Category Archives: Catatan Kaki 71 – 80

Catatan Kaki 80: Dari Majalah ‘Mainan’, ke Majalah Dinding, Hingga Majalah ‘Beneran’

Standar

Sejak SD aku adalah penggemar berat serial Lupus.

Otomatis, aku juga jadi pengagum Hilman Hariwijaya, sang pengarang Lupus.

Katanya, Hilman itu sejak SD suka bikin majalah sendiri, yang ditulis sendiri, didesain sendiri, dan dijual sendiri.

Entah kenapa, aku pun tertarik dengan hal itu. Hingga kemudian aku banyak mempelajari majalah-majalah anak yang ada di perpustakaan sekolahku. Kuperhatikan bentuknya, modelnya, gambarnya, tulisannya, covernya, desainnya, dan segala macamnya. Akupun ingin bisa membuat yang seperti itu. Meski dengan cara yang sangat sederhana, sebisanya aku saja.

Akhirnya aku pun benar-benar membuat majalah ‘mainan’. Majalah yang kubuat sendiri dari empat lembar kertas HVS yang dilipat jadi dua. Maka jadilah majalah anak dengan ketebalan 16 halaman.

Majalah itu kuutulis tangan dan kugambari sendiri. Kutulisi puisi yang sudah pernah kukirimkan ke majalah MITRA. Kutulis ulang cerita-cerita dan dongeng yang pernah kudengar dari nenekku. Kutulis juga pengalaman-pengalaman lucu orang-orang terdekatku. Semua kuberi gambar dari coretan kartunku. Bahkan ada pula komik strip yang kucontek dari koran Poskota. Sungguh, aku bangga sekali waktu itu, bisa membuat majalah sendiri.

Majalah mainan itu hanya kubikin satu eksemplar saja. Maka kalau ada yang mau membaca majalahku, mereka harus bergantian. Di desaku waktu itu belum ada kios foto kopi, jadi tidak bisa memperbanyak lagi. Kalau mau memfoto kopi, harus ke kota kecamatan. Yang jaraknya sepuluh kilometer dari desaku.

Dari modal suka bikin majalah mainan itulah, bakatku makin tersalurkan ketika di SMP.

Di sekolahku ada majalah dinding yang terbit dua minggu sekali. Namun melihat karya yang dipampang, menurutku biasa-biasa saja, aku langsung menyerbu dengan karya-karyaku. Karya-karya yang dulu kubuat untuk majalah mainan buatanku. Ada puisi, cerpen, cerita lucu, dan kartun-kartun strip. Aku gencar sekali mengirim, bahkan untuk semua rubrik yang ada.

Karena seringnya mengirim, akhirnya aku berkenalan dengan guru pembimbingnya. Dan setelah kelas dua, aku dimasukkan jadi pengurus mading, sekalian menjadi pengurus OSIS bidang Kesenian. Dan di mading itulah, ketertarikanku pada majalah makin kumatangkan.

Dan kesukaan mengurus mading berlanjut ketika masuk STM. Saat itu, aku aktiv di OSIS. Sebagai ketua bidang Seni, aku mengusulkan adanya mading di sekolahanku. Dan usulku itu disetujui oleh Pembina OSIS, dengan langsung membentuk tim pengurus.

Namun tim pengurus itu tidak kompak, karena mereka memang kurang suka dengan dunia seni. Mereka  lebih asyik bergiat di Pramuka dan PMR. Dan karena aku yang mengusulkan, akhirnya akulah yang harus mengerjakannya sendirian.

Aku yang sejak SMP sudah mulai berkenalan dengan majalah remaja (HAI, MODE, ANEKA, GADIS), kupraktekkan di sini. Selama membaca majalah-majalah remaja tersebut, selain isinya, juga sangat kuperhatikan desainnya. Maka mading STM ku, kubuat desain seperti majalah. Lengkap dengan berbagai rubriknya, yang kubuat khas majalah remaja yang gaul.

Aku betul-betul menggarap itu sendirian. Karena sebelum angkatanku, memang belum ada mading. Aku mengawali semuanya. Dua edisi berturut-turut, hanya karya-karyaku yang kutempel untuk sekadar percobaan penerbitan. Ternyata banyak juga yang suka berkerumun di depan mading kalau jam istirahat.

Diam-diam aku suka bangga, kalau melihat teman-temanku begitu asyik membaca tulisan-tulisanku di mading.

Setelah itu aku membuka kiriman karya, namun tak banyak yang masuk. Terpaksa harus menulis sendiri, memberi ilustrasi, melay-out, dan menempelnya. Kukerjakan setiap Sabtu sore di minggu ke dua dan ke empat.

Karena aku Pemimpin Redaksi, merangkap segala macam Redaktur, maka otomatis aku menggawangi semua rubrik yang ada. Dari mulai OPINI, TOPIK KAMU, SASTRA REMAJA, sampai ruangan CURHAT. Maka kalau tak ada yang mengirim naskah satupun, berarti aku harus menulis sedemikian banyak rubrik yang ada.

Untuk menutupi itu semua, maka aku harus punya nama samaran sebanyak tulisanku. Termasuk rubrik CURHAT yang berisi konsultasi remaja. Terpaksa aku harus menulis pertanyaan yang itu harus kujawab sendiri.

Tapi berawal dari membuat majalah mainan waktu SD dan mengurusi mading di SMP dan STM itulah, kemudian hari aku pede untuk mendesain majalah betulan.

Ketika setelah lulus STM, setelah mencari kerja ke mana-mana, akhirnya aku diterima di sebuah penerbit buku. Yang kebetulan penerbit itu juga menerbitkan sebuah majalah remaja. Dimulai dari mendesain majalah ‘beneran’ itulah, aku berkenalan dengan dunia grafis yang sesungguhnya.

Dan sekarang, ketika aku bekerja menjadi ‘tukang desain’ di koran terbesar di Solo, aku jadi terkenang masa kecilku. Terkenang pada majalah mainan yang pernah kubuat sendiri. Yang kutulis sendiri, kugambari sendiri, dan kudesain sendiri.

oleh Nassirun Purwokartun pada 22 Maret 2011 pukul 17:53

Iklan

Catatan Kaki 79: Buku Sastra Terbaru dan Honor Kartunku

Standar

Menginjak SMP aku makin rajin menulis dan mengirimkannya.

Bukan lagi puisi yang kutulis, tapi mulai belajar membuat cerpen-cerpen remaja.

Aku banyak belajar menulis cerpen dari novel-novel remaja yang kubaca. Novel-novel karya para pengarang-pengarang muda Gramedia yang sedang jadi idola. Dari mulai Hilman Hariwijaya, Gola Gong, Zarra Zettira ZR, Bubin Lantang, dan banyak yang lainnya.

Tapi sampai dengan lulus SMP, tak satu pun cerpenku yang dimuat di majalah. Padahal waktu tiu aku rutin tiap minggu mengirimkan ke berbagai media. Aku tak tahu kenapa ratusan cerpenku tak satu pun yang bisa muncul di media. Namu aku tak putus asa, malah semakin tertantang untuk makin rutin menulis dan terus mengirimkannya.

Saat itu pikiranku hanya menduga, mungkin karena ide ceritaku yang kurang menarik bagi redakturnya. Atau bahkan karena tulisan tanganku yang memang sulit terbaca. Sebab selama aku mengirimkan, selalu dengan tulisan tangan. Karena aku memang tak punya mesin ketik untuk mengetik puisi dan cerpen-cerpenku.

Pernah sempat meminta tolong diketikkan pegawai kelurahan, tapi setelah dipikir-pikir mahal ongkosnya. Karena aku harus membayar perlembar lima ratus rupiah, sementara satu cerpen minimal lima halaman. Yang berarti harus mengeluarkan uang dua ribu lima ratus hanya untuk mengetikkan saja. Belum untuk beli amplop dan prangkonya.

Maka jalan satu-satunya adalah dengan memperbagus tulisan tanganku. Dengan penulisan yang jelas huruf dan tanda bacanya. Dengan harapan, meski hanya tulisan tangan, namun bisa terbaca redakturnya, hingga punya kesempatan untuk dimuat.

Namun meski tulisan tanganku telah jelas dan terbaca, ternyata tak juga membuat cerpenku dimuat juga. Jadi kesimpulanku, mungkin memang ceritanya yang tidak menarik.

Karena jenuh mengirim puisi dan cerpen dan tak pernah dimuat itulah, aku mulai mencoba mengirimkan lainnya. Yakni aku mulai mencoba mengirim gambar kartun. Kebetulan, sejak SD aku memang sudah tertarik dengan gambar-gambar kartun yang kulihat di Koran Pos Kota.

Pertama aku mengirimkan kartun, waktu naik kelas dua SMP. Ke media pelajar Jawa Tengah waktu itu, sebuah majalah bernama MOP. Namun sampai lulus SMP, tak pernah dimuat juga.

Namun anehnya, meski puisi, cerpen, dan kartunku tak pernah dimuat, aku tetap tidak pernah merasa putus asa. Sesuatu yang sampai sekarang aku masih sering heran sendiri ketika mengenangnya. Betapa gigih dan besarnya semangatku saat itu. Padahal kalau dihitung, berapa uang jajan yang telah kuhabiskan untuk beli prangko dan amplop selama tiga tahun pengiriman.

Karena merasa bahwa tidak dimuatnya cerpenku karena tidak menarik ceritanya, semangat bacaku kutingkatkan. Aku harus banyak membaca cerpen-cerpen yang telah dimuat di media. Dan juga yang telah dikumpulkan jadi buku.

Dalam proses belajar itulah, aku makin banyak berkenalan dengan buku sastra. Yang awalnya hanya cerpen remaja, kini meningkat dengan buku-buku sastra yang lumayan berat, untuk ukuranku saat itu, sebagai anak kelas tiga SMP.

Dan ketika lulus SMP, kemudian masuk STM, kecanduan sastra mulai menjangkitiku. Hingga kalau jalan-jalan ke toko buku, aku selalu ‘ngiler’ melihat banyaknya buku-buku sastra terbitan baru. Buku-buku yang tak ada di perpustakaan sekolah atau pun perpustakaan langgananku.

Aku ingin sekali menikmati buku-buku sastra terbaru. Macam terbitan dari Gramedia atau Pustaka Utama Grafiti. Tapi harganya mahal sekali untuk ukuranku. Rata-rata senilai dua tiga kali SPP sekolahku. Sementara kalau pinjam buku-buku macam itu, pinjam ke siapa? Dan juga pinjam ke mana?

Jalan satu-satunya adalah harus membeli sendiri.

Akhirnya aku memutar otak. Yakni dengan cara memperbanyak mengirimkan ke berbagai media dan Koran. Yang sebelumnya hanya seminggu sekali, sekarang dalam seminggu mengirim tiga kali. Dengan harapan, honor dapat kuperoleh dan aku bisa beli buku.

Maka aku semakin gencar mengirimkan ke berbagai media yang ada di Jawa Tengah. Seminggu mengirimi satu amplop cerpen, satu amplop puisi, dan tiga amplop kartun.

Selang beberapa bulan, ternyata dari ketiga yang kukirimkan itu, kartunlah yang paling cepat dimuat. Hampir tiap minggu, dengan tiga amplop untuk majalah yang berbeda, selalu saja ada yang dimuat. Baik di media lokal ataupun nasional.

Mungkin kompetisi dalam kartun lebih mudah daripada tulisan yang banyak pengirimnya. Dan karena kartun lebih cepat menghasilkan uang, aku jadi lebih banyak menggambar daripada menulis.

Aku juga jadi sering mangkal di kios majalah, untuk ikut numpang melihat-lihat. Siapa tahu ada kartunku dimuat. Kalau dimuat, baru kubeli majalahnya. Kalau tidak, ya tak jadi beli. Beberapa kios hafal dengan aksiku ini, hingga sering tidak enak hati.

Untuk mengasah ketajamanku berkartun, ketika naik kelas 2 STM aku bergabung dengan Pakarti, Persatuan Kartunis Indonesia. Aku juga bergabung dengan wadah kartunis lokal yaitu Kelakar, Keluarga Kartunis Purwokerto.

Dalam perkumpulan itu, kami sering mengadakan pameran kartun atau pun karikatur. Juga mengikuti bermacam perlombaan kartun di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa temanku sering mendapatkan nominasi di Jepang dan Prancis.

Dengan seringnya dimuat, membuatku makin gencar mengirim kartun. Dengan perhitungan, semakin banyak kartun terkirim, semakin banyak yang dimuat. Semakin banyak yang dimuat, semakin banyak honor yang didapat. Semakin punya banyak uang, semakin banyak buku sastra yang bisa kubeli.

Dan ternyata itu benar adanya. Kartunlah yang menolongku mendapatkan buku-buku sastra terbaru.  Dan seribuan buku yang memenuhi kamarku waktu itu, semuanya berasal dari honor kartunku.

oleh Nassirun Purwokartun pada 21 Maret 2011 pukul 18:51

Catatan Kaki 78: Honor Pertama yang Tak Pernah Kuterima

Standar

“Aku Ingin Jadi Penulis.”

Itulah judul yang kubuat dalam ulangan catur wulan Tes Hasil Belajar kelas 4 SD. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada soal mengarang dengan pilihan tema: berlibur ke rumah nenek, belajar kelompok, dan cita-citaku. Aku memilih yang terakhir.

Ternyata, hampir separuh teman sekelasku memilih tema itu. Tapi di antara teman-temanku, ternyata hanya aku yang membuat karangan dengan cita-cita sebagai penulis. Karena tata-rata mereka memilih cita-cita yang tinggi, macam dokter, insinyur, polisi, guru, tentara, bahkan presiden.

Tapi entah kenapa, meskipun dengan cita-cita yang sederhana itu, justru aku mendapat perhatian lebih dari guruku. Setelah pembagian rapot, aku disuruh maju untuk membacakan karanganku itu. Bangga sekali rasanya. Dan bahagia.

Menginjak kelas 5, aku mulai mencoba mengirimkan tulisanku ke majalah anak SD. Kebetulan untuk karesidenan Banyumas, ada majalah MITRA yang terbit tiap bulan. Mungkin hasil kerjasama dengan Dinas P dan K Kabupaten. Ini majalah khusus untuk sekolahan, karena tidak dijual di toko buku.

Pertama kali, aku mencoba mengirimkan tulisanku yang berbentuk puisi. Kebetulan saat itu aku memang sedang senang-senangnya dengan puisi. Hingga aku selalu jadi wakil sekolah ke Porseni kecamatan untuk lomba baca puisi.

Untuk majalah MITRA, aku mengirim puisi hampir tiap minggu. Dengan uang jajan yang kukumpulkan selama seminggu untuk beli prangkonya. Puisi-puisi itu kutulis tangan di kertas buku tulis dengan rangkap dua. Satu untuk dikirimkan, satu untuk disimpan. Sampai lulus SD, aku punya kumpulan puisi sebanyak 2 buku tebal tulisan tangan.

Namun berbulan-bulan kemudian, bukan puisi yang dimuat di MITRA. Melainkan gambarku yang muncul dan dimuat di majalah itu.

Memang selain puisi, aku juga mengirimkan gambar, yang ruang rubriknya bareng dengan puisi. Aku masih ingat, gambarku waktu itu adalah gambar seekor burung beo putih dengan jambul kuning. Gambar yang kutiru dari kalender toko mas yang terpasang di dinding bambu rumahku. Kugambar dengan tinta boxi di selembar kertas buku gambar cap ‘Burung Gelatik’.

Dari pemuatan itulah, aku merasa menjadi mulai dikenal. Baik antar sekolahan, maupun di tingkat kecamatan. Teman-teman lain kelas yang sekomplek dengan sekolahku jadi mengenalku, anak kelas 5 yang gambarnya pernah dimuat di majalah kabupaten. Juga teman-teman siswa sekolah lain, yang ketemu waktu jadi perwakilan siswa teladan.

Aku bangga sekali dikenal oleh mereka. Karena waktu itu, untuk tingkat kecamatan baru aku yang karyanya bisa dimuat di MITRA. Padahal aku datang dari SD yang selama ini tak pernah diperhitungkan dalam perlombaan apa pun di tingkat kecamatan. Jadi meskipun tidak terpilih jadi siswa teladan, dada ini serasa sesak menerima pujian.

Bahkan meskipun dari pemuatan gambar tersebut aku tidak mendapatkan honor, aku tetap merasa bangga dan bahagia.

Mestinya, kata guru-guruku waktu itu, honor pemuatan di MITRA adalah 5.000 rupiah. Tapi mungkin karena letak sekolahku jauh dari kabupaten, jadinya honor tidak dikirimkan. Apalagi petugas pos pun, hanya datang seminggu tiga kali. Itu pun hanya diantar ke balai desa, tidak langsung ke alamat tujuan. Pak Kebayan lah yang bertugas mengantarkan.

Mungkin memang bukan honor yang menjadi alasanku untuk menulis dan mengirimkan tulisan. Tapi memang ada bara yang menyala-nyala di dada untuk dipijarkan dalam kata-kata.

Padahal tanpa sepengetahuanku, orang tuaku yang juga tahu dari tetanggaku yang guru, sudah menunggu-nunggu datangnya honor itu.

Lima ribu rupiah untuk ukuran keluarga kami adalah uang yang sangat besar. Kala itu, nilainya sama dengan 15 kilo beras.

Yang berarti bisa untuk makan kami sekeluarga selama setengah bulan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Maret 2011 pukul 23:41

Catatan Kaki 77: Taman Paling Indah di Dunia

Standar

Karena tiap hari ke perpustakaan, aku malah yang jadi kebingungan.

Karena begitu naik kelas dua, dalam satu tahun, hampir semua buku sastra di perpustakaan sekolah sudah kubaca. Buku-buku sastra di sekolah para tukang yang memang tidak seberapa banyak itu, telah kuhabiskan semua.

Namun lapar-dahaga akan bacaan masih tetap menggejala. Aku butuh bacaan tiap hari. Sementara untuk beli buku sendiri jelas tak mungkin. Sebab biaya sekolah pun, orang tuaku ternyata minta dibantu saudara, dengan perjanjian akan dibayar dengan tanah selepas aku lulus nanti.

Jadi biaya sekolahku selama di STM ditanggung dengan tanah yang akan dianggap sebagai pembayaran hutang. Kadang aku bersyukur, masih ada yang bisa diagunkan untuk biaya sekolah. Tapi kadang aku kecewa , karena harus merelakan empat tempat tanah orang tuaku melayang untuk selembar ijazahku, yang di kemudian hari tak pernah bisa kugunakan melamar pekerjaan.

Tapi yang lebih sering membuatku sedih, adalah tentang mahalnya biaya pendidikan. Hingga setelah lulus STM terpaksa aku tak bisa kuliah, karena orang tuaku tak punya lagi yang bisa diagunkan. Maka cukup sampai di STM akhir pendidikan formalku. Tapi aku bertekad, bahwa sekolah bukan satu-satunya tempat untuk menimba ilmu dan menangguk pengetahuan. Akan kucari dan kudapatkan di luar bangku perkuliahan.

Karena butuh bacaan, akhirnya aku menjadi pelanggan Perpustakaan Daerah Kabupaten. Tiap dua hari sekali, aku jalan kaki sepulang sekolah untuk pinjam di sana.

Letak Perpusda dari sekolahku agak jauh, ada sekitar tiga kilometer. Sepulang sekolah, aku mampir dulu ke sana, untuk baca dan pinjam. Tapi kalau sedang capai setelah seharian pelajaran praktek, aku hanya pinjam saja. Tidak membaca di situ. Meminjam dua tiga buku untuk kubawa pulang, dan kukembalikan tiga hari berikutnya.

Perpusda buku-bukunya memang lebih banyak macamnya daripada buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahku. Tapi buku-buku sastranya tak jauh beda. Tak ada buku sastra terbitan baru yang tersedia di sana. Hanya terbitan Balai Pustaka dan beberapa terbitan Proyek Bacaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tapi kemudian aku mendapatkan tempat yang kuidamkan.

Ada sebuah perpustakaan besar milik yayasan Kristen yang tak sengaja kutemukan. Sepulang sekolah, seperti biasa aku jalan kaki ke terminal yang jaraknya sekitar enam kilometer. Sambil jalan kaki di bawah terik yang menyengat, tak sengaja mataku menatap gedung tua yang selama ini luput dari perhatian. Di papan namanya jelas terpampang sebuah perpustakaan untuk umum.

Dengan agak takut dan malu karena bersebelahan dengan gereja, aku masuk ke gedung itu. Setelah berkeliling untuk melihat-lihat isinya, ternyata perpustakaan ini menyediakan banyak buku-buku sastra. Meskipun bukan terbitan baru, tapi lebih lumayan baru daripada buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahku atau di Perpusda.

Aku pun kemudian mendaftar jadi anggota perpustakaan itu.

Ada dua jenis keanggotaan di perpustakaan tersebut, Pelanggan Baca dan Pelanggan Pinjam. Karena kalau jadi anggota Pelanggan Pinjam uang pendaftarannya mahal, aku hanya mampu menjadi Pelanggan Baca. Jadi hanya datang, dan baca di tempat. Buku tidak boleh dibawa pulang.

Dengan keuanganku yang minim, tak mungkin aku menjadi Pelanggan Pinjam. Uang pendaftarannya saja dua kali lebih besar dari SPPku waktu itu. Dan lebih tidak mungkin lagi, ketika harus meminjam dengan biaya pinjaman tiap buku yang lebih besar dari uang jajanku. Maka kupuaskan hanya baca di sana.

Aku cukup menjadi pelanggan baca saja. Yang biaya pendaftarannya terjangkau. Dan dapat kartu anggota baca yang berlaku untuk 20 kali datang. Setelah habis masanya, harus bayar kartu lagi. Persis seperti karcis.

Tapi karena hanya langganan baca, pasti ada kelemahannya. Misalnya kalau aku sedang baca sebuah novel. Novel yang rata-rata tebal itu, tak mungkin kubaca dalam waktu sekali datang. Perlu tiga empat kali, dengan waktu baca 2-3 jam. Itu kalau lancar, dan bukunya selalu ada. Bisa saja terjadi, ketika kemarin baru aku baca seperempat bagian, hari ini buku tersebut tak kudapatkan di rak. Bisa karena sedang dibaca orang lain, atau bahkan sedang dipinjam Pelanggan Pinjam. Tak bisa lain, harus menunggu sampai buku itu selesai dibaca orang, atau sampai dikembalikan oleh peminjam. Maka sering terjadi, selama seminggu aku hanya mampu membaca bagian-bagian awal dari sebuah novel, yang tiap hari berganti-ganti judul bukunya, karena tak kudapatkan lagi di hari besoknya.

Tapi bagaimanapun, aku bersyukur ada perpustakaan yang mampu memberikan penawar dahagaku akan buku, tanpa harus membelinya.

Waktu itu, aku sangat suka datang ke perpustakaan. Karena bagiku, itulah taman paling indah di dunia.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Maret 2011 pukul 20:58

Catatan Kaki 76: Setelah Tak Lagi Menikmati Perpustakaan dan Punya Uang Jajan

Standar

Waktu SMP, aku lebih sering nyepi di perpustakaan daripada nongkrong di kantin sekolahan.

Tentu karena aku memang tidak seberuntung teman-teman yang bisa berbahagia dengan punya cukup uang jajan. Hinga sebelum jam masuk sekolah berdetang, mereka sudah berebutan kursi di kantin sambil riuh dalam obrolan. Begitu pun ketika jam istirahat tiba, semua berlarian kantin depan atau belakang sekolahan, untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak sedang kelaparan.

Sementara aku, hanya sesekali saja datang ke kantin, ketika betul-betul lapar. Misalnya ketika setelah pelajaran olahraga, yang memang banyak mengeluarkan tenaga. Hingga persediaan makanan di perut mungkin telah habis dipakai untuk ngonthel sepeda ketika berangkat sekolah. Dan habis tenaga untuk terus berkonsentrasi menyimak pelajaran. Belajar pada jam yang sebenarnya lebih asyik untuk tidur siang daripada mengunyah mata pelajaran.

Maka beruntunglah mereka yang punya uang jajan. Hingga jajan di kantin adalah salah satu cara untuk menghilangkan kantuk yang sering tak tertahan. Misalnya dengan makan soto dengan sambal yang sangat pedas. Atau makan gorengan, dengan lombok yang melebihi takaran.

Sementara aku harus berpikir dua kali kalau harus datang ke kantin. Sebab uang jajanku memang sangat sedikit, tak mungkin untuk membayar semangkok soto ayam. Dan uang  yang sedikit itu memang sedang kukumpulkan. Yang tiap Minggu pagi, kubawa ngonthel sepeda ke kota, untuk kubelikan majalah-majalah loakan.

Waktu itu, karena sekolahku kekurangan ruang kelas, maka jam masuk belajar dibagi dua. Untuk kelas dua dan tiga masuk pagi, sementara yang kelas satu masuk siang. Karena masuk siang itulah membuatku punya banyak waktu untuk berlama-lama di perpustakaan.

Sesuai peraturan, sebenarnya kelas satu masuknya jam satu siang. Tapi aku sengaja berangkat lebih awal dari rumah. Jam sebelas aku sudah mandi, makan siang, dan setengah dua belas langsung ngonthel sepeda. Sebelum sampai sekolahan, aku mampir masjid yang terlewati untuk dhuhuran.

Sesampai di sekolahan, anak kelas dua dan tiga belum keluar. Aku sudah masuk ke perpustakaan.  Sambil menunggu jam masuk, aku gunakan untuk membaca buku sebanyak-banyaknya. Karena memang peraturannya hanya boleh baca di tempat. Tak boleh dibawa pulang.

Namun dari waktu yang satu jam tiap hari itu, aku jadi banyak mengunyah buku-buku sastra dan sejarah. Bacaan yang sudah menjadi kesukaanku sejak SD, ketika setiap hari numpang membaca di ruang kepala sekolah. Hanya yang sekarang kubaca, bukan lagi buku-buku produk inpres dari pemerintah. Tapi banyak buku sastra terbitan Balai Pustaka yang berbentuk roman, yang kemudian judul-judulnya dikenalkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Karena setiap hari ada di perpustakaan, ternyata ada seorang guru kelas dua yang memperhatikanku. Beliau sebenarnya guru olahraga, tapi ternyata menyukai sastra. Setelah berkenalan, aku sering diajaknya ngobrol sebelum beliau pulang mengajar. Setelah sering bercakap-cakap di perpustakaan, kemudian pak guru tersebut menawari buku sastra untuk kubaca. Buku-buku sastra terbaru, yang bukan terbitan Balai Pustaka, yang tak ada di perpustakaan sekolahku.

Aku masih ingat, buku pertama yang dipinjamkan padaku waktu itu adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel trilogi karya Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas yang ternyata guru dari guru olahraga itu. Dan itulah buku sastra pertama yang kubaca, selain yang roman Balai Pustaka yang telah kubaca di perpustakaan.

Dari guru olahraga itulah kemudian makin banyak nama sastrawan yang kukenal. Aku mulai mengenal nama Umar Kayam, Goenawan Mohamad, dan Emha Ainun Nadjib, dan nama sastrawan lain yang nama tak kutemukan dalam buku pelajaran.

Dari buku-buku itulah, aku jadi tertarik untuk menulis seperti tulisan mereka. Ingin menulis novel dengan latar Banyumas yang memikat seperti karya-karya Ahmad Tohari. Ingin menulis kolom yang memikat dan nikmat seringan tulisan Umar Kayam. Ingin menulis kolom yang cerdas serumit kalimat Goenawan Mohamad. Ingin menulis puisi yang menyentuh hati seperti renungan-renungan kehidupan Emha Ainun Nadjib yang menggugah.

Bahkan aku kemudian mengidolakan mereka. Seolah merekalah guru menulisku, guru imajinerku, yang mengajariku menulis dengan tulisan-tulisan mereka.

Dan aku membayangkan, mereka benar-benar ada ketika aku sedang menulis. Ketika belajar menulis cerpen yang akan kukirimkan ke majalah, seakan-akan Ahmad Tohari berada di belakangku memperhatikan dan memberikan dukungan. Begitupun yang kurasakan ketika sedang belajar menulis kolom dan  puisi untuk kupasang di mading. Seakan-akan Umar Kayam, Goenawan Mohamad dan Emha Ainun Nadjib bediri sambil menepuk-nepuk punggungku.

Sungguh waktu itu, aku seperti seorang Bambang Ekalaya yang belajar memanah hanya dengan ditemani patung Pandita Durna, guru imajinernya. Aku pun demikian. Belajar menulis dengan ditemani buku-buku karya sastrawan besar Indonesia, sebagai guru khayalanku.

Maka sekarang aku bersyukur karena tak punya uang jajan. Hingga lebih sering ke perpustakaan daripada ke kantin sekolahan. Andai aku punya banyak uang, mungkin hanya perut yang kukenyangkan dengan soto dan gorengan. Bukan otak yang kuasah dengan bermacam pemikiran dan perasan perasaan para sastrawan besar.

Dan kesenangan itu berlanjut ketika kemudian aku di STM. Di usia remaja itu, aku pun lebih sering menyendiri di pojok perpustakaan, daripada menggerombol di pinggir jalan. Berkumpul dengan teman-teman dengan saling bercanda dan belajar merokok sebelum jam masuk sekolah. Atau pun menggoda cewek-cewek SMA yang lewat sepulang sekolah.

Namun anehnya, sekarang aku justru tak lagi menikmati membaca buku di perpustakaan. Aku benar-benar tak bisa menikmati buku yang bukan milikku sendiri.  Otak seakan tumpul ketika harus membaca buku-buku hasil pinjaman..

Mungkin karena sekarang sudah bisa beli buku sendiri, hingga kebiasaan lama itu tak lagi merupakan kenikmatan pembelajaran.

Padahal sungguh, sampai sekarang aku tetap tak punya uang jajan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 18 Maret 2011 pukul 19:38

Catatan Kaki 75: Aku Mencintai Buku, Seperti Aku Menghormati Ibuku

Standar

bukuku, hartaku yang sangat berharga. yang mungkin bagi anakku kelak, tak lebih dari sampah!

Aku ingin menjadi seorang pembelajar sejati.

Manusia pembelajar, yang ingin mengamati dan meneliti dengan sepenuh hati.

Apa pun akan kuamati, kunikmati sebagai sebuah mata pelajaran kehidupan, yang bermakna untuk hidupku sendiri. Apa pun kuteliti dengan telaten dan hati-hati, sebagai sebentuk mutiara kehidupan yang sangat berharga. Tak ada yang tergelar di alam raya, yang terhampar sia-sia tanpa makna.

Aku ingin banyak belajar dari kehidupan orang-orang di sekitarku, orang-orang sebelumku, dan semua yang pernah bersinggungan denganku.

Tapi lebih dari itu, aku suka belajar pada buku. Karena aku tak punya seorang pun guru, maka buku itulah guru sejatiku. Guru yang mengajarkan banyak hal, yang petuahnya banyak mewarnai hidup dan jiwaku.

Aku mencintai buku, seperti kuhormati ibuku. Orang yang telah melahirkanku ke dunia. Maka demikian juga dengan buku. Yang telah melahirkanku kembali, setelah aku dilahirkan ibuku ke dunia. Buku yang melahirkanku, sebagai manusia baru. Yang menapaki dunia baru. Dunia kata-kata. Dunia jalinan kalimat dan rangkaian pemikiran.

Buku telah melahirkanku, menjadi orang yang melek kata. Yang tiap hari berkutat dengan kata-kata, yang penuh dengan beragam cetusan ide dan pikiran. Sesuatu yang tak mungkin dilakukan, oleh teman-teman SDku, yang sampai sekarang tinggal di desa. Mengunyah kenyataan sebagai mana adanya, tanpa perlu memikirkan hal-hal yang ada di balik semua yang tak dipahaminya. Sesuatu yang tak terjangkau nalarnya.

Dengan menjadi pengunyah buku, aku merasa telah melewati semua itu.

Aku tak lagi menjadi anak desa yang lugu, yang hanya memikirkan urusan perut. Yang hanya mengisi kerja dengan kerja keras, dan bukan kerja cerdas. Yang otaknya hanya dipenuhi kebutuhan sendiri, sehari-hari, tanpa sekali pun terlintas bahwa ada masalah global yang membuatnya terpinggirkan dari putaran jaman.

Cara berpikir mereka, adalah khas orang desa, yang tak neko-neko dan aneh-aneh.

Lurus-lurus saja. Semacam hidup adalah untuk mencari kerja. Kerja sekeras-kerasnya, untuk memenuhi kebutuhan makan harian. Kerja keras hari ini, untuk memenuhi kelaparan esok hari. Begitu terus menerus, setiap hari, sepanjang tahun.

Tak pernah terpikirkan tentang dunia lain. Tentang dunia yang menawarkan beragam perang pemikiran, yang membuat otak setajam sabit dan cangkul mereka.

Tak pernah mereka mengangankan apalagi menginginkan makanan ruhani, yang bernama buku, yang mengandung beragam ilmu. Buku yang bagi mereka adalah barang asing, dan tak berguna. Karena membaca, bagi mereka, adalah pekerjaan sia-sia. Pekerjaan orang yang tak punya pekerjaan. Pekerjaan para pemalas yang tak mau bekerja keras.

Bagi mereka, membaca bukanlah pekerjaan mulia, yang mampu mengangkat harkat manusia. Melainkan bekerja sekeras-kerasnya, dan menjadi orang paling kaya, itulah yang mereka anggap menaikkan kehormatannya.

Sementara aku, sejak kecil justru telah terpikat dengan pesona buku. Dan menghabiskan sebagian besar waktu bermainku, dengan asyik masyuk bersama buku.

Dan itu berlanjut hingga remaja, buku menjadi teman berpikir dan merenung yang tak pernah menjemukan. Aku larut dalam bermacam pemikiran orang-orang besar. Mengunyah perasan perasaan dari bermacam kisah tragedi atau pun komedi kehidupan.

Kecintaanku pada buku membuatku selalu bekerja di dunia buku. Tanpa memperhitungkan apa ijazahku. Namun karena kecintaanku, dan akrabku pada buku, membuat orang yakin bahwa aku paham dunia buku.

Dan hari ini, setelah ribuan buku yang pernah kumamah dan kukunyah, sepertinya sudah saatnya untuk mulai menulis buku. Dari lima ribuan bukuku, kalau puluhan ribu lembarnya, dari jutaan pemikiran yang bersliweran, rasanya menjadi sebuah kesia-siaan kalau tak ada sedikitpun yang tertangkap maknanya. Tak ada yang diikat dalam tulisan.

Bukankah cara paling mudah sederhana untuk mengikat makna, adalah dengan menuliskannya. Bukan dengan membicarakannya dengan ucapan berbusa-busa. Verba volant, sricpta manen, begitu orang bijak bilang. Apa yang terucap akan hilang bersama angin, apa yang tertulis akan mengabadi dan tak lekang.

Maka sungguh, setelah aku mencintai buku seperti ibu yang telah melahirkanku, aku ingin menghormati buku. Menjadikan buku sebagai harta warisan untuk anak-anakku.

Akan kuwariskan buku untuk anakku. Namun bukan ribuan buku yang ada di kamarku. Bukan buku-buku yang pernah kubaca. Bukan renungan dan pemikiran yang pernah kukunyah. Karena mungkin itu semua, bagi anakku nanti, tak lebih dari sekadar sampah.

Aku ingin mewariskan buku pada anakku. Buku yang ditulis oleh tanganku. Buku yang terbit dari hati dan pikiranku. Maka tak ada yang kulakukan tiap hari, selain menulis buku!

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 18 Maret 2011 pukul 17:37

Catatan Kaki 74: Kirab Boyong Kedhaton yang Ingin Kutonton

Standar

Berjalan sambil melamun, itulah yang kemudian kulakukan.

Ketika kemarin aku berjalan meninggalkan alun-alun selatan. Dan tak terasa langkah kakiku telah sampai di gapura Gading, gapura terakhir dari keraton Solo. Gerbang yang berada di selatan yang menjadi penyeimbang dari gapura Gladhag di sebelah utara.

Dari gapura inilah jenazah para raja dan kerabatnya dilepaskan untuk dimakamkan. Gapura ini dinamakan Gadhing, karena bermakna putih seperti gading gajah. Menjadi perlambang, agar kematian kita bisa bersih kembali tanpa adanya noda dosa.

Sore itu, perjalanan ‘mubeng kraton’ atau berkeliling keraton kuanggap selesai. Aku pun segera menyeberang untuk menyetop bus pulang.

Sambil menunggu bus kota yang menuju ke arah barat, mendadak lamunanku terkenang pada boyong kedhaton. Upacara perpindahan keraton dari Kartasura ke desa Solo. Yang dari perpindahan itu desa Solo kemudian menjadi keraton Surakarta.

Sementara hari perpindahan itu sekarang dikenang sebagai hari lahir kota Solo. Yang sampai hari ini, selalu diperingati tiap tahun dengan upacara boyong kedhaton juga. Sebuah upacara iring-iringan meniru perpindahan pada dua setengah abad silam

Sigra jengkar saking Kartawani, ngalih kadhaton mring dhusun Sala.“  Segera berangkat dari Kartasura, pindah keraton ke desa Solo. Begitu terbaca dalam Serat Babad Kedhaton, yang menceritakan secara runtut jalannya perpindahan keraton saat itu.

Perpindahan yang dikarenakan keraton Kartasura telah runtuh karena pemberontakan Raden Mas Garendi. Paku Buwono II, raja berusia 26 yahun yang ketakutan hingga melarikan diri ke Ponorogo. Dalam pelarian itu ia kemudian meminta bantuan pada Belanda, untuk merebut kembali takhtanya. Dengan sekalian meminta pada bangsa kolonial itu, untuk bisa membangunkan keraton yang baru baginya.

Belanda yang melihat peluang untuk mengokohkan kaki-kaki kolonialnya, dengan senang hati menyanggupinya. Dan itulah cengkeraman terdalam pada penguasa Jawa, yang makin membuat keraton kehilangan kekuasaan politik dan kekuatan pertahanannya. Karena dari perjanjian itu, wilayah keraton Solo makin menyempit daerah kekuasaannya, karena harus diberikan pada Belanda. Dan keraton pun makin tunduk pada kuasanya.

Sambil menunggu bus, bayanganku melayang pada prosesi upacara perpindahan keraton itu. Ketika pada Rabu pagi, 17 Februari 1745, Paku Buwono II memberangkatkan seluruh kerabat, pejabat dan juga rakyatnya untuk pindah ke keraton yang baru di desa Solo.

Dalam buku Babad Solo dikisahkan, Mayor Hohendorf sebagai wakil Belanda memimpin pasukannya, berada di depan dengan diiringi lima kompi pasukan. Sementara sang raja Paku Buwono II berikut pejabat dan kerabatnya berjalan di belakangnya. Pelepasannya dari keraton lama diawali oleh tembakan meriam, dan tiupan terompet.

Pada barisan berikutnya, sepasang ringin kurung sakembaran (dua batang pohon beringin) yang telah diberi kain cinde digotong oleh pasukan abdi dalem. Kemudian di belakangnya, bangunan Bangsal Pangwarit diangkut, dengan diiringi oleh prajurit Kalang, Gowong, Undhagi, dan Selakerti.

Dalam rombongan itu, Paku Buwono II berjalan dengan menaiki gajah, yang dituntun oleh abdi dalem Srati. Sementara kuda tunggangannya dituntun oleh abdi dalem Gamel. Iring-iringan raja ini diikuti oleh para pejabat terdekatnya, dari mulai Bupati Nayaka Jawi Kiwo dan Tengen: Panumping, Panekar, Sewu Numbak Anyar, Siti Ageng Kiwo Tengen, Bumi, dan Bumija. Kuda-kuda para pejabat keraton itu diiringi oleh abdi dalem Kliwon, Panewu, dan Mantri, yang bertugas menuntun kuda mereka serta memayunginya.

Rombongan di belakang raja adalah para abdi dalem Bupati Anom Anon-Anon beserta para Panewu dan Mantrinya. Rombongan ini diiringi pula para bawanan bupati yang terdiri dari para ahli pertukangan atau pembuat peralatan kerajaan. Mereka adalah abdi dalem kemasan, greji, pandhe, sayang, gembleg, puntu, samak, tukang laras, tukang warangka, tukang ukir, jlagra, slembar,  tukang cekathak, dan  tukang landheyan.

Bersama rombongan ini pula turut digotong gamelan keraton yang terdiri dari Kyai Surak, Kyai Sekar Delima, dan Kyai Sekar Gadhung. Gamelan-gamelan itu dibawa oleh para penabuhnya dengan diberi tutup dan payung kuning.

Dalam rombongan berikutnya, adalah para tukang yang mengurusi peralatan kebesaran dan perlengkapan perang keraton. Mereka adalah para tukang song-song (payung), tukang pasar, tukang tulup, tukang jemparing (panah), tukang jungkat (sisir), teluk, gebyar, dan para pembatik. Memimpin rombongan ini adalah Patih Raden Adipati Pringgalaya dan Patih Raden Adipati Sindureja.

Di belakangnya berjalan barisan abdi dalem prajurit Sarageni dan Sarantaka. Yang kemudian disambung dengan barisan para pejabat keagamaan keraton. Yakni abdi dalem Merbot, Penghulu, Khetib, Ulama, kebayan, dan pradikan. Dalam rombongan ini pula turut dibawa mimbar, dan bedhug masjid yang bernama Kyai Rembeg.

Rombongan berikutnya adalah keluarga raja, yakni para kerabat keraton. Dari mulai para Sentana, Panji, dan Riya Pangeran. Bersama rombongan ini diangkut pula benda-benda pusaka kerajaan. Yakni  Gong Kyai Bicak, Carak Kyai Nakula Sadewa, cemeti milik raja yang bernama Kyai Pecut, dan juga Cengkal Baladewa. Sebagai pengiringnya adalah barisan prajurit Tamtama yang berada di kiri kanan barisan, dengan jumlah masing-masing adalah dua ratus orang prajurit.

Di belakangnya adalah rombongan para perempuan dari keputren. Yang pada barisan depan dipimpin oleh Nyai Lurah Keparak Jawi dan Nyai Lurah Keparak Lebet dengan naik tandu. Disambung para Wedana, Panewu, Mantri, Kliwon beserta anak buahnya. Kemudian istri Patih Pringgalaya dan Patih Danurejo. Disambung abdi dalem Bedaya Srimpi Manggung Ketanggung atau pembawa benda-benda upacara. Kemudian permaisuri raja diiringi oleh abdi dalem Gedhong Kiwa, abdi dalem Gedhong Tengen, abdi dalem Kliwon, Panewu, dan Mantri Jajar. Disamping putera-puteri raja dan para selir, serta para istri Bupati Mancanagara. Semua rombongan perempuan keraton ini berjalan dengan menaiki tandu yang digotong oleh para prajurit.

Di belakangnya adlaah para abdi dalem perempuan yang bekerja dapur, berikut dengan perlengkapan dapurnya. Mereka itu adalah abdi dalem Krapyak dengan membawa beras, ayam, ikan, dan, upeti dari para adipati bawahan. Kemudian abdi dalem Jajar beserta perlengkapan rumah tangganya. Lalu abdi dalem Pamajegan yang membawa kayu bakar, arang, sapit, sajen, tampah, tebok, ancak, bakul, tumbu, sapu, daun, ethong, lesung, lempong, alu ujon, kukusan, irus, solet, dan sejenis peralatan dapur lainnya.

Setelah itu adalah barisan dari yang membawa pusaka kerajaan yakni Dandang Kyai Dhudha, pusaka Panjang Kyai Blawong, Kendhil Kyai Marica. Pusaka yang berupa peralatan masak itu dijaga oleh pemimpinnya yang bernama Nyai Gandarasa. Perempuan pemimpin dapur kerajaan ini berjalan dengan naik tandu, diiringi oleh Bupati Gading Mataram besarta anak buahnya. Kemudian disambung oleh Galadhag Pacitan yang membawa tempat minum harian milik raja. Juga keperluan raja lainnya seperti Sela Gilang, teras di Bangsal Pangrawit, Bangsal Manguntur Tangkil dan batu-batu pasalatan yang dipakaiu ntuk alas sembahyang, serta padasan untuk tempat air wudhu.

Setelah itu adalan barisan prajurit yang membawa pohon waringin pungkuran. Beringin kembar yang akan ditanam di alun-alun selatan. Barisan ini diiringi oleh abdi dalem Pancar Mancanagara. Dalam rombongan ini turut serta abdi dalem dagang, yakni para pedangan yang terdiri dari sudagar, kriya, pangindung, blatik (pedagang kambing), mudel, umbal, mranggi, dan para pangukir.

Barisan berikutnya adalah ribuan rakyat yang turut pindah, dengan membawa ternak milik para putera sentana, para Bupati, Kliwon, Panewu Mantri beserta anak buahnya. Juga abdi dalem Pandhelegan, tukang mencari ikan, tukang baita (perahu), pambelah, jurumudi, dan tukang jagal (penyembelih hewan).

Sementara barisan terakhir adalah rombongan abdi dalem Mancanagara wetan dan kulon. Iring-iringan ini membawa pusaka meriam Nyai Setomi dan meriam lainnya.

Konon menurut sejarah, yang ikut dalam perpindahan ini kurang lebih ada 50 ribu orang. Jarak antara istana Kartasura sampai desa Solo memakan waktu tujuh jam. Jalan yang dilalui, mula-mula merupakan jalan setapak melewati hutan dan semak belukar. Hutan dan semak belukar itu ditebas untuk dijadikan jalan perpindahan. Jalan inilah yang sekarang menjadi jalur dari pasar Klewer ke barat terus sampai ke pasar Kartasura.

Setelah sampai di desa Solo, seluruh pengikut raja dikumpulkan di alun-alun. Dalam pertemuan itu Paku Buwono II berdiri di atas panggung sederhana yang dibuat dari anyaman bamu. Kemudian raja yang didampingi gubernur jenderal Belanda itu memberikan sambutan pada seluruh rakyat yang telah ikut berpindah dengannya.

“Heh kawulaningsun, kabeh padha ana miyarsakna pangandikaningsun! Ingsun karsa ing mengko wiwit dina iki, desa ing Sala ingsun pundhut jenenge, ingsun tetepake dadi negaraningsun, ingsun paringi jeneng Negara Surakarta Hadiningrat. Sira padha angertekna sakawulaningsun satalatah ing Nusa Jawa kabeh.“

Hai hambaku, dengarkan semuanya sabda saya. Saya berkeinginan sejak hari ini, desa di Sala saya ambil namanya, saya tetapkan menjadi negara saya, saya beri nama negara Surakarta Hadiningrat. Kalian siarkanlah ke seluruh rakyatku di seluruh wilayah Tanah Jawa seluruhnya.“

Sejak itulah, dusun Solo menjadi kota Surakarta. Dan hari itu, Rabu, 17 Februari 1745 menjadi hari lahir kota Surakarta. Dan setiap tanggal 17 Februari selalu diperingati sebagai hari jadi. Berikut upacara boyong kedhaton, seperti yang dulu terjadi.

Namun sayangnya, upacara napak tilas itu tidak seperti aslinya. Karena iring-iringan pawai itu bukan bermula dari bekas keraton lama di Kartasura. Padahal jalan penuh semak yang dulunya setiap akan dilalui harus dibabad dulu, sekarang telah menjadi jalan besar. Yakni jalan lurus dari pasar Kartasura yang akan berujung di pasar Klewer, yang sekarang bernama Jalan Radjiman.

Maka sungguh, aku ingin menonton boyong kedhaton, seperti yang dulu terjadi. Bukan seperti yang selama ini dilakukan tiap hari jadi. Yang peserta pawai diberangkatkan dari lapangan Kotabarat. Sebuah tempat yang tak ada hubungannya dengan perjalanan perpindahan boyong kedhaton.

Maka andai bisa dilaksanakan seperti sejarah asilnya, mungkin lebih berkesan. Dan itulah kirab boyong kedhaton yang selalu ingin kutonton dalam upacara peringatan.

Dan bukan sekadar kulamunkan, seperti yang kemarin kulakukan, sambil menunggu bus di perempatan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 17 Maret 2011 pukul 21:31

Catatan Kaki 73: Raja Terlama, Terbesar, dan ‘Terkuat’ di Tanah Jawa

Standar

foto kiri, ketika mengangkat diri menjadi Susuhunan. masih kurus.

foto kanan. setelah berkuasa. badannya dipenuhi medali, bahkan konon hingga ke punggungnya.

Di alun-alun kidul kudapati sebuah kereta jenazah.

Kereta tua itu berada di kanan dan kiri Sitinggil. Dengan kereta inilah jenazah raja Solo dikeluarkan dari gapura Gading, untuk kemudian dibawa ke pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri. Konon ini adalah kereta jenazah peninggalan Paku Buwono X.

Melihat keterangan yang ada di badan kereta, aku jadi terkenang pada sosok Paku Buwono X. Seorang raja yang paling lama berkuasa. Hingga bisa membangun dam mempercantik keratonnya. Dan bangunan yang sekarang, hampir semua adalah karyanya. Yang itu bisa dikenali, karena pada tiap bangunan yang didirikan selalu terdapat simbol ‘PB X’.

Paku Buwono X lahir pada 29 November 1866. Menjadi putera mahkota di usia 3 tahun, pada 4 Oktober 1869. Kemudian di usia 26 tahun naik takhta pada 30 Maret 1893, dan mengangkat diri dari Sunan menjadi Susuhunan pada 3 Januari 1901. Setelah berkuasa selama 46 tahun, raja Solo ini kemudian meninggal pada 20 Februari 1939.

Pada awal Paku Buwono X memerintah, pamor keraton Solo sudah sangat menyusut. Puncak kemerosotan ketika kekuasaan pengadilan benar-benar jatuh ke tangan Belanda di tahun 1903. Setelah sebelumnya kekuasaan politik dan pertahanan telah seratusan tahun berada dalam cengkeraman kolonial. Sejak pusat Mataram masih di Kotagede, Jogja.

Namun di balik seluruh kekuasaan yang telah dilemahkan penjajah, Paku Buwono X mampu memanfaatkan sedikit kekuatan yang masih dimilikinya. Yakni dengan mendukung berdirinya organisasi nasionalisme Boedi Oetomo dan Syarekat Islam di Solo.

Dukungan itu diberikan dengan banyak para pejabat keraton yang diperintahkan menjadi pengurus Boedi Oetomo. Dan untuk menggalang dukungan pada Sarekat Islam, Paku Buwono X sering mengadakan kunjungan ke daerah-daerah.

Sebuah kunjungan raja yang tiap lawatan selalu diiringi ratusan orang pengikutnya. Namun karena Belanda mengkhawatirkan tindakan itu, pada masa Gubernur Jenderal De Vogel (1903), jumlah pengiring dibatasi hanya sampai 200 orang. Dan ketika Van Wijk menjabat , dikurangi lagi menjadi 80 orang saja yang boleh mengiringi.

Pantas Belanda khawatir, karena kunjungan raja Jawa ini ternyata sangat efektif menggalang pendukung Sarekat Islam. Paku Buwono X berhasil menarik simpati rakyat dan para bupati sehingga Solo bisa menjadi kota yang turut mempelopori nasionalisme.

Dalam catatan sejarah, kita dapatkan Paku Buwono X telah mengunjungi Batavia, Buitenzorg (Bogor), Priyangan, Tasikmalaya, Pekalongan, Cirebon, Madiun, Surabaya, Bangkalan, Bali, Lombok, Kediri, Cepu, bahkan hingga ke Lampung.

Sepanjang jalan yang dilewati, selalu dibanjiri rakyat dari berbagai pelosok untuk ngalap berkah dalem. Mereka rela berebut sisa makanan dan air bekas mandi Paku Buwono X, yang dijual oleh abdi dalem keraton. Yang ini merupakan sebuah cermin betapa besar kharisma dan  wibawa yang berhasil dibangun sang raja melalui kunjungannya.

Bahkan di kota di mana ia mengadakan kunjungan, selalu disambut pasar malam dan pertunjukan upacara keraton. Di situ Paku Buwono X menyebar udik-udik (uang) agar rakyat gembira dan makin patuh pada perintahnya. Dan terbukti, kepercayaan para bupati dan rakyat untuk berjuang melawan penjajah semakin menguat.

Maka banyak sejarawan yang mengakuinya sebagai raja Jawa yang pertama kali menempatkan politik kunjungan kerja sebagai senjata melawan Belanda. Kunjungan yang bukan sekadar ritual menyapa rakyat dan rekreasi, tetapi juga menunjukkan eksistensi dirinya dalam meneguhkan kekuasaan Jawa yang harus dipertahankan.

Sebuah lawatan yang sangat membuat geram Belanda, karena berpotensial untuk melakukan pemberontakan. Akhirnya, pada waktu gubernur jenderal Belanda dijabat oleh Sehneider (1908), menyatakan pelarangannya atas kunjungan raja Solo ini.

Meski dalam penilaian Belanda, ia adalah seorang anak manja, peminum, suka pesta, rajin bersolek, namun dalam pandangan orang Jawa adalah seorang raja terbesar. Hingga gelar yang didapatkan dari rakyat Jawa adalah Sinuwun Ingkang Minulyo soho Ingkang Wicaksono, atau Paduka yang mulia dan juga bijaksana.

Maka atas seluruh dukungannya pada pergerakan nasional itulah, seorang cucunya (BRA Mooryati Soedibjo) sekarang sedang mengusulkannya menjadi Pahlawan Nasional.

Namun dari seluruh sejarah kehidupan Paku Buwono X, yang paling terkenang olehku adalah jajaran medali yang ada di badannya. Tubuhnya yang gemuk dan semakin tambun menggelembung, konon menunjukan bahwa masih tersedia tempat untuk menggantungkan medali, meskipun telah ada 28 medali yang menghiasi bajunya.

Selama memerintah, ia memang banyak mendapatkan medali penghargaan dari negara lain. Dan ia juga gemar sekali memakainya di setiap kesempatan. Hingga baju kebesaran yang dipakainya penuh medali. Bahkan konon bukan hanya di dada dan bagian depan tubuhnya, melainkan juga mencantolkan medali-medali itu sampai di punggungnya. Maka tak heran kalau ada yang mengatakan dengan bercanda, bahwa Paku Buwono adalah raja terbesar dan ‘terbesar’. Karena saking besarnya tubuh yang dimilikinya.

Dan satu lagi kenangan tentang raja terbesar dan terlama di Solo ini, adalah banyaknya perempuan yang menjadi istrinya. Sejarah mencatat, Paku Buwono X mempunyai istri sebanyak 45 orang dan putra putrinya berjumlah 68 orang.

Karena itulah, selain dikenal sebagai raja terlama dan ‘terbesar’, ia juga dikenang sebagai raja ‘terkuat’ di Tanah Jawa.

oleh Nassirun Purwokartun pada 16 Maret 2011 pukul 23:23

Catatan Kaki 72: Sang Pecundang yang Terbang dengan Layang-Layang

Standar

Aku pernah merasakan sedihnya menjadi seorang pecundang.

Dan itu kurasakan waktu kecil dulu, ketika dalam permainan aku hanya dijadikan pupuk bawang. Hanya anak bawang kothong yang sekadar sebagai pelengkap permainan. Yang sesungguhnya, keberadaanku tidak masuk dalam hitungan. Karena tanpa aku pun permainan tetap berlangsung. Bahkan mungkin lebih meriah.

Sedih ketika mengingat masa-masa itu. Ketika aku betul-betul dianggap sebagai anak yang tak punya kemampuan apa-apa. Yang tak mempunyai kelebihan apa pun dalam seluruh permainan, kecuali menjadi penonton di pinggir lapangan.

Misalnya dalam permainan sepakbola. Di persawahan kering yang kami anggap lapangan, aku dan teman-teman sering bermain di sana. Namun karena semua tahu aku tak pandai membawa bola, mereka selalu memasangku sebagai penjaga gawang.

Sebagai penjaga gawang sesungguhnya pemain bola yang tidak dianggap pemain. Karena gawangnya hanya terbuat dari batu yang ditata selebar dua langkah, yang tanpa perlu dijaga pun, akan sulit bagi seorang pemain bisa menjebolnya. Hanya pemain yang benar-benar terlatih saja yang bisa menembak tanpa melenceng dari gawang. Jadi sebagai penjaga aku hanya berdiri saja di tengah, yang sesungguhnya, sama saja dengan posisi sebagai penonton.

Karena tak bisa main bola, aku pun memilih menjauh dari lapangan. Karena merasa bosan hanya jadi pelengkap, aku tak mau lagi dipasang jadi penjaga gawang. Aku menolak menjadi pemain yang hanya sebagai pelengkap permainan.

Maka ketika banyak anak-anak yang bermain layang-layang, aku pun tertarik ikut mereka. Namun dalam permainan ini pun, aku kembali menjadi pecundang. Dari seluruh temanku, hanya layang-layangku sendiri yang tak pernah bisa terbang.

Sudah kucoba berulang kali, bahkan dibantu dengan dipegang dan dibawa berlari, tetap saja tak bisa terbang. Sementara layang -layang temanku sudah mengangkasa semua. Meliuk liuk di udara dengan ekornya yang panjang seperti sebuah gerak tarian. Bahkan kemudian bisa berperang di udara, dengan saling menggesekkan benang yang tajam.

Dan aku pun kembali menjadi penonton. Karena layang -layangku masih saja di tanah. Seolah angin telah pilih kasih padaku hingga tak mau membawa layang-layangku terbang. Dan hanya bisa dimainkan dengan cara kubawa lari keliling lapangan saja.

Sebuah kenangan pahit tentang nasib menjadi seorang pecundang. Yang sepanjang pergaulan selalu dianggap tak punya keahlian apa pun dalam permainan. Mereka mengatakan kakiku kaku hingga tak bisa membawa dan memainkan bola. Demikian juga dengan tanganku yang tak bisa lihai menerbangkan layang-layang ke udara.

Dan entah kenapa, kenangan menyedihkan itu kemarin terbayang lagi. Ketika aku berjalan-jalan ke alun-alun utara pada saat menjelang senja hari.

Di alun-alun luas itu kulihat sekelompok anak yang sedang bermain bola. Dan di antara dua puluh anak yang sedang ramai bermain, kulihat seorang anak yang duduk sendirian di pinggir lapangan. Dia tidak ikut permainan, karena katanya pemainnya telah lengkap dan mengaku memang tak pintar main bola seperti teman lainnya.

Sejenak, aku merasa senasib dengannya, pada dua puluhan tahun yang silam. Menjadi pecundang yang tak pernah berhak terlibat dalam permainan. Menjadi anak bawang yang tak boleh turut bersenang-senang, apalagi untuk jadi pemenang. Dan untuk sekadar menghiburnya, anak itu kuajak ngobrol sambil beli somay di pinggir lapangan.

Dan kejadian yang sama kudapatkan ketika berjalan ke alun-alun sebelah barat. Kulihat sekelompok anak lainnya sedang bermain layang -layang. Di kelompok itu, kudapati juga seorang anak kecil yang sibuk dengan layangannya yang tak mau terbang. Sudah dicoba berlari berkeliling lapangan, namun tetap jatuh juga ke tanah. Sebuah nasib menyedihkan yang dulu pernah kualami juga.

Namun aku tak mendekati anak itu. Yang seolah telah putus asa untuk menaikkan layang -layangnya. Karena kemudian ia berlari meninggalkan alun-alun. Lalu asyik mencabuti rumput untuk diberikan pada kerbau bule di kandang yang ada di ujung utara alun-alun.

Sementara aku sendiri, kemudian asyik menonton anak-anak yang menerbangkan layang -layang. Sebagai anak yang tak pernah bisa menerbangkan, aku masih menyimpan kekaguman pada mereka. Yang seolah bisa membaca bahasa angin dan arahnya, hingga bisa membuat layang -layangnya terbang melayang. Dan kekaguman itu masih tersimpan sampai kini, meski berikut kenangan pahit dan menyedihkan turut membayang.

Ketika tengah menikmati layang-layang yang beterbangan itulah, tiba-tiba ingatanku melayang pada kisah Prabangkara. Salah satu tokoh yang ada dalam Babad Jaka Tingkir, sebagai tokoh yang dikisahkan pernah terbang menggunakan layang-layang.

Dikisahkan, Prabangkara adalah pelukis yang mampu menggambar persis seperti aslinya. Hingga Raja Majapahit memerintahkan untuk melukis seluruh keluarga istana yang ratusan jumlahnya. Tak terkecuali salah satu istri muda yang paling dicintainya. Namun khusus untuk dia, Prabangkara diminta untuk melukis dalam gambar tanpa busana. Namun tentu, ketika dilukis sang putri tak boleh menanggalkan pakainnya.

Maka dengan kemampuan imajenasinya, Prabangkara melukis hanya dengan menonton perempuan cantik yang  tetap berpakaian lengkap. Ia melukis dengan sepenuh rasa agar hasil yang tergambar sempurna, walau harus dengan cara membayangkan saja.

Namun sayang, karena ketidak hati-hatiannya, cat hitam yang ada pada kuas, menetes jauh ke kain gambar. Dan jatuhnya tepat di sekitar (maaf) kemaluan sang istri raja. Dan sebelum sempat noda cat itu dihilangkan, raja telah datang dan keburu melihatnya.

Maka tanpa disangka sebelumnya, raja justru kaget dan marah melihat hasilnya. Karena gambarnya ternyata sama persis dengan aslinya. Bahwa tanpa diketahui Prabangkara, ternyata di sekitar ‘tempat rahasia’ istrinya memang terdapat tahi lalat hitam.

Raja pun marah luar biasa. Bahkan menuduh Prabangkara telah berbuat tidak senonoh dengan istrinya. Tidak mungkin ia mengetahui ada tahi lalat, kalau tidak melepas pakaian istrinya. Prabangkara pun hendak dibunuh oleh sang raja.

Namun patih Majapahit memberikan jalan tengah, agar Prabangkara diusir saja. Karena bagaimana pun ia pernah berjasa. Maka ia pun diusir cara halus. Yakni diperintahkan untuk melukis seluruh alam angkasa lengkap dengan seisinya. Dari bermacam burung yang terbang di udara. Hingga bintang gemintang yang ada di atas sana.

Untuk melaksanakan itu semua, Patih membuatkan sangkar burung dengan ukuran yang besar, sebagai tempat Prabangkara menggambar. Sementara untuk membuatnya terbang, dibuatkan sebuah layang-layang raksasa. Dengan sangkar yang dicantolkan pada layang-layang itu Prabangkara dilepaskan ke angkasa.

Setelah itu, tali panjang yang ada pada layang-layang dilepaskan. Dan layang-layang raksasa itu pun membawa Prabangkara terbang ke angkasa. Terbang melayang sangat jauhnya dari Pulau Jawa, hingga konon Prabangkara mendarat di negeri Cina. Dia kemudian menikah dengan putri raja di Cina, dan beranak pinak di sana.

Terkenang kisah ini, jadi teringat buku ‘Putri Cina’ karya Sindhunata. Yang mencoba menarik kesimpulan, bahwa etnis Cina bukanlah bangsa asing bagi Indonesia. Karena mereka sebenarnya sama saja dengan berdiam di negeri leluhurnya, Prabangkara

Dan membaca sejarah panjang tentang etnis Cina di Indonesia, seperti membentang gulungan sejarah tentang pecundang dan pemenang. Ketika dalam bidang politik dan kekuasaan, mungkin mereka menjadi pecundang. Menjadi korban dalam setiap aksi kerusuhan massa yang berbau SARA. Namun dalam bidang ekonomi, merekalah sebenarnya sang pemenang. Sementara orang pribumilah si pecundang.

Maka berbicara tentang pecundang, aku sedang ingin sekali mengubah nasib menjadi pemenang. Karena sejak kecil dulu, aku telah kenyang menjadi pecundang!

oleh Nassirun Purwokartun pada 15 Maret 2011 pukul 23:37

Catatan Kaki 71: Ringin Kembar yang Tak Kembar, Seperti Rakyat dan Wakilnya

Standar

Tidak selamanya yang bernama kembar, harus selalu kembar.

Dan itulah yang kulihat dalam jalan-jalan ke alun-alun kidul keraton Solo.

Karena mestinya yang ada di tengah alun-alun adalah ringin kembar, atau beringin kembar. Namun beringin Ki Jayandaru ternyata lebih subur tumbuhnya dari beringin Ki Dewandaru yang kurus kering dan meranggas. Maka karena yang tumbuh di kanan jalan tak sama besar dengan yang di kiri, mungkin lebih baik kalau diganti nama menjadi ‘ringin ora kembar’, atau beringin yang tidak kembar.

Jadi meskipun kembar, dan memiliki nama yang  sama maknanya (Dewandaru dan Jayandaru sama-sama bermakna kejayaan), karena beringin adalah pohon yang juga makhluk hidup, tumbuhnya tak harus sama. Mungkin tergantung perawatan yang tidak sama baiknya antara yang kiri dan kanan. Sebuah perhatian yang mungkin telah timpang.

Dan soal ketimpangan itu bukan hanya pada pohon beringin saja. Karena ketidaksamaan itu terjadi pada seluruh bangungan keraton di sebelah selatan. Dari mulai Magangan, Gadhungmlati, Saleko. Brojonolo Kidul, Sitinggil Kidul, dan sekarang alun-alun kidul.

Padahal mestinya, karena alun-alun kidul adalah pasangan dari alun-alun lor, maka perawatannya pun harus sama. Sebagai bentuk keadilan dari ke-adiluhung-an yang tak selayaknya mban cinde mban siladan pada bangunan yang saling berpasangan.

Namun entah kenapa, alun-alun kidul seperti luput dari perhatian. Bahkan selama puluhan tahun seolah tak terawat dan terbengkalai. Hingga kawasan yang seharunya merupakan halaman depan keraton pun menjadi kumuh dan kotor. Kekumuhan yang membuat kesan mesum pada kawasan yang dulu sempat rimbun oleh semak. Yang ketika malam hari menjadi gelap remang-remang tanpa penerangan lampu yang mencukupi. Yang membuat alun-alun kidul sempat menjadi tempat ‘remang-remang plus-plus’.

Dan soal ‘keplus-plusan’ kawasan ini, sempat menjadi ikon ‘kurang baik’ tentang Solo. Apalagi ketika beberapa tahun silam, Solo mempunyai kawasan prostitusi ‘resmi’ di daerah Silir. Dan alun-alun kidul, yang akrab disebut alkid, menjadi tempat yang tak resmi untuk transaksi ‘jalanan’nya.

Mengenang kawasan alkid Solo sebagai kawasan ‘transaksi;, aku jadi teringat sebuah cerpen karya Marselli Sumarno, yang kubaca sepuluhan tahun lalu. Sebuah cerpen yang dimuat di harian KOMPAS, dengan judul (kalau tak salah) ‘Puteri Keraton.

Dikisahkan dalam cerpen itu, ada seorang boss dari Jakarta yang datang ke Solo. Sebagai lelaki hidung belang, sudah lama ia sangat terobsesi untuk bisa ‘menikmati’ putri keraton yang telah terkenal dengan kecantikannya. Maka ketika si boss ini menginap di hotel berbintang di Solo, ia pun memesan ‘teman’ khusus pada resepsionis. Dan dia berani membayar mahal, asal malam itu bisa ‘menikmati’ putri keraton.

Resepsionis hotel yang dipesan pun kelabakan. Karena selama ini, stok perempuan yang bisa diajak kencan hanyalah perempuan biasa. Maka permintaan itu pun ditolak, karena tak mungkin bisa mengundang puteri keraton untuk bertindak ‘plus-plus’.

Namun dengan iming-iming uang yang besar, akhirnya ia menerima. Dan setelah berusaha seharian, akhirnya ia benar-benar bisa membawa seorang putri keraton ke hotelnya. Dan si boss pun merasa bangga dan bahagia, bisa menikmati Solo di waktu malam dengan ditemani putri keraton yang terkenal kehalusan budinya. Sebuah tindak yang dianggapnya sebagai pencapaian terpuncak atas ‘kehidung belangannnya’.

Maka setelah itu, si resepsionis pun mendapatkan bayaran mahal atas kerja kerasnya. Bayaran yang harus dibagi dua dengan seorang tukang becak yang ditemuinya ketika mangkal di alun-alun kidul. Tukang becak yang mempunyai kerabat putri keraton.

Tukang becak yang tanpa diketahuinya, sebenarnya telah melakukan ‘penipuan’ padanya. Sebab putri keraton yang dibawa dalam becaknya, hanya bohong-bohongan belaka. Perempuan yang lemah lembut itu bukanlah putri dari keraton Solo. Melainkan pelacur alkid langganannya, yang ‘dipermak’ untuk mengaku menjadi seorang ‘putri’. Perempuan nakal pinggir jalan yang harus mengaku sebagai putri keraton Solo.

Namun itu cerita masa lalu, ketika alkid masih menjadi kawasan kumuh dan remang-remang. Sebab sekarang, kekumuhan itu sudah tak ada. Termasuk jalan yang melingkar pun telah diperbaiki dan ditata rapi. Sebuah kerja dari pemkot Solo yang layak dipuji.

Untuk melanjutkan perjalanan, aku pun melangkah ke tengah alun-alun kidul, sambil melupakan image alkid yang mesum itu. Kawasan yang pada sepuluhan tahun silam masih menjadi tempat yang terkenal dengan ‘becak bergoyang’nya. Yang di bawah ringin kurung, konon, justru menjadi tempat terfavorit untuk ‘bergelap-gelapan’.

Dan karena sejak awal masuk alun-alun kidul sudah tertarik (tepatnya: terusik) dengan tidak kembarnya ringin kembar, maka aku langsung menuju ke sepasang beringin itu. Untuk melihat dari dekat ketidak kembaran sesuatu yang seharusnya kembar.

Tapi begitu sampai di tengah alun-alun, aku jadi agak takut untuk mendekat. Karena tepat di bawah kerindangan ringin kembar itu, sedang berkumpul anak-anak punk dengan duduk melingkar. Para remaja dengan dandangan rambut Mohawk yang menjigrak ke atas. Dengan baju lecek dan jeans yang tak kalah kumal. Dan dandanan anting yang tak hanya terpasang di telinga, namun juga di hidung dan bibirnya.

Aku yang ingin memotret ringin kembar menjadi agak ragu mengetahui keberadaan mereka. Karena konon anak-anak punk paling tidak suka dipotret. Dan akan terpancing amarahnya kalau mengetahui ada orang yang berani memotret mereka.

Dan ternyata dugaan itu benar adanya. Sebab begitu aku mendekat dan memotret ringin kembar, mereka langsung berteriak-teriak. Sepertinya mereka menyangka aku tengah memotret kegiatan mereka. Maka dengan umpatan kasar mereka beramai-ramai berteriak mengusirku. Meski saat itu aku sudah berpura-pura tidak melihat dan memperhatikan keberadaan mereka.

Namun aku mencoba cuek saja. Tetap meneruskan memotret meski masih menyimpan perasaan takut. Dan untuk langkah aman, yang kupotret  kali ini bukan lagi ringin kembar. Melainkan pemandangan yang ada di sekelilingnya.

Saat itu tiba-tiba aku tertarik melihat seorang nenek tua yang sedang menjemur pakaian. Menjemur dengan cara digelar dan digeletakkan begitu saja di atas rumputan. Dari mulai baju, celana pendek, celana panjang, training, kaos, kain jarik, sampai pakaian dalam. Sebuah pemandangan yang mengingatkanku pada sebuah ‘pameran busana’.

Aku pun memotret ‘pameran busana’ yang menurutku unik itu. Meski harus dari kejauhan, karena takut nenek itu mengusirku seperti anak-anak punk sebelumnya.

Akhirnya, dengan kamera yang kubuat zoom, bisa kufoto semua ‘benda pamerannya’. Terutama baju-baju yang membuatku ‘terpesona’. Yakni kaos-kaos yang terdiri dari bermacam warna dan gambar. Dari mulai kaos merah bergambar banteng berhidung putih, kaos biru bergambar bintang segi tiga, kaos putih bergambar kotak hitam dan bulan sabit, kaos hijau bergambar ka’bah, dan bermacam warna serta gambar lainnya. Karena sesungguhnya, kaos yang tengah dijemurnya adalah kaos bermacam partai. Kaos yang mungkin didapatnya ketika pemilu lalu, dari bermacam kampanye yang diikutinya.

Sementara di sebelah ‘pameran busana’, kutemukan lagi bermacam gambar-gambar yang juga tengah dipamerkan. Terdapat di hamparan rumput itu, gambar televisi, tape recorder, kulkas, radio, juga computer. Dan ini adalah gambar-gambar yang terdapat dalam kardus bungkus peralatan elektronika. Yang rupanya merupakan hasil kerja kakek-kakek pemulung yang sedang menjemur kardus-kardus basah. Kumpulan ‘harta karun’ yang baru diambilnya dari berkeliling memungutinya di tempat-tempat sampah.

Sepertinya, meskipun sudah ditata menjadi taman kota, para gelandangan penghuni lama masih tetap berdiam di alkid. Karena di barat alun-alun, kemudian kulihat gubuk-gubuk kecil berderet berhimpitan menempel pada tembok keliling yang kusam. Dan banyak kulihat mereka sedang berkumpul dan bercengkerama di sana.

Termasuk nenek dan kakek yang sebelumnya kulihat tengah menjemur pakaian dan kardus di tengah alun-alun. Yang telah membuatku terpesona dengan ‘pameran busana’ dan ‘pameran gambar’ yang sudah digelarnya.

Sejenak aku termenung, andai partai-partai itu bukan hanya menjanjikan kesejahteraan rakyat dalam kampanye pemilu saja. Kalau saja bukan sekadar memberikan kaos pada para rakyat pemilihnya. Namun benar-benar bertindak nyata mengentaskan mereka, mungkin gelandangan-gelandangan itu tak harus hidup demikian sengsaranya. Tanpa pekerjaan dan penghasilan yang layak untuk hidup layak sebagai rakyat yang hidup di negeri yang terkenal kaya raya.

Namun hari ini, sepertinya partai-partai itu hanya baru bisa memberi janji dan kaos saja. Hingga rakyat harus terus menderita dan sengsara, karena kesejahteraan miliknya masih saja ‘diwakili’ untuk dinikmati oleh wakil mereka.

Dan hubungan antara rakyat dan wakilnya terus terjadi perbedaan yang sangat lebar. Persis seperti ringin kembar yang seharusnya kembar namun ternyata tidak kembar.

oleh Nassirun Purwokartun pada 14 Maret 2011 pukul 23:26