Category Archives: Catatan Kaki 51 – 60

Catatan Kaki 60: Ke Sitinggil Saja, Kalau Ingin Belajar Dewasa!

Standar

 

“Wong Jowo nggone semu.”

“Orang Jawa ahlinya perlambang.”

Begitu ungkapan yang konon pas untuk menggambarkan citra manusia Jawa. Yang tidak suka mengungkapkan sesuatu secara gamblang, melainkan membalutnya dengan menggunakan pasemon, atau sebuah perlambang. Terutama tentang ajaran kehidupan.

Dan itu pula yang kudapatkan dari bangunan yang ada pada keraton Solo. Ketika menikmati keindahan bangunan Bangsal dan Bale yang ada di kawasan Sitinggil.

Kalau kita berjalan meninggalkan Pagelaran ke arah selatan, maka akan menemukan bangunan yang bernama Sitinggil atau Sitihinggil itu.

Bangunan yang secara harfiah berarti tanah yang ditinggikan. Karena dalam bahasa Jawa, siti berarti tanah dan hinggil adalah tinggi. Maka kita temui sekarang, bangunan Sitinggil benar-benar merupakan tempat yang lebih tinggi dibanding bangunan yang lain di sekitarnya. Bahkan  lingkungan ini pun dikelilingi oleh tembok tebal yang tinggi pula.

Dan konon makna dari bangunan Sitinggil merupakan perlambang berkembangnya kedewasaan manusia. Maka untuk menjabarkan ajaran itu, jalan dari Pagelaran menuju Sitinggil pun dibuat mendaki. Merupakan gambaran naiknya tingkat kejiwaan kita.

Jalan berundak ini bernama Kori Mijil, yang berarti pintu keluar. Dalam bahasa Jawa kori adalah pintu, dan mijil adalah keluar. Sebuah ajaran untuk mengingatkan kita, bahwa cermin kedewasaan jiwa adalah kemampuannya menjaga ucapan. Hingga dalam bertutur kata hendaknya apa yang keluar dari mulut kita hanyalah kebenaran dan kejujuran saja.

Kawasan Sitinggil lengkapnya bernama Sitinggil Binata Wrata. Bangunan yang didirikan Paku Buwono III pada tahun 1774 dengan candrasengkala ‘Siti Inggil Palenggahaning Ratu’. Sebuah kode hitungan tahun matahari yang secara kata berarti ‘tanah yang ditinggikan sebagai tempat bertakthanya raja’.

Selepas menapaki jalan berundak Kori Mijil, bangunan paling depan kawasan Sitinggil bernama Bangsal Sewayana. Yang pada jaman dulu merupakan tempat para pejabat menghadap raja. Juga merupakan aula untuk melaksanakan upacara kebesaran kerajaan.

Berada di tengah-tengah Bangsal Sewayana, terdapat bangunan bernama Bale Manguntur Tangkil. Inilah tempat singgasana raja bertakhta. Konon di bawahnya tertanam batu andesit yang merupakan takhta kebesaran Prabu Suryawisesa, sang Raja Jenggala.

Manguntur Tangkil berasal dari kata manguntur dan tangkil. Manguntur bermula dari kata mangun tutur, yang berarti membuat kata-kata indah atau memberikan sebuah ucapan rayuan. Sedangkan tangkil berarti tampil ke depan. Jadi secara harfiah, manguntur tangkil berarti memulai dengan kata-kata rayuan yang penuh keindahan.

Sebagai pribadi yang telah dewasa, merupakan saat yang diwajibkan untuk bisa mengolah asmara dalam sebuah pernikahan yang sakral. Karena dengan itu, kedua pribadi dewasa akan melahirkan keturunan bagi kelangsungan hidup mereka.

Hingga bisa dikatakan, kawasan Sitinggil merupakan bangunan yang maknanya mengajarkan kedewasaan. Dan Bale Manguntur Tangkil merupakan perlambang menuju ke arah itu. Karena setelah dewasa dan menikah, maka kehidupan rumah tangga sebagai suami istri pun dimulai. Merupakan saat bertemunya laki-laki dan perempuan yang tengah dianugerahi nikmat asmara.

Maka manguntur tangkil atau menampilkan rayuan adalah ajaran untuk saling mengungkapkan rasa cinta. Sebuah tuntunan membangkitkan asmara agar jiwa bersatu dalam membentuk generasi baru. Yang proses ‘ibadah terindah’ itu akan terasa lebih indah apabila didahului dengan saling menampilkan kata-kata indah atau cumbu rayu.

Berada di belakang Bangsal Manguntur Tangkil, sebuah bangunan bernama Bangsal Witana. Dahulu merupakan tempat berkumpulnya para abdi dalem yang membawa perangkat upacara kebesaran kerajaan.

Witana berasal dari kata ‘wiwitane ana’ yang berarti awal mula kehadiran manusia. Sebuah perlambang tentang permulaan kehidupan, yang dimulai dari tersedianya ‘benih’ dan ‘rahim’. Sebuah makna dari bertemunya benih dari perempuan untuk dibuahi oleh laki-laki. Yang proses itu menjadi wiwitane ana, atau awal hadirnya keturunan kita.

Melangkah lagi ke depan, terdapat sebuah bangunan bernama Bangsal Manguneng. Letaknya tepat berada di tengah-tengan Bangsal Witana dan Bangsal Sewayana.

Secara harfiah manguneng berarti mengheningkan cipta. Karena manguneng berasal dari kata mangun yang artinya membangun dan meneng yang berarti diam. Maka Bangsal Manguneng merupakan perlambang agar pribadi yang dewasa dalam membentuk keturunan baru, harus melalui proses mengheningkan cipta. Yakni untuk selalu meniatkan dan mendekatkan diri pada Tuhan, dengan makin memperbanyak doa.

Dari Bangsal Manguneng, kalau kita menoleh ke timur, akan bertemu dengan Bangsal Angun-angun. Kata angun-angun mempunyai arti sesuatu yang masih samar atau masih dibayangkan. Bangunan yang menjadi perlambang, bahwa membentuk keturunan baru adalah sebuah rencana yang  masih berada dalam harapan. Karena itulah, harus semakin giat mendekatkan diri pada Tuhan, bahkan memerlukan penguat iman.

Maka di barat Bangsal Sewayana, kita akan dapati sebuah bangunan bernama Bangsal Bale Bang. Bale Bang berasal dari kata nggebang yang artinya menegakkan. Sebuah ajaran untuk selalu menegakkan atau memperkuat keimanan. Harus mempertebal iman dalam membentuk pribadi yang masih diangankan sebagai keturunan kita.

Kemudian, berada di sebelah selatan Bangsal Witana kita dapati sebuah tembok tinggi memanjang bernama Kori Renteng. Sebuah tembok penghalang yang jika dilihat dari arah selatan, seluruh bangunan yang berada di Sitinggil tidak bisa kelihatan.

Karena Kori Renteng artinya pintu penutup. Sebuah bangunan yang merupakan kiasan dari usaha untuk selalu menutup atau menjaga rahasia keluarga. Bahwa sesuatu yang ada dalam rumah tangga kita, orang lain tidak selayaknya ikut mengetahuinya.

Cukup suami istri saja yang tahu apa cela dan kekurangan masing-masing. Karena bukan pribadi yang dewasa, ketika seorang suami masih suka mengeluhkan kekurangan istrinya. Dan bukan istri yang dewasa, ketika sangat gemar membeberkan kekurangan suaminya.

Maka Kori Renteng yang merupakan pintu penghalang dari arah utara kawasan Sitinggil, sangat tepat untuk menjadi pembelajaran. Bahwa kebersamaan menjaga rahasia, menghormati dan menghargai perbedaan adalah sebuah cermin sikap jiwa yang dewasa. Yang juga merupakan sebuah jalan untuk menjadi sebuah keluarga bahagia.

Karena hanya dari keluarga bahagia itulah yang akan melahirkan generasi yang berguna bagi sesama. Yang dari pertama membangun keluarga, sudah dimulai dengan sebuah kejujuran dan keterbukaan. Bahkan ketika membentuk dan merencanakan keturunan pun selalu diikuti dengan doa dan sepenuh mengheningkan cipta. Dengan selalu mendekatkan diri pada Tuhan untuk semakin mempertebal iman.

Maka selepas dari Sitinggil, sebagai jalan ke luar ke arah selatan, kita akan melewati sebuah pintu besar bernama Kori Mangu. Sebuah pintu yang bermakna untuk membuang segala sikap keragu-raguan atau kebimbangan. Sebab kori dalam bahasa Jawa adalah pintu, dan mangu artinya ragu-ragu.

Suatu ajaran untuk mengingatkan kita, bahwa ciri kedewasaan jiwa juga hendaknya tidak mudah digelisahkan oleh keraguan. Juga tidak gampang bimbang untuk meneruskan langkah peningkatan jiwa selanjutnya, menuju kesempurnaan kehidupan.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 26 Februari 2011 pukul 20:33

Iklan

Catatan Kaki 59: Pagelaran Canda Pancawura Perkasa

Standar

 

“Kirain pagelaran musik! Taunya pagelaran mistik!”

Seorang remaja berseragam SMA tiba-tiba berbisik. Temannya yang disikut dan mendengar celetukan usil itu pun langsung terkikik.

Mereka berdua adalah rombongan study tour dari Jakarta, terbaca dari badge sekolah yang sempat kulihat pada lengan kanannya. Juga dari logat bicaranya yang terkesan cuek dan sangat mBetawi sentris. Dan saat itu, puluhan pelajar remaja itu tengah berada di Keraton Solo. Dipandu seorang guide yang menerangkan tentang bangunan yang sedang mereka kunjungi.

“Bangunan besar dan luas ini bernama Pagelaran Sasonosumewo. Mempunyai bentuk konstruksi atap yang dinamakan tridenta, artinya berjajar tiga dengan bagian tengah lebih kecil.”

Aku yang kebetulan sedang berada di tempat itu, turut mengikuti dari belakang rombongan study tour tersebut. Dengan sesekali pura-pura memotret detail bangunan besar itu, dari mulai tegel besar seukuran langkah orang dewasa, hingga pilar yang besarnya lebih dari satu rangkulan.

Padahal maksudku adalah untuk ikut nguping keterangan pemandu itu. Lumayan, daripada harus menyewa guide sendiri. Apalagi kedatanganku ke Pagelaran ini, hanya sekadar mencocokkan dengan apa yang telah kupelajari. Untuk melihat langsung bagian-bagian bangunan cagar budaya yang sudah pernah kubaca. Jadi sudah ada bekal sedikit pengetahuan sebelumnya.

“Sesuai dengan namanya, Pagelaran Sasonosumewo artinya adalah tempat menghadap raja. Karena pagelaran berarti sebuah tempat terbuka, sedangkan sasono adalah rumah, dan sumewo itu menghadap. Jadi fungsi bangunan ini pada jaman dulu adalah merupakan tempat menghadap raja, bagi Patih, Bupati, dan jajarannya ke bawah. Juga menjadi tempat raja mengumumkan ‘pratanatan’ dan ‘angger-angger’ atau hukum dan undang-undang keraton.”

”Kalau gue jadi raja nih, ya,” kembali kudengar remaja berambut kriwil itu berbisik pada teman di sebelahnya, “gue bakal bikin undang-undang baru.”

Aku yang berada tak lebih semester di belakangnya pun jadi ikut nguping bisik-bisik mereka.

Gue bakal ngumumin undang-undang baru. Yang melarang para guru buat ngerazia hape muridnya. Biar koleksi kita aman. Oke gak? Hehehehe.”

Dan teman yang berambut jingrak itu langsung menukas, “Dan para guru juga dilarang ngiri sama HP muridnya yang lebih canggih, gitu?”

Kedua remaja itu terkikik dan saling sikut, tanpa memehatikan guide yang tengah menerangkan fungsi-fungsi bangunan yang ada di sekeliling pagelaran.

Aku pun turut tersenyum mendengar kekonyolan mereka berdua.

Sementara sang guide yang tampil nJawani, dengan blangkon hitam menutup kepala, dan samir merah kuning melingkar di lehernya terus menerangkan. Bahwa konon, pada saat pertama kali dibangun, Pagelaran masih bebentuk sangat sederhana. Atapnya hanya terbuat dari anyaman bambu dengan tiang penyangga yang juga dari batang bambu. Lantainya pun hanya berupa hamparan pasir, hingga bangunan ini sering disebut dengan nama tratag rambat.

Penyempurnaan Pagelaran baru dilakukan pada masa Paku Buwono X, raja yang bertakhta sejak tahun 1893 hingga 1936. Diperkuat dengan 48 tiang penyangga cor beton yang kokoh. Yang juga menjadi peringatan 48 tahun umurnya saat membangun Pagelaran tersebut, pada tahun 1913. Sama seperti tanda plenthon yang ada pada gapura Gladhag, yang juga berjumlah 48 buah.

“Namun bangunan yang kita lihat sekarang, bukan asli yang dibangun pada tahun 1931 dulu. Melainkan hasil perehaban pada tahun 1997 sampai 1998. Karena Pagelaran yang telah berumur 85 tahun waktu itu, telah menjadi bangunan tua yang kurang terawat, hingga kondisinya rusak parah. Atapnya yang hanya terbuat dari seng lembaran membuat bocor tak terhindarkan. Lantai yang basah dan menggenang ketika hujan datang, makin memperparah kerusakan bangunan.”

Aku yang ikut mendengarkan, turut prihatin dengan bangunan bersejarah itu. Karena konon, kerusakan bertambah ketika Pagelaran ini dipinjam untuk kantor dan perkuliahan Universitas Gabungan Surakarta (UGS) pada tahun 1975. UGS merupakan universitas hasil peleburan sejumlah akademi dan perguruan tinggi swasta dengan IKIP Negeri Surakarta. Yang kemudian menjadi cikal bakal kampus terbesar di Solo sekarang, yakni Universitas Sebelas Maret (UNS).

Konon plafon yang awalnya memang sudah lapuk, sebagian di antaranya menjadi sobek dan berlubang karena banyaknya paku yang menancap di seluruh bagian. Bangunan Pagelaran yang berupa aula terbuka itu, ketika dijadikan tempat perkuliahan, dibuat sekat-sekat kelas, menggunakan tiang-tiang kayu berpalang untuk membentuk ruangan. Hingga setelah papan-papan itu dilepas, bekas paku itu makin merusak bangunan yang memang sudah rapuh.

Bahkan setelah UNS pindah ke kampusnya sendiri di Kentingan, dua bangunan kembar bernama Bangsal Martolulut dan Bangsal Singanagara di belakang Pagelaran tinggal tersisa lantai pondasinya saja. Saat masih menjadi tempat perkuliahan, bangsal itu dimanfaatkan sebagai ruang percetakan. Dan bekas jaringan kabel listrik yang saling menyambung semrawut, membuat bangunan tua itu sangat beresiko tinggi untuk kebakaran.

“Baru pada 27 Oktober 1997, Pagelaran ini direhab seperti yang kita lihat sekarang ini. Setelah diadakan penelitian oleh UGM dan UNS, untuk mengembalikan keraton Kasunanan sebagai pusat kebudayaan. Sebuah pemugaran besar-besaran yang menghabiskan dana 2,25 Milyar.”

Sang guide sibuk menjelaskan dengan ramah pada rombongan abege gaul, yang aku tak yakin mereka benar-benar memerhatikan yang diterangkan.

Dan aku terus mengikuti ke mana pemandu itu menjelaskan sambil berjalan ke seluruh ruangan. Dengan terus berpura-pura memotret seluruh konstruksi bangunan yang ada. Termasuk sebuah bangunan yang berada tepat di tengah Pagelaran, yang disebut Bangsal Pangrawit.

Bangunan berupa rumah joglo kecil dengan 4 batang kayu jati tua berukiran kasar, yang konon peninggalan Kraton Jenggala. Di bawahnya tertanam sebuah batu andesit hitam, yang diyakini sebagai bekas batu singgasana Raja Majapahit, Hayam Wuruk.

Jaman dulu, Bangsal Pangrawit merupakan singgasana Raja ketika menerima laporan Patihnya. Namun sekarang sepertinya sudah tidak berfungsi, karena pada sekelilingnya dibuat pagar pembatas. Dan tepat di depannya terdapat papan bertulisan: ‘Dilarang Bermain di Pendopo’.

Saat membaca tulisan aku sempat tersenyum. Karena tepat di bawah papan pengumuman itu, kulihat seorang gelandangan tengah tertidur dengan nyenyaknya. Dan bukan hanya di depan Pangrawit saja, tapi hampir di setiap bagian Pagelaran, banyak orang yang tidur terlelap.

“Tidur itu bukan bermain, jadi mungkin boleh,” batinku sambil masih tersenyum.

Setelah memotret semua sudut Bangsal Pangrawit, aku mendekat kembali ke rombongan. Dan mereka tengah dibawa oleh guide ke luar ruangan, menuju ke sebuah meriam besar yang terpasang di sebelah timur halaman Pagelaran.

Aku pun ikut ke sana, dan kembali berpura-pura memotret meriam yang sangat besar itu. Yang dari papan nama di bawahnya terbaca namanya: Kyai Pancawura.

Pancawura berarti angin besar atau prahara,” sang pemandu kembali menjelaskan,” Namun ada juga yang menyebutnya dengan nama Kyai Pancawara, atau lima suara. Karena ketika dibunyikan, meriam itu sanggup mengalahkan kekuatan suara lima meriam lainnya. Dan karena bentuknya yang sangat besar, orang-orang menamakannya dengan Meriam Kyai Sapu Jagat.”

Aku yang hendak memotret meriam besar itu dari arah samping, mendadak mengurungkan. Karena remaja kriwil yang suka komen usil itu kembali berbisik pada temannya, “Wah si bapak ini payah. Jadi yang bener mana nih? Ini meriam apa sapu?”

Karena tak kuat menahan senyum terus mendenger kekonyolannnya, aku pun mundur menjauh dari mereka. Aku bergeser pindah tempat, namun tak terlalu jauh dari rombongannya. Tentu, agar masih bisa ikut mendengarkan penjelasan guide itu dengan tanpa bayaran.

“Setiap pengunjung yang datang ke Pagelaran, tak pernah melewatkan untuk mengusap meriam ini. Maka meskipun ini benda peninggalan lama, bentuknya sangat halus dan mengkilat karena sering diusap tangan. Sebab ada mitos yang mereka percayai, bahwa barang siapa yang bisa menangkupkan dua tangannya pada moncong meriam ini, maka orang itu akan beruntung.”

Mendengar penjelasan itu aku jadi ketularan usil, seperti remaja berambut kriwil itu. Aku pun membatin,“Ya iya lah, kalau memasukkan kepalanya ke moncong baru nggak beruntung!”

Setelah rombongan pergi meninggalkan meriam Kyai Pancawura, baru aku mendekatinya. Untuk memotret dari dekat meriam terbesar di keraton Solo ini. Yang sebelumnya, karena penjelasan dari pemandu, telah membuat beberapa remaja Jakarta itu pun ikut-ikutan mencoba peruntungan. Dengan berebut menangkupkan kedua tangannya pada moncong meriam.

Dari buku yang pernah kubaca, nama Pancawura sesungguhnya adalah sandi untuk tahun pembuatan meriam ini. Yaitu singkatan dari pandhita carem wuruking ratu. Dalam hitungan candra sengkala, sandi itu terbaca sebagai angka 1567. Yang berarti meriam tersebut di buat pada tahun Jawa 1567 atau 1645 Masehi.

Sedang asyik-asyiknya memotret, aku merasa ada seseorang yang tengah mendekatiku. Yang ketika kulirik sekilas, ternyata seorang ibu-ibu berdandan menor yang telah menjajariku.

“Dilihat dulu, Mas. Dibaca-baca dulu keterangannya,” ucapnya kemudian, yang ternyata hendak memromosikan barang dagangannya, yang berulang kali disodorkan padaku

Namun aku yang asyik memotret meriam peninggalan Raja Mataram, Amangkurat Agung itu tidak memedulikannya. Bahkan telah tiga kali kutolak dengan halus barang yang ia tawarkan.

Tapi ibu penjual itu sepertinya sangat bersemangat menawarkan, “Dilihat dulu barangnya, Mas. Dibuka bungkusnya, siapa tahu tertarik. Khasiatnya terbukti manjur, sudah banyak yang membuktikan. Bisa membuat seperti meriam Sapujagat itu lho, Mas.”

Aku pun kembali menyunggingkan senyuman untuk melakukan penolakan.

Dan aku tiba-tiba ternganga ketika tak sengaja melihat barang yang dipegang ibu penjual itu.

Sebuah kotak berwarna merah menyala yang sekilas kulihat ada gambar sosok lelaki perkasa. Dengan tulisan besar berwarna kuning keemasan: OBAT KUAT LELAKI SEJATI!

Astaghfirullah!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 25 Februari 2011 pukul 17:33

Catatan Kaki 58: Senyum Renung Ringin Kurung

Standar

 

Selepas berjalan mengitari Gladag, aku pun memasuki alun-alun.

Lapangan luas di depan keraton Solo ini, konon dulunya merupakan tempat prajurit berlatih perang. Juga sebagai tempat mengadu macan, dan menggelar upacara kebesaran kerajaan.

Latihan perang yang diadakan tiap hari Sabtu, hingga sering disebut dengan Gladen Setonan. Dengan masing-masing prajurit hanya bersenjatakan tombak berupa tongkat panjang yang dinamakan watang, hingga disebut juga dengan latihan Watangan.

Dan pada hari-hari tertentu, ketika Raja kedatangan tamu Gubernur Jenderal Belanda, digelar pertandingan adu macan melawan kerbau, yang dinamakan Rampogan Macan.

Dalam upacara Rampogan, macan dimasukkan dalam sebuah kandang yang diletakkan di tengah alun-alun. Di pinggirannya, ratusan prajurit rapat mengepung dengan bersenjatakan tombak tajam. Kemudian macan dipaksa keluar dengan membuka pintu kandang. Dan para prajurit menakut-nakutinya dengan membakar jerami kering hingga menjadi api yang berkobar.

Macan buruan yang tiap hari diberi makan daging anjing itu pun keluar. Bersamaan dengan dilepasnya seekor kerbau gemuk sebagai lawan tandingnya. Rampogan pun menjadi tontonan rakyat yang sangat menggembirakan. Bahkan konon mengalahkan kemeriahan upacara kebesaran lainnya. Seperti grebeg, tingalan jumenengan dalem, tedhak loji, dan jendralan.

Pada acara tersebut, Raja datang dengan pakaian kebesaran yang sangat mewah dan penuh lencana penghargaan. Kemudian duduk sejajar di samping sang Gubernur Jenderal, seolah hendak menunjukkan pada rakyatnya bahwa kedudukan mereka seimbang.

Sedangkan dalam pertandingan di tengah alun-alun, macan yang sedang melawan kerbau pun menjadi sebuah perlambang. Sudah menjadi pengetahuan rakyat, bahwa macan adalah binatang paling buas, sedangkan kerbau dikenal sebagai lambang binatang paling bodoh. Maka secara simbolisasi, Rampogan juga mengandung ajaran bagi rakyat Jawa, tentang perlunya menguasai yang buas demi kelangsungan peradaban manusia.

Upacara itu pun kemudian mempunyai makna tambahan, yakni dengan mengibaratkan macan sebagai penjajah Belanda yang bersifat buas. Dan kerbau yang diibaratkan sebagai rakyat Jawa yang selalu dianggap sebagai kaum bodoh yang terus harus terjajah. Seakan hendak menunjukkan bahwa Rampogan merupakan simbol perlawanan terhadap penjajah.

Aku pun terus berjalan dalam siang panas yang sangat menyengat.

Untungnya sekarang alun-alun yang terhampar luas itu telah ditanami rumput tebal. Padahal pada awalnya, pada jaman dahulu merupakan sebuah hamparan pasir tebal. Hingga pada siang hari yang terik, lautan pasir panas itu akan menyengat dengan sangat garangnya. Sementara ketika malam datang, angin dingin pun terasa menggigit sampai ke tulang. Ketika berdiri di tengahnya, seakan menghadang gelombang yang datang menerjang.

Konon sebuah perlambang juga bagi manusia, yang tak pernah dapat lepas dari gelombang kehidupan. Karena bermacam pengaruh dari luar, ibarat angin yang akan merasuki jiwa, menjadikan kita panas dingin ketika mencoba tegak menghadapinya.

Maka lapangan luas itu dinamakan alun-alun, karena alun dalam bahasa Jawa berarti gelombang.

Dari arah gapura Gladag menuju ke Pagelaran, ada jalan yang membelah alun-alun. Jaman dulu jalan yang melintang dari utara ke selatan itu hanya raja yang boleh melintasinya. Namun sekarang siapa saja boleh melaluinya.

Sambil berjalan pelan, aku melihat dua batang beringin lebat, yang tumbuh tepat di tengah alun-alun. Berada di kanan kiri jalan yang membelah lapangan luas itu. Dua pohon beringin yang konon ditanam bersamaan dengan pembangunan Keraton Solo pada tahun 1745. Beringin yang menurut sejarah, benihnya dibawa langsung dari bekas Keraton Kartasura.

Dan itu akan terlihat pada prosesi Boyong Kedaton yang tiap tahun diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Solo. Kirab perpindahan dari Keraton Kartasura menuju Keraton Surakarta, yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi kota Solo pada 17 Februari.

Penanaman dua pohon beringin pun kemudian dianggap sebagai semacam peletakan batu pertama bagi pembangunan keraton yang baru. Orang-orang sering menyebutnya dengan nama Ringin Kembar atau beringin kembar. Namun ada juga yang menyebutnya dengan Ringin Kurung yang berarti pohon beringin yang dikurung atau dirahasiakan. Maka sekarang kita dapati, keduanya pun diberi pagar kokoh yang mengelilingi lingkar batangnya.

Konon itu merupakan perlambang, bahwa pengaruh yang menghadang dapat kita hadapi dengan tenang, ketika bisa membuka tabir rahasia kehidupan.

Di Tanah Jawa pohon beringin juga disebut pohon hayat. Menjadi simbol pohon kehidupan. Seperti gunungan dalam kelir pewayangan. Pohon yang mampu memberikan kehidupan kepada segi-segi kemanusiaan. Dapat memberikan pengayoman dan perlindungan kepada semua. Juga mempertebal semangat dan keyakinan dalam hati sanubari rakyatnya.

Pohon beringin disebut juga dengan pohon wringin yang berasal dari kata wri dan ngin. Menurut para bijak, wri artinya mengerti dan ngin berarti waspada. Sebuah kebijakan yang diajarkan oleh pohon wringin untuk selalu mengerti dan waspada. Mengerti apa saja kejadian yang telah terjadi. Semua yang telah berlalu harus kita ketahui, sebagai pelajaran untuk melangkah ke depan. Kemudian memahami semua peristiwa yang sedang terlaksana, untuk kemudian dipelajari dan diambil hikmahnya.

Dalam kebijakan Jawa, pohon beringin juga dianggap sebagai perlambang pengayoman dan perlindungan. Ketika panas menyengat, kita bisa berlindung di bawah pohonnya yang lebat.

Hingga pada jaman dulu, di antara dua beringin kurung ini menjadi tempat ‘sowan pepe’. Yaitu tempat untuk melakukan unjuk rasa meminta keadilan pada Raja. Caranya adalah dengan berbaju putih, dan duduk bersila berjemur di tengah alun-alun. Menunggu sampai dengan Raja datang di Pagelaran, dan memanggilnya untuk dimintai keterangan.

Dan ditengah terik yang ganas menyengat, setelah berjalan lumayan lama mengitari Gladhag, aku merasa kehausan. Maka aku pun memesan segelas es buah pada penjual yang berdagang tepat di bawah Ringin Kembar yang lebat. Minum es di bawah rindangnya beringin sungguh pelepas dahaga yang sangat menyegarkan dan nikmat.

Sambil menikmati es buah aku mengedarkan pandangan.

Dan benarlah kiranya, bahwa beringin adalah lambang pengayoman dan perlindungan. Buktinya hari ini aku saksikan, banyak gelandangan yang tidur dengan sangat nyenyaknya. Terlelap aman damai sentausa di seputar pagar beringin kurung dengan tenangnya. Bahkan kulihat ada yang tertidur dengan rokok masih menyala di tangannya, bahkan mendengkur dengan kerasnya.

Masih sambil menghabiskan es buah yang lumayan segar, aku memerhatikan batang beringin yang sangat lebat.

Pada batang itu sempat kubaca sebuah papan nama. Suatu penanda yang sepertinya dibuat oleh sekelompok mahasiswa pecinta lingkungan. Karena pada papan itu tertulis: nama latin pohon beringin adalah Ficus Benjamina, yang termasuk tumbuhan famili Moraceae.

Sementara di dekat papan itu juga terpampang papan penanda yang lain. Dan aku tersenyum ketika membacanya. Papan sederhana yang di tulis dengah huruf acak-acakan, sebuah kalimat yang berbunyi  “Selamat datang, yang melayani pohon ini, Pak Sukardi.”

Aku baru tahu, kalau beringin kembar itu pun dianggap keramat. Hingga sampai ada juru kuncinya, dan banyak yang mempercayainya. Karena sekitarnya banyak terdapat bunga-bunga dan unggunan kemenyan. Bahkan kulihat seorang laki-laki tengah membakar pedupaan.

Setelah menghabiskan segelas es, seorang laki-laki tua datang dan duduk di depanku. Lelaki yang sebelumnya tengah membakar dupa di bawah batang Ringin Kembar itu.

Tanpa ditanya ia langsung bercerita, “Beringin yang tumbuh di sebelah kiri jalan itu dinamakan Jayandaru, sedangkan yang kanan bernama Dewandaru. Keduanya melambangkan kemenangan dan kejayaan. Bahwa kita bisa meraih kemenangan sejati, ketika bisa memegang dua senjata kehidupan. Itulah loro-loroning atunggal , kitab Qur’an dan Hadits Kanjeng Nabi.”

Mendengar kebijakan yang diucapkan, mendadak hatiku terbersit senyuman, “Berarti bukan dengan memegang kembang dan kemenyan, ya Ki?”

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Februari 2011 pukul 22:35

Catatan Kaki 57: BTC atau Bathangan Trade Centre Atau Pusat Perbelanjaan Yang Terletak Di Tempat Bangkai

Standar

 

BTC atau Bathangan Trade Centre artinya adalah pusat perbelanjaan yang terletak di tempat bangkai.

Dan aku kemarin baru saja berziarah dari tempat itu. Sebuah nama yang mengusikku sekian lama, sejak aku SD di kelas lima.

Ketika SD dulu, aku banyak belajar dari buku yang kupinjam di perpustakaan. Buku-buku pelajaran itu kubawa pulang, untuk teman belajarku di rumah. Dan kurasa, buku bantuan pemerintah itulah yang sangat membantuku bisa berprestasi di sekolah.

Karena seringnya membuka buku itu, aku sampai hafal seluruh tulisan di tiap halamannya. Bahkan sampai tulisan nama penerbitnya, yang bisa kulihat dari sampul belakang buku-buku tersebut. Salah satu yang masih kuingat adalah Penerbit Pabelan, sebuah penerbit buku pelajaran dari Solo.

Sejak itu, nama Pabelan terkenang di ingatanku, bahkan sampai dewasa. Hingga sepuluh tahun kemudian aku ke Solo, dan menemukan kantor penerbit itu. Berdiri megah di tepi jalan Jogja-Solo, di sebuah kampung bernama Pabelan.

Dan nama Pabelan pun semakin lekat di hati, karena setelah satu tahun bekerja, aku pindah ke kos di sebuah perumahan yang berada di kampung Pabelan. Letaknya di sebelah utara penerbit Pabelan, tepat di belakang komplek kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dengan beberapa mantan karyawan penerbit Pabelan, aku kemudian mendirikan usaha penerbitan.

Namun aku berdiam di kampung Pabelan hanya bertahan 4 tahun, karena harus pindah kontrakan. Rumah yang aku kontrak selama 2 tahun, dan baru kutempati 1 tahun mendadak dijual oleh pemiliknya karena bisnisnya bermasalah. Konon, untuk menutupi tanggungan hutang, ia jual mobil, tanah, dan rumah yang kutempati.

Aku pun pindah ke arah selatan, ke sebuah kampung bernama Gembongan. Dan sampai hari ini, aku betah berdiam di kampung ini. Dengan ketentraman yang lebih nyaman dibanding ketika masih di Pabelan, yang berada di batas kota Solo.

Dan nama Pabelan itu membuatku terkenang pada Raden Joko Pabelan. Sebuah nama yang pada waktu SD kutemukan dalam sebuah pagelaran kethoprak tobong.

Diceritakan dalam panggung kethoprak, Pabelan adalah seorang anak tunggal Tumenggung Mayang. Pemuda rupawan yang suka sekali memikat para perawan dengan paras ketampanannya. Telah banyak gadis-gadis yang terpikat dan merelakan kehormatannya. Bahkan juga istri-istri pejabat yang dibuat tergila-gila kepadanya.

Sang ayah sangat tidak suka dengan perilaku anaknya tersebut. Yang dianggap bisa menurunkan kewibawaannya, sebagai seorang tumenggung bawahan Kerajaan Pajang.

Telah berkali-kali Pabelan dinasehati ayahnya, agar menghentikan kebiasaannya. Menodai banyak gadis dan istri pejabat. Bahkan juga ditawari untuk segera menikah, dengan putri pejabat mana pun. Asal bisa berhenti dari kebiasaannya merenggut kehormatan para perawan, dan merusak kebahagiaan rumah tangga orang.

Tapi Pabelan menolak segala tawaran untuk melakukan pinangan. Ia tetap menyukai hidup melajang sebagai seorang kumbang jalang. Yang terus menghisap madu sari dari sebanyak mungkin kembang di kadipaten Pajang.

Tumenggung Mayang sangat jengkel dan marah pada anak tunggalnya. Yang semakin hari bertambah mencemarkan nama baiknya. Hingga saking marah dan bingungnya menghentikan kebejatan Pabelan, ia pun menantang Pabelan anaknya.

“Kalau engkau merasa seorang perayu yang hebat, jangan kepalang tanggung. Jangan hanya perempuan desa dan istri-istri pejabat yang kau berikan rayuan. Tapi cobalah kau taklukan hati Sekar Kedaton Ratu Hemas sang putri Sultan Pajang. Kalau kamu berhasil memikatnya, barulah kau boleh berbangga. Kau akan menjadi pembicaraan rakyat Pajang, dan akan tersohor namamu. Menikahi putri terkasih seorang raja terbesar di Tanah Jawa. Tidak seperti sekarang, hanya menjadi pergunjingan karena perbuatan nistamu yang selalu mengganggu anak dan istri orang.”

Dengan senyum jumawa, Pabelan pun menerima sindiran ayahnya yang bernada tantangan. Ia akan membuktikan kemampuannya dalam memikat hati perempuan. Dan akan dibuktikan keampuhan rayuannya.

Hanya saja, ia mempunyai kendala, “Tapi bagaimana aku bisa bertemu dengan putri Sekar Kedaton, yang tak pernah keluar dari kaputrennya?”

Dengan senyuman Tumenggung Mayang memberikan pertolongan, “Putri Sekar Kedaton terkenal sangat menyukai bunga. Dan tiap hari, embannya selalu datang ke pasar untuk mencari kembang segar bagi putrinya. Kau temuilah emban itu di pasar, dan berikanlah kembang untuk tuan putrinya.”

Tumenggung Mayang pun membekali sang anak seikat bunga cempaka, untuk jalan mendekati sang putri raja. Dan rencana itu pun dijalankan oleh Pabelan, untuk bisa berkenalan dengan Sekar Kedaton. Bunga cempaka yang telah diberi mantra pengasihan oleh ayahnya, dititipkan Pabelan pada emban putri raja Pajang tersebut.

Dan lancarlah rencana Tumenggung Mayang untuk sang anak tunggal tersebut. Karena keesokan harinya si emban menyampaikan pesan tuan putrinya, yang bermaksud mengundang Pabelan datang ke keputren Pajang.

Pabelan pun meminta kembali bantuan ayahnya, “Kerajaan Pajang sangat tinggi dan tebal temboknya. Tak mungkin bisa masuk, kalau harus meloncat. Dan tak mungkin diijinkan prajurit jaga, kalau melewati gerbangnya. Bagaimana caranya, ayah?”

Tumenggung Mayang memberikan jalan,” Tembok Pajang akan ayah turunkan dengan kekuatanku. Setelah itu kau bisa meloncat, dan tembok aku kembalikan semula. Dan hafalkan mantraku, ketika nanti kau akan kembali meninggalkan kaputren, agar tembok itu memendek kembali.”

Dengan mantra Tumenggung Mayang, tembok benteng Pajang pun bisa diloncati Pabelan. Dan malam itu ia pun berhasil menebarkan rayuannya. Sang putri kerajaan Pajang berhasil takluk bahkan tergila-gila kepadanya. Pabelan akhirnya bisa asyik masyuk dengan sang putri Sekar Kedaton, anak Joko Tingkir dari seorang istri selir.

Paginya, Pabelan ingin keluar dari kaputren Pajang. Rapal mantra dari ayahnya dibacakan untuk bisa menundukkan benteng keraton. Namun berkali-kali dibaca, benteng tembok tebal yang melingkari kawasan keraton tak juga menunduk. Karena tanpa sepengetahuan Pabelan, sebenarnya Tumenggung Mayang tak memberikan mantra yang sebenarnya. Dan menantang Pabelan untuk menaklukan hati Sekar Kedaton hanyalah cara untuk memberi pelajaran baginya, yang tak bisa lagi mendengarkan nasehatnya.

Karena tak bisa keluar dari kaputren, akhirnya Pabelan berdiam di kamar Sekar Kedaton. Dan berhari-hari Sekar Kedaton tak keluar kamarnya. Asyik bercengkerama dengan Pabelan, yang telah membuatnya tergila-gila. Karena mantra pengasihan dari bunga cempaka yang telah diterimanya.

Karena hampir sepekan Sekar Kedaton tak keluar kamar, hal itu mengundang curiga dari para emban pengasuhnya. Apalagi sempat terlihat, ada sosok laki-laki berada di kamarnya. Kecurigaan itu dilaporkan sang emban pada prajurit jaga, yang kemudian disampaikan pada sang Sultan Hadiwijaya, ayah Sekar Kedaton.

Amat marah Sultan Hadiwijaya sang Joko Tingkir ketika mengetahuinya. Raja Pajang itu langsung memerintahkan Tumenggung Surakerti untuk menangkap lelaki yang berada di kaputren. Kawasan yang seharunya tak boleh ada seorang pun laki-laki berada di sana.

Pabelan pun langsung ditangkap oleh prajurit Pajang. Dan tanpa ampun lagi, ia langsung digelandang keluar keraton. Dan tanpa perlawanan, puluhan prajurit  segera menghujaninya dangan tusukan keris di dadanya. Dan matilah Pabelan seketika dengan bersimbah darah.  Setelah itu, mayatnya dibuang ke Kali Laweyan.

Mayat pemuda yang hanyut itu terus terbawa arus ke arah timur. Hingga melewati aliran Sungai Pepe yang letaknya di timur desa Solo. Di situlah mayatnya tersangkut akar-akar pohon di pinggiran sungai.  Oleh Ki Gede Solo, sesepuh desa yang pertama melihatnya mencoba untuk mendorongnya ke tengah agar terbawa arus ke Bengawan Solo.

Tapi tiap didorong, selama tiga hari berturut-turut, esok paginya mayat tersebut tetap kembali ke tempatnya. Tetap menyangkut di akar-akar pohon pinggiran sungai. Seolah sebuah pertanda, bahwa ia ingin dimakamkan di desanya. Maka mayat Pabelan pun dimakamkan olehnya, tak jauh dari tempat jasadnya tersangkut, di barat desa Solo.

Tempat pembunuhan Raden Pabelan, konon yang sekarang menjadi nama kampung Pabelan. Sementara tempat dibuangnya mayat, diabadikan menjadi kampung Gembongan. Gembongan berarti tempat mayat, karena berasal dari kata gembung, yang dalam bahasa jawa berarti mayat. Dan letaknya di sebelah utara dari kampung yang sekarang bernama Mayang, yang dulu menjadi kadipaten Tumenggung Mayang.

Sedangkan tempat tersangkutnya mayat Pabelan sekarang bernama kampung Sangkrah. Berasal dari bahasa Jawa sangkrah yang artinya tersangkut. Kemudian tempatnya dikuburkan sekarang bernama kampung Bathangan. Berasal dari bahasa Jawa bathangan yang berarti tempat bangkai.

Sampai sekarang, kuburan Pabelan pun dikenang orang sebagai makam Kyai Bhatang. Dan banyak yang mendatanginya, untuk meminta berkah. Untuk mendapatkan ajian pengasihan, seperti yang dulu dimiliki Raden Joko Pabelan.

Dan kemarin aku baru datang ke sana. Setelah lama penasaran mencarinya, dan kesulitan untuk menemukan tempatnya. Karena makam itu ternyata berada di sebuah tempat yang tak pernah kukira sebelumnya. Yakni berada di tengah-tengah areal pusat perbelanjaan Benteng Trade Centre. Tepat berada di belakang kawasan pusat niaga tersebut.

Pusat perbelanjaan itu dinamakan Beteng Trade Centre, karena letaknya persis di selatan Benteng Vastenburg. Orang Solo memang menyebut ‘benteng’ dengan nama ‘beteng.’

Dan dalam perjalanan pulang, aku sempat tercenung. Karena di areal itu terdapat makam Kyai Bathang, bagus juga kalau diganti menjadi Bathangan Trade Centre. 

oleh Nassirun Purwokartun pada 22 Februari 2011 pukul 22:47

Catatan Kaki 56: Mulut Sobek Sang Tejamantri

Standar

 

Niatku ke Gladag sebenarnya untuk mengganti kaca mata, yang pecah karena keinjak tanpa sengaja.

Di sepanjang Gladag memang bertebaran kios-kios optik kaki lima. Dan aku punya langganan di sana. Harganya murah, hasilnya memuaskan, namun tak berkesan murahan.

Kiosnya asyik dan unik. Ada sebatang beringin rindang berdiri tepat di depannya. Di pohon itu terpasang nama kiosnya, plus peraga pengukur mata. Jadi kalau di optik besar pengukur plus minus terpasang di dinding, ini cukup di salah satu batang beringin.

Dan untuk mengukur berapa minusnya, aku duduk di kursi kiosnya, dengan memandang ke pohon beringin. Menatap alat peraga itu. Mataku pun mulai dites, untuk membaca huruf-huruf yang tertera di sana, dengan berganti-ganti ukuran lensa.

“Coba Mas, dibaca baris ke dua dari bawah,” katanya sambil memasang lensa minus tiga di kaca mata peraga, yang terpasang di depan mataku.

“Gak kelihatan, mas,” jawabku karena baris-baris kecil itu memang kabur dalam pandangan mataku.

“Tapi Sampeyan gak buta huruf, kan?” tukasnya bercanda, sambil mengganti lagi dengan lensa yang lebih tebal ukuran minusnya.

“Sialan,” batinku merutuk mendengar celetukannya. Namun justru itu, aku cocok dengan pelayanannya, bahkan kemudian menjadi pelanggannya, selama hampir lima tahun ini.

Dan di pohon itu, bukan hanya plang papan nama dan peraga saja yang terpasang.  Tapi juga bertengger sangkar-sangkar burung, yang kicauannya turut menyemarakkan suasana. Aku sering memejamkan mata, ketika sedang menunggu ganti lensa. Sambil membayangkan berada di tengah alam bebas yang cukup mendamaikan jiwa.

Namun yang lebih mencengangkan adalah sebuah televisi pun turut terpasang di sana. Sebuah televise warna 20 inch yang berada di dalam kotak kayu, dan digantungkan di salah satu dahannya. Sebuah benda yang cukup menjadi hiburan di sela-sela mereka menunggu pelanggan. Juga bagi mereka yang menunggu kaca mata yang telah dipesan.

Dari televisi itu, aku sempat menikmati kehebohan nonton bersama. Ketika kasus rekaman Anggodo disiarkan di Mahkamah Konstitusi. Semua mengikuti dengan seksama dan penuh perhatian. Berkumpul orang-orang yang biasa mangkal di sepanjang Gladag. Dari tukang optik, tukang parkir, tukang stiker, pedagang kaki lima, asongan, loper koran, tukang korek gas, pemulung, pengangkut sampah, hingga pedagang hik. Beberapa bahkan berkomentar layaknya pengamat hukum dan politik. Sebuah tontonan yang sangat menghibur, melebihi sinetron dan gosip artis.

Menurut tukang optik, ternyata kacamataku agak lama dibuatnya, karena yang kupesan yang tanpa frame. Maka untuk mengisi waktu, aku pun jalan-jalan di seputar Gladag.

Aku berjalan ke sebuah gedung yang di depannya berdiri patung Bimaruci. Sebuah patung yang menggambarkan Werkudara atau Sang Bima tengah bertarung dengan naga laut. Aku tertarik karena pada waktu kecil, aku pernah menggambar adegan yang sama.

Ingin masuk, tapi terlihat gedungnya sepi seperti tanpa penghuni. Kubaca plang di atas pintu utama, tertulis ‘Balai Kerajinan Wayang Kulit’. Aku pun penasaran. Hatiku tertarik mengetahuinya, karena waktu kecil juga suka membuat wayang. Tapi yang dulu kubuat bukan dari lembaran kulit, melainkan dari kertas kardus.

Sejak kecil aku sudah suka wayang, bahkan sempat bercita-cita jadi dalang. Hingga aku pun hafal nama tokoh-tokohnya, berikut bentuk-bentuk wayangnya.

Aku pun berkeliling ruangan, melihat wayang yang sedang dibuat oleh dua orang  perajin. Yang satu sedang menggarap wayang Hanoman. Seekor kera sakti yang menjadi tokoh utama dalam cerita Ramayana. Pahlawan yang menyelamatkan Sinta dari cengkeraman Rahwana. Waktu aku kecil, aku pun pernah membuat wayang Hanoman. Sedang orang yang satunya lagi tengah membuat wayang yang terlihat ganteng. Seorang sosok pemuda tampan yang mengingatkanku pada tokoh Samba.

Tapi aku tidak yakin, karena tokoh itu tidak persis benar dengan Samba anak Sri Kresna. Aku pun bertanya pada perajin yang sedang mbabar (memberi warna) wayang tersebut.

“Ini namanya Tejamantri. Togog waktu masih muda…”

Aku tersentak sejenak. Ternyata sungguh berbeda dengan yang selama ini kita ketahui. Dan aku benar-benar baru tahu seperti inilah sosok Togog ketika masih tampan.

Waktu kecil kudapatkan dongengan tentang asal usul Togog. Bahwa konon, Sang Hyang Wenang mempunyai anak bernama Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal ini mempunyai istri bernama Dewi Rekawati , putri raja kepiting raksasa bernama Rekatama.

Pada suatu hari Dewi Rekawati, sang putri kepiting itu beranak dengan cara bertelur. Dan seketika itu juga anak yang berwujud telur itu terbang ke kahyangan menuju Sang Hyang Wenang. Telur itu menetas sendiri kemudian muncul tiga makhluk yang berasal dari kulit telur, putih telur dan kuning telur.  Dan sebagai seorang ayah, ia menamai ketiga anak yang lahir bersamaan tersebut. Anak yang berasal dari kulit telur dinamai Tejamantri , dari putih telur adalah Ismaya dan yang dari kuning telur itu Manikmaya.

Pada suatu hari mereka terlibat pertengkaran karena mempermasalahkan siapa yang akan menggantikan kedudukan ayahnya kelak, sebagai penguasa bumi dan langit. Manikmaya menyarankan agar diadakan pertandingan saja, untuk menentukan siapa pemenangnya. Dan bagi yang  menang, dialah yang berhak menjadi pewaris penguasa alam raya. Dan mereka sepakat, pertandingannya adalah dengan menelan gunung Mahameru dan kemudian memuntahkannya kembali.

Tejamantri yang sangat bernafsu melakukannya lebih dulu. Ia berusaha menelan dengan memasukkan ke mulut dengan dikulum terlebih dulu. Tapi ternyata mulutnya tidak sanggup, bahkan menjadikan bibirnya melebar dan sobek.

Sedangkan Ismaya mencoba dengan langsung menelannya, tanpa mengulum. Memaksanya langsung masuk kerongkongan untuk kemudian ke perut. Tapi ternyata, ia tak bias melanjutkan pertandingan. Karena ia tidak bisa mengeluarkannya kembali. Akhirnya perut Ismaya melebar membesar seperti hendak meletus.

Pertandingan itu tidak bisa dilanjutkan, karena gunung yang jadi alat perlombaan tidak bisa dikeluarkan dari perut Ismaya. Maka dengan kelicikan, Manikmaya menyatakan diri sebagai pemenangnya. Dan dialah yang melanjutkan takhta atas alam raya, dan bermukim di kahyangan. Sementara kedua saudaranya harus turun ke bumi, menjadi pengasuh dan punakawan di dunia.

Tejamantri yang mulutnya sobek kemudian menjadi Togog, menjadi penasehat para tokoh jahat. Sementara Ismaya yang perutnya membesar menjadi tokoh yang bernama Semar, yang menjadi sang pamomong para kesatria.

“Wayang adalah bayang-bayang. Menjadi gambaran perlambang untuk manusia. Karena sesungguhnya wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan,” kata sang perajin sambil terus memberi warna pada tokoh Tejamantri, sebelum berubah menjadi Togog.

“Sepeti Tejamantri ini. Bagus rupanya, tampan wajahnya. Tapi sombong akan kesaktiannya, gunung yang besar hendak ditelan. Maka beginilah akibatnya. Mulutnya sobek sangat lebarnya. Dan meskipun anak Dewa, hanya menjadi seorang Togog hina. Yang omongannya tak pernah dihiraukan, meski penuh petuah kebijakan!”

Perajin yang sedang mbabar Hanoman menimpali,  “Itu persis seperti koruptor di Indonesia, yang rakusnya bukan kepalang. Ingin menelan apa saja. Bukan hanya uang rakyat, tapi seluruh kesejahteraan kita disikat juga. Semoga besok di akhirat mereka itu sobek semua mulutnya. Togog-togog Indonesia yang bakal menjadi isi dasar neraka!”

Aku tersenyum mendengar serapahnya. Yang mendadak seperti pengamat politik saja.

“Beda dengan Hanoman. Meski pun kera, binatang yang hina, namun karena berbudi pekerti tinggi, maka kita mengenangnya sebagai seorang Resi, sosok yang suci.”

Aku sempat mengiyakan, sambil berpamitan untuk melanjutkan jalan-jalan.

Mandadak teringat ucapan seorang kawan, yang sekarang telah menjadi anggota Dewan. Bahwa perilaku kita kadang memang lebih buas dari para binatang.

oleh Nassirun Purwokartun pada 16 Februari 2011 pukul 22:29

Catatan Kaki 55: Burung-Burung Benteng Vastenburg

Standar

 

Aku keluar dari kerubutan tukang becak,  ketika kudengar sebuah suara meraung keras.

Segera berlari perlahan ke depan gapura Gladhag, mengikuti kerumunan orang-orang yang tiba-tiba berlarian. Kemudian dari arah barat kulihat sebuah kereta api berjalan lambat. Namun lengkingannya sangat keras memekakan telinga.

Sejenak, ingatanku terkenang pada buku ‘Babad Solo’ yang pernah ku baca. Tentang kereta trem yang pertama ada di Solo. Mungkin itulah salah satu sisa sejarahnya.

Karena konon, di tahun 1900an masuk kendaraan baru di Solo, bernama Sepur Trem.

Sebuah kereta yang ditarik kuda, dan muat 20 penumpang. Sebuah kendaraan eksklusif pada masa itu, hingga yang naik hanyalah orang-orang Belanda dan Cina saja. Jalurnya bermula dari Benteng Vastenburg di arah timur, melewati gapura Gladag, dan terus lurus ke barat menuju Purwosari, lalu dilanjutkan ke barat lagi ke pabrik gula Gembongan di Kartasura. Bentuk keretanya hanya satu gerbong, dan dengan ditarik kuda empat ekor. Untuk menjaga kencang lari kereta, setiap 4 km kuda penariknya diganti.

Baru pada tahun 1905an, kereta bertenaga kuda itu diganti dengan lokomotif. Gerbongnya pun bertambah menjadi 10 rangkai, hingga muat lebih banyak orang. Para penumpangnya pun tak lagi hanya orang-orang Belanda dan Cina.

Dan pada tahun 1916an, jalur keretanya diubah. Yang ke arah timur ditambah hingga menuju Wonogiri, dan yang ke arah barat bertambah sampai di Boyolali. Nama perusahaannya adalah Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij. Kereta ini berjalan pelan dan berhenti di setiap pasar, karena banyak mengangkut pedagang dari desa-desa di sepanjang Boyolali sampai Wonogiri.

Ketika raungan makin keras, dan kereta makin mendekat, lamunanku mendadak buyar. Dan aku justru mengikuti laju kereta yang pelan dengan memotretnya dari belakang. Kereta yang selalu membuat kalang kabut orang-orang yang berada di atas jalur rel yang melintas dari timur ke barat. Tepat di depan gapura Gladag.

Raungannya yang sangat keras, memberi tanda pada para pemakai jalan untuk minggir dari jalur kereta, karena sang kereta memang berjalan membelah kota.

Karena asyiknya mengikuti laju kereta, tak terasa aku berjalan terus ke arah timur. Sampailah di depan sebuah bangunan tua yang mengingatkanku pada sebuah benteng peninggalan Belanda. Orang-orang lebih akrab menyebutnya dengan Beteng.

Benteng ini dulu didirikan Belanda untuk mengawasi kegiatan keraton. Sebagai bentuk penindasan kolonial yang makin kuat mencengkeram, hingga keraton semakin kehilangan kekuasaannya dan tak bisa menentukan kehidupannya sendiri. Maka letaknya pun tepat di depan pintu masuk keraton, di sebelah timur Gladag.

Bangunan yang sangat kokoh ini bernama Benteng Vastenburg, yang berarti ‘istana yang dikelilingi tembok kuat’. Didirikan Gubernur Jenderal Gustaaf Baron van Imhoff  pada tahun 1775 hingga 1779, sekitar 32 tahun setelah berdirinya Keraton Solo.

Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang sama untuk teknik peperangan yang disebut seleka. Di sekelilingnya terdapat parit lebar yang berfungsi sebagai pertahanan dengan jembatan di pintu depan dan belakang. Di dalamnya terdiri dari beberapa bangunan barak militer. Dengan di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan.

Sebuah benteng pertahanan yang sangat penting di jamannya. Bahkan konon tentara Belanda yang diberangkatkan untuk menghancurkan pasukan Pangeran Diponegoro adalah prajurit dari benteng ini.

Aku ingin masuk ke dalamnya. Karena menurut kabar, katanya kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. Sebagian besar bentuk bangunan telah hancur. Hanya tembok benteng dan pintu gerbang utama yang masih kokoh. Keseluruhan lahan ditumbuhi ilalang lebat dan tinggi. Parit-paritnya pun ditumbuhi semak belukar tempat ular berbisa.

Namun pagar seng yang mengitari lahan seluas 40 ribuan meter persegi ini menghalangiku untuk melihat ke dalamnya. Hingga hanya bisa berkeliling melihatnya dari luar pagar.

Tiba-tiba pandanganku tertuju pada serombongan anak-anak kecil yang sedang berkerumun di bawah pohon klandingan yang lebat. Pohon rindang yang tumbuh di depan gerbang benteng yang telah melapuk. Tanpa pikir panjang, aku pun meloncat melompati pagar pembatas.

Ternyata anak-anak kecil itu sedang berburu burung prenjak. Aku pun berkenalan dengan mereka. Dan menanyakan caranya menjebak burung prenjak. Lalu ramai-ramai enam oran anak kecil itu menceritakan padaku dengan bangganya. Tentang keahlian mereka.

Caranya yaitu dengan menggunakan umpan seekor burung dan sebatang kayu berpulut. Burung umpan mereka letakkan dalam sangkar dan digantungkan di salah satu dahan. Sementara sebatang kayu kering melintang di bawahnya, dengan balutan pulut (getah pohon nangka) untuk menjebak burung yang terpikat kicauan sang umpan.

Burung umpan yang telah pandai berkicau, terus menyanyi di dalam sangkarnya. Kicauannya tersebut akan memancing burung-burung yang sedang bebas beterbangan.

Ketika mereka tertarik, burung-burung itu akan mendekat pada sang umpan. Mereka akan hinggap di sekitar sangkar, untuk berkicau bersamanya. Ketika mereka menginjak kayu berpulut, maka mereka terjebak dan tak bisa terbang lagi. Getah nangka yang sangat lengket akan membuat kaki dan badannya tak bisa bergerak. Burung prenjak pun terjebak, anak-anak bahagia bersorak.

Aku pun asyik berburu burung bersama anak-anak itu.

Kenanganku teringat pada masa kecil dulu di kampung. Yang juga suka menjebak burung. Cuma caranya berbeda. Bukan dengan sangkar dan getah nangka. Tapi cukup dengan tali panjang dan tebaran biji-bijian.

Tali panjang dibuat sebagai penjebak, dan biji-bijian sebagai umpan. Burung yang mendekat untuk memakan biji-bijian itu akan menggerakkan tali penjebak, dan membuat kaki sang burung terikat kencang dan terentang tak bisa terbang.

Sungguh aku bahagia hari itu. Dan aku tak menyangka, di tengah-tengah jantung kota, kehidupan berburu burung yang dulu kulakukan di pinggiran hutan, ternyata masih ada.

Bahkan ketika berjalan keluar dari halaman beteng yang lebih menyerupai hutan kota, kulihat beberapa kelompok orang yang juga tengah berburu burung yang sama.

Aku pun bertanya pada mereka.Yang menurutku beda dengan anak-anak kecil tadi, yang mencari burung sekedar untuk iseng saja. Orang-orang ini sepertinya telah menjadikan mencari burung sebagai pekerjaannya.

“Lumayan, mas. Kalau dapat yang sudah bisa berkicau, bisa dijual hingga laku sampai 200 ribu. Tapi kalau yang belum berkicau, ya paling 50 ribu.”

Aku pun tersenyum, mendengarkan cerita mereka. Yang tengah membanggakan nasib mujurnya, ketika dalam sehari pernah menjebak lima ekor burung. Hingga kerja sehari, mendapatkan satu juta.

“Apesnya kalau dapat yang warnanya kelabu. Nggak laku di pasaran. Paling-paling cuma dihargai 5 ribu,” tuturnya menutup perbincangan, karena konon hari itu dia belum mendapatkan satu pun burung.

“Rejeki memang kadang seperti burung. Kadang dikejar susah payah tak didapatkan, namun kadang tanpa disangka bisa datang tiba-tiba,” batinku tersenyum.

Kemudian ku meloncat lagi melompati pagar pembatas untuk keluar dari Beteng. Pagar pembatas yang dibangun pengembang yang mengklaim sebagai pemilik lahan Beteng.

Bangunan yang sarat nilai sejarah itu tengah terancam keberadaannya. Monumen sejarah bangsa yang seharusnya dikuasai oleh negara, entah bagaimana ceritanya, sekarang justru dimiliki oleh swasta. Bahkan sempat beredar kabar akan dihancurkan karena hendak dibangun pusat belanja dan hotel berbintang.

oleh Nassirun Purwokartun pada 15 Februari 2011 pukul 22:26

Catatan Kaki 54: Slow in Solo, Alon-Alon Waton Keraton!

Standar

 

Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan ulang yang telah banyak diketahui orang.

Aku justru ingin, sesekali bercerita tentang Solo dari sudut pandang yang lainnya. Solo yang tidak selalu identik dengan keraton atau pun budaya Jawa.

Karena sesungguhnya, masih banyak sisi menarik yang membuatku selalu terpikat dan terpesona dengan ranah rantauku ini. Pernik-pernik unik denyut kehidupan kota yang senantiasa membuat jatuh cinta. Hal-hal yang menjadikanku seperti menemukan masa lalu sekaligus masa depan, justru ketika jauh dari kampung halaman. Kisah-kisah kehidupan yang remeh temeh namun sangat membahagiakan.

Tapi sepertinya kisah-kisah seperti itu harus kutunda untuk diceritakan. Sebab tiap saudara atau sahabatku dolan ke rumahku, yang pertama mereka ingin kuantarkan, adalah keraton. Seolah-olah hanyalah keraton, yang ada dalam pikiran semua orang tentang kota bengawan ini.

Maka mau tidak mau, aku pun akan bercerita tentang perjalananku ke sana. Perjalanan panjang yang pernah kulakukan, untuk menelusuri kisah masa silam yang telah terlupa. Mengenang kejayaan kekuasaan yang selalu menyisakan legenda. Juga cerita-cerita dari bangunan tua yang mengajakku memaknainya.

Sebuah ziarah sejarah menyisir derak kehidupan dan pergantian jaman, yang terjadi di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat. Apa boleh buat!

Keraton Solo, begitu orang lebih gampang menyebutnya. Namun sebutan lengkapnya adalah Keraton Kasunanan Surakartahadiningrat. Yang berarti ‘istana tempat sang raja yang bergelar Sunan bertakhta di negeri Surakarta yang terindah di muka semesta’. Keraton yang merupakan peninggalan Mataram Islam di pedalaman pulau Jawa. Sebuah kerajaan hasil pemindahan dari keraton Kartasurahadiningrat.

Keraton Solo adalah kelanjutan dari kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di pulau Jawa sebelumnya.

Setelah kejayaan Majapahit runtuh karena perang Paregreg yang berkepanjangan, Kesultanan Demak Bintoro di pesisir utara Jawa berdiri tegak menggantikan. Raden Patah mampu membawanya mengalami puncak kejayaan. Namun setelah wafatnya Sultan Trenggono, Demak mengalami kegoncangan. Sebuah perebutan takhta yang menjadi awal kemundurannya. Bahkan kemudian sampai pada keruntuhannya.

Kesultanan Demak hancur karena sengketa keturunan Raden Patah. Hingga akhirnya kekuasaan dilanjutkan Kerajaan Pajang di pedalaman Jawa. Namun dengan meninggalnya Sultan Hadiwijaya, Pajang pun turut tenggelam. Kekuasaan beralih ke Mataram, di pesisir selatan Tanah Jawa.

Panembahan Senopati, sang raja Mataram mula-mula membangun kerajaannya di Kota Gede. Namun di masa Sultan Agung berkuasa, pusat pemerintahan Mataram dipindah ke Kerta. Dan raja penggantinya, Amangkurat Agung memindahkan lagi ke Plered, sebuah istana megah yang letaknya di selatan Kerta dan Kota Gede.

Kemudian setelah terjadi pemberontakan Trunojoyo, ibu kota Mataram pun berpindah lagi. Amangkurat Amral memilih Wonokerto menjadi pengganti Keraton Plered. Dan istana yang baru itu dinamakan Keraton Kartasurahadiningrat.

Pemberontakan terjadi lagi pada masa Mataram di bawah kuasa Paku Buwono II. Istana yang telah diduduki musuhnya, Sunan Kuning, dianggap tak lagi bisa dilanjutkan. Maka pusat pemerintahan pun berpindah ke arah timur Kartasura, menuju ke desa Solo.

Sejak itu desa di pinggiran Bengawan Semanggi itu pun berganti nama menjadi Surakarta, karena menjadi ibu kota Keraton Surakartahadiningrat.  Sebuah perubahan nama dari Kartasura menjadi Surakarta. Mengingatkan kita pada Tokyo dan Kyoto!

Kita bisa datang ke keraton Solo dengan naik apa saja. Bisa dengan becak, angkot, bus kota, taxi, atau pun mobil pribadi. Tergantung selera dan kenikmatan tamasyanya. Namun dari mana pun datangnya, berhentilah di Gladag.

Perempatan Gladhag adalah gerbang utama menuju keraton Solo. Orang lebih mengenalnya sebagai Gapura Gladag.

Kata gapura konon berasal dari kata ‘ghafura’ yang berarti pengampunan. Melambangkan niatan untuk mendekatkan diri pada Tuhan, yang diawali dengan meminta pengampunan atas segala kesalahan.

Gapura Gladhag merupakan bangunan peninggalan Paku Buwono III, raja kedua yang menempati keraton Solo. Sebuah pintu gerbang yang dibangun kembali dengan megah oleh Paku Buwono X pada tahun 1913. Hingga kalau diteliti, ada penanda berupa 48 pilar pagar dengan hiasan 48 plenthon pada bangunan ini. Sebuah penanda peringatan 48 tahun usia Paku Buwono X pada saat membangun gapura itu.

Di depan gapura, terdapat dua patung besar yang mengerikan. Orang-orang menyebutnya sebagai Reca Gladag, atau Patung Gladag. Sosok raksasa yang berada di kanan kiri gapura ini bernama Gupala Pandhitayaksa. Sebuah perlambang akan datangnya bermacam godaan dan rintangan, pada setiap niatan kebaikan yang hendak kita lakukan.Termasuk niatan untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Selepas meninggalkan gapura Gladag, kita akan memasuki satu gerbang lagi, yakin gapura Pagrogolan.

Kawasan ini konon, dulunya merupakan kandang hewan ketika sang raja gemar berburu binatang. Sebuah perlambang, bahwa setiap manusia memiliki sifat-sifat kebinatangan. Hewan-hewan buruan yang akan disembelih dikandangkan terlebih dulu di kanan-kiri gapura ini. Sebuah perlambang, agar kita semua bisa mengendalikan nafsu hewani yang ada pada diri kita.

Saat ini, setelah dua setengah abad sejak ditanam, pohon-pohon beringin di sekitar gapura telah sangat lebat. Daun-daunnya rimbun hingga menawarkan suasana kesejukan dan kedamaian. Menjadikan paru-paru kita sehat ketika melewatinya, dan bisa bernafas lega seperti tengah berada di sebuah alam bebas. Namun ini, justru berada di tengah jantung kota.

Dulu, trotoar di sepanjang kawasan ini sumpek oleh pedagang kaki lima. Namun sekarang, ada pelarangan dari pemerintah untuk berjualan di sini. Maka yang ada sekarang, tinggal jajaran ….. para pengemis.

Masuk lagi ke selatan, kita akan melewati gerbang satu lagi, yakni gapura Pamurakan.

Di sinilah binatang-binatang buruan yang sebelumnya berada di kandang itu disembelih. Sebuah petuah, bahwa untuk mendekat pada Tuhan, jalan pertama yang ditempuh adalah menyembelih nafsu kebinatangan kita. Membunuh nafsu hewani yang ada.

Sekarang, masih terdapat peninggalan masa lalu. Yakni sebuah batu landasan, yang dulu dijadikan alas penyembelihan hewan. Namun kini telah diabaikan orang, bahkan dijadikan alas penjual makanan menggelar dagangan. Inilah yang disebut orang dengan nama Sela Kentheng atau batu penyembelihan.

Memasuki sepanjang gapura ini, bersiap-siaplah menjadi orang terkenal, yang akan langsung dikerubuti banyak penggemar.

Karena begitulah yang dulu terjadi denganku. Aku yang selama hidup hanya orang biasa, serasa menjadi orang penting yang tiba-tiba disambut banyak orang.

Yakni para tukang becak yang menyambutku  penuh semangat keramahan.

“Keliling, Mas. Ke museum, ke keraton, cuma lima ribu!”

“Keliling keraton, pasar Klewer, batik Kauman. Sepuluh ribu saja, Mas!”

Namun dengan senyuman termanisku, keramahan yang sangat hangat itu kutolak dengan hormat. Aku ingin berjalan-jalan dengan jalan kaki saja. Selain biar bisa menikmati suasanan yang ada, juga demi kesehatan.

Tentu, kesehatan badan dan terutama kesehatan kantong.

Maka dimulailah ‘Slow in Solo!’

oleh Nassirun Purwokartun pada 11 Februari 2011 pukul 22:29

Catatan Kaki 53: Di Kamar Mandi, Buku-Buku itu Kuhabisi!

Standar

 

Tak pernah kusangka, ternyata buku sudah menjadi bagian hidupku.

Menjadi makanan sehari-hari sejak kecil dulu. Hingga membuatku seperti pecandu, yang lebih mementingkan membeli buku, dibandingkan baju, celana, apalagi sepatu.

Maka membaca pun seolah telah menjadi bagian penting dari kehidupanku. Merupakan kebutuhan utama, seperti bernafas, makan, minum, dan tidur. Hingga di mana pun berada, aku tak pernah bisa lepas dari memegang buku.

Termasuk ke mana pun pergi, tak bisa tanpa membawa satu-dua buku di dalam tas punggungku. Untuk dibaca di dalam bus atau kereta, ketika perjalanan ke luar kota.

Pokoknya ke mana pun pergi, bekal buku harus selalu kubawa. Termasuk ketika mengantar anakku terapi. Aku merasa tak bisa bengong tanpa mengerjakan apa-apa, ketika menunggui anak yang sedang difisioterapi. Maka untuk membunuh waktu yang membosankan, aku habiskan dengan membaca di ruang tunggu Rumah Sakit.

Kebiasaan menjadi pecandu buku, ternyata berdampak pada berantakannya rumahku.

Karena di mana pun ruangan, akan ditemui serakan buku. Dari mulai ruang tamu, ruang keluarga, kamar Ummi, kamar tidur, kamar kerja, sampai ke gudang, bahkan juga di kamar mandi. Selain tentu saja perpustakaan pribadiku, yang memang khusus untuk menyimpan beberapa ribu buku koleksiku. Kamar sumpek ukuran empat meter pesegi yang keempat dindingnya telah rapat oleh lemari dan jajaran rak buku.

Kalau kurenungkan, berserakannya buku itu, sebenarnya hanya buah kemalasanku saja. Yang selalu malas untuk merapikannya kembali. Atau tepatnya enggan mengembalikan ke perpustakaan, untuk buku-buku yang belum selesai kubaca. Dengan alasan, biar gampang ketika mencarinya, maka kutaruh begitu saja, di mana tadi kubaca.

Dan ini sebenarnya kebiasaan buruk yang terbawa sejak kecil dulu. Kebiasaan jelek yang terbawa sampai tua. Hal yang pada awal-awal pernikahan sering membuat Ummi ‘bernyanyi’, karena ruangan yang sudah tertata rapi selalu berantakan tiap hari.

Berantakan yang sebenarnya juga disebabkan oleh kebiasaan jelekku lainnya. Yang tak bisa membaca sambil duduk, dan tak suka menghabiskan buku dalam sekali baca.

Aku tak pernah bisa bertahan duduk untuk membaca. Bisa bertahan 15 menit, itu sudah luar biasa. Karena sejak kecil telah terbiasa membaca sambil tiduran. Dengan begitu aku bisa membaca berjam-jam. Kebiasaan jelek yang telah berjalan puluhan tahun, hingga membuat mataku makin rusak saja. Dan kaca mataku bertambah tebal minusnya.

Dan itu diperparah dengan kebiasaanku yang tak suka menghabiskan satu buku dalam sekali baca. Aku lebih menikmati membaca bermacam buku, dalam waktu bersamaan. Misalnya ketika di ruang tamu, aku membaca buku sastra. Sementara di ruang keluarga, kulanjutkan dengan buku agama. Dan di kamar tidur, kunikmati buku filsafat dan humaniora. Sementara di kamar kerja kuteruskan mengeja buku budaya Jawa.

Jadi dalam sehari, aku bisa membaca bermacam ragam buku. Tergantung di mana membacanya, menemukan buku apa, dan sedang ingin membaca buku yang mana.

Karena itulah, perpustakaan hanya untuk menyimpan buku saja. Bukan kamar untuk membaca. Apalagi entah kenapa pula, aku tak pernah bisa membaca di sana. Aku lebih menikmati membaca buku di mana saja.

Termasuk ketika menemani anakku menonton tivi. Sambil menungguinya menonton CD lagu-lagu Islami, aku tiduran di karpet dengan tivi. Dan sebuah buku kubuka untuk kubaca. Setelah selesai, buku itu tak kukembalikan ke perpustakaan. Tapi hanya ditaruh di atas tivi. Atau kulempar begitu saja ke pojokan lemari.

Begitu pun ketika kemudian pindah ke ruang tamu. Dengan tiduran di sofa sudut, melihat anakku membuat mainan, aku membuka buku. Sambil membantu anakku, aku membaca buku yang ada di bawah meja. Dan begitu selesai, aku geletakkan kembali di sana.

Demikian juga ketika pindah ke kamar Ummi. Setelah menemani menidurkan anak dan Ummi pun turut tertidur, aku sempatkan membaca. Sebelum kemudian pindah ke kamar tidurku sendiri. Yang dilanjutkan membaca buku lagi. Buku yang biasanya sedang kutargetkan untuk segera kuhabiskan, karena sedang menjadi referensi tulisanku.

Aku dan Ummi memang beda kamar tidur. Kami tidur sendiri-sendiri. Semua karena aku tak bisa tidur di kamar Ummi, dan Ummi pun tak suka tidur di kamarku. Ummi tidur dengan anakku yang kedua, sementara aku tidur di kamar depan yang jendelanya lebar. Aku tak bisa tidur bersama Ummi yang jendela kamarnya sempit. Sebab aku suka sesak nafas, yang membutuhkan kamar yang luas serta sirkulasi udara yang lebih bebas.

Karena kamar kami berlainan, maka kamar tidurku lebih berantakan dibanding kamar Ummi. Itu pula alasannya kenapa tak mau tidur di kamarku. Karena ranjang kamarku penuh sesak oleh serakan buku. Sementara Ummi pun tak berani merapikan. Karena seringkali malah mangacaukan susunan yang sudah kuhafalkan.

Banyaknya buku di kamarku, karena di ranjang itulah aku bisa berjam-jam membaca. Terutama ketika sedang malas menulis atau menggambar. Apalagi aku memang sulit sekali tidur awal. Penderita insomnia berat, yang bisanya tidur di atas jam 1 malam. Dan sambil menunggu kantuk datang, aku banyak menghabiskan buku dengan tiduran.

Namun itu dulu. Kenikmatan yang bisa kudapatkan sebelum aku bekerja. Ketika masih punya waktu 24 jam sehari, yang tak terkurangi dengan jam kerja seperti sekarang ini.

Sekarang aku tidak bisa lagi membaca di beranda seperti dulu lagi. Sambil melihat anakku bermain di halaman, atau ketika menikmatinya hujan-hujanan. Sambil tiduran di sriban depan, sesekali bercanda dengannya yang sangat menikmati main air hujan.

Aku pun tak bisa lagi menikmati membaca di kamar tidurku sambil menunggu kantuk. Karena setelah pulang kerja pada dini hari, penat dan kantuk sudah menyerang. Apalagi sering kali sampai rumah, anak dan istri sudah lelap dan tertidur nyenyak.

Begitu pun dengan kenikmatan membaca di ruang tamu dan di ruang keluarga. Waktu yang 4 jam tak memungkinkan lagi untuk itu. Hanya bisa kugunakan untuk menulis dan menulis saja setiap harinya. Untuk merampungkan novel yang sudah berulang kali dikejar penerbit, dan juga ditanyakan pembaca kapan terbitnya.

Maka sungguh, kenikmatan membaca telah hilang dari waktuku. Aku tak punya waktu seluang dulu. Karena kalau aku gunakan untuk membaca, maka jatah waktu 4 jam itu untuk menulis menjadi terkurangi. Dan aku tak ingin melakukan itu.

Maka aku harus mencari waktu lagi. Tepatnya ‘mencuri’ dari seluruh waktu yang sudah sangat sempit itu. Untuk bisa menikmati membaca, seperti dulu lagi.

Dan waktu ‘curian’ itu, kemudian kutemukan di kamar mandi.

Inilah kebiasaan jelekku yang berikutnya, yang merasa sangat nyaman berada di sana sambil membaca buku. Sejak kecil dulu, ketika ke ‘belakang’ aku pasti membawa buku. Kebiasaan yang terus terbawa sampai tua. Hingga ketika sudah berkeluarga, aku pun memasang rak buku di kamar mandi. Hal yang membuat saudara dan beberapa teman yang sempat melihatnya dibuat keheranan, bahkan menertawakan.

Tapi memang di kamar mandi itulah aku menemukan sisa waktuku.

Sisa-sisa dari seluruh kesempitan kesempatanku. Dan dalam kenyamanan kamar mandi, banyak sudah buku-buku yang kuhabiskan di sana. Terutama buku-buku yang mendukung tulisanku. Buku-buku tebal yang menjadi rujukan utama penulisan novelku. Terutama serat-serat dalam bahasa Jawa, yang membutuhkan perhatian penuh ketika membaca dan menelaahnya.

Dan kesenyapan kamar mandi, telah menolongku untuk mampu berkonsentrasi tinggi.

Maka ternyata, di antara sempitnya kesempitan masih tersisa kesempatan. Meski aku menemukannya di kamar mandi. Kamar yang bagi orang lain bukan tempat yang nyaman untuk membaca dengan sepenuh kenikmatan.

Sebuah kebiasaan jelek yang tak perlu ditiru, oleh orang yang punya banyak waktu luang dan kesempatan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 10 Februari 2011 pukul 22:35

Catatan Kaki 52: NasSirun PurwOkartun dan Nasruddin Hoja Masih Saudara!

Standar

“Peliharalah ayam di rumahmu, setidaknya 5 ekor saja!”

Begitu nasehat Nasruddin Hoja ketika ada yang curhat padanya. Seorang tetangganya yang terkenal bodoh, yang sedang berkeluh kesah tentang rumahnya yang sesak. Kesumpekan yang makin terasa dengan keributan 7 anaknya yang masih kecil-kecil.

Nasehat itu pun diturutinya. Namun seminggu kemudian, ia datang lagi ke rumah Nasruddin. Dan keluhannya telah bertambah. Soalnya rumah yang sudah sumpek bertambah sesak dengan adanya ayam-ayam yang bebas berkeliaran.

Mendengar itu, Nasruddin pun menenangkan, “Sabar. Semua masih baik-baik saja. Jangan  terburu ingin melihat hasilnya, sebelum semua dikerjakan. Aku kan belum selesai memberikan nasehat untukmu. Sekarang, peliharalah 5 ekor merpati di rumahmu.”

Tetangga itu pun menuruti nasehat Nasruddin. Namun minggu berikutnya dia datang lagi, dan tambah berkeluh kesah. Rumahnya makin berantakan tidak karuan. Ayam dan merpati membuat suasana makin kacau. Karena menjadi mainan ke tujuh anaknya.

Nasruddin pun tersenyum saja, “ Sabar. Aku jamin bulan depan kau akan tenang tinggal di rumahmu. Tapi peliharalah dulu 2 ekor kambing di rumahmu.”

Nasehat itu pun dilakukan juga. Dan pekan depannya, tetangga itu bukan hanya berkeluh kesah, tapi malah marah-marah, “Rumahku makin berantakan. Tambah sempit dan sesak. Ayam, merpati, dan kambing bau itu telah menambah sumpek rumahku!”

Nashrudin kembali tersenyum, “Aku kan bilang butuh waktu sebulan. Coba sekarang kau jual ayam-ayammu itu. Minggu depan kita lihat keadaan rumahmu.”

Pekan berikutnya si tetangga dengan tersenyum cerah melapor padanya. “Benar juga nasehatmu. Rumahku sekarang sudah agak lega. Nah, apa nasehat berikutnya?”

“Sekarang jual semua merpatimu. Kita lihat minggu depan bagaimana keadaan rumahmu.”

Tetangga bodoh itu pun menuruti nasehat itu. Dan minggu depannya, ia menceritakan lagi, tentang rumahnya yang terasa lebih longgar. Nasruddin pun tersenyum. Dan memberikan saran terakhirnya, untuk menjual kedua ekor kambingnya.

Setelah itu, ia pun makin tersenyum lebar, “Rumahku sekarang benar-benar longgar. Terasa luas sekali. Aku bisa tinggal dengan lapang dan lega, tidak seperti sebelumnya. Terimakasih atas segala nasehatnya.”

Nashruddin, sufi bijak dari Turki itu tersenyum simpul. Menertawakan kegembiraan tetangganya yang tak menyadari kebodohannya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat kisah itu. Kisah kebijakan Nasruddin Hoja yang pernah kubaca waktu SMP, dari sebuah buku kecil yang kubeli di kios loakan. Kisah tentang kebodohan dalam melihat apa yang kita miliki, namun sering kali tidak disyukuri.

Mungkin itulah yang terjadi denganku selama ini. Membuang waktuku dengan sia-sia, hingga untuk menulis pun selalu ada alasan tak punya waktu. Dan aku ingin memerbaikinya. Dengan jalan yang sama, sesuai nasehat Nasruddin Hoja.

Maka hari-hari ini, sesungguhnya aku sedang belajar menjadi tetangga Nasruddin yang bodoh itu. Yang ingin menikmati rumahnya yang sempit menjadi longgar. Dan aku sedang ingin menikmati kelonggaran waktuku dalam seluruh kesempitan yang ada. Justru dengan cara menambah kegiatan menulis, pada waktuku yang sudah sangat sempit itu

Bahwa waktuku untuk bisa menulis hanyalah 4 jam setiap hari. Dalam waktu sesingkat itu, aku harus bisa memanfaatkannya dengan membaca, merenung, menyimpulkan, dan menjadikannya tulisan. Dengan target setiap hari menulis 2 sampai 3 halaman.

Menulis sebanyak 3 halaman sebenarnya target yang sangat keras. Karena dari waktu yang sempit itu, tak selamanya otak lancar untuk mengalirkan ide. Meski rancangan bab telah kubuat sebelumnya dan tinggal mengembangkan, namun mood tidak selamanya baik. Maka bisa saja dalam sehari aku hanya menghasilkan halaman kosong saja.

Namun kebuntuan itu, ingin aku pecahkan. Dan caranya adalah dengan menambah tulisan. Dan itulah awal mula mencetuskan ide menulis ‘Catatan Kaki’. Yakni menulis dalam waktu cepat, 1 jam saja setiap hari, sebelum mulai menulis novel. Yang itu kulakukan untuk membuka otakku, agar mood segar, dan ide pun mengalir lancar.

Selama ini aku memilih waktu menulis pada pagi hari. Karena itulah waktu yang paling memungkinkan. Setelah mengantar anakku sekolah pada jam 8 pagi. Sampai jam 12 siang, ketika bersiap dhuhur dan dilanjutkan menjemput anakku kembali.

Dalam hitungan waktu yang sangat singkat itulah, aku harus benar-benar mampu memusatkan perhatian. Sebuah kerja keras yang sangat menguras energi. Namun harus kulakukan, karena hanya itulah waktuku. Dan tak mungkin mengurangi 20 jam waktu lainnya, dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban yang lebih penting.

Maka sesungguhnya, dengan waktu mepet itu, aku benar-benar seperti tetangga yang bodoh itu. Karena dalam waktu yang sudah sempit, aku masih harus menyempatkan menulis ‘Catatan Kaki’ tiap hari. Dengan panjang 2 sampai 3 halaman tiap pagi.

Namun ini akan aku nikmati sepenuh hati, agar makin bisa merasakan betapa nikmatnya punya waktu luang.

Aku ingin belajar menjadi orang yang cerdas, yang bisa memanfaatkan sesempit apapun waktuku. Dan semoga bisa meningkat menjadi orang bijak, yang bisa membuat seluruh kesempitan waktu menjadi kesempatan untuk tetap menghasilkan tulisan. Hingga tak ada lagi alasan tak punya waktu untuk menuliskan pikiran dan perasaaan.

Maka hari ini, sungguh luar biasa bahagia syukurku, pernah mengenal nama Nasruddin Hoja. Bukan untuk menertawakan kebijakannya. Namun untuk mencoba menghikmati nasehat-nasehatnya, yang kadang lepas dari aturan logika normal orang biasa.

Nasruddin Hoja, adalah seorang sufi yang hidup di Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Mongolia.

Sewaktu muda, ia sering membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya. Namun karena itu, teman-temannya menjadi melupakan pelajaran sekolahnya. Hingga konon gurunya yang bijak, pernah berkata: “Kelak ketika dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan mentertawakanmu.”

Maka aku pun sepertinya mempunyai nasib begitu juga. Contoh kecilnya, ketika sesekali ingin menulis status facebook yang bijak, teman-teman yang membaca malah tergelak.

Jangan-jangan aku memang masih saudaranya Nasruddin Hoja. Siapa tahu saja.

oleh Nassirun Purwokartun pada 9 Februari 2011 pukul 22:31

Catatan Kaki 51: Sehari Semalam Cuma 4 Jam!

Standar

 

“Tuhan benar-benar Maha Adil. Buktinya, Dia memberikan waktu yang sama pada tiap makhluknya. 24 jam sehari semalam.”

Begitu bunyi status facebook temanku, seorang kartunis ternama. Kata-kata dari orang yang gemar bercanda, namun dari kalimatnya terbaca kedalaman renungannya.

Dan hatiku tersentuh ketika membacanya. Sampai lupa memberi koment untuknya.

Kita semua, ternyata punya modal waktu yang sama. Hingga mestinya, juga mempunyai peluang yang sama, apakah akan berhasil ataukah gagal menggapai cita-cita. Karena kesempatan yang ada tidak berbeda, antara satu dan lainnya. Antara yang sukses dan gagal, sehari semalam sama-sama mempunyai waktu 24 jam.

Namun konon, hanya orang cerdas yang bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Dan hanya orang bijak yang bisa membuat semua kesempitan menjelma kesempatan.

Sayangnya, aku mungkin tidak masuk keduanya. Karena tetap saja merasa tak punya kesempatan, hingga selalu berada dalam kesempitan waktu yang ada.

Dan itulah yang membuatku sampai sekarang tak pernah bisa menulis. Hingga cita-cita masa kecil sebagai penulis pun harus tertunda sepuluhan tahun lamanya.

Entah mengapa, selama ini ada saja alasan untuk tidak menulis. Dan kambing hitam dari segala kesempatan itu adalah karena kesempitan waktu.

Aku selalu merasa kehabisan waktu untuk menulis secara rutin. Hingga selama ini, sepanjang sepuluh tahun ini, seolah tak ada waktu tersisa untuk serius menulis. Yang ada hanyalah sambil lalu saja. Ketika ada keinginan, saat itulah aku giat menulis. Sementara kalau sedang tak ada mood, maka tak ada tulisan apapun yang dihasilkan.

Maka sungguh malu, ketika merasa diriku penulis, bahkan menjadi pengurus organisasi penulis, namun justru tak pernah menulis.

Saking malunya pada diriku sendiri, aku bahkan sampai tercenung lama. Bahwa sempitnya waktu, sepertinya hanya alasan untuk menutupi kemalasan. Hingga ketika aku mengaku penulis namun tidak menulis, rasanya tidak beda dengan orang munafik. Yang mengaku diri beriman, tapi tak meyakini rukun iman. Yang mengaku muslim tapi tidak menunaikan rukun Islam.

Karena perasaan itulah, aku semakin malu untuk selalu menyalahkan sang waktu. Dan terlecut betul ketika menyadari bahwa semua kita mempunyai waktu yang sama, 24 jam sehari semalam. Hanya tinggal kebodohan kita saja, untuk selalu tidak pernah mampu memanfaatkan sebaik-baiknya. Padahal sejak kanak-kanak, sering kali kita hafalkan ayat, “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian!”

Karena tak mau rugi itulah, aku tak ingin mengkambing hitamkan waktu lagi. Tak ingin membuat alasan tidak mempunyai waktu, untuk serius menulis kembali.

Pokoknya, tak ada lagi alasan apa pun, yang berkaitan soal kebobrokanku mengatur waktu, yang menjadi pembenaran untuk tidak menghasilkan tulisan. Aku harus membuang alasan, untuk meraih impian. Karena di balik setiap alasan, yang ada hanyalah kemalasan. “Dan kemalasan pada diri kita, sering kali lebih manis dibanding madu,” begitu nasihat ulama besar Mesir, Ali Thontowi, yang makin membuatku malu.

Jadi mestinya jangan pernah merasa tak punya waktu untuk menulis. Sesempit apa pun itu, harus dijadikan kesempatan. Itulah yang kupancangkan di hatiku.

Meski jujur, sesungguhnya waktuku memanglah sangat sempit. Karena setelah kuhitung-hitung, dari 24 jam waktuku, telah habis 20 jam untuk menunaikan kewajiban-kewajibanku. Hingga untuk hakku sebagai seorang penulis, hanya tersisa 4 jam saja.

Hitungannya adalah begini. Sebagai seorang ‘kuli’ yang harus ngantor tiap hari, aku harus menepati waktu kerja 8 jam sehari. Sementara untuk persiapan dan perjalanan pulang balik kantor sudah menghabiskan waktu 2 jam. Jadi total untuk kewajibanku sebagai orang yang harus ‘ngandang’, telah kehabisan waktu 10 jam tiap hari.

Maka setelah itu, waktuku masih tersisa 14 jam lagi.

Namun itu pun harus terbagi lagi untuk kewajiban yang lain. Yang lebih banyak dan seringkali menghabiskan seluruh waktuku. Yakni kewajibanku sebagai manusia, kewajibanku sebagai suami dan kepala keluarga, serta kewajibanku sebagai seorang ayah.

Kewajiban pertama adalah hakku sebagai manusia normal yang butuh makan, minum, mandi, buang air, menonton berita, membaca, istirahat, tidur, berdoa, berolahraga, dan beberapa kesenangan ‘manusiawi’ lainnya.

Juga kewajiban sebagai seorang suami yang wajib memerhatikan hak istri dan keluarga. Menyediakan waktu untuk membina kehidupan rumah tangga normal, dengan komunikasi yang selalu terjaga. Meski waktu yang ada selalu membuatnya tak bisa berlama-lama menikmati kehangatan keluarga. “Yang penting kualitas, kan, Mi”, begitu alibiku yang sering ku’gombal’kan pada Ummi.

Plus sebagai ayah yang mempunyai anak kecil yang baru bersekolah TK. Harus mengantar jemput sekolah, dan memenuhi kebutuhannya bermain setiap pulang sekolah. Karena anakku memang lebih suka membuat mainan sendiri, daripada membeli mainan yang sudah jadi. Dan mengetahui ayahnya bisa membantu kreativitasnya, selalu membuatku harus meluangkan waktu untuk mengembangkan minatnya. Ada saja mainan yang dibuat tiap hari, dari barang-barang bekas yang ditemukan di mana dia  bermain.

Juga waktu yang harus kusediakan dan perhatian lebih untuk anakku yang kedua. Yang karena menderita mikrosefalus (penderita otak kecil), hingga membutuhkan perawatan ekstra. Harus terapi rutin dua hari sekali ke Rumah Sakit, karena perkembangannya terlambat. Yang mestinya umur 2 tahun sudah bisa apa saja, anakku baru bisa merangkak. Pertumbuhannnya masih seperti bayi 8 bulan. Belum bisa berdiri, memegang makanan, mengunyah makanan, bicara, apalagi berjalan. Dan terapi itu harus dilakukan selama empat tahun ke depan. Butuh kesabaran.

Hingga untuk menunaikan kewajiban-kewajiban itulah, aku sering merasa tak punya waktu untuk memenuhi hakku. Benar-benar kalau dihitung matematis, dengan keinginan untuk menjadi suami idaman dan ayah teladan, tak ada waktu untuk meluangkan memenuhi hakku menulis.

Karena kalau ingin benar-benar total, aku tak ada lagi waktu tersisa. Dari 14 jam itu, telah habis untuk menunaikan ketiga kewajiban itu.

Namun karena aku mau kembali menulis, maka semua itu tak ingin kujadikan alasan.

Dan dengan sepenuh ‘ketegaan’ pada anak istri, aku memberikan waktu 10 jam untuk semuanya. Untungnya, istriku sosok luar biasa, yang selalu mendukungku ‘segila’ apa pun rencana hidupku. Termasuk membagi waktu dengan hitungan sangat matematis begitu. Yang mungkin bagi orang lain terlalu ‘vivere pericoloso’, menyerempet bahaya.

Jadi aku merasa bukan suami yang baik, yang selalu penuh perhatian pada anak istri, karena sedikitnya waktu yang ada. Padahal itu pun sudah dengan konsekuensi berat. Aku harus sangat mengurangi jatah tidurku, yang dulu bisa sampai 4-5 jam.

Karena aku bekerja di koran, maka waktu kerjanya adalah malam hari. Berangkat pukul 4 sore, dan pulang pagi pukul 2 dini hari. Jadi waktu tidurku harus cukup hanya dengan 2 sampai 3 jam saja dalam sehari. Sepulang kerja, hingga menjelang shubuh.

Jadi dari 24 jam, telah habis total 20 jam untuk kewajibanku. Tinggal tersisa 4 jam sebagai hakku. Dan aku harus bisa membaginya untuk menulis, membaca, menggambar.

Dan semua berjalan lancar. Penulisan novel ‘Penangsang’ jilid dua pun bisa kelar. Juga novelgrafis ‘Slow in Solo’ yang penuh gambar.

Karena keadilan Tuhan, aku masih diberikan waktu utuh 24 jam. Namun yang penting lagi, selalu diberi nikmat kesehatan.

Alhamdulillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 Februari 2011 pukul 22:31