Category Archives: Kenangan Ramadhan

KENANGAN RAMADHAN 7: BLABUR IWAK

Standar

Kami menyebutnya blabur iwak atau banjir ikan. Karena di hari-hari itu, bahkan selama sepekan kemudian, akan terjadi banjir masakan ikan di semua meja makan.

Pada hari itu, bisa dipastikan, semua rumah di kampungku, lauk utamanya adalah ikan. Ada yang disayur santan, dicampur oseng, digoreng, dibakar, dipepes, disate, dan bermacam cara olahan lainnya. Termasuk juga dijemur untuk dijadikan ikan asin atau diasap, agar lebih lama disimpan.

Hanya ketika ada yang butuh dan tidak sempat mendapatkan saja, ikan itu baru kami dijual. Tentu dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah harga pada hari-hari biasa. Banjir ikan di tiap rumah yang kemudian membuat harga ikan di pasar pun jatuh drastis, bahkan sampai tidak laku.

Hari itu memang menjadi hari istimewa. Lauk ikan menjadi terbalik porsinya dengan nasi. Bagi keluargaku yang jarang makan ikan, makan dengan lauk ikan adalah istimewa. Yang biasanya sepiring nasi, lauk ikannya cuma sepotong, hari itu boleh berpotong-potong. Bahkan porsi nasinya lebih sedikit daripada lauknya. Hingga lebih seperti ikan itu menjadi nasi, dan nasi menjadi lauknya.

Hari pertama benar-benar menjadi pesta ikan. Bermacam masakan dengan bahan utama ikan terhidang di meja makan. Bisa karena dimasak oleh ibuku sendiri, bisa juga dari pemberian tetangga atau saudara. Apa yang ibu masak, sebagian dibagikan ke tetangga. Dan, tetangga pun memberikan masakan ikan yang diolahnya dengan cara yang berbeda.

Maka, nikmat pun berlebih di hari itu. Kenikmatan yang akan berlanjut hingga hari ke dua atau ke tiga. Perasaan nikmat akan ikan yang masih bisa kami rasa. Namun mulai hari ke empat atau ke lima, ada perasaan bosan juga dengan tiap hari makan ikan. Apa yang sebelumnya sangat istimewa, berubah menjadi biasa, bahkan menjemukan, karena terlalu banyaknya yang dimakan.

Karena bosan itu, bisa berakibat pada hilangnya nafsu makan ikan. Bahkan aku pernah sampai beberapa bulan tidak doyan makan ikan. Mencium amisnya saja sudah mual ingin muntah. Orang-orang menyebutnya dengan istilah mendem iwak atau mabuk ikan.

Kenangan blabur iwak itu mendadak kukenang, ketika selama Ramadhan ini, kami selalu sahur dan berbuka dengan menu masakan ikan.

Kenangan blabur iwak adalah kenangan ketika Sungai Serayu yang mengalir di kampungku, tengah membagikan ikan-ikannya pada kami. Ketika kami sebagai pemukim di sepanjang pinggiran sungai menjadi akrab dengan berkah tahunan itu.

Bahkan bukan hanya orang tua yang paham akan datangnya penanda, aku pun yang saat itu baru kelas 1 SD sudah bisa menengarai. Pokoknya, setelah terjadi kemarau panjang, saat air sungai Serayu menjadi bening dan dangkal, kemudian datang hujan pertama semalaman, itulah saat datangnya blabur iwak .

Selama semalaman kami tidur tidak tenang karena sambil berharap dan berdoa, semoga esok harinya adalah saat blabur iwak datang. Maka, begitu pagi menjelang, kami beramai-ramai ke pinggiran sungai, untuk mengecek apakah berkah itu sudah datang. Berkah dari panen ikan.

Ketika blabur iwak benar-benar datang, orang yang pertama mengetahui akan segera membunyikan kentongan. Setelah itu, berbondong-bondong penduduk seluruh kampung menyerbu sungai. Pagi buta selepas shubuh seluruh pinggiran sungai pun telah penuh jajaran orang.

Hanya beralatkan alat tangkap sederhana, kami dengan mudah mendapatkan ikan. Ada yang menggunakan ember, baskom, tudung saji, keranjang, pengki, dan lainnya. Hanya dengan itu saja, ikan berember-ember bisa kami dapatkan, tanpa susah-susah dengan menjaring atau memancing. Bahkan, cukup dengan tangan kosong saja, ikan itu bisa dengan mudah kami tangkap.

Bahkan pernah saat Ramadhan, ketika banjir iwak datang, semua jamaah tak melanjutkan dengan kuliah shubuh seperti biasa. Tidak juga diteruskan tadarus pagi. Begitu sholat selesai, semuanya langsung berhamburan ke sungai. Termasuk aku pun ikut-ikutan tidak pulang ke rumah dulu. Sarung yang kami pakai saat itu, bisa langsung dijadikan alat penangkap ikan.

Hari itu memang hari istimewa yang selalu kami tunggu. Hari ketika air sungai Serayu yang sebelumnya bening, dengan adanya hujan lebat semalaman, mengakibatkan banjir. Banjir besar yang membuat air sungai menjadi pekat coklat bercampur lumpur. Banjir itulah yang membuat ikan-ikan di sungai Serayu menjadi mabuk. Ikan-ikan yang kemudian berenang ke pinggir, hingga dengan mudah ditangkap oleh para penduduk.

Peristiwa itu selalu berulang setiap kemarau datang. Saat hujan pertama turun lebat, esoknya dipastikan akan terjadi blabur iwak.

Namun,hal itu sekarang tinggal kenangan. Terakhir blabur iwak terjadi, saat aku kelas 2 STM. Aku yang asyik menangkap iklan dari shubuh sampai jam 9, sampai lupa untuk berangkat sekolah.

Berkah blabur iwak  berhenti, setelah Bendung Gerak Serayu selesai dibangun. Bendungan besar yang diresmikan oleh Presiden Soeharto itulah yang membuat air Sungai Serayu selalu menggenang, hingga tidak mengalir lancar seperti sebelumnya. Genangan yang tak memungkinkan terjadi banjir lagi, ketika hujan pertama datang setelah kemarau panjang.

Sambil sahur dengan lauk ikan, sambil mengenang blabur iwak, aku membayangkan bahwa fenomena banjir ikan pun seperti juga Ramadhan.

Setelah kemarau iman berkepanjangan selama 11 bulan, hujan ampunan akan membanjir saat Ramadhan, hingga pahala pun lebih mudah ditangkap.

oleh Nassirun Purwokartun (Catatan) pada 26 Juli 2012 pukul 6:10

Iklan

KENANGAN RAMADHAN 5: MALU HATI PADA MBAH HAJI

Standar

Mendengar banyaknya komentar miring tentang “ustadz selebritis”, yang konon bertarif tinggi saat mengisi kajian Ramadhan di tivi, membuatku terkenang pada Mbah Haji.

Waktu itu, mushola belum ada. Orang yang sholat pun masih jarang. Sampai kemudian seorang haji dari desa tetangga datang ke kampung kami. Berkeliling tiap rumah, mengajak orang-orang tua, kakek-kakek dan nenek-nenek, untuk mengaji. Mengajari mereka bacaan dan gerakan sholat.

Salah satunya yang diajak adalah nenekku.

Karena tiap pekan didatangi, tiap datang diajari, nenek pun jadi bisa sholat. Padahal umurnya sudah lebih dari 60 tahun, dan buta huruf juga. Jadi, nenek adalah generasi awal yang sholat, bersama kakek-kakek dan nenek-nenek yang lain.

Dari mengajar ngaji keliling rumah itu, lama kelamaan mulai banyak kakek-nenek yang sholat. Sholat sendiri-sendiri, di rumahnya masing-masing. Penandanya adalah adzan dari kampung seberang, dari masjid besar Mbah Haji.

Karena rumah kami berlantai tanah, nenek sholatnya di amben kayu. Dengan menggelar tikar pandan sebagai sajadahnya. Aku ingat, amben itu juga yang ketika nenek meninggal digunakan untuk memandikan.

Lama kelamaan, banyak orang muda yang ikut belajar sholat. Terutama yang pekerjaannya adalah pegawai negeri, golongan terpandang di kampung kami. Mereka tidak diajari satu persatu di rumahnya, namun berombongan di rumah salah seorang dari mereka. Kemudian, dari kumpulan merekalah tercetus untuk memulai sholat berjamaah. Dengan memanfaatkan rumah kosong sebagai musholanya.

Lama aku memendam tanya, mengapa dulu Mbah Haji memilih orang-orang tua sebagai sasaran awal dakwahnya? Mengapa hanya para kakek-nenek saja yang diajaknya sholat? Mengapa bukan orang yang lebih muda dulu, seperti kedua orang tuaku, misalnya.

Ada jawaban dari ibu yang pernah kudapat. Konon, karena saat itu, kakek-nenek adalah para penghuni rumah. Mereka yang selalu berada di rumah sejak pagi hingga sore. Sementara orang yang lebih muda, sepantaran orang tua kami waktu itu, siang hari tak pernah di rumah. Sejak pagi ayah dan ibu sudah berangkat ke sawah. Siangnya, ayah mencari rumput untuk pakan sapi ke hutan. Ibu berkebun ke ladang. Jadi, Mbah Haji hanya menemui para orang tua saja, yang bisa diajarinya sholat.

Namun ada pendapat lain. Katanya memang ia sengaja mencari yang tua, sebab dalam pandangan umum, merekalah yang sudah memikirkan jalan pulang. Lebih mencari ketenangan jiwa, daripada sibuk mengejar kebutuhan dunia. Jadi, lebih mudah ketika diajak sholat. Meluangkan waktu untuk belajar dan menyempatkan waktunya untuk menjalankan sholat 5 waktu.

Sementara yang muda, yang masih harus bekerja keras, apalagi sebagai petani penggarap yang tak punya sawah seperti orang tuaku, selalu beralasan kehabisan waktu. Sudah kerja keras banting tulang pun, kebutuhan harian masih tidak mencukupi.

Dua puluhan tahun kemudian, saat melihat mushola telah ramai dengan anak yang mengaji, remaja yang giat berdakwah, orang tua yang mendukung kegiatan kami, aku terkenang pada sosok haji itu. Kalau tak ada “kerja dakwah”nya, mungkin tak ada orang yang sholat di kampung kami. Dan, mushola pun mustahil berdiri.

Namun, yang kemudian selalu terkenang di hati, adalah ketekunannya datang berkeliling dari rumah ke rumah. Mengakrabi satu per satu orang yang ditemui di rumah yang didatangi, sebelum mengajaknya sholat. Telaten datang tiap hari, berganti-ganti orang yang berbeda-beda taraf kecerdasan dan emosinya.

Seorang pendakwah yang mengingatkanku pada para ustadz generasi kami. Harus ada jamaah yang banyak dulu, baru mau datang mengajari. Harus diundang dulu, baru mau mengisi. Itu pun hanya sekadar memberi kajian dari mimbar. Bukan yang telaten mengajari satu per satu, dengan pendekatan personal sekali. Mengajak mendekat Illahi dengan sentuhan hati.

Maka kini, setiap melihat “ustadz selebritis”, aku selalu terkenang sosok Mbah Haji. Bukan untuk membandingkan “kerja dakwah” mereka lagi. Tapi sekedar menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Berkaca pada ketekunannya yang membuatku malu hati.

oleh Nassirun Purwokartun pada 24 Juli 2012 pukul 9:42

KENANGAN RAMADHAN 4: MUSHOLA YANG HILANG

Standar

Selain rumah orang tua, tempat yang selalu menawarkan kedamaian dan kenangan saat aku pulang kampung adalah mushola.

Bangunan itu pertama kali berdiri, seingatku, waktu aku SD kelas 1. Sebelumnya warga kampung menumpang di sebuah rumah tua untuk melaksanakan sholat maghrib, dilanjutkan mengaji, dan sholat isya. Waktu itu bangunannya masih kecil dan sangat sederhana. Dinding sudah ditembok, tapi lantai masih kasar, hingga yang sholat harus menggelar tikar.

Aku jarang ikut ke mushola untuk sholat maghrib dan mengaji. Namun, karena waktu siang bangunan itu juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak, aku pun sering berada di sana. Bermacam permainan anak-anak kami gelar dengan riang gembira, seperti di poskamling saja.

Aku masih sangat ingat bentuk bangunannya. Atapnya yang susun dua, dengan lapis bawah dari genting dan lapis atas dari ijuk dengan pinggiran seng. Dua bingkai jendela kayu tanpa daun di kiri dan kanan, serta pintu bentuk kupu tarung yang hanya ada satu berada di tengah. Sebuah mushola yang sering mengingatkanku pada bangunan cungkup kuburan.

Dengan iuran warga, bangunan mulai diperbaiki. Lantai diplester semen, jendela yang hanya bingkai diganti, pintu pun diubah model engsel. Namun jendela tetap tanpa daun, hanya dipasang jeruji kayu bulat-bulat berjajar di tengahnya, membuatku terbayang pada pintu penjara.

Sampai masuk SMP, aku masih sering di mushola. Tentu untuk bermain umbul wayang di siang hari, dan bukannya mengaji turutan pada sore harinya. Atau permainan dam-daman (catur Jawa) dengan bidak pecahan genting dan bermain karet atau kelereng yang sangat menyenangkan.

Aku baru benar-benar menjadi penghuni mushola sesungguhnya saat STM kelas 1. Ketika ada “panggilan” yang entah datang dari mana, mendorongku untuk belajar iqro. Waktu aku menjadi tontonan anak kecil yang mungkin keheranan, ada remaja yang masih belajar iqro jilid 1.

Mushola saat itu sudah dalam perbaikan kembali. Eternit pada langit-langit sudah dipasang, hingga tokek yang ada di atap tidak bisa buang kotoran seenaknya ke lantai. Pintu yang di tengah ditutup dan dibuat pintu baru di kanan dan kiri, sebagai pintu putra dan putri. Lantai plester semen pun diganti tegel sumbangan orang. Hanya jendela “penjara” saja yang masih asli seperti sebelumnya.

Ada yang beda saat aku mulai aktiv di mushola. Siang hari sudah tidak menjadi “taman bermain” anak-anak lagi. Mungkin ini pengaruh tontonan di tivi yang lebih menarik. Namun sore harinya tetap ramai untuk anak-anak yang belajar iqro’. Metode pembelajaran baca qur’an yang baru “in” saat itu, menggantikan metode turutan yang kami kenal waktu kecil dulu.

Setiap maghrib sampai isya, mushola selalu ramai. Ada remaja yang mengajar anak-anak, juga ibu-ibu yang mengaji bersama. Sementara bapak-bapak mengadakan pengajiannya selepas isya. Suasana yang hangat akrab penuh kedamaian, yang selalu aku rindukan.

Sebab sekarang, setiap aku pulang kampung, suasana itu sudah tak kutemukan lagi. Tak ada anak-anak ataupun ibu-ibu yang ramai mengaji dengan para remaja yang mengajari. Alasannya, karena anak-anak sudah TPA di masjid besar saat sore harinya, juga karena banyak yang sudah bersekolah di TK dan SD Islam. Jadi waktu malam mereka gunakan untuk belajar pelajaran sekolah.

Hingga setiap selepas maghrib, saat jamaah pulang ke rumah masing-masing, aku sengaja berdiam sendirian di mushola. Mengenang saat masih ramai dengan canda tawa anak-anak yang tengah mengaji dalam lingkaran.

Sambil menunggu saat ‘isya tiba, aku mencoba “menikmati” mushola yang sudah terbangun megah. Luasnya sudah lebih dari 4 kali bangunan semula, karena mendapat wakaf tambahan. Dibangun kembali dengan gaya modern yang kokoh dan mewah. Lengkap dengan lantai keramik yang licin mengkilat, serta dinding-dinding yang kuat. Pintu-pintu dari kayu jati tebal dan mahal, serta jendela kaca penuh hiasan.

Saat itulah, entah mengapa, aku selalu ingin berlama-lama di sana. Menikmati kesendirian dalam larut kenangan. Kedamaian yang memprihatinkan. Saat aku seperti meratapi musholaku yang hilang.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Juli 2012 pukul 11:31

KENANGAN RAMADHAN 3: BAHAGIA BERSAMA MEREKA

Standar

Kenangan tentang qur’an kado nikah dari santriku, membuatku teringat pada semua sosok mereka. Sepuluh anak yang pada belasan tahun silam begitu akrab denganku. Kehangatan yang membuatku mendadak membayangkan mereka seperti juga anak-anak Laskar Pelangi yang kompak dan bahagia.

Dulu, aku menamakan mereka adalah anak-anak “Pesan Ashkaf”, Pengajar Santri Ashhabul Kahfi. Karena disingkat “Pesan”, aku pun membuatkan ikrar pesan bagi mereka. Satu, menjaga rasa persaudaraan-persahabatan antar mereka. Dua, menjaga kemakmuran mushola dengan selalu meramaikannya.

Anak-anak itu, meski hampir 20 tahun lewat, tapi wajah-wajah mereka masih lekat di ingatanku. Dan, pagi ini akan aku ingat kembali nama-nama mereka.

Satu, Dwi. Anak kelas 4 SD. Tubuhnya tinggi, kurus, kulit kuning, rambut lurus. Anaknya rame, ramah, dan mudah menangkap pelajaran. Dengan santri yang diajar cukup hangat. Ini juga yang mungkin membuatnya tertarik menjadi guru. Hingga setelah kuliah di Unnes, kemudian mengajar di SD Al-Irsyad Purwokerto.

Dua, Sodiq. Anak kelas 5 SD. Nama aslinya Supriyadi, tapi karena sering sakit-sakitan, akhirnya ganti nama menjadi Muhammad Soqiq. Oleh teman-temannya dipanggil Qidos. Badannya tegap, wajahnya keras, murah senyum. Sabar dalam menghadapi santri, meskipun kemampuannya pas-pasan . Tapi telaten dan tak mudah menyerah. Sekarang bekerja sebagai satpam di Jakarta.

Tiga, Sugi. Anak kelas 4 SD. Sifatnya pemalu, lembut, dan sopan. Masa kecilnya terkenal sebagai anak nakal dan sulit diatur. Tapi setelah masuk TPA, berubah drastis, menjadi sangat santun. Anaknya rapi, meskipun masih menyisakan sifat sulit diatur. Suara adzannya paling merdu dibanding yang lain. Sekarang menjadi sopir di Jakarta.

Empat, Anto. Anak kelas 4 SD. Paling cerdas di antara yang lain. Daya ingatnya luar biasa, juga  kemampuan menghafalnya. Namun sering mengeluh ketika mengajar santri, karena sifatnya yang sulit bisa sabar, dan cenderung kurang hati-hati. Sekarang menjadi pegawai PJKA di Purworejo.

Lima, Seno. Anak paling kecil di antara yang lain, karena baru kelas 3 SD. Hinga sering dianggap sebagai adik terkecil mereka. Anaknya lucu, lugu, namun sering sok tahu. Suaranya paling cempreng, terutama kalau sedang tadarus. Sekarang bekerja di Jambi, konon di sebuah perusahaan operator seluler.

Enam, Atiq. Anak paling besar, sudah kelas 1 SMP. Anak bungsu dari keluarga kaya, yang sering dianggap manja oleh teman yang lain, meski paling tua secara usia. Selalu ingin diperhatikan dibanding yang lain. Anaknya suka terus terang, namun mudah diatur. Sekarang menjadi perawat di RS Margono Purwokerto.

Tujuh, Ari. Anak kelas 4 SD. Anaknya gendut, lucu, dan imut. Sejak bayi sudah pandai berenang di sungai serayu. Itu pula yang mungkin mengantarkannya menjadi guru olah raga. Paling lembut perasaannya, namun di saat yang lain cueknya minta ampun.

Delapan, Sini. Anak kelas 6 SD. Anaknya pemalu, namun di antara yang lain paling duluan nikah. Mudah diatur, dan dekat dengan santri yang diajar. Hanya sekolah sampai SMA, kemudian menikah.

Sembilan, Yanti. Anak kelas 1 SMP. Anak tunggal yang selalu ingin diperhatikan. Mudah hangat dengan santri yang diajar, dan mudah diterima ketika mengajar. Anaknya tertutup, dan sulit ditebak keinginannya. Sekarang menjadi perawat di RS Islam Purwokerto.

Sepuluh, Gotri. Anaknya keras, kasar ketika berbicara dengan teman. Selalu ingin menang dan didengar pendapatnya. Dialah yang memberiku al-qur’an saat pernikahanku.

Sepuluh anak itu, sekarang sudah menikah dan semua sudah punya anak. Bukan lagi anak-anak seperti saat masih akrab denganku. Saat masih lekat dan lengkap dengan sifat kekanakan mereka yang khas dan beda, yang justru membuatku selalu berbahagia saat bersama mereka.

oleh Nassirun Purwokartun pada 22 Juli 2012 pukul 10:51

KENANGAN RAMADHAN 2: TAK PERNAH LAGI

Standar

Qur’annya sederhana saja. Bukan yang warna, karena ada penanda tajwidnya. Bukan pula yang lengkap dengan terjemah atau bahkan lafdhiyah per kata. Bukan juga yang lengkap berikut “miracle the reference” yang mempunyai 22 manfaat itu.

Namun, ternyata itulah qur’an istimewa. Qur’an yang selama ini selalu aku baca setiap tahun, saat tadarus Ramadhan. Tepatnya, sejak aku menikah, dan mendapatkan itu sebagai kado pernikahan.

Saat tilawah tadi pagi, tak sengaja aku tersadar akan keberadaan qur’an itu. Qur’an paling sederhana yang kupunya. Karena hanya berisi larik ayat dan surat. Dengan cover warna keemasan yang kasar, serta cetakan isi kertas putih biasa. Tapi qur’an itu tiba-tiba jadi istimewa, karena mendadak aku teringat pada yang memberikan.

“Hanya bisa kasih ini saja, mas,” katanya saat ia memberikan kado pada pernikahanku.

Aku tersenyum, dan melupakan apa yang ia berikan. Bukan untuk menyepelekan, tapi ia mampu memberikan kado saja sudah luar biasa bagiku. Ia datang dari keluarga sederhana. Ayahnya dikenal sebagai penjudi, dan ibunya penghutang. Ia pun dikenal sebagai anak yang keras wataknya. Bicaranya kasar, meskipun seorang bocah perempuan. Namun setelah kenal denganku, kami akrab, dan kekerasannya mulai berkurang. Paling tidak ketika bersama kami di mushola.

Aku pertama mengenalnya, sejak ia ikut TPA. Bersama seorang temanku , aku mengajar lebih dari 60 santri. Karena pengajar hanya 2, akhirnya aku memilih anak-anak yang sudah hampir iqro 6 untuk aku training. Aku dapatkan 10 anak yang sudah iqro’ jilid 6. Mereka kuajar lebih intens, agar bisa membantu kami, mengajar santri yang lain. Santri yang iqro’nya di bawah mereka,  iqro 1 sampai 4. Sementara santri iqro jilid 5 diajar oleh temanku.

Ia adalah 1 dari 10 anak yang kuajar di kelasku. Bersamanya ada 5 santri putra dan 5 santri putri. Secara kemampuan, ia hanya rata-rata saja. Hingga hanya aku percayakan 2 santri yang diajar olehnya. Tentu selain pertimbangan, karena dia pun kasar pada anak kecil dan masih suka bicara kasar.

Bermula dari sekadar membantu mengajar iqro, 10 anak itu aku arahkan menjadi pengurus mushola. Anak usia kelas 4 dan 6 SD, serta 2 anak yang kelas 1 SMP. Aku sendiri saat itu kelas 2 SMA. Aku beri nama pada kelompok mereka, Pesan Ashkaf. Singkatan dari Pengajar Santri Ashhabul Kahfi. Yang selain membantu mengajar santri, juga bertanggungjawab atas mushola. Dari soal kebersihan, sampai jadwal adzan.

Karena menjadi pengurus mushola, kemampuan mereka pun selalu kami tingkatkan. Setelah lulus iqro,mereka lanjut ke tadarus qur’an. Kebetulan, saat itu menjelang Ramadhan. Kami berencana melakukan suatu pencapaian yang “beda”di Ramadhan itu.

Biasanya, para remaja dan ibu-ibu bertadarus bersama, dan khatam 1 kali. Kami merencanakan yang lebih. Yakni, berencana mengkhatamkan qur’an sebanyak 5 kali. Caranya, setiap shalat jamaah, kami melingkar dan bertadarus bersama sebanyak 1 juz. Hingga sehari selesai 5 juz, dan khatam dalam 6 hari. Alhamdulillah berhasil khatam 5 kali, meski ada 2 santri yang gagal. Bukan karena malas, tapi karena 2 santri putri itu ternyata sudah mendapatkan “tanda kedewasaan” mereka.

Tadi pagi, saat aku bertadarus memakai qur’an pemberiannya, aku jadi terkenang peristiwa yang telah lewat belasan tahun silam itu. Mengenang anak-anak kecil yang baru lulus iqro, namun langsung bisa bersemangat untuk sholat berjamaah tanpa putus saat Ramadhan, dan dilanjutkan tadarus 1 juz. Bisa dibayangkan, bagaimana lamanya menghabiskan 1 juz dari anak yang masih terbata-bata membaca 1 ayat.

Mendadak, kenangan itu membayang kembali. Bahkan, ada malu dalam hati, sebab itulah kali pertama dan satu-satunya, aku pernah mengkhatamkan sampai 5 kali. Sesudahnya tak pernah lagi.

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 21 Juli 2012 pukul 13:05

KENANGAN RAMADHAN 1: JALAN MENDAKI

Standar

Jalan Sendiri

telah kupilih jalan sendiri 

jalan mendaki 

 

Sore ini, aku terkenang penggal puisi yang pernah kutulis belasan tahun silam itu. Tentang pilihan hidup yang saat itu akan aku tentukan, untuk berjalan sendiri. Tentang pilihan jalan yang harus aku tentukan, memilih jalan mendaki. Itulah jalan spiritual yang ingin kulalui. Sebuah perjalanan panjang menemukan diri sendiri.

Perjalanan yang segera kumulai hari itu juga, sepekan sebelum Ramadhan, saat aku memancangkan niat dalam diri. Setelah berbelas tahun merasakan kegelapan yang panjang. Kegelapan yang telah membuatku merindukan terang. Saat pengap sangat kurasakan. Hingga aku tersadar untuk  segera menuju terang. Minadhdhulumatil illa nur.

Telah kupilih jalan mendaki, jalan untuk menemukan diriku sendiri. Harus segera kumulai. Kata bijak mengatakan ‘perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan langkah pertama…’.

Kusebut jalan itu mendaki, karena memang bukan jalan yang lurus datar saja. Namun, sebuah jalan yang konon penuh liku tanjak dan onak duri. Benar-benar sebuah jalan yang belum pernah kutempuh. Sebuah perjalanan kembali, sesuatu yang kadang lebih berat untuk dilakukan.

“Dimulai dari memahami satu langkah, perlahan-lahan engkau akan memahami seribu langkah. Setelah itu engkau akan melihat Jalan dan akan diliputi rasa percaya diri. Hal yang lebih menakutkan adalah bila engkau tidak memahami hakikat diri sehingga terjebak dalam kebingungan dan penderitaan.” Begitu kata Cheng Yen pernah kuhafalkan.

Ya, aku memulainya dengan memahami langkah pertama. Agar perlahan-lahan aku akan memahami langkah-langkah berikutnya. Yang penting adalah mengawali langkah pertama. Karena yakin, setelah melangkahlah akan bertemu Jalan.

Ketakutan adalah ancaman yang selalu membayang sebelum melangkah. Keberanian untuk melangkah adalah sebuah kemenangan. Atau kalau tidak, awal dari sebuah kemenangan.

Sore ini aku terkenang saat pertama aku mulai melangkahkan kaki. Seperti juga ibadah yang lain, shalat atau pun wudhu, langkah pertama adalah niat. Saat itu, aku pun mantap berniat. Betul-betul berniat untuk kembali menjadi diri yang sebenarnya. Biarlah hari kemarin aku hanya begitu-begitu saja. Biasa-biasa saja. Namun dengan menempuh jalan sunyi, jalan sendiri, jalan mendaki, akan yakin akan ketemu Jalan sejati.

Tak terasa, peristiwa “langkah pertama” dan “kemantapan niat” itu telah lewat belasan tahun lamanya. Yang artinya, belasan tahun pula aku menyusuri jalan mendaki ini.

Maka doaku hari ini, kuatkan terus kaki ini, menapak di Jalan ini. Aamiin.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Juli 2012 pukul 17:28