Tag Archives: cheng yen

KENANGAN RAMADHAN 1: JALAN MENDAKI

Standar

Jalan Sendiri

telah kupilih jalan sendiri 

jalan mendaki 

 

Sore ini, aku terkenang penggal puisi yang pernah kutulis belasan tahun silam itu. Tentang pilihan hidup yang saat itu akan aku tentukan, untuk berjalan sendiri. Tentang pilihan jalan yang harus aku tentukan, memilih jalan mendaki. Itulah jalan spiritual yang ingin kulalui. Sebuah perjalanan panjang menemukan diri sendiri.

Perjalanan yang segera kumulai hari itu juga, sepekan sebelum Ramadhan, saat aku memancangkan niat dalam diri. Setelah berbelas tahun merasakan kegelapan yang panjang. Kegelapan yang telah membuatku merindukan terang. Saat pengap sangat kurasakan. Hingga aku tersadar untuk  segera menuju terang. Minadhdhulumatil illa nur.

Telah kupilih jalan mendaki, jalan untuk menemukan diriku sendiri. Harus segera kumulai. Kata bijak mengatakan ‘perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan langkah pertama…’.

Kusebut jalan itu mendaki, karena memang bukan jalan yang lurus datar saja. Namun, sebuah jalan yang konon penuh liku tanjak dan onak duri. Benar-benar sebuah jalan yang belum pernah kutempuh. Sebuah perjalanan kembali, sesuatu yang kadang lebih berat untuk dilakukan.

“Dimulai dari memahami satu langkah, perlahan-lahan engkau akan memahami seribu langkah. Setelah itu engkau akan melihat Jalan dan akan diliputi rasa percaya diri. Hal yang lebih menakutkan adalah bila engkau tidak memahami hakikat diri sehingga terjebak dalam kebingungan dan penderitaan.” Begitu kata Cheng Yen pernah kuhafalkan.

Ya, aku memulainya dengan memahami langkah pertama. Agar perlahan-lahan aku akan memahami langkah-langkah berikutnya. Yang penting adalah mengawali langkah pertama. Karena yakin, setelah melangkahlah akan bertemu Jalan.

Ketakutan adalah ancaman yang selalu membayang sebelum melangkah. Keberanian untuk melangkah adalah sebuah kemenangan. Atau kalau tidak, awal dari sebuah kemenangan.

Sore ini aku terkenang saat pertama aku mulai melangkahkan kaki. Seperti juga ibadah yang lain, shalat atau pun wudhu, langkah pertama adalah niat. Saat itu, aku pun mantap berniat. Betul-betul berniat untuk kembali menjadi diri yang sebenarnya. Biarlah hari kemarin aku hanya begitu-begitu saja. Biasa-biasa saja. Namun dengan menempuh jalan sunyi, jalan sendiri, jalan mendaki, akan yakin akan ketemu Jalan sejati.

Tak terasa, peristiwa “langkah pertama” dan “kemantapan niat” itu telah lewat belasan tahun lamanya. Yang artinya, belasan tahun pula aku menyusuri jalan mendaki ini.

Maka doaku hari ini, kuatkan terus kaki ini, menapak di Jalan ini. Aamiin.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Juli 2012 pukul 17:28