Catatan Kaki 91: Kemeja kotak-kotak biru dan kotak lemari penuh buku

Standar

Hari ini aku memakai kemeja kotak-kotak warna biru.

Mendadak, ingatanku terkenang pada Soe Hok Gie, sosok idealis idolaku.

Dalam sebuah tulisan untuk mengenang pribadi Gie, Dien Pranata menceritakan tentang hubungan baju dan acara sang adik. Yang dari baju yang pakai, Dien bisa menebak dengan tepat acara yang hendak Gie datangi.

“Kalau pakai kemeja kotak-kotak biru, berarti dia akan pergi nonton film. Namun kalau Gie memakai kemeja biru kotak-kotak, itu pasti mau menjadi pembicara dalam sebuah diskusi. Karena hanya itulah satu-satunya baju yang Gie miliki.”

Sungguh aku tertawa ketika membacanya. Dan sekarang pun masih tersenyum saat mengenangnya. Seorang pemikir cerdas, dengan kemeja satu-satunya yang dianggap pantas.

Dan aku pun sama, kemeja kotak-kotak biru ini adalah satu dari tiga baju yang kuanggap pantas untuk tampil rapi. Dan ketiga kemeja ini kubeli, karena harus bekerja ‘kantoran’ lagi. Kalau tidak untuk keperluan itu, aku pun malas beli dan memakainya. Karena sejak dulu, aku paling nyaman dengan memakai kaos.

Namun soal sedikitnya kemeja, sejak dulu aku paling malas membelinya. Hingga sekarang pun, kalau dibandingkan anak dan istriku, pakaiankulah yang paling sedikit.

Anakku yang pertama punya lemari baju sendiri. Begitu pun dengan anakku yang kedua. Sementara istri punya dua lemari. Sedangkan aku, justru numpang di lemari gantung milik istri. Dan hanya dua rak saja sudah cukup untuk menampung seluruh pakaianku.

Dulu aku sebenarnya punya lemari baju sendiri. Dengan dua rak untuk pakaian, dan delapan rak lainnya untuk menyimpan buku. Namun karena bukuku semakin banyak, dua rak bajuku pun tergusur. Akhirnya pakaianku kutitipkan di lemari gantung milik istri. Pada rak yang sebelumnya dipakai untuk menyimpan kain-kain, sekarang kusimpan baju-baju, kaos, dan celanaku. Dan dua rak cukup untuk menampung semuanya.

Aku mengenal sosok Gie ketika kelas 1 STM. Seorang teman sekelasku yang aktivis pramuka, membawa buku tebal ke sekolahan. Buku kumal dengan sampul belakang yang sudah sobek. Yang sobekannya bukan hanya pada sampul, namun sampai ke isi. Jadi bagian akhir buku itu sudah hilang, hingga tak tuntas ketika kubaca.

“Buku ini penting kamu baca, sebagai penulis yang gemar merenung,” kata temanku waktu itu.

Sekilas saja  kulirik buku tebal di tangannya. Sampulnya berwarna hitam putih merah dan terbaca judulnya, ‘Catatan Seorang Demonstran.’ Sepintas aku sama sekali tak tertarik menerima tawarannya atas buku kumal di tangannya. Apalagi nama pengarangnya pun tidak aku kenal.

Namun karena saat itu aku sedang tak punya uang untuk beli buku sastra terbaru, buku itu pun kupinjam juga. Dan ketika pulang, di atas angkot, mulai kubuka-buka lembaran buku kumal itu. Kertasnya sudah sebagian sobek, dengan kekumuhan yang sangat, seolah memang sudah berpuluh tangan yang membukanya.

“Buku ini sangat langka, dan pemikirannya sungguh luar biasa,” kata temenku itu, seorang perempuan aktivis pramuka mencoba meyakinkanku bahwa aku memang harus membacanya. “Buku ini menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa aktivis. Aku mendapatkannya ketika kemarin mengikuti kemah di Gunung Slamet, dari temenku yang aktivis kampus.”

Aku hanya mendengarkan saja iklan temenku, yang selalu berpenampilan nyentrik itu. Seorang perempuan, yang sesungguhnya di STM merupakan makhluk langka, namun tak pernah menampilkan diri dengan keanggunan seorang perempuan. Hobbynya mendaki gunung dan susur pantai, membuatnya lebih berkesan kekar daripada lembut.

Dan satu yang masih teringat dalam kenanganku tentangnya, adalah gelang yang melingkar di lengan kirinya. Sebuah sendok garpu yang dibengkokkan membentuk hiasan tangan putih keperakan. Sebuah gelang yang konon dibuatnya sendiri ketika berkemah, setelah bosan dengan akar bahar yang selama ini melingkari lengannya.

Setelah membuka lembar buku itu, aku pun mulai membaca pengantarnya. Dari paparan sang sahabat, Rudi Badil, aku mulai tertarik dengan sosok Gie. Seorang pemikir muda, aktivis 66 yang meninggal dengan tragis di gunung Semeru. Seorang perenung yang meninggal di usia muda, dengan menyimpan kekecewaan pada sesuatu yang diperjuangkannya.

Gie adalah mahasiswa Fakultas Sastra UI jurusan Sejarah, yang turut menggerakkan demonstran 66. Sosok pemikir yang turut menumbangkan Orde Lama di bawah kediktatoran Bung Karno.

Selama membaca catatan harian Gie, aku menangkap potret seorang anak muda yang sejak kecil telah teguh memegang prinsip. Yang juga rajin mecatatkan perjalanan hidupnya dalam sebuah cataan harian. Dan itu yang mendadak membuatku makin terpesona padanya. Karena aku pun saat itu sedang tekun-tekunnya menuliskan kejadian yang kualami dalam sebuah buku harian.

Saat itu, entah kenapa aku merasa ruh Gie begitu menggelegak dalam jiwaku. Sebagai seorang pemurung dan perenung, aku seperti menemukan sosok panutan. Dalam diamnya, Gie selalu mengamati seluruh kejadian yang ada di sekelilingnya. Dan itu telah dimulai ketika dia kecil. Ketika di SMP harus berdebat dengan gurunya, yang menurut Gie kurang wawasan sebagai seorang guru. Karena tentang Andre Gide saja guru itu tak mengenalinya.

Dan kepeduliannya sebagai seorang humanis telah muncul pula sejak kecil. Ketika ia harus menyaksikan pengemis yang makan kulit mangga, yang dipungutnya dari tong sampah. Sementara Bung Besar pemimpin revolusi, yang konon penyambung lidah rakyat, justru sedang mabuk pesta pora di istananya. Yang bergelimang kemewahan dan dikelilingi banyak wanita muda. Sebuah sikap yang sangat ditentang Gie, bahkan ketika kemudian harus bertatap muka dengan Bung Karno, sebagai wakil mahasiswa.

Dan lagi-lagi soal baju. Dalam pertemuan dengan Bung Karno itu pun, Gie sempat diledek oleh sang presiden, karena jas yang dikenakan terlihat kedodoran. Tak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang kurus kering. Tentu tak pas di badannya, karena sesungguhnya jas yang dikenakan Gie bukanlah miliknya. Melainkan jas pinjaman.

Sejak aku membaca catatan awalnya, aku seperti tak mau berhenti melanjutkan kisah hidupnya. Kisah yang dituliskan tiap hari, selama bertahun-tahun sejak SMP hingga ia meninggal, setelah ia lulus kuliah dan menjadi dosen di almamaternya.

Sosok Gie  begitu mempesona jiwa mudaku. Seorang penulis super produktif yang kerap muncul di media dengan tulisan-tulisannya yang keras namun cerdas. Yang karena keberaniannya mendobrak kebobrokan di awal Orde Baru, membuat dirinya terkucil. Dan memang begitulah konon jalan hidup seorang idealis, yang harus berani hidup tegar dalam kesepian.

Sejak membaca ‘Catatan Seorang Demonstran’ itu, aku jadi tertarik dengan pemikirannya. Hingga setelah lulus STM, aku berburu bukunya. Yang kebetulan pada waktu itu baru saja diterbitkan kumpulan artikelnya. Kumpulan tulisan yang sarat pencerahan pemikiran dalam menatap Indonesia yang antara kenyataan dan impian selalu tidak sejalan. Tulisan yang sempat dimuat di harian Kompas Kompas, harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Dan sangat berbahagia ketika kemudian bisa menikmati tulisannya, yang telah terkumpul dalam buku bersampul coklat berjudul ‘Zaman Peralihan, yang diterbitkan penerbit Bentang.

Entah mengapa, sampai sekarang aku masih merasa, bahwa jiwa Gie lah yang telah mewarnai hari-hari remajaku. Bahkan membentuk pandangan hidupku, untuk terus merasa tertantang dengan dunia wacana dan pemikiran. Untuk terus menjadikan tulisan sebagai senjata menegakkan kebenaran dan keadilan, seperti yang dulu Gie lakukan.

Maka ketika kemudian kisah hidup Gie difilmkan aku pun mengkoleksinya. Meski sempat kecewa dengan pemerannya, yang menurutku tak mampu memerankan Gie yang sangat kuidolakan. Nicholas Saputra seolaah masih membawa sosok Rangga yang dingin, ketika menjadi Gie yang sangat ceria dan usil namun cerdas. Gie bukanlah sosok pendiam, namun dia sangat ceria dan menikmati masa mudanya dengan bermacam gejolaknya.

Dan setelah 17 tahun berlalu, kenanganku tentang Gie tak hilang dan lekang oleh waktu. Mungkin aku tidak secemerlang Gie, yang meninggal dalam usia 26 tahun, namun namanya terkenang hingga melebihi batas umurnya.

Skripsi sarjana mudanya yang menuliskan tentang sejarah Syarikat Islam menjadi kajian yang sangat berharga. Sebuah skripsi yang kemudian dibukukan dengan judul ‘Di Bawah Lentera Merah’. Sedang skripsi sarjananya, yang mengulas tuntas tentang pemberontakan PKI Madiun pun turut memberikan referensi sejarah yang sekian lama disembunyikan pemerintah. Yang sekarang telah diterbitkan dengan judul ‘Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Hari ini aku sadari sepenuhnya, bahwa diriku tidaklah sekuku hitam Gie, kalau diukur pencapaian pemikiran dan perenungan. Sampai usiaku yang sudah berkepala tiga, aku hanya sibuk menggambar dan menulis yang jauh dari kualitas pemikiran dan tulisan Gie yang bernas dan cerdas.

Bahkan buku-buku harianku nanti, yang kutulis sejak kelas 4 SD pun, mungkin tak akan seberuntung catatan harian Gie. Yang diterbitkan dan dibaca banyak orang, karena turut menjadi catatan sejarah, tentang pergolakan pemikiran mahasiswa, dalam menatap gejolak jamannya. Menjadi jejak sejarah tumbangnya orde lama dan berdirinya orde baru. Bahkan menjadi inspirasi para aktivis, ketika orde baru harus ditumbangkan di masa krisis.

Aku memang tidak seberuntung Gie dalam catatan harian. Puluhan buku harianku yang masih kusimpan dalam kotak di lemari bajuku, ketika aku mati nanti, mungkin tak akan pernah dibaca orang. Bahkan mungkin hanya menjadi sampah, yang hanya layak dijual ke loakan dengan harga kiloan.

Namun paling tidak, hari ini aku masih menyimpan kebahagiaan. Sebuah keberuntungan, karena pernah mengenal Gie. Pernah menikmati pemikiran dan perenungan Gie. Bahkan sempat benar-benar merasa ‘menjadi’ seorang Gie.

Jadi sekali lagi, mungkin aku tak akan seberuntung Gie dalam meninggalkan kenangan pemikiran. Dalam meninggalkan tulisan-tulisan yang sarat inspirasi kemanusiaan.

Namun hari ini aku sepertinya lebih beruntung dari Gie, dalam soal pakaian.

Karena Gie dulu hanya punya satu kemeja. Sementara sekarang aku punya tiga!

Alhamdulillah…..

oleh Nassirun Purwokartun pada 31 Maret 2011 pukul 23:41
Iklan

Catatan Kaki 90: Belajar Mengalahkan, dan Bukan Pembunuhan!

Standar

Tak terasa, sudah 90 hari aku menulis ‘Catatan Kaki’.

Catatan yang kutulis di sela-sela sibuknya meniti hari. Di sela-sela sempitnya waktu, yang kalau dikalkulasi sebenarnya sudah tak ada kesempatan untuk menulis lagi.

Karena sehari-hari, secara formal aku kerja di sebuah surat kabar. Yang karena harus terbit pagi, maka semua pengerjaan digarap malam hari. Maka di antara teman kerja, jam kerja yang terbalik itu pun berefek pada waktu tidur yang terbalik. Yaitu saat di mana orang lain tidur, kami para pekerja media justru harus bekerja. Sedangkan di saat orang lain bekerja, kami harus menjaga keseimbangan kesehatan dengan tidur.

Namun yang demikian, tak berlaku bagiku. Karena kalau aku tidur di siang hari, anak-anakku justru tidak makan. Sebab gajiku di koran, sudah habis untuk biaya terapi anakku. Yang tiap bulan sudah menghabiskan dana minimal 1,5 juta. Jadi siang, tidak bisa kugunakan untuk tidur, namun harus digunakan untuk bekerja lagi.

Maka dengan ‘bismillah’, kunikmati hari-hari yang kalau dikalkulasi menjadi 14 jam kerja sehari. Karena kerja malam sudah 8 jam, ditambah kerja siang yang 6 jam.

Kerja malam hari, berangkat jam 4 sore, pulang jam 1 pagi. Sampai rumah sudah hampir jam 2 dini hari. Dan sebagai insomnia sejati, aku baru bisa tidur antara jam 2  sampai jam 3. Untuk kemudian harus sudah bangun lagi jam 5 pagi.

Sementara di pagi harinya pekerjaan lain sudah menghadang. Deadline novel keduaku yang sudah berkali-kali dikejar-kejar penerbit membuatku tak bisa lagi bersantai-santai. Dengan novel ketebalan 700an halaman, berarti aku harus menulis dalam 400an halaman ketikan. Yang itu harus diselesaikan dalam waktu 4 sampai 5 bulan. Hingga kalau dihitung harian, berarti harus menulis 3 sampai 4 halaman ketikan. Sementara waktu tiap hari hanya tersisa 4 jam, yakni di rentang antara jam 8 sampai jam 12 siang.

Maka untuk menulis ‘Catatan Kaki’ ini, aku menyempatkan waktu antara shubuh sampai dengan jam 8 pagi. Waktu yang ada ketika aku bangun sampai dengan antar anak sekolah. Yang di sela-sela itu  telah terisi kegiatan rutin, antara membantu pekerjaan rumah, mengantar istri berbelanja ke pasar, hingga menunggui anak, dan sarapan.

Maka setelah shalat shubuh, sambil menikmati dingin segarnya pagi, aku ke halaman depan. Sambil menyandar pada sriban di beranda rumahku, aku menulis apa saja yang sedang terlintas membersit di hatiku. Sesuatu yang sedang terkenang dalam ingatanku. Segala yang mendadak membayang dalam pikiranku.

Dan tulisan yang kubuat itu, tak kumaksudkan sebagai tulisan tentang pemikiran yang hebat. Yang tersususun dalam kata-kata dan kalimat yang dahsyat. Namun sebuah tulisan yang sederhana saja. Amat sangat sederhana. Tulisan yang hanya sekadar latihan tangan saja. Yakni latihan mengetik dengan sangat cepat. Apa yang ada di kepala langsung dikeluarkan begitu saja. Dan tak perlu harus kubaca ulang.

Sengaja aku memaksa diri, agar apa yang ada di kepala bisa mengalir lancar dan segar menjadi tulisan. Apa saja. Sesuatu yang sangat remeh-temeh saja yang aku tuliskan. Tentang kenangan masa kecil yang ‘membahagiakan’. Atau pun tentang perjalanan hidupku yang telah berlalu dan ‘membanggakan’.

Dan sepertinya memang itulah yang paling bisa kulakukan. Dengan waktu yang aku batasi hanya satu jam, aku tak bisa membuat tulisan yang hebat-hebat. Tentang ragam pemikiran yang bersliweran. Atau apa pun tentang wacana yang sempat kubaca dan ingin kukomentari penuh kekritisan.

Pada mulanya, aku membatasi ketikan hanya 2 halaman saja. Dengan asumsi, 5 menit untuk berpikir apa yang akan kusampaikan. Lima menit untuk sejenak bernafas melegakan jiwa dan perasaan. Dan selebihnya kukebut otak dan tanganku untuk lancar mengalirkan apa yang segar dalam pikiran. Dan tepat, ketika satu jam sudah habis, aku hentikan. Dan sekali lagi, tanpa membaca ulang.

Maka sungguh sangat berbahagia ketika bisa menepati waktu yang kusediakan. Bahkan lebih berbahagia, ketika jam di pojok kiri bawah laptopku masih menyisakan waktu barang beberapa menit sebelum waktunya. Yang artinya, aku telah bisa merampungkan tulisan sebelum tepat satu jam. Kebahagiaan, bahwa aku telah mampu mengejar waktuku.

Namun kebahagiaan menulis pagi tak bisa berlangsung lama. Hanya sebulan saja. Karena kemudian, pagi hariku tersita untuk harus mengedit novel keduaku. Yang semakin sering dikejar penerbit, dan juga pembaca. Beberapa pembaca yang suka, mengirim email, pesan di FB, bahkan sms. Dan aku sendiri pun sudah ingin segera merampungkannya.

Novelku ini tertunda jadwal penerbitannya, karena waktu siangku habis untuk mengurusi anakku. Yang harus kuantar ke empat rumah sakit untuk bermacam terapi. Yang itu sudah menghabiskan sebagian besar jam kerjaku. Baik untuk menulis, atau pun untuk menggarap order desain grafis demi memenuhi kebutuhan bulanan.

Hingga waktu yang kucuri di pagi hari, kugunakan untuk merampungkan novel. Waktu yang sebelumnya kugunakan untuk menulis ‘Catatan Kaki’ aku pakai untuk mengedit novel yang sudah selesai. Yang karena naskah ketikan terlampau panjang, hingga harus ada yang kupotong dan kubuang.

Sejak awal, aku mematok ketikan 400 halaman, namun karena asyiknya menulis, justru memanjang menjadi 450 halaman. Sementara pengerjaan mengedit, memotong dengan penuh perhitungan, ternyata bukan pekerjaan mudah. Selalu ada sayang ketika harus membuang. Padahal waktu sudah tinggal 2 bulan untuk kusetorkan ke penerbit.

Namun dengan ‘bismillah’, tiap bangun pagi selama 1 jam kupusatkan konsentrasi untuk membabat seluruh isi novelku hingga bisa berkurang 50 halaman. Yang dengan begitu, aku harus pamitan pada istri, untuk tidak bisa membantu apa pun pekerjaan rumah di pagi hari. Dengan konsekuensi yang kuberikan pada istri, tiap pagi tak perlu belanja dan masak untuk sarapan pagi. Namun cukup dengan membeli nasi rames, untuk makan pagi kami. Agar pekerjaannya tidak menumpuk, sementara harus mengurusi dua anak. Yang satu harus sekolah, yang satu harus bersiap untuk terapi di rumah sakit.

Karena waktunya sudah tak ada lagi untuk menulis ‘Catatan Kaki’, aku pun harus mencuri waktu yang lain lagi.

Dan waktu curian itu kutemukan, justru di saat jam kerja. Di saat aku masuk kantor, sambil menunggu pekerjaan yang sedang diedit redaktur, aku gunakan untuk menulis 1 atau 2 paragraf. Beberapa menit yang tersisa, selalu kugunakan semaksimal mungkin. Dan biasanya, dalam waktu ‘curian’ yang sangat sempit itu, aku bisa menuliskan sampai 1 halaman.

Menulis di sela waktu yang demikian padat, kendalanya adalah hilangnya mood. Di saat semangat menulis, konsentrasi pikiran penuh, tiba-tiba harus dihentikan karena kerjaan harus diselesaikan. Dan begitu pekerjaan selesai, dilanjutkan meluangkan menulis, justru mood yang ada sudah tidak seperti ketika sebelumnya.

Awalnya hal semacam ini menjadi masalah. Di sela riuhnya para redaktur bekerja, aku justu harus memusatkan sepenuh konsentrasi menulis ‘Catatan Kaki’. Yang untuk itu, seluruh suara yang ada di ruangan redaksi, harus bisa untuk tidak didengarkan.

Dan masalah itu justru kemudian kujadikan tantangan. Di sela ramainya orang berdiskusi, berdebat, bernyanyi, dan saling bercanda, aku justru harus menutup telinga. Memusatkan otak, untuk merangkai kata yang sedang terbersit dalam kenangan dan pikiran.

Akhirnya tantangan itu bisa kuselesaikan. Hingga sekarang, seribut apa pun suasana di sekelilingku, aku bisa dengan penuh konsentrasi untuk menulis ‘Catatan Kaki’.

Namun waktu yang tersisa itu tak selamanya luang. Di sela-sela kerja yang semakin hari makin padat, membuatku tak ada kesempatan untuk mencuri waktu lagi. Hingga harus memutar otak lagi, agar tiap hari masih tetap bisa menulis ‘Catatan Kaki’.

Hingga setelah memutar otek, kutemukan peluang mencuri waktu lagi. Yakni di jam-jam istirahat. Di sela-sela waktu untuk makan dan sholat, aku curi waktu setengah jam untuk menulis. Dengan hitungan, aku makan lebih cepat daripada teman kerja lainnya, yang setelah makan masih disambung dengan saling bercerita dan bercanda. Aku benar-benar hanya sekadar makan saja. Kemudian kembali ke ruang kerja, untuk menulis selama setengah jam. Dan dalam waktu itu aku bisa merampungkan 1 sampai 2 halaman.

Dan peluang lainnya kutemukan pada malam hari, setelah semua pekerjaan selesai, sambil menunggu jam pulang. Aku sempatkan waktu untuk menambah 1 halaman. Namun kalau di waktu istirahat aku sudah menulis 2 halaman, maka waktu malam aku gunakan untuk sekadar membaca ulang. Untuk mengedit sebentar, sebelum kemudian kuapload di FB.

Tentu, karena waktunya adalah waktu sisa, maka tulisanku pun kadang tanpa makna. Bahkan mungkin meloncat tanpa ritme yang seirama. Karena memang sekenanya saja, apa yang saat itu sedang ada dalam kepala. Dan bagiku, itu sah-sah saja.

Dan juga, karena waktu mengeditnya pun hanya waktu sisa, tentu hasil editannya pun tidak sempurna. Tapi bagiku, biar saja. Toh ini hanya latihan tangan saja. Agar tanganku bisa membaca apa yang ada dalam pikiranku.

Maka setelah ‘Catatan Kaki’ telah kutulis selama 90 hari, rasanya aku telah bisa mengalahkan waktu. Bahwa di segala waktu, bahkan di sela waktu yang tak ada lagi pun, aku masih tetap bisa mencoba menulis.

Jadi sekali lagi, ‘Catatan Kaki’ adalah sebuah tulisan remeh temeh belaka, yang kugunakan sebagai latihan tanganku saja. Sekadar latihan mengejar dan mengalahkan kesempatan di antara kesempitan waktu yang sering tidak tersedia. Dan rasanya, aku tak perlu lagi menyalahkan waktu yang tak ada, sebagai alasan untuk tidak membuat tulisan.

Maka sungguh, tulisan itu hanyalah sebuah latihan untuk mengalahkan waktu. Dan bukan untuk membunuh waktu. Karena setahuku, tak ada seorang pun yang mampu membunuh waktu.

Buktinya, sampai sekarang tak pernah kutemukan adanya kuburan waktu.

oleh Nassirun Purwokartun pada 30 Maret 2011 pukul 18:35

Catatan Kaki 89: Dengan Buku, Aku ingin Menjadi ‘Ibu’ bagi Anakku

Standar

Ibuku yang pertama kali mengenalkanku pada buku.

Ibuku yang mengenalkanku pada Modul Kejar Paket A yang sangat berjasa itu. Yang sampai hari ini kusimpan sebagai benda yang bersejarah bagi proses pembelajaranku. Yang akan kuceritakan pada anak-anakku, meski mereka mungkin hanya akan mentertawakan kesentimentilanku.

Ibuku yang pertama kali membuatku jatuh cinta pada buku.

Hari ini ketika aku betul-betul berkerja di dunia media, kecintaanku pada buku tidak akan luntur. Kecintaanku pada buku, seperti kecintaanku pada ibuku. Karena bukulah, yang membesarkanku, setelah aku dilahirkan ibuku.

Dengan dikenalkan ibu pada modul berjasa itu, aku merasa seperti dilahirkan kembali oleh ibuku. Kelahiran pertama adalah keluarnya jabang bayiku dari rahim ibu. Kelahiran kedua adalah terbukanya mataku yang menjadikan aku tidak buta aksara.

Ibulah yang melahirkan aku. Yang melahirkanku menjadi seorang bayi yang belajar membuka mata. Sekaligus yang menjadikan anak yang belajar membuka mata untuk membaca.

Kecintaanku pada buku, seperti kecintaanku pada ibuku.

Dari buku-buku yang kubacalah, aku menjadi mengenal dunia. Mengenal dunia yang sungguh mengasyikkan yang bernama membaca.

Benarlah yang dikatakan orang, bahwa jika kita bisa membaca, kita bisa menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan yang kita inginkan.

Dengan membaca kita bisa menemukan kebahagiaan kehidupan. Hidup tanpa membaca seakan gelap dan membosankan.

Sejak kecil, aku merasakan kebahagiaan dan kenikmatan itu. Sehingga meskipun sulit kudapatkan bahan bacaan di waktu itu, aku tetap berjuang untuk memperolehnya. Karena ilmu dan pengetahuan adalah hak semua manusia. Bukan hanya hak mereka yang kuliah saja.

Orang tua bilang, selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha. Selalu ada cara untuk mereka yang mau belajar.

Telah kucoba sekuat tenaga sepanjang perjalanan hidupku untuk belajar membaca kata, agar kutemukan bermacam makna. Dan itu kudapatkan di buku-buku yang tak terkirakan jasanya dalam perkembangan diriku.

Buku-bukulah yang telah menemani proses belajarku sekian lama.

Buku  jugalah yang telah mengobati penyakit minder yang kuidap sekian lama, menjadi seorang yang percaya diri dengan status ‘Lulusan TK Pertiwi’ saja.

Dengan membaca ribuan buku aku menjadi terpacu untuk terus belajar.

Aku ingin terus belajar. Meskipun harus berada di luar bangku perkuliahan.

Aku ingat, aku pernah diberi kado oleh Izzatul Jannah, penulis idolaku itu. Sebuah puisi Ang Tek Khun, yang berbunyi:

 

Aku belajar

bahwa belajar seringkali bukanlah ketersediaan waktu

melainkan pada kesediaan

pada ketundukan hati

 

Aku belajar

bahwa belajar seringkali bukanlah rangkaian aksi

melainkan proses membuka diri

proses menerima

 

Akupun ingin menceritakan pengalamanku waktu kecil pada anakku. Justru di era kini, ketika banyak buku yang menawarkan pentingnya arti membaca sejak dini.

Aku tidak ingin gairah membaca anakku lemah, ketika orangtua dan lingkungannya justru mendukungnya untuk gemar membaca. Akupun tidak ingin minat membaca anakku mati, ketika kondisi zaman memanjakan dengan beragam tontonan di televisi.

Waktu kecil, keluargaku memang tidak mempunyai radio apalagi televisi. Maka saingan keasyikan bagiku adalah bermain dengan teman dan perintah membantu kerja orang tua.

Tapi dengan pengalamanku waktu kecil, aku akan bertindak seperti ibuku.

Akulah yang akan mengajari anakku belajar mengenal aksara dan membaca. Akan kudampingi anakku untuk mencintai buku. Agar dia gemar membaca dan juga mencintai buku.

Tak akan kuhalangi anakku membaca sebanyak apapun buku. Karena bagiku, buku adalah ibuku. Ibu yang membesarkanku, setelah aku dilahirkan ibuku.

oleh Nassirun Purwokartun pada 29 Maret 2011 pukul 18:42

Catatan Kaki 88: Buku adalah Ibuku yang Kedua, dan Ibuku adalah Buku yang Selalu Terbuka

Standar

Hari ini, aku benar-benar menganggap buku seperti ibuku sendiri.

Ibuku, adalah perempuan yang telah melahirkanku. Yang telah mengeluarkan dari kegelapgulitaan rahim menuju keterang benderangan dunia. Yang mengajari mengenal bermacam nama benda dengan kasih sayangnya yang tulus. Yang tanpa lelah mendidik mata pelajaran kehidupan dengan telaten dan penuh kesabaran tak terukur.

Demikian pula buku bagiku.

Dari bukulah aku melihat kehidupan yang lebih cerah ceria, dibandingkan teman-teman sebayaku yang hanya asyik dalam bermacam permainan. Aku merasa lebih mengenal luasnya bentangan dunia dibanding teman-temanku yang hanya bermain gobak sodor di pelataran rumah. Aku merasa lebih melihat luasnya hamparan wawasan dibandingkan teman-temanku yang hanya suka bermain petak umpet di malam bulan purnama.

Buku adalah teman bermain. Sekaligus taman bermain yang tak ada bandingan bagiku.

Dengan buku aku menikmati kehidupan yang lebih bermakna dan sangat tidak biasa. Dengan buku aku menemukan beragam kebahagiaan di tengah himpitan keterbatasan. Kemepetan kemampuan perekonomian keluarga dan kehidupan sekelilingku yang membuat buku bacaan menjadi barang terlarang dan kemewahan.

Maka sungguh, aku berbahagia sekali karena sejak kecil telah akrab dan bersahabat dengan buku.

Aku bersyukur punya ibu, yang telah mengajariku mengenal bermacam aksara hingga mahir membaca kata-kata. Hingga sejak kecil aku merasa hidupku memang telah dibuai kata-kata dan kalimat-kalimat yang memikat

Aku bangga pada ibu, yang meskipun hanya lulusan SD, namun mampu mengajariku membaca buku-buku Modul Kejar Paket A. Dengan telaten dan sabar mengajari membaca tiap malam, di bawah lampu minyak tanah yang samar-samar cahayanya. Dengan bimbingannyalah aku bisa lancar membaca di kelas 1, melebihi kemampuan teman-teman sekelasku.

Aku takzim pada ibu, yang tak melarangku gemar membaca, meskipun dilingkupi pandangan masyarakat yang kaku. Tanpa dukungan ibu yang membiarkanku membaca di tiap kesempatan yang kusuka, mungkin aku tak mampu menjadi orang yang mengenal dunia. Mengenal wawasan dengan lebih luas daripada dunia yang dipahami ayahku.

Aku hormat pada ibu, yang kemudian mendukungku dengan memberikan bahan-bahan bacaan dari koran-koran bekas yang dibelinya di pasar. Dari koran-koran bekas yang mestinya menjadi pembungkus nasi itu, aku jadi mengetahui perkembangan dunia, yang tak bisa kudapatkan dari radio ataupun televisi yang tidak kami miliki.

Aku berterima kasih pada ibu, yang mengijinkan sampah bungkus-bungkus tempe dan sayurannya aku kumpulkan. Kucari sobekan-sobekan koran dan kubaca dengan sepenuh kenikmatan. Sobekan-sobekan bungkus tempe aku gabung-gabungkan menjadi selembar koran yang utuh kembali. Dan kudapatkan bermacam ilmu di sana.

Aku berbahagia pada ibu, yang mengijinkan aku bekerja di dunia buku, dunia yang aku sukai. Ibuku merelakan ketika ijazah STMku yang telah menghilangkan empat tempat tanah miliknya itu, tak pernah kugunakan untuk mencari kerja yang sesuai dengan pendidikanku.

Ibuku adalah buku yang selalu terbuka. Tempat aku belajar segala keikhlasan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Maret 2011 pukul 21:02

Catatan Kaki 87: Mengenang Ketika Disidang dengan Kasus ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’

Standar

 

Buku bacaan di kampungku waktu itu, seperti musuh bagi orang tua.

Bagi mereka, seperti obat terlarang yang melenakan dan membahayakan anak-anaknya. Sesuatu yang mereka anggap akan membuat anak-anak menjadi malas bekerja membantu orang tua. Apalagi buku bacaan berbentuk komik. Betul-betul dianggap sebagai benda haram yang menjadikan anak jadi berani membantah.

Kalau dikatakan bahwa buku menjadikan anak pintar, merekapun tak menganggap benar pemikiran itu. Buat apa pintar, kalau dengan lulus SD saja bisa langsung kerja membantu orang tua di sawah atau merantau cari kerja ke kota. Buat apa pintar-pintar, bukankah cukup bisa baca dan tidak buta huruf saja. Kalau pintar malah percuma, karena selepas SD juga tidak melanjutkan sekolah. Kuliah hanya buang-buang biaya yang tidak sedikit, begitu alasannya.

Bagi mereka, membaca adalah pekerjaan orang menganggur. Maka anak yang suka membaca, adalah anak pemalas. Anak yang tidak suka bekerja  keras dan tidak mau membantu orang tua.

Kebiasaan anak-anak seusiaku di kampungku, setelah pulang sekolah adalah membantu orang tua di sawah atau di kebun. Yang laki-laki bisa menyabit rumput untuk ternaknya, membantu mencangkul dan menggarap kebun, atau mencari kayu bakar untuk memasak. Yang perempuan, memasak untuk mengirim makan orang tua yang bekerja di kebun, mengurus rumah selama ditinggal ke sawah seharian, atau mengasuh adiknya yang ditinggal orang tuanya.

Maka kalau ada yang tidak mengerjakan pekerjaan membantu orang tua semacam itu, dicap sebagai anak malas, yang kerjanya hanya sekolah dan membaca. Bagi mereka, belajar cukup hanya di sekolahan. Dan di rumah, kewajibannya adalah membantu kerja orang tua.

Orang tuaku pun sebetulnya termasuk yang berpandangan semacam itu. Hanya saja tidak sekeras dan sekaku orang tua yang lain. Mungkin karena aku anak tunggal, jadi ada kecenderungan lebih dimanjakan. Tidak dilarang ketika kedapatan asyik membaca. Dan tidak terlalu dibebani untuk membantu orang tua, seperti mencari rumput untuk sapi ataupun membantu kerja di sawah.

Apalagi mereka mungkin juga melihat minat membacaku yang dinilai lebih daripada anak-anak lain. Bahkan akhirnya orang tuaku malah mendukung. Ibuku kemudian sering membawakanku oleh-oleh majalah dan koran bekas sepulang dari pasar. Majalah dan Koran bekas itu dibelinya dari penjual nasi di pasar, yang mestinya untuk bungkus nasi. Termasuk ayahku yang telah mogok berangkat Kejar itu pun, sering meminjamkan modul pada pak RTku yang kebetulan jadi guru Kejar Paket A.

Karena dukungan itu, kumanfaatkan waktuku untuk banyak belajar dan banyak membaca. Akan kubuktikan pada guruku, bahwa banyak membaca buku cerita tak menghalangi prestasi belajar di sekolah. Akan kubuktikan pada masyarakat di sekelilingku, tetangga-tetanggaku, bahwa membaca bukan pekerjaan sia-sia. Dan itu aku buktikan dengan giat belajar. Hingga di antara anak-anak di lingkunganku, aku termasuk yang lumayan berprestasi di sekolah.

Aku sungguh tak habis pikir waktu itu, bahwa membaca seolah menjadi suatu perbuatan tercela di lingkunganku. Tapi aku tetap bertahan dengan kegemaranku membacaku. Bahkan kemudian membeli majalah-majalah loakan dan juga buku-buku bekasan.

Karena lingkungan yang semacam itu, setiap membeli buku, aku selalu kucing-kucingan. Jangan sampai ketahuan oleh keluargaku. Kalau ditanya, selalu kujawab buku itu adalah pinjaman di perpustakaan. Setelah habis dibaca, kusimpan rapat-rapat. Kesembunyikan di almari pakaian, di rak paling bawah, tertutup oleh kain-kain jarik simpanan keluarga.

Namun lama kelamaan ketahuan juga, bahwa aku suka beli buku. Karena di buku itu selalu kutuliskan tanggal pembelian, dan tanda tanganku. Aku tak bias mengelak dan berkelit dengan alasan itu buku pinjaman dari perpustakaan.

Maka kemudian yang kulakukan adalah jangan sampai ketahuan harga yang sebenarnya. Setiap membeli buku, label yang ada di sampul harus kubersihkan. Karena satu buku sastra pada waktu itu, harganya rata-rata 10 sampai 20 ribu. Itu senilai dengan 20 sampai 40 kilo beras. Yang berarti bisa untuk hidup kami sekeluarga selama sebulan lebih.

Aku masih ingat, ketika kumpulan kolom ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’-nya Umar Kayam terbit. Karena sejak SMP aku suka dengan gaya penceritaan Umar Kayam di Koran Kedaulatan Rakyat, maka aku langsung membelinya. Untuk belajar menulis kolom yang sederhana, namun memikat.

Waktu itu harganya adalah 10 ribu. Yang kalau dihubungkan dengan harga beras, itu sama dengan 25 kilo beras, karena harga beras masih 400 rupiah.

Karena keasyikan membaca buku yang memikat itu, aku sampai lupa melepas labelnya. Dan aku membaca di sriban depan, sampai ketiduran. Hingga tanpa kusadari, harga buku yang tertera pun terlihat oleh keluargaku. Oleh ayah ibuku, nenek, paman, dan bibiku.

Tak ayal lagi, mereka mencercaku. Menyidangku bersama-sama. Karena mereka menganggap, aku lebih mementingkan beli buku daripada beli beras. Kebutuhan harian sehari-hari yang lebih utama.

Mereka bahkan tetap tak menerima alasanku, ketika kusampaikan bahwa buku itu kubeli dengan uangku sendiri. Uang yang seharusnya untuk naik angkot dari terminal ke sekolahku.

Waktu itu aku diberi uang harian 1.000 rupiah. Karena jarak dari desaku ke sekolah lumayan jauh, harus naik bus dua kali. Dengan tarip pelajar, aku membayar 150 rupiah untuk naik bus ke terminal. Dari terminal ke sekolahan, taripnya 250 rupiah. Jadi pulang pergi ke sekolah, menghabiskan 800 rupiah. Dan ada sisa 200 rupiah untuk jajan.

Namun karena aku sedang ingin membeli buku-buku sastra terbaru, dari terminal ke sekolahan aku jalan kaki pulang pergi. Aku rela berpanas-panas lima kilo meter setiap hari demi keinginan beli buku baru. Yang artinya, dari 1.000 rupiah bekalku, aku hanya menghabiskan 300 rupiah saja. Untuk bis pulang pergi dari terminal ke rumah.

Sedangkan jatah untuk naik angkot dan jajan tidak kugunakan. Namun aku simpan, dan dari uang itulah, tiap bulan aku bisa membeli satu buku sastra terbaru.

Namun alasan itu tetap saja tak diterima oleh orang tua dan saudara.

Ya sudah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Maret 2011 pukul 17:38

Catatan Kaki 86: Guru Terbaik Sepanjang Waktu

Standar

Orang yang ingin pintar bikin roti, harus banyak makan roti.

Resep itu kudapat dari Izzatul Jannah, penulis idolaku . Konon Izzatul Jannah pun bisa menulis cerpen karena waktu kecil banyak membaca cerpen.

Itu pula yang kurasakan. Selama aku kecanduan buku, aku merasa bisa belajar apa saja. Bukan saja belajar menulis seperti yang kucita-citakan sejak kecil.

Ketika aku membaca suatu buku, selain menyelami isi dan mengikat maknanya, aku juga memperhatikan betul ‘fisik buku’ itu. Semacam pemilihan huruf, lay out, ilustrasi, komposisi, dan tak lupa desain covernya. Aku tertarik ingin bisa mendesain sebuah buku yang menarik. Aku pelajari dengan seksama setiap huruf dan garis yang ada. Bahkan setelah sekian banyak melahap buku, aku berani mengatakan pada diri sendiri ‘kalau cuma begini, aku pun bisa’. Bukankah aku juga bisa menggambar kartun dan pernah melay out majalah?

Maka aku pun belajar membuat desain buku. Dari mulai setting isinya, sampai desain covernya. Bahkan kemudian sampai pracetak dan cetaknya.

Sampai sekarang, dari mendesain buku inilah kugantungkan hidupku. Kudirikan sebuah biro desain, untuk melayani permintaan membuat buku. Dari naskah mentah sampai buku jadi adalah kerjaanku sehari-hari.

Semua hanya kupelajari dari buku yang aku baca.

Bidang pekerjaanku sekarang adalah bidang produksi, mengurusi masalah desain dan cetak. Maka bisa dikatakan, aku kerja di bidang yang dari kecil kugeluti. Dari SD yang mulai belajar bikin majalah-majalahan itu. Kemudian dari mengurusi majalah dinding di bangku SMP dan STM dulu.

Semua prosesnya adalah sama. Menata agar menjadi menarik. Bedanya adalah dulu manual, sekarang dengan komputer. Dulu semua kutulis tangan, sekarang dicetak.

Otomatis, karena sudah punya pekerjaan tetap, kebutuhanku beli buku sudah tidak ada kendala lagi. Lumayan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ‘gila bacaku’. Bahkan aku justru lebih mengutamakan beli buku daripada beli baju.

Aku tidak perlu mencuri-curi menjual ayam lagi untuk sekadar beli buku.

Aku bersyukur dengan ketidakmampuanku kuliah, hingga memaksaku demikian cinta dengan buku. Karena aku merasa, aku bisa kerja di penerbitan seperti sekarang ini, adalah karena sejak kecil aku akrab dengan buku. Mungkin kalau tak cinta pada buku, aku masih menjadi tukang cuci kereta, tukang penjaga WC, atau tukang parkir di pasar.

Bersyukur masih ada buku, yang mampu menjadi guru terbaik sepanjang waktu.

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Maret 2011 pukul 20:59

Catatan Kaki 85: Tanpa Pinjaman dan Loakan, Aku Tak Akan Mengenal Dunia

Standar

Usiaku masih anak-anak, tapi saat itu aku sudah bosan dengan majalah anak-anak.

Menjelang kelas 5 SD aku benar-benar sudah tidak suka lagi membaca majalah anak-anak. Ini mungkin pengaruh dari lagu-lagu cinta yang sering kudengarkan dari RRI ketika sore hari. Hingga, meski usiaku baru 11 tahun, tapi aku sudah sangat suka dengan majalah remaja.

Kebetulan kakak teman sekelasku mempunyai banyak majalah remaja. Ada Hai, Mode, Gadis, dan Aneka. Mungkin di kelas 5 itulah aku mulai puber dan mengenal naksir perempuan. Aku begitu suka membaca cerpen-cerpen di majalah remaja itu. Yang sedemikian asyik menceritakan tentang percintaan remaja. Hingga akupun terbawa, dengan naksir adik kelasku.

Berawal dari majalah pinjaman itu, aku jadi makin kecanduan dengan bacaan yang bernama majalah. Hingga tiap minggu pagi aku sering ke Pasar Wage Purwokerto, untuk mencari majalah-majalah loakan. Kebetulan ada kios kecil di emperan pasar yang menjual banyak sekali majalah-majalah bekas. Dengan bersepeda kumbang selama dua jam pulang pergi, aku membeli majalah-majalah loakan untuk mengobati kehausan membacaku. Untuk membeli majalah yang baru, sangat tidak mungkin dari segi keuangan. Harga satu majalah baru, sama dengan sepuluh majalah bekas.

Di majalah-majalah loakan itulah, aku mengenal banyak sekali nama, yang di kemudian hari bermanfaat untuk memupuk cita-citaku menjadi seorang penulis. Di antaranya yang sangat kukenang adalah Arswendo Atmowiloto yang waktu itu berkibar namanya di majalah Hai dan Senang, selain di Monitor yang kemudian mengantarkannya ke rumah tahanan.

Aku kemudian menjadi penggemar Arswendo yang menurutku gaya berceritanya asyik sekali. Dengan kalimat-kalimat yang pendek dan demikian lancar, sungguh aku ingin menulis seperti dirinya. Aku suka membaca serial Imung dan Keluarga Cemara di Hai bekasan. Juga serial Kiki dan komplotannya. Tak ketinggalan, serial ACI yang kutonton di tivi tetangga bersama-sama orang sekampung.

Kegemaranku membeli majalah bekas berlanjut sampai dengan masuk SMP. Aku mulai berkenalan dengan majalah-majalah yang lebih serius. Bukan lagi majalah anak-anak atau remaja. Aku mulai tertarik dengan majalah-majalah berita, macam TEMPO atau PANJI MASYARAKAT.

Bahkan dari majalah-majalah itulah, aku seakan mendapatkan suntikan rasa ‘GR’. Bahwa bacaanku seolah mendahului bacaan teman-teman sebayaku. Aku merasa bukan lagi anak-anak yang terpuaskan dengan membaca dongeng-dongeng di majalah anak-anak. Bahkan aku tidak tertarik lagi dengan membaca majalah anak. Padahal aku baru kelas 1 SMP.

Dengan membaca TEMPO seakan aku mengetahui berita-berita terhangat di Indonesia dan dunia. Meskipun beritanya sudah agak kedaluwarsa, karena rata-rata majalah loakan itu adalah bekas dua tiga bulan lalu. Tapi tak apa, karena bagiku yang kucari bukan beritanya, tapi pengetahuannya. Berita boleh basi, tapi pengetahuan selalu baru.

Dari TEMPO itulah, aku mengenal nama Goenawan Mohamad. Membaca Catatan Pinggirnya waktu itu, bagiku sungguh seperti mengunyah batu. Aku harus lebih dari lima kali mengulang, karena belum juga tahu arahnya.

Tapi aku tetap mencoba membaca, mengulang membaca, sampai betul tahu maksudnya. Hingga kemudian kumaknai, bahwa membaca Catatan Pinggir seperti layaknya sedang membuka kamus. Di tiap Catatan Pinggir yang kubaca, akan selalu kutemukan kata yang berarti penanda suatu peristiwa, suatu ideologi, atau suatu nama orang berikut pikiran-pikirannya.

Karena kenangan ketika begitu sulitnya membaca kata-kata Goenawan waktu kecil itulah, ketika kemudian Catatan Pinggir itu dibukukan aku langsung membelinya. Bahkan kukoleksi. Sampai jilid yang ke enam sekarang. Kubaca ulang kata-kata yang bagiku dulu laksana batu itu, dengan diriku yang sekarang, yang bukan anak SMP lagi.

Ternyata kecanduan berlangganan majalah bekas berlanjut sampai dengan di bangku STM. Aku sering main ke agen-agen majalah untuk mencari majalah-majalah yang mau diloakkan. Biasanya, majalah yang tidak laku hanya diretur covernya saja ke pusat. Sementara isinya, ditinggal di agen dan oleh agen diloakkan.

Itu sungguh menguntungkan bagiku. Karena aku betul-betul seakan langganan layaknya. Meskipun hanya langganan majalah bekasan. Tiap awal bulan aku sengaja datang ke agen-agen, untuk membeli majalah-majalah loakan edisi bulan kemarin. Jadi dalam sebulan aku membawa pulang empat majalah baru tapi bekas, edisi empat minggu bulan kemarin.

Bagiku, berita yang baru berselang empat minggu sampai dengan satu minggu kemarin belumlah begitu basi. Karena di rumah pun aku tak punya televisi.

Hingga aku sering merasa, tanpa majalah pinjaman dan majalah loakan, mungkin aku tak akan mengenal dunia.

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Maret 2011 pukul 20:41

Catatan Kaki 84: Rinai Rindu

Standar

“Aku mau mati!”

Dan aku hanya tertawa menanggapi, “Mau apa ingin?”

Tapi kamu menjawab pasti,  “Mau mati.”

“Mau dan ingin itu beda, lho….”

“Mau mati,” sekali lagi ucapmu mantap. Sepenuh hati.

Sebagai orang yang sama sekali tak mengenalmu, aku pun mendukung rencana itu. Sepenuh hatiku, setulus jiwaku, kusampaikan dukunganku padamu.

“Tapi kayaknya lebih baik disegerakan saja. Karena makhluk paling menyebalkan di dunia tak pernah ada dua.”

Dan kamu pun akhirnya mati. Benar-benar mati. Namanya tiada lagi. Dan mungkin aku salah satu orang yang kau pamiti. Justru setelah kau benar-benar mati.

Maka malam ini, sekadar untuk menyebut namamu, aku kenangkan sebuah puisi. Larik kata yang paling lama yang pernah kau ucapkan. Dibandingkan sepuluh puisi yang kau cipta dalam sebulan silam.

“Kita berbicara tentang kebahagiaan!”

Aku pun sepakat, dan kudengarkan bisikmu yang selalu tanpa suara. Tapi bisa terbaca. Bisa tereja. Bisa termakna. Bahasa jiwa, selalu bisa didengarkan oleh jiwa. Bukan dengan telinga. Sekali lagi, bukan dengan telinga.

 

“Berbisik angin gelisah pada kelam malam

Ketika petir mendesir ceritakan kisah

Tentang gelegar rindu yang telah lalu”

 

“Katanya tentang kebahagiaan. Kok malah kerinduan?” aku mencoba bertanya. Meski ‘petir mendesir’ itu langsung kusuka.

“Sudah. Dengarkan dulu. Ini rindu serindu-rindunya. Dan bukan kisah cengeng remaja!”

Sebagai orang yang mengenalmu sebagai si kepala granit, aku pun terdiam. Dan mendengarkan.

 

“Tiada lagi rintik penantian pada gerimis pagi

bila rinai penentuan telah menderas di hati

bahagia jiwa membasah tanpa jeda”

 

Dan aku langsung tertawa mendengar ‘bahagia membasah tanpa jeda’. Namun sekali lagi aku suka. Bahkan aku pun sepakat. Tanpa sepatah pun menyela, aku mantap menganggukkan kepala. Penentuan dan penantian yang berakhir bahagia, adalah puncak kerinduan terindah.

Aku kembali bisa meraba. Pasti karena kau masih teringat pohon pisang di dekat jendela. Ketika daunnya koyak diterjang angin utara. Pada kembang sepatu di halaman depan, yang turut berduka dalam tiupan. Kau masih terkenang pada gumam lirih dari daun-daun sirih. Tentang penantian dan penentuan yang berakhir sedih.

Tapi demi menghormati rasamu, menghargai bisik jiwamu, tak kuucapkan semua kataku. Aku hanya membatin saja. Kita sudah sepakat tak perlu membuka luka lama. Membuka segala kisah yang pernah menggelisah. Tutup sudah!

Dan ternyata, seperti kau mendengar kata dalam hatiku, apa yang kau ucapkan sama dengan apa yang sedang kurasakan. Apa yang sedang ingin kukatakan, sama dengan apa yang kemudian kautuliskan.

 

“Biarlah segala yang pernah mengesah

lenyap bersama senyap hujan membasuh tanah

biarlah segala yang pernah mengisah

kering seiring rebak aroma tanah basah.”

 

Saat itu hujan yang kaurindukan datang memenuhi janjinya. Ada petir yang tak lagi menggelegar, tapi hanya mendesir. Ada senyap hujan membasuh tanah yang harumnya menusuk penciuman. Sesuatu yang paling kau suka.

Dan entah kenapa, lagi-lagi aku sepakat tanpa banyak bertanya. Kita biarkan segala yang pernah mengisah, kering seiring rebak aroma tanah basah. Menguaplah sudah.

Maka inilah akhir perbincangan itu. Ketika kita sama-sama yakin telah membasuh jiwa dengan rinai rindu yang paling purna. Ketika kita juga sepakat yakin tak ada gelisah pada sesuatu yang tak perlu ada.

Kita cukupkan semua cerita. Kita tutup semua berita. Dan bukan derita. Hanya kisah. Bukan kesah. Sedikit kasih.

 

“Cukuplah cahaya cinta itu adalah engkau

jawaban rindu yang mampu memupus ragu

bak mentari hangatkan gigil kalbuku.”

 

Dan aku tak lagi bertanya tentang apa pun itu.

Hanya aku kembali setuju. Inilah jawaban rindu tanpa ragu.

“Kebahagiaan, bukan?” tanyamu.

oleh Nassirun Purwokartun pada 25 Maret 2011 pukul 17:39

Catatan Kaki 83: In Memoriam si Dul

Standar

Namanya Dal.

Tapi kami sudal deal memanggilnya Dul. Kepalanya dari batu granit. Keras bukan main. Kalau dijitak bunyi ‘thing’. Konon karena ada isinya. “Think!”, katanya.

Kami sama-sama tak suka tertawa, tapi sangat keranjingan membaca. Membaca apa saja. Dan apa yang kubaca, dia baca. Tapi ujung-ujungnya harus tertawa. Karena ternyata kami satu selera.

Kami sama-sama tak doyan nasi, tapi maniak puisi. Kalau bicara puisi, bisa sampai pagi. Hingga mendarah daging, semua kata-kata kami pun menjadi puisi.

Seperti malam itu. Dia menuliskan puisi untukku. Puisi paling romantis yang pernah ditulisnya. Setelah kehilangan bayang-bayangnya yang hilang ke Palembang. Setelah kehilangan kunang-kunang yang timbul tenggelam dan benar-benar terbang. Setelah layang-layangnya melayang jauh ke negeri awang-awang karena putus benang.

Malam itu dia tuliskan puisi paling romantis untukku. Namun bukan untukku. Sekali lagi, bukan untukku.

“Kau Ada Karena”, begitu judulnya.

Dan bait pertama pun masuk ke hapeku.

 

“tak tahukah kau getar bahagia ini

bintang yang dulu hanya bisa kutatap

kini terdekap erat menjadi mentari hati

lelap sudah dalam takdir tersurat”

 

“Mau bicara tentang getar bahagia?” tanyaku.

Dan dia menerangkan dengan penuh penghayatan. Tentang harapan adalah bintang. Tentang keinginan adalan tatapan. Tentang kenyataan adalah dekapan. Dan kebahagiaan adalah takdir suratan.

Aku tertawa mendengar penuturannya. Persis sebuah pelangi. Yang warnanya tak kunjung aku mengerti. Tapi mentari hati, dan lelap yang tersurat, cukup aku sukai.

Kami pun deal menamakannya sebuah pertanyaan yang tak butuh jawaban.

Pembicaran pun beralih kisah tentang gelisah. Berlanjut ke rasa resah. Namun bukan tentang sesuatu yang salah.

Kalimatnya pun meluncur lancar. Penuh janji-janji dan puji puja. Tentang tak perlu menengok ke belakang. Tak perlu mengenang yang telah hilang. Cerita lama yang sudah saatnya dilupa. Tentang bayang-bayang yang tak lagi sepanjang badan.

 

“tak usahlah lagi kisah

tentang segala yang menebar resah”

 

Aku sepakati kesepakatan itu. Tak usah ada lagi kisah yang membuat resah. Tak perlu lagi membuka cerita lama, kisah-kisah kesah penuh kesyahduan tak syah. Juga segala apa yang membuat hati terluka. Luka dan bisa kubawa berlari, hingga hilang pedi peri. Aku terkenang teriak Chairil membaca baitnya yang sederhana tapi dalam maknanya.

Dan kami pun deal untuk tak membahas lagi apa pun yang bernama kisah.

Cerita berlanjut tentang kebahagiaan. Ketika kenyataan seindah harapan. Ketika apa yang diinginkan menjelma nyata di depan mata. Ketika apa yang diangan inginkan telah terlaksana sesuai yang dipinta.

 

“kau yang dulu bertakhta dalam doa

kini telah bermahkota istana kalbu

rasakan seutuh alunan syukurku”

 

Dan syukur itu meluncur serupa mantra. Hatinya penuh bunga bahagia. Doa-doanya terkabul semua. Sesuatu yang dulu sangat diharap, sekarang telah ditatap. Tanpa jarak, tanpa jeda. Sebuah bahagia yang purna.

 

“kasih, kau ada karena

cintaku pada Cinta”

 

Aku tertawa membaca bait terakhirnya. Cinta itu masih dipertahankan dengan C besar. Dan aku berdoa untuknya. Ia mendapatkan cinta-Nya. Tepatnya, Cinta-Nya.

Namun tertawaku tak berakhir mengeja puisinya. Namun juga sms pamitannya.

“Aku mau mati!”

Awalnya tak aku mengerti. Tapi setelah penjelasan yang tak jelas dan tak berarti, aku justru sangat bisa memahami. Bahwa dia memang sangat butuh mati.

Maka sejak tiga hari kemarin, dia telah benar-benar mati. Dia sudah tak ada lagi.

Ada yang hilang. Ada yang harus hilang. Tapi tak harus ada yang kehilangan.

“Kelingan. Kelangan.” Aku membalas pamitannya.

Ada haru. Juga sendu. Tapi tak lebih dari sedetik, telah berlalu. Kami sama-sama kembali tertawa. Hidup adalah belajar, katanya. Dan kembali granit di kepalanya membukit.

“Ra sah digagas, lak wis!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 24 Maret 2011 pukul 23:32

Catatan Kaki 82: Mengenang Bekerja di ‘Tempat Basah’

Standar

Sejak hari itu aku pun resmi bekerja sebagai tukang cuci gerbong kereta.

Pekerjaan pertama yang kudapatkan setelah lulus sekolah, dengan nilai pelajaran yang sangat kubanggakan. Setelah mendapat selembar ijazah yang harus ditebus orang tuaku dengan tanah empat lahan.  Pekerjaan yang kudapatkan setelah menganggur di tempat saudara selama hampir lima bulan.

Gerbong-gerbong kereta api eksekutif jurusan Bandung-Surabaya serta Bandung-Jakarta menjadi tugasku untuk dibersihkan. Bersama sembilan orang lainnya, kami berkerja sama mencuci gerbong-gerbong yang akan diberangkatkan.

Sepuluh orang pekerja itu dibagi dua, empat orang perempuan membersihkan bagian dalam, sedangkan laki-laki mencuci bagian luar. Tugas membersihkan ruangan dalam adalah menyapu lantai kereta, membersihkan jendela dan kursi, merapikan korden, merapikan sandaran kursi, dan memberikan pengharum ruangan. Pekerjaan yang cukup ringan, dibandingkan kami yang harus bekerja mencuci gerbong luar.

Kami para laki-laki harus mencuci gerbong bagian luar, yang itu terdiri dari atap gerbong, samping kanan kiri berikut jendela bagian luar, serta sisi depan belakang yang merupakan sambungan gerbong.

Alat cucinya adalah ember berisi air sabun, ember berisi cairan pembersih, sikat WC yang disambung dengan galah yang panjang, slang air yang disambungkan ke kran, serta tangga sebagai alat untuk naik ke atap gerbong.

Tak pernah kubayangkan, bagaimana sulitnya mencuci gerbong kereta yang sepanjang perjalanan dibanjiri debu. Debu-debu yang sangat halus yang demikian lekat menempel, sulit sekali dibersihkan meski sepuluh kali disikat dan disiram dengan slang air yang memancar.

Dan untuk kesulitan itu, ternyata ada rahasianya. Yang cara itu pun diberi tahu oleh temanku, setelah berulang kali aku menggosok sekuat tenaga, namun tetap tak bersih juga.

Ternyata, sebelum disemprot dengan air, debu-debu yang menempel di sebelah kanan kiri dan atap gerbong, harus digosok dulu dengan cairan pembersih. Cairan ini keras sekali. Entah campuran dari apa. Mungkin larutan kimia. Karena kalau kena mata, perih sekali. Konon katanya, kalau terpercik ke mata dan tidak langsung dibilas dengan air bersih, mata bisa buta.

Aku pun pernah mencoba memasukkan uang logam ke cairan itu. Ternyata ketika dijatuhi logam, airnya seperti mendidih. Berbuih-buih. Dan ketika uang logam diangkat, sudah bersih dari kotoran. Pantas saja kalau debu yang demikian susah digosok pun akan luntur karenanya.

Pertama kerja, aku takut naik ke atap gerbong sambil membawa slang panjang. Tapi dengan bentakan dari teman-teman yang sangat tidak bersahabat, aku beranikan diriku untuk merambat.

Setelah semua tubuh kereta api digosok dengan cairan pembersih itu, barulah disemprot dengan air. Sampai bersih dan tidak tertinggal noda-noda dari cairan pembersih itu. Setelah disemprot, baru dibersihkan dengan air sabun. Digosok kembali dengan sikat WC yang bergagang panjang.

Setelah semua dicuci dengan sabun, tahap terakhir adalah menyemprotnya dengan air. Sampai benar-benar bersih tanpa noda debu menempel di seluruh badan kereta.

Dan itulah tiap hari kerjaku. Di terik yang panas, berdiri di atap dengan slang panjang untuk membasahi gerbong. Karena di atap sangat panas, selain menyemprotkan air kea tap gerbong, kami pun sambil membasahi badan kami sendiri. Jadi kami berbasah-basahan baju dan celana, agar selama kerja merasa tetap dingin meski di terik siang yang sangat panas.

Selama bekerja di stasiun, banyak pelajaran yang kemudian kudapatkan. Ternyata stasiun tak ubahnya terminal, yang juga lekat dengan dunia preman. Banyak kutemui gerbong-gerbong kosong yang digunakan untuk bermain judi dan mabuk-mabukkan oleh para preman.

Bahkan pernah pula karena tak sengaja kumasuki gerbong yang kusangka kosong, ternyata itu adalah kerajaan preman. Aku yang ingin beristirahat, masuk ke gerbong yang di dalamnya kutemukan orang yang sedang berkasih-kasihan. Aku gemetar dan takut karena aku dibentak serta dihujani sumpah serapah juga ancaman.

Pernah kusaksikan pula, dalam sebuah gerbong itu para preman yang sedang berjudi, dengan dikelilingi wanita-wanita malam stasiun. Ada yang sedang memijiti punggung si boss preman. Ada juga yang menyuapi makannya. Benar-benar seperti raja saja.

Dan pekerjaan menjadi tukang cuci kereta itu, hanya bertahan 2 bulan. Aku tak kuat dengan kondisi kerja yang keras dan penuh kekasaran.

Selain lingkungan yang aku tak bisa akrab, kerja menjadi tukang cuci kereta ternyata tak ubahnya tukang becak. Harus sabar menunggu permintaan. Tidak tiap saat ada kerjaan. Bisa saja seharian tak ada segerbong kereta pun yang minta dicuci. Padahal satu gerbong hanya dihargai 4.500 rupiah. Itu harus dibagi satu kelompok yang terdiri dari sepuluh orang.

Jadi kalau ada yang ingin bekerja di tempat yang basah, aku pernah merasakannya. Seluruh pakaianku basah, karena semprotan air untuk mendinginkan badan di terik siang, di atas atap kereta.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Maret 2011 pukul 19:46