Category Archives: Catatan Kaki 61 – 70

Catatan Kaki 70: Hingga Kerbau pun Boleh Buang Kotoran di Singgasana

Standar

Bangunan keraton dibuat seperti sebuah lingkaran yang sama dan sebangun.

Dengan meletakkan Dalem Ageng Prabasuyasa, rumah kediaman raja sebagai titik pusatnya. Lalu bangunan benteng Baluwarti sebagai lingkaran pertama. Dan Kori Brojonolo menjadi lingkaran kedua sekaligus gerbang terluarnya.

Jadi kalau kita mau masuk keraton dari arah utara, akan melewati urutan yang sama dengan ketika masuk dari arah selatan. Dari pintu masuk utara akan melalui gapura Gladhag, alun-alun utara, Sitinggil utara, Kori Brojonolo utara, Kori Kamandungan, Sri Manganti, dan barulah bisa masuk ke keraton.

Maka demikian pula kalau kita masuk dari arah selatan, yang merupakan kebalikannya. Akan melewati gapura Gadhing, kemudian alun-alun selatan, Sitinggil selatan, Kori Brojonolo selatan, Kori Saleko, Magangan, dan sampailah di keraton.

Terjadi yang demikian, karena sebenarnya sisi bangunan selatan adalah penyeimbang dari bangunan utara. Karena itulah maka bentuk bangunannya pun sama. Misalnya bangunan gapura Gladhag yang sama dan sebangun dengan gapura Gadhing.

Tentang sisi selatan dan utara yang sama sebangun itu, sebenarnya merupakan simbolisasi dari sebuah keseimbangan alam raya. Sebuah perlambang keberadaan seorang raja yang merupakan sumbunya semesta. Sebab gelar raja Solo adalah Paku Buwono, yang berarti ‘Sumbunya Semesta’. Sebuah penafsiran ala Jawa, terhadap hadirnya kekuasaan manusia sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di muka bumi.

Hal ini pun sama, ketika kemudian keraton Solo pecah jadi dua. Pecahan dari keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi keraton Kesultanan Jogjakarta Hadiningrat, dengan gelar rajanya menggunakan Hamengku Buwono. Kalimat yang sama maknanya dengan Paku Buwono, sebab Hamengku Buwono berarti ‘Memangku Semesta’.

Dan itu pun terjadi lagi, ketika Keraton Solo harus pecah lagi menjadi dua wilayah kekuasaan dengan keraton Mangkunegara. Sang raja yang bergelar Mangku Negara pun sama maknanya, karena dalam bahasa Jawa berarti ‘Memangku Negara’. Sedangkan pecahan dari keraton Kesultanan Jogjakarta Hadiningrat yang menjadi Pakualaman, gelar rajanya pun Paku Alam. Sebuah kata yang berarti ‘Sumbu Alam’.

Maka tak heran, kalau bangunan keraton Jogja pun sama dengan susunan keraton Solo sebagai induk utamanya. Namun tidak demikian dengan Mangkunegaran dan Pakualaman, yang kedudukannya sebenarnya berada di bawah kedua kerajaan tersebut. Karena keduanya hanya berstatus kadipaten. Maka bangunannya tidak berpola lingkaran dengan sebelah utara dan selatan saling mengimbangi.

Namun meskipun bangunan di sebelah selatan dalah penyeimbang, dan bangunannya pun sama, sepertinya tidak begitu dengan pemeliharaannya. Paling tidak itu yang kulihat dari keberadaan bagian selatan bangunan keraton Solo. Salah satunya yang kulihat dengan penuh keprihatinan adalah ketika memasuki alun-alun kidul.

Begitu memasuki pelatarannya, di sana telah berdiri gagah pintu gerbang bernama Kori Brojonolo Kidul. Gerbang pintu selatan ini sama fungsinya dengan Kori Brojonolo Lor yang berada di sebelah utara, tepat di depan Kamandungan. Sebuah gerbang yang menjadi jalan keluar masuk keraton, dan menjadi jalan melingkari Baluwarti.

Sebagai pertahanan belakang keraton, di Kori Brojonolo Kidul juga terdapat bangsal untuk berjaga para prajurit. Dua buah bangsal jaga yang juga bernama Bangsal Brojonolo Kidul yang dulu dijaga rapat oleh prajurit tamtama. Yang di kanan kirinya menjadi tempat kediaman mereka. Yang sekarang telah menjadi sebuah perkampungan dengan nama Tamtaman.

Namun sekarang tak ada lagi kulihat satu pun prajurit yang bersiaga di sana. Karena yang kudapatkan kini hanyalah jajaran penjual makanan kaki lima. Menjadi tempat yang asyik untuk menikmati bermacam jualan mereka. Tersedia komplit dari mulai bakso, mie ayam, sate ayam, ayam goreng, es buah, es kelapa muda, siomay, hingga ayam bakar .

Dan karena sejak berangkat tadi aku belum istirahat, maka aku pun tertarik melepas lelah sejenak di sana. Mengikuti arus pembeli yang paling banyak masuk ke sebuah warung, maka aku pun memesan seporsi ayam goreng. Dan kukira itulah cara yang paling sederhana untuk mengetahui makanan mana yang paling enak di antara semua jajaran penjual yang ada. Yaitu dengan penuh dan tidaknya para pembeli yang ada.

Aku pun turut beristiratahat, dan memesan seporsi ayam goreng dengan kepulan nasi panas yang mengundang selera. Sambil membayangkan pada jaman dulu, hal semacam ini mungkin tak akan diperbolehkan oleh para prajurit jaga.

Ayam goreng kremes tak lama kuhabiskan. Karena sejak dulu aku selalu mengidap penyakit sulit menikmati makanan. Selalu ingin cepat menghabiskan, agar terbebas dari rasa lapar, hingga kemudian bisa melanjutkan pekerjaan selanjutnya.

Maka demikian pula pada siang kemarin, saat aku menghabiskan ayam goreng yang sangat garing dan gurih itu. Tak butuh lama untuk menandaskannya. Karena jam di hapeku telah menunjukkan pukul setengah lima. Dan senja sebentar lagi datang.

Setelah membayar makanan dan minuman yang kumakan, aku melanjutkan perjalanan. Yang sebenarnya tinggal selangkah lagi, sebab aku sudah berada tepat di ambang alun-alun selatan. Karena dalam petaku, setelah melewati Kori Brojonolo Kidul, akan bertemu dengan Sitinggil Kidul yang langsung berhadap-hadapan dengan alun-alun selatan.

Dan tak kusangka sebelumnya, bahwa tempat yang saat itu kulewati adalah Sitinggil Kidul. Dalam pengetahuanku, Sitinggil adalah tempat raja bertakhta. Karena sebutan Sitinggil bermula dari candrasengkala Siti Inggil Palenggahaning Ratu, yang berarti ‘tanah yang ditinggikan sebagai tempat bertakthanya Raja’.

Maka aku benar-benar tak menduga, bangunan yang berada tepat di depanku waktu itu adalah Sitinggil. Karena begitu aku datang, sebuah lenguhan kerbau langsung menyambutnya.

Yang ketika kuperhatikan dengan seksama, ada lima ekor kerbau yang mendiami tempat yang kumuh dan kotor itu. Yang sepertinya memang telah dijadikan menjadi kandang baginya. Lengkap dengan keberadaan kolam lumpur sebagai tempat mandinya.

Tentu karena telah menjadi kandang kerbau, Sitinggil pun menjadi tempat makan, tidur, dan buang kotoran baginya. Dan bau kotoran kerbau yang memenuhi hampir seluruh bangunan sangat memualkan. Sangat menyengat penciuman. Apalagi untukku, yang perutnya baru terisi ayam goreng. Serasa mual mencium kotoran kerbau yang menjijikkan dan menebarkan bau busuk menyengat.

Karena tak tahan dengan baunya, aku pun segera meninggalkan bekas singgasana raja itu. Takut kalau lama-lama di sana, justru mual yang kutahan bisa berlanjut menjadi muntah betulan. Namun sekadar untuk kenang-kenangan, sempat kupotret dua ekor kerbau yang tengah mandi di kubangan. Dan seekor lagi yang ada di bangunan singgasana.

Sungguh luar biasa, seekor kerbau duduk di atas takhta, batinku penuh keheranan.

Sambil berjalan melingkar benakku mendadak berputar. Dan tak bisa kupahami, ketika sebuah peninggalan sejarah, sebuah area yang bagi keraton sendiri merupakan tempat yang sakral, justru dijadikan sebagai kandang kerbau. Entah ini sebuah kehormatan, atau suatu penghinaan atas kekuasaan.

Dan setelah itu, sungguh aku tak berani mengambil kesimpulan apa pun juga. Tentang keberadaan kerbau-kerbau di Sitinggil itu, yang sesungguhnya mungkin bisa menjadi cerminan kondisi keraton hari ini. Ketika raja telah kehilangan kekuasaannya.

Hingga seekor kerbau pun boleh buang kotoran di singgasananya.

oleh Nassirun Purwokartun pada 11 Maret 2011 pukul 22:31

Catatan Kaki 69: Ke Belakang Kekuasaan, Ke Kiri Pendidikan, Ke Kanan Kemelaratan, Ke Depan Hiduplah Indonesia Raya!

Standar

Dengan agak takut, gerbang yang tertutup itu kudorong ke depan hingga sedikit terbuka..

Setelah kurasa cukup untuk lewat badan, aku pun mencoba masuk ke dalamnya. Dan ternyata, kedatanganku sore itu disambut dengan sebuah ketakjuban luar biasa.

Sebuah pemandangan yang tak pernah kuduga langsung terpampang di depan mata. Pada sisi kanan gerbang, kulihat jajaran rumah yang berdempet berhimpitan. Mirip petak-petak pada perkampungan kumuh di kolong jembatan. Dengan jemuran baju semrawut bergelantungan di depan pintu masuknya, serta bermacam peralatan dapur yang berserak hingga pelataran. Berantakan dan tersebar di teras sempit yang juga difungsikan sebagai dapur sekaligus kamar mandi untuk anak-anak mereka.

Kemiskinan yang kulihat terpampang nyata di depan gerbang keraton itu, sejenak membuatku trenyuh. Sungguh aku hanya menghela nafas panjang dengan penuh keheranan. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, di halaman sebuah kerajaan yang pernah kaya raya, justru kemelaratan terlihat nyata tepat di pintu gerbang utamanya.

Karena pintu besar yang tengah kumasuki itu adalah gerbang keraton bernama Kori Saleko. Gerbang pertama yang merupakan pintu masuk dari arah selatan, setelah melewati Gapura Gading dan Kori Brojonolo Kidul. Jalan masuk yang kedudukannya sama dengan Kori Srimanganti di Kamandungan di sebelah utara.

Setelah melewati pintu besar itu, aku melangkah lagi ke sisi gerbang sebelah kiri. Di sana kudapatkan bangunan gedung Sekolah Dasar. Kalau tak salah namanya SD Pamardisiwi. Dan kulihat di halaman sekolah yang tak begitu luas, bahkan sangat sempit dan nylempit itu, terdapat anak-anak perempuan yang sedang berlatih upacara bendera.

Kulihat enam bocah perempuan sedang  menyanyikan ‘Indonesia Raya’ dengan sangat bersemangat, lima anak lainnya memberikan sikap hormat pada bendera sebagai peserta. Dan tiga bocah di tengah sedang membawa lipatan bendera, dengan satu anak lagi berada di tengah lapangan sebagai komandan upacaranya.

Karena tertarik dengan tingkah lucu para bocah yang bergaya bak paskibraka, aku pun memotret kegiatan mereka.

Pertama kufoto seorang anak perempuan berambut lurus dengan kepang dua, yang bertugas menjadi komandan upacaranya. Sikapnya tegap dengan tangan kanan terletak di atas mata memberikan gerakan hormat bendera. Demikian pula dengan lima temannya yang berpakaian olahraga. Dengan menghadap tiang bendera, mereka mengangkat tangan dengan sikap hormat. Aku pun memoteret wajah-wajah lucu dan lugu itu. Yang kemudian saling lirik dan lempar senyum ketika melihat salah satu temannya kufoto.

Namun sepertinya mereka malu karena kedatanganku. Terlihat dari sikap anak yang menjadi komandan upacara. Ketika aku tengah mengamati petak-petak rumah di sebelah kanan gerbang, kudengar suaranya lantang ketika memberi aba-aba ‘siap grak’. Namun saat aku datang dan ia harus memberikan perintah ‘hormat bendera, grak’, tiba-tiba menjadi lebih lirih dari teriakan sebelumnya. Mungkin ia malu melihatku yang kemudian duduk di pinggir lantai sekolahan, menonton mereka latihan.

Begitupun dengan anak-anak yang sedang menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Saat kufoto anak berambut keriting yang menjadi dirigen, teman-temannya yang lain saling mengedipkan mata dan melemparkan senyum dikulum. Senyum malu-malu yang membuat beberapa dari mereka kemudian menutupi mulutnya. Hingga nyanyian lagu kebangsaan yang sebelumnya terdengar lantang, menjadi meliuk-liuk karena diselingi gurauan dan suara cekikikan yang seakan tertahan.

Namun aku teruskan saja menikmati latihan mereka, yang tiba-tiba mengingatkanku pada waktu SD dulu. Ketika tiap Senin minggu keempat harus menjadi komandan upacara bendera juga. Juga ketika aku mengikuti kegiatan perkemahan pramuka.

Namun sepertinya kehadiranku benar-benar membuat mereka malu dan kehilangan konsentrasi. Karena anak-anak itukemudian  terlihat gugup ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menghormat bendera.

Dan yang paling fatal adalah petugas pengibar bendera, yang tiba-tiba salah memasang talinya. Hingga yang seharusnya warna merah di atas dan putih di bawah, menjadi terbalik memasangnya. Kecelakaan bendera ‘putih merah’ yang sontak membuat anak lain tergelak tak ada habisnya. Membuat latihan upacara yang sebelumnya teratur rapi menjadi berantakan, karena di antara mereka menjadi saling dorong dan tertawa.

Tawa-tawa itu sempat kutangkap dengan kamera. Wajah-wajah lucu anak perempuan yang membuatku tersaput bahagia. Namun sekaligus juga haru pada kerinduanku yang sedang ingin punya anak perempuan. Keinginan yang sepertinya hanya akan menjadi sebuah angan dan impian belaka, karena akan sangat sulit kudapatkan.

Setelah cukup memotret tingkah lucu mereka, yang tertawa dan saling menyalahkan karena terbaliknya bendera, aku pun meninggalkan halaman sekolah yang sempit itu.

Aku meninggalkan mereka untuk berlatih lagi. Berlatih mencintai bangsa dan negaranya, untuk menjadi seorang nasionalis dan patriotik sejati. Hingga kelak setelah mereka dewasa bisa memperjuangkan kesejahteraan bagi rakyat miskin yang masih berjuta-juta jumlahnya. Yang contoh nyatanya terlihat tak jauh dari mereka. Berada di sebelah tempat mereka belajar upacara bendera. Rumah-rumah petak yang berhimpitan menempel pada tembok gerbang keraton. Rumah-rumah kecil yang sebenarnya tak layak huni saking sumpek, kumuh, semrawut dan berantakannya. Namun itulah potret nyata kemiskinan rakyat Indonesia kebanyakan, yang mungkin luput dari data statistic di Istana. Juga data di keraton, yang hanya selemparan batu saja jaraknya.

Dengan senyum masih terkulum, aku meninggalkan anak-anak yang bersiap latihan kembali itu. Setelah kubuat kacau balau dan berantakan karena kedatanganku sebagai ‘tamu tak diundang’.

Aku pun berjalan lagi ke arah utara, menuju gerbang keraton yang ketiga. Yang kulihat sama dengan gerbang sebelumnya, hanya terbuka sedikit saja daun pintunya. Hingga terpaksa harus membukanya sendiri, mendorong kuat-kuat daun pintu yang terbuat dari papan kayu yang sangat kuat saking tebalnya.

Inilah Kori Gadungmlati. Gerbang menuju bangunan aula di depan keraton yang bernama Magangan, yaitu pelataran yang fungsinya sama dengan Kori Srimanganti. Yakni menjadi pintu masuk menuju keraton bagian dalam. Hanya bedanya, Kori Srimanganti pintu masuk dari arah utara, Kori Gadungmlati adalah pintu masuk dari sebelah selatan.

Pada jaman dulu, Magangan menjadi tempat calon prajurit untuk dididik. Para pemuda dari desa-desa bawahan keraton yang ingin menjadi prajurit, di halaman inilah mereka dikumpulkan. Sebelum dibawa ke alun-alun untuk berlatih perang yang disebut dengan watangan. Dari tempat para prajurit magang itulah, nama Magangan ini tercipta.

Namun yang kutemukan sekarang, pelataran yang luas itu justru terlihat sangat tidak terawat. Terlihat dari kotornya halaman dengan sampah daun-daunan yang berserakan hampir di seluruh halaman. Bahkan beberapa ranting pohon yang ditumpuk berantakan.. Juga tingginya rumput yang berada di sebelah kiri dan kanan jalan. Mungkin sudah lama tidak dipotong hingga menciptakan semak-semak rimbun pada beberapa bagian halaman.

Namun yang lebih mencengangkan, di halaman yang luas itu kulihat banyak pekerja. Kuperhatikan pekerjaan mereka, yang tengah mencampur adukan pasir dan semen. Kemudian beberapa orang lainnya sedang mencetaknya menjadi kotak-kotak paving.

Aku tersenyum dalam hati, melihat halaman yang dulu menjadi latihan para prajurit, sekarang menjadi pabrik paving block. Memang dilihat dari banyaknya keringat yang keluar, mereka sama-sama bekerja keras. Hanya yang sekarang bukan untuk mempertahankan keraton, melainkan untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.

Padahal kalau disimak dari sejarahnya, keberadaan pendopo Magangan merupakan serambi keraton. Karena letaknya tepat berada di depan Dalem Ageng Prabasuyasa yang merupakan kediaman raja. Dan kalau harus membaca ulang tata ruang keraton, Magangan merupakan serambi depan yang sebenarnya dari keraton. Bukan seperti yang selama ini diketahui banyak orang, yang datang ke keraton justru melalui Kamandungan.

Karena dalam tata arsitektur Jawa, ketika rumah utama menghadap utara, maka bagian depannya juga berada di utara. Halaman, serambi, ruang tamu, ada di sebelah utara. Demikian juga dengan bangunan keraton Solo. Ketika Dalem Ageng Prabasuyasa menghadap utara, maka mestinya bagian utara itulah yang menjadi arah depannya.

Jadi kalau selama ini orang datang ke keraton melalui Kamandungan, sebenarnya sebuah kekeliruan. Karena halaman depan keraton yang sebenarnya bukan di utara, melainkan di sebelah selatan yakni di Magangan.

Maka kalau datang dari Kamandungan, itu sama saja seperti orang bertamu, dia masuk lewat dapur, bukan melalui pintu depan. Atau ketika menghadap raja, berarti sama saja datang dari arah belakang. Yang bisa diterjemahkan hanya disambut dengan punggungnya, dan bukan dengan wajahnya.

Atau mungkin ada juga penafsiran yang bisa diambil pada sejarah jaman dulu kala. Ketika Gubernur Jenderal Belanda datang ke keraton lewat Kamandungan. Yang berarti sama saja kedatangannya disambut oleh sang raja yang tengah duduk di singgasana menghadap selatan, dengan punggungnya. Atau malah dengan pantatnya.

Dan di Magangan, aku cukup duduk di pinggir pendopo, sambil merenungkan kekeliruan itu. Sebuah pemahaman yang sudah menjadi suatu kesalahkaprahan. Sesuatu yang terlanjur salah, namun terus saja dilanjutkan, tanpa pernah dianggap sebagai sebuah kesalahan. Menjadi sebuah kelaziman, bahkan kelumrahan. Karena rerbukti dari pintu loket masuk keraton, yang masih ada di Kamandungan, dan bukan di Magangan.

Setelah lama mengamati Magangan, aku keluar lagi melewati gapura Gadungmlati. Masih sempat kulihat anak-anak perempuan yang tengah berlatih upacara bendera. Namun kali ini, aku berjalan lurus ke depan tanpa menengok ke kanan. Aku sengaja pura-pura tidak memerhatikannya. Agar mereka tak terganggu lagi konsentrasinya.

Ketika lewat di sampingnya, mereka tengah menyanyikan lagu kebangsaan. Sebuah ajakan mulia untuk segera ‘bangunlah jiwanya untuk Indonesia Raya’.

Dalam hati aku berdoa, semoga demikianlah yang terbangun di dalam jiwa mereka. Agar tak memperpanjang lagi kesalahkaprahan yang telah lama terjadi di Indonesia. Ketika bangsa yang kaya raya justru dihuni oleh orang-orang termiskin di dunia. Ketika janji tentang fakir miskin dan anak-anak terlantar yang justru semakin disia-siakan oleh negara. Ketika kekayaan negerinya (seperti kasus Lapindo) ditambang bukan untuk sebenar-benar kemakmuran rakyat, namun malah sebesar-besar kesengsaraan rakyat.

Sambil berjalan ke depan, tanpa menengok belakang dan kiri kanan, aku pun turut membisikkan “Hiduplah Indonesia Raya…..”

oleh Nassirun Purwokartun pada 11 Maret 2011 pukul 22:28

Catatan Kaki 68: Ketika Penjara adalah Sebuah ‘Tempat yang Mulia’

Standar

Sepanjang perjalanan mengelilingi Baluwarti, banyak hal yang kudapatkan.

Selain pengalaman, pengetahuan, pelajaran, renungan, juga rasa penasaran.

Salah satu yang sempat membuatku penasaran, adalah keberadaan pintu kecil pada tiap pemukiman. Pintu yang seolah menjadi semacam ‘jendela’ bagi para penghuninya untuk berhubungan dengan dunia luar. Sementara orang luar sepertiku tetap tidak bisa masuk ke dalamnya. Apalagi mengetahui seperti apa denyut kehidupan mereka.

Termasuk tentang penghuni yang sekarang mendiami. Apakah mereka masih keturunan leluhur mereka, yang namanya sekarang diabadikan menjadi nama kampungnya. Ataukah sudah orang biasa yang tak ada trah apa pun dalam hubungannya dengan Baluwarti.

Misalnya para warga yang mendiami kampung Baluwarti bagian selatan. Para warga di sana, apakah masih keturunan dari para prajurit keraton. Yang namanya sekarang dilekatkan menjadi nama kampung, yakni Tamtaman, Wirengan, dan Carangan.

Namun selain pintu-pintu kecil yang menawarkan penasaran itu, aku pun terusik dengan keberadaan beberapa Dalem yang masih tersisa. Bangunan tua yang darinya kudapatkan pelajaran tentang sejarah masa silam yang penuh keagungan, kemegahan, kemewahan, dan kebahagiaan. Juga renungan perjalanan jaman yang menyisakan kepedihan.

Dalem adalah bangunan  rumah luas dan besar yang dulunya diperuntukkan bagi para putra raja. Yang bangunannya sangat khas arsitekur Jawa. Lengkap dengan serambi depan berupa aula luas dan megah bernama pendopo. Di belakangnya berdiri rumah besar bernama Dalem, yang di dalamnya terdapat tiga kamar utama. Yaitu ruangan senthong kiwo yang berada di kiri, dan senthong tengen yang berada di sebelah kanan. Dengan di tengahnya terdapat ruangan sakral yang bernama krobongan.

Dan ketika aku jalan-jalan, tercatat ada empat Dalem yang sempat kulihat di lingkungan Baluwarti. Yang pertama Dalem Mloyokusuman, yang berada di timur laut keraton. Tempat di mana makam Ki Gede Solo berada. Kemudian Dalem Brotodiningratan dan Purwodiningratan yang berada di selatan keraton. Lalu Dalem Suryohamijayan yang letaknya kutemukan di barat daya keraton. Tepat pada pertigaan yang merupakan jalan keluar dari Baluwarti, melewati pintu Butulan sebelah barat.

Sementara yang satunya lagi adalah Dalem Sasono Mulyo, yang kudapati berada di barat laut Kamandungan. Yang kalau masuk dari arah barat melewati Kori Gapit, hanya berjarak tak lebih dari 200an meter saja. Berada di kanan jalan melingkar dari arah pintu masuk Kori Brojonolo Lor menuju pintu keluar Kori Brojonolo Kidul.

Dari keempat itu, aku hanya sempat masuk ke Dalem Sasono Mulyo. Karena dari semua Dalem yang ada, hanya Sasono Mulyo yang gerbangnya terbuka. Sementara, yang lainnya tertutup, hanya menyisakan regol sebagai pintu kecil yang sedikit terbuka.

Dan aku tertarik masuk ke dalamnya, karena ada sedikit pengetahuan sejarah yang masih kuingat. Sejarah kelam tentang keberadaan rumah besar yang dari luar terlihat angker tersebut. Sejarah yang sampai ketika meninggalkannya aku masih larut dalam renungan.

Bangunan ini konon didirikan pada masa Paku Buwono IV di atas tanah 11.000 meter persegi. Merupakan rumah yang diperuntukan untuk putranya, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hangabehi untuk didiami hingga akhir hayatnya. Namun karena Hangabehi kemudian naik takhta menjadi Paku Buwono VIII, ia pun pindah ke Dalem Praba Suyasa di dalam lingkungan keratin. Yang otomatis meninggalkan Sasono Mulyo.

Karena bangunan itu merupakan rumah kediaman putra mahkota, maka kemegahan dan keanggunan pun masih tersisa sampai sekarang. Terlihat pada bentuk bangunan pendopo yang sangat luas (konon berukuran 37 x 25 m), dengan Dalem di belakangnya, dan gandok yang melingkar di sekelilingnya. Gandok-gandok yang sekarang terlihat tak terawat dan tak lagi berpenghuni. Padahal dulunya adalah bangunan untuk menampung puluhan keluarga abdi dalem yang mengurusi keperluan sang putra mahkota.

Bangunan lainnya yang kurasa masih mempesona, adalah loji di sebelah baratnya. Sebuah sisa kejayaan masa silam berupa rumah cantik dan indah hasil perpaduan arsitektur Jawa dan Belanda. Bangunan penuh ornamen unik yang konon didirikan oleh putra mahkota Paku Buwono X yang pernah bersekolah di Belanda.

Selain bangunan loji itu, aku pun dibuat terpesona dengan bangunan gazebo yang berada di depan pendopo. Yang ketika datang, sempat kulihat anak-anak kecil sedang riang bermain sambil menari di tengahnya. Lemah gemulai gerak tubuh yang meliuk indah.

Melihat keriangan mereka, ingatanku langsung melayang pada kenangan, bahwa Dalem Sasono Mulyo ini dulunya pernah menjadi ‘kawah candradimukanya’ para seniman Solo.

Pada era tahun 1970 hingga 1980an, menjadi ajang seniman tari mengasah kemampuannya. Ketika masih digunakan sebagai kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). Kampus yang menjadi cikal bakal terbentuknya Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang sekarang dikenal sebagai ISI, Institut Seni Indonesia Solo.

Sambil duduk termenung di bibir pendopo, mata kulayangkan menatap megahnya bangunan yang telah berusia seratusan tahun itu. Bangunan yang sekarang justru lebih mengesankan aura keangkerannya. Terutama karena dinding-dindingnya yang kusam, serta cat pada tiang-tiang besarnya yang memudar. Demikian pula yang kudapatkan dari hamparan tegel hitam, tempatku duduk beristirahat setelah lelah berjalan-jalan.

Namun di antara kesan angkernya yang begitu menonjol, bangunan ini juga menyimpan sejarah kelam. Sejarah yang menyisakan kegetiran dan kepedihan yang dalam.

Sebuah kepiluan sejarah, ketika pada tahun 1965, politik Indonesia dilanda awan merah komunisme. Saat itu, Solo termasuk daerah yang paling ‘merah’ di Jawa Tengah. Maka ketika terjadi kudeta di Jakarta, Solo yang dipimpin oleh seorang walikota dari PKI, langsung menyatakan dukungannya pada Dewan Revolusi Indonesia.

Maka tak heran, ketika kemudian PKI dianggap pemberontak dan harus dihancurkan ke akar-akarnya, Solo pun tak lepas dari imbasnya. Banyak rakyat simpatisan PKI yang kemudian diburu, ditangkap, dipenjara, dibuang, dan dibunuh. Termasuk pemimpin CC PKI, DN Aidit juga terbunuh di Solo, yang kemudian ditembak mati di Boyolali.

Banyaknya simpatisan PKI Solo, membuat pihak militer tak bisa menampung para tapol tersebut dalam penjara. Maka Dalem Sasono Mulyo yang luas kemudian difungsikan sebagai penjara. Penguasa militer menempatkan para tapol di gandok maupun di pendopo. Mereka membangun sekat-sekat menggunakan dinding yang dibuat dari anyaman bambu. Sekat sederhana yang difungsikan sebagai sel-sel penjara.

Konon tercatat, para tapol PKI yang pernah ditampung di Sasono Mulyo hampir mencapai jumlah 2000 orang, dalam waktu yang hanya 2 tahun. Para tapol yang harus tidur beralaskan lantai tegel yang dingin, membuat banyak yang kemudian sakit dan meninggal. Selain karena jatah makan yang sangat sedikit, dan kerja keras yang dipekerjakan untuk membersihkan pasar-pasar, bangunan pemerintahan dan militer.

Kemarin, aku hanya duduk di bibir pendopo tanpa berani masuk ke tengah. Karena dalam kenanganku, yang terbayang adalah peristiwa tragis yang pernah terjadi di sana. Ketika bangunan megah itu menjadi kamp penampungan para tapol PKI. Yang sangat mungkin mereka yang tertangkap kemudian dibunuh itu, menjadi anggota partai hanya karena ikut-ikutan saja. Dan sesungguhnya mereka tak paham apapun tentang ideologi komunisme.

Entah kenapa, karena mengingat peristiwa itu, keangkeran yang sejak awal terasa jadi tambah mencekam. Ketika membayangkan banyaknya tapol yang harus jatuh sakit dan mati, karena luas pendopo yang tak sebanding dengan tahanan yang ada. Membuat mereka harus tidur berdesak-desakan dalam penjara gedeg, beralaskan lantai tegel yang dingin. Ditambah bangunan yang sudah sangat tua dan tak terawat, ketika hujan besar selalu bocor, dan air pun menggenang di semua tempat.

Setelah lama larut dalam renungan, aku pun meninggalkan Dalem Sasono Mulyo. Bangunan tua yang mendadak mengingatkanku pada kenangan sejarah Indonesisa yang kelam. Ketika sebuah idiologi yang konon diajarkan untuk menciptakan kesejahteraan bersama, namun justru menjadi saling membinasakan sesama.

Aku sungguh tak habis mengerti. Ketika sebuah kata suci ‘revolusi’, terpaksa harus memakan dengan beringas ‘anak-anak’nya sendiri. Hingga sebuah tempat yang mulia, terpaksa harus berubah fungsi menjadi penjara.

Karena sesungguhnya, dalam bahasa Jawa, Sasono Mulyo berarti ‘tempat yang Mulia’.

oleh Nassirun Purwokartun pada 9 Maret 2011 pukul 22:25

Catatan Kaki 67: Sebuah Kubur di Sebelah Ruang Tamu

Standar

“Yang benar mana, Solo apa Surakarta?”

Begitu dulu aku selalu bertanya, tiap akan menuliskan alamat lengkap untuk kepentingan biodata. Apakah menggunakan nama kota Solo, ataukah Surakarta.

Dan setiap ditanya alamat baruku itu, aku selalu bingung dibuatnya. Karena orang se Indonesia lebih mengenal kota yang baru kutempati itu dengan nama Solo. Namun ketika aku datang ke kantor pemerintahan kota ini, tidak bisa ketemu nama Solo di sana. Yang terpasang pada semua papan nama kota Solo ini, justru nama Surakarta.

“Jadi yang benar Solo apa Surakarta?”

Lama juga pertanyaan sederhana itu mengganggu, pada awal-awal kedatanganku. Sebuah kota, yang sepanjang perjalanan sebagai kaum kabur kangingan yang hobby berkelana, merupakan kota terlama yang kutempati. Yang karena saking betahnya, tak terasa sudah sepuluh tahun kutinggalkan kampung halamanku sendiri.

Namun sampai dua tahun berada di Solo, penasaran atas pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban. Dan beberapa teman yang kutanya juga tak memberikan jawaban yang memuaskan. Padahal mereka adalah warga asli, yang sejak lahir hingga tua tak pernah berpindah kota. Demikian juga dengan orang tua dan leluhurnya.

Dan aku yang penasaran, terus mencari jawaban. Sebagai sebuah tanda cinta pada kota tempat tinggalku yang baru. Karena konon, ada peribahasa ‘tak kenal maka tak sayang’. Aku pun ingin mengenali kotaku, yang telah membuatku jatuh cinta. Sampai karena sayangnya, menjadikan seperti kampung halamanku yang kedua.

Dan bukti cinta dan sayang itu  adalah dengan ingin mengenali asal-usul namanya. Seperti ketika berkenalan dengan kawan yang baru kita kenal. Setelah saling menyebutkan nama, dalam hati kita mencoba mencari arti dari namanya.

Begitu pun denganku, yang ingin mencari tahu kenapa harus ada Solo dan Surakarta. Mengapa orang lebih mengenal Solo, namun dalam pemerintahan justru nama Surakarta yang digunakan. Lalu apa bedanya Solo dan Surakarta.

Jawaban pertama datang dari sebuah buku yang kemudian aku baca, Babad Solo. Bahwa dikisahkan di sana, kalau kota Solo bermula dari sebutan yang salah dari nama jabatan Bau Soroh. Karena sebutan abdidalem keraton yang mengurusi panambangan di Bengawan Semanggi, yakni Bau Soroh sulit diucapkan para pendatang. Maka untuk memudahkan pengucapan menjadi Bau Solo. Dari salah ucap itulah, sebutan Solo menjadi nama tempat penambangan tersebut berada.

Bengawan Solo dulu bernama Bengawan Semanggi. Yang artinya, sungainya orang Semanggi. Baru setelah daerah itu bernama Solo, sungai besar itu pun disebut sesuai nama daerahnya. Yakni Bengawan Solo, atau sungainya orang Solo. Dan nama itu dipakai sampai sekarang. Sementara nama Semanggi sendiri masih kita temukan menjadi nama sebuah kampung di timur kota Solo, tepat di tepian barat Bengawan Solo.

Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di pulau Jawa yang berhulu di sekitar Solo. Tepatnya di daerah yang sekarang dikenal sebagai Wonogiri. Mata airnya berasal dari pertemuan dua sungai kecil, yakni Kali Muning dan Kali Tenggar di Desa Jeblogan, Kecamatan Karang Tengah. Alirannya yang melingkar melintasi kota Solo hingga ke arah timur laut, untuk kemudian bermuara di pantai Gresik.

Riwayat Bengawan Solo sebagai jalan air yang merupakan nadi perekonomian pada masa silam, telah tertulis dalam sebuah prasasti peninggalan masa Majapahit. Yakni sebuah fakta sejarah yang dikenal dengan Prasasti Changgu, yang ditemukan di Trowulan.

Prasasti tembaga bertarikh 1280 Saka (7 Juli 1358) yang ditulis atas perintah Hayam Wuruk itu menjelaskan tentang daerah-daerah penambangan di sepanjang sungai Ci Wulayu. Dan panambangan yang berada di Ci Wulayu, adalah panambangan nomor 44 yang berada pada posisi paling hulu. Dan pada jaman Majapahit, Bengawan Solo belum bernama Bengawan Semanggi, melainkan dikenal dengan nama Ci Wulayu.

Terbaca dalam Prasasti Canggu, bahwa pada masa itu seluruh desa yang berada di sepanjang aliran Ci Wulayu dibebaskan menjadi desa yang merdeka. Yang tak harus membayar upeti, karena di desa tersebut menjadi tempat panambangan. Yakni tempat untuk menyeberangkan para penduduk dan pedagang secara cuma-cuma. Penyebarangan yang konon menggunakan perahu, dengan bantuan tambang (tali besar) yang melintang di tengah aliran sungai. Dari kata tambang itulah dikenal menjadi panambangan.

Panambangan yang awalnya hanya menjadi tempat menyeberang, kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai. Bahkan menjadi sumber pemasukan bagi keraton. Maka untuk mengurusi semua itu, diangkat seorang pejabat. Dan di jaman keraton Kartasura, jabatan untuk orang yang mengatur panambangan disebut Bau Soroh.

Pada masa itu, Bau Soroh yang berkuasa atas desa Solo disebut juga dengan panggilan Ki Gede Solo. Dialah juga orang yang kemudian diminta oleh Paku Buwono II untuk membujuk warganya, agar mau pindah dari desa Solo. Karena desa itu akan dibangun keraton baru, sebagai pemindahan keraton Kartasura.

Berkat bantuan Ki Gede Sololah, penduduk dari desa yang telah dipilih oleh Gubernur Jenderal Belanda rela pergi meninggalkan kampungnya. Dengan usaha Ki Gede Solo juga, tanah yang hendak menjadi keraton mendapatkan ganti rugi yang sepadan.

Dengan dibangunnya desa Solo menjadi keraton, maka nama Solo pun berganti menjadi Surakarta. Karena keraton yang dibangun itu bernama keraton Surakarta  Hadiningrat.

Sejak itulah, untuk menuliskan surat perjanjian yang selalu dibuat oleh Raja dan Gubernur Jenderal Belanda selalu menggunakan nama Surakarta. Yang itu terus berlanjut hingga Indonesia merdeka. Untuk formal pemerintahan yang dipakai adalah nama Surakarta. Namun bagi masyarakat, penyebutan Solo masih terus melekat.

Beberapa minggu lalu, setelah ziarah ke makam Pabelan, aku sempatkan mampir ke makam Ki Gede Solo. Pemimpin desa Solo inilah, yang dulu menguburkan jasad Pabelan. Mayat yang ditemukan di tepian sungai Bengawan Solo, pada sebuah kampung yang sekarang bernama Sangkrah. Yang kemudian dimakamkan di barat bengawan Solo, pada kampung yang sekarang dikenal sebagai Bathangan.

Sementara Ki Gede Solo sendiri, jasadnya dimakamkan di wilayah keraton Solo. Berada tak jauh dari keraton, dalam lingkungan tembok baluwarti sebelah timur.

Dengan berbekal keterangan dari seorang tukang parkir, aku pun mencarinya. Menurut penjelasannya, makam keramat yang sering diziarahi orang tiap malam Jum’at itu berada di kampung yang sekarang bernama Mloyokusuman. Kampung yang dulunya dihuni oleh putra raja yang bernama Pangeran Mloyokusumo.

Berbekal keterangan yang lumayan membingungkan, akupun menyusuri jalan setapak yang lamat-lamat kuingat. Jalan masuknya, ternyata lewat perkampungan yang padat penduduk. Menyisir gang-gang sempit yang berkelok-kelok membentuk seperti labirin.

Bahkan karena padatnya, ketika melaluinya harus berjalan pelan menunduk karena atap teritis rumah yang rendah. Dan berkali-kali mengucapkan permisi pada ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan rumah mereka yang sangat sederhana. Rumah-rumah kecil yang dibangun saling berhadapan berjejalan, seperti yang selama ini kudapatkan di pemukiman pinggiran kota besar. Lingkungan yang kotor dan kepadatan penduduk membuat kampung terlihat sangat semrawut dan kotor, bahkan berkesan kumuh.

Apalagi hari baru saja hujan, hingga jalan setapak pun menjadi becek, dan menebarkan bau anyir. Sebuah tempat yang sangat tidak kubayangkan sebelumnya, sebagai tempat peristirahatan terakhir dari seorang yang sangat terhormat di masanya. Yang dari namanya, kemudian dusun Solo terkenal menjadi kota seperti sekarang ini.

Namun yang lebih mengagetkan lagi, ketika kemudian kudapatkan, ternyata makamnya bukan berada di areal pekuburan yang luas, atau pada sebuah cungkup seperti makam Pabelan. Melainkan nylempit di tengah himpitan kesumpekan pemukiman yang sangat padat penduduk.

Bahkan menjadi satu dengan bangunan rumah yang ditempati warga di situ. Berada dalam sebuah kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu.

oleh Nassirun Purwokartun pada 7 Maret 2011 pukul 22:28

Catatan Kaki 66: Tour de Bolwerk atau Muteri Baluwarti

Standar

“Naik becak saja, Mas. Keliling Baluwarti cuma lima ribu!”

Seorang tukang becak kembali berbaik hati mencoba menawariku. Yang sedang berjalan kaki sendirian mengeliling benteng keraton pada siang yang terik itu.

Dan itu adalah tawaran becak kelima yang sudah kuterima. Saat aku tengah kepanasan keringatan mengelilingi benteng keraton yang disebut orang dengan nama Baluwarti.

Namun semuanya telah kutolak, karena aku ingin berjalan kaki saja. Ingin menikmati  setiap langkah dalam perjalanan mengelilingi bangunan sejarah yang masih berdiri kukuh selama satu abad. Tembok tebal yang penamaannya diambil dari kata Belanda, bolwerk yang berarti benteng. Yang oleh lidah Jawa diplesetkan menjadi Baluwarti.

Dan aku yakin bisa berkeliling sendiri, tanpa pemandu lagi. Karena untuk jalan-jalan tour de bolwerk ini sudah kubawa bekal perjalanan, berupa peta Baluwarti. Pada samping kanan pintu masuk kudapatkan sebuah papan baliho besar bergambar peta kawasan ini. Peta besar itu sudah kupotret, dan diprint di kertas untuk kujadikan denah. Dengan bekal denah lengkap itulah aku akan berjalan kaki mengelilingi bangunan tembok keraton yang tebal dan tinggi.

Baluwarti dibangun sebagai benteng pertahanan yang mengelilingi bangunan inti keraton. Yang dalam strategi pertahanan, sebenarnya merupakan ‘benteng hidup’ bagi keraton, yang adalah kediaman raja. Karena di dalam lingkungan tersebut dibangun rumah tinggal para pangeran, bangsawan, dan kelompok prajurit pengaman.

Wilayah yang luas ini hanya mempunyai dua buah pintu masuk dan pintu keluar. Yakni Kori Brojonolo Lor di sebelah utara dan Kori Brojonolo Kidul di ujung selatan. Antara kedua pintu besar itu hanya dihubungkan oleh dua jalur jalan yang sejajar dan melingkar. Merupakan bangunan peninggalan Paku Buwono X, berupa tembok keliling setebal 2 meter dengan tinggi 6 meter. Jalan inilah yang sedang kulalui untuk menikmati perjalanan kali ini.

Karena Baluwarti merupakan ‘benteng hidup’ bagi raja, maka di dalam bangunan itu pun menjadi kediaman orang terdekat raja. Yang sekarang, dari nama para penghuninya pada jaman dahulu itu, telah diabadikan menjadi nama perkampungan.

Misalnya untuk tempat kediaman pangeran atau para putra raja, kutemukan kampung bernama Ngabean. Yang itu diambil dari nama putra laki-laki pertama raja, yakni Pangeran Hangabehi. Kampung yang sekarang berada di Baluwarti sebelah barat, karena di situlah terdapat kraton kilen atau keraton barat. Yang dulunya merupakan tempat kediaman bagi permaisuri raja, yang darinya kemudian lahir putra mahkota.

Lalu di Baluwarti sebelah timur kutemukan kampung Mlayasuman. Yang dulunya merupakan tempat tinggal keluarga besar Pangeran Mlayakusuma. Kemudian kutemui pula kampung Sindusenan, yang dulunya kediaman Pangeran Sindusena, dan kampung Prajamijayan yang merupakan tempat tinggal Pangeran Prajahamijaya.

Sementara untuk kediaman pejabat keraton, didapati kampung Widaningratan yang diambil dari nama bupati Widaningrat. Kemudian kampung Purwadiningratan dari nama nayaka Purwadiningrat yang dulu menempati daerah itu.Lalu kampung Mangkuyudan yang dulunya rumah seorang bupati arsitek bernama Mangkuyuda.

Begitu pun dengan kampung Suryaningratan yang merupakan rumah dari bupati gedong Suryaningrat. Juga kampung Gandarasan yang dulunya rumah tinggal Nyai Lurah Gandarasa, serta kampung Sekulanggen juga kediaman dari Nyai Lurah Sekullanggi. Dua orang wanita yang sangat dihormati pada jaman dulu, karena jabatannya sebagai pemimpin abdi dalem perempuan.

Sementara untuk kesatuan prajurit pengaman keraton,menjadi nama kampung Tamtaman, Carangan,dan Wirengan. Prajurit Tamtama pada jaman dulu adalah sebuah kesatuan prajurit pengawal raja. Sementara Carangan adalah prajurit yang bertugas menjaga keamanan bangunan keraton. Sedangkan Wirengan merupakan prajurit yang bertugas menjaga jalannya gunungan dalam acara Grebeg yang dilaksanakan tiga kali dalam setahun.

Penempatan perumahan prajurit berada di lingkungan Baluwarti, sebenarnya sebuah strategi pengamanan dari pihak keraton. Sebagai antisipasi agar tidak terulang penyerbuan dari pihak luar, seperti yang terjadi pada keraton Kartasura. Yang bisa digempur oleh kekuatan Mas Garendi, hingga membuat raja harus melarikan diri. Dan Paku Buwono yang terpaksa pindah ke Surakarta tidak menginginkan hal itu terjadi lagi. Maka prajurit Tamtama, Carangan, dan Wirengan ditempatkan di lapis kedua keraton.

Dan sekarang, ketiga kampung itu mendiami kawasan Baluwarti bagian tenggara dan sebelah selatan. Berada di kanan kiri Kori Brojonolo Kidul, yang merupakan jalan ke alun-alun selatan, dengan berujung di Gapura Gading.

Karena kawasan Baluwarti memang dibangun sebagai benteng, maka perkampungan itu pun berada di dalam bangunan benteng. Dengan pintu-pintu kecil pada setiap kampung sebagai jalan utama untuk keluar masuk pemukiman. Yang membuat orang luar pun tidak tahu kehidupan di dalam bangunan tembok tersebut. Sebuah misteri yang kurasakan sebagai bisikan sejarah dari masa silam.

Namun dari lingkungan yang tertutup rapat itu, kulihat ada kemodernan yang telah mewarnainya. Karena bagaimanapun, meski mereka hidup di dalam benteng masa lalu, tapi kehidupan mereka ada di masa kini.

Dan warga Baluwarti pun manusia hari ini yang hidup dan berkembang, bukan peninggalan mati di masa lalu. Yang itu terlihat dari bertebarannya baliho, umbul-umbul, dan poster iklan yang terpasang semrawut di tiap kampung yang kulalui.

Meski kurasa bahwa pesona kampung dalam benteng ini menyimpan nilai eksotik tersendiri. Sebagai sebuah keunikan arsitektur peninggalan masa kejayaan keraton di masa silam. Yang mungkin bisa menjadi obyek wisata, selain hanya mengunjungi keraton dan museum saja. Hingga kita bisa lebih dalam lagi mengenali budaya kita sendiri, dari tata ruang keraton yang masih tersisa hingga kini.

Sebuah wisata yang bisa dikemas sebagai sebuah jalan-jalan sejarah. Yang mungkin bernama Tour de Bolwerk, atau Muteri Baluwarti.

Dan aku sudah memulainya, seorang diri.

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Maret 2011 pukul 22:42

Catatan Kaki 65: Ditolak Guide Ternyata Sebuah Berkah!

Standar

“Dengan meminum air ini, penyakit apa pun pasti bisa sembuh.”

Si mbah abdi dalem itu mencoba meyakinkanku. Tentang khasiat air mentah yang ada pada sebuah gentong besar yang berada di depanku. Air yang diambil dari sumur di pelataran keraton, yang diyakini bermata air langsung ke pantai selatan.

“Pokoknya apa saja penyakit yang Nakmas derita. Akan sembuh hanya dengan meminum air ini. Syaratnya cuma satu, yakin!”

Aku pun tersenyum dalam hati, “Itulah sulitnya, Mbah! Bagaimana bisa kuyakini sebuah keyakinan yang tidak meyakinkan sebagai sebuah keyakinan…”

Namun karena wilayah keraton dianggap tempat yang sakral dan mempunyai aura magis, maka di pelataran pun banyak kutemukan sesaji. Beberapa tempat pedupaan dan kembang-kembang yang diperuntukkan bagi mereka yang hendak meminta berkah.

Bahkan sempat kulihat juga beberapa lelaki yang duduk bersila dengan memejamkan mata, terdiam sangat lama. Mungkin mereka sedang berdoa dengan cara bertapa.

“Mungkin sedang meminta Indonesia bebas sogokan,” batinku yang tiba-tiba teringat pada iklan rokok yang meminta pertolongan jin itu.

Dan sempat memerhatikan sekilas ke arah lelaki muda yang tengah bersemadi. Mungkin karena kesungguhannya, ia bersila dengan memilih di tempat yang panas. Pelataran berpasir yang tak terlindung lebatnya kerindangan pohon sawo kecik. Hingga wajahnya yang hitam kecoklatan telihat semakin mengkilat, dengan banyaknya lelehan keringat.

Namun aku hanya lewat sebentar, untuk kemudian berjalan lagi mengelilingi pelataran. Dan lama-lama kurasakan nikmat juga berjalan di atas pasir yang hangat, tanpa alas kaki.

Sambil melihat-lihat bangunan keraton, timbul anganku untuk bisa masuk ke wilayah dalam keraton. Ingin mengetahui seperti apakah kehidupan orang-orang di keraton Solo, yang konon menjadi pusatnya budaya Jawa yang adiluhung.

Namun ketika hendak mendekat, tiba-tiba ada seorang abdi dalem perempuan yang melarangku. Seorang nenek yang memintaku agar mundur dari tempatku berjalan-jalan.

Bahkan aku sedikit dimarahinya, karena dianggap telah melanggar batas yang tak boleh dilewati pengunjung. Padahal di depanku telah terpancang larangan untuk itu. Namun aku memang pura-pura tidak melihatnya, dengan menyibukkan diri memotret sana sini.

Dan untuk meredakan kejengkelannya, aku mencoba beramahtamah dengan bertanya padanya. Tentang bangunan-bangunan yang ada di lingkungan dalam keraton.

Kemudian sambil duduk bersila di tempatnya berjaga, di dekat pintu Kori Srimanganti, kami pun berbincang-bindang. Abdi perempuan yang telah berusia senja itu pun menerangkan tentang bangunan-bangungan yang kutanyakan. Salah satunya adalah bangunan pendopo besar yang disebut Pendapi Ageng Sasana Sewaka.

Konon aula besar dan luas ini merupakan tempat bersemedi raja. Juga tempat untuk merayakan upacara kebesaran keraton, seperti pisowanan agung wiyosandalem tingalan jumenengan dalem. Yakni acara kebesaran raja dalam rangka memperingati ulang tahun kenaikan sang raja dalam menduduki takhta. Yang dalam acara besar tersebut selalu dipergelarkan bedhaya ketawang. Sebuah bedhaya yang diyakini sebagai tarian sakral pertemuan raja-raja dinasti Mataram dengan Nyai Roro Kidul.

Aku pun memotret dari sudut kanan bangunan pendopo besar itu. Dan kuperhatikan benar warna bangunan peninggalan Paku Buwono  III  itu. Yang kulihat merupakan perpaduan merah kuning hijau dalam balutan keemasan. Sebuah warna yang konon mengandung filosofi padhang ning ora mblerengi, cumlorot ning ora sumulap. Yang berarti sinar cahaya yang terang namun tidak menyilaukan. Sebuah perlambang agar manusia tidak suka menonjolkan diri. Biarlah kelebihan itu tampak dengan sendirinya, tanpa harus kita bangga-banggakan secara berlebihan

Dan sekilas kenanganku teringat pada majalah TEMPO yang pernah kubaca di kelas 5 SD dulu. Sebuah berita yang menceritakan tentang terbakarnya Pendapi Ageng Sasana Sewaka ini. Bangunan asli yang luluh lantak terbakar pada malam Jum’at Wage, 31 Januari 1985. Dalam musibah itu pula, turut terbakar bangunan Sasana Handrawina, tempat untuk menjamu tamu keraton. Juga Dalem Ageng Prabasuyasa, yang merupakan rumah kediaman keluarga raja.

Dan kawasan Dalem Ageng itulah, tempat yang paling terlarang bagi orang luar. Yang menurut abdi dalem itu, hanya kerabat raja saja yang boleh masuk ke dalamnya. Termasuk kawasan kaputren yang menjadi tempat para putri-putri keraton.

Mendengar penjelasan bangunan terlarang itu, tiba-tiba kenanganku teringat pada sosok Joko Karewed. Sebuah cerita yang terjadi pada masa kerajaan Majapahit, sebagai satu potongan kisah yang tertulis dalam Babad Joko Tingkir.

Seorang pemuda gembala yang menemukan tunas beringin ajaib di sebuah hutan. Tunas yang membentuk sumping, seperti hiasan telinga pada pakaian para bangsawan. Yang ketika dipasangkan di telinga, ternyata mampu menjadikannya menghilang dan keberadaannya tidak terlihat orang lain.

Maka dengan kemampuan itu ia pun melunaskan penasarannya. Sebagai anak desa, seorang cucu tukang jagal, sudah lama ia ingin mengetahui seperti apa kehidupan di dalam keraton Majapahit. Ia ingin melihat bangunan gedung batu yang indah dan megah, yang selama ini tak boleh seorang pun melihatnya. Juga dengan bermacam makanan enak dalam pesta yang seumur hidup tak pernah dicicipinya. Dan putri-putri yang sudah terkenal akan kecantikannya. Yang selama ini hanya didengarnya dari cerita-cerita saja.

Maka kemudian, dengan menggunakan sumping ajaib itu, ia pun datang ke keraton. Dan sejak melewati gerbang hingga ke dalam keraton, tak seorang pun yang bisa menghalangi langkahnya. Karena kedatangannya tak dilihat oleh seorang pun prajurit jaga.

Kesempatan itu pun ia gunakan untuk berkeliling kediaman raja, bahkan sampai tempat pembaringannya. Juga masuk ke bilik-bilik kaputren, menikmati kecantikan putri raja yang sedang mandi di kolam, seperti yang selama ini ada dalam khayalannya.

Bahkan yang kemudian menjadi kesukaannya, adalah juga turut dalam perjamuan pesta kerajaan. Dengan seenaknya, ia ikut makan sepiring dengan raja, tanpa ada yang mengetahuinya. Juga meminum tuak kegemarannya, dalam gelas anggur yang sama.

Sambil berpikiran nakal ingin seperti Karewed, aku pun membayangkan bisa masuk ke dalam kawasan Dalem Ageng tanpa kelihatan. Namun tentu, tidak ingin seperti Karewed yang kemudian gemar mabuk-mabukan di istana. Hingga karena keteledorannya, hiasan yang ada pada telinganya terlepas, ketika ia ambruk dalam mabuknya.

Dan keteledoran itu menjadi kesialan baginya. Karena keberadaannya pun menjadi kelihatan. Hingga terlihat dalam pandangan para prajurit jaga yang kemudian menangkapnya untuk dihadapkan pada Raja Brawijaya.

Setelah ditanya asal usulnya, ternyata Karewed adalah anak Brawijaya sendiri. Yang berasal dari salah seorang abdi dalem kerajaan yang dulu pernah dihamilinya. Namun karena hamil besar, perempuan anak tukang jagal istana tak mau melayani keinginan sang raja, hingga akhirnya diusir dari kerajaan. Dan akhirnya melahirkan di desa.

Maka kalau aku bisa masuk ke dalam keraton, sebenarnya sekadar ingin bisa menyaksikan kehidupan para keluarga raja secara langsung. Yang kondisinya hari ini mungkin telah berbeda dengan jaman dulu kala. Ketika etika ningrat masih sangat melekat, dan penghormatan pada raja masih erat mengikat.

Dengan berjalannya waktu, sepertinya hal semacam itu hanya tinggal kenangan berdebu. Dan adat istiadat dalam keraton pun mungkin sudah tidak sekaku dulu. Yang menurutku, kelapukannya pun tinggal menunggu waktu.

Setelah mendapatkan banyak pengetahuan dari abdi dalem perempuan yang sudah puluhan tahun mengabdi di keraton itu, aku pun berpamitan padanya. Dengan memberikan sedikit balas jasa yang rencananya kuanggarkan untuk membayar guide.

Kemudian sambil berjalan berkeliling lagi,  kulihat banyak rombongan wisatawan mulai berdatangan. Berjalan berkelompok dengan bimbingan seorang pemandu. Iseng-iseng, aku ikut nimbrung dengan berjalan di belakang rombongan itu.

Dan semakin siang, bertambah banyak rombongan yang datang. Aku pun berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Dan turut kudengarkan penjelasan guide yang masih muda-muda itu.

Namun setelah kubandingkan, kurasa penjelasan dua abdi dalem yang telah kuajak ngobrol sebelumnya, lebih dalam daripada keterangan yang disampaikan para pemandu.

Sambil meninggalkan pelataran berpasir, hatiku pun tersenyum bahagia.

Alhamdulillah. Ditolak guide ternyata berkah juga!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 2 Maret 2011 pukul 22:30

Catatan Kaki 64: Dengan Gaji Lima Puluh Ribuan, Bisa Tentram Hidup Sebulan

Standar

Pintu museum telah terbuka, berarti pengunjung sudah boleh memasukinya.

Namun begitu melangkahkan kaki ke sana, suasana yang lengang sangat terasa. Mungkin karena aku yang terlalu pagi datangnya.  Sempat kulirik jam di hapeku, dan ternyata baru pukul setengah sepuluh lebih lima.

Sejenak aku jadi ragu, karena kutengokkan ke mana-mana,  tak juga kulihat seorang pun penjaga ada di sana. Termasuk petugas jaga yang biasanya bertugas menyobek tiket pengunjung yang masuk, sebagai tanda telah diperiksa.

Tapi dengan penuh keyakinan, aku beranikan diri melewatinya. Dengan tiket masih utuh di tangan, aku berjalan sendirian melewati ruangan-ruangan yang sunyi senyap. Melihat pajangan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan yang kusam dan berdebu.

Aku jadi teringat penolakan temanku, yang tak pernah mau kuajak ke museum. Katanya, ke museum hanyalah kerjaan orang nekad yang ingin bertemu hantu. Bangunan tua yang sepi, merupakan tempat yang tepat bagi mereka yang ingin mengikuti ajang uji nyali.

Sambil melihat foto-foto lama, yang mengisahkan kebesaran upacara kerajaan, aku mencoba mencerna setiap peristiwanya. Dan aku pun berjalan terus menyusuri lorong-lorong museum yang tenang dan sunyi. Udara yang pengap membuat suasana museum semakin senyap. Lampu yang temaram menambah rasa mencekam. Seakan sedang tersesat masuk masa silam yang asing. Hingga hanya bisa mencoba memaknai setiap benda-benda, dari keterangan yang bisa terbaca dari papan nama yang tertera.

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba kulihat ada bayangan orang. Dan kuperhatikan seksama dari belakang. Ternyata di ruangan sebelah, ada sepasang turis asing yang juga sedang berkeliling museum juga. Namun mereka bersama seorang pemandu laki-laki.

Ketika turis itu telah pergi, baru kuketahui bahwa ternyata pemandu itu adalah penjaga tiket museum. Aku pun segera mendekatinya, dan mengatakan padanya bahwa tiketku belum diperiksa. Juga sampaikan bahwa untuk berkeliling museum, aku memerlukan seorang pemandu. Untuk bisa menerangkan dan memberikan banyak penjelasan.

Namun ternyata pemuda berbaju batik itu menolak permintaanku. Karena katanya, tugasnya hanyalah menjaga tiket di pintu masuk saja. Bukan pemandu wisata.

Sambil mencoba tersenyum mendengar alasannya, batinku pun merutuk, “Kalau tugasnya hanya menyobek karcis, kenapa tadi sama turis asing mau jadi pemandu?!”

Aku pun kemudian meninggalkannya, yang tengah sibuk menghitung uang pemberian turis asing tadi. Dan aku kembali tersenyum pahit, karena sepagi ini sudah dua kali ditolak guide.

Dengan sedikit menyimpan kecewa, aku kemudian meninggalkan lorong-lorong pengap. Beralih menuju pelataran keraton, yang letaknya di sebelah barat bangunan museum.

Ternyata, untuk masuk pelataran ada peraturan untuk melepas sandal.Terbaca pada papan larangan besar yang terpasang pada dinding gerbang. Bahwa seluruh alas kaki berbentuk sandal harus dilepas, sebagai tanda penghormatan pada kawasan kerajaan. Namun anehnya, bagi pengunjung yang bersepatu justru boleh untuk tidak melepas sepatunya.

Aku pun melepaskan sandal jepit butut yang kupakai. Dengan tersenyum kecut kembali merutuk, “Ini peninggalan mental feodal, atau sebuah diskriminatif warisan kolonial?!”

Dan begitu memasuki pelataran, kulihat hamparan pasir tebal membentang memenuhi halaman. Pasir hitam halus yang konon pada jaman dulu diambil langsung dari pantai selatan. Karena diyakini, telah terjadi hubungan raja-raja keraton Solo dengan penguasa pantai selatan. Sebuah pernikahan mistik sejak jaman Panembahan Senopati.

Karena masih pagi, pelataran masih sepi dan belum ada pengunjung. Aku pun berjalan-jalan dengan kaki telanjang, menikmati kedamaian di dalam lingkungan dalam keraton.

Udara segar yang berhembus pelan terasa sangat menentramkan jiwa. Tembok tebal yang melingkupi keraton, benar-benar seperti peredam suara, yang mampu membuat hilang semua suara apa pun yang datang dari luar. Hanya hembusan angin lembut berdesir di sela-sela pohon sawo saja yang terdengar bagaikan nyanyian penuh aura.

Sambil berjalan berkeliling, aku melihat banyak abdi dalem yang sedang membersihkan pelataran. Menyapu daun-daun kering pohon sawo yang memenuhi hamparan pasir.

Aku menjadi tertarik memotret kegiatan mereka. Yang kulihat ada yang sedang menyapu rontokan daun-daunan, ada yang kemudian membawa gerobak sampah untuk mengangkutnya. Juga memotret kepatuhan mereka pada orang-orang yang lewat, yang dia itu mungkin adalah salah satu dari bangsawan keraton.

Sebab ketika kulihat penghormatan luar biasa di sana. Yakni saat para abdi dalem itu sedang sibuk bekerja, kemudian melihat lelaki muda lewat di dekatnya, serentak mereka menghentikan kegiatannya, untuk bersama-sama melakukan sembah padanya.

Aku mengamati pekerjaan mereka sampai selesai. Dan setelah halaman dibersihkan, kulihat ada seorang abdi dalem yang kemudian beristirahat. Aku pun berjalan mendekatinya untuk mengobrol dengannya.

Dari dialah kemudian aku tahu, mengapa pelataran keraton ditanami pohon sawo.

“Ini namanya pohon sawo kecik, merupakan perlambang agar kita  berlaku yang sarwo becik. Yakni melakukan pikiran, ucapan, dan tindakan yang serba baik.”

Aku pun mengangguk. Dalam bahasa Jawa, sarwo adalah serba, dan becik adalah baik.

Pohon-pohon itu katanya ditanam oleh Paku Buwono X. Penanaman 76 pohon sarwo kecik yang dimaknai sebagai bentuk ramalan masa depan tentang kemerdekaan Indonesia. Karena angka 76 melambangkan tahun Jawa 1876, yang bertepatan dengan tahun 1945. Maka penanaman pohon sawo kecik mengisyaratkan ramalan bahwa pada tahun 1876 akan terjadi keadaan yang sarwo becik, yang serba lebih baik.

Selain mendapatkan keterangan tentang bangunan-bangunan di dalam keraton, aku pun menanyakan soal kehidupan para abdi dalem. Sesuatu yang sudah lama mengusik penasaaranku, karena kepatuhan mereka terhadap keraton sangatlah luar biasa. Padahal konon gaji mereka sangatlah sedikit. Tak lebih dari 50 ribu saja tiap bulannya.

Aku pun bertanya penuh penasaran, “Bagaimana bisa menghidupi keluarga?”

Dan lelaki tua itu pun dengan mantap menjelaskan, bahwa bagi mereka menjadi abdi dalem adalah sebuah pengabdian. Yang tidak bisa dinilai dengan uang sebagai penghargaan. Ketika mereka yakin dengan nilai pengabdian, maka kehidupan pun akan tentram. Segala kebutuhan sehari-hari akan tercukupi dengan hati tenang. Karean telah mereka yakini, semua itu karena berkah yang didapatkan dari sebuah pengabdian.

“Tapi bagaimana dengan gaji yang hanya 50 ribu per bulan?”.

Kembali dengan senyum mantap, ia menyatakan bahwa selalu saja ada jalan dalam menyelesaikan masalah kehidupan.

“Ketika yakin dengan kebesaran Gusti Allah kang murbeng dumadi, maka kepasrahan akan dibayar dengan kehidupan yang tentram dan tercukupinya segala kebutuhan. Menjadi abdi dalem adalah bentuk kepasrahan itu, yang dilambangkan dengan mengabdi bagi raja. Namun sesungguhnya pengabdian ini bukan kepada rajanya, tapi pada Allah tangala. Sinuwun hanya sarana saja, karena raja adalah kalipatuloh ing tanah Jawi.”

Sejenak aku tercenung dengan penuturan si mbah itu, yang aku lupa bertanya namanya. Maka tak heran kalau kepatuhan mereka, seolah tanpa keraguan. Karena ia sendiri telah menjalani kehidupan sebagai abdi dalem selama 50 tahun lebih. Dimulai sejak dia masih anak-anak berumur 15 tahun, hingga sekarang telah beranak cucu banyak.

“Menjadi abdi membuat batin tentram, Nakmas,” ucapnya menutup penuturan.

Aku pun kembali tercenung tersindir. Ketika kita mengaku sebagai ummat Tuhan, meyakini kebesaranNya, namun mengapa tak pernah terlintas sepenuh hidup menjadi abdiNya. Padahal dengan itulah, seluruh kehidupan kita akan dipenuhi olehNya. Kita justru kadang meremehkan kekuasaan Tuhan atas rejeki, meski mungkin tanpa sadar.

Aku kemudian mengucapkan terima kasih pada lelaki tua itu. sebagai balas jasa, anggaran yang sebelumnya hendak kuberikan ke guide pun, kuberikan padanya.

Kakek itu pun tersenyum bijak, “Nah, apa tadi saya bilang. Rejeki selalu datang tanpa pernah kita duga dari mana asalnya. Seperti sekarang ini, Gusti Allah paring rejeki lewat Nakmas. Pokoknya asal kita yakin dengan kewelas asihan Gusti Allah, hidup manusia akan dijamin tanpa pernah disia-siakan. Ngabdi, ngabekti, nggayuh tentreming ati.”

Aku kembali tersadarkan akan makna penghambaan. Dan sebagai kenang-kenangan, aku meminta ijin untuk memotretnya, yang berbaju hitam lengkap dengan samir kuning berplisir merah di lehernya.

Bagi mereka, samir adalah sebuah pusaka agar selamat selama berada di dalam keraton. Dengan samir yang terikat di lehernya, para jin-jin penunggu keraton menganggap mereka sebagai kerabatnya yang turut dijaga keselamatannya.

Meski pun ada juga yang mengatakan, bahwa pada jaman dulu, tanda samir adalah bentuk lain dari sebuah kepatuhan. Sebagaimana layaknya kalung tali pada hewan ternak. Dengan samir melingkar di lehernya, seakan tanda kepasrahan untuk rela melakukan apa saja titah rajanya.

Bahkan sang raja tinggal menarik kencang samir di lehernya, ketika sudah tidak berkenan. Seperti binatang yang dijerat untuk dibawa ke batu penyembelihan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 Maret 2011 pukul 22:41

Catatan Kaki 63: Ketika Seorang Raja Dikenang Bukan Karena Kekuasannya, Tapi Justru Karena Tulisannya!

Standar

Setelah ditolak guide, aku pun memasuki keraton sendirian.

Dan begitu melangkah memasuki gerbang, kedatanganku langsung disambut oleh raja Solo. Yakni sosok Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI yang tengah berdiri tegak di beranda. Meski, hanya dalam bentuk patungnya saja.

Melihat sosok patung Paku Buwono VI itu mendadak ingatanku melayang pada sebuah buku tebal yang belum lama kubaca.

Yang dari buku itulah kemudian aku tahu, bahwa ia adalah seorang raja yang dibuang ke Ambon. Dengan tuduhan kesalahan, melakukan persekongkolan jahat dengan membantu perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Paku Buwono VI adalah seorang raja yang masih sangat muda ketika naik takhta menggantikan ayahnya. Dilantik waktu masih berusia 16 tahun pada 23 September 1823. Kemudian dicopot dari singgasananya ketika berumur 23 tahun pada 14 Juni 1830.

Akhirnya raja muda yang memerintah keraton Solo tak lebih dari 7 tahun itu meninggal dalam pembuangannya. Wafat secara misterius pada Februari 1849 dalam usia 42 tahun.

Dan berita yang terkirim dari Ambon, sang raja terbuang meninggal karena terjatuh dari kudanya. Namun dengan alasan yang tak jelas, Belanda tidak mengijinkan jenazahnya dikembalikan ke Jawa. Hingga baru setelah Indonesia merdeka, pada 8 Maret 1957 kerangkanya digali kembali dan dipulangkan untuk dimakamkan secara terhormat.

Kemudian dari penggalian kerangka itulah, misteri kematian sang raja terkuak. Karena dari lubang bulat yang terdapat pada tengkorak kepalanya, diyakini ia meninggal dengan ditembak dalam jarak dekat. Lalu melalui penelitian panjang, akhirnya pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 17 November 1964.

Terkenang kisah itu, aku pun lama memandangi patung Paku Buwono VI yang berdiri gagah di depanku. Dengan sorot mata tajam dan kumis yang lebat melintang. Mendadak tatapan keharuan mengusap batinku yang tiba-tiba sendu melihat roman mukanya. Melihat sosoknya yang terlihat masih sangat muda dan penuh semangat yang menyala.

Namun keharuanku saat itu, bukan terkenang pada peran besarnya dalam perang Diponegoro. Perang yang dipimpin oleh pangeran dari keraton Jogja yang mampu membangkrutkan Belanda itu. Aku justru tengah terharu pada kisah Paku Buwono VI dalam episode kehidupan berikutnya, setelah perang Jawa itu berakhir.

Bahwa untuk mengganti biaya perang, Belanda kembali melancarkan taktik kelicikannya. Dengan menggelar perjanjian lagi dengan keraton Solo dan Jogja, untuk menggerogoti wilayah kekuasaan keraton Jawa. Yang salah satu keputusannya memaksa Paku Buwono VI sebagai raja Solo, menyerahkan daerah Banyumas dan Purworejo.

Ketika sang raja menolak mentah-mentah paksaan itu, Belanda yang sudah curiga dan tak lagi suka dengannya, semakin meyakininya sebagai kebenaran. Bahwa raja pembangkang itu telah membantu pendanaan perang Diponegoro dari belakang. Belanda pun langsung mengancam untuk menurunkannya dari takhta kerajaan.

Dan tepat pada saat yang sangat gawat tersebut, dalam kepemimpinannya di lingkungan keraton dia juga sedang menghadapi masalah pelik. Permasalahan atas pengangkatannya menjadi raja yang dianggap bermasalah oleh beberapa pihak. Karena dia sesungguhnya bukan putra mahkota dari permaisuri ayahnya. Melainkan hanya seorang anak dari istri selir Paku Buwono V. Sedangkan kedua permaisuri ayahnya tidak mempunyai anak seorang pun juga.

Menurut undang-undang keraton, yang berhak menjadi pengganti raja adalah anak dari permaisuri. Namun ketika permaisuri raja tidak mempunyai anak, yang menggantikan naik takhta adalah adik raja yang lahir dari ibu permaisuri yang sama. Jadi sebenarnya, yang seharusnya menggantikan Paku Buwono V bukanlah dia, melainkan pamannya.

Tapi berkat usaha Patih Sosodiningrat II, yang juga ayah angkatnya, Paku Buwono VI akhirnya berhasil menggantikan takhta ayahnya. Tentu dengan terlebih dulu mendapatkan persetujuan Belanda, karena patih bertanggungjawab kepada gubernur jenderal.

Maka selama ia memerintah, rongrongan dari pamannya, yakni Pangeran Purbaya, terus menerus membuatnya tak tenang menduduki singgasana.

Selain dua permasalahan politik yang pelik itu, dia sendiri juga tengah menghadapi persoalan berat satu lagi. Yakni masalah dalam kehidupan pribadinya, sebagai seorang raja dan seorang suami, dengan para istri-istrinya.

Sebagai raja ia mempunyai empat orang istri, yaitu Kanjeng Ratu Kencono, Kanjeng Ratu Emas, Kanjeng Ratu Maduretno, dan Kanjeng Ratu Anom. Namun di antara keempat istrinya, istri paling muda lah yang sangat dicintainya. Perasaan itu kemudian menyebabkan ketiga istrinya yang lain terus menerus dibakar cemburu, bahkan kecewa.

Apalagi ketika istri muda tersebut menuntut, bila ia melahirkan maka anaknyalah yang harus menggantikan kedudukannya sebagai raja.

Dan sang raja yang tengah dirundung asmara pun menyanggupinya. Bahkan ketika si istri muda meminta kemantapan atas janjinya, untuk tidak hanya sekadar ucapan belaka. Melainkan dengan langkah nyata, yakni memaksanya untuk tidak berhubungan dengan istri-istrinya yang lain, sebelum ia mengandung. Agar Kanjeng Ratu Anom lah yang lebih dulu mempunyai anak, hingga keturunannya lah mempunyai hak sebagai pewaris takhta.

Namun ternyata, yang kemudian terjadi tidak seperti keinginannya. Karena yang mengandung lebih dulu justru istri kedua, yakni Kanjeng Ratu Emas. Maka setelah Kanjeng Ratu Anom mendengar bahwa istri tua suaminya telah hamil 3 bulan, terjadilah kekacauan di keraton. Istri muda yang tengah marah besar dan dicekam rasa putus asa, membuat tindakan menggemparkan. Yakni ditemukan hendak melakukan bunuh diri.

Dalam kegalauan atas nasib kerajaan dan keruwetean rumah tangganya, sang raja Paku Buwono VI berniat hendak menenangkan hati. Maka berangkatlah penguasa Jawa yang dirundung duka itu menyepi ke Mancingan, di daerah pantai Parangtritis, Jogja.

Namun kepergiannya meninggalkan kerajaan tersebut, justru menjadikannya celaka. Sebab ia justru dianggap melakukan perbuatan pembangkangan, karena pergi tanpa meminta ijin terlebih dulu pada gubernur jenderal.

Maka pada 14 Juni 1830, Belanda segera mengirim prajurit dari Benteng Vastenberg untuk menangkapnya. Dan raja yang tengah bertapa itu diseret paksa kembali ke Solo, dan langsung dicopot dari takhta keraton. Karena penangkapan ketika sang raja tengah bertapa itulah, rakyat Solo mengenangnya dengan sebutan Sinuwun Banguntapa.

Dengan diturunkan paksa Paku Buwono VI sebagai raja, Belanda kemudian mengangkat sang paman untuk menggantikan. Maka sejak itu Pangeran Purbaya dilantik gubernur jenderal Belanda menjadi Paku Buwono VII.

Sementara Paku Buwono VI sendiri langsung diringkus dan dibawa ke Semarang. Lalu ia dipenjara di Jakarta, untuk kemudian dibuang ke Ambon pada 8 Juli 1830 dengan menumpang kapal Roepel. Mengikuti pembuangan Pangeran Diponegoro ke Makasar pada bulan sebelumnya.

Sedangkan ketiga istrinya yang masih menyimpan kecewa, tak ada yang mau menemaninya ke tanah pembuangan. Hingga ia hanya ditemani seorang istri tercintanya, Kanjeng Ratu Anom, yang telah mengurungkan untuk bunuh diri.

Sejenak aku tercenung mengingat kisah menyedihkan dan memilukan itu.

Namun kenangan berikutnya datang, ketika aku teringat tentang kenang-kenangan Paku Buwono VI selama di tanah pembuangan.

Bahwa selama dalam pengasingan di Batu Gajah, Ambon, yang sepi ia mengisi waktunya dengan giat menulis. Kemampuan sastranya memang diakui oleh Jenderal de Kock, Gubernur Jenderal Belanda yang telah menipu Diponegoro dan juga memusuhinya. Menurutnya, Paku Buwono VI ini merupakan ‘raja yang berpengetahuan sejarah dan tradisi Jawa yang luas, serta cerdas dalam membaca dan menulis’.

Maka dari pengasingannya pun ia menuliskan ulang cerita sejarah Jawa. Sebuah karya sastra berjudul Babad Jaka Tingkir, yang tercipta dalam bentuk penceritaan yang unik. Karena sang tokoh, yakni Joko Tingkir yang dijadikan judul, justru kisahnya sama sekali tak muncul dalam cerita. Yang dikisahkan dengan panjang lebar, malah masa silam dari banyak tokoh leluhur Joko Tingkir. Dan penceritaan ini semakin menarik karena dituturkan dengan trik yang unik, yakni dengan permainan babak penceritaan yang silih berganti saling menyela dalam tiap adegan. Dan juga dalam penuturan yang saling jalin menjalin berkelindan dengan bahasa tembang macapat yang indah penuh nilai sastra.

Karya sastra luar biasa yang seratus tahun kemudian membuat Nancy K Florida terpesona. Seorang peneliti naskah-naskah kuno Jawa yang gelar doktornya diperoleh dari penelitian di perpustakaan keraton Solo itu pun kemudian membahasnya dengan sangat cerdas. Pembacaan kritis yang kemudian menjadi disertasinya di Universitas Cornell yang berjudul ‘Writing the Past Inscribing the Future: History as Prophecy in Colonial Java’.

Bahkan orang bule pertama yang mendapatkan gelar ningrat Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Budayaningtyas ini menyebut Babad Jaka Tingkir sebagai ‘babad alternatif’ yang menawarkan kearifan. Merupakan sebuah kisah sejarah yang tak menjadikan salah satu tokohnya sebagai penafsir tunggal kebenaran.

Keunikan dan keindahan itu pula yang kemudian turut kurasakan. Ketika membaca tafsir kritisnya atas naskah Jawa yang juga membuatku terpesona.

Sejenak, sebelum melangkah meninggalkan sosok patung raja muda itu, aku pun merenung, “Sang raja yang pernah penuh kuasa, dikenang bukan karena kekuasaannya. Namun namanya tetap abadi sepanjang masa, karena tulisanya.”

Maka aku yang bukan raja, akan dikenang dengan apa, kalau menulis saja tak bisa, dan tidak biasa?

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Februari 2011 pukul 22:39

Catatan Kaki 62: Membaca Kode Rahasia Songgo Buwono yang Penuh Sandi Angka

Standar

Dari Sitinggil, aku meneruskan perjalanan ke arah selatan. Menuju gerbang keraton Solo yang bernama Kori Kamandungan.

Sebelum masuk pelataran Kamandungan yang bernama Bale Rata, aku melewati pintu masuk bernama Kori Brojonolo. Sebuah jalan masuk berupa sebuah gerbang besar dengan sepasang daun pintu kayu tebal bercat biru yang sangat kokoh.

Di atas pintu gerbang tersebut, konon terpahat sebuah penanda berupa kulit sapi berbentuk segi empat. Suatu sandi dari ungkapan lulang sapi siji, yang berarti ‘selembar kulit sapi’. Namun sebenarnya, lulang sapi siji merupakan kepanjangan dari wolu ilang sapi siji yang menerangkan tahun pembuatan gerbang utama tersebut.

Dalam kode sandi tahun candrasengkala, wolu adalah angka 8, ilang pengganti angka 0, sapi angka 7, sedangkan siji berarti angka 1. Maka ketika dibaca dari belakang, terbaca angka 1708. Yang berarti bangunan tersebut dibuat pada tahun Jawa 1708 atau 1782 M.

Kori Brojonolo berasal dari kata brojo dan nolo. Brojo berarti senjata tajam, dan nolo berarti hati. Sebagai peringatan agar kita memiliki ketajaman hati. Karena untuk mencapai kesempurnaan kehidupan, haruslah memiliki ketajaman perasaan yang bersifat rohaniah. Caranya adalah dengan terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di kanan kiri gerbang tersebut kita temukan empat pos jaga. Bangunan berbentuk gardu yang berada di luar bernama Bangsal Brojonolo, sedang yang ada di dalam bernama Bangsal Wisomarto. Keempat gardu bangsal itu dulunya dipakai berjaga prajurit keraton.

Wisomarto berasal dari kata wiso yang berarti racun, dan marto yang berarti penawar. Sebuah perlambang agar kita harus bisa menjadikan racun yang berbahaya tidak lagi berbisa. Sebab dalam usaha kita menuju kesempurnaan kehidupan, harus bisa meninggalkan perbuatan tercela yang bisa meracuni jiwa kita.

Namun sekarang keempat bangsal itu tak lagi ada yang menjaga. Yang menempati justru para penjual es yang menjual dagangannya. Dan menjadikan Bangsal Brojonolo dan Wisomarto menjadi tempat lesehan yang asyik untuk menikmati es jualan mereka.

Akupun berhenti sejenak di bangsal itu. Namun tidak sambil beli es, karena hari masih pagi. Aku hanya beli roti, yang kunikmati sambil mengamati dengan seksama bentuk ukiran yang terpahat di atas Kori Kamandungan. Ukiran berbentuk padi dan kapas yang melintang di atas lisplang, yang konon melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Kori Kamandungan berarti pintu gerbang Kamandungan. Merupakan bangunan terdepan dari keraton bagian dalam. Bangunan peninggalan Paku Buwono IV yang didirikan pada tahun 1819, dan kemudian dibangun kembali oleh Paku Buwono IX pada tahun 1889.

Kamandungan berasal dari kata mandu, yang berarti calon. Sebuah perlambang bahwa setiap kita sesungguhnya adalah calon mayat. Mengingatkan pada semua manusia yang tengah menikmati kehidupan, bahwa pada saatnya nanti pasti akan mengalami kematian.

Maka untuk mengajarkan itu, di sisi kiri dan kanan Kori Kamandungan terpasang tiga cermin besar. Dan sebelum masuk keraton disarankan untuk bercermin, memeriksa pakaian yang dikenakan. Yang sesungguhnya perlambang untuk mengingatkan agar kita selalu bercermin diri terhadap tingkah laku perbuatan kita, demi menjaga kesucian jiwa.

Dan sama seperti di gapura Gladag, di depan Kori Kamandungan pun terdapat dua patung raksasa yang menyeramkan. Arca Pandhita Yaksa yang menjadi perlambang, bahwa setiap niatan untuk menjaga perbuatan dan kesucian hati, pasti ada halangan dan rintangan yang akan menghadang.

Dari arah pelataran Kamandungan, dengan menatap ke atas sebelah kiri akan terlihat sebuah menara. Bangunan keraton yang tinggi menjulang, dan  dari jauh pun sudah kelihatan. Sebuah bangunan menara berbentuk segi delapan dengan ketinggian 30 meter, yang terbagi dalam 4 lantai. Inilah yang disebut dengan Panggung Songgo Buwono.

Panggung Songgo Buwono berarti menara penyangga semesta. Konon bangunan itu menjadi tempat bertemunya Raja-Raja Solo dengan Ratu Pantai Selatan yang dipercaya sebagai istrinya. Namun sesungguhnya juga menjadi tempat pengintaian, untuk mengawasi gerak-gerik Belanda yang berada di Benteng Vastenburg.

Penamaan Panggung Songgo Buwono juga menjadi penanda berdirinya bangunan ini. Sebab dalam hitungan candra sengkala, panggung bermakna angka 8, song bermakna angka 9, so bermakna angka 1, dan buwono adalah angka 1.

Dan dengan kaidah candra sengkala yang menggunakan pembacaan terbalik, maka kalimat itu akan terbaca angka 1198. Yang berarti bangunan ini didirikan pada tahun 1198 Hijriyah atau 1782 Masehi. Bangunan ini adalah peninggalan Paku Buwono III, yang berkuasa pada tahun 1782 Masehi atau 1708 tahun Jawa.

Pembangunan tahun 1708 itu pun juga terbaca dari candra sengkala lainnya yang berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma. Naga melambangkan angka 8, muluk melambangkan angka 0, tinitihan melambangkan angka 7, dan janmi yang melambangkan angka 1. Dengan pembacaan dari belakang, terbaca angka 1708.

Naga muluk tinitihan jami berarti ular naga terbang yang dikendarai manusia. Maka penandanya juga digambarkan dengan bentuk gambar seekor ular naga bermahkota yang sedang dinaiki oleh orang yang tengah memanah.

Ada lagi kepercayaan orang, yang mengatakan gambar orang yang menaiki ular tersebut memiliki makna jangkaning jaman, atau peringatan akan datangnya peristiwa yang akan terjadi. Yaitu cara membaca candra sengkala menjadi Keblat Rinaras Tri Buwono.

Dalam aturan candrasengkala, kata keblat adalah pengganti angka 4, rinaras angka 6, tri angka 3, dan buwono angka 1. Maka akan terbaca angka tahun 1364 Hijriyah, yang bertepatan dengan tahun 1945 M. Tahun yang menjadi kemerdekaan Indonesia.

Sedangkan makna figur orang yang mengendarai ular, menerangkan bahwa ular yang dalam bahasa Jawa adalah ula melambangkan kata kawula atau rakyat. Mahkota pada ular, bermakna raja yang mempunyai kekuasaan. Kemudian panah yang siap dilepaskan adalah lambang tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan manusia yang memegang panah perlambang dari sang pengendali kebijakan.

Jadi terbaca dari gambar tersebut, bahwa pada tahun 1945 akan terjadi peristiwa besar. Dimana rakyat yang akan memegang kekuasaan tertinggi dalam mengendalikan dan mengarahkan tujuan yang ingin dicapai. Konon itu maksudnya adalah Republik Indonesia akan merdeka dan kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat atau demokrasi.

Panggung Songgo Buwono yang tegak menjulang konon perlambang laki-laki. Sementara dalam filosofi lingga-yoni sebagai asal mula kehidupan, yang menjadi perlambang perempuan adalah bangunan bernama Kori Sri Manganti.

Namun ketika meminta ijin untuk melihat Kori Srimanganti, aku dilarang oleh abdi dalem penjaga keraton yang berjaga di depan. Menurut mereka Kori Srimanganti telah masuk wilayah dalam keraton, yang tak boleh dimasuki oleh sembarang orang dari luar.

Orang yang bukan kerabat keraton tak diperkenankan masuk lewat Kori Kamandungan. Namun diperbolehkan lewat pintu timur, yang masuk melewati museum. Maka aku pun melewati pintu masuk itu, sebelum terlebih dulu membeli tiket masuknya.

Aku benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang keraton, meski pun telah kubaca bermacam-macam buku tentang itu semua. Namun menurutku, pengetahuan itu belum terpuaskan, sebelum melihat secara langsung bentuk nyata bangunan dalam keraton berikut  suasananya yang konon sarat kesakralan ajaran Jawa.

Aku juga ingin melihat langsung sisa peninggalan keraton Mataram yang panjang sejarahnya. Yang sebenarnya kelanjutan dari kerajaan Demak dan Pajang. Yang kemudian dianggap menjadi pusatnya budaya Jawa yang adiluhung dan sarat nilai filosofinya.

Maka setelah membeli tiket, aku pun meminta seorang guide untuk menemaniku masuk museum dan menjelaskan.

Namun mendengar permintaanku, kelihatannya mereka saling enggan. Para pemandu yang berjajar di pintu loket itu hanya saling pandang dan saling lempar ucapan. Dan dari empat pemandu itu, tak ada satu pun yang memberikan jawaban kesanggupan.

Mungkin melihat penampilanku yang tak meyakinkan, karena hanya bercelana gunung dan kaos butut serta sandal jepit murahan. Dengan tampang kampungan, yang mungkin mereka anggap tak  punya uang untuk membayar jasa mereka.

Sebuah anggapan tepat yang tak perlu kubantah.

Alhamdulillah

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Februari 2011 pukul 22:28

Catatan Kaki 61: Ketika Meriam Hanya Menjadi Souvenir Pajangan

Standar

Sitinggil merupakan titik pusat kewibawaan kerajaan.

Karena di tengah Sitinggil terdapat Bangsal Manguntur Tangkil, yang merupakan singgasana raja ketika bertahkta. Oleh karenanya, Sitinggil diyakini orang Jawa sebagai pancering prabawa yang mempunyai daya magis penuh aura.

Maka dulu hanya para sentana dan nayaka, yakni para kerabat dan pejabat kerajaan saja yang diperbolehkan memasukinya. Karena Bangsal Manguntur Tangkil merupakan tempat yang sangat terhormat, yang tak sembarang orang boleh berada di sekelilingnya.

Namun sekarang, siapa saja orang boleh datang ke sana. Terutama para wisatawan yang ingin melihat langsung singgasana raja yang terpasang di tengah Bangsal Sewayana. Berada membelakangi Bale Manguneng yang merupakan tempat sangat keramat, karena di dalamnya tersimpan pusaka kerajaan, Kyai Setomi yang siapa pun tidak boleh melihat.

Dan bukan hanya mereka yang ingin melihat singgasana raja saja. Karena sering kali kutemukan banyak pedagang asongan yang juga turut melepas lelah di aula. Bahkan tidur dengan nyenyak di sekeliling Bangsal Sewayana, Bale Manguneng dan Bangsal Witana. Sesuatu yang tak mungkin terjadi pada jaman dulu, ketika Sitinggil masih menjadi tempat yang benar-benar terhormat. Kawasan yang selalu dijaga rapat sejak dari Kori Mijil hingga Kori Mangu, yang menjadi pintu satu-satunya dari Pagelaran dan Kamandungan.

Untuk menunjukkan Sitinggil sebagai pusat kewibawaan kerajaan, kawasan ini dibuat lebih tinggi dibanding bangunan lainnya. Bahkan untuk makin memperlihatkan kewibawaannya sebagai daerah aman kerajaan, kawasan ini pun diperkuat dengan sepuluh meriam sebagai bentuk pertahanan. Maka di depan Sitinggil terpancang meriam-meriam itu dengan moncong mendongak menantang menghadang menghadap utara.

Karena kalau dilacak dari sejarah, letak keraton berada di sebelah selatan kantor gubernur jenderal Belanda. Yang juga berhadap-hadapan dengan Benteng Vastenberg, benteng pertahanan Belanda yang berada di timur laut alun-alun keraton. Jadi pemasangan meriam tersebut, seolah menggambarkan kewibawaan kerajaan, terhadap keberadaan Belanda yang selalu ingin ikut campur permasalahan.

Maka sampai hari ini, di pelataran Bangsal Sewayana terpancang delapan moncong meriam, sedangkan di depan Kori Mijil terpasang dua buah meriam. Meriam-meriam yang diyakini sebagai jimat keramat, hingga senjata pelontar bola-bola api itu pun diberi nama panggilan terhormat ‘Kanjeng Kyai’.  Bahkan karena telah dianggap sebagai pusaka, seperti juga manusia, merekapun dipasang-pasangkan satu dengan lainnya.

Misalnya meriam Kanjeng Kyai Bringsing yang terpasang di ujung barat halaman. Meriam pemberian Kerajaan Siam dari Thailand ini berpasangan dengan Kanjeng Kyai Pamecut peninggalan kerajaan Mataram yang terpasang di ujung timur halaman.

Lalu di sebelahnya, terdapat meriam Kanjeng Kyai Bagus yang berpasangan dengan Kanjeng Kyai Alus, yang keduanya adalah pemberian Belanda, melalui gubernur jenderal Van Der Leen. Kemudian pasangan berikutnya adalah meriam Kanjeng Kyai Nangkula dan Kanjeng Kyai Sadewa yang juga pemberian VOC Belanda.

Dan yang terakhir adalah meriam Kyai Kumbarawa dan Kyai Kumbarawi. Sepasang senjata peninggalan kerajaan Mataram ini sekarang terpasang di atas Kori Mijil. Tepat mengapit jalan berundak yang berada di kanan kiri jalan menuju Sitinggil.

Sementara di ujung bawah, di kanan kiri Kori Mijil terdapat sepasang meriam lagi. Meriam yang diberi nama Kyai Swuh Brastha dan Kyai Segara Wana. Kedua meriam yang konon peninggalan kerajaan Kartasura, sebelum pindah ke Surakarta.

Nama Swuh Brastha sesungguhnya berarti memberantas musuh. Karena dalam bahasa Jawa, swuh adalah musuh dan brastha artinya memberantas. Jadi keberadaan meriam ini adalah sebuah senjata yang digunakan untuk menghancur leburkan musuh.

Namun kalau dilacak dari sejarah keraton, yang dianggap sebagai musuh bukanlah Belanda yang telah menjajah mereka. Melainkan justru para perongrong kekuasaan raja yang ingin menggulingkannya. Yakni mereka yang merasa tidak sepakat dengan kebijakan kerajaan, karena telah bertekuk lutut di bawah ketiak Belanda.

Sebab demikianlah yang terbaca dari sejarah. Termasuk berpindahnya keraton Solo dari Kartasura ke Surakarta juga karena disebabkan sebuah penyerangan ‘musuh’. Keraton Kartasura di bawah kekuasaan Paku Buwono II, diserang oleh saudaranya, Raden Mas Garendi yang tak sepakat dengan kebijakan keraton, yang tunduk pada perintah kolonial.

Dan untuk memadamkan gerakan Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning itu, Paku Buwono II meminta bantukan Belanda. Hingga raja yang terbirit-terbirit terusir dari Kartasura dan berdiam di Ponorogo itu pun bisa kembali mendapatkan takhtanya. Karena Belanda yang berpusat di Semarang berhasil menghancurkan kekuatan Sunan Kuning.

Namun bantuan Belanda tentu bukan cuma-cuma. Sebab sejak jaman Mataram, ketika mereka membantu Amangkurat, selalu ada perjanjian menukarnya dengan lahan kerajaan. Hingga setiap ada konflik, Belanda dengan suka rela membantu penguasa yang bertikai, karena dengan imbalan mendapatkan daerah kekuasaan. Dan begitu terus menerus ketika kekuasaan Mataram berpindah ke Solo di bawah dinasti Paku Buwono. Hingga keraton pun makin menciut wilayah kekuasaannya.

Termasuk juga ketika Belanda diminta untuk membantu membangun kerajaan yang baru, di kota Solo sekarang. Paku Buwono II menulis surat perjanjian, yang antara lain berbunyi, “Inilah surat perkara melepaskan terhadap keraton Mataram. Dari Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati Hing Ngalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama. Ialah dikarenakan oleh perintah Kanjeng Kumpeni yang agung itu, keratuan ini diserahkan pada Kanjeng Tuwan Djohan Baron Pan Hogendorep….”

Sebuah surat yang dikirimkan pada tahun 1749 pada gubernur jenderal Belanda, Djohan Baron Van Hohendorv. Yang isinya sarat dengan merendahkan diri sebagai penguasa tertinggi di Jawa. Dan meninggikan pemerintahan Belanda secara sangat berlebihan.

Belanda yang di masa Sultan Agung dianggap musuh, oleh keturunannya justru dianggap sahabat bahkan saudara. Diperlakukan sebagai sosok yang sangat dihormati oleh para penguasa Mataram. Hingga para gubernur jenderal Belanda dipanggil dengan sebutan terhormat ‘Eyang’, dan komandan militer lokal dipanggil dengan sebutan ‘Romo’. Yang setiap kedatangannya selalu disambut dengan upacara kebesaran kerajaan, sebagai bentuk penghormatan besar-besaran. Sebuah pelecehan kedaulatan yang makin menghilangkan kewibawaan keraton sebagai kekuasaaan di Jawa, yang dulu diperjuangkan leluhurnya.

Maka sepertinya, tepatlah penamaan meriam pasangan Kyai Swuh Brastha dengan nama Kyai Segara Wana. Dalam bahasa Jawa, segara adalah lautan dan wana adalah hutan. Sebagai penanda telah lepasnya kekuasaan keraton Solo atas penguasaan lautan dan hutan. Karena sang raja telah bertekuk lutut dalam cengkeraman kolonial Belanda.

Sebab kekuasaan lautan yang dimiliki kesultanan Demak telah lepas dari tangan kerajaan Pajang, yang merupakan kelanjutan dari Demak. Dan kekuasaan atas hutan-hutan yang merupakan kawasan terbesar Pajang pun kembali lepas dari tangan Mataram, sebagai kerajaan penerus kekuasaan Pajang.

Maka sesungguhnya, keberadaan meriam yang terpasang sedemikian banyaknya, sepertinya tidak benar-benar untuk menjaga kewibawaan raja. Bahkan kalau pun diniatkan begitu, sebenarnya hanya kekuasaan semu saja. Karena keraton tak lagi mempunyai kekuasaan yang mutlak atas keputusannya sendiri.

Sebab setiap kebijakan kerajaan, harus selalu melalui persetujuan Belanda. Dan karena terikat perjanjian, raja pun tak lagi bisa berkutik. Bahkan sosok patih, yang merupakan perdana menteri, bukan hanya bertanggungjawab terhadap raja. Melainkan juga kepada gubernur jenderal Belanda, yang mempunyai hak mengangkat dan memberhentikannya.

Karenanya tak heran, keberadaan meriam pun tak lagi untuk menghancurkan musuh. Dan  tak pernah sekali pun senjata-senjata itu digunakan sebagai mana mestinya sebuah senjata. Sebab dalam sejarah keraton Solo, meriam-meriam itu justru dialih fungsikan sebagai penanda dimulainya acara-acara kebesaran kerajaan. Dibunyikan ketika kerajaan akan mengadakan grebegan, jumenengan, jendralan, dan upacara lainnya.

Dan masih tersisa satu meriam lagi yang berada di Sitinggil. Yakni meriam yang tersimpan di Bangsal Manguneng, di belakang singgasana raja. Meriam yang dianggap pusaka paling sakral yang bernama Kanjeng Nyai Setomi. Sebuah meriam yang dianggap keramat, hingga tak boleh sesiapa pun boleh melihat. Maka tempat penyimpanannya pun dibuat rapat dengan dikelilingi tirai tebal yang menutupinya.

Kalau kita pernah ke Musium Fatahillah di Jakarta, pasti pernah melihat Meriam Si Jagur. Meriam besar yang pada ujungnya membentuk tangan dengan jempol terjepit antara telunjuk dan jari tengah. Meriam yang konon juga dipercaya bisa menjadi perantara terkabulnya keinginan untuk memiliki keturunan. Dengan jalan mengusapkan perut perempuan di ujung jempol meriam Si Jagur.

Nah, meriam Nyai Setomi ini dipercaya merupakan pasangan Si Jagur. Karena Meriam Si Jagur nama lainnya adalah Kanjeng Kyai Setomo. Konon keduanya adalah meriam pemberian Portugis pada Pangeran Jayakarta, sebagai tanda kerjasama dengan Pajajaran.

Pada masa Sultan Agung, kedua meriam itu dibawa ke Mataram. Tapi Kyai Setomo kemudian dikembalikan ke Jakarta lagi karena tidak betah. Setiap malam Selasa Kliwon selalu terdengar suara meraung-raung seperti orang menangis yang diyakini berasal dari meriam laki-laki itu. Dan di Jakarta meriam itu kemudian diletakan di dekat jembatan Kota Intan di kota lama, sebelum sekarang dipindah ke Museum Fatahillah.

Sementara Nyai Setomi tetap berada di Jogja, di keraton Mataram. Dan ketika kekuasaan Mataram pindah ke Kartasura, meriam itu turut dibawa. Hingga saat berpindah lagi ke Surakarta, meriam tua itu pun kemudian makin dianggap sebagai pusaka utama.

Tentang penamaan Kyai Setomo dan Nyai Setomi, ada pendapat yang mengatakan karena kedua meriam ini adalah buatan Portugis. Dibuat di pabrik Santo Thomas, sebuah kota jajahan Portugis di India yang sekarang bernama Madras. Dan pada meriam-meriam buatan pabrik itu, cirinya ada cetakan nama ‘Sant-Thome’ pada badannya. Dan dari tulisan Sant-Tomi itulah, lidah Jawa mengucapkannya menjadi Setomo dan Setomi.

Namun apa pun namanya, pada mulanya meriam dibuat sebagai senjata penghancur lawan. Tapi seampuh apa pun senjata itu, ketika sang empunya tak lagi punya kewibawaan, maka kekuatannya pun akan hilang. Apalagi setelah si pemilik takluk di balik ketiak lawan. Maka keberadaannya tak lebih hanya sekadar benda pajangan.

Ia tak lebih dari sekadar souvenir pemanis. Sungguh, sebuah sejarah yang tragis!

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Februari 2011 pukul 16:12