Tag Archives: datang ke

Melodi Sunyi 8: ….. antara kita, mati datang tidak membelah

Standar

Suatu hari di tahun 1943, datanglah ia ke redaksi Panji Pustaka.

Dan pada hari itulah, dia bertemu dengan Jasin untuk yang pertama kalinya.

Dalam pandangan Jasin, dia seorang pemuda kurus pucat, dengan baju tak terurus, mata merah agak liar,  bahasa wajah seolah tengah berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti tingkah orang yang tak mudah peduli.

Dia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Panji Pustaka. Namun didapatnya jawaban bahwa sajak-sajaknya tak mungkin dimuat. Kata pemimpin redaksinya, puisinya tak ada harganya.

“Sajak-sajaknya sangat individualistis. Yang lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan pribadi pengarangnya saja. Kiasan-kiasannya terlalu Barat.”

Namun penolakan itu tak menyurutkan langkahnya dalam menulis puisi. Dia tetap menulis, dia tetap mengirimkan, tak peduli cibiran orang, tak peduli penolakan pemuatan. Dan dia pun mulai bergaul dengan para seniman di Jakarta. Baik para penyair, sastrawan, pemain teater, hingga para pelukis.

Ketika pemerintah Jepang mendirikan Keimin Bunka Sidhoso (Kantor Pusat Kebudayaan) pada 1 April 1943, dia sering datang ke sana. Berbincang-bincang dengan Armijn Pane, ketua bagian kesusastraan di kantor tersebut. Dari lingkungan pergaulan seniman itulah, namanya mulai muncul dan dikenal banyak kalangan.

Pada pertengahan Juli 1943, mestinya dia akan berbicara di Forum Angkatan Muda. Namun batal tampil, karena saat itu ia ditangkap oleh polisi rahasia Jepang. Kasusnya, pencurian buku.

Ya, dia adalah orang yang sangat besar minat bacanya pada sastra-sastra Barat, namun uang selalu tak dimilikinya. Maka mencuri buku di toko kemudian menjadi hobinya. Hingga kamar sumpeknya penuh dengan buku-buku sastra, dari Barat hingga Timur. Dari WH. Auden, RM. Rilke, E Du Peron, John Cornford, Conrad Aiken, sampai Hsu Chih Mon. Namun sepandai-pandainya pencuri buku melompat, suatu saat tertangkap polisi Jepang juga.

Yang paling konyol adalah ketika ingin mencuri buku Nietzhe yang berjudul ‘Zarathustra’. Sebuah buku yang telah lama diidamkan, sebuah buku tebal bersampul hitam yang akan segera dimilikinya, tentu saja dengan jalan mencurinya. Maka dengan tampang datar ia datang ke toko buku. Matanya tajam mengawasi para pelayan toko dan pengunjung yang ada. Sementara tangannya sibuk mengambil buku di rak, untuk kemudian memasukkannya ke balik bajunya.

Pencurian berhasil sempurna, tanpa ada pelayan yang melihatnya. Hanya kekagetan ketika ia membuka buku itu di rumahnya. Karena yang telah dicuri bukan buku karya besar Nietsche, melainkan kitab injil.

“Habis sama-sama tebal, dan bersampul hitam sih!” umpatnya ketika bercerita di depan teman-temannya. Sebuah kesialan yang langsung menjadi bahan olok-olokan di antara mereka.

Aku pernah datang ke Paron, Ngawi. Karena kebetulan ada temanku yang asli sana, menikah. Dan ternyata dia juga pernah punya pacar seorang gadis asal Paron. Gadis jelita yang mempunyai hobbi melukis. Sumirat, namanya.

Perkenalan terjadi ketika di pantai Cilincing, Jakarta Utara. Ketika itu dia sedang duduk bersandar di sebatang pohon kelapa, dengan ditemani buku bacaan yang setebal bantal. Mula-mula Sumirat tidak memperhatikannya. Tapi beberapa kali melewatinya, melihat ketekunan dia membaca dan tanpa peduli sekelilingnya, membuatnya heran. Aneh, pikirnya. Orang lain datang ke pantai untuk bersenang-senang, dia malah lebih asyik tenggelam bersama buku-bukunya.

Pertemuan pertama itu ternyata membekas di hati Sumirat. Dalam perjalanan pulang, pikirannya tak lepas dari bayangan sosoknya. Dikhayalkannya apa yang sedang bermain dalam angannya. Sikapnya yang acuh dan masa bodoh serta tak ambil peduli dengan perhatiannya, justru semakin membuat Sumirat tertarik.

Di Jakarta, Sumirat menumpang hidup di tempat saudaranya yang menjadi hakim. Pada suatu hari, saudaranya tersebut bercerita, bahwa ia baru bertemu dengan orang yang pernah ditemuinya di pantai Cilincing.

Orang tersebut sedang berurusan dengan pengadilan, karena dituduh mencuri. Dia kena denda, namun karena tak mempunyai uang, akhirnya dipenjara lebih lama. Maka Sumirat yang mendengar kabar itu segera minta pada saudaranya, agar bias membebaskannya. Dan Sumirat yang bersedia akan membayarkan dendanya.

Dan benar adanya, akhirnya dia pun bebas. Karena ternyata keesokan harinya dia sudah datang ke tempat Sumirat. Kunjungan itu ternyata bersambut berpanjangan. Sumirat benar-benar tertarik padanya. Dan mereka pun akhirnya berpacaran.

Sumirat yang hobi melukis, di Jakarta bergabung dengan galeri milik Basuki Abdullah. Dan dia sering datang ke tempat itu untuk menemani pacarnya melukis.

Sambil menemani, sering kali dia membacakan puisi-puisinya yang romantis. Yang memang diciptakan untuk Sumirat.

 

hidup dari segala hidupku pintu terbuka

selama matamu bagiku menengadah

selama kau darah mengalir dari luka

antara kita, mati datang tidak membelah

 

buat Miratku, ratuku

kubentuk dunia sendiri

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati

di alam ini

 

Suatu hari dia ingin mengajak Sumirat menonton film. Dijemputlah sang pacar di galeri tempatnya belajar. Dia sudah berpakaian necis, bercelana putih berkemeja putih. Maka begitu melihat jas putih Basuki Abdullah tersampir di kursi, dia langsung mengenakannya. Hingga semakin trendilah penampilannya.

Kemudian digandenglah Sumirat dengan penuh kebanggaan. Hingga membuat teman-teman seniman berdecak kagum padanya, karena memang Sumirat manis dan cantik, serta banyak seniman lain yang naksir.

Setelah menonton film, pulanglah Sumirat ke rumah saudaranya. Sementara dia, kembali ke galeri Basuki Abdullah untuk memmbanggakan diri dan membawakan teman-temannya makanan dari tempatnya makan malam. Berceritalah dia bagaimana asyiknya menonton film dan mengajak Sumirat makan di restoran.

Semua teman-teman seniman dan Basuki Abdullah sendiri mendengarkan dengan semangat. Apalagi dia membawa banyak makanan enak dari restoran tempat dia sudah makan malam bersama Sumirat.

Seminggu kemudian Basuki Abdullah yang akan mendatangi acara, menanyakan jas putih yang dipinjamnya.

Dengan enteng dia menjawab; “Sudah masuk ke perut kamu dan teman-teman. Memangnya dari mana aku punya uang untuk mentraktir Sumirat nonton dan makan?”

Ternyata dia telah menjual jas pinjaman itu ke pasar loak.

 

13  April , sepuluh tahun lalu

oleh Nassirun Purwokartun pada 14 April 2011 pukul 17:36

Iklan

Catatan Kaki 76: Setelah Tak Lagi Menikmati Perpustakaan dan Punya Uang Jajan

Standar

Waktu SMP, aku lebih sering nyepi di perpustakaan daripada nongkrong di kantin sekolahan.

Tentu karena aku memang tidak seberuntung teman-teman yang bisa berbahagia dengan punya cukup uang jajan. Hinga sebelum jam masuk sekolah berdetang, mereka sudah berebutan kursi di kantin sambil riuh dalam obrolan. Begitu pun ketika jam istirahat tiba, semua berlarian kantin depan atau belakang sekolahan, untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak sedang kelaparan.

Sementara aku, hanya sesekali saja datang ke kantin, ketika betul-betul lapar. Misalnya ketika setelah pelajaran olahraga, yang memang banyak mengeluarkan tenaga. Hingga persediaan makanan di perut mungkin telah habis dipakai untuk ngonthel sepeda ketika berangkat sekolah. Dan habis tenaga untuk terus berkonsentrasi menyimak pelajaran. Belajar pada jam yang sebenarnya lebih asyik untuk tidur siang daripada mengunyah mata pelajaran.

Maka beruntunglah mereka yang punya uang jajan. Hingga jajan di kantin adalah salah satu cara untuk menghilangkan kantuk yang sering tak tertahan. Misalnya dengan makan soto dengan sambal yang sangat pedas. Atau makan gorengan, dengan lombok yang melebihi takaran.

Sementara aku harus berpikir dua kali kalau harus datang ke kantin. Sebab uang jajanku memang sangat sedikit, tak mungkin untuk membayar semangkok soto ayam. Dan uang  yang sedikit itu memang sedang kukumpulkan. Yang tiap Minggu pagi, kubawa ngonthel sepeda ke kota, untuk kubelikan majalah-majalah loakan.

Waktu itu, karena sekolahku kekurangan ruang kelas, maka jam masuk belajar dibagi dua. Untuk kelas dua dan tiga masuk pagi, sementara yang kelas satu masuk siang. Karena masuk siang itulah membuatku punya banyak waktu untuk berlama-lama di perpustakaan.

Sesuai peraturan, sebenarnya kelas satu masuknya jam satu siang. Tapi aku sengaja berangkat lebih awal dari rumah. Jam sebelas aku sudah mandi, makan siang, dan setengah dua belas langsung ngonthel sepeda. Sebelum sampai sekolahan, aku mampir masjid yang terlewati untuk dhuhuran.

Sesampai di sekolahan, anak kelas dua dan tiga belum keluar. Aku sudah masuk ke perpustakaan.  Sambil menunggu jam masuk, aku gunakan untuk membaca buku sebanyak-banyaknya. Karena memang peraturannya hanya boleh baca di tempat. Tak boleh dibawa pulang.

Namun dari waktu yang satu jam tiap hari itu, aku jadi banyak mengunyah buku-buku sastra dan sejarah. Bacaan yang sudah menjadi kesukaanku sejak SD, ketika setiap hari numpang membaca di ruang kepala sekolah. Hanya yang sekarang kubaca, bukan lagi buku-buku produk inpres dari pemerintah. Tapi banyak buku sastra terbitan Balai Pustaka yang berbentuk roman, yang kemudian judul-judulnya dikenalkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Karena setiap hari ada di perpustakaan, ternyata ada seorang guru kelas dua yang memperhatikanku. Beliau sebenarnya guru olahraga, tapi ternyata menyukai sastra. Setelah berkenalan, aku sering diajaknya ngobrol sebelum beliau pulang mengajar. Setelah sering bercakap-cakap di perpustakaan, kemudian pak guru tersebut menawari buku sastra untuk kubaca. Buku-buku sastra terbaru, yang bukan terbitan Balai Pustaka, yang tak ada di perpustakaan sekolahku.

Aku masih ingat, buku pertama yang dipinjamkan padaku waktu itu adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel trilogi karya Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas yang ternyata guru dari guru olahraga itu. Dan itulah buku sastra pertama yang kubaca, selain yang roman Balai Pustaka yang telah kubaca di perpustakaan.

Dari guru olahraga itulah kemudian makin banyak nama sastrawan yang kukenal. Aku mulai mengenal nama Umar Kayam, Goenawan Mohamad, dan Emha Ainun Nadjib, dan nama sastrawan lain yang nama tak kutemukan dalam buku pelajaran.

Dari buku-buku itulah, aku jadi tertarik untuk menulis seperti tulisan mereka. Ingin menulis novel dengan latar Banyumas yang memikat seperti karya-karya Ahmad Tohari. Ingin menulis kolom yang memikat dan nikmat seringan tulisan Umar Kayam. Ingin menulis kolom yang cerdas serumit kalimat Goenawan Mohamad. Ingin menulis puisi yang menyentuh hati seperti renungan-renungan kehidupan Emha Ainun Nadjib yang menggugah.

Bahkan aku kemudian mengidolakan mereka. Seolah merekalah guru menulisku, guru imajinerku, yang mengajariku menulis dengan tulisan-tulisan mereka.

Dan aku membayangkan, mereka benar-benar ada ketika aku sedang menulis. Ketika belajar menulis cerpen yang akan kukirimkan ke majalah, seakan-akan Ahmad Tohari berada di belakangku memperhatikan dan memberikan dukungan. Begitupun yang kurasakan ketika sedang belajar menulis kolom dan  puisi untuk kupasang di mading. Seakan-akan Umar Kayam, Goenawan Mohamad dan Emha Ainun Nadjib bediri sambil menepuk-nepuk punggungku.

Sungguh waktu itu, aku seperti seorang Bambang Ekalaya yang belajar memanah hanya dengan ditemani patung Pandita Durna, guru imajinernya. Aku pun demikian. Belajar menulis dengan ditemani buku-buku karya sastrawan besar Indonesia, sebagai guru khayalanku.

Maka sekarang aku bersyukur karena tak punya uang jajan. Hingga lebih sering ke perpustakaan daripada ke kantin sekolahan. Andai aku punya banyak uang, mungkin hanya perut yang kukenyangkan dengan soto dan gorengan. Bukan otak yang kuasah dengan bermacam pemikiran dan perasan perasaan para sastrawan besar.

Dan kesenangan itu berlanjut ketika kemudian aku di STM. Di usia remaja itu, aku pun lebih sering menyendiri di pojok perpustakaan, daripada menggerombol di pinggir jalan. Berkumpul dengan teman-teman dengan saling bercanda dan belajar merokok sebelum jam masuk sekolah. Atau pun menggoda cewek-cewek SMA yang lewat sepulang sekolah.

Namun anehnya, sekarang aku justru tak lagi menikmati membaca buku di perpustakaan. Aku benar-benar tak bisa menikmati buku yang bukan milikku sendiri.  Otak seakan tumpul ketika harus membaca buku-buku hasil pinjaman..

Mungkin karena sekarang sudah bisa beli buku sendiri, hingga kebiasaan lama itu tak lagi merupakan kenikmatan pembelajaran.

Padahal sungguh, sampai sekarang aku tetap tak punya uang jajan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 18 Maret 2011 pukul 19:38

Catatan Kaki 67: Sebuah Kubur di Sebelah Ruang Tamu

Standar

“Yang benar mana, Solo apa Surakarta?”

Begitu dulu aku selalu bertanya, tiap akan menuliskan alamat lengkap untuk kepentingan biodata. Apakah menggunakan nama kota Solo, ataukah Surakarta.

Dan setiap ditanya alamat baruku itu, aku selalu bingung dibuatnya. Karena orang se Indonesia lebih mengenal kota yang baru kutempati itu dengan nama Solo. Namun ketika aku datang ke kantor pemerintahan kota ini, tidak bisa ketemu nama Solo di sana. Yang terpasang pada semua papan nama kota Solo ini, justru nama Surakarta.

“Jadi yang benar Solo apa Surakarta?”

Lama juga pertanyaan sederhana itu mengganggu, pada awal-awal kedatanganku. Sebuah kota, yang sepanjang perjalanan sebagai kaum kabur kangingan yang hobby berkelana, merupakan kota terlama yang kutempati. Yang karena saking betahnya, tak terasa sudah sepuluh tahun kutinggalkan kampung halamanku sendiri.

Namun sampai dua tahun berada di Solo, penasaran atas pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban. Dan beberapa teman yang kutanya juga tak memberikan jawaban yang memuaskan. Padahal mereka adalah warga asli, yang sejak lahir hingga tua tak pernah berpindah kota. Demikian juga dengan orang tua dan leluhurnya.

Dan aku yang penasaran, terus mencari jawaban. Sebagai sebuah tanda cinta pada kota tempat tinggalku yang baru. Karena konon, ada peribahasa ‘tak kenal maka tak sayang’. Aku pun ingin mengenali kotaku, yang telah membuatku jatuh cinta. Sampai karena sayangnya, menjadikan seperti kampung halamanku yang kedua.

Dan bukti cinta dan sayang itu  adalah dengan ingin mengenali asal-usul namanya. Seperti ketika berkenalan dengan kawan yang baru kita kenal. Setelah saling menyebutkan nama, dalam hati kita mencoba mencari arti dari namanya.

Begitu pun denganku, yang ingin mencari tahu kenapa harus ada Solo dan Surakarta. Mengapa orang lebih mengenal Solo, namun dalam pemerintahan justru nama Surakarta yang digunakan. Lalu apa bedanya Solo dan Surakarta.

Jawaban pertama datang dari sebuah buku yang kemudian aku baca, Babad Solo. Bahwa dikisahkan di sana, kalau kota Solo bermula dari sebutan yang salah dari nama jabatan Bau Soroh. Karena sebutan abdidalem keraton yang mengurusi panambangan di Bengawan Semanggi, yakni Bau Soroh sulit diucapkan para pendatang. Maka untuk memudahkan pengucapan menjadi Bau Solo. Dari salah ucap itulah, sebutan Solo menjadi nama tempat penambangan tersebut berada.

Bengawan Solo dulu bernama Bengawan Semanggi. Yang artinya, sungainya orang Semanggi. Baru setelah daerah itu bernama Solo, sungai besar itu pun disebut sesuai nama daerahnya. Yakni Bengawan Solo, atau sungainya orang Solo. Dan nama itu dipakai sampai sekarang. Sementara nama Semanggi sendiri masih kita temukan menjadi nama sebuah kampung di timur kota Solo, tepat di tepian barat Bengawan Solo.

Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di pulau Jawa yang berhulu di sekitar Solo. Tepatnya di daerah yang sekarang dikenal sebagai Wonogiri. Mata airnya berasal dari pertemuan dua sungai kecil, yakni Kali Muning dan Kali Tenggar di Desa Jeblogan, Kecamatan Karang Tengah. Alirannya yang melingkar melintasi kota Solo hingga ke arah timur laut, untuk kemudian bermuara di pantai Gresik.

Riwayat Bengawan Solo sebagai jalan air yang merupakan nadi perekonomian pada masa silam, telah tertulis dalam sebuah prasasti peninggalan masa Majapahit. Yakni sebuah fakta sejarah yang dikenal dengan Prasasti Changgu, yang ditemukan di Trowulan.

Prasasti tembaga bertarikh 1280 Saka (7 Juli 1358) yang ditulis atas perintah Hayam Wuruk itu menjelaskan tentang daerah-daerah penambangan di sepanjang sungai Ci Wulayu. Dan panambangan yang berada di Ci Wulayu, adalah panambangan nomor 44 yang berada pada posisi paling hulu. Dan pada jaman Majapahit, Bengawan Solo belum bernama Bengawan Semanggi, melainkan dikenal dengan nama Ci Wulayu.

Terbaca dalam Prasasti Canggu, bahwa pada masa itu seluruh desa yang berada di sepanjang aliran Ci Wulayu dibebaskan menjadi desa yang merdeka. Yang tak harus membayar upeti, karena di desa tersebut menjadi tempat panambangan. Yakni tempat untuk menyeberangkan para penduduk dan pedagang secara cuma-cuma. Penyebarangan yang konon menggunakan perahu, dengan bantuan tambang (tali besar) yang melintang di tengah aliran sungai. Dari kata tambang itulah dikenal menjadi panambangan.

Panambangan yang awalnya hanya menjadi tempat menyeberang, kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai. Bahkan menjadi sumber pemasukan bagi keraton. Maka untuk mengurusi semua itu, diangkat seorang pejabat. Dan di jaman keraton Kartasura, jabatan untuk orang yang mengatur panambangan disebut Bau Soroh.

Pada masa itu, Bau Soroh yang berkuasa atas desa Solo disebut juga dengan panggilan Ki Gede Solo. Dialah juga orang yang kemudian diminta oleh Paku Buwono II untuk membujuk warganya, agar mau pindah dari desa Solo. Karena desa itu akan dibangun keraton baru, sebagai pemindahan keraton Kartasura.

Berkat bantuan Ki Gede Sololah, penduduk dari desa yang telah dipilih oleh Gubernur Jenderal Belanda rela pergi meninggalkan kampungnya. Dengan usaha Ki Gede Solo juga, tanah yang hendak menjadi keraton mendapatkan ganti rugi yang sepadan.

Dengan dibangunnya desa Solo menjadi keraton, maka nama Solo pun berganti menjadi Surakarta. Karena keraton yang dibangun itu bernama keraton Surakarta  Hadiningrat.

Sejak itulah, untuk menuliskan surat perjanjian yang selalu dibuat oleh Raja dan Gubernur Jenderal Belanda selalu menggunakan nama Surakarta. Yang itu terus berlanjut hingga Indonesia merdeka. Untuk formal pemerintahan yang dipakai adalah nama Surakarta. Namun bagi masyarakat, penyebutan Solo masih terus melekat.

Beberapa minggu lalu, setelah ziarah ke makam Pabelan, aku sempatkan mampir ke makam Ki Gede Solo. Pemimpin desa Solo inilah, yang dulu menguburkan jasad Pabelan. Mayat yang ditemukan di tepian sungai Bengawan Solo, pada sebuah kampung yang sekarang bernama Sangkrah. Yang kemudian dimakamkan di barat bengawan Solo, pada kampung yang sekarang dikenal sebagai Bathangan.

Sementara Ki Gede Solo sendiri, jasadnya dimakamkan di wilayah keraton Solo. Berada tak jauh dari keraton, dalam lingkungan tembok baluwarti sebelah timur.

Dengan berbekal keterangan dari seorang tukang parkir, aku pun mencarinya. Menurut penjelasannya, makam keramat yang sering diziarahi orang tiap malam Jum’at itu berada di kampung yang sekarang bernama Mloyokusuman. Kampung yang dulunya dihuni oleh putra raja yang bernama Pangeran Mloyokusumo.

Berbekal keterangan yang lumayan membingungkan, akupun menyusuri jalan setapak yang lamat-lamat kuingat. Jalan masuknya, ternyata lewat perkampungan yang padat penduduk. Menyisir gang-gang sempit yang berkelok-kelok membentuk seperti labirin.

Bahkan karena padatnya, ketika melaluinya harus berjalan pelan menunduk karena atap teritis rumah yang rendah. Dan berkali-kali mengucapkan permisi pada ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan rumah mereka yang sangat sederhana. Rumah-rumah kecil yang dibangun saling berhadapan berjejalan, seperti yang selama ini kudapatkan di pemukiman pinggiran kota besar. Lingkungan yang kotor dan kepadatan penduduk membuat kampung terlihat sangat semrawut dan kotor, bahkan berkesan kumuh.

Apalagi hari baru saja hujan, hingga jalan setapak pun menjadi becek, dan menebarkan bau anyir. Sebuah tempat yang sangat tidak kubayangkan sebelumnya, sebagai tempat peristirahatan terakhir dari seorang yang sangat terhormat di masanya. Yang dari namanya, kemudian dusun Solo terkenal menjadi kota seperti sekarang ini.

Namun yang lebih mengagetkan lagi, ketika kemudian kudapatkan, ternyata makamnya bukan berada di areal pekuburan yang luas, atau pada sebuah cungkup seperti makam Pabelan. Melainkan nylempit di tengah himpitan kesumpekan pemukiman yang sangat padat penduduk.

Bahkan menjadi satu dengan bangunan rumah yang ditempati warga di situ. Berada dalam sebuah kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu.

oleh Nassirun Purwokartun pada 7 Maret 2011 pukul 22:28

Catatan Kaki 61: Ketika Meriam Hanya Menjadi Souvenir Pajangan

Standar

Sitinggil merupakan titik pusat kewibawaan kerajaan.

Karena di tengah Sitinggil terdapat Bangsal Manguntur Tangkil, yang merupakan singgasana raja ketika bertahkta. Oleh karenanya, Sitinggil diyakini orang Jawa sebagai pancering prabawa yang mempunyai daya magis penuh aura.

Maka dulu hanya para sentana dan nayaka, yakni para kerabat dan pejabat kerajaan saja yang diperbolehkan memasukinya. Karena Bangsal Manguntur Tangkil merupakan tempat yang sangat terhormat, yang tak sembarang orang boleh berada di sekelilingnya.

Namun sekarang, siapa saja orang boleh datang ke sana. Terutama para wisatawan yang ingin melihat langsung singgasana raja yang terpasang di tengah Bangsal Sewayana. Berada membelakangi Bale Manguneng yang merupakan tempat sangat keramat, karena di dalamnya tersimpan pusaka kerajaan, Kyai Setomi yang siapa pun tidak boleh melihat.

Dan bukan hanya mereka yang ingin melihat singgasana raja saja. Karena sering kali kutemukan banyak pedagang asongan yang juga turut melepas lelah di aula. Bahkan tidur dengan nyenyak di sekeliling Bangsal Sewayana, Bale Manguneng dan Bangsal Witana. Sesuatu yang tak mungkin terjadi pada jaman dulu, ketika Sitinggil masih menjadi tempat yang benar-benar terhormat. Kawasan yang selalu dijaga rapat sejak dari Kori Mijil hingga Kori Mangu, yang menjadi pintu satu-satunya dari Pagelaran dan Kamandungan.

Untuk menunjukkan Sitinggil sebagai pusat kewibawaan kerajaan, kawasan ini dibuat lebih tinggi dibanding bangunan lainnya. Bahkan untuk makin memperlihatkan kewibawaannya sebagai daerah aman kerajaan, kawasan ini pun diperkuat dengan sepuluh meriam sebagai bentuk pertahanan. Maka di depan Sitinggil terpancang meriam-meriam itu dengan moncong mendongak menantang menghadang menghadap utara.

Karena kalau dilacak dari sejarah, letak keraton berada di sebelah selatan kantor gubernur jenderal Belanda. Yang juga berhadap-hadapan dengan Benteng Vastenberg, benteng pertahanan Belanda yang berada di timur laut alun-alun keraton. Jadi pemasangan meriam tersebut, seolah menggambarkan kewibawaan kerajaan, terhadap keberadaan Belanda yang selalu ingin ikut campur permasalahan.

Maka sampai hari ini, di pelataran Bangsal Sewayana terpancang delapan moncong meriam, sedangkan di depan Kori Mijil terpasang dua buah meriam. Meriam-meriam yang diyakini sebagai jimat keramat, hingga senjata pelontar bola-bola api itu pun diberi nama panggilan terhormat ‘Kanjeng Kyai’.  Bahkan karena telah dianggap sebagai pusaka, seperti juga manusia, merekapun dipasang-pasangkan satu dengan lainnya.

Misalnya meriam Kanjeng Kyai Bringsing yang terpasang di ujung barat halaman. Meriam pemberian Kerajaan Siam dari Thailand ini berpasangan dengan Kanjeng Kyai Pamecut peninggalan kerajaan Mataram yang terpasang di ujung timur halaman.

Lalu di sebelahnya, terdapat meriam Kanjeng Kyai Bagus yang berpasangan dengan Kanjeng Kyai Alus, yang keduanya adalah pemberian Belanda, melalui gubernur jenderal Van Der Leen. Kemudian pasangan berikutnya adalah meriam Kanjeng Kyai Nangkula dan Kanjeng Kyai Sadewa yang juga pemberian VOC Belanda.

Dan yang terakhir adalah meriam Kyai Kumbarawa dan Kyai Kumbarawi. Sepasang senjata peninggalan kerajaan Mataram ini sekarang terpasang di atas Kori Mijil. Tepat mengapit jalan berundak yang berada di kanan kiri jalan menuju Sitinggil.

Sementara di ujung bawah, di kanan kiri Kori Mijil terdapat sepasang meriam lagi. Meriam yang diberi nama Kyai Swuh Brastha dan Kyai Segara Wana. Kedua meriam yang konon peninggalan kerajaan Kartasura, sebelum pindah ke Surakarta.

Nama Swuh Brastha sesungguhnya berarti memberantas musuh. Karena dalam bahasa Jawa, swuh adalah musuh dan brastha artinya memberantas. Jadi keberadaan meriam ini adalah sebuah senjata yang digunakan untuk menghancur leburkan musuh.

Namun kalau dilacak dari sejarah keraton, yang dianggap sebagai musuh bukanlah Belanda yang telah menjajah mereka. Melainkan justru para perongrong kekuasaan raja yang ingin menggulingkannya. Yakni mereka yang merasa tidak sepakat dengan kebijakan kerajaan, karena telah bertekuk lutut di bawah ketiak Belanda.

Sebab demikianlah yang terbaca dari sejarah. Termasuk berpindahnya keraton Solo dari Kartasura ke Surakarta juga karena disebabkan sebuah penyerangan ‘musuh’. Keraton Kartasura di bawah kekuasaan Paku Buwono II, diserang oleh saudaranya, Raden Mas Garendi yang tak sepakat dengan kebijakan keraton, yang tunduk pada perintah kolonial.

Dan untuk memadamkan gerakan Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning itu, Paku Buwono II meminta bantukan Belanda. Hingga raja yang terbirit-terbirit terusir dari Kartasura dan berdiam di Ponorogo itu pun bisa kembali mendapatkan takhtanya. Karena Belanda yang berpusat di Semarang berhasil menghancurkan kekuatan Sunan Kuning.

Namun bantuan Belanda tentu bukan cuma-cuma. Sebab sejak jaman Mataram, ketika mereka membantu Amangkurat, selalu ada perjanjian menukarnya dengan lahan kerajaan. Hingga setiap ada konflik, Belanda dengan suka rela membantu penguasa yang bertikai, karena dengan imbalan mendapatkan daerah kekuasaan. Dan begitu terus menerus ketika kekuasaan Mataram berpindah ke Solo di bawah dinasti Paku Buwono. Hingga keraton pun makin menciut wilayah kekuasaannya.

Termasuk juga ketika Belanda diminta untuk membantu membangun kerajaan yang baru, di kota Solo sekarang. Paku Buwono II menulis surat perjanjian, yang antara lain berbunyi, “Inilah surat perkara melepaskan terhadap keraton Mataram. Dari Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati Hing Ngalaga Ngabdulrahman Sayidin Panatagama. Ialah dikarenakan oleh perintah Kanjeng Kumpeni yang agung itu, keratuan ini diserahkan pada Kanjeng Tuwan Djohan Baron Pan Hogendorep….”

Sebuah surat yang dikirimkan pada tahun 1749 pada gubernur jenderal Belanda, Djohan Baron Van Hohendorv. Yang isinya sarat dengan merendahkan diri sebagai penguasa tertinggi di Jawa. Dan meninggikan pemerintahan Belanda secara sangat berlebihan.

Belanda yang di masa Sultan Agung dianggap musuh, oleh keturunannya justru dianggap sahabat bahkan saudara. Diperlakukan sebagai sosok yang sangat dihormati oleh para penguasa Mataram. Hingga para gubernur jenderal Belanda dipanggil dengan sebutan terhormat ‘Eyang’, dan komandan militer lokal dipanggil dengan sebutan ‘Romo’. Yang setiap kedatangannya selalu disambut dengan upacara kebesaran kerajaan, sebagai bentuk penghormatan besar-besaran. Sebuah pelecehan kedaulatan yang makin menghilangkan kewibawaan keraton sebagai kekuasaaan di Jawa, yang dulu diperjuangkan leluhurnya.

Maka sepertinya, tepatlah penamaan meriam pasangan Kyai Swuh Brastha dengan nama Kyai Segara Wana. Dalam bahasa Jawa, segara adalah lautan dan wana adalah hutan. Sebagai penanda telah lepasnya kekuasaan keraton Solo atas penguasaan lautan dan hutan. Karena sang raja telah bertekuk lutut dalam cengkeraman kolonial Belanda.

Sebab kekuasaan lautan yang dimiliki kesultanan Demak telah lepas dari tangan kerajaan Pajang, yang merupakan kelanjutan dari Demak. Dan kekuasaan atas hutan-hutan yang merupakan kawasan terbesar Pajang pun kembali lepas dari tangan Mataram, sebagai kerajaan penerus kekuasaan Pajang.

Maka sesungguhnya, keberadaan meriam yang terpasang sedemikian banyaknya, sepertinya tidak benar-benar untuk menjaga kewibawaan raja. Bahkan kalau pun diniatkan begitu, sebenarnya hanya kekuasaan semu saja. Karena keraton tak lagi mempunyai kekuasaan yang mutlak atas keputusannya sendiri.

Sebab setiap kebijakan kerajaan, harus selalu melalui persetujuan Belanda. Dan karena terikat perjanjian, raja pun tak lagi bisa berkutik. Bahkan sosok patih, yang merupakan perdana menteri, bukan hanya bertanggungjawab terhadap raja. Melainkan juga kepada gubernur jenderal Belanda, yang mempunyai hak mengangkat dan memberhentikannya.

Karenanya tak heran, keberadaan meriam pun tak lagi untuk menghancurkan musuh. Dan  tak pernah sekali pun senjata-senjata itu digunakan sebagai mana mestinya sebuah senjata. Sebab dalam sejarah keraton Solo, meriam-meriam itu justru dialih fungsikan sebagai penanda dimulainya acara-acara kebesaran kerajaan. Dibunyikan ketika kerajaan akan mengadakan grebegan, jumenengan, jendralan, dan upacara lainnya.

Dan masih tersisa satu meriam lagi yang berada di Sitinggil. Yakni meriam yang tersimpan di Bangsal Manguneng, di belakang singgasana raja. Meriam yang dianggap pusaka paling sakral yang bernama Kanjeng Nyai Setomi. Sebuah meriam yang dianggap keramat, hingga tak boleh sesiapa pun boleh melihat. Maka tempat penyimpanannya pun dibuat rapat dengan dikelilingi tirai tebal yang menutupinya.

Kalau kita pernah ke Musium Fatahillah di Jakarta, pasti pernah melihat Meriam Si Jagur. Meriam besar yang pada ujungnya membentuk tangan dengan jempol terjepit antara telunjuk dan jari tengah. Meriam yang konon juga dipercaya bisa menjadi perantara terkabulnya keinginan untuk memiliki keturunan. Dengan jalan mengusapkan perut perempuan di ujung jempol meriam Si Jagur.

Nah, meriam Nyai Setomi ini dipercaya merupakan pasangan Si Jagur. Karena Meriam Si Jagur nama lainnya adalah Kanjeng Kyai Setomo. Konon keduanya adalah meriam pemberian Portugis pada Pangeran Jayakarta, sebagai tanda kerjasama dengan Pajajaran.

Pada masa Sultan Agung, kedua meriam itu dibawa ke Mataram. Tapi Kyai Setomo kemudian dikembalikan ke Jakarta lagi karena tidak betah. Setiap malam Selasa Kliwon selalu terdengar suara meraung-raung seperti orang menangis yang diyakini berasal dari meriam laki-laki itu. Dan di Jakarta meriam itu kemudian diletakan di dekat jembatan Kota Intan di kota lama, sebelum sekarang dipindah ke Museum Fatahillah.

Sementara Nyai Setomi tetap berada di Jogja, di keraton Mataram. Dan ketika kekuasaan Mataram pindah ke Kartasura, meriam itu turut dibawa. Hingga saat berpindah lagi ke Surakarta, meriam tua itu pun kemudian makin dianggap sebagai pusaka utama.

Tentang penamaan Kyai Setomo dan Nyai Setomi, ada pendapat yang mengatakan karena kedua meriam ini adalah buatan Portugis. Dibuat di pabrik Santo Thomas, sebuah kota jajahan Portugis di India yang sekarang bernama Madras. Dan pada meriam-meriam buatan pabrik itu, cirinya ada cetakan nama ‘Sant-Thome’ pada badannya. Dan dari tulisan Sant-Tomi itulah, lidah Jawa mengucapkannya menjadi Setomo dan Setomi.

Namun apa pun namanya, pada mulanya meriam dibuat sebagai senjata penghancur lawan. Tapi seampuh apa pun senjata itu, ketika sang empunya tak lagi punya kewibawaan, maka kekuatannya pun akan hilang. Apalagi setelah si pemilik takluk di balik ketiak lawan. Maka keberadaannya tak lebih hanya sekadar benda pajangan.

Ia tak lebih dari sekadar souvenir pemanis. Sungguh, sebuah sejarah yang tragis!

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Februari 2011 pukul 16:12