Category Archives: Melodi Sunyi

Melodi Sunyi 8: ….. antara kita, mati datang tidak membelah

Standar

Suatu hari di tahun 1943, datanglah ia ke redaksi Panji Pustaka.

Dan pada hari itulah, dia bertemu dengan Jasin untuk yang pertama kalinya.

Dalam pandangan Jasin, dia seorang pemuda kurus pucat, dengan baju tak terurus, mata merah agak liar,  bahasa wajah seolah tengah berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti tingkah orang yang tak mudah peduli.

Dia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Panji Pustaka. Namun didapatnya jawaban bahwa sajak-sajaknya tak mungkin dimuat. Kata pemimpin redaksinya, puisinya tak ada harganya.

“Sajak-sajaknya sangat individualistis. Yang lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan pribadi pengarangnya saja. Kiasan-kiasannya terlalu Barat.”

Namun penolakan itu tak menyurutkan langkahnya dalam menulis puisi. Dia tetap menulis, dia tetap mengirimkan, tak peduli cibiran orang, tak peduli penolakan pemuatan. Dan dia pun mulai bergaul dengan para seniman di Jakarta. Baik para penyair, sastrawan, pemain teater, hingga para pelukis.

Ketika pemerintah Jepang mendirikan Keimin Bunka Sidhoso (Kantor Pusat Kebudayaan) pada 1 April 1943, dia sering datang ke sana. Berbincang-bincang dengan Armijn Pane, ketua bagian kesusastraan di kantor tersebut. Dari lingkungan pergaulan seniman itulah, namanya mulai muncul dan dikenal banyak kalangan.

Pada pertengahan Juli 1943, mestinya dia akan berbicara di Forum Angkatan Muda. Namun batal tampil, karena saat itu ia ditangkap oleh polisi rahasia Jepang. Kasusnya, pencurian buku.

Ya, dia adalah orang yang sangat besar minat bacanya pada sastra-sastra Barat, namun uang selalu tak dimilikinya. Maka mencuri buku di toko kemudian menjadi hobinya. Hingga kamar sumpeknya penuh dengan buku-buku sastra, dari Barat hingga Timur. Dari WH. Auden, RM. Rilke, E Du Peron, John Cornford, Conrad Aiken, sampai Hsu Chih Mon. Namun sepandai-pandainya pencuri buku melompat, suatu saat tertangkap polisi Jepang juga.

Yang paling konyol adalah ketika ingin mencuri buku Nietzhe yang berjudul ‘Zarathustra’. Sebuah buku yang telah lama diidamkan, sebuah buku tebal bersampul hitam yang akan segera dimilikinya, tentu saja dengan jalan mencurinya. Maka dengan tampang datar ia datang ke toko buku. Matanya tajam mengawasi para pelayan toko dan pengunjung yang ada. Sementara tangannya sibuk mengambil buku di rak, untuk kemudian memasukkannya ke balik bajunya.

Pencurian berhasil sempurna, tanpa ada pelayan yang melihatnya. Hanya kekagetan ketika ia membuka buku itu di rumahnya. Karena yang telah dicuri bukan buku karya besar Nietsche, melainkan kitab injil.

“Habis sama-sama tebal, dan bersampul hitam sih!” umpatnya ketika bercerita di depan teman-temannya. Sebuah kesialan yang langsung menjadi bahan olok-olokan di antara mereka.

Aku pernah datang ke Paron, Ngawi. Karena kebetulan ada temanku yang asli sana, menikah. Dan ternyata dia juga pernah punya pacar seorang gadis asal Paron. Gadis jelita yang mempunyai hobbi melukis. Sumirat, namanya.

Perkenalan terjadi ketika di pantai Cilincing, Jakarta Utara. Ketika itu dia sedang duduk bersandar di sebatang pohon kelapa, dengan ditemani buku bacaan yang setebal bantal. Mula-mula Sumirat tidak memperhatikannya. Tapi beberapa kali melewatinya, melihat ketekunan dia membaca dan tanpa peduli sekelilingnya, membuatnya heran. Aneh, pikirnya. Orang lain datang ke pantai untuk bersenang-senang, dia malah lebih asyik tenggelam bersama buku-bukunya.

Pertemuan pertama itu ternyata membekas di hati Sumirat. Dalam perjalanan pulang, pikirannya tak lepas dari bayangan sosoknya. Dikhayalkannya apa yang sedang bermain dalam angannya. Sikapnya yang acuh dan masa bodoh serta tak ambil peduli dengan perhatiannya, justru semakin membuat Sumirat tertarik.

Di Jakarta, Sumirat menumpang hidup di tempat saudaranya yang menjadi hakim. Pada suatu hari, saudaranya tersebut bercerita, bahwa ia baru bertemu dengan orang yang pernah ditemuinya di pantai Cilincing.

Orang tersebut sedang berurusan dengan pengadilan, karena dituduh mencuri. Dia kena denda, namun karena tak mempunyai uang, akhirnya dipenjara lebih lama. Maka Sumirat yang mendengar kabar itu segera minta pada saudaranya, agar bias membebaskannya. Dan Sumirat yang bersedia akan membayarkan dendanya.

Dan benar adanya, akhirnya dia pun bebas. Karena ternyata keesokan harinya dia sudah datang ke tempat Sumirat. Kunjungan itu ternyata bersambut berpanjangan. Sumirat benar-benar tertarik padanya. Dan mereka pun akhirnya berpacaran.

Sumirat yang hobi melukis, di Jakarta bergabung dengan galeri milik Basuki Abdullah. Dan dia sering datang ke tempat itu untuk menemani pacarnya melukis.

Sambil menemani, sering kali dia membacakan puisi-puisinya yang romantis. Yang memang diciptakan untuk Sumirat.

 

hidup dari segala hidupku pintu terbuka

selama matamu bagiku menengadah

selama kau darah mengalir dari luka

antara kita, mati datang tidak membelah

 

buat Miratku, ratuku

kubentuk dunia sendiri

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati

di alam ini

 

Suatu hari dia ingin mengajak Sumirat menonton film. Dijemputlah sang pacar di galeri tempatnya belajar. Dia sudah berpakaian necis, bercelana putih berkemeja putih. Maka begitu melihat jas putih Basuki Abdullah tersampir di kursi, dia langsung mengenakannya. Hingga semakin trendilah penampilannya.

Kemudian digandenglah Sumirat dengan penuh kebanggaan. Hingga membuat teman-teman seniman berdecak kagum padanya, karena memang Sumirat manis dan cantik, serta banyak seniman lain yang naksir.

Setelah menonton film, pulanglah Sumirat ke rumah saudaranya. Sementara dia, kembali ke galeri Basuki Abdullah untuk memmbanggakan diri dan membawakan teman-temannya makanan dari tempatnya makan malam. Berceritalah dia bagaimana asyiknya menonton film dan mengajak Sumirat makan di restoran.

Semua teman-teman seniman dan Basuki Abdullah sendiri mendengarkan dengan semangat. Apalagi dia membawa banyak makanan enak dari restoran tempat dia sudah makan malam bersama Sumirat.

Seminggu kemudian Basuki Abdullah yang akan mendatangi acara, menanyakan jas putih yang dipinjamnya.

Dengan enteng dia menjawab; “Sudah masuk ke perut kamu dan teman-teman. Memangnya dari mana aku punya uang untuk mentraktir Sumirat nonton dan makan?”

Ternyata dia telah menjual jas pinjaman itu ke pasar loak.

 

13  April , sepuluh tahun lalu

oleh Nassirun Purwokartun pada 14 April 2011 pukul 17:36

Iklan

Melodi Sunyi 7: ….. dan duka mahatuan bertakhta

Standar

Mungkin kau sudah mengenalnya, namun tak ada salahkan aku kenalkan ulang sekarang.

Seorang lelaki bertubuh kerempeng dengan tulang pipi menonjol dan sorot mata tajam. Seorang yang di masa mudanya suka berpakaian necis dan rambut selalu tersisir rapi. Seorang pribadi laki-laki yang banyak memikat rasa hati perempuan. Bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kecerdasannya.

Dia perantauan dari Medan, namun kelahiran Payakumbuh, 22 Juli 1922.

Ayahnya seorang pegawai Belanda yang berkedudukan tinggi. Sebuah jabatan yang cukup disegani kala itu. Nama ayahnya sangat Indonesia, yaitu Tulus, tapi perawakannya tinggi besar, gagah, dengan kulit melintang, membuat orang menyangkanya bukan orang Indonesia. Sementara ibunya gemuk pendek berkacamata. Saleha, namanya. Dia anak kedua dari dua bersaudara.

Kehidupan orang tuanya selalu diwarnai pertengkaran. Keduanya sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan tak pernah ada yang mau mengalah. Seolah pertemuan mereka bak besi dan api, yang selalu memercikkan nyala merah berpercikan bara api. Di tengah api pertengkaran yang demikian itulah dia dibesarkan.

Maka tak heran, kalau sifatnya pun menjadi makin menonjol sebagai anak manja dan dimanjakan, hingga tak pernah mau disalahkan dan dikalahkan. Apa yang diminta pada orang tuanya, pasti akan dikabulkan. Mainan anak-anak, makanan yang enak-enak, sepeda yang bagus, baju yang bagus, dan semuanya yang kelas satu.

Bukan hanya dalam lingkungan keluarga sendiri, di luarpun ia dimanjakan oleh masyarakat. Karena ayahnya dan neneknya adalah tokoh yang disegani di daerahnya. Dan dia sendiri termasuk murid yang pandai dan cerdas di sekolah, hingga guru-guru pun turut membanggakannya. Pendeknya, masa kakak-kanak hingga anak-anaknya selalu dilingkupi kehidupan yang mewah. Bahkan berlebih-lebihan menurut ukuran ketika itu.

Di Medan, ia hanya sekolah sampai kelas 1 MULO (setingkat SMP sekarang), karena kemudian ayahnya menikah lagi setelah bercerai dengan ibunya. Namun dengan kecerdasannya, dia sudah membaca seluruh buku yang diajarkan di MULO, bahkan buku-buku bacaan yang mestinya hanya boleh dibaca murid AMS (setingkat SMA sekarang).

Akibat perceraian orang tuanya itulah, kebencian dan dendamnya terhadap ayahnya timbul. Dia tidak dapat menerima bahwa ayahnya kawin lagi dan meninggalkan ibunya. Tentulah keretakan rumah tangga demikian menimbulkan kekecewaan yang mendalam dalam kehidupannya. Hingga sejak saat itu, jiwanya mulai resah gelisah dan menginginkan kehidupan lain.

Saat itu dia telah mendengar kabar tentang Jakarta, maka dia ingin segera pindah ke sana, ke sebuah kota besar tempat menggantungkan harapannya, dan melupakan kekecewaannya.

Tahun 1941, dia pindah ke Jakarta dan melanjutkan MULO kelas dua. Biaya sekolah masih ditanggung oleh ayahnya, dikirimkan dari Medan. Beberapa bulan kemudian, ibunya menyusul ke Jakarta.

Namun dalam perjalanannya kemudian, sekolahnya tersebut terhenti. Bahkan dia tak sampai tamat MULO. Pertama, karena kesulitan ekonomi, karena ayahnya tak lagi mengirimi biaya sekolah. Kedua, pada Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Jawa, hingga keadaan Jakarta pun tak menentu.

Sementara dia sendiri masih menyukai gaya hidup glamour, sebagai akibat dari pemanjaan selama di Medan. Hingga perhiasan ibunya, habis untuk membiayai gaya hidupnya. Untuk membeli pakaian model terbaru, dan untuk datang ke pesta-pesta yang di sana banyak perempuan Belandanya.

Bulan Oktober 1942, ada kabar duka dari Medan. Neneknya yang sangat menyayangi dan memanjakannya meninggal dunia. Berdukalah dia, dan ditulisnya dalam sajak untuk mengenang neneknya. Sebuah puisi menggetarkan, yang ditulisnya di usia 20 tahunnya.

“bukan kematian benar menusuk kalbu

keridhaanmu menerima segala tiba

tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta”

 

CATATAN:

Kutulis ulang, sebuah surat yang pernah kukirimkan pada seseorang, yang sekarang telah hilang, pada pertengahan April sepuluh tahun silam. 13 April 2001, tanggal yang (kebetulan) masih belum kulupa!

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 13 April 2011 pukul 19:03

Melodi Sunyi 6 : Pelajaran dari Dahlan

Standar

Akhirnya selesai juga, membaca buku dengan sangat cepatnya.

Buku setebal 260an halaman, berjudul ‘Pelajaran dari Tiongkok’, tuntas dalam beberapa jam saja.

Maka kalau tadi pagi aku tuliskan pengamatanku yang belum lengkap, karena baru membaca beberapa halaman, sore ini sudah seluruh halaman catatannya kulahap. Namun ternyata, kesan yang kutangkap setelah selesai membaca tak beda dengan ketika baru sedikit mencicipinya. Bahwa Dahlan memang dahsyat. Bahwa catatan Dahlan memang sarat pelajaran. Yang secara sepintas pagi tadi sudah aku tuliskan dengan beberapa catatan pelajaran.

Namun selain pelajaran tentang menulis catatan harian yang penuh hikmah, aku juga menemukan hikmah yang lain dari seluruh tulisannya. Dan inilah pelajaran yang kudapatkan dari tiga buku catatan harian Dahlan Iskan itu.

Satu. Semangat belajar yang tak kunjung padam. Di usianya yang sudah setengah abad, masih mau repot-repot belajar bahasa mandarin. Bahkan langsung mengambil kuliah bahasa tersebut dari negeri asalnya, Tongkok. Benar-benar menjadi mahasiswa baru lagi, memulai segalanya sedari awal lagi, dengan kos dan hidup sendiri, dengan jam masuk 17 jam sehari.

Dua. Di posisinya yang sudah mapan, menjadi CEO sebuah perusahaan besar, dan masih mengurusi banyak anak perusahaan yang lain, ternyata masih mau belajar dan menyempatkan diri menuliskan catatan hariannya. Dengan kekayaan yang sudah tak perlu disangsikan lagi, bahkan mungkin bisa untuk menghidupi tujuh turunan, ternyata tak menghalanginya untuk terus belajar mendapatkan sebanyak mungkin pengetahuan.

Tiga. Dengan usia tua yang konon otak usia setengah abad sudah malas berpikir berat, dia masih mau belajar Bahasa mandarin yang sedemikian sulitnya. Banyak kata yang bermakna ganda. Dari sekadar beda nada saja sudah beda arti. Dari kata yang sama bisa mengandung arti yang 17 macam. Sedemikian sulitnya, sedemikian rumitnya, tapi besar benar tekadnya untuk bisa. Sesuatu memang butuh pengorbanan, butuh keseriusan. Dan dia telah melakukan.

Empat. Aku menemukan ‘hikmah nabi’ yang berbunyi ‘tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina’ secara meyakinkan, adalah di cerita-ceritanya. Ternyata untuk menuntut ilmu ke negeri cina, bukan faktor jauhnya tempat kita ke negeri Cina. Bukan karena jarak. Bukan seolah bahwa untuk menuntut ilmu harus rela mengambilnya dari tempat yang jauh. Tapi lebih karena sulitnya. Sedemikian sulit bahasa cina dipelajari, hingga pemerintah cina pun sempat melakukan penyederhanaan. Belajar ke cina, bukan karena jauhnya. Tapi karena sulitnya. Bahwa tuntutlah ilmu, meski pun sulit mendapatkannya. Bukan jauh mengambilnya.

Aku mestinya bisa berkaca padanya. Dan malulah rasanya, kalau sampai tak bisa.

Dia yang sedemikian sibuk dan padat agenda hariannya, selalu bisa menemukan hikmah. Yang dalam sehari bisa mempunyai agenda berbeda dalam empat kota. Harus terbang ke mana-mana, namun selalu bisa mencuri waktu untuk menuliskan ‘pelajaran’ dalam perjalanan kesehariannya.

Sedemikian peka radarnya, hingga bisa menangkap semua pelajaran dalam hidupnya. Sementera aku yang tak punya kesibukan apa pun, sampai hari ini tak menemukan cahaya. Atau mungkin aku yang tertutup cahaya?

Dia yang sedemikian sibuknya, selalu bisa meluangkan waktu untuk menulis catatan harian. Tak pernah absen  setiap hari. Selalu ada waktu untuk memfokuskan pikiran, menenangkan perasaan, dan menuliskan catatan kehidupan yang sarat pelajaran.

Dia yang sedemikian tua, masih mau repot belajar bahasa yang sulitnya minta ampun. Mestinya tak ada kata menyerah untuk terus belajar. Tak ada kata terlambat untuk memulai.

Maka, sekaranglah waktunya bagiku untuk membuktikan keseriusanku menulis. Mungkin inilah rencana yang bisa kulakukan, sebagai pelajaran bahwa aku memang mau hidup dari menulis.

Satu. Aku harus benar-benar fokus pada menulis. Tak ada pekerjaan apa pun yang dilakukan, hingga menjadikan alasan tidak fokus pada menulis. Aku mungkin menolak semua order pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan tulis menulis. Semacam desain dan setting, aku hanya meluangkan waktu seminggu tiap bulan, untuk biaya hidup saja. Jadi yang seminggu untuk kerja, yang tiga minggu untuk fokus belajar menulis.

Dua. Benar-benar memaknai yang dibaca. Semua yang dibaca, selalu dicerna dengan jiwa, hingga ada hikmah yang bisa diambil manfaatnya. Dan benar-benar mendalam, tidak sekadar lewat saja.

Aku akan mencoba membaca buku-buku yang telah kupunya dengan samangat belajar yang berbeda. Bukan lagi sekadar baca, yang nempel di otak, tapi kemudian lewat. Akan kudata buku mana saja yang bisa menunjang belajarku untuk menulis. Dan akan kutiru gayanya, agar aku mendapatkan kemampuan menulis yang sama. Untuk kemudian belajar lepas dari pengaruhnya.

Tiga. Benar-benar peka pada gerak pelajaran. Aku harus melembutkan hati, agar tak terlewatkan segala hikmah yang mampir di kehidupanku sehari-hari. Intinya, aku harus menguatkan ibadah harianku. Paling tidak, kalau selama ini hanya shalat jamaah dan dhuha saja, dan sering bolong rowatibnya, harus segera didisiplinkan untuk tidak jadi kebiasaan.

Empat. Benar-benar belajar menulis dengan waktu yang disiplin. Harus benar-benar menulis. Apapun yang ditulis. Dan aku telah memilih waktu pagi hari. Dari semenjak bangun tidur, sampai shalat dhuhur. Aku harus menulis. Semua kegiatan yang lain, dipindahkan ke habis dhuhur. Jadi dari bangun, harus menulis, sampai dhuhur.

Ya allah, berilah aku kekuatan. Sejak hari ini, semua pelajaran akan kutangkap, sebagai bentuk syukur nikmat.

Dan pagi ini, telah kutangkap ‘Pelajaran dari Tiongkok’.

Pelajaran dari Dahlan Iskan!

Jumat, 08 Mei 2009

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 13 April 2011 pukul 17:41

Melodi Sunyi 5 : Aku Ingin Jadi Cahaya

Standar

Buku yang kubaca ini adalah buku seri kedua.

Buku ini kubeli setelah aku tertarik dengan buku seri pertama. Sekarang sudah terbit buku seri ketiga. Tapi buku yang pertama belum juga aku baca. Dan buku ketiga aku sudah ingin membelinya. Dan sepertinya, selalu begitulah aku adanya.

Sekarang aku sedang membaca buku yang kedua, judulnya ‘Pelajaran dari Tiongkok’. Buku seri pertama judulnya ‘Ganti Hati’, sedang buku seri ketiga berjudul ‘Hati Baru’. Ganti hati bercerita tentang pengalamannya ketika ia mengganti hati. Hatinya yang rusak, diganti dengan hati baru. Hati orang lain, disambungkan ke hatinya yang tak lagi berfungsi. Sementara buku ‘Hati Baru’ mungkin cerita pengalaman setelah sukses mengganti hati. Pengalaman dengan hati cangkokan yang baru. Hati orang lain yang masuk dalam tubuhnya.

Itulah alasan mengapa aku ingin membeli buku seri ketiga. Karena buku ketiga sangat erat kaitannya dengan  buku yang pertama. Dari ketika harus ‘ganti hati’, sampai kemudian benar-benar memiliki ‘hati baru’. Sementara buku kedua yang kubaca sekarang, seperti lepas dari proses dari hati ke hati itu.

Buku ini sebenarnya juga sudah lama kubeli, namun selalu terlewatkan untuk membacanya, karena masih ada buku lain yang lebih menantang, atau lebih kubutuhkan.  Hingga aku memaksanya, dengan membawanya ke kamar kecil. Dan akan kuambil hikmahnya di sana, di tempat aku biasa membuang kotoran. Sebagai penantang pada diriku, kalau sampai buku ini selesai kubaca dan aku tak bisa mengambil apa-apa, berarti aku memang bisanya hanya makan untuk kembali kubuang. Tak lebih, tak kurang!

Sekali lagi, judulnya ‘Pelajaran dari Tiongkok’. Ini cerita pengalamannya selama di negeri Tiongkok sana. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanannya ke dataran Cina daratan itu. Ternyata, sering sekali dia datang ke sana. Dalam setahun, bisa sampai 15 kali kunjungan ke sana. Maka tak aneh, kalau Cina kemudian menjadi sangat melekat dalam hatinya.  Dan diambillah pelajaran yang didapat di sana. Seperti belanja ‘hikmah’, begitulah istilah yang diberikannya.

Maka dari buku itu pun, aku ingin mendapatkan hikmah darinya. Agar aku bisa melakukan seperti yang dikerjakannya. Sesuatu yang baginya sangat sepele, tapi bagiku luar biasa sulitnya. Sesuatu yang sedang ingin kuperjuangkan. Dan segera kulakukan, agar bisa melahirkan kebaruan kehidupan. ‘Aku’ yang baru.

Inilah pelajaran yang sudah bisa kudapatkan, meski baru beberapa halaman kuhabiskan.

Satu. Dia yang super sibuk saja, dengan bermacam perusahaan yang dipimpinnya, masih bisa menuliskan catatan harian. Dan bukan sekadar catatan harian biasa, tapi sesuatu yang selalu penuh makna. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap hari-hari yang dijalaninya. Sesuatu yang kadang tak terlihat mata kita, ternyata dengan jeli bisa ditangkapnya.

Dua. Dia yang super sibuk, bisa meluangkan waktu untuk menangkap keajaiban-keajaiban di sela-sela kehidupannya. Tak melewatkan sedikitpun untuk terus belajar pada kehidupan. Tak ada kata capai, lelah, hingga melewatkan hikmah yang datang padanya.

Tiga. Dia bisa menceritakan sesuatu yang rumit dengan cara yang sangat ringan dan menghibur. Gaya berceritanya renyah, tapi penuh hikmah. Menulis dengan kalimat yang mudah dicerna. Jernih dan efisien. Semuanya penuh dengan informasi, tanpa ada rasa sok tahu dan sok pintar. Selalu memberikan kabar dengan cerita yang menyenangkan.

Empat. Di setiap ceritanya selalu ada pelajaran, yang setiap aku amati, selalu ada ending yang menarik di paragraf akhir. Selalu ada hikmah bahkan kejutan pelajaran di paragraf ujung. Aku selalu menemukan sesuatu yang luar biasa dalam ceritanya yang biasa-biasa saja.

Lima. Dia bisa menuliskan dengan waktu yang sangat mepet. Di mana saja bisa menulis dengan konsentrasi yang sama. Bahkan dengan mutu yang tak beda. Baik di kantor, di perjalanan, bahkan di bandara sambil menunggu pesawat. Tak ada waktu khusus yang benar-benar dikhususkan untuk menulis. Semua waktu sama saja.

Itu pelajaran tentang kepenulisan yang bisa aku ambil, setelah aku membaca sedikit. Aku belum baca semuanya. Baru sekitar 5% mungkin. Tapi hikmah yang bertebaran, semakin membuatku yakin, bahwa menulis adalah memang ibadah.

Ibadah menangkap cahaya, untuk diberikan pada yang lain. Cahaya yang ditangkap, kemudian dibagikan pada yang tak bisa menangkapnya, agar semua terang dalam cahaya. Menulis adalah menangkap hikmah. Dan hikmah itu berguna bagi siapa saja. Bukan hanya yang menangkapnya. Bukan hanya yang menuliskannya. Tapi juga yang membacanya.

Maka kan kukonsentrasikan sepenuh hati, agar aku bisa menangkap cahaya dengan sempurna. Sekali lagi, aku ingin menangkap cahaya. Agar bisa turut serta membagi-bagikan cahaya. Karena rasanya, kebahagiaan itu ada, ketika kita menjadi bagian dari cahaya. Ketika kita menjadi cahaya.

Maka sejak hari ini, sungguh, aku ingin jadi cahaya.

Jumat, 08 Mei 2009

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 12 April 2011 pukul 19:20

Melodi Sunyi 4: Membaca Hikmah Babad Hudaibiyah

Standar

Enam tahun sudah, Rasulullah dengan kaum Muhajirin hijrah ke Madinah. Sudah selayaknya mereka merasakan rindu akan kota kelahirannya, Makkah. Kota yang belum beramah tamah menerima mereka kembali menjadi tuan rumah. Rasulullah berniat ke Makkah untuk menjalankan umrah di sisi rumah suci, Ka’bah.

Bahagia membuncah di hati kaum Muslimin demi mendengar niatan Rasulullah. Datang ke Makkah bagi mereka, bagai mencium bunga wangi namun berbisa. Dipastikan kaum Quraisy yang tak suka dengan ajaran Rasulullah, akan resah penuh curiga. Bahkan bisa saja mereka menduga kedatangannya adalah untuk menyerang Makkah.

Berkumpul beberapa kabilah mengiringi langkah Rasulullah menuju Makkah. Meninggalkan Madinah pada pagi Senin permulaan Dzulqaidah tahun ke enam Hijrah. Berduyun tak terputus sejumlah seribu lima ratus muslimin, bergerak dalam kerapian kafilah. Di Dzul Hulaifah mereka istirah. Melepas baju dan berganti ihram, pakaian umrah.

Kaum Quraisy terkejut mendengar kabar seribu lima ratusan muslimin hendak memasuki Ka’bah. Dikumpulkanlah beberapa kabilah berjaga menjaga jalan masuk Makkah. Khalid bin Walid menghadang dengan sepasukan tentara berkuda, dua ratus orang jumlahnya. Rasulullah tak hilang akal mendengar penghadangan kaum Quraisy di luar kota. Dicarilah jalan melingkar, supaya tak bertemu dengan pasukan tentara berkuda.

Tibalah kafilah Madinah di lembah Hudaibiyyah. Tiga puluh kilometer jauhnya dari arah Makkah. Berhentilah tiba-tiba unta putih Rasulullah, yang bernama Qaswah. Tubuhnya tiarap dan tak bias bangkit lagi seakan-akan benar-benar lelah. Rasulullah menangkap isyarat itu sebagai perintah Allah, untuk mendirikan kemah.

Kaum Quraisy telah bersiap senjata menyambut kaum Muslimin di dalam kota Makkah. Diutusnya Budail bin Waraqa, seorang pembesar kabilah Khuza’ah menuju Hudaibiyyah. Menanyakan niatan Rasulullah dan muslimin berkafilah hendak memasuki Baitullah.

Diterangkan oleh Rasulullah, bahwa mereka berniatan semata-mata hendak ibadah. Sebagai bukti, diperlihatkanlah tujuh puluh ekor unta yang dibawa. Yang hendak untuk qurban selepas umrah.

Setelah jelas masalah, pulanglah Budail bin Waraqa ke Makkah. Namun kaum Quraisy yang sudah termakan syak wasangka dan curiga, tak memercayai laporan Budail, tentang niatan Rasulullah.

Utusan kedua pun diberangkatkan. Mikraz bin Hafs melesat menuju lembah Hudaibiyyah. Dan jawaban yang sama pun didapatkan kembali dari Rasulullah. Namun tetap saja, para pembesar Quraisy tak percaya dengan laporan Mikraz, tentang niatan umrah Rasulullah.

Utusan ketiga pun diberangkatkan. Panglima Al Habsy, Hulaisyi bin Al-Qamah. Dan jawaban yang sama kembali didapatkan. Namun tetap saja pembesar Quraisy tidak memercayainya. Hingga utusan ke empat pun diberangkatkan. Seorang tua bijak cendekian bernama Urwah. Dan jawaban yang sama pun kembali didapatkannya.

Kaum Quraisy Makkah bertambah resah semakin gelisah. Bimbang apakah diijinkan, ataukah ditolak mentah-mentah keinginan Rasulullah memasuki Makkah.

Sementara dari lembah Hudaibiyyah, Rasulullah mengutus Khirasyi bin Umayyah, untuk meminta jawaban dari Makkah. Namun unta yang dikendarainya ditikam orang Quraisy di perbatasan Makkah.

Rasulullah kemudian mengutus Ummar bin Khathab untuk menjelaskan masalah. Namun Ummar menolak titah Rasulullah, dan minta digantikan Utsman bin Affan yang masih keturunan Bani Umayyah. Dengan maksud agar aman selama berada di Makkah. Karena kaum Quraisy juga berasal dari Bani Umayyah. Dan keluarga Utsman adalah orang terpandang yang punya pengaruh besar di Makkah.

Maka sesampai di Makkah, Utsman pun menyampaikan amanat Rasulullah. Bahwa kedatangan mereka benar-benar hanya berniat ibadah umrah di Baitullah.

Setelah berdebat panjang, akhirnya kaum Quraisy mengijinkan. Namun hanya untuk Utsman. Tidak berlaku bagi kaum muslimin Madinah yang dipimpin Rasulullah.

Utsman pun menampik tawaran sendirian berumarh. Ia tak mau berthawaf di Baitullah tanpa muslimin Madinah, tanpa bimbingan Rasulullah.

Sementara nun jauh tiga puluh kilometer di lembah Hudaibiyyah, kaum muslimin terus dilanda gelisah. Karena Utsman sang utusan tak kunjung pulang, bahkan mereka mengira telah ditangap dan dibunuh di makkah.

Untuk membalas pembunuhan Utsman, muslimin Madinah berkumpul dan bersumpah. Di tengah lembah Hudaibiyyah, di bawah rindang pohon besar, mereka berikrar. Bersatu padu mengikatkan hati, dalam Bai’ah Tahtas Syajarah. Itulah Bai’atur Ridwan yang dicatat dalam Syirah. Sebuah perjanjian yang diridhai Allah.

Namun baru saja mereka berikrar, tiba-tiba Utsman yang disangka telah mati di Makkah, pulang ke Hudaibiyyah. Memberitahukan bahwak kafir Quraisy tidak mau membukakan pintu gerbang kota Makkah. Apalagi mengijinkan umrah di Baitullah.

Untuk menghadang muslimin Madinah, datanglah lagi utusan Makkah. Suhail bin ‘Amr, pembesar Quraisy, menemui Rasulullah. Utusan Quraisy kali ini, bukan hendak menanyakan niatan Rasulullah yang hendak masuk Makkah. Namun mengajak Rasulullah untuk bermusyawarah.

Perundingan pun dimulai.

Di bawah rindang pohon, di tengah lembah Hudaibiyyah. Suhail sang saudagar menggunakan taktik perdagangannya dalam bermusyawarah. Watak pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan melimpah, dengan modal yang murah. Hal itu membuat Ummar yang mendampingi Rasulullah geram menahan amarah. Baginya, lebih baik berperang tanding, daripada berunding dengan orang yang serakah.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang terkenang dalam sejarah. Perjanjian menghentikan peperangan antara muslimin Madinah dan kafirin Makkah. Sebuah perjanjian yang mencerminkan kebijakan Rasulullah dan strategi Allah. Suhail mewakili kafirin Makkah, dan Rasulullah mewakili muslimin Madinah. Ali bin Abi Tholib sang pemuda cerdas menantu Rasulullah bertugas mencatat hasil musyawarah.

Rasulullah menyuruh Ali menuliskan pembukaan.

“Bismillahi Rahmaani Rahiim. Dengan menyebut nama Allah yang Rahmin dan Rahiim.”

Namun Suahil menolak. Membentak Ali menghapuskan penulisan.

“Saya tahu Allah, akan tetapi tak mengakui sifat Rahman tau Rahiim. Tuliskan saja Bismika Allahumma. Dengan ini Engkau ya Allah.”

Dengan kebijakannya, Rasulullah pun mengalah. Maka menulislah Ali, ‘Bismika Allahumma’, setelah mendapat anggukan Rasulullah.

Rasulullah kemudian menyuruh Ali mulai mencatakan isi perjanjian.

“Inilah syarat-syaranya, atas nama Muhammad Rasulullah…”

Namun Suail kembali menolak. Kembali membentak Ali menghapuskan penulisan.

“Jika aku percaya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, aku tak akan memerangi engkau. Tulislah saja Muhammad bin Abdullah…”

Kembali dengan kebijakannya, Rasulullah mengalah,. Maka ditulislah kalimat pembuka, “Muhammad bin Abdullah”, setelah mendapat persetujuan Rasulullah.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah, yang dikenang harumnya dalam kitab sejarah.

 

“Bismika Allahumma.

Inilah syarat-syaratnya, atas nama Muhammad bin Abdullah.

Menyatakan perdamaian degnan Suhail bin ‘Amr dari Makkah.

Menyatakan:

Selama sepuluh tahun tidak akan menyerang Makkah, atau menyerang Madinah.

Jika ada seorang Quraisy datang ke Madinah, tanpa disertai wali dari Makkah, maka orang tersebut harus dikembalikan ke Makkah.

Jika ada seorang muslimin Madinah datang ke Makkah, maka orang tersebut tidak diharuskan kembali ke Madinah.

Sesiapapun yang hendak bersekutu dengan Muhammad di Madinah, diberi keluasan sepenuhnya.

Sesiapa pun yang hendak bersekutu dengan Quraisy di Makkah, diberi keleluasaan sepenuhnya.”

 

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang dikenang harumnya dalam syirah. Perjanjian yang sempat membuat muslimin Madinah meragukan kerasulan Rasulullah. Perjanjian yang berat sebelah menurut kaum muslimin Madinah. Namun Rasulullah telah menyetujuinya, karena yakin akan kehendak Allah

Selepas pernjanjian di lembah Hudaibiyyah, resah dan amarah merasuk dalam dada kaum muslimin Madinah. Rencana umrah ke Baitullah batal, dengan menahan kecewa mereka pun pulang kembali ke Madinah. Dengan dijanjikan tahun depan bulan Dzulqaidah, mereka akan kembali berumrah.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah pun menerima wahyu dari Allah. Ayat pertama hingga dua puluh sembilan dalam surat Al-Fath.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang dikenang dalam sejarah. Perjanjian yang dianggap telah berat sebelah, namun dengan kehendak Allah, menjadi rahmat dan berkah.

 

CATATAN:

sebuah naskah yang tak sengaja aku temukan.

yang kutulis 15 tahun silam.

ketika masih suka menulis cerita anak.

yang kurencanakan sebagai bacaan anak usia SD.

hmmmmm

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 April 2011 pukul 17:43

Melodi Sunyi 3: Mendo’akan Khatib Jum’at Agar Mendo’akan

Standar

Berminggu-minggu asap dan debu menghantu. Lahar merapi muntah menyebar hawa panas. Menyusupi desa dan kota menawarkan petaka. Beratus ribu saudara kita jatuh sengsara.

Di Kalimantan berjuta hektar hutan terbakar. Asapnya menutupi Asia Tenggara. Apinya berpijar menjalar-jalar. Membakar berkas HPH liar tak pernah terbongkar. Gempa bumi melanda Liwa di Lampung Barat. Menyusul ke Bengkulu membagi derita. Tanah longsor banjir bandang. Cilacap, Purworejo, sampai Lebak sempurna tergenang. Rakyat sengsara makin menderita.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka.

Ada perang panjang di Palestina, Pakistan, Khasmir, Afghanistan, dan Pilipina Selatan. Beratus ribu perempuan, lelaki, dan kanak-kanak digilas penderitaan. Di atas Baghdad, pesawat pembom menderu berminggu-minggu. Membuat puing dan kawah di tengah kota. Mencecerkan bahan mesiu dari sang Angkara.

Di Palestina tak ada lagi perdamaian. Berlembar-lembar berkas perjanjian hangus terbakar. Tak ada lagi perlindungan HAM bagi saudara kita. Dari sesiapa pun mereka yang berlagak polisi dunia.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka.

Ada pembantaian panjang terpampang di depan mata. Dari Aceh, Ambon, Sampit, sampai Halmahera. Beratus ribu pengungsi tanah air, kini terusir dari kampung halaman sendiri. Mereka berteduh di bawah tenda-tenda sederhana sekali. Di lapangan terbuka, dipukul angin dan gerimis malam hari. Tubuh memar hasil menyelamatkan diri. Jerit tertelan habis sunyi. Rintih anak gadis janda dan istri. Ada bayi menjerit mengiris hati. Tak tahu ayah dan ibu tiada lagi.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka. Tak kudengar qunut nazilah dibacakan imam di raka’at kedua.

Pembantaian makin membudaya. Di Ambon darah tak lagi merah. Di Halmahera tubuh tak lagi utuh. Di Tual kepala banyak terpenggal. Di Sampit kekejian makin beringas, makin sengit.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka.

Berjuta penduduk miskin dicekik permainan judi. Beribu warung menderetkan beratus ribu botol alkohol. Beribu anak-anak berkeliaran di jalanan. Beribu lainnya berkeliaran di pusat-pusat perbelanjaan. Menjajakan diri mencari kesenangan.

Yang kaya semakin meraja lela, menutup mata menutup telinga. Saudara kita yang tak berpunya, semakin tertelungkup miskin. Mereka bukan pemalas. Hanya sempit dalam rejeki.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka.

Marsinah yang dibunuh, masuk kubur, keluar kubur, dan lagi masuk kubur. Pusaranya dibongkar namun kasusnya tak kunjung terbongkar. Kasus Santi makin sepi. Tak terdengar episode setelah sandiwara tak jadi.

Kasus korupsi yang dilindungi, tak boleh diutak-atik lagi. Upah kerja yang sungguh rendah di bawah ukurang minimum, sangat gampang menggelincir ke jurang kufur. Saudara kita yang melarat tergelepar sekarat. Utang Negara membubung, harga naik makin menjerat.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka. Mengapa khatibku tak mendo’akan ummat miskin yang tertindas itu.

Dua tahun reformasi, kebobrokan negeri tak kunjung direformasi. Asyik mengelem kuat dudukan kursi. Agar tak bisa turun, walau tak kuasa memperbaiki. Sibuk menghabiskan anggaran ke luar negeri. Sibuk mengisi kekebalan pasukan berani mati, agar tak mati-mati.

Sementara di Ambon, Tual, dan Halmahera, saudara kita menjerit minta bantuan mati-matian. Tak dilirik dan didengarkan. Beratus ribu terkapar terpenggal parang. Kepala menggelinding dijadikan tendangan. Bayi menangis mengiris hati. Kepala hancur dibentur pecahkan ke pintu besi.

Berapa sudah  saudara kita menjadi korban kebencian kekejian. Tanpa pernah dikirimi bantuan pembela kebenaran. Membela persatuan Indonesia dan saudara yang teraniaya.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka. Mana itu qunut nazilah pada raka’at kedua.

Krisis ekonomi melanda nusantara. Lima puluh juta kehilangan kerja. Tangan-tangan menggapai harga. Menggantung di awan sana. Lapar dan sengsara tak pulih dibalut guyonan dan kata-kata.

Aku masuk sebuah masjid. Suatu Jum’at tengah hari. Tak kudengar khatib mendo’akan mereka. Tak kudengar khatib menghibur, berjuta-juta ummat yang menganggur.

Apakah khatibtuku terlalu sibuk mengatur, merumuskan fatwa bughat bagi para penuntut agar presiden segera mundur. Apakah khatibku terlena, membiarkan sesama saudara menggelar perang terbuka.

Sementara di atas sana, lawan sejati yang yang nyata, tepuk tangan tertawa tiada habisnya. Menonton pertandingan adu domba perpecahan tiada terkira. Tanpa perlu susah-susah kerja.

Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam. Dadaku nyeri, paru-paruku sesak dijepit tulang dada. Sumpek, mampat, di ruang sempit hampa ukhuwah.

Begini sajalah, aku ingin kita sama-sama berdoa. Mendoakan khatib-khatib setiap sebelum shalat Jumat. Di depan gerbang masjid kita masing-masing. Agar mereka tidak lupa, mendoakan penderitaan ummat manusia.

Ummat yang nun jauh di sana. Terutama ummat yang terdekat dengan kita.

Supaya kita bisa, supaya aku bisa, ikut mengamininya.

 

CATATAN:

Tulisan ini aku buat tahun 2000. Sengaja aku ketik ulang, setelah kemarin dunia sastra Indonesia digegerkan dengan tuduhan plagiat puisi penyair America, Douglas Malloch, oleh penyair Indonesia, Taufiq Ismail.

Aku percaya, Taufiq tidak memplagiat. Seperti pengakuannya. Aku sejak SD telah mengaguminya. Dan tahun 2000, aku berhasil bertemu dengannya. Ketika tak sengaja, Forum Lingkar Pena Purwokerto bisa mengundangnya. Dan tanpa bayaran. Karena donatur FLP Purwokerto, kebetulan teman sekolah Taufiq Ismail.

Sejak itu, hubungan dengan Taufiq pun terjalin.

Dan berbicara soal ‘plagiat’, puisi yang aku tulis di atas, sesungguhnya bermula dari puisi Taufiq Ismail. Yang kemudian aku tambah di sana sini, disesuaikan isu yang sedang terjadi saat itu. Dan aku bacakan pula di depan Taufiq Ismail.

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 April 2011 pukul 23:38

Melodi Sunyi 2 : Salah, Aku Kalah

Standar

“Kembang tumelung kembang kecubung

kembang manglung ati mentiyung

kembang ati kang gawe wuyung

kaya mendem kembang kecubung”

Bunga putih ungu itu pun dibelai-belainya. Satu kuntum kembang dipetik untuk dicium wanginya.

Kuntum kecubung yang kemudian dilepaskan kelopaknya. Dibuang satu persatu ke tengah aliran air sungai yang mengalir tenang. Kelopak-kelopak pun hanyut terseret arusnya. Timbul tenggelam dalam kebeningan air dengan timpaan mentari pagi. Sesekali tersangkut pada sampah rumputan. Lalu dengan datangnya pusaran air membuatnya berputar, kelopak kecubung pun keluar dari rintangan.

Namun pusaran air itu justru menjadi halangan berikutnya. Ketika kelopak-kelopak kembang putih ungu itu kemudian malah masuk mata pusaran. Tenggelam dalam arus air yang berpusar memutar. Untuk kemudian tak muncul lagi ke permukaan.

Namun ia tetap menunggu.

Sambil menatap kencangnya pusaran air, lelaki itu tersenyum sendiri. Matanya menyipit memerhatikan kembang kecubung yang tak kunjung muncul ke permukaan.

Dari bibirnya terdengar lirih nyanyian. Sebuah kidung kesedihan yang memilukan.

“tentang sungai kesepian

tentang muara kesedihan

yang hanya bisa kurenangi sendiri

yang hanya bisa kuselami sendiri

terjebak aku dalam pusaran sunyi

salah, aku salah

 

telah merindu dalam bisu

tetap mengharap dalam diam”

 

Lelaki muda itu pun terdiam.

Mendadak dalam benaknya melintas bayangan yang sangat jelas dikenangnya. Sosok yang sangat telah dikenalnya. Bayangan seorang wajah perempuan dengan mata lembut yang senyumnya selalu mengembang. Manis anggun dalam tatapan pandangnya yang meremang. Cahaya matanya yang teduh menawarkan kedamaian bening telaga. Bibir tipisnya menyunggingkan selarik senyum manis menawan. Pipinya merona merah penuh pesona. Pada lentik bulu matanya ia melihat ketajaman yang mampu menusuk jiwa.

Sejenak ia pun berbisik menyebut sebuah nama. Nama yang sedang dihapuskan dari kenangannya. Nama yang harus dilupakan dari ingatannya. Dari hati dan dari jiwanya.

Nama yang tak boleh ada rasa apa pun padanya, sejak kesepakatan yang mereka buat dalam pertemuan terakhirnya. Pertemuan yang basah oleh air mata. Pertemuan yang membuatnya berkidung semalaman.

Kidung yang pagi itu pun mendadak dikenangnya. Sambil memerhatikan kelopak kecubung yang baru dipetik dan kembali ia tebarkan di tengah aliran.

Lelaki muda dengan wajah sayu itu terus memerhatikan bunga putih ungu yang terseret arus pusaran. Dari bibirknya yang bergetar terlantun sebuah kidungan. Sepotong nyanyian yang dibarengi dengan tetesan ari bening dari ujung pelupuk matanya.

 

“air mataku telah jauh dari mata air

mengalir resah di sela buih pikir

mengantarkan pesan dari telaga rasa

tinggal lara kala diammu mendera

kalah, aku kalah

 

janjiku tiada marah

sebab geram jiwaku telah karam

tenggelam ke dasar lelah”

 

Ia menghela nafas barat.

“Saya menghormati laki-laki yang berani menyampaikan perasaan. Tapi saya lebih menghargai laki-laki yang berani memberikan kepastian.”

Demikian terbaca dalam salah satu isi suratnya.

Surat yang kemudian membuatnya bergetar, ketika membacanya di dalam kamar. Surat yang membuatnya menggigil. Panas dingin semalaman.

Surat yang telah membuatnya menyingkir dari keramaian. Membuatnya merasa ingin menenangkan diri ke pedalaman.

Namun ternyata, ketenangan batin tak juga ia dapatkan. Justru semakin dikenang, perasaan sakit dan kecewa itu makin sering datang.

Ia pun menjadi sering mengutuk kebimbangannya. Mengutuk ketidakberaniannya. Mengutuk diamnya. Mengutuk ragunya.

Kekecewaan yang membuat hatinya sakit. Bahkan kemudian badannya.

“salah, aku salah

kalah, aku kalah”

Dan kelopak bunga kecubung itu pun telah habis ia tebarkan. Telah jatuh ke dalam aliran sungai yang mengalir perlahan.

Tenggelam dalam pusaran.

by Nassirun Purwokartun on Wednesday, 19 January 2011 at 23:26

Melodi Sunyi 1: Seminggu Di Maluku

Standar

Senin pagi. Sampai juga aku di sini. Dengan permadani terbang pinjaman Jin dan Jun, aku melayang di atas awan. Bertolak dari bumi Purwokerto nun jauh di sana, dengan menjejak kaki ke tanah dan mengucap bismillah tiga kali. Blas. Langsung mengangkasa. Aku mampu mengalahkan pesawat mister Habibie, yang dulu sukses dibarter dengan beras ketan Tailand.

Senin pagi. Sampai juga aku di sini. Di bumi Ambon Manise, yang darah mengalir sungguh amise. Tak tahan aku mendengar kabar, manusia dicincang bagai binatang buruan. Tak tahan aku merasakan, kepala dipenggal dan dijadikan sepak bola di lapangan. Tak tahan aku mendengar kabar Indonesiaku menjadi negeri bar-bar.

Dan kini aku sudah di sini. Permadani aku gulung dan kusimpan di saku. Di hutan pala dan raga ganggang aku mendarat. Aku tahu hutan telah aman. Aku tahu hutan telah aman. Sebab kuntilanak dan wewe gombel tak lagi sembunyi di perut hutan rimba. Lantaran terdesak parang para pemegang HPH. Yang rajin menebang, malas reboisasinya.

Hari ini kuntilanak keluar dari ceruk-ceruk gunung. Menyusur dusun menyisir kampung. Menculik remaja dan anak-anak. Melatihnya minum arak menenggak tuak. Memberi fantasi dan mimpi-mimpi khayali. Dan bermacam alat kontrasepsi.

Di pulau Jawa nun jauh di sana. Wewe gombel kuntilanak meliuk di panggung-panggung hiburan. Berpose panas di majalah, tabloid, dan koran. Orang-orang tua pun asyik terlena. Anak-anak matang sebelum waktunya.

Kuntilanak di sini tak ada. Bersama wewe gombel dan genit sundel bolong, menelusuri gang menapaki lorong. Didukung sponsor sosok-sosok nekat, menyebarkan virus penyakit laknat. Menularkan kuman tak mempan obat. Mengajari generasiku jatuh di prostitusi. Dan menganggapnya sebagai prestasi yang prestisius.

Senin siang. Aku keluar dari hutan. Menyaksikan rumah-rumah roboh hangus bekar dibakar. Dan ditinggal penghuninya. Berpuluhpuluh desa jadi kawasan mati. Asap mengepul di mana-mana. Hampir aku tak percaya, inikah jazirah al-mulku, wajah indah Indonesiaku. Kenapa, kenapa, kenapa. Saudaraku nun jauh di Jawa sana, mengatakan bahwa di Maluku sudah aman pulih sedia kala.

Di reruntuhan masjid yang roboh kubahnya. Aku mencoba bersujud dan ruku’ di salah satu sudutnya. Ya Allah, ayat-ayatMu telah lupa kueja. Surat-suratMu telah lupa kumakna. Dan ini pasti, peringatanMu jua.

Selasa pagi. Aku selesai shubuhan dan tilawah. Aku kaget bukan kepalang. Aku tersentak bukan buatan. Aku intip di sudut jendela yang copot daunnya. Sorak-sorai di pelataran jalan, memekakkan telinga. Berpuluh beratus manusia, tua muda laki-laki wanita, berteriak bersuka ria.

Itu penggalan kepala siapa, ditusuk ditombak diacung-acungkan ke udara. Itu pecahan hati dan jantung siapa, yang dimamah sungguh nikmatnya. Itu untaian usus-usus siapa, yang dibuat kalung bergelantungan di dada.

Ya Allah, sudah sedemikiankah manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Menjelma binatang hanya membayangkan mangsa.

Rabu pagi. Ini perut minta diisi. Dua hari hanya air mentah daun dan buah-buahan yang mengisi. Dua hari hanya air mentah daun dan buah-buahan yang mengisi. Aku beranikan diri berjalan, bersembunyi, hati-hati. Masuk ke desa yang aman, yang dijadikan penampungan pengungsian.

Aku masuk ke sana. Dan aku saksikan beribu-ribu pengungsi tanah air, terusir di kampong halaman sendiri. Mereka berteduh di bawah kenda-tenda sederhana sekali. Di lapangan terbuka, dipukul angina dan gerimis malam hari.

Tubuh memar hasil menyelamatkan diri. Jerit tertelan habis sunyi. Rintih anak gadis, janda, dan istri. Ada bayi menjerit mengiris hati. Dia tak tahu ayah dan ibunya tiada lagi. Siapa itu terputus susunan syarafnya. Termangu dan terbahak bicara menangis sendiri. Tak ada lagi yang bicara kemungkinan nafkah dan rejeki.

Kampong sempurna jadi abu. Membawa bungkusan sarung, mengungsi. Terusir dari kampong halaman. Jadi pelarian di negeri sendiri. Siapa memindahkan Bosnia dan Kosovo sepuluh ribu kilometer jauhnya dari sini.

Tak terdengar lagi nyanyi ‘pelagandong’ yang merdu menyentuh hati. Mana nampak orang bertolong-menolong membantu masjid dan gereja lagi. Tak terasa angin sejuk yang menyapu hutan cengkeh dan pala yang teduh ini. Kekejaman tak masuk akal dalam sandirwara politik luar biasa keji. Jadi pengungsi di kampung halaman sendiri. Dizalimi, disiksa, dibakari, digagahi di sini.

Suram. Suram hitam langit kupandang. Nestapa. Nestapa. Nestapanya cuaca bangsa.

Saudaraku, duka demikian besar luar biasa. Rontok di dalam rongga dada. Inilah aku, datang jauh-jauh, merengkuh memelukmu saudaraku.

Kamis pagi. Aku bercengkerama dengan pengungsi. Ada kabar siang nanti bakal ada kunjungan pejabat tinggi. Rencananya bantuan kemanusiaan akan diantar Wapres Megawati ke sini. Yang memang ditunjuk Presiden Gus Dur untuk mengurusi.

Aku gembira bukan kepalang. Ketika siang rombongan itu benar-benar datang. Berpuluh truk mengangkut bahan makanan. Di belakangnya mengangkut bahan bangunan. Lengkap dengan satgas-satgasnya. Berpakaian hitam-hitam sungguh gagahnya. Satgas perjuanganku yang kekar berwibawa. Menurunkan bahan makanan dari truk ke pengungsian. Mendirikan juga tenda-tenda yang kuat untuk perlindungan.

Dan esoknya, akan masuk ke desa-desa. Membangun kembalu bangunan yang hancur berantakan. Para pengungsi mencium tangan Wapres Megawati. Dan menyelaminya ketika sore hari, pamitan pulang lagi.

Jum’at pagi. Senyum ceria menghiasi bibir pengungsi. Bantuam makan tak kekurangan lagi. Ada kabar bantuan akan datang lagi hari ini. Diantar oleh Ketua DPR dan MPR berupa obat-obatan dan tenaga medisnya. Sebagai tanda solitaritas duka bangsa.

Dan betul begitulah adanya. Sebelum Jum’atan rombongan datang. Pak Amien Rais didaulat memimpin sholat Jumat. Dan Pak Akbar Tanjung memberikan khotbahnya. Aku lihat para pejabat menyalami para pengungsi di bara-barak dan tenda-tenda. Berbincang akrab dengan anak-anak yang berlarian di lapangan.

Aku lihat juga. Tenaga medis langsung bersikap tanggap. Mengobati pengungsi dan melakukan operasi. Mencabut panah yang nancap di kepala. Membalut luka yang busuk dirubung semut.

Ah, sungguh indah persaudaraan. Kala yang satu sakit yang lain meringankan. Takkan ada luka bangsa yang terus menganga.

Sabtu pagi. Embun menitik di pucuk daun. Beningnya menyejukkan mata. Di Maluku tak ada pertikaian lagi. Yang kemarin tragedy dilupakan kini. Yang dendam dipendam dilupakan sudah. Dan tak akan dibongkar lagi.

Perjanjian damai akan dilakukan. Kesepakatan bersama akan dinyatakan. Takkan lagi bertikai senjata dan menumpahkan darah antar sesama.

Hari itu, sabtu siang. Dua pemuka golongan berjabat tangan. Senjata diletakkan. Janji bersaudara kembali diikrarkan. Dengan disaksikan aparat dan seluruh pejabat.

Dan kedatangan khusus Presiden Gus Dur, setelah jadwal kunjungan ke luar negeri diundur. Menambah kesakralan acara sumpah setia pada Indonesia.

Betapa indah dahulu kalimat Indonesia merdeka. Betapa ngilu kini mendengar kalimat, ingin merdeka dari Indonesia.

Di luar gedung pertemuan. Aku lihat banser sigap berjaga-jaga. Rakyat Maluku berdendang ria. Bertari lenso bersama.

Saksikanlah kini. Bahwa Indonesia tetap satu. Presidenku sungguh peduli pada tragedi negeri ini.

Minggu pagi. Barak pengungsian sudah sepi. Semua pengungsi sudah kembali ke kampung halaman sendiri. Hidup rukun bahagia sedia kala. Sejahtera sentausa dalam indahnya hidup bersama.

Indahnya perdamaian. Tak terasa sudut mataku basah. Bahagianya ini dada.

Aku gelar kembali permadani terbangku. Aku duduk bersila dengan mata terpejam. Aku pulang ke Purwokerto. Senin besok, aku harus kembali kerja.

Senin pagi. Seperti biasa lagi. Aku selalu menulis puisi, sambil bermimpi.

CATATAN:

tulisan ini aku buat 11 tahun lalu. akhir tahun 1999 sampai 2000an. ketika meledak kerusuhan sara di Maluku. tak sengaja ketikan itu tadi aku temukan. masih ketikan dengan mesin ketik. aku terkenang masa itu. ketika aku sangat suka menggabungkan cerpen dan puisi. dan ternyata itu laku. aku sering diundang untuk mengisi acara pengumpulan dana solidaritas. salah satunya adalah ini. ketika digelar untuk solidaritas Maluku.

dan di tulisan itu, kumasukkan sentilan pada para pejabat tinggi negera. yang seolah menutup mata pada pembantaian di Maluku. termasuk sang presiden yang sibuk plesiran. dan pejabat di bawahnya sibuk saling sikut-sikutan.

aku kangen bikin tulisan semacam ini lagi. meski tak kuketahui jenisnya, ini cerpen, apa puisi?

by Nassirun Purwokartun on Wednesday, 06 April 2011 at 18:53