok para ulama penyebar Islam itu sebagai pendekar tanpa tanding, yang kisah hidupnya sarat kemistikan. Kisah Sunan Kalijogo, yang tertanam di benak kita adalah karena beliau sangat setia menjaga tongkat gurunya, Sunan Bonang di sebuah tepian kali. Hingga ditumbuhi semak belukar yang menutupi seluruh tubuhnya selama sekian lama, karena sang guru terlupa menjenguknya. Dari kisah itulah muncul nama Kalijaga, karena sang Sunan belajar Islam diawali dari menjaga kali.

Begitupun dengan kisah para sunan lainnya. Seperti Sunan Giri yang menghadapi serbuan prajurit majapahit hanya dengan sebilah pena. Dari pena yang dilemparkan bisa berubah menjadi keris sakti yang berputar kencang menghancurkan wadyabala Majapahit. Keris yang berputar itu kemudian dikenal sebagai Keris Kolomunyeng. Bahkan juga Sunan Ampel yang mempunyai pembantu, yang bisa menentukan arah masjid Ampel dengan mengintip dari lubang angin ke arah Makkah.

Dan hampir semua kisah para Sunan tak pernah lepas dari mitos yang melingkupinya. Dengan cerita mistik yang melengkapi kehebatannya. Padahal mestinya, tidak seperti itu adanya, karena Islam adalah agama lurus yang menentang kemistikan. Sebab Rasulullah sendiri, sang pembawa risalah Islam tidak mengenal mistik. Dalam bermacam kisah peperangan yang dipimpinnya, tak pernah bertindak di luar kehebatan manusiawi. Maka beliau pun terluka ketika berdakwah di Tho’if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang Uhud.

Hingga makin mantaplah aku ingin menuliskan Penangsang, karena kebetulan ia adalah murid Sunan Kudus, seorang ulama yang dikenal tegas dan lurus. Seorang ulama ahli fikih, ahli ekonomi, ahli perang, dan ahli pemerintahan, yang juga seorang saudagar kaya. Jadi bertemulah penasaran pada kisah di seputar Penangsang yang meragukan, dengan semangat ingin menceritakan kisah wali yang terbebas dari kisah-kisah mistik.

Maka penelusuran pun dilanjutkan. Hingga bertemu pada sosok Joko Tingkir, yang dalam perbincangan kami menjadi titik kunci awal mula kekisruhan di Demak. Yang membuat kekhalifahan Islam Demak berubah menjadi sebuah kerajaan yang sarat dengan pencampuradukan ajaran Islam dan budaya lama. Yang ternyata itu berlanjut hingga kini, sepanjang hampir lima abad lamanya.

Maka aku pun tertarik mengamati sosok Joko Tingkir, karena dialah orang yang telah menyingkirkan Penangsang dalam perebutan takhta Demak.

Sebab kalau ditelusuri, sesungguhnya sebuah keanehan telah terjadi di akhir keruntuhan Demak. Ketika Sunan Prawoto wafat, Joko Tingkir yang hanya seorang menantu bisa naik takhta melanjutkan kakak iparnya. Karena mestinya yang menjadi Sultan adalah anak cucu Raden Patah. Yang di dalamnya ada nama Penangsang.

Secara hak, Penangsang lebih tepat menggantikan Sunan Prawoto, karena dia adalah anak dari Pangeran Sekar Sedo Lepen. Penangsang adalah cucu dari Raden Patah, Sultan pertama Demak yang berhasil mengokohkan kekhalifahan Islam di tanah Jawa.

Namun dengan naiknya Joko Tingkir menjadi raja, Penangsang sang pewaris syah atas takhta Demak pun terpinggirkan. Mengikuti nasib Sunan Kudus, gurunya yang juga pemimpin Dewan Wali, yang telah lebih dulu terkucilkan dari Kesultanan.

Padahal jauh-jauh hari, Sunan Kudus sebenarnya telah lama mencium gelagat masuknya Joko Tingkir dalam keluarga Kesultanan Demak, yang menurutnya bukan tanpa alasan.

Pada masa lalu, kakek Joko Tingkir yang bernama prabu Handayaningrat menolak tunduk pada Demak di masa pemerintahan Raden Patah. Penguasa keraton Pengging itu bersekutu dengan Girindrawardhana, penguasa Majapahit untuk menghancurkan Demak. Dalam pertempuran itu, prabu Handayaningrat yang juga menantu Prabu Kertabumi, terbunuh oleh Sunan Kudus, yang saat itu menjabat panglima perang Demak.

Setelah terbunuhnya Handayaningrat, anaknya yang bernama Kebo Kenongo menjadi penerus takhta Pengging. Namun ia berbeda dengan ayahnya yang tak mau masuk Islam. Kebo Kenongo bersedia masuk Islam. Namun belum lama belajar pada Sunan Bonang, ia tertarik pada ajaran Syekh Siti Jenar. Kebo Kenongo yang telah menjadi murid Syekh Siti Jenar itu pun mengganti namanya dengan sebutan Ki Ageng Pengging.

Dan Ki Ageng Pengging pun mengikuti jejak ayahnya, yang tak mau tunduk pada Demak. Bahkan melecehkan musyawarah ulama Waliyyul Amri, yang telah menyatakan pemahaman Syekh Siti Jenar sebagai ajaran sesat.

Ki Ageng Pengging menggalang kekuatan 40 murid Syekh Siti Jenar, untuk tetap menyebarkan ajaran manunggaling kawulo gusti. Maka Sunan Giri sebagai pemimpin Waliyyul Amri menjatuhkan hukuman mati padanya. Sunan Kudus yang diberi amanah menjatuhkan hukuman pada sang pemimpin padepokan Pengging itu. Sebuah nasib yang sama seperti gurunya, Syekh Siti Jenar yang juga telah dijatuhi hukuman mati. Dan yang menjadi pelaksananya pun Sunan Kudus juga.

Setelah meninggalnya Ki Ageng Pengging, sang anak yang masih bayi diasuh dan dirawat oleh keluarga Ki Ageng Tingkir. Bayi bernama Mas Karebet itu pun kemudian lebih dikenal sebagai Joko Tingkir. Dalam asuhannya, ia banyak mendapat pelajaran dari Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan Ki Ageng Banyubiru. Para guru yang juga adalah sahabat Ki Ageng Pengging, sebagai sesama murid Syekh Siti Jenar. Hingga dipastikan bahwa Joko Tingkir dibesarkan dalam ajaran manunggaling kawulo gusti.

Setelah remaja, Joko Tingkir masuk Kesultanan Demak, dengan diawali sebagai prajurit pengawal Sultan. Kemudian naik pangkat menjadi pemimpin prajurit tamtama. Hingga bisa mempersunting putri Sultan Trenggono, dan diberikan takhta menjadi adipati Pajang.

Kecurigaan Sunan Kudus terbukti, ketika Joko Tingkir menjadi adipati Pajang, ia yang merupakan bawahan Demak tak melakukan ajaran Islam secara murni. Yang dikembangkannya di Pajang adalah ajaran Syekh Siti Jenar.

Maka kalau Joko Tingkir menjadi raja Demak, sudah pasti kebijakan Kesultanan Demak pun akan dibawa seperti kebijakannya di kadipaten Jipang. Kesultanan Demak yang berlandaskan islam akan terwarnai dengan pemahaman manunggaling kawulo gusti.

Sunan Kudus pun mendukung Penangsang untuk merebut takhta Demak. Pemimpin Waliyyul Amri itu ingin mengembalikan Demak sebagaimana ketika awal mula diririkan. Menjadi penerus amanat suci Sunan Ampel untuk mengukuhkan Islam dengan jalur kekuasaan. Di samping dengan jalan pendidikan yang telah ditempuh dengan banyaknya didirikan pesantren oleh para wali. Seperti pesantren Ampeldenta, pesantren Girikedaton, pesantren Glagahwangi, pesantren Panti Kudus, dan juga pesantren Gunung Jati.

Maka dengan naiknya Joko Tingkir menjadi raja Demak, Sunan Kudus sangat khawatir kemurnian dakwah Islam di Tanah Jawa akan semakin terancam. Karena itu pula, Penangsang pun melawan. Ia tak mau tunduk pada kekuasaan Joko Tingkir.

Namun dengan penuh kelicikan, Penangsang akhirnya berhasil dimusnahkan. Dan Sunan Kudus pun semakin tersingkir dan terpinggkirkan.

Maka sejak itu, Demak pun runtuh. Tak ada lagi kekhalifahan Islam di tanah Jawa.

Itulah dugaan sementara yang kudapatkan. Yang sedikit mampu mengobati rasa penasaranku. Dan penasaran itu kini telah kutuliskan dalam novel panjang yang telah masuk jilid ke dua. Semoga bermanfaat untuk membuka wawasan kita bersama.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 5 Februari 2011 pukul 19:04

Catatan Kaki 46: Inilah Kidung Senjakala, Ketika Umara Tidak Tunduk Pada Ulama!

Standar

 di belakang masjid demak, situs yang tersisa dari kebesaran kesultanan demak bintoro, terbaring tiga makam sultan: raden patah, pati unus, dan trenggono!

“Datanya hebat, Mas. Nggak nyangka, namanya Purwokartun, tapi novelnya dahsyat dan sangat berat! Benar kata Langit Kresna Hariadi, novel ini seperti disertasi.”

Pagi itu, seseorang yang mengaku baru saja selesai membaca novel Penangsang, langsung menelponku. Sepanjang pembicaraan, aku hanya diam mendengarkan. Dan sepertinya ia terprovokasi endorsment Langit Kresna Hariadi, novelis best seller Gajah Mada itu.

Sejenak aku jadi teringat seorang temanku yang lain. Yang sempat memberikan tanggapan sebelum novelku diterbitkan. Katanya, “Novelmu ini sangat berat, sarat semangat. Kayaknya mending penulisnya jangan pakai nama NasSirun PurwOkartun. Biar warna sejarahnya ikut terangkat. Pakai nama asli saja, Nasirun Wijaya!”

Aku tersenyum. Namun seminggu kemudian, usul itu mengganggu benakku. Sempat membuatku ragu, apakah tetap pakai nama PurwOkartun ataukah meninggalkannya.

Karena bingung, aku pun minta pendapat Ummi. Setelah menimbang dan memerhatikan (hehehehe), akhirnya kami memutuskan. Mantap tetap memakai nama PurwOkartun!

Alasan Ummi, karena selama ini aku sudah terlanjur memakai nama itu. Meski pun tidak terkenal-terkenal amat, tapi paling tidak ada satu dua orang yang telah mengenalku. Hingga kalau mereka melihat novelku nanti, pasti langsung mengingat nama itu. Sementara kalau pakai nama asli, malah jadi asing, dan tak ada satu pun yang mengenali. Mungkin yang tahu nama Nasirun Wijaya, hanya orang tua, pak RT, dan Ummi saja.

Sedangkan alasan kedua datang dariku. Sebagai penulis sajakkartun, sekali-sekali pengin juga menghayati hasil karyanya. “Buah manggis buah kedondong, seorang kartunis boleh serius dong?” Buah manggis rasanya manis, enak juga kalau dibikin jus, seorang kartunis boleh dong jadi novelis, apalagi kalau novelnya berat dan serius. Hehehe.

Maka kemudian nama PurwOkartun pun terpasang di novelku. Novel yang berusaha untuk menawarkan tafsir ulang tentang sejarah Penangsang. Novel yang berawal dari rasa penasaran pada kisah tragis dan konflik yang melengkapinya. Penasaran yang bermula dari sebuah pagelaran kethoprak tobong, pada 20 tahun silam.

Penasaran masa kecil yang terus menguntit hingga aku remaja, bahkan setelah dewasa.

Entah mengapa, ada pertanyaan yang selalu berkembang dan tak juga mendapatkan jawaban memuaskan, meski bermacam buku telah tuntas kubaca. Ada penasaran yang kemudian berbuah curiga, hingga berujung pada rasa tidak percaya. Aku menyangsikan bahwa begitulah yang sebenarnya terjadi, pada kisah di seputar Penangsang.

Penasaran dan pertanyaan itu pada mulanya hanya ada dua.

Satu, apakah mungkin sosok Sultan yang dijagokan oleh Sunan Kudus, sebagai ulama ahli fikih yang dikenal lurus aqidahnya adalah seorang pribadi yang berangasan?

Dua. Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah pecahan dari Kerajaan Mataram Islam, selain Pura Pakualaman Jogja dan Pura Mangkunegaran Solo. Sedangkan Mataram Islam adalah kelanjutan dari Kesultanan Pajang, yang merupakan peralihan dari Demak Bintoro. Padahal Kesultanan Demak adalah pemerintahan yang didirikan oleh para ulama untuk menyebarkan Islam lewat jalan kekuasaan. Namun mengapa justru sinkretisme yang begitu kental yang tersisa, pada keempat keraton tersebut?

Dan dalam proses pencarian, ternyata jawaban atas pertanyaan kedualah yang justru pertama kutemukan. Yakni ketika kuurut jauh ke belakang, ke masa sandyakalaning Majapahit. Ketika kerajaan besar itu runtuh dan Demak muncul menggantikan.

Bahwa Kesultanan Demak adalah sebuah kekhalifahan Islam yang didirikan oleh 13 murid Sunan Ampel, sebagai kelanjutan dakwah Maulana Malik Ibrahim. Sebuah amanat suci untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa dengan jalur kekuasaan. Dan untuk menjaga agar kebijakan penguasa tidak melenceng dari aturan hukum-hukum agama, dibentuklah musyawarah Waliyyul Amri, yang menjadi cikal bakal sebutan Wali Songo.

Sebagai pemegang pemerintahan, diberikan amanah pada Sunan Demak, yang kemudian dikenal sebagai Raden Patah. Kesepakatan ini dibuat, karena Raden Patah adalah anak dari Prabu Kertabumi, raja Majapahit. Sebuah kebutuhan legitimasi bagi rakyat Tanah Jawa atas berdirinya kerajaan baru setelah keruntuhan Majapahit. Selain itu, Raden Patah juga merupakan murid utama sekaligus menantu Sunan Ampel.

Sedangkan sebagai pemimpin Waliyyul Amri yang bertugas menjadi penasehat Kesultanan, dimandatkan pada Sunan Giri. Seorang ulama yang dikenal sebagai mufti Tanah Jawa, yang merupakan anak Sunan Ampel sendiri.

Kekhalifahan Islam pun berdiri tegak sebagai penopang penyebaran Islam di Tanah Jawa. Namun kemesraan antara pemegang kekuasaan dan penasehatnya hanya berumur setengah abad. Hubungan umaro sebagai panotoprojo dan ulama sebagai panotogomo mulai merenggang dengan beralihnya generasi, setelah wafatnya Raden Patah.

Awal kerenggangan itu bermula ketika Sultan Trenggono naik takhta.

Anak Raden Patah yang naik takhta menggantikan sang adik, Pati Unus, ini lebih condong pada pendapat mertuanya, Sunan Kalijogo, daripada kesepakatan musyawarah Dewan Wali di bawah pimpinan Sunan Bonang. Sebuah perbedaan pendapat, yang menjadi sebab sang pemimpin Dewan Wali meletakkan jabatannya sebagai penasehat Kesultanan.

Sunan Bonang memilih mundur dari jalan dakwah lewat kekuasaan, dengan beralih cara menjadi seorang pujangga. Sunan Bonang pun pamit dari Demak, dan menetap di Tuban hingga akhir hayatnya. Dari tangannya banyak menghasilkan karya-karya seni sastra yang sarat perenungan tentang ketuhanan. Salah satu yang paling terkenal adalah Suluk Wujil yang indah dan dalam penuturannya, tentang hakikat ketuhanan. Serta  tembang ‘Tombo Ati’ yang sampai sekarang masih sering dinyanyikan orang.

Sepeninggal Sunan Bonang, jabatan penghulu Waliyyul Amri diberikan pada Sunan Kudus, yang tak lain adalah menantunya. Namun jumlah ulama penasehat Kesultanan telah berkurang, dengan meninggalnya Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Hanya tersisa Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijogo, dan Sunan Muria.

Secara pemahaman, hanya Sunan Gunung Jati lah yang sepemikiran dengan Sunan Kudus. Sunan Gunung Jati adalah ulama Samudra Pasai ahli fikih, seperti juga Sunan Kudus yang keturunan Sayyid Usman Haji, ulama Palestina. Kedua ulama inilah yang berkeras agar kemurnian Islam disebarkan di Tanah Jawa, seperti amanat Sunan Ampel.

Namun Sunan Kalijogo menentangnya. Karena menurutnya, yang penting ajaran Islam menyebar terlebih dahulu hingga seluruh pelosok Tanah Jawa. Asal seluruh rakyat Jawa telah beralih keyakinan, sementara pemurnian pemahaman dikerjakan belakangan. Maka dipakailah jalan kebudayaan untuk memasukan ajaran Islam. Pemahaman yang mendapat dukungan dari Sunan Muria, yang tak lain adalah anak Sunan Kalijogo.

Dalam keadaan terjepit, Sunan Kudus sebagai penghulu Waliyyul Amri tak bisa lagi menyampaikan pendapatnya. Karena Sultan Trenggono pun lebih condong pada pendapat Sunan Kalijogo. Menurutnya, sang mertua lebih paham tentang Tanah Jawa, karena Sunan Kalijogo adalah putra mahkota Tuban. Ia lebih berdarah ningrat Majapahit daripada Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati yang datang dari luar Jawa.

Puncak pertentangan ketika Sunan Kudus pun mundur pelan-pelan dari Kesultanan Demak. Ia tak ingin di Waliyyul Amri terlihat seperti ada matahari kembar. Ulama Palestina itu minggir ke Tajug dengan membangun kota santri, yang sekarang dikenal sebagai Kudus. Ia lebih banyak mencurahkan pikirannya, membentuk pemerintahan yang benar-benar islami dengan menetap di Kudus. Dan menjadi penasehat kadipaten Jipang yang dipimpin oleh murid tercintanya, Haryo Penangsang.

Kebijakan Demak pun berada dalam kekuasaan Sunan Kalijogo. Sunan Gunung Jati tak bisa berbuat banyak. Setelah menaklukan Banten, Sunda Kelapa, dan Pajajaran, ia menetap di Cirebon. Melanjutkan dakwah mertuanya, Susuhunan Jati.

Demak pun mulai melenceng dari niatan semula, seperti cita-cita Sunan Ampel. Kebijakan Demak semakin menjauh dari nasehat para ulama. Sementara perseteruan diam-diam antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijogo pun semakin meruncing.

Dan permusuhan itu pun semakin nampak dengan meninggalnya Sultan Trenggono.

Sunan Kudus menjagokan Penangsang, sang adipati Jipang untuk menjadi Sultan Demak keempat. Di matanya, Penangsang adalah sosok yang pantas menjadi pengemban amanah Waliyyul Amri untuk mengembalikan Demak sebagai kekhalifahan Islam di Tanah Jawa. Ia pun mendapat dukungan dari Sunan Gunung Jati.

Namun Sunan Kalijogo lebih menjagokan Prawoto, anak Sultan Trenggono yang tak lain adalah cucunya. Ibu Prawoto yang diperistri Trenggono adalah anak Sunan Kalijogo. Pendapat ini mendapatkan dukungan dari Sunan Muria.

Menurut Sunan Kudus, Prawoto tak layak menjadi Sultan Demak, karena di masa lalu ia terlibat pembunuhan pamannya, Pangeran Sekar. Selain itu Prawoto juga seorang yang buta dan sakit-sakitan. Seorang Sultan yang lemah tak akan menjadikan Demak sebagai pemerintahan yang kuat.

Sementara menurut Sunan Kalijogo, Penangsang juga tak layak, karena ia tidak akan membawa kemajuan bagi Demak. Dengan penyebaran Islam yang tak menyatu dengan kebudayaan pedalaman, akan menyebabkan Islam hanya berkembang di daerah pesisir. Seperti yang telah terjadi dalam pemerintahan Raden Patah dan Pati Unus.

Namun dalam pertarungan itu, akhirnya Prawoto lah yang menjadi Sultan Demak.

Sunan Kudus pun semakin terdesak, bahkan Waliyyul Amri terancam dibubarkan.

Sebuah tragedi yang sekarang mendadak kurenungkan terjadi hari ini pada negeri ini. Ketika para pemuka agama telah mengingatkan para pemimpin yang sering berbohong pada rakyatnya. Namun nasihat itu diabaikan dengan bermacam alasan bahkan cemoohan.

Maka aku pun terkenang pada sandyakalaning Demak Bintoro. Ketika umara (pemimpin) tak lagi tunduk pada ulama, maka keruntuhan tengah membayanginya.

Dan inilah mungkin kidung senjakala. Sebuah kidung yang ditulis oleh seorang yang kadang tak dipercaya, “Kartunis kok nulis novel sejarah!”

Ya sudah!

(Inipun catatan kaki senja kala juga. Karena kutulis di saat senja. Karena sejak kemarin laptop error, dan komputer ikutan hank. Hingga baru tadi siang komputer bisa dipakai. Sementara laptop, katanya masih menunggu 3 hari lagi. Ya sudah, tidak jadi Thukul lagi yang  kembali ke laptop. Mulai hari ini aku kembali ke komputer!)

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Februari 2011 pukul 22:32

Catatan Kaki 45: Pada Mulanya adalah Kethoprak Tobong!

Standar

terima kasih pada Anif Sirsaeba El Zhirazy yang telah memberi judul “Tembang Rindu Dendam” pada sekuel pertama PENANGSANG!

“Kang Nas kok bisa nulis novel begini tebal?”

Seorang teman pernah bertanya, ketika ia datang dalam acara bedah bukuku. Novel Penangsang jilid pertama, yang kuberi judul ‘Tembang Rindu Dendam’.

Dia merasa aneh, karena katanya,”  Selama ini aku mengenal Kang Nas sebagai tukang pembuat ketawa dengan kartun-kartun dan sajakkartun saja. Kok sekarang tiba-tiba menulis novel panjang yang berat dan serius sekaligus sangat tebal. Apalagi novel tentang sejarah Tanah Jawa yang juga mempunyai nilai kontroversial.”

Mendengar keheranannya itu, aku pun menanggapi dengan senyuman saja, “Wong aku sendiri juga tidak nyangka, mas. Kok aku bisa seserius itu ya? Hehehehe.”

Dan memang begitulah sesungguhnya. Karena selama ini, aku menulis hanya berupa puisi lucu-lucuan yang tak berarti dan remeh temeh belaka. Bukan sesuatu yang bermutu atau serius, yang dalam penulisannya membutuhkan penelitian serta riset panjang.

Maka kalau sampai membuat novel dengan ketebalan 700an halaman, dan ditulis selama 4 bulan, aku pun masih sering tidak percaya. Dan ketidakpercayaan itu ternyata sekarang berulang. Ketika naskah Penangsang jilid ke 2 yang sedang kuselesaikan, malah melonjak menjadi  800 halaman.

Namun itulah yang terjadi. Novel pertama itu telah terbit. Mendapat sambutan hangat dari para pembaca. Rata-rata menyampaikan salut atas keberanian mengungkap sejarah yang selama ini masih remang-remang. Dan dengan dukungan literatur yang banyak, hingga hampir tiap halaman terdapat footnote. Sebuah novel yang,  menurut mereka, kaya dengan pengetahuan sejarah dan budaya, hingga mampu memperluas wawasan pembacanya.

Bahkan ada yang menyejajarkan dengan karya Pramoedya dan ‘Mushashi’nya Eiji Yoshikawa. Sebuah sanjungan yang berlebihan, sebab dua nama itu adalah maestro sastra dunia. Sedangkan aku, masih benar-benar berada pada tahap belajar di tingkat dasar.

Namun terlepas dari itu semua, aku ingin sedikit bercerita di balik penulisan novel yang sesungguhnya. Bahwa novel itu memang kutulis dalam waktu 4 bulan. Tapi sebenarnya, proses di belakangnya sangatlah panjang. Bahkan untuk sekadar mengumpulkan keberanian saja, aku butuh mencari dukungan sejarawan, budayawan, dan kerabat keraton. Sekaligus mengumpulkan data-data sejarahnya, hingga membutuhkan waktu lebih dari lima tahun, sampai dengan yakin untuk memulai menuliskannya.

Semua kulakukan, karena yang kutulis adalah semangat untuk membalik pemahaman yang selama ini sudah tertanam. Bahwa Penangsang, sosok yang sekian lama dikenal sebagai antagonis, dalam novelku kuceritakan sangat berkebalikan. Menjadi sosok protagonis, bahkan bisa menjadi anutan. Suatu usaha menawarkan alternatif pembacaan kitab sejarah, yang seperti memutihkan yang telah dihitamkan.

Sementara sosok yang sekian lama dikenal sebagai protagonis, dalam ceritaku menjadi tokoh antagonis. Benar-benar sangat berkebalikan dengan pemahaman banyak orang. Namun memang itulah yang ingin kuungkap. Bahwa kecurigaanku, ada sesuatu yang sengaja dikaburkan dalam kisah Babad Tanah Jawi. Sesuatu yang tidak dituliskan sebagaimana apa adanya. Tidak yang sebenarnya, melainkan sebagaimana yang diinginkan penguasa yang kala itu memenangkan perebutan takhta.

Maka novel yang kutulis ini, secara isi memang sangat berat dan serius. Namun aku sangat semangat menuliskannya. Karena semua didasari pada ‘dendam’ lama. Pada penasaran yang terpendam 20 tahun lamanya.Yang itu semua bermula ketika aku kecil dulu. Yang sangat suka menonton kethoprak.

Waktu SD, ada rombongan kethoprak tobong yang berbulan-bulan menetap di desaku. Tiap malam mereka memanggungkan lakon-lakon cerita yang berlatarkan sejarah. Dan sepertinya, itulah pelajaran sejarah yang sangat mengena di otak dan hatiku, daripada yang tercatat dalam buku-buku pelajaran sekolah.

Dengan di-kethoprak-kan, semua rangkaian kronik sejarah sejak jaman Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, hingga Mataram menjadi mudah dicerna. Intrik kekuasaan dan konflik berdarah sejak Ken Arok hingga Trunojoyo sangat membekas dalam benak kecilku, yang waktu itu baru naik kelas 4 SD.

Hingga bisa dikatakan, kethoprak benar-benar menjadi hiburan yang mencerdaskan untuk otakku, yang memang tak akrab dengan televisi. Rumahku baru pasang listrik ketika aku kelas 6 SD. Dan tak punya televisi, hingga aku remaja, bahkan sampai dewasa.

Karena itulah, aku pun menjadi penonton setia kethoprak setiap malam.

Dengan modal nekat, karena memang tak pernah punya uang untuk membeli karcis. Namun demikian, aku tetap selalu bisa menonton dengan caraku sendiri. Kadang dengan mendompleng orang, tak jarang pula dengan menelusup dari belakang panggung.

Setiap loket mulai dibuka, aku memerhatikan orang-orang yang membeli karci. Kalau ada mereka yang membeli karcis sendirian, tidak membawa istri atau anak, aku langsung mendekatinya. Kusampaikan maksudku, untuk ndompleng karcisnya dan dianggap sebagai anaknya atau keponakannya. Dengan dituntun dan berjalan bersamanya, aku pun bisa masuk tanpa bayar. Sampai di dalam, aku berpisah dengan orang itu. Berkumpul dengan kawan-kawanku yang telah ndompleng orang duluan.

Sering pula dengan teman-teman yang nekad dan berani, aku harus main kucing-kucingan dengan petugas hansip. Yaitu masuk dengan cara menyelinap diam-diam dari belakang tobong. Pagar keliling lapangan yang terbuat dari terpal, kami singkap ke atas seukuran badan, untuk bisa mblodos masuk ke dalam. Satu per satu anak-anak masuk, sementara yang paling berani masuk terakhir, untuk melihat-lihat keadaan.

Entah mengapa ada kebanggaan luar biasa ketika berhasil masuk tanpa karcis dengan mblodos, daripada numpang masuk dengan karcis orang. Kebahagiaannya lebih terasa di dada, dan tertawanya ketika bertemu teman lain di dalam juga lebih lebar. Apalagi kalau sempat sport jantung karena hampir kena pentungan hansip sebelumnya.

Dan di antara lakon-lakon yang dipentaskan hingga tengah malam itu, adalah kisah Haryo Penangsang yang paling membetot emosiku.

Kisah yang bercerita tentang perebutan takhta antara keturunan Raden Patah. Kisah yang penuh intrik, yang kemudian (menurutku!) menjadi pangkal semua keruwetan dakwah Islam di Tanah Jawa.

Dalam panggung kethoprak, sosok Penangsang adalah orang yang gila kekuasaan dan berangasan. Hatinya panas dan jiwanya mudah marah. Dan itulah yang menjadi penyebab kekalahan, bahkan kemudian kematiannya. Sementara Mas Karebet adalah seorang pemimpin bijak dan berjiwa arif. Seorang tokoh yang kemudian menjadi pemenang dalam pertarungan melawan Penangsang.

Pemeran Penangsang selalu melotot matanya, merah wajahnya, keras tertawanya, dan berteriak membentak setiap berkata. Sebuah pancaran wajah yang garang dengan kumis lebat melintang. Sedangkan pemain Mas Karebet selalu teduh pandangannya, cerah wajahnya, senyumnya berwibawa, kata-katanya pelan dan dalam, serta lemah lembut perangainya.

Sebuah watak hitam putih yang diterjemahkan langsung dari Babad Tanah Jawi.

“Watakipoen arja penangsang sanget ing wanteripoen sarta panasbaran.”

Sifat Haryo Penangsang sangat mudah marah dan pemberang. Demikianlah Babad Tanah Jawi menggambarkan sosok Penangsang dalam salah satu baitnya.

Sebuah perkataan yang konon berasal dari Ki Juru Mertani, yang sedang bersiasat untuk menjebak Penangsang. Karena Mas Karebet tidak berani melawan Penangsang, maka ia bermain muslihat. Kelemahan Penangsang yang mudah tersulut marahnya, dijadikan pancingan untuk menikamnya dari belakang.

Dan itulah yang terjadi kemudian, kekuatannya kalah karena terpancing amarah. Penangsang pun mati mengenaskan. Ususnya terburai ketika perutnya robek panjang oleh tusukan tombak pendek Kyai Plered yang ditikamkan Sutawijaya. Usus yang kemudian terpotong oleh ketajaman kerisnya sendiri, Kyai Brongot Setan Kober.

Sebuah kematian tragis yang sampai hari ini masih membayang pada penggalan adegan tersebut. Adegan kekalahan jagonya Sunan Kudus yang terus menguntitku hingga dewasa. Yang menggangguku dengan bermacam penasaran dan rasa curiga.

Dan setelah berjarak 20 tahun dari pemanggungan kethoprak malam itu, aku baru bisa merasa lega setelah berhasil menuliskannya. Mengisahkan dengan menawarkan tafsir ulang yang berbeda dengan pemahaman yang selama ini ada di benak orang Jawa .

Maka dengan ditulisnya kisah panjang Penangsang ini, sebenarnya sebuah usaha mengengang kembali pada masa kecilku dulu. Waktu aku merasa sangat bahagia tiap kali bisa mblodos dari belakang panggung kethoprak tobong.

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 Februari 2011 pukul 22:26

 

Catatan Kaki 44: Mengenang ‘Sekadar Pengantar’ Seorang Izzatul Jannah!

Standar

Izzatul Jannah membacakan puisinya dalam pagelaran ‘Sajak dari Republik Kartun’, dan puisi yang kusimpan sebagai ‘prasasti’!

Sense of Humour, Sebuah Kompleksitas NasSirun PurwOkartun

(Pengantar Izzatul Jannah)

“Saya membutuhkan karakter untuk majalah remaja dengan visi pengembangan pribadi ini…,” kata saya pelan.

Matanya berbinar, “Saya akan coba bikin, mbak.”

“Karakternya genderless, bukan perempuan bukan laki-laki…” desis saya sambil menatapnya dengan sudut mata.

Ia tersenyum lebar, sampai giginya kelihatan.

Itulah awal pertemuan saya dengan Nasspur, pada tahun 2001.

Ia kemudian menjadi tukang gambar di majalah KARIMA, di mana saya ‘dipaksa’ menjadi pemrednya. Terus terang saja, saya selalu ngakak dengan celetukan, selorohan, dan kegemarannya memelesetkan kata-kata. Kalau ada gelar master atau doktor untuk keahlian memelesetkan kata, saya rasa ia akan mengantongi predikat cumlaude untuk itu!

Nasspur adalah otodidak murni. Ia seperti Hay Ibnu Yaqzhan dalam roman Ibnu Tufail yang belajar dari apa yang dilihat, didengar, disentuh, dan diciumnya. Ia tidak pernah belajar menggambar seperti saya belajar pada almarhum Tino Sidin di Seni-Sono sekian puluh tahun yang lalu. Jari jemari Nasspur tidak pernah makan sekolahan.

Ya. NasSirun PurwOkartun bukan orang kuliahan. Tapi dia seorang pembelajar sejati melalui kehidupan yang dijalaninya.

Nasspur bahkan sudah bergelut dengan segala macam hidup. Ia pernah menjadi tukang parkir, tukang cuci kereta api, tukang sablon, bahkan menjadi penunggu kotak WC terminal. Ia menjalaninya sambil mengeja kata-kata dalam pikirannya, dalam hatinya. Melalui buku-bukunya yang bertumpuk-tumpuk dan tebal seperti bantal.

Ia adalah manusia pembelajar yang terus menjalani hidupnya dengan membaca kata-kata, membaca kehidupan, sambil berpuisi dan berkartun.

Lulusan TK Pertiwi. Begitu selalu ditulisnya dalam kolom pendidikan pada curriculum vitae. Saya selalu nyengir saja. Sejak itu, setiap kali satu forum dengannya, dengan lantang saya perkenalkan bahwa sang penyair adalah lulusan TK Pertiwi. Saya menyampaikan paradoks yang mestinya menyentil jiwa malu para mahasiswa yang hanya bias menjadi penonton. Tapi di manakah letak rasa malu?

Saya melihat mereka mengangguk-angguk mendengar teori tentang bagaimana mengarang dan menulis darinya. Lihatlah betapa ironis. Para mahasiswa yang setiap hari selalu bergelut dengan kata, kalimat, paragraph pemikiran, belajar tentang teori bagaimana membaca dan menulis dari dia.

Dan percaya atau tidak, selama bergabung di majalah Karima, hasil tulisan dan gambarnya pun selalu bikin ketawa banyak orang. Nasspur juga sering tertawa lepas, membahana memenuhi ruang kantor kami waktu itu.

Kadang saya sampai berurai air mata gara-gara ia menjadikan kalkulator kantor sebagai telepon genggam, sambil tertawa terbahak-bahak. Waktu itu seluruh karyawan di kantor kami punya hape, cuma dia saja yang tidak punya.

Entah apa yang ia tertawai. Mungkin ia menertawai dirinya sendiri. Dan perlu Anda ketahui, menertawai diri sendiri adalah sebuah kemewahan luar biasa. Kok bisa? Sebab orang yang berjiwa kerdil biasanya sangat suka menertawakan orang lain. Gampang to, tinggal di balik aja, gitu.

Dan hari ini, ketika saya mendapatkan sajakkartun dari Nasspur, seperti biasa saya terkikik-kikik. Sampai suami saya menimpuk kepala saya dengan buku yang sedang dibacanya. Nasspur berhasil membuat saya tidur dalam keadaan tertawa terbahak-bahak, saudara-saudara sekalian… (hihihi kayak lagi pidato aja!)

Humor sebenarnya adalah sebuah konsep yang selama ini sering diperdebatkan para filosof, sastrawan, dan budayawan. Dan akhir-akhir ini para psikolog. Sebelumnya, humor dipandang miring disebabkan ia dianggap sebagai bagian dari permusuhan. Setidaknya oleh Plato (dalam Philebus), Aristoteles (dalam Poetic), Thomas Hobbes (dalam Laviathan), dan Rosseau (dalam Letter a M.d’Alembert), humor dikarakterisasi sebagai bentuk lain dari permusuhan.

Bagi para filosof ini, muatan mengejek (derisive qualities) yang ada di dalam humor seringkali ditujukan pada keburukan dan mempermalukan orang lain. Sehingga humor menjadi sebuah perilaku yang kejam (Snyder & Lopez, 2006). Kata Aristoteles, “comedy aims at representing a man as worse, tragedy as better than in actual life.” (Piddington, 1963)

Jadi saya tidak tahu, apakah Nasspur seorang yang agresif atau lebih buruk lagi, kejam. (Is better if you ask his wife. Hehehehe)

Tetapi yang jelas, perdebatan ini menjadi panjang hingga saat ini. Sebab positive psychology memiliki pandangan yang berseberangan dengan para filosof yang pesimis terhadap humor tersebut.

Menurut para psikolog positif itu, kata Bonannodan Kelmer (1997) seseorang yang bisa tersenyum dan tertawa saat berbicara tentang kematian pasangannya, dinilai lebih atraktif dan menarik, daripada mereka yang membicarakannya dengan serius dan sungguh-sungguh.

Mungkin ini agak ekstrem, karena terus terang saya akan lebih bahagia di surga, jika mengetahui suami saya merasa kehilangan dan menangis, karena saya tinggalkan. Hehehehe.

Tapi mungkin saja suami saya tersenyum karena mengingat kebaikan, keshalihahan, kecerdasan, dan kecantikan saya bukan? Dan ia tertawa geli karena seperti merasakan digelitik pinggangnya oleh saya, seperti ketika saya masih hidup, bukan?

Lho ini kok malah ngomongin saya sendiri? Hehehe. Oke, kembali ke laptop, eh, ke NasSirun PurwOkartun.

Jadi menurut saya, sense of humour menunjukkan kompleksitas pemikiran seseorang. Dan NasSirun PurwOkartun adalah seorang yang kompleks. Ia seorang penyair sekaligus kartunis, ia juga seorang cerpenis sekaligus tukang desain grafis. Mungkin sebentar lagi ia akan menjadi seorang novelis sekaligus tukang bikin teralis.

Nah, kalau saya mah, kompleks kalingga puri. Hihihi

Dada!

Kalingga Puri B-7, Nopember 2007

Izzatul Jannah, Majelis Forum Lingkar Pena, Mahasiswa S2 Psikologi UGM

(Disampaikan sebagai Pengantar buku antologi puisi ‘Sajak dari Republik Kartun’ karya NasSirun PurwOkartun, diterbitkan Taman Budaya Jawa Tengah, Nopember 2007)

 

Lima menit saja

(sajak Izzatul Jannah)

lima menit saja biar kuceritakan sesuatu

ia dahulu menjual ayam ibunya demi sebuah buku

ditampar guru dengan buku karena menggambar di kelas satu

 

ia belajar membaca dari buku kejar paket A milik bapaknya

lalu mengendap-endap membaca femina milik tetangga

bapaknya tetap saja buta membaca seperti kebanyakan orang Indonesia

(maaf kalau salah kutip, itu bukan kesalahan telinga Anda)

 

ia berpesta pora dengan bukubukunya

merayakan cintanya yang tak pernah reda

 

lima menit saja biar kuceritakan sesuatu

yang membaca sambil menunggu WC di terminal kota

mengunyah batu ‘Catatan Pinggir’ di sela menggosek gerbong kereta

 

lalu ‘hahaha’ katanya ia lulusan TK Pertiwi saja

tetapi berbicara berbusabusa di depan mahasiswa

yang ketika kutanya koleksi bukunya

tak lebih dari dua puluh lima

 

lima menit saja biar kuceritakan padamu

ia mengoleksi buku hingga berpetipeti tak hanya sekadar sambil lalu

sebab kukira ia memang memamah dan mengunyah buku

bau kamar kerjanya adalah ruapan tinta

dari almari bukunya yang mendesak langitlangit di rumahnya

yang sempit dan terhimpit

 

siapa bilang bergelut dengan ilmu perlu makan sekolahan

ia menjumput ilmu dari buku loakan dan kehidupan

 

sayang ia tak hidup di jaman sultan Al Makmun

yang menghadiahkan emas seberat buku yang dikarangnya

 

ia hidup di jaman ilmu mahal harganya,

karena diproduksi missal di bangkubangku sekolahan

 

ia hidup di jaman anak pejabat membeli sepatu sneakers harga 36 juta

sementara yang lain melarat, sekarat, dan menderita

 

tetapi ia,

sekarang ada di sana

mencoret dengan humor dan sindirannya

yang satir dan mengejek, katanya

buat mereka yang tidak tebal muka, katanya

buat mereka yang tidak pekak telinga, katanya

buat mereka yang masih bisa merasa, katanya

buat mereka yang tidak bermuka badak

dan purapura buta

 

tapi, kacian deh lu, Nass

mereka semua masih hidup

dan ada

 

(Puisi ini dibacakan dalam peluncuran antologi ‘Sajak dari Republik Kartun’, karya NasSirun PurwOkartun, pada 12 Nopember 2007 di Taman Budaya Jawa Tengah, pukul 20.30 WIB)

oleh Nassirun Purwokartun pada 31 Januari 2011 pukul 22:28

Catatan Kaki 43: Sajakkartun, Habis Thukul Terbitlah Thukul!

Standar

kartunsajakku yang disimpan di Museum Kartun Indonesia

Sajak ada porno bercerai

 

patah tumbuh hilang berganti

begitulah peribahasanya

patah tubuh goyang berganti

anisa baharlah ahlinya

 

katanya salak dari bali

kok rasanya seperti terasi

katanya menolak pornografi

kok demonya penuh pornoaksi

 

kalah jadi abu menang jadi arang

bersatu kita teguh bercerai hobinya artis

 

Sekarang aku makin asyik dengan sajakkartun.

Aku merasa enjoy dalam dunia sajak yang sederhana dan mudah dicerna.

Dengan sajakkartun, aku ingin terus mengabarkan cerita, berita dan derita kepada semua. Agar bisa tetap bercanda dalam bencana.

Menatap Indonesia dengan jenaka. Menumbuhkan semangat optimisme dengan gaya sinisme. Mampu memberikan hiburan sekaligus pencerahan di tengah gemuruh atmosfir keputusasaan.

Menatap sekeliling bukan dengan apatis, melainkan sekadar pertunjukan sandiwara rakyat, yang kita bukan lagi sebagai penonton. Melainkan boleh masuk menjadi salah satu pemainnya.

Dengan satir-satir yang menyentil untuk sekadar mencubit. Bukan untuk melukai. Bukan untuk menyakiti.

Sajakkartun semoga bisa jadi pelepas kegelisahan dan keresahan yang tak tersalurkan. Kegeraman tidak harus selalu melahirkan kemarahan. Melainkan melahirkan kegembiraan dengan menerimanya sebagai kenyataan yang harus dilawan dengan kearifan.

 

 

Sajak ada sembako senyum

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan

jumlah pengangguran

dan penduduk miskin negeri ini

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan

harga sembako

akibat naiknya harga elpiji

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melupakan

senyum bung harmoko

yang dulu tiap menit muncul di tivi

 

 

Sajak ada ampunan pahlawan

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melahirkan

pahlawan reformasi

yang kematiannya tak pernah ditangisi

apalagi dikenang lagi

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melupakan kejahatan

diktator yang suka sakitsakitan

untuk kemudian diberi ampunan

dan dianugerahi gelar pahlawan

 

 

Sajak ada hujan remisi

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menangkap tommy

setelah kucingkucingan dengan polisi

untuk kemudian dihujani

hadiah remisi

 

 

Sajak ada kematian siasia

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melupakan

jasa mahasiswa

yang mati diterjang pelor panas

entah oleh siapa

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melupakan

ribuan rakyat yang rela mati

demi bangsa

namun kini menjadi

kematian yang siasia

 

 

Sajak ada berjaya kembali

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu mengembalikan

orde baru

untuk bangkit dan berjaya

kembali

 

Mungkin usaha ini belum maksimal, meski sudah 13 tahun kutekuni.

Tapi aku akan terus berusaha mengasah pena, agar sajakkartunku makin tajam goresnya.

Dan dengan fenomena ‘Thukulisme’ di negeri ini, aku merasa secara tidak sengaja telah mengawinkan kekuatan duo Thukul dalam sajakkartunku. Kekuatan protes sosial khas penyair Wiji Thukul, dan guyonan katro pelawak Thukul Arwana.

 

Sajak habis Thukul terbitlah Thukul

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu memunculkan

seorang thukul arwana

menjadi selebritis yang top

hanya dengan satu kata

‘kembali ke laptop’

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menghilangkan

seorang wiji thukul

menjadi penyair yang lenyap

hanya dengan satu kawa

‘lawan’

 
oleh Nassirun Purwokartun pada 30 Januari 2011 pukul 22:33

Catatan Kaki 42: Sajakkartun atawa Sajak Penjorangan!

Standar

 

 

Sajak ada yo ben!

 

buah manggis buah kedondong

seorang kartunis boleh necis dong

 

kalau ada sumur di ladang

boleh kita menumpang mandi

kalau ada umur yang panjang

mandi yang sehat sehari dua kali

 

bunga mawar bunga kamboja

itu semua namanama bunga

kalau ada yang bilang itu nama kuda

mungkin sedang sakit mata

atau baru lepas dari rumah sakit jiwa

 

buah duku buah duren

ora lucu yo ben

 

Sajakkartun adalah sajak yang sangat sederhana.

Dan justru dengan kesederhanaannya, aku berharap ia bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat pembaca.

Karena dengan sajakkartun, aku hanya sekadar ingin membuka pintu komunikasi antara seniman dan masyarakat. Dengan terus mencoba menemukan pengungkapan yang jujur, lugas, bernas, dan cerdas.

Aku tidak ingin menjadi penyair elit, yang mempunyai kecakapan berbahasa, namun hanya dapat dinikmati oleh para pecinta sastra saja. Sebab keberhasilan berkarya bagiku adalah ketika komunikasiku mampu mengajak berbagai lapisan masyarakat, dengan beragam tingkat kecerdasan, untuk kemudian bisa saling berinteraksi.

Hingga terjalin dialog, untuk saling tersenyum dan merenung. Kemampuan yang efektif untuk bisa  berkomunikasi langsung dengan masyarakat luas, menjadi landasan setiap penciptaan sajakkartunku. Dan itulah tanggungjawab terindah sebagai seniman.

Sajak ada kencing cinta

 

guru kencing berdiri

murid kencing berlari

guru sibuk demonstrasi

murid asyik berkelahi

 

berakitrakit ke hulu

berenangrenang ke tepian

bersakitsakit dahulu

lolos hukuman kemudian

 

ada gula ada semut

ada udang di balik batu

ada apa dengan cinta

istriku bilang aku mirip rangga

 

 

Sajak ada tong reformasi

 

ada banyak negeri

yang agenda reformasinya

menjadi tonggak sejarah

 

tapi hanya satu negeri

yang agenda reformasinya

menjadi isi tong sampah

 

Sajak ada demokratisasi reformasi

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melahirkan anarki

dalam setiap pemilihan bupati

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu melegakan demonstrasi

sebagai bukti tegaknya demokratisasi

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menurukan diktator yang sakti

menjadi pesakitan yang tibatiba sakit

setiap mau diadili

Pergulatan proses kreatif  sajakkartun, mungkin tak bisa dilupakan dari asal muasalku yang asli Banyumas.

Daerah Banyumas dengan kebudayaannnya yang mempunyai kekhasan tersendiri. Dengan sifat egaliter, sederhana, penuh kesahajaan, karena berbasis pada kehidupan masyarakat tradisional agraris. Hingga dialek Banyumasan pun, sebagai bahasa komunikasi sehari-hari memiliki corak yang bersahaja, sederhana, egalitarian, dan tidak mengenal pelapisan strata. Dan secara tak sengaja, semangat itulah yang kemudian menjadi ruh dari seluruh sajakkartunku.

Karena secara tidak disadari juga, aku ternyata memunculkan salah satu pergaulan khas Banyumasan dalam sajak-sajakkau. Yakni gaya pergaulan dalam bermasyarakat Banyumas yang disebut dengan penjorangan.

Penjorangan adalah cara mengungkapkan sesuatu yang serius dengan gaya bercanda. Dalam balutan gaya dan kata yang penuh jenaka, untuk menyampaikan hal yang seberanya penting. Dengan sindiran, cemoohan, dan kelakar untuk menyampaikan maksud kritikan agar tidak menyakitkan bagi yang mendengar.

Dan melalui gaya penjorangan itulah, kritikan dilontarkan bukan untuk memukul dan menghantam. Melainkan justru untuk merangkul dan mengingatkan.

Dengan gaya penjorangan pula, kita mengingatkan lawan bukan sebagai musuh yang sekadar harus disalahkan. Melainkan sahabat dekat yang akrab untuk disadarkan.

Sajak goyang presiden

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang professor

menjadi presiden yang melepaskan wilayah timor

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang wali

sebagai presiden terlucu republik ini

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menaikkan seorang ibu rumah tangga

sebagai presiden yang dianggap titisan bapaknya

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu menjadikan seorang yang gagah perkasa

sebagai presiden yang selalu bimbang langkahnya

 

sepuluh tahun reformasi

hanya mampu memilih presiden empat kali silih berganti

semudah memilih kontestan

dalam ajang AFI atau goyang KDI

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Januari 2011 pukul 22:27

Catatan Kaki 41: Ketika Kartun Politik Dibungkam, Sajak Bloon Harus Bicara!

Standar

ketika sajakkartun dipanggungkan di teater arena taman budaya jawa tengah. makasih, mas wijang!

Sajak ada hukum puisi

sehebat-hebat masalah hukum

yang terdakwanya tak bisa dihukum

 

sehebat-hebat terdakwa

yang tak bisa diperiksa

 

sehebat-hebat periksa

membaca puisi sambil tertawa

 

sehebat-hebat yang kubaca ini

jangan pernah dianggap puisi

 

Pada awal-awal dulu sebenarnya aku ragu, apakah tulisanku itu bisa disebut puisi?

Namun dengan berjalannya waktu, aku kemudian abai dengan keagungan kaidah puisi. Karena setelah kurenungkan, aku menulis puisi bukan bermaksud menjadi penyair. Namun lebih karena kebutuhanku untuk sekadarkan mengabarkan berita.

Aku ingin berkomunikasi. Hanya ingin berdiskusi. Ingin berdialog dengan sebanyak mungkin orang tentang permasalahan yang melanda. Berusaha untuk saling mengingatkan atau sekadar memberi isyarat dan pertanda.

Maka sejak itu aku tak peduli dengan penilaian apakah layak disebut puisi, atau sekadar celetukan yang tak berarti. Karena bagiku, yang penting apa yang tak boleh kugambar bisa kusampaikan dengan tulisan, untuk kemudian dibacakan.

Maka aku pun semakin banyak saja menuliskan sajak-sajak bodoh dan sederhana itu.

Namun meskipun dengan bahasa yang sederhana dan tak perlu membuat kening berkerut, aku tetap menjaganya agar tidak vulgar. Karena puisi-puisiku bukan sekadar sajak protes sosial murni. Jadi selalu kuusahakan tetap mampu memancing senyuman.

Kalimat-kalimatnya selalu kubuat segar dan jernih. Syukur-syukur cerdas. Dengan dibalut metafor yang penuh guyonan dan humor. Namun bukan sekadar lelucon. Karena diharapkan mampu menjadi senjata ampuh untuk melakukan perubahan.

Persis seperti guyonan para punakawan dalam mengkritik Pandawa, begitulah resep kartun yang kudapatkan dari GM Sudarta. Awalnya lebih membuat ger-geran saja. Membuat tertawa riuh dengan tepuk sorak para penonton penikmatnya.

Namun meski penuh canda tawa, aku yakin sajakkartunku tetap bisa sampai dan penuh makna.

Dan meskipun sajakkartun itu berbentuk teks literer, aku masih menganggap diriku tetaplah seorang kartunis. Bukan penyair.

Bagiku, sajak itu tak lebih dari sebuah media. Sementara materinya sendiri, sesungguhnya tetaplah kartun. Tempat di mana aku merasa bisa bebas berbisik dan berteriak dalam suasana canda tawa. Agar kenyataan-kenyataan menyakitkan yang membanjir di sekitar kita bisa diterima secara ringan dan renyah. Dan tidak cenderung menyalahkan siapa pun, kecuali diri sendiri.

Dengan sajakkartun, aku hanya ingin mengajak kita semua arif untuk berani menertawakan diri sendiri. Karena konon orang yang cerdas dan bijak adalah yang mampu menertawakan dirinya, dan rela menerima kelemahannya sendiri. Siapa pun dia!

Dalam kebimbangan apakah sajakkartunku masih layak disebut puisi atau tidak, aku menemukan buku ‘Dongeng dari Negeri Sembako’ karya Acep Zamzam Noor. Membaca larik-larik puisi penyair besar Tasikmalaya, yang konyol kocak dan sarat kritik itu, semakin memantapkanku untuk menekuni sajakkartun.

Bahwa ternyata, seorang maestro macam Acep pun menulis sajak macam itu. Maka makin semangatlah aku menulis sajak bloon. Bahkan ada beberapa sajaknya yang aku ambil sebagai awalan, untuk kemudian kuteruskan menjadi satu kesatuan.

Contohnya adalah yang ini.

Sajak ada banyak partai

membentuk partai baru

semudah mengganti baju

 

karena banyak rakyat yang suka berjoget

seorang vokalis mendirikan PUDI

Partai Uni Dangdut Indonesia

 

masyarakat yang menganggap protes dan unjukrasa

sebagai obat mujarab untuk menghilangkan pusing

ramairamai mencoblos PDIP

Partai Demonstrasi Itu Penting

 

para bujang yang berjenggot

ada baiknya mendirikan partai bughot

partai bujang berjenggot

 

para bujangan yang selalu raguragu

perlu membentuk partai lelaki tak lakulaku

 

para bujangan yang bosan ditolak melulu

sibuk membentuk partai kasihan deh lu

 

para gadis yang malumalu

segera mendirikan partai setia menunggu

dengan slogan jomblo pasti berlalu

 

para gadis yang bosan jenuh menunggu

sepakat berserikat dalam partai manajemen qalbu

bervisi mengobati kebatkebit hatiku

 

para gadis yang suka kartunis necis

silahkan mendukungku mendirikan PKS

partai kartunis sejahtera

 

dengan banyaknya bencana

terbuka peluang untuk membentuk partai tandingan

 

PKB, partai korban bencana

PDIP, partai derita Indonesia perjuangan

PBB, partai banjir banding

PAN, partai amat nelangsa

Partai GOLKAR, partai golongan tuna karya

PKS, partai korban sunami

 

Indonesia sebenarnya tidak memerlukan banyak partai

karena sudah terlalu banyak memiliki partai

ada partai sanur, partai kuta, partai pangandaran,

partai parangtritis, dan masih banyak yang lainnya

 

Dan karena keasyikan itu, membuatku semakin abai dengan penilaian apakah sajak bloon ini layak atau tidak disebut puisi.

Aku benar-benar tak lagi peduli, wong aku juga tak bermaksud ingin menjadi penyair. Aku tetap seorang kartunis, yang tidak sedang menggambar menggunakan goresan, tapi tengah beralih senjata menggunakan tulisan.

Maka seolah mengikut Seno Gumira Ajidarma yang berstrategi ‘ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara’, demikian pula denganku.

Aku mengamini jurus liukan bambu itu dengan ‘ketika kartun politik dibungkam, sajak bloon harus bicara’.

 oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Januari 2011 pukul 22:23