Tag Archives: bernama

Catatan Kaki 89: Dengan Buku, Aku ingin Menjadi ‘Ibu’ bagi Anakku

Standar

Ibuku yang pertama kali mengenalkanku pada buku.

Ibuku yang mengenalkanku pada Modul Kejar Paket A yang sangat berjasa itu. Yang sampai hari ini kusimpan sebagai benda yang bersejarah bagi proses pembelajaranku. Yang akan kuceritakan pada anak-anakku, meski mereka mungkin hanya akan mentertawakan kesentimentilanku.

Ibuku yang pertama kali membuatku jatuh cinta pada buku.

Hari ini ketika aku betul-betul berkerja di dunia media, kecintaanku pada buku tidak akan luntur. Kecintaanku pada buku, seperti kecintaanku pada ibuku. Karena bukulah, yang membesarkanku, setelah aku dilahirkan ibuku.

Dengan dikenalkan ibu pada modul berjasa itu, aku merasa seperti dilahirkan kembali oleh ibuku. Kelahiran pertama adalah keluarnya jabang bayiku dari rahim ibu. Kelahiran kedua adalah terbukanya mataku yang menjadikan aku tidak buta aksara.

Ibulah yang melahirkan aku. Yang melahirkanku menjadi seorang bayi yang belajar membuka mata. Sekaligus yang menjadikan anak yang belajar membuka mata untuk membaca.

Kecintaanku pada buku, seperti kecintaanku pada ibuku.

Dari buku-buku yang kubacalah, aku menjadi mengenal dunia. Mengenal dunia yang sungguh mengasyikkan yang bernama membaca.

Benarlah yang dikatakan orang, bahwa jika kita bisa membaca, kita bisa menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan yang kita inginkan.

Dengan membaca kita bisa menemukan kebahagiaan kehidupan. Hidup tanpa membaca seakan gelap dan membosankan.

Sejak kecil, aku merasakan kebahagiaan dan kenikmatan itu. Sehingga meskipun sulit kudapatkan bahan bacaan di waktu itu, aku tetap berjuang untuk memperolehnya. Karena ilmu dan pengetahuan adalah hak semua manusia. Bukan hanya hak mereka yang kuliah saja.

Orang tua bilang, selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha. Selalu ada cara untuk mereka yang mau belajar.

Telah kucoba sekuat tenaga sepanjang perjalanan hidupku untuk belajar membaca kata, agar kutemukan bermacam makna. Dan itu kudapatkan di buku-buku yang tak terkirakan jasanya dalam perkembangan diriku.

Buku-bukulah yang telah menemani proses belajarku sekian lama.

Buku  jugalah yang telah mengobati penyakit minder yang kuidap sekian lama, menjadi seorang yang percaya diri dengan status ‘Lulusan TK Pertiwi’ saja.

Dengan membaca ribuan buku aku menjadi terpacu untuk terus belajar.

Aku ingin terus belajar. Meskipun harus berada di luar bangku perkuliahan.

Aku ingat, aku pernah diberi kado oleh Izzatul Jannah, penulis idolaku itu. Sebuah puisi Ang Tek Khun, yang berbunyi:

 

Aku belajar

bahwa belajar seringkali bukanlah ketersediaan waktu

melainkan pada kesediaan

pada ketundukan hati

 

Aku belajar

bahwa belajar seringkali bukanlah rangkaian aksi

melainkan proses membuka diri

proses menerima

 

Akupun ingin menceritakan pengalamanku waktu kecil pada anakku. Justru di era kini, ketika banyak buku yang menawarkan pentingnya arti membaca sejak dini.

Aku tidak ingin gairah membaca anakku lemah, ketika orangtua dan lingkungannya justru mendukungnya untuk gemar membaca. Akupun tidak ingin minat membaca anakku mati, ketika kondisi zaman memanjakan dengan beragam tontonan di televisi.

Waktu kecil, keluargaku memang tidak mempunyai radio apalagi televisi. Maka saingan keasyikan bagiku adalah bermain dengan teman dan perintah membantu kerja orang tua.

Tapi dengan pengalamanku waktu kecil, aku akan bertindak seperti ibuku.

Akulah yang akan mengajari anakku belajar mengenal aksara dan membaca. Akan kudampingi anakku untuk mencintai buku. Agar dia gemar membaca dan juga mencintai buku.

Tak akan kuhalangi anakku membaca sebanyak apapun buku. Karena bagiku, buku adalah ibuku. Ibu yang membesarkanku, setelah aku dilahirkan ibuku.

oleh Nassirun Purwokartun pada 29 Maret 2011 pukul 18:42

Iklan

Catatan Kaki 85: Tanpa Pinjaman dan Loakan, Aku Tak Akan Mengenal Dunia

Standar

Usiaku masih anak-anak, tapi saat itu aku sudah bosan dengan majalah anak-anak.

Menjelang kelas 5 SD aku benar-benar sudah tidak suka lagi membaca majalah anak-anak. Ini mungkin pengaruh dari lagu-lagu cinta yang sering kudengarkan dari RRI ketika sore hari. Hingga, meski usiaku baru 11 tahun, tapi aku sudah sangat suka dengan majalah remaja.

Kebetulan kakak teman sekelasku mempunyai banyak majalah remaja. Ada Hai, Mode, Gadis, dan Aneka. Mungkin di kelas 5 itulah aku mulai puber dan mengenal naksir perempuan. Aku begitu suka membaca cerpen-cerpen di majalah remaja itu. Yang sedemikian asyik menceritakan tentang percintaan remaja. Hingga akupun terbawa, dengan naksir adik kelasku.

Berawal dari majalah pinjaman itu, aku jadi makin kecanduan dengan bacaan yang bernama majalah. Hingga tiap minggu pagi aku sering ke Pasar Wage Purwokerto, untuk mencari majalah-majalah loakan. Kebetulan ada kios kecil di emperan pasar yang menjual banyak sekali majalah-majalah bekas. Dengan bersepeda kumbang selama dua jam pulang pergi, aku membeli majalah-majalah loakan untuk mengobati kehausan membacaku. Untuk membeli majalah yang baru, sangat tidak mungkin dari segi keuangan. Harga satu majalah baru, sama dengan sepuluh majalah bekas.

Di majalah-majalah loakan itulah, aku mengenal banyak sekali nama, yang di kemudian hari bermanfaat untuk memupuk cita-citaku menjadi seorang penulis. Di antaranya yang sangat kukenang adalah Arswendo Atmowiloto yang waktu itu berkibar namanya di majalah Hai dan Senang, selain di Monitor yang kemudian mengantarkannya ke rumah tahanan.

Aku kemudian menjadi penggemar Arswendo yang menurutku gaya berceritanya asyik sekali. Dengan kalimat-kalimat yang pendek dan demikian lancar, sungguh aku ingin menulis seperti dirinya. Aku suka membaca serial Imung dan Keluarga Cemara di Hai bekasan. Juga serial Kiki dan komplotannya. Tak ketinggalan, serial ACI yang kutonton di tivi tetangga bersama-sama orang sekampung.

Kegemaranku membeli majalah bekas berlanjut sampai dengan masuk SMP. Aku mulai berkenalan dengan majalah-majalah yang lebih serius. Bukan lagi majalah anak-anak atau remaja. Aku mulai tertarik dengan majalah-majalah berita, macam TEMPO atau PANJI MASYARAKAT.

Bahkan dari majalah-majalah itulah, aku seakan mendapatkan suntikan rasa ‘GR’. Bahwa bacaanku seolah mendahului bacaan teman-teman sebayaku. Aku merasa bukan lagi anak-anak yang terpuaskan dengan membaca dongeng-dongeng di majalah anak-anak. Bahkan aku tidak tertarik lagi dengan membaca majalah anak. Padahal aku baru kelas 1 SMP.

Dengan membaca TEMPO seakan aku mengetahui berita-berita terhangat di Indonesia dan dunia. Meskipun beritanya sudah agak kedaluwarsa, karena rata-rata majalah loakan itu adalah bekas dua tiga bulan lalu. Tapi tak apa, karena bagiku yang kucari bukan beritanya, tapi pengetahuannya. Berita boleh basi, tapi pengetahuan selalu baru.

Dari TEMPO itulah, aku mengenal nama Goenawan Mohamad. Membaca Catatan Pinggirnya waktu itu, bagiku sungguh seperti mengunyah batu. Aku harus lebih dari lima kali mengulang, karena belum juga tahu arahnya.

Tapi aku tetap mencoba membaca, mengulang membaca, sampai betul tahu maksudnya. Hingga kemudian kumaknai, bahwa membaca Catatan Pinggir seperti layaknya sedang membuka kamus. Di tiap Catatan Pinggir yang kubaca, akan selalu kutemukan kata yang berarti penanda suatu peristiwa, suatu ideologi, atau suatu nama orang berikut pikiran-pikirannya.

Karena kenangan ketika begitu sulitnya membaca kata-kata Goenawan waktu kecil itulah, ketika kemudian Catatan Pinggir itu dibukukan aku langsung membelinya. Bahkan kukoleksi. Sampai jilid yang ke enam sekarang. Kubaca ulang kata-kata yang bagiku dulu laksana batu itu, dengan diriku yang sekarang, yang bukan anak SMP lagi.

Ternyata kecanduan berlangganan majalah bekas berlanjut sampai dengan di bangku STM. Aku sering main ke agen-agen majalah untuk mencari majalah-majalah yang mau diloakkan. Biasanya, majalah yang tidak laku hanya diretur covernya saja ke pusat. Sementara isinya, ditinggal di agen dan oleh agen diloakkan.

Itu sungguh menguntungkan bagiku. Karena aku betul-betul seakan langganan layaknya. Meskipun hanya langganan majalah bekasan. Tiap awal bulan aku sengaja datang ke agen-agen, untuk membeli majalah-majalah loakan edisi bulan kemarin. Jadi dalam sebulan aku membawa pulang empat majalah baru tapi bekas, edisi empat minggu bulan kemarin.

Bagiku, berita yang baru berselang empat minggu sampai dengan satu minggu kemarin belumlah begitu basi. Karena di rumah pun aku tak punya televisi.

Hingga aku sering merasa, tanpa majalah pinjaman dan majalah loakan, mungkin aku tak akan mengenal dunia.

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Maret 2011 pukul 20:41

Catatan Kaki 68: Ketika Penjara adalah Sebuah ‘Tempat yang Mulia’

Standar

Sepanjang perjalanan mengelilingi Baluwarti, banyak hal yang kudapatkan.

Selain pengalaman, pengetahuan, pelajaran, renungan, juga rasa penasaran.

Salah satu yang sempat membuatku penasaran, adalah keberadaan pintu kecil pada tiap pemukiman. Pintu yang seolah menjadi semacam ‘jendela’ bagi para penghuninya untuk berhubungan dengan dunia luar. Sementara orang luar sepertiku tetap tidak bisa masuk ke dalamnya. Apalagi mengetahui seperti apa denyut kehidupan mereka.

Termasuk tentang penghuni yang sekarang mendiami. Apakah mereka masih keturunan leluhur mereka, yang namanya sekarang diabadikan menjadi nama kampungnya. Ataukah sudah orang biasa yang tak ada trah apa pun dalam hubungannya dengan Baluwarti.

Misalnya para warga yang mendiami kampung Baluwarti bagian selatan. Para warga di sana, apakah masih keturunan dari para prajurit keraton. Yang namanya sekarang dilekatkan menjadi nama kampung, yakni Tamtaman, Wirengan, dan Carangan.

Namun selain pintu-pintu kecil yang menawarkan penasaran itu, aku pun terusik dengan keberadaan beberapa Dalem yang masih tersisa. Bangunan tua yang darinya kudapatkan pelajaran tentang sejarah masa silam yang penuh keagungan, kemegahan, kemewahan, dan kebahagiaan. Juga renungan perjalanan jaman yang menyisakan kepedihan.

Dalem adalah bangunan  rumah luas dan besar yang dulunya diperuntukkan bagi para putra raja. Yang bangunannya sangat khas arsitekur Jawa. Lengkap dengan serambi depan berupa aula luas dan megah bernama pendopo. Di belakangnya berdiri rumah besar bernama Dalem, yang di dalamnya terdapat tiga kamar utama. Yaitu ruangan senthong kiwo yang berada di kiri, dan senthong tengen yang berada di sebelah kanan. Dengan di tengahnya terdapat ruangan sakral yang bernama krobongan.

Dan ketika aku jalan-jalan, tercatat ada empat Dalem yang sempat kulihat di lingkungan Baluwarti. Yang pertama Dalem Mloyokusuman, yang berada di timur laut keraton. Tempat di mana makam Ki Gede Solo berada. Kemudian Dalem Brotodiningratan dan Purwodiningratan yang berada di selatan keraton. Lalu Dalem Suryohamijayan yang letaknya kutemukan di barat daya keraton. Tepat pada pertigaan yang merupakan jalan keluar dari Baluwarti, melewati pintu Butulan sebelah barat.

Sementara yang satunya lagi adalah Dalem Sasono Mulyo, yang kudapati berada di barat laut Kamandungan. Yang kalau masuk dari arah barat melewati Kori Gapit, hanya berjarak tak lebih dari 200an meter saja. Berada di kanan jalan melingkar dari arah pintu masuk Kori Brojonolo Lor menuju pintu keluar Kori Brojonolo Kidul.

Dari keempat itu, aku hanya sempat masuk ke Dalem Sasono Mulyo. Karena dari semua Dalem yang ada, hanya Sasono Mulyo yang gerbangnya terbuka. Sementara, yang lainnya tertutup, hanya menyisakan regol sebagai pintu kecil yang sedikit terbuka.

Dan aku tertarik masuk ke dalamnya, karena ada sedikit pengetahuan sejarah yang masih kuingat. Sejarah kelam tentang keberadaan rumah besar yang dari luar terlihat angker tersebut. Sejarah yang sampai ketika meninggalkannya aku masih larut dalam renungan.

Bangunan ini konon didirikan pada masa Paku Buwono IV di atas tanah 11.000 meter persegi. Merupakan rumah yang diperuntukan untuk putranya, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hangabehi untuk didiami hingga akhir hayatnya. Namun karena Hangabehi kemudian naik takhta menjadi Paku Buwono VIII, ia pun pindah ke Dalem Praba Suyasa di dalam lingkungan keratin. Yang otomatis meninggalkan Sasono Mulyo.

Karena bangunan itu merupakan rumah kediaman putra mahkota, maka kemegahan dan keanggunan pun masih tersisa sampai sekarang. Terlihat pada bentuk bangunan pendopo yang sangat luas (konon berukuran 37 x 25 m), dengan Dalem di belakangnya, dan gandok yang melingkar di sekelilingnya. Gandok-gandok yang sekarang terlihat tak terawat dan tak lagi berpenghuni. Padahal dulunya adalah bangunan untuk menampung puluhan keluarga abdi dalem yang mengurusi keperluan sang putra mahkota.

Bangunan lainnya yang kurasa masih mempesona, adalah loji di sebelah baratnya. Sebuah sisa kejayaan masa silam berupa rumah cantik dan indah hasil perpaduan arsitektur Jawa dan Belanda. Bangunan penuh ornamen unik yang konon didirikan oleh putra mahkota Paku Buwono X yang pernah bersekolah di Belanda.

Selain bangunan loji itu, aku pun dibuat terpesona dengan bangunan gazebo yang berada di depan pendopo. Yang ketika datang, sempat kulihat anak-anak kecil sedang riang bermain sambil menari di tengahnya. Lemah gemulai gerak tubuh yang meliuk indah.

Melihat keriangan mereka, ingatanku langsung melayang pada kenangan, bahwa Dalem Sasono Mulyo ini dulunya pernah menjadi ‘kawah candradimukanya’ para seniman Solo.

Pada era tahun 1970 hingga 1980an, menjadi ajang seniman tari mengasah kemampuannya. Ketika masih digunakan sebagai kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). Kampus yang menjadi cikal bakal terbentuknya Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang sekarang dikenal sebagai ISI, Institut Seni Indonesia Solo.

Sambil duduk termenung di bibir pendopo, mata kulayangkan menatap megahnya bangunan yang telah berusia seratusan tahun itu. Bangunan yang sekarang justru lebih mengesankan aura keangkerannya. Terutama karena dinding-dindingnya yang kusam, serta cat pada tiang-tiang besarnya yang memudar. Demikian pula yang kudapatkan dari hamparan tegel hitam, tempatku duduk beristirahat setelah lelah berjalan-jalan.

Namun di antara kesan angkernya yang begitu menonjol, bangunan ini juga menyimpan sejarah kelam. Sejarah yang menyisakan kegetiran dan kepedihan yang dalam.

Sebuah kepiluan sejarah, ketika pada tahun 1965, politik Indonesia dilanda awan merah komunisme. Saat itu, Solo termasuk daerah yang paling ‘merah’ di Jawa Tengah. Maka ketika terjadi kudeta di Jakarta, Solo yang dipimpin oleh seorang walikota dari PKI, langsung menyatakan dukungannya pada Dewan Revolusi Indonesia.

Maka tak heran, ketika kemudian PKI dianggap pemberontak dan harus dihancurkan ke akar-akarnya, Solo pun tak lepas dari imbasnya. Banyak rakyat simpatisan PKI yang kemudian diburu, ditangkap, dipenjara, dibuang, dan dibunuh. Termasuk pemimpin CC PKI, DN Aidit juga terbunuh di Solo, yang kemudian ditembak mati di Boyolali.

Banyaknya simpatisan PKI Solo, membuat pihak militer tak bisa menampung para tapol tersebut dalam penjara. Maka Dalem Sasono Mulyo yang luas kemudian difungsikan sebagai penjara. Penguasa militer menempatkan para tapol di gandok maupun di pendopo. Mereka membangun sekat-sekat menggunakan dinding yang dibuat dari anyaman bambu. Sekat sederhana yang difungsikan sebagai sel-sel penjara.

Konon tercatat, para tapol PKI yang pernah ditampung di Sasono Mulyo hampir mencapai jumlah 2000 orang, dalam waktu yang hanya 2 tahun. Para tapol yang harus tidur beralaskan lantai tegel yang dingin, membuat banyak yang kemudian sakit dan meninggal. Selain karena jatah makan yang sangat sedikit, dan kerja keras yang dipekerjakan untuk membersihkan pasar-pasar, bangunan pemerintahan dan militer.

Kemarin, aku hanya duduk di bibir pendopo tanpa berani masuk ke tengah. Karena dalam kenanganku, yang terbayang adalah peristiwa tragis yang pernah terjadi di sana. Ketika bangunan megah itu menjadi kamp penampungan para tapol PKI. Yang sangat mungkin mereka yang tertangkap kemudian dibunuh itu, menjadi anggota partai hanya karena ikut-ikutan saja. Dan sesungguhnya mereka tak paham apapun tentang ideologi komunisme.

Entah kenapa, karena mengingat peristiwa itu, keangkeran yang sejak awal terasa jadi tambah mencekam. Ketika membayangkan banyaknya tapol yang harus jatuh sakit dan mati, karena luas pendopo yang tak sebanding dengan tahanan yang ada. Membuat mereka harus tidur berdesak-desakan dalam penjara gedeg, beralaskan lantai tegel yang dingin. Ditambah bangunan yang sudah sangat tua dan tak terawat, ketika hujan besar selalu bocor, dan air pun menggenang di semua tempat.

Setelah lama larut dalam renungan, aku pun meninggalkan Dalem Sasono Mulyo. Bangunan tua yang mendadak mengingatkanku pada kenangan sejarah Indonesisa yang kelam. Ketika sebuah idiologi yang konon diajarkan untuk menciptakan kesejahteraan bersama, namun justru menjadi saling membinasakan sesama.

Aku sungguh tak habis mengerti. Ketika sebuah kata suci ‘revolusi’, terpaksa harus memakan dengan beringas ‘anak-anak’nya sendiri. Hingga sebuah tempat yang mulia, terpaksa harus berubah fungsi menjadi penjara.

Karena sesungguhnya, dalam bahasa Jawa, Sasono Mulyo berarti ‘tempat yang Mulia’.

oleh Nassirun Purwokartun pada 9 Maret 2011 pukul 22:25

Melodi Sunyi 4: Membaca Hikmah Babad Hudaibiyah

Standar

Enam tahun sudah, Rasulullah dengan kaum Muhajirin hijrah ke Madinah. Sudah selayaknya mereka merasakan rindu akan kota kelahirannya, Makkah. Kota yang belum beramah tamah menerima mereka kembali menjadi tuan rumah. Rasulullah berniat ke Makkah untuk menjalankan umrah di sisi rumah suci, Ka’bah.

Bahagia membuncah di hati kaum Muslimin demi mendengar niatan Rasulullah. Datang ke Makkah bagi mereka, bagai mencium bunga wangi namun berbisa. Dipastikan kaum Quraisy yang tak suka dengan ajaran Rasulullah, akan resah penuh curiga. Bahkan bisa saja mereka menduga kedatangannya adalah untuk menyerang Makkah.

Berkumpul beberapa kabilah mengiringi langkah Rasulullah menuju Makkah. Meninggalkan Madinah pada pagi Senin permulaan Dzulqaidah tahun ke enam Hijrah. Berduyun tak terputus sejumlah seribu lima ratus muslimin, bergerak dalam kerapian kafilah. Di Dzul Hulaifah mereka istirah. Melepas baju dan berganti ihram, pakaian umrah.

Kaum Quraisy terkejut mendengar kabar seribu lima ratusan muslimin hendak memasuki Ka’bah. Dikumpulkanlah beberapa kabilah berjaga menjaga jalan masuk Makkah. Khalid bin Walid menghadang dengan sepasukan tentara berkuda, dua ratus orang jumlahnya. Rasulullah tak hilang akal mendengar penghadangan kaum Quraisy di luar kota. Dicarilah jalan melingkar, supaya tak bertemu dengan pasukan tentara berkuda.

Tibalah kafilah Madinah di lembah Hudaibiyyah. Tiga puluh kilometer jauhnya dari arah Makkah. Berhentilah tiba-tiba unta putih Rasulullah, yang bernama Qaswah. Tubuhnya tiarap dan tak bias bangkit lagi seakan-akan benar-benar lelah. Rasulullah menangkap isyarat itu sebagai perintah Allah, untuk mendirikan kemah.

Kaum Quraisy telah bersiap senjata menyambut kaum Muslimin di dalam kota Makkah. Diutusnya Budail bin Waraqa, seorang pembesar kabilah Khuza’ah menuju Hudaibiyyah. Menanyakan niatan Rasulullah dan muslimin berkafilah hendak memasuki Baitullah.

Diterangkan oleh Rasulullah, bahwa mereka berniatan semata-mata hendak ibadah. Sebagai bukti, diperlihatkanlah tujuh puluh ekor unta yang dibawa. Yang hendak untuk qurban selepas umrah.

Setelah jelas masalah, pulanglah Budail bin Waraqa ke Makkah. Namun kaum Quraisy yang sudah termakan syak wasangka dan curiga, tak memercayai laporan Budail, tentang niatan Rasulullah.

Utusan kedua pun diberangkatkan. Mikraz bin Hafs melesat menuju lembah Hudaibiyyah. Dan jawaban yang sama pun didapatkan kembali dari Rasulullah. Namun tetap saja, para pembesar Quraisy tak percaya dengan laporan Mikraz, tentang niatan umrah Rasulullah.

Utusan ketiga pun diberangkatkan. Panglima Al Habsy, Hulaisyi bin Al-Qamah. Dan jawaban yang sama kembali didapatkan. Namun tetap saja pembesar Quraisy tidak memercayainya. Hingga utusan ke empat pun diberangkatkan. Seorang tua bijak cendekian bernama Urwah. Dan jawaban yang sama pun kembali didapatkannya.

Kaum Quraisy Makkah bertambah resah semakin gelisah. Bimbang apakah diijinkan, ataukah ditolak mentah-mentah keinginan Rasulullah memasuki Makkah.

Sementara dari lembah Hudaibiyyah, Rasulullah mengutus Khirasyi bin Umayyah, untuk meminta jawaban dari Makkah. Namun unta yang dikendarainya ditikam orang Quraisy di perbatasan Makkah.

Rasulullah kemudian mengutus Ummar bin Khathab untuk menjelaskan masalah. Namun Ummar menolak titah Rasulullah, dan minta digantikan Utsman bin Affan yang masih keturunan Bani Umayyah. Dengan maksud agar aman selama berada di Makkah. Karena kaum Quraisy juga berasal dari Bani Umayyah. Dan keluarga Utsman adalah orang terpandang yang punya pengaruh besar di Makkah.

Maka sesampai di Makkah, Utsman pun menyampaikan amanat Rasulullah. Bahwa kedatangan mereka benar-benar hanya berniat ibadah umrah di Baitullah.

Setelah berdebat panjang, akhirnya kaum Quraisy mengijinkan. Namun hanya untuk Utsman. Tidak berlaku bagi kaum muslimin Madinah yang dipimpin Rasulullah.

Utsman pun menampik tawaran sendirian berumarh. Ia tak mau berthawaf di Baitullah tanpa muslimin Madinah, tanpa bimbingan Rasulullah.

Sementara nun jauh tiga puluh kilometer di lembah Hudaibiyyah, kaum muslimin terus dilanda gelisah. Karena Utsman sang utusan tak kunjung pulang, bahkan mereka mengira telah ditangap dan dibunuh di makkah.

Untuk membalas pembunuhan Utsman, muslimin Madinah berkumpul dan bersumpah. Di tengah lembah Hudaibiyyah, di bawah rindang pohon besar, mereka berikrar. Bersatu padu mengikatkan hati, dalam Bai’ah Tahtas Syajarah. Itulah Bai’atur Ridwan yang dicatat dalam Syirah. Sebuah perjanjian yang diridhai Allah.

Namun baru saja mereka berikrar, tiba-tiba Utsman yang disangka telah mati di Makkah, pulang ke Hudaibiyyah. Memberitahukan bahwak kafir Quraisy tidak mau membukakan pintu gerbang kota Makkah. Apalagi mengijinkan umrah di Baitullah.

Untuk menghadang muslimin Madinah, datanglah lagi utusan Makkah. Suhail bin ‘Amr, pembesar Quraisy, menemui Rasulullah. Utusan Quraisy kali ini, bukan hendak menanyakan niatan Rasulullah yang hendak masuk Makkah. Namun mengajak Rasulullah untuk bermusyawarah.

Perundingan pun dimulai.

Di bawah rindang pohon, di tengah lembah Hudaibiyyah. Suhail sang saudagar menggunakan taktik perdagangannya dalam bermusyawarah. Watak pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan melimpah, dengan modal yang murah. Hal itu membuat Ummar yang mendampingi Rasulullah geram menahan amarah. Baginya, lebih baik berperang tanding, daripada berunding dengan orang yang serakah.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang terkenang dalam sejarah. Perjanjian menghentikan peperangan antara muslimin Madinah dan kafirin Makkah. Sebuah perjanjian yang mencerminkan kebijakan Rasulullah dan strategi Allah. Suhail mewakili kafirin Makkah, dan Rasulullah mewakili muslimin Madinah. Ali bin Abi Tholib sang pemuda cerdas menantu Rasulullah bertugas mencatat hasil musyawarah.

Rasulullah menyuruh Ali menuliskan pembukaan.

“Bismillahi Rahmaani Rahiim. Dengan menyebut nama Allah yang Rahmin dan Rahiim.”

Namun Suahil menolak. Membentak Ali menghapuskan penulisan.

“Saya tahu Allah, akan tetapi tak mengakui sifat Rahman tau Rahiim. Tuliskan saja Bismika Allahumma. Dengan ini Engkau ya Allah.”

Dengan kebijakannya, Rasulullah pun mengalah. Maka menulislah Ali, ‘Bismika Allahumma’, setelah mendapat anggukan Rasulullah.

Rasulullah kemudian menyuruh Ali mulai mencatakan isi perjanjian.

“Inilah syarat-syaranya, atas nama Muhammad Rasulullah…”

Namun Suail kembali menolak. Kembali membentak Ali menghapuskan penulisan.

“Jika aku percaya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, aku tak akan memerangi engkau. Tulislah saja Muhammad bin Abdullah…”

Kembali dengan kebijakannya, Rasulullah mengalah,. Maka ditulislah kalimat pembuka, “Muhammad bin Abdullah”, setelah mendapat persetujuan Rasulullah.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah, yang dikenang harumnya dalam kitab sejarah.

 

“Bismika Allahumma.

Inilah syarat-syaratnya, atas nama Muhammad bin Abdullah.

Menyatakan perdamaian degnan Suhail bin ‘Amr dari Makkah.

Menyatakan:

Selama sepuluh tahun tidak akan menyerang Makkah, atau menyerang Madinah.

Jika ada seorang Quraisy datang ke Madinah, tanpa disertai wali dari Makkah, maka orang tersebut harus dikembalikan ke Makkah.

Jika ada seorang muslimin Madinah datang ke Makkah, maka orang tersebut tidak diharuskan kembali ke Madinah.

Sesiapapun yang hendak bersekutu dengan Muhammad di Madinah, diberi keluasan sepenuhnya.

Sesiapa pun yang hendak bersekutu dengan Quraisy di Makkah, diberi keleluasaan sepenuhnya.”

 

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang dikenang harumnya dalam syirah. Perjanjian yang sempat membuat muslimin Madinah meragukan kerasulan Rasulullah. Perjanjian yang berat sebelah menurut kaum muslimin Madinah. Namun Rasulullah telah menyetujuinya, karena yakin akan kehendak Allah

Selepas pernjanjian di lembah Hudaibiyyah, resah dan amarah merasuk dalam dada kaum muslimin Madinah. Rencana umrah ke Baitullah batal, dengan menahan kecewa mereka pun pulang kembali ke Madinah. Dengan dijanjikan tahun depan bulan Dzulqaidah, mereka akan kembali berumrah.

Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah pun menerima wahyu dari Allah. Ayat pertama hingga dua puluh sembilan dalam surat Al-Fath.

Maka inilah perjanjian Hudaibiyyah yang dikenang dalam sejarah. Perjanjian yang dianggap telah berat sebelah, namun dengan kehendak Allah, menjadi rahmat dan berkah.

 

CATATAN:

sebuah naskah yang tak sengaja aku temukan.

yang kutulis 15 tahun silam.

ketika masih suka menulis cerita anak.

yang kurencanakan sebagai bacaan anak usia SD.

hmmmmm

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 April 2011 pukul 17:43

Catatan Kaki 62: Membaca Kode Rahasia Songgo Buwono yang Penuh Sandi Angka

Standar

Dari Sitinggil, aku meneruskan perjalanan ke arah selatan. Menuju gerbang keraton Solo yang bernama Kori Kamandungan.

Sebelum masuk pelataran Kamandungan yang bernama Bale Rata, aku melewati pintu masuk bernama Kori Brojonolo. Sebuah jalan masuk berupa sebuah gerbang besar dengan sepasang daun pintu kayu tebal bercat biru yang sangat kokoh.

Di atas pintu gerbang tersebut, konon terpahat sebuah penanda berupa kulit sapi berbentuk segi empat. Suatu sandi dari ungkapan lulang sapi siji, yang berarti ‘selembar kulit sapi’. Namun sebenarnya, lulang sapi siji merupakan kepanjangan dari wolu ilang sapi siji yang menerangkan tahun pembuatan gerbang utama tersebut.

Dalam kode sandi tahun candrasengkala, wolu adalah angka 8, ilang pengganti angka 0, sapi angka 7, sedangkan siji berarti angka 1. Maka ketika dibaca dari belakang, terbaca angka 1708. Yang berarti bangunan tersebut dibuat pada tahun Jawa 1708 atau 1782 M.

Kori Brojonolo berasal dari kata brojo dan nolo. Brojo berarti senjata tajam, dan nolo berarti hati. Sebagai peringatan agar kita memiliki ketajaman hati. Karena untuk mencapai kesempurnaan kehidupan, haruslah memiliki ketajaman perasaan yang bersifat rohaniah. Caranya adalah dengan terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di kanan kiri gerbang tersebut kita temukan empat pos jaga. Bangunan berbentuk gardu yang berada di luar bernama Bangsal Brojonolo, sedang yang ada di dalam bernama Bangsal Wisomarto. Keempat gardu bangsal itu dulunya dipakai berjaga prajurit keraton.

Wisomarto berasal dari kata wiso yang berarti racun, dan marto yang berarti penawar. Sebuah perlambang agar kita harus bisa menjadikan racun yang berbahaya tidak lagi berbisa. Sebab dalam usaha kita menuju kesempurnaan kehidupan, harus bisa meninggalkan perbuatan tercela yang bisa meracuni jiwa kita.

Namun sekarang keempat bangsal itu tak lagi ada yang menjaga. Yang menempati justru para penjual es yang menjual dagangannya. Dan menjadikan Bangsal Brojonolo dan Wisomarto menjadi tempat lesehan yang asyik untuk menikmati es jualan mereka.

Akupun berhenti sejenak di bangsal itu. Namun tidak sambil beli es, karena hari masih pagi. Aku hanya beli roti, yang kunikmati sambil mengamati dengan seksama bentuk ukiran yang terpahat di atas Kori Kamandungan. Ukiran berbentuk padi dan kapas yang melintang di atas lisplang, yang konon melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Kori Kamandungan berarti pintu gerbang Kamandungan. Merupakan bangunan terdepan dari keraton bagian dalam. Bangunan peninggalan Paku Buwono IV yang didirikan pada tahun 1819, dan kemudian dibangun kembali oleh Paku Buwono IX pada tahun 1889.

Kamandungan berasal dari kata mandu, yang berarti calon. Sebuah perlambang bahwa setiap kita sesungguhnya adalah calon mayat. Mengingatkan pada semua manusia yang tengah menikmati kehidupan, bahwa pada saatnya nanti pasti akan mengalami kematian.

Maka untuk mengajarkan itu, di sisi kiri dan kanan Kori Kamandungan terpasang tiga cermin besar. Dan sebelum masuk keraton disarankan untuk bercermin, memeriksa pakaian yang dikenakan. Yang sesungguhnya perlambang untuk mengingatkan agar kita selalu bercermin diri terhadap tingkah laku perbuatan kita, demi menjaga kesucian jiwa.

Dan sama seperti di gapura Gladag, di depan Kori Kamandungan pun terdapat dua patung raksasa yang menyeramkan. Arca Pandhita Yaksa yang menjadi perlambang, bahwa setiap niatan untuk menjaga perbuatan dan kesucian hati, pasti ada halangan dan rintangan yang akan menghadang.

Dari arah pelataran Kamandungan, dengan menatap ke atas sebelah kiri akan terlihat sebuah menara. Bangunan keraton yang tinggi menjulang, dan  dari jauh pun sudah kelihatan. Sebuah bangunan menara berbentuk segi delapan dengan ketinggian 30 meter, yang terbagi dalam 4 lantai. Inilah yang disebut dengan Panggung Songgo Buwono.

Panggung Songgo Buwono berarti menara penyangga semesta. Konon bangunan itu menjadi tempat bertemunya Raja-Raja Solo dengan Ratu Pantai Selatan yang dipercaya sebagai istrinya. Namun sesungguhnya juga menjadi tempat pengintaian, untuk mengawasi gerak-gerik Belanda yang berada di Benteng Vastenburg.

Penamaan Panggung Songgo Buwono juga menjadi penanda berdirinya bangunan ini. Sebab dalam hitungan candra sengkala, panggung bermakna angka 8, song bermakna angka 9, so bermakna angka 1, dan buwono adalah angka 1.

Dan dengan kaidah candra sengkala yang menggunakan pembacaan terbalik, maka kalimat itu akan terbaca angka 1198. Yang berarti bangunan ini didirikan pada tahun 1198 Hijriyah atau 1782 Masehi. Bangunan ini adalah peninggalan Paku Buwono III, yang berkuasa pada tahun 1782 Masehi atau 1708 tahun Jawa.

Pembangunan tahun 1708 itu pun juga terbaca dari candra sengkala lainnya yang berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma. Naga melambangkan angka 8, muluk melambangkan angka 0, tinitihan melambangkan angka 7, dan janmi yang melambangkan angka 1. Dengan pembacaan dari belakang, terbaca angka 1708.

Naga muluk tinitihan jami berarti ular naga terbang yang dikendarai manusia. Maka penandanya juga digambarkan dengan bentuk gambar seekor ular naga bermahkota yang sedang dinaiki oleh orang yang tengah memanah.

Ada lagi kepercayaan orang, yang mengatakan gambar orang yang menaiki ular tersebut memiliki makna jangkaning jaman, atau peringatan akan datangnya peristiwa yang akan terjadi. Yaitu cara membaca candra sengkala menjadi Keblat Rinaras Tri Buwono.

Dalam aturan candrasengkala, kata keblat adalah pengganti angka 4, rinaras angka 6, tri angka 3, dan buwono angka 1. Maka akan terbaca angka tahun 1364 Hijriyah, yang bertepatan dengan tahun 1945 M. Tahun yang menjadi kemerdekaan Indonesia.

Sedangkan makna figur orang yang mengendarai ular, menerangkan bahwa ular yang dalam bahasa Jawa adalah ula melambangkan kata kawula atau rakyat. Mahkota pada ular, bermakna raja yang mempunyai kekuasaan. Kemudian panah yang siap dilepaskan adalah lambang tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan manusia yang memegang panah perlambang dari sang pengendali kebijakan.

Jadi terbaca dari gambar tersebut, bahwa pada tahun 1945 akan terjadi peristiwa besar. Dimana rakyat yang akan memegang kekuasaan tertinggi dalam mengendalikan dan mengarahkan tujuan yang ingin dicapai. Konon itu maksudnya adalah Republik Indonesia akan merdeka dan kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat atau demokrasi.

Panggung Songgo Buwono yang tegak menjulang konon perlambang laki-laki. Sementara dalam filosofi lingga-yoni sebagai asal mula kehidupan, yang menjadi perlambang perempuan adalah bangunan bernama Kori Sri Manganti.

Namun ketika meminta ijin untuk melihat Kori Srimanganti, aku dilarang oleh abdi dalem penjaga keraton yang berjaga di depan. Menurut mereka Kori Srimanganti telah masuk wilayah dalam keraton, yang tak boleh dimasuki oleh sembarang orang dari luar.

Orang yang bukan kerabat keraton tak diperkenankan masuk lewat Kori Kamandungan. Namun diperbolehkan lewat pintu timur, yang masuk melewati museum. Maka aku pun melewati pintu masuk itu, sebelum terlebih dulu membeli tiket masuknya.

Aku benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang keraton, meski pun telah kubaca bermacam-macam buku tentang itu semua. Namun menurutku, pengetahuan itu belum terpuaskan, sebelum melihat secara langsung bentuk nyata bangunan dalam keraton berikut  suasananya yang konon sarat kesakralan ajaran Jawa.

Aku juga ingin melihat langsung sisa peninggalan keraton Mataram yang panjang sejarahnya. Yang sebenarnya kelanjutan dari kerajaan Demak dan Pajang. Yang kemudian dianggap menjadi pusatnya budaya Jawa yang adiluhung dan sarat nilai filosofinya.

Maka setelah membeli tiket, aku pun meminta seorang guide untuk menemaniku masuk museum dan menjelaskan.

Namun mendengar permintaanku, kelihatannya mereka saling enggan. Para pemandu yang berjajar di pintu loket itu hanya saling pandang dan saling lempar ucapan. Dan dari empat pemandu itu, tak ada satu pun yang memberikan jawaban kesanggupan.

Mungkin melihat penampilanku yang tak meyakinkan, karena hanya bercelana gunung dan kaos butut serta sandal jepit murahan. Dengan tampang kampungan, yang mungkin mereka anggap tak  punya uang untuk membayar jasa mereka.

Sebuah anggapan tepat yang tak perlu kubantah.

Alhamdulillah

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Februari 2011 pukul 22:28

Catatan Kaki 60: Ke Sitinggil Saja, Kalau Ingin Belajar Dewasa!

Standar

 

“Wong Jowo nggone semu.”

“Orang Jawa ahlinya perlambang.”

Begitu ungkapan yang konon pas untuk menggambarkan citra manusia Jawa. Yang tidak suka mengungkapkan sesuatu secara gamblang, melainkan membalutnya dengan menggunakan pasemon, atau sebuah perlambang. Terutama tentang ajaran kehidupan.

Dan itu pula yang kudapatkan dari bangunan yang ada pada keraton Solo. Ketika menikmati keindahan bangunan Bangsal dan Bale yang ada di kawasan Sitinggil.

Kalau kita berjalan meninggalkan Pagelaran ke arah selatan, maka akan menemukan bangunan yang bernama Sitinggil atau Sitihinggil itu.

Bangunan yang secara harfiah berarti tanah yang ditinggikan. Karena dalam bahasa Jawa, siti berarti tanah dan hinggil adalah tinggi. Maka kita temui sekarang, bangunan Sitinggil benar-benar merupakan tempat yang lebih tinggi dibanding bangunan yang lain di sekitarnya. Bahkan  lingkungan ini pun dikelilingi oleh tembok tebal yang tinggi pula.

Dan konon makna dari bangunan Sitinggil merupakan perlambang berkembangnya kedewasaan manusia. Maka untuk menjabarkan ajaran itu, jalan dari Pagelaran menuju Sitinggil pun dibuat mendaki. Merupakan gambaran naiknya tingkat kejiwaan kita.

Jalan berundak ini bernama Kori Mijil, yang berarti pintu keluar. Dalam bahasa Jawa kori adalah pintu, dan mijil adalah keluar. Sebuah ajaran untuk mengingatkan kita, bahwa cermin kedewasaan jiwa adalah kemampuannya menjaga ucapan. Hingga dalam bertutur kata hendaknya apa yang keluar dari mulut kita hanyalah kebenaran dan kejujuran saja.

Kawasan Sitinggil lengkapnya bernama Sitinggil Binata Wrata. Bangunan yang didirikan Paku Buwono III pada tahun 1774 dengan candrasengkala ‘Siti Inggil Palenggahaning Ratu’. Sebuah kode hitungan tahun matahari yang secara kata berarti ‘tanah yang ditinggikan sebagai tempat bertakthanya raja’.

Selepas menapaki jalan berundak Kori Mijil, bangunan paling depan kawasan Sitinggil bernama Bangsal Sewayana. Yang pada jaman dulu merupakan tempat para pejabat menghadap raja. Juga merupakan aula untuk melaksanakan upacara kebesaran kerajaan.

Berada di tengah-tengah Bangsal Sewayana, terdapat bangunan bernama Bale Manguntur Tangkil. Inilah tempat singgasana raja bertakhta. Konon di bawahnya tertanam batu andesit yang merupakan takhta kebesaran Prabu Suryawisesa, sang Raja Jenggala.

Manguntur Tangkil berasal dari kata manguntur dan tangkil. Manguntur bermula dari kata mangun tutur, yang berarti membuat kata-kata indah atau memberikan sebuah ucapan rayuan. Sedangkan tangkil berarti tampil ke depan. Jadi secara harfiah, manguntur tangkil berarti memulai dengan kata-kata rayuan yang penuh keindahan.

Sebagai pribadi yang telah dewasa, merupakan saat yang diwajibkan untuk bisa mengolah asmara dalam sebuah pernikahan yang sakral. Karena dengan itu, kedua pribadi dewasa akan melahirkan keturunan bagi kelangsungan hidup mereka.

Hingga bisa dikatakan, kawasan Sitinggil merupakan bangunan yang maknanya mengajarkan kedewasaan. Dan Bale Manguntur Tangkil merupakan perlambang menuju ke arah itu. Karena setelah dewasa dan menikah, maka kehidupan rumah tangga sebagai suami istri pun dimulai. Merupakan saat bertemunya laki-laki dan perempuan yang tengah dianugerahi nikmat asmara.

Maka manguntur tangkil atau menampilkan rayuan adalah ajaran untuk saling mengungkapkan rasa cinta. Sebuah tuntunan membangkitkan asmara agar jiwa bersatu dalam membentuk generasi baru. Yang proses ‘ibadah terindah’ itu akan terasa lebih indah apabila didahului dengan saling menampilkan kata-kata indah atau cumbu rayu.

Berada di belakang Bangsal Manguntur Tangkil, sebuah bangunan bernama Bangsal Witana. Dahulu merupakan tempat berkumpulnya para abdi dalem yang membawa perangkat upacara kebesaran kerajaan.

Witana berasal dari kata ‘wiwitane ana’ yang berarti awal mula kehadiran manusia. Sebuah perlambang tentang permulaan kehidupan, yang dimulai dari tersedianya ‘benih’ dan ‘rahim’. Sebuah makna dari bertemunya benih dari perempuan untuk dibuahi oleh laki-laki. Yang proses itu menjadi wiwitane ana, atau awal hadirnya keturunan kita.

Melangkah lagi ke depan, terdapat sebuah bangunan bernama Bangsal Manguneng. Letaknya tepat berada di tengah-tengan Bangsal Witana dan Bangsal Sewayana.

Secara harfiah manguneng berarti mengheningkan cipta. Karena manguneng berasal dari kata mangun yang artinya membangun dan meneng yang berarti diam. Maka Bangsal Manguneng merupakan perlambang agar pribadi yang dewasa dalam membentuk keturunan baru, harus melalui proses mengheningkan cipta. Yakni untuk selalu meniatkan dan mendekatkan diri pada Tuhan, dengan makin memperbanyak doa.

Dari Bangsal Manguneng, kalau kita menoleh ke timur, akan bertemu dengan Bangsal Angun-angun. Kata angun-angun mempunyai arti sesuatu yang masih samar atau masih dibayangkan. Bangunan yang menjadi perlambang, bahwa membentuk keturunan baru adalah sebuah rencana yang  masih berada dalam harapan. Karena itulah, harus semakin giat mendekatkan diri pada Tuhan, bahkan memerlukan penguat iman.

Maka di barat Bangsal Sewayana, kita akan dapati sebuah bangunan bernama Bangsal Bale Bang. Bale Bang berasal dari kata nggebang yang artinya menegakkan. Sebuah ajaran untuk selalu menegakkan atau memperkuat keimanan. Harus mempertebal iman dalam membentuk pribadi yang masih diangankan sebagai keturunan kita.

Kemudian, berada di sebelah selatan Bangsal Witana kita dapati sebuah tembok tinggi memanjang bernama Kori Renteng. Sebuah tembok penghalang yang jika dilihat dari arah selatan, seluruh bangunan yang berada di Sitinggil tidak bisa kelihatan.

Karena Kori Renteng artinya pintu penutup. Sebuah bangunan yang merupakan kiasan dari usaha untuk selalu menutup atau menjaga rahasia keluarga. Bahwa sesuatu yang ada dalam rumah tangga kita, orang lain tidak selayaknya ikut mengetahuinya.

Cukup suami istri saja yang tahu apa cela dan kekurangan masing-masing. Karena bukan pribadi yang dewasa, ketika seorang suami masih suka mengeluhkan kekurangan istrinya. Dan bukan istri yang dewasa, ketika sangat gemar membeberkan kekurangan suaminya.

Maka Kori Renteng yang merupakan pintu penghalang dari arah utara kawasan Sitinggil, sangat tepat untuk menjadi pembelajaran. Bahwa kebersamaan menjaga rahasia, menghormati dan menghargai perbedaan adalah sebuah cermin sikap jiwa yang dewasa. Yang juga merupakan sebuah jalan untuk menjadi sebuah keluarga bahagia.

Karena hanya dari keluarga bahagia itulah yang akan melahirkan generasi yang berguna bagi sesama. Yang dari pertama membangun keluarga, sudah dimulai dengan sebuah kejujuran dan keterbukaan. Bahkan ketika membentuk dan merencanakan keturunan pun selalu diikuti dengan doa dan sepenuh mengheningkan cipta. Dengan selalu mendekatkan diri pada Tuhan untuk semakin mempertebal iman.

Maka selepas dari Sitinggil, sebagai jalan ke luar ke arah selatan, kita akan melewati sebuah pintu besar bernama Kori Mangu. Sebuah pintu yang bermakna untuk membuang segala sikap keragu-raguan atau kebimbangan. Sebab kori dalam bahasa Jawa adalah pintu, dan mangu artinya ragu-ragu.

Suatu ajaran untuk mengingatkan kita, bahwa ciri kedewasaan jiwa juga hendaknya tidak mudah digelisahkan oleh keraguan. Juga tidak gampang bimbang untuk meneruskan langkah peningkatan jiwa selanjutnya, menuju kesempurnaan kehidupan.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 26 Februari 2011 pukul 20:33

Catatan Kaki 59: Pagelaran Canda Pancawura Perkasa

Standar

 

“Kirain pagelaran musik! Taunya pagelaran mistik!”

Seorang remaja berseragam SMA tiba-tiba berbisik. Temannya yang disikut dan mendengar celetukan usil itu pun langsung terkikik.

Mereka berdua adalah rombongan study tour dari Jakarta, terbaca dari badge sekolah yang sempat kulihat pada lengan kanannya. Juga dari logat bicaranya yang terkesan cuek dan sangat mBetawi sentris. Dan saat itu, puluhan pelajar remaja itu tengah berada di Keraton Solo. Dipandu seorang guide yang menerangkan tentang bangunan yang sedang mereka kunjungi.

“Bangunan besar dan luas ini bernama Pagelaran Sasonosumewo. Mempunyai bentuk konstruksi atap yang dinamakan tridenta, artinya berjajar tiga dengan bagian tengah lebih kecil.”

Aku yang kebetulan sedang berada di tempat itu, turut mengikuti dari belakang rombongan study tour tersebut. Dengan sesekali pura-pura memotret detail bangunan besar itu, dari mulai tegel besar seukuran langkah orang dewasa, hingga pilar yang besarnya lebih dari satu rangkulan.

Padahal maksudku adalah untuk ikut nguping keterangan pemandu itu. Lumayan, daripada harus menyewa guide sendiri. Apalagi kedatanganku ke Pagelaran ini, hanya sekadar mencocokkan dengan apa yang telah kupelajari. Untuk melihat langsung bagian-bagian bangunan cagar budaya yang sudah pernah kubaca. Jadi sudah ada bekal sedikit pengetahuan sebelumnya.

“Sesuai dengan namanya, Pagelaran Sasonosumewo artinya adalah tempat menghadap raja. Karena pagelaran berarti sebuah tempat terbuka, sedangkan sasono adalah rumah, dan sumewo itu menghadap. Jadi fungsi bangunan ini pada jaman dulu adalah merupakan tempat menghadap raja, bagi Patih, Bupati, dan jajarannya ke bawah. Juga menjadi tempat raja mengumumkan ‘pratanatan’ dan ‘angger-angger’ atau hukum dan undang-undang keraton.”

”Kalau gue jadi raja nih, ya,” kembali kudengar remaja berambut kriwil itu berbisik pada teman di sebelahnya, “gue bakal bikin undang-undang baru.”

Aku yang berada tak lebih semester di belakangnya pun jadi ikut nguping bisik-bisik mereka.

Gue bakal ngumumin undang-undang baru. Yang melarang para guru buat ngerazia hape muridnya. Biar koleksi kita aman. Oke gak? Hehehehe.”

Dan teman yang berambut jingrak itu langsung menukas, “Dan para guru juga dilarang ngiri sama HP muridnya yang lebih canggih, gitu?”

Kedua remaja itu terkikik dan saling sikut, tanpa memehatikan guide yang tengah menerangkan fungsi-fungsi bangunan yang ada di sekeliling pagelaran.

Aku pun turut tersenyum mendengar kekonyolan mereka berdua.

Sementara sang guide yang tampil nJawani, dengan blangkon hitam menutup kepala, dan samir merah kuning melingkar di lehernya terus menerangkan. Bahwa konon, pada saat pertama kali dibangun, Pagelaran masih bebentuk sangat sederhana. Atapnya hanya terbuat dari anyaman bambu dengan tiang penyangga yang juga dari batang bambu. Lantainya pun hanya berupa hamparan pasir, hingga bangunan ini sering disebut dengan nama tratag rambat.

Penyempurnaan Pagelaran baru dilakukan pada masa Paku Buwono X, raja yang bertakhta sejak tahun 1893 hingga 1936. Diperkuat dengan 48 tiang penyangga cor beton yang kokoh. Yang juga menjadi peringatan 48 tahun umurnya saat membangun Pagelaran tersebut, pada tahun 1913. Sama seperti tanda plenthon yang ada pada gapura Gladhag, yang juga berjumlah 48 buah.

“Namun bangunan yang kita lihat sekarang, bukan asli yang dibangun pada tahun 1931 dulu. Melainkan hasil perehaban pada tahun 1997 sampai 1998. Karena Pagelaran yang telah berumur 85 tahun waktu itu, telah menjadi bangunan tua yang kurang terawat, hingga kondisinya rusak parah. Atapnya yang hanya terbuat dari seng lembaran membuat bocor tak terhindarkan. Lantai yang basah dan menggenang ketika hujan datang, makin memperparah kerusakan bangunan.”

Aku yang ikut mendengarkan, turut prihatin dengan bangunan bersejarah itu. Karena konon, kerusakan bertambah ketika Pagelaran ini dipinjam untuk kantor dan perkuliahan Universitas Gabungan Surakarta (UGS) pada tahun 1975. UGS merupakan universitas hasil peleburan sejumlah akademi dan perguruan tinggi swasta dengan IKIP Negeri Surakarta. Yang kemudian menjadi cikal bakal kampus terbesar di Solo sekarang, yakni Universitas Sebelas Maret (UNS).

Konon plafon yang awalnya memang sudah lapuk, sebagian di antaranya menjadi sobek dan berlubang karena banyaknya paku yang menancap di seluruh bagian. Bangunan Pagelaran yang berupa aula terbuka itu, ketika dijadikan tempat perkuliahan, dibuat sekat-sekat kelas, menggunakan tiang-tiang kayu berpalang untuk membentuk ruangan. Hingga setelah papan-papan itu dilepas, bekas paku itu makin merusak bangunan yang memang sudah rapuh.

Bahkan setelah UNS pindah ke kampusnya sendiri di Kentingan, dua bangunan kembar bernama Bangsal Martolulut dan Bangsal Singanagara di belakang Pagelaran tinggal tersisa lantai pondasinya saja. Saat masih menjadi tempat perkuliahan, bangsal itu dimanfaatkan sebagai ruang percetakan. Dan bekas jaringan kabel listrik yang saling menyambung semrawut, membuat bangunan tua itu sangat beresiko tinggi untuk kebakaran.

“Baru pada 27 Oktober 1997, Pagelaran ini direhab seperti yang kita lihat sekarang ini. Setelah diadakan penelitian oleh UGM dan UNS, untuk mengembalikan keraton Kasunanan sebagai pusat kebudayaan. Sebuah pemugaran besar-besaran yang menghabiskan dana 2,25 Milyar.”

Sang guide sibuk menjelaskan dengan ramah pada rombongan abege gaul, yang aku tak yakin mereka benar-benar memerhatikan yang diterangkan.

Dan aku terus mengikuti ke mana pemandu itu menjelaskan sambil berjalan ke seluruh ruangan. Dengan terus berpura-pura memotret seluruh konstruksi bangunan yang ada. Termasuk sebuah bangunan yang berada tepat di tengah Pagelaran, yang disebut Bangsal Pangrawit.

Bangunan berupa rumah joglo kecil dengan 4 batang kayu jati tua berukiran kasar, yang konon peninggalan Kraton Jenggala. Di bawahnya tertanam sebuah batu andesit hitam, yang diyakini sebagai bekas batu singgasana Raja Majapahit, Hayam Wuruk.

Jaman dulu, Bangsal Pangrawit merupakan singgasana Raja ketika menerima laporan Patihnya. Namun sekarang sepertinya sudah tidak berfungsi, karena pada sekelilingnya dibuat pagar pembatas. Dan tepat di depannya terdapat papan bertulisan: ‘Dilarang Bermain di Pendopo’.

Saat membaca tulisan aku sempat tersenyum. Karena tepat di bawah papan pengumuman itu, kulihat seorang gelandangan tengah tertidur dengan nyenyaknya. Dan bukan hanya di depan Pangrawit saja, tapi hampir di setiap bagian Pagelaran, banyak orang yang tidur terlelap.

“Tidur itu bukan bermain, jadi mungkin boleh,” batinku sambil masih tersenyum.

Setelah memotret semua sudut Bangsal Pangrawit, aku mendekat kembali ke rombongan. Dan mereka tengah dibawa oleh guide ke luar ruangan, menuju ke sebuah meriam besar yang terpasang di sebelah timur halaman Pagelaran.

Aku pun ikut ke sana, dan kembali berpura-pura memotret meriam yang sangat besar itu. Yang dari papan nama di bawahnya terbaca namanya: Kyai Pancawura.

Pancawura berarti angin besar atau prahara,” sang pemandu kembali menjelaskan,” Namun ada juga yang menyebutnya dengan nama Kyai Pancawara, atau lima suara. Karena ketika dibunyikan, meriam itu sanggup mengalahkan kekuatan suara lima meriam lainnya. Dan karena bentuknya yang sangat besar, orang-orang menamakannya dengan Meriam Kyai Sapu Jagat.”

Aku yang hendak memotret meriam besar itu dari arah samping, mendadak mengurungkan. Karena remaja kriwil yang suka komen usil itu kembali berbisik pada temannya, “Wah si bapak ini payah. Jadi yang bener mana nih? Ini meriam apa sapu?”

Karena tak kuat menahan senyum terus mendenger kekonyolannnya, aku pun mundur menjauh dari mereka. Aku bergeser pindah tempat, namun tak terlalu jauh dari rombongannya. Tentu, agar masih bisa ikut mendengarkan penjelasan guide itu dengan tanpa bayaran.

“Setiap pengunjung yang datang ke Pagelaran, tak pernah melewatkan untuk mengusap meriam ini. Maka meskipun ini benda peninggalan lama, bentuknya sangat halus dan mengkilat karena sering diusap tangan. Sebab ada mitos yang mereka percayai, bahwa barang siapa yang bisa menangkupkan dua tangannya pada moncong meriam ini, maka orang itu akan beruntung.”

Mendengar penjelasan itu aku jadi ketularan usil, seperti remaja berambut kriwil itu. Aku pun membatin,“Ya iya lah, kalau memasukkan kepalanya ke moncong baru nggak beruntung!”

Setelah rombongan pergi meninggalkan meriam Kyai Pancawura, baru aku mendekatinya. Untuk memotret dari dekat meriam terbesar di keraton Solo ini. Yang sebelumnya, karena penjelasan dari pemandu, telah membuat beberapa remaja Jakarta itu pun ikut-ikutan mencoba peruntungan. Dengan berebut menangkupkan kedua tangannya pada moncong meriam.

Dari buku yang pernah kubaca, nama Pancawura sesungguhnya adalah sandi untuk tahun pembuatan meriam ini. Yaitu singkatan dari pandhita carem wuruking ratu. Dalam hitungan candra sengkala, sandi itu terbaca sebagai angka 1567. Yang berarti meriam tersebut di buat pada tahun Jawa 1567 atau 1645 Masehi.

Sedang asyik-asyiknya memotret, aku merasa ada seseorang yang tengah mendekatiku. Yang ketika kulirik sekilas, ternyata seorang ibu-ibu berdandan menor yang telah menjajariku.

“Dilihat dulu, Mas. Dibaca-baca dulu keterangannya,” ucapnya kemudian, yang ternyata hendak memromosikan barang dagangannya, yang berulang kali disodorkan padaku

Namun aku yang asyik memotret meriam peninggalan Raja Mataram, Amangkurat Agung itu tidak memedulikannya. Bahkan telah tiga kali kutolak dengan halus barang yang ia tawarkan.

Tapi ibu penjual itu sepertinya sangat bersemangat menawarkan, “Dilihat dulu barangnya, Mas. Dibuka bungkusnya, siapa tahu tertarik. Khasiatnya terbukti manjur, sudah banyak yang membuktikan. Bisa membuat seperti meriam Sapujagat itu lho, Mas.”

Aku pun kembali menyunggingkan senyuman untuk melakukan penolakan.

Dan aku tiba-tiba ternganga ketika tak sengaja melihat barang yang dipegang ibu penjual itu.

Sebuah kotak berwarna merah menyala yang sekilas kulihat ada gambar sosok lelaki perkasa. Dengan tulisan besar berwarna kuning keemasan: OBAT KUAT LELAKI SEJATI!

Astaghfirullah!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 25 Februari 2011 pukul 17:33

Catatan Kaki 57: BTC atau Bathangan Trade Centre Atau Pusat Perbelanjaan Yang Terletak Di Tempat Bangkai

Standar

 

BTC atau Bathangan Trade Centre artinya adalah pusat perbelanjaan yang terletak di tempat bangkai.

Dan aku kemarin baru saja berziarah dari tempat itu. Sebuah nama yang mengusikku sekian lama, sejak aku SD di kelas lima.

Ketika SD dulu, aku banyak belajar dari buku yang kupinjam di perpustakaan. Buku-buku pelajaran itu kubawa pulang, untuk teman belajarku di rumah. Dan kurasa, buku bantuan pemerintah itulah yang sangat membantuku bisa berprestasi di sekolah.

Karena seringnya membuka buku itu, aku sampai hafal seluruh tulisan di tiap halamannya. Bahkan sampai tulisan nama penerbitnya, yang bisa kulihat dari sampul belakang buku-buku tersebut. Salah satu yang masih kuingat adalah Penerbit Pabelan, sebuah penerbit buku pelajaran dari Solo.

Sejak itu, nama Pabelan terkenang di ingatanku, bahkan sampai dewasa. Hingga sepuluh tahun kemudian aku ke Solo, dan menemukan kantor penerbit itu. Berdiri megah di tepi jalan Jogja-Solo, di sebuah kampung bernama Pabelan.

Dan nama Pabelan pun semakin lekat di hati, karena setelah satu tahun bekerja, aku pindah ke kos di sebuah perumahan yang berada di kampung Pabelan. Letaknya di sebelah utara penerbit Pabelan, tepat di belakang komplek kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dengan beberapa mantan karyawan penerbit Pabelan, aku kemudian mendirikan usaha penerbitan.

Namun aku berdiam di kampung Pabelan hanya bertahan 4 tahun, karena harus pindah kontrakan. Rumah yang aku kontrak selama 2 tahun, dan baru kutempati 1 tahun mendadak dijual oleh pemiliknya karena bisnisnya bermasalah. Konon, untuk menutupi tanggungan hutang, ia jual mobil, tanah, dan rumah yang kutempati.

Aku pun pindah ke arah selatan, ke sebuah kampung bernama Gembongan. Dan sampai hari ini, aku betah berdiam di kampung ini. Dengan ketentraman yang lebih nyaman dibanding ketika masih di Pabelan, yang berada di batas kota Solo.

Dan nama Pabelan itu membuatku terkenang pada Raden Joko Pabelan. Sebuah nama yang pada waktu SD kutemukan dalam sebuah pagelaran kethoprak tobong.

Diceritakan dalam panggung kethoprak, Pabelan adalah seorang anak tunggal Tumenggung Mayang. Pemuda rupawan yang suka sekali memikat para perawan dengan paras ketampanannya. Telah banyak gadis-gadis yang terpikat dan merelakan kehormatannya. Bahkan juga istri-istri pejabat yang dibuat tergila-gila kepadanya.

Sang ayah sangat tidak suka dengan perilaku anaknya tersebut. Yang dianggap bisa menurunkan kewibawaannya, sebagai seorang tumenggung bawahan Kerajaan Pajang.

Telah berkali-kali Pabelan dinasehati ayahnya, agar menghentikan kebiasaannya. Menodai banyak gadis dan istri pejabat. Bahkan juga ditawari untuk segera menikah, dengan putri pejabat mana pun. Asal bisa berhenti dari kebiasaannya merenggut kehormatan para perawan, dan merusak kebahagiaan rumah tangga orang.

Tapi Pabelan menolak segala tawaran untuk melakukan pinangan. Ia tetap menyukai hidup melajang sebagai seorang kumbang jalang. Yang terus menghisap madu sari dari sebanyak mungkin kembang di kadipaten Pajang.

Tumenggung Mayang sangat jengkel dan marah pada anak tunggalnya. Yang semakin hari bertambah mencemarkan nama baiknya. Hingga saking marah dan bingungnya menghentikan kebejatan Pabelan, ia pun menantang Pabelan anaknya.

“Kalau engkau merasa seorang perayu yang hebat, jangan kepalang tanggung. Jangan hanya perempuan desa dan istri-istri pejabat yang kau berikan rayuan. Tapi cobalah kau taklukan hati Sekar Kedaton Ratu Hemas sang putri Sultan Pajang. Kalau kamu berhasil memikatnya, barulah kau boleh berbangga. Kau akan menjadi pembicaraan rakyat Pajang, dan akan tersohor namamu. Menikahi putri terkasih seorang raja terbesar di Tanah Jawa. Tidak seperti sekarang, hanya menjadi pergunjingan karena perbuatan nistamu yang selalu mengganggu anak dan istri orang.”

Dengan senyum jumawa, Pabelan pun menerima sindiran ayahnya yang bernada tantangan. Ia akan membuktikan kemampuannya dalam memikat hati perempuan. Dan akan dibuktikan keampuhan rayuannya.

Hanya saja, ia mempunyai kendala, “Tapi bagaimana aku bisa bertemu dengan putri Sekar Kedaton, yang tak pernah keluar dari kaputrennya?”

Dengan senyuman Tumenggung Mayang memberikan pertolongan, “Putri Sekar Kedaton terkenal sangat menyukai bunga. Dan tiap hari, embannya selalu datang ke pasar untuk mencari kembang segar bagi putrinya. Kau temuilah emban itu di pasar, dan berikanlah kembang untuk tuan putrinya.”

Tumenggung Mayang pun membekali sang anak seikat bunga cempaka, untuk jalan mendekati sang putri raja. Dan rencana itu pun dijalankan oleh Pabelan, untuk bisa berkenalan dengan Sekar Kedaton. Bunga cempaka yang telah diberi mantra pengasihan oleh ayahnya, dititipkan Pabelan pada emban putri raja Pajang tersebut.

Dan lancarlah rencana Tumenggung Mayang untuk sang anak tunggal tersebut. Karena keesokan harinya si emban menyampaikan pesan tuan putrinya, yang bermaksud mengundang Pabelan datang ke keputren Pajang.

Pabelan pun meminta kembali bantuan ayahnya, “Kerajaan Pajang sangat tinggi dan tebal temboknya. Tak mungkin bisa masuk, kalau harus meloncat. Dan tak mungkin diijinkan prajurit jaga, kalau melewati gerbangnya. Bagaimana caranya, ayah?”

Tumenggung Mayang memberikan jalan,” Tembok Pajang akan ayah turunkan dengan kekuatanku. Setelah itu kau bisa meloncat, dan tembok aku kembalikan semula. Dan hafalkan mantraku, ketika nanti kau akan kembali meninggalkan kaputren, agar tembok itu memendek kembali.”

Dengan mantra Tumenggung Mayang, tembok benteng Pajang pun bisa diloncati Pabelan. Dan malam itu ia pun berhasil menebarkan rayuannya. Sang putri kerajaan Pajang berhasil takluk bahkan tergila-gila kepadanya. Pabelan akhirnya bisa asyik masyuk dengan sang putri Sekar Kedaton, anak Joko Tingkir dari seorang istri selir.

Paginya, Pabelan ingin keluar dari kaputren Pajang. Rapal mantra dari ayahnya dibacakan untuk bisa menundukkan benteng keraton. Namun berkali-kali dibaca, benteng tembok tebal yang melingkari kawasan keraton tak juga menunduk. Karena tanpa sepengetahuan Pabelan, sebenarnya Tumenggung Mayang tak memberikan mantra yang sebenarnya. Dan menantang Pabelan untuk menaklukan hati Sekar Kedaton hanyalah cara untuk memberi pelajaran baginya, yang tak bisa lagi mendengarkan nasehatnya.

Karena tak bisa keluar dari kaputren, akhirnya Pabelan berdiam di kamar Sekar Kedaton. Dan berhari-hari Sekar Kedaton tak keluar kamarnya. Asyik bercengkerama dengan Pabelan, yang telah membuatnya tergila-gila. Karena mantra pengasihan dari bunga cempaka yang telah diterimanya.

Karena hampir sepekan Sekar Kedaton tak keluar kamar, hal itu mengundang curiga dari para emban pengasuhnya. Apalagi sempat terlihat, ada sosok laki-laki berada di kamarnya. Kecurigaan itu dilaporkan sang emban pada prajurit jaga, yang kemudian disampaikan pada sang Sultan Hadiwijaya, ayah Sekar Kedaton.

Amat marah Sultan Hadiwijaya sang Joko Tingkir ketika mengetahuinya. Raja Pajang itu langsung memerintahkan Tumenggung Surakerti untuk menangkap lelaki yang berada di kaputren. Kawasan yang seharunya tak boleh ada seorang pun laki-laki berada di sana.

Pabelan pun langsung ditangkap oleh prajurit Pajang. Dan tanpa ampun lagi, ia langsung digelandang keluar keraton. Dan tanpa perlawanan, puluhan prajurit  segera menghujaninya dangan tusukan keris di dadanya. Dan matilah Pabelan seketika dengan bersimbah darah.  Setelah itu, mayatnya dibuang ke Kali Laweyan.

Mayat pemuda yang hanyut itu terus terbawa arus ke arah timur. Hingga melewati aliran Sungai Pepe yang letaknya di timur desa Solo. Di situlah mayatnya tersangkut akar-akar pohon di pinggiran sungai.  Oleh Ki Gede Solo, sesepuh desa yang pertama melihatnya mencoba untuk mendorongnya ke tengah agar terbawa arus ke Bengawan Solo.

Tapi tiap didorong, selama tiga hari berturut-turut, esok paginya mayat tersebut tetap kembali ke tempatnya. Tetap menyangkut di akar-akar pohon pinggiran sungai. Seolah sebuah pertanda, bahwa ia ingin dimakamkan di desanya. Maka mayat Pabelan pun dimakamkan olehnya, tak jauh dari tempat jasadnya tersangkut, di barat desa Solo.

Tempat pembunuhan Raden Pabelan, konon yang sekarang menjadi nama kampung Pabelan. Sementara tempat dibuangnya mayat, diabadikan menjadi kampung Gembongan. Gembongan berarti tempat mayat, karena berasal dari kata gembung, yang dalam bahasa jawa berarti mayat. Dan letaknya di sebelah utara dari kampung yang sekarang bernama Mayang, yang dulu menjadi kadipaten Tumenggung Mayang.

Sedangkan tempat tersangkutnya mayat Pabelan sekarang bernama kampung Sangkrah. Berasal dari bahasa Jawa sangkrah yang artinya tersangkut. Kemudian tempatnya dikuburkan sekarang bernama kampung Bathangan. Berasal dari bahasa Jawa bathangan yang berarti tempat bangkai.

Sampai sekarang, kuburan Pabelan pun dikenang orang sebagai makam Kyai Bhatang. Dan banyak yang mendatanginya, untuk meminta berkah. Untuk mendapatkan ajian pengasihan, seperti yang dulu dimiliki Raden Joko Pabelan.

Dan kemarin aku baru datang ke sana. Setelah lama penasaran mencarinya, dan kesulitan untuk menemukan tempatnya. Karena makam itu ternyata berada di sebuah tempat yang tak pernah kukira sebelumnya. Yakni berada di tengah-tengah areal pusat perbelanjaan Benteng Trade Centre. Tepat berada di belakang kawasan pusat niaga tersebut.

Pusat perbelanjaan itu dinamakan Beteng Trade Centre, karena letaknya persis di selatan Benteng Vastenburg. Orang Solo memang menyebut ‘benteng’ dengan nama ‘beteng.’

Dan dalam perjalanan pulang, aku sempat tercenung. Karena di areal itu terdapat makam Kyai Bathang, bagus juga kalau diganti menjadi Bathangan Trade Centre. 

oleh Nassirun Purwokartun pada 22 Februari 2011 pukul 22:47