Tag Archives: laki laki

Catatan Kaki 87: Mengenang Ketika Disidang dengan Kasus ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’

Standar

 

Buku bacaan di kampungku waktu itu, seperti musuh bagi orang tua.

Bagi mereka, seperti obat terlarang yang melenakan dan membahayakan anak-anaknya. Sesuatu yang mereka anggap akan membuat anak-anak menjadi malas bekerja membantu orang tua. Apalagi buku bacaan berbentuk komik. Betul-betul dianggap sebagai benda haram yang menjadikan anak jadi berani membantah.

Kalau dikatakan bahwa buku menjadikan anak pintar, merekapun tak menganggap benar pemikiran itu. Buat apa pintar, kalau dengan lulus SD saja bisa langsung kerja membantu orang tua di sawah atau merantau cari kerja ke kota. Buat apa pintar-pintar, bukankah cukup bisa baca dan tidak buta huruf saja. Kalau pintar malah percuma, karena selepas SD juga tidak melanjutkan sekolah. Kuliah hanya buang-buang biaya yang tidak sedikit, begitu alasannya.

Bagi mereka, membaca adalah pekerjaan orang menganggur. Maka anak yang suka membaca, adalah anak pemalas. Anak yang tidak suka bekerja  keras dan tidak mau membantu orang tua.

Kebiasaan anak-anak seusiaku di kampungku, setelah pulang sekolah adalah membantu orang tua di sawah atau di kebun. Yang laki-laki bisa menyabit rumput untuk ternaknya, membantu mencangkul dan menggarap kebun, atau mencari kayu bakar untuk memasak. Yang perempuan, memasak untuk mengirim makan orang tua yang bekerja di kebun, mengurus rumah selama ditinggal ke sawah seharian, atau mengasuh adiknya yang ditinggal orang tuanya.

Maka kalau ada yang tidak mengerjakan pekerjaan membantu orang tua semacam itu, dicap sebagai anak malas, yang kerjanya hanya sekolah dan membaca. Bagi mereka, belajar cukup hanya di sekolahan. Dan di rumah, kewajibannya adalah membantu kerja orang tua.

Orang tuaku pun sebetulnya termasuk yang berpandangan semacam itu. Hanya saja tidak sekeras dan sekaku orang tua yang lain. Mungkin karena aku anak tunggal, jadi ada kecenderungan lebih dimanjakan. Tidak dilarang ketika kedapatan asyik membaca. Dan tidak terlalu dibebani untuk membantu orang tua, seperti mencari rumput untuk sapi ataupun membantu kerja di sawah.

Apalagi mereka mungkin juga melihat minat membacaku yang dinilai lebih daripada anak-anak lain. Bahkan akhirnya orang tuaku malah mendukung. Ibuku kemudian sering membawakanku oleh-oleh majalah dan koran bekas sepulang dari pasar. Majalah dan Koran bekas itu dibelinya dari penjual nasi di pasar, yang mestinya untuk bungkus nasi. Termasuk ayahku yang telah mogok berangkat Kejar itu pun, sering meminjamkan modul pada pak RTku yang kebetulan jadi guru Kejar Paket A.

Karena dukungan itu, kumanfaatkan waktuku untuk banyak belajar dan banyak membaca. Akan kubuktikan pada guruku, bahwa banyak membaca buku cerita tak menghalangi prestasi belajar di sekolah. Akan kubuktikan pada masyarakat di sekelilingku, tetangga-tetanggaku, bahwa membaca bukan pekerjaan sia-sia. Dan itu aku buktikan dengan giat belajar. Hingga di antara anak-anak di lingkunganku, aku termasuk yang lumayan berprestasi di sekolah.

Aku sungguh tak habis pikir waktu itu, bahwa membaca seolah menjadi suatu perbuatan tercela di lingkunganku. Tapi aku tetap bertahan dengan kegemaranku membacaku. Bahkan kemudian membeli majalah-majalah loakan dan juga buku-buku bekasan.

Karena lingkungan yang semacam itu, setiap membeli buku, aku selalu kucing-kucingan. Jangan sampai ketahuan oleh keluargaku. Kalau ditanya, selalu kujawab buku itu adalah pinjaman di perpustakaan. Setelah habis dibaca, kusimpan rapat-rapat. Kesembunyikan di almari pakaian, di rak paling bawah, tertutup oleh kain-kain jarik simpanan keluarga.

Namun lama kelamaan ketahuan juga, bahwa aku suka beli buku. Karena di buku itu selalu kutuliskan tanggal pembelian, dan tanda tanganku. Aku tak bias mengelak dan berkelit dengan alasan itu buku pinjaman dari perpustakaan.

Maka kemudian yang kulakukan adalah jangan sampai ketahuan harga yang sebenarnya. Setiap membeli buku, label yang ada di sampul harus kubersihkan. Karena satu buku sastra pada waktu itu, harganya rata-rata 10 sampai 20 ribu. Itu senilai dengan 20 sampai 40 kilo beras. Yang berarti bisa untuk hidup kami sekeluarga selama sebulan lebih.

Aku masih ingat, ketika kumpulan kolom ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’-nya Umar Kayam terbit. Karena sejak SMP aku suka dengan gaya penceritaan Umar Kayam di Koran Kedaulatan Rakyat, maka aku langsung membelinya. Untuk belajar menulis kolom yang sederhana, namun memikat.

Waktu itu harganya adalah 10 ribu. Yang kalau dihubungkan dengan harga beras, itu sama dengan 25 kilo beras, karena harga beras masih 400 rupiah.

Karena keasyikan membaca buku yang memikat itu, aku sampai lupa melepas labelnya. Dan aku membaca di sriban depan, sampai ketiduran. Hingga tanpa kusadari, harga buku yang tertera pun terlihat oleh keluargaku. Oleh ayah ibuku, nenek, paman, dan bibiku.

Tak ayal lagi, mereka mencercaku. Menyidangku bersama-sama. Karena mereka menganggap, aku lebih mementingkan beli buku daripada beli beras. Kebutuhan harian sehari-hari yang lebih utama.

Mereka bahkan tetap tak menerima alasanku, ketika kusampaikan bahwa buku itu kubeli dengan uangku sendiri. Uang yang seharusnya untuk naik angkot dari terminal ke sekolahku.

Waktu itu aku diberi uang harian 1.000 rupiah. Karena jarak dari desaku ke sekolah lumayan jauh, harus naik bus dua kali. Dengan tarip pelajar, aku membayar 150 rupiah untuk naik bus ke terminal. Dari terminal ke sekolahan, taripnya 250 rupiah. Jadi pulang pergi ke sekolah, menghabiskan 800 rupiah. Dan ada sisa 200 rupiah untuk jajan.

Namun karena aku sedang ingin membeli buku-buku sastra terbaru, dari terminal ke sekolahan aku jalan kaki pulang pergi. Aku rela berpanas-panas lima kilo meter setiap hari demi keinginan beli buku baru. Yang artinya, dari 1.000 rupiah bekalku, aku hanya menghabiskan 300 rupiah saja. Untuk bis pulang pergi dari terminal ke rumah.

Sedangkan jatah untuk naik angkot dan jajan tidak kugunakan. Namun aku simpan, dan dari uang itulah, tiap bulan aku bisa membeli satu buku sastra terbaru.

Namun alasan itu tetap saja tak diterima oleh orang tua dan saudara.

Ya sudah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Maret 2011 pukul 17:38

Iklan

Catatan Kaki 82: Mengenang Bekerja di ‘Tempat Basah’

Standar

Sejak hari itu aku pun resmi bekerja sebagai tukang cuci gerbong kereta.

Pekerjaan pertama yang kudapatkan setelah lulus sekolah, dengan nilai pelajaran yang sangat kubanggakan. Setelah mendapat selembar ijazah yang harus ditebus orang tuaku dengan tanah empat lahan.  Pekerjaan yang kudapatkan setelah menganggur di tempat saudara selama hampir lima bulan.

Gerbong-gerbong kereta api eksekutif jurusan Bandung-Surabaya serta Bandung-Jakarta menjadi tugasku untuk dibersihkan. Bersama sembilan orang lainnya, kami berkerja sama mencuci gerbong-gerbong yang akan diberangkatkan.

Sepuluh orang pekerja itu dibagi dua, empat orang perempuan membersihkan bagian dalam, sedangkan laki-laki mencuci bagian luar. Tugas membersihkan ruangan dalam adalah menyapu lantai kereta, membersihkan jendela dan kursi, merapikan korden, merapikan sandaran kursi, dan memberikan pengharum ruangan. Pekerjaan yang cukup ringan, dibandingkan kami yang harus bekerja mencuci gerbong luar.

Kami para laki-laki harus mencuci gerbong bagian luar, yang itu terdiri dari atap gerbong, samping kanan kiri berikut jendela bagian luar, serta sisi depan belakang yang merupakan sambungan gerbong.

Alat cucinya adalah ember berisi air sabun, ember berisi cairan pembersih, sikat WC yang disambung dengan galah yang panjang, slang air yang disambungkan ke kran, serta tangga sebagai alat untuk naik ke atap gerbong.

Tak pernah kubayangkan, bagaimana sulitnya mencuci gerbong kereta yang sepanjang perjalanan dibanjiri debu. Debu-debu yang sangat halus yang demikian lekat menempel, sulit sekali dibersihkan meski sepuluh kali disikat dan disiram dengan slang air yang memancar.

Dan untuk kesulitan itu, ternyata ada rahasianya. Yang cara itu pun diberi tahu oleh temanku, setelah berulang kali aku menggosok sekuat tenaga, namun tetap tak bersih juga.

Ternyata, sebelum disemprot dengan air, debu-debu yang menempel di sebelah kanan kiri dan atap gerbong, harus digosok dulu dengan cairan pembersih. Cairan ini keras sekali. Entah campuran dari apa. Mungkin larutan kimia. Karena kalau kena mata, perih sekali. Konon katanya, kalau terpercik ke mata dan tidak langsung dibilas dengan air bersih, mata bisa buta.

Aku pun pernah mencoba memasukkan uang logam ke cairan itu. Ternyata ketika dijatuhi logam, airnya seperti mendidih. Berbuih-buih. Dan ketika uang logam diangkat, sudah bersih dari kotoran. Pantas saja kalau debu yang demikian susah digosok pun akan luntur karenanya.

Pertama kerja, aku takut naik ke atap gerbong sambil membawa slang panjang. Tapi dengan bentakan dari teman-teman yang sangat tidak bersahabat, aku beranikan diriku untuk merambat.

Setelah semua tubuh kereta api digosok dengan cairan pembersih itu, barulah disemprot dengan air. Sampai bersih dan tidak tertinggal noda-noda dari cairan pembersih itu. Setelah disemprot, baru dibersihkan dengan air sabun. Digosok kembali dengan sikat WC yang bergagang panjang.

Setelah semua dicuci dengan sabun, tahap terakhir adalah menyemprotnya dengan air. Sampai benar-benar bersih tanpa noda debu menempel di seluruh badan kereta.

Dan itulah tiap hari kerjaku. Di terik yang panas, berdiri di atap dengan slang panjang untuk membasahi gerbong. Karena di atap sangat panas, selain menyemprotkan air kea tap gerbong, kami pun sambil membasahi badan kami sendiri. Jadi kami berbasah-basahan baju dan celana, agar selama kerja merasa tetap dingin meski di terik siang yang sangat panas.

Selama bekerja di stasiun, banyak pelajaran yang kemudian kudapatkan. Ternyata stasiun tak ubahnya terminal, yang juga lekat dengan dunia preman. Banyak kutemui gerbong-gerbong kosong yang digunakan untuk bermain judi dan mabuk-mabukkan oleh para preman.

Bahkan pernah pula karena tak sengaja kumasuki gerbong yang kusangka kosong, ternyata itu adalah kerajaan preman. Aku yang ingin beristirahat, masuk ke gerbong yang di dalamnya kutemukan orang yang sedang berkasih-kasihan. Aku gemetar dan takut karena aku dibentak serta dihujani sumpah serapah juga ancaman.

Pernah kusaksikan pula, dalam sebuah gerbong itu para preman yang sedang berjudi, dengan dikelilingi wanita-wanita malam stasiun. Ada yang sedang memijiti punggung si boss preman. Ada juga yang menyuapi makannya. Benar-benar seperti raja saja.

Dan pekerjaan menjadi tukang cuci kereta itu, hanya bertahan 2 bulan. Aku tak kuat dengan kondisi kerja yang keras dan penuh kekasaran.

Selain lingkungan yang aku tak bisa akrab, kerja menjadi tukang cuci kereta ternyata tak ubahnya tukang becak. Harus sabar menunggu permintaan. Tidak tiap saat ada kerjaan. Bisa saja seharian tak ada segerbong kereta pun yang minta dicuci. Padahal satu gerbong hanya dihargai 4.500 rupiah. Itu harus dibagi satu kelompok yang terdiri dari sepuluh orang.

Jadi kalau ada yang ingin bekerja di tempat yang basah, aku pernah merasakannya. Seluruh pakaianku basah, karena semprotan air untuk mendinginkan badan di terik siang, di atas atap kereta.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Maret 2011 pukul 19:46

Melodi Sunyi 8: ….. antara kita, mati datang tidak membelah

Standar

Suatu hari di tahun 1943, datanglah ia ke redaksi Panji Pustaka.

Dan pada hari itulah, dia bertemu dengan Jasin untuk yang pertama kalinya.

Dalam pandangan Jasin, dia seorang pemuda kurus pucat, dengan baju tak terurus, mata merah agak liar,  bahasa wajah seolah tengah berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti tingkah orang yang tak mudah peduli.

Dia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Panji Pustaka. Namun didapatnya jawaban bahwa sajak-sajaknya tak mungkin dimuat. Kata pemimpin redaksinya, puisinya tak ada harganya.

“Sajak-sajaknya sangat individualistis. Yang lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan pribadi pengarangnya saja. Kiasan-kiasannya terlalu Barat.”

Namun penolakan itu tak menyurutkan langkahnya dalam menulis puisi. Dia tetap menulis, dia tetap mengirimkan, tak peduli cibiran orang, tak peduli penolakan pemuatan. Dan dia pun mulai bergaul dengan para seniman di Jakarta. Baik para penyair, sastrawan, pemain teater, hingga para pelukis.

Ketika pemerintah Jepang mendirikan Keimin Bunka Sidhoso (Kantor Pusat Kebudayaan) pada 1 April 1943, dia sering datang ke sana. Berbincang-bincang dengan Armijn Pane, ketua bagian kesusastraan di kantor tersebut. Dari lingkungan pergaulan seniman itulah, namanya mulai muncul dan dikenal banyak kalangan.

Pada pertengahan Juli 1943, mestinya dia akan berbicara di Forum Angkatan Muda. Namun batal tampil, karena saat itu ia ditangkap oleh polisi rahasia Jepang. Kasusnya, pencurian buku.

Ya, dia adalah orang yang sangat besar minat bacanya pada sastra-sastra Barat, namun uang selalu tak dimilikinya. Maka mencuri buku di toko kemudian menjadi hobinya. Hingga kamar sumpeknya penuh dengan buku-buku sastra, dari Barat hingga Timur. Dari WH. Auden, RM. Rilke, E Du Peron, John Cornford, Conrad Aiken, sampai Hsu Chih Mon. Namun sepandai-pandainya pencuri buku melompat, suatu saat tertangkap polisi Jepang juga.

Yang paling konyol adalah ketika ingin mencuri buku Nietzhe yang berjudul ‘Zarathustra’. Sebuah buku yang telah lama diidamkan, sebuah buku tebal bersampul hitam yang akan segera dimilikinya, tentu saja dengan jalan mencurinya. Maka dengan tampang datar ia datang ke toko buku. Matanya tajam mengawasi para pelayan toko dan pengunjung yang ada. Sementara tangannya sibuk mengambil buku di rak, untuk kemudian memasukkannya ke balik bajunya.

Pencurian berhasil sempurna, tanpa ada pelayan yang melihatnya. Hanya kekagetan ketika ia membuka buku itu di rumahnya. Karena yang telah dicuri bukan buku karya besar Nietsche, melainkan kitab injil.

“Habis sama-sama tebal, dan bersampul hitam sih!” umpatnya ketika bercerita di depan teman-temannya. Sebuah kesialan yang langsung menjadi bahan olok-olokan di antara mereka.

Aku pernah datang ke Paron, Ngawi. Karena kebetulan ada temanku yang asli sana, menikah. Dan ternyata dia juga pernah punya pacar seorang gadis asal Paron. Gadis jelita yang mempunyai hobbi melukis. Sumirat, namanya.

Perkenalan terjadi ketika di pantai Cilincing, Jakarta Utara. Ketika itu dia sedang duduk bersandar di sebatang pohon kelapa, dengan ditemani buku bacaan yang setebal bantal. Mula-mula Sumirat tidak memperhatikannya. Tapi beberapa kali melewatinya, melihat ketekunan dia membaca dan tanpa peduli sekelilingnya, membuatnya heran. Aneh, pikirnya. Orang lain datang ke pantai untuk bersenang-senang, dia malah lebih asyik tenggelam bersama buku-bukunya.

Pertemuan pertama itu ternyata membekas di hati Sumirat. Dalam perjalanan pulang, pikirannya tak lepas dari bayangan sosoknya. Dikhayalkannya apa yang sedang bermain dalam angannya. Sikapnya yang acuh dan masa bodoh serta tak ambil peduli dengan perhatiannya, justru semakin membuat Sumirat tertarik.

Di Jakarta, Sumirat menumpang hidup di tempat saudaranya yang menjadi hakim. Pada suatu hari, saudaranya tersebut bercerita, bahwa ia baru bertemu dengan orang yang pernah ditemuinya di pantai Cilincing.

Orang tersebut sedang berurusan dengan pengadilan, karena dituduh mencuri. Dia kena denda, namun karena tak mempunyai uang, akhirnya dipenjara lebih lama. Maka Sumirat yang mendengar kabar itu segera minta pada saudaranya, agar bias membebaskannya. Dan Sumirat yang bersedia akan membayarkan dendanya.

Dan benar adanya, akhirnya dia pun bebas. Karena ternyata keesokan harinya dia sudah datang ke tempat Sumirat. Kunjungan itu ternyata bersambut berpanjangan. Sumirat benar-benar tertarik padanya. Dan mereka pun akhirnya berpacaran.

Sumirat yang hobi melukis, di Jakarta bergabung dengan galeri milik Basuki Abdullah. Dan dia sering datang ke tempat itu untuk menemani pacarnya melukis.

Sambil menemani, sering kali dia membacakan puisi-puisinya yang romantis. Yang memang diciptakan untuk Sumirat.

 

hidup dari segala hidupku pintu terbuka

selama matamu bagiku menengadah

selama kau darah mengalir dari luka

antara kita, mati datang tidak membelah

 

buat Miratku, ratuku

kubentuk dunia sendiri

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati

di alam ini

 

Suatu hari dia ingin mengajak Sumirat menonton film. Dijemputlah sang pacar di galeri tempatnya belajar. Dia sudah berpakaian necis, bercelana putih berkemeja putih. Maka begitu melihat jas putih Basuki Abdullah tersampir di kursi, dia langsung mengenakannya. Hingga semakin trendilah penampilannya.

Kemudian digandenglah Sumirat dengan penuh kebanggaan. Hingga membuat teman-teman seniman berdecak kagum padanya, karena memang Sumirat manis dan cantik, serta banyak seniman lain yang naksir.

Setelah menonton film, pulanglah Sumirat ke rumah saudaranya. Sementara dia, kembali ke galeri Basuki Abdullah untuk memmbanggakan diri dan membawakan teman-temannya makanan dari tempatnya makan malam. Berceritalah dia bagaimana asyiknya menonton film dan mengajak Sumirat makan di restoran.

Semua teman-teman seniman dan Basuki Abdullah sendiri mendengarkan dengan semangat. Apalagi dia membawa banyak makanan enak dari restoran tempat dia sudah makan malam bersama Sumirat.

Seminggu kemudian Basuki Abdullah yang akan mendatangi acara, menanyakan jas putih yang dipinjamnya.

Dengan enteng dia menjawab; “Sudah masuk ke perut kamu dan teman-teman. Memangnya dari mana aku punya uang untuk mentraktir Sumirat nonton dan makan?”

Ternyata dia telah menjual jas pinjaman itu ke pasar loak.

 

13  April , sepuluh tahun lalu

oleh Nassirun Purwokartun pada 14 April 2011 pukul 17:36

Melodi Sunyi 7: ….. dan duka mahatuan bertakhta

Standar

Mungkin kau sudah mengenalnya, namun tak ada salahkan aku kenalkan ulang sekarang.

Seorang lelaki bertubuh kerempeng dengan tulang pipi menonjol dan sorot mata tajam. Seorang yang di masa mudanya suka berpakaian necis dan rambut selalu tersisir rapi. Seorang pribadi laki-laki yang banyak memikat rasa hati perempuan. Bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena kecerdasannya.

Dia perantauan dari Medan, namun kelahiran Payakumbuh, 22 Juli 1922.

Ayahnya seorang pegawai Belanda yang berkedudukan tinggi. Sebuah jabatan yang cukup disegani kala itu. Nama ayahnya sangat Indonesia, yaitu Tulus, tapi perawakannya tinggi besar, gagah, dengan kulit melintang, membuat orang menyangkanya bukan orang Indonesia. Sementara ibunya gemuk pendek berkacamata. Saleha, namanya. Dia anak kedua dari dua bersaudara.

Kehidupan orang tuanya selalu diwarnai pertengkaran. Keduanya sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan tak pernah ada yang mau mengalah. Seolah pertemuan mereka bak besi dan api, yang selalu memercikkan nyala merah berpercikan bara api. Di tengah api pertengkaran yang demikian itulah dia dibesarkan.

Maka tak heran, kalau sifatnya pun menjadi makin menonjol sebagai anak manja dan dimanjakan, hingga tak pernah mau disalahkan dan dikalahkan. Apa yang diminta pada orang tuanya, pasti akan dikabulkan. Mainan anak-anak, makanan yang enak-enak, sepeda yang bagus, baju yang bagus, dan semuanya yang kelas satu.

Bukan hanya dalam lingkungan keluarga sendiri, di luarpun ia dimanjakan oleh masyarakat. Karena ayahnya dan neneknya adalah tokoh yang disegani di daerahnya. Dan dia sendiri termasuk murid yang pandai dan cerdas di sekolah, hingga guru-guru pun turut membanggakannya. Pendeknya, masa kakak-kanak hingga anak-anaknya selalu dilingkupi kehidupan yang mewah. Bahkan berlebih-lebihan menurut ukuran ketika itu.

Di Medan, ia hanya sekolah sampai kelas 1 MULO (setingkat SMP sekarang), karena kemudian ayahnya menikah lagi setelah bercerai dengan ibunya. Namun dengan kecerdasannya, dia sudah membaca seluruh buku yang diajarkan di MULO, bahkan buku-buku bacaan yang mestinya hanya boleh dibaca murid AMS (setingkat SMA sekarang).

Akibat perceraian orang tuanya itulah, kebencian dan dendamnya terhadap ayahnya timbul. Dia tidak dapat menerima bahwa ayahnya kawin lagi dan meninggalkan ibunya. Tentulah keretakan rumah tangga demikian menimbulkan kekecewaan yang mendalam dalam kehidupannya. Hingga sejak saat itu, jiwanya mulai resah gelisah dan menginginkan kehidupan lain.

Saat itu dia telah mendengar kabar tentang Jakarta, maka dia ingin segera pindah ke sana, ke sebuah kota besar tempat menggantungkan harapannya, dan melupakan kekecewaannya.

Tahun 1941, dia pindah ke Jakarta dan melanjutkan MULO kelas dua. Biaya sekolah masih ditanggung oleh ayahnya, dikirimkan dari Medan. Beberapa bulan kemudian, ibunya menyusul ke Jakarta.

Namun dalam perjalanannya kemudian, sekolahnya tersebut terhenti. Bahkan dia tak sampai tamat MULO. Pertama, karena kesulitan ekonomi, karena ayahnya tak lagi mengirimi biaya sekolah. Kedua, pada Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Jawa, hingga keadaan Jakarta pun tak menentu.

Sementara dia sendiri masih menyukai gaya hidup glamour, sebagai akibat dari pemanjaan selama di Medan. Hingga perhiasan ibunya, habis untuk membiayai gaya hidupnya. Untuk membeli pakaian model terbaru, dan untuk datang ke pesta-pesta yang di sana banyak perempuan Belandanya.

Bulan Oktober 1942, ada kabar duka dari Medan. Neneknya yang sangat menyayangi dan memanjakannya meninggal dunia. Berdukalah dia, dan ditulisnya dalam sajak untuk mengenang neneknya. Sebuah puisi menggetarkan, yang ditulisnya di usia 20 tahunnya.

“bukan kematian benar menusuk kalbu

keridhaanmu menerima segala tiba

tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta”

 

CATATAN:

Kutulis ulang, sebuah surat yang pernah kukirimkan pada seseorang, yang sekarang telah hilang, pada pertengahan April sepuluh tahun silam. 13 April 2001, tanggal yang (kebetulan) masih belum kulupa!

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 13 April 2011 pukul 19:03

Catatan Kaki 64: Dengan Gaji Lima Puluh Ribuan, Bisa Tentram Hidup Sebulan

Standar

Pintu museum telah terbuka, berarti pengunjung sudah boleh memasukinya.

Namun begitu melangkahkan kaki ke sana, suasana yang lengang sangat terasa. Mungkin karena aku yang terlalu pagi datangnya.  Sempat kulirik jam di hapeku, dan ternyata baru pukul setengah sepuluh lebih lima.

Sejenak aku jadi ragu, karena kutengokkan ke mana-mana,  tak juga kulihat seorang pun penjaga ada di sana. Termasuk petugas jaga yang biasanya bertugas menyobek tiket pengunjung yang masuk, sebagai tanda telah diperiksa.

Tapi dengan penuh keyakinan, aku beranikan diri melewatinya. Dengan tiket masih utuh di tangan, aku berjalan sendirian melewati ruangan-ruangan yang sunyi senyap. Melihat pajangan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan yang kusam dan berdebu.

Aku jadi teringat penolakan temanku, yang tak pernah mau kuajak ke museum. Katanya, ke museum hanyalah kerjaan orang nekad yang ingin bertemu hantu. Bangunan tua yang sepi, merupakan tempat yang tepat bagi mereka yang ingin mengikuti ajang uji nyali.

Sambil melihat foto-foto lama, yang mengisahkan kebesaran upacara kerajaan, aku mencoba mencerna setiap peristiwanya. Dan aku pun berjalan terus menyusuri lorong-lorong museum yang tenang dan sunyi. Udara yang pengap membuat suasana museum semakin senyap. Lampu yang temaram menambah rasa mencekam. Seakan sedang tersesat masuk masa silam yang asing. Hingga hanya bisa mencoba memaknai setiap benda-benda, dari keterangan yang bisa terbaca dari papan nama yang tertera.

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba kulihat ada bayangan orang. Dan kuperhatikan seksama dari belakang. Ternyata di ruangan sebelah, ada sepasang turis asing yang juga sedang berkeliling museum juga. Namun mereka bersama seorang pemandu laki-laki.

Ketika turis itu telah pergi, baru kuketahui bahwa ternyata pemandu itu adalah penjaga tiket museum. Aku pun segera mendekatinya, dan mengatakan padanya bahwa tiketku belum diperiksa. Juga sampaikan bahwa untuk berkeliling museum, aku memerlukan seorang pemandu. Untuk bisa menerangkan dan memberikan banyak penjelasan.

Namun ternyata pemuda berbaju batik itu menolak permintaanku. Karena katanya, tugasnya hanyalah menjaga tiket di pintu masuk saja. Bukan pemandu wisata.

Sambil mencoba tersenyum mendengar alasannya, batinku pun merutuk, “Kalau tugasnya hanya menyobek karcis, kenapa tadi sama turis asing mau jadi pemandu?!”

Aku pun kemudian meninggalkannya, yang tengah sibuk menghitung uang pemberian turis asing tadi. Dan aku kembali tersenyum pahit, karena sepagi ini sudah dua kali ditolak guide.

Dengan sedikit menyimpan kecewa, aku kemudian meninggalkan lorong-lorong pengap. Beralih menuju pelataran keraton, yang letaknya di sebelah barat bangunan museum.

Ternyata, untuk masuk pelataran ada peraturan untuk melepas sandal.Terbaca pada papan larangan besar yang terpasang pada dinding gerbang. Bahwa seluruh alas kaki berbentuk sandal harus dilepas, sebagai tanda penghormatan pada kawasan kerajaan. Namun anehnya, bagi pengunjung yang bersepatu justru boleh untuk tidak melepas sepatunya.

Aku pun melepaskan sandal jepit butut yang kupakai. Dengan tersenyum kecut kembali merutuk, “Ini peninggalan mental feodal, atau sebuah diskriminatif warisan kolonial?!”

Dan begitu memasuki pelataran, kulihat hamparan pasir tebal membentang memenuhi halaman. Pasir hitam halus yang konon pada jaman dulu diambil langsung dari pantai selatan. Karena diyakini, telah terjadi hubungan raja-raja keraton Solo dengan penguasa pantai selatan. Sebuah pernikahan mistik sejak jaman Panembahan Senopati.

Karena masih pagi, pelataran masih sepi dan belum ada pengunjung. Aku pun berjalan-jalan dengan kaki telanjang, menikmati kedamaian di dalam lingkungan dalam keraton.

Udara segar yang berhembus pelan terasa sangat menentramkan jiwa. Tembok tebal yang melingkupi keraton, benar-benar seperti peredam suara, yang mampu membuat hilang semua suara apa pun yang datang dari luar. Hanya hembusan angin lembut berdesir di sela-sela pohon sawo saja yang terdengar bagaikan nyanyian penuh aura.

Sambil berjalan berkeliling, aku melihat banyak abdi dalem yang sedang membersihkan pelataran. Menyapu daun-daun kering pohon sawo yang memenuhi hamparan pasir.

Aku menjadi tertarik memotret kegiatan mereka. Yang kulihat ada yang sedang menyapu rontokan daun-daunan, ada yang kemudian membawa gerobak sampah untuk mengangkutnya. Juga memotret kepatuhan mereka pada orang-orang yang lewat, yang dia itu mungkin adalah salah satu dari bangsawan keraton.

Sebab ketika kulihat penghormatan luar biasa di sana. Yakni saat para abdi dalem itu sedang sibuk bekerja, kemudian melihat lelaki muda lewat di dekatnya, serentak mereka menghentikan kegiatannya, untuk bersama-sama melakukan sembah padanya.

Aku mengamati pekerjaan mereka sampai selesai. Dan setelah halaman dibersihkan, kulihat ada seorang abdi dalem yang kemudian beristirahat. Aku pun berjalan mendekatinya untuk mengobrol dengannya.

Dari dialah kemudian aku tahu, mengapa pelataran keraton ditanami pohon sawo.

“Ini namanya pohon sawo kecik, merupakan perlambang agar kita  berlaku yang sarwo becik. Yakni melakukan pikiran, ucapan, dan tindakan yang serba baik.”

Aku pun mengangguk. Dalam bahasa Jawa, sarwo adalah serba, dan becik adalah baik.

Pohon-pohon itu katanya ditanam oleh Paku Buwono X. Penanaman 76 pohon sarwo kecik yang dimaknai sebagai bentuk ramalan masa depan tentang kemerdekaan Indonesia. Karena angka 76 melambangkan tahun Jawa 1876, yang bertepatan dengan tahun 1945. Maka penanaman pohon sawo kecik mengisyaratkan ramalan bahwa pada tahun 1876 akan terjadi keadaan yang sarwo becik, yang serba lebih baik.

Selain mendapatkan keterangan tentang bangunan-bangunan di dalam keraton, aku pun menanyakan soal kehidupan para abdi dalem. Sesuatu yang sudah lama mengusik penasaaranku, karena kepatuhan mereka terhadap keraton sangatlah luar biasa. Padahal konon gaji mereka sangatlah sedikit. Tak lebih dari 50 ribu saja tiap bulannya.

Aku pun bertanya penuh penasaran, “Bagaimana bisa menghidupi keluarga?”

Dan lelaki tua itu pun dengan mantap menjelaskan, bahwa bagi mereka menjadi abdi dalem adalah sebuah pengabdian. Yang tidak bisa dinilai dengan uang sebagai penghargaan. Ketika mereka yakin dengan nilai pengabdian, maka kehidupan pun akan tentram. Segala kebutuhan sehari-hari akan tercukupi dengan hati tenang. Karean telah mereka yakini, semua itu karena berkah yang didapatkan dari sebuah pengabdian.

“Tapi bagaimana dengan gaji yang hanya 50 ribu per bulan?”.

Kembali dengan senyum mantap, ia menyatakan bahwa selalu saja ada jalan dalam menyelesaikan masalah kehidupan.

“Ketika yakin dengan kebesaran Gusti Allah kang murbeng dumadi, maka kepasrahan akan dibayar dengan kehidupan yang tentram dan tercukupinya segala kebutuhan. Menjadi abdi dalem adalah bentuk kepasrahan itu, yang dilambangkan dengan mengabdi bagi raja. Namun sesungguhnya pengabdian ini bukan kepada rajanya, tapi pada Allah tangala. Sinuwun hanya sarana saja, karena raja adalah kalipatuloh ing tanah Jawi.”

Sejenak aku tercenung dengan penuturan si mbah itu, yang aku lupa bertanya namanya. Maka tak heran kalau kepatuhan mereka, seolah tanpa keraguan. Karena ia sendiri telah menjalani kehidupan sebagai abdi dalem selama 50 tahun lebih. Dimulai sejak dia masih anak-anak berumur 15 tahun, hingga sekarang telah beranak cucu banyak.

“Menjadi abdi membuat batin tentram, Nakmas,” ucapnya menutup penuturan.

Aku pun kembali tercenung tersindir. Ketika kita mengaku sebagai ummat Tuhan, meyakini kebesaranNya, namun mengapa tak pernah terlintas sepenuh hidup menjadi abdiNya. Padahal dengan itulah, seluruh kehidupan kita akan dipenuhi olehNya. Kita justru kadang meremehkan kekuasaan Tuhan atas rejeki, meski mungkin tanpa sadar.

Aku kemudian mengucapkan terima kasih pada lelaki tua itu. sebagai balas jasa, anggaran yang sebelumnya hendak kuberikan ke guide pun, kuberikan padanya.

Kakek itu pun tersenyum bijak, “Nah, apa tadi saya bilang. Rejeki selalu datang tanpa pernah kita duga dari mana asalnya. Seperti sekarang ini, Gusti Allah paring rejeki lewat Nakmas. Pokoknya asal kita yakin dengan kewelas asihan Gusti Allah, hidup manusia akan dijamin tanpa pernah disia-siakan. Ngabdi, ngabekti, nggayuh tentreming ati.”

Aku kembali tersadarkan akan makna penghambaan. Dan sebagai kenang-kenangan, aku meminta ijin untuk memotretnya, yang berbaju hitam lengkap dengan samir kuning berplisir merah di lehernya.

Bagi mereka, samir adalah sebuah pusaka agar selamat selama berada di dalam keraton. Dengan samir yang terikat di lehernya, para jin-jin penunggu keraton menganggap mereka sebagai kerabatnya yang turut dijaga keselamatannya.

Meski pun ada juga yang mengatakan, bahwa pada jaman dulu, tanda samir adalah bentuk lain dari sebuah kepatuhan. Sebagaimana layaknya kalung tali pada hewan ternak. Dengan samir melingkar di lehernya, seakan tanda kepasrahan untuk rela melakukan apa saja titah rajanya.

Bahkan sang raja tinggal menarik kencang samir di lehernya, ketika sudah tidak berkenan. Seperti binatang yang dijerat untuk dibawa ke batu penyembelihan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 Maret 2011 pukul 22:41