Tag Archives: minggu pagi

Catatan Kaki 85: Tanpa Pinjaman dan Loakan, Aku Tak Akan Mengenal Dunia

Standar

Usiaku masih anak-anak, tapi saat itu aku sudah bosan dengan majalah anak-anak.

Menjelang kelas 5 SD aku benar-benar sudah tidak suka lagi membaca majalah anak-anak. Ini mungkin pengaruh dari lagu-lagu cinta yang sering kudengarkan dari RRI ketika sore hari. Hingga, meski usiaku baru 11 tahun, tapi aku sudah sangat suka dengan majalah remaja.

Kebetulan kakak teman sekelasku mempunyai banyak majalah remaja. Ada Hai, Mode, Gadis, dan Aneka. Mungkin di kelas 5 itulah aku mulai puber dan mengenal naksir perempuan. Aku begitu suka membaca cerpen-cerpen di majalah remaja itu. Yang sedemikian asyik menceritakan tentang percintaan remaja. Hingga akupun terbawa, dengan naksir adik kelasku.

Berawal dari majalah pinjaman itu, aku jadi makin kecanduan dengan bacaan yang bernama majalah. Hingga tiap minggu pagi aku sering ke Pasar Wage Purwokerto, untuk mencari majalah-majalah loakan. Kebetulan ada kios kecil di emperan pasar yang menjual banyak sekali majalah-majalah bekas. Dengan bersepeda kumbang selama dua jam pulang pergi, aku membeli majalah-majalah loakan untuk mengobati kehausan membacaku. Untuk membeli majalah yang baru, sangat tidak mungkin dari segi keuangan. Harga satu majalah baru, sama dengan sepuluh majalah bekas.

Di majalah-majalah loakan itulah, aku mengenal banyak sekali nama, yang di kemudian hari bermanfaat untuk memupuk cita-citaku menjadi seorang penulis. Di antaranya yang sangat kukenang adalah Arswendo Atmowiloto yang waktu itu berkibar namanya di majalah Hai dan Senang, selain di Monitor yang kemudian mengantarkannya ke rumah tahanan.

Aku kemudian menjadi penggemar Arswendo yang menurutku gaya berceritanya asyik sekali. Dengan kalimat-kalimat yang pendek dan demikian lancar, sungguh aku ingin menulis seperti dirinya. Aku suka membaca serial Imung dan Keluarga Cemara di Hai bekasan. Juga serial Kiki dan komplotannya. Tak ketinggalan, serial ACI yang kutonton di tivi tetangga bersama-sama orang sekampung.

Kegemaranku membeli majalah bekas berlanjut sampai dengan masuk SMP. Aku mulai berkenalan dengan majalah-majalah yang lebih serius. Bukan lagi majalah anak-anak atau remaja. Aku mulai tertarik dengan majalah-majalah berita, macam TEMPO atau PANJI MASYARAKAT.

Bahkan dari majalah-majalah itulah, aku seakan mendapatkan suntikan rasa ‘GR’. Bahwa bacaanku seolah mendahului bacaan teman-teman sebayaku. Aku merasa bukan lagi anak-anak yang terpuaskan dengan membaca dongeng-dongeng di majalah anak-anak. Bahkan aku tidak tertarik lagi dengan membaca majalah anak. Padahal aku baru kelas 1 SMP.

Dengan membaca TEMPO seakan aku mengetahui berita-berita terhangat di Indonesia dan dunia. Meskipun beritanya sudah agak kedaluwarsa, karena rata-rata majalah loakan itu adalah bekas dua tiga bulan lalu. Tapi tak apa, karena bagiku yang kucari bukan beritanya, tapi pengetahuannya. Berita boleh basi, tapi pengetahuan selalu baru.

Dari TEMPO itulah, aku mengenal nama Goenawan Mohamad. Membaca Catatan Pinggirnya waktu itu, bagiku sungguh seperti mengunyah batu. Aku harus lebih dari lima kali mengulang, karena belum juga tahu arahnya.

Tapi aku tetap mencoba membaca, mengulang membaca, sampai betul tahu maksudnya. Hingga kemudian kumaknai, bahwa membaca Catatan Pinggir seperti layaknya sedang membuka kamus. Di tiap Catatan Pinggir yang kubaca, akan selalu kutemukan kata yang berarti penanda suatu peristiwa, suatu ideologi, atau suatu nama orang berikut pikiran-pikirannya.

Karena kenangan ketika begitu sulitnya membaca kata-kata Goenawan waktu kecil itulah, ketika kemudian Catatan Pinggir itu dibukukan aku langsung membelinya. Bahkan kukoleksi. Sampai jilid yang ke enam sekarang. Kubaca ulang kata-kata yang bagiku dulu laksana batu itu, dengan diriku yang sekarang, yang bukan anak SMP lagi.

Ternyata kecanduan berlangganan majalah bekas berlanjut sampai dengan di bangku STM. Aku sering main ke agen-agen majalah untuk mencari majalah-majalah yang mau diloakkan. Biasanya, majalah yang tidak laku hanya diretur covernya saja ke pusat. Sementara isinya, ditinggal di agen dan oleh agen diloakkan.

Itu sungguh menguntungkan bagiku. Karena aku betul-betul seakan langganan layaknya. Meskipun hanya langganan majalah bekasan. Tiap awal bulan aku sengaja datang ke agen-agen, untuk membeli majalah-majalah loakan edisi bulan kemarin. Jadi dalam sebulan aku membawa pulang empat majalah baru tapi bekas, edisi empat minggu bulan kemarin.

Bagiku, berita yang baru berselang empat minggu sampai dengan satu minggu kemarin belumlah begitu basi. Karena di rumah pun aku tak punya televisi.

Hingga aku sering merasa, tanpa majalah pinjaman dan majalah loakan, mungkin aku tak akan mengenal dunia.

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Maret 2011 pukul 20:41

Iklan

Catatan Kaki 76: Setelah Tak Lagi Menikmati Perpustakaan dan Punya Uang Jajan

Standar

Waktu SMP, aku lebih sering nyepi di perpustakaan daripada nongkrong di kantin sekolahan.

Tentu karena aku memang tidak seberuntung teman-teman yang bisa berbahagia dengan punya cukup uang jajan. Hinga sebelum jam masuk sekolah berdetang, mereka sudah berebutan kursi di kantin sambil riuh dalam obrolan. Begitu pun ketika jam istirahat tiba, semua berlarian kantin depan atau belakang sekolahan, untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak sedang kelaparan.

Sementara aku, hanya sesekali saja datang ke kantin, ketika betul-betul lapar. Misalnya ketika setelah pelajaran olahraga, yang memang banyak mengeluarkan tenaga. Hingga persediaan makanan di perut mungkin telah habis dipakai untuk ngonthel sepeda ketika berangkat sekolah. Dan habis tenaga untuk terus berkonsentrasi menyimak pelajaran. Belajar pada jam yang sebenarnya lebih asyik untuk tidur siang daripada mengunyah mata pelajaran.

Maka beruntunglah mereka yang punya uang jajan. Hingga jajan di kantin adalah salah satu cara untuk menghilangkan kantuk yang sering tak tertahan. Misalnya dengan makan soto dengan sambal yang sangat pedas. Atau makan gorengan, dengan lombok yang melebihi takaran.

Sementara aku harus berpikir dua kali kalau harus datang ke kantin. Sebab uang jajanku memang sangat sedikit, tak mungkin untuk membayar semangkok soto ayam. Dan uang  yang sedikit itu memang sedang kukumpulkan. Yang tiap Minggu pagi, kubawa ngonthel sepeda ke kota, untuk kubelikan majalah-majalah loakan.

Waktu itu, karena sekolahku kekurangan ruang kelas, maka jam masuk belajar dibagi dua. Untuk kelas dua dan tiga masuk pagi, sementara yang kelas satu masuk siang. Karena masuk siang itulah membuatku punya banyak waktu untuk berlama-lama di perpustakaan.

Sesuai peraturan, sebenarnya kelas satu masuknya jam satu siang. Tapi aku sengaja berangkat lebih awal dari rumah. Jam sebelas aku sudah mandi, makan siang, dan setengah dua belas langsung ngonthel sepeda. Sebelum sampai sekolahan, aku mampir masjid yang terlewati untuk dhuhuran.

Sesampai di sekolahan, anak kelas dua dan tiga belum keluar. Aku sudah masuk ke perpustakaan.  Sambil menunggu jam masuk, aku gunakan untuk membaca buku sebanyak-banyaknya. Karena memang peraturannya hanya boleh baca di tempat. Tak boleh dibawa pulang.

Namun dari waktu yang satu jam tiap hari itu, aku jadi banyak mengunyah buku-buku sastra dan sejarah. Bacaan yang sudah menjadi kesukaanku sejak SD, ketika setiap hari numpang membaca di ruang kepala sekolah. Hanya yang sekarang kubaca, bukan lagi buku-buku produk inpres dari pemerintah. Tapi banyak buku sastra terbitan Balai Pustaka yang berbentuk roman, yang kemudian judul-judulnya dikenalkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Karena setiap hari ada di perpustakaan, ternyata ada seorang guru kelas dua yang memperhatikanku. Beliau sebenarnya guru olahraga, tapi ternyata menyukai sastra. Setelah berkenalan, aku sering diajaknya ngobrol sebelum beliau pulang mengajar. Setelah sering bercakap-cakap di perpustakaan, kemudian pak guru tersebut menawari buku sastra untuk kubaca. Buku-buku sastra terbaru, yang bukan terbitan Balai Pustaka, yang tak ada di perpustakaan sekolahku.

Aku masih ingat, buku pertama yang dipinjamkan padaku waktu itu adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk. Novel trilogi karya Ahmad Tohari, sastrawan asal Banyumas yang ternyata guru dari guru olahraga itu. Dan itulah buku sastra pertama yang kubaca, selain yang roman Balai Pustaka yang telah kubaca di perpustakaan.

Dari guru olahraga itulah kemudian makin banyak nama sastrawan yang kukenal. Aku mulai mengenal nama Umar Kayam, Goenawan Mohamad, dan Emha Ainun Nadjib, dan nama sastrawan lain yang nama tak kutemukan dalam buku pelajaran.

Dari buku-buku itulah, aku jadi tertarik untuk menulis seperti tulisan mereka. Ingin menulis novel dengan latar Banyumas yang memikat seperti karya-karya Ahmad Tohari. Ingin menulis kolom yang memikat dan nikmat seringan tulisan Umar Kayam. Ingin menulis kolom yang cerdas serumit kalimat Goenawan Mohamad. Ingin menulis puisi yang menyentuh hati seperti renungan-renungan kehidupan Emha Ainun Nadjib yang menggugah.

Bahkan aku kemudian mengidolakan mereka. Seolah merekalah guru menulisku, guru imajinerku, yang mengajariku menulis dengan tulisan-tulisan mereka.

Dan aku membayangkan, mereka benar-benar ada ketika aku sedang menulis. Ketika belajar menulis cerpen yang akan kukirimkan ke majalah, seakan-akan Ahmad Tohari berada di belakangku memperhatikan dan memberikan dukungan. Begitupun yang kurasakan ketika sedang belajar menulis kolom dan  puisi untuk kupasang di mading. Seakan-akan Umar Kayam, Goenawan Mohamad dan Emha Ainun Nadjib bediri sambil menepuk-nepuk punggungku.

Sungguh waktu itu, aku seperti seorang Bambang Ekalaya yang belajar memanah hanya dengan ditemani patung Pandita Durna, guru imajinernya. Aku pun demikian. Belajar menulis dengan ditemani buku-buku karya sastrawan besar Indonesia, sebagai guru khayalanku.

Maka sekarang aku bersyukur karena tak punya uang jajan. Hingga lebih sering ke perpustakaan daripada ke kantin sekolahan. Andai aku punya banyak uang, mungkin hanya perut yang kukenyangkan dengan soto dan gorengan. Bukan otak yang kuasah dengan bermacam pemikiran dan perasan perasaan para sastrawan besar.

Dan kesenangan itu berlanjut ketika kemudian aku di STM. Di usia remaja itu, aku pun lebih sering menyendiri di pojok perpustakaan, daripada menggerombol di pinggir jalan. Berkumpul dengan teman-teman dengan saling bercanda dan belajar merokok sebelum jam masuk sekolah. Atau pun menggoda cewek-cewek SMA yang lewat sepulang sekolah.

Namun anehnya, sekarang aku justru tak lagi menikmati membaca buku di perpustakaan. Aku benar-benar tak bisa menikmati buku yang bukan milikku sendiri.  Otak seakan tumpul ketika harus membaca buku-buku hasil pinjaman..

Mungkin karena sekarang sudah bisa beli buku sendiri, hingga kebiasaan lama itu tak lagi merupakan kenikmatan pembelajaran.

Padahal sungguh, sampai sekarang aku tetap tak punya uang jajan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 18 Maret 2011 pukul 19:38