Tag Archives: sekolahan

Catatan Kaki 91: Kemeja kotak-kotak biru dan kotak lemari penuh buku

Standar

Hari ini aku memakai kemeja kotak-kotak warna biru.

Mendadak, ingatanku terkenang pada Soe Hok Gie, sosok idealis idolaku.

Dalam sebuah tulisan untuk mengenang pribadi Gie, Dien Pranata menceritakan tentang hubungan baju dan acara sang adik. Yang dari baju yang pakai, Dien bisa menebak dengan tepat acara yang hendak Gie datangi.

“Kalau pakai kemeja kotak-kotak biru, berarti dia akan pergi nonton film. Namun kalau Gie memakai kemeja biru kotak-kotak, itu pasti mau menjadi pembicara dalam sebuah diskusi. Karena hanya itulah satu-satunya baju yang Gie miliki.”

Sungguh aku tertawa ketika membacanya. Dan sekarang pun masih tersenyum saat mengenangnya. Seorang pemikir cerdas, dengan kemeja satu-satunya yang dianggap pantas.

Dan aku pun sama, kemeja kotak-kotak biru ini adalah satu dari tiga baju yang kuanggap pantas untuk tampil rapi. Dan ketiga kemeja ini kubeli, karena harus bekerja ‘kantoran’ lagi. Kalau tidak untuk keperluan itu, aku pun malas beli dan memakainya. Karena sejak dulu, aku paling nyaman dengan memakai kaos.

Namun soal sedikitnya kemeja, sejak dulu aku paling malas membelinya. Hingga sekarang pun, kalau dibandingkan anak dan istriku, pakaiankulah yang paling sedikit.

Anakku yang pertama punya lemari baju sendiri. Begitu pun dengan anakku yang kedua. Sementara istri punya dua lemari. Sedangkan aku, justru numpang di lemari gantung milik istri. Dan hanya dua rak saja sudah cukup untuk menampung seluruh pakaianku.

Dulu aku sebenarnya punya lemari baju sendiri. Dengan dua rak untuk pakaian, dan delapan rak lainnya untuk menyimpan buku. Namun karena bukuku semakin banyak, dua rak bajuku pun tergusur. Akhirnya pakaianku kutitipkan di lemari gantung milik istri. Pada rak yang sebelumnya dipakai untuk menyimpan kain-kain, sekarang kusimpan baju-baju, kaos, dan celanaku. Dan dua rak cukup untuk menampung semuanya.

Aku mengenal sosok Gie ketika kelas 1 STM. Seorang teman sekelasku yang aktivis pramuka, membawa buku tebal ke sekolahan. Buku kumal dengan sampul belakang yang sudah sobek. Yang sobekannya bukan hanya pada sampul, namun sampai ke isi. Jadi bagian akhir buku itu sudah hilang, hingga tak tuntas ketika kubaca.

“Buku ini penting kamu baca, sebagai penulis yang gemar merenung,” kata temanku waktu itu.

Sekilas saja  kulirik buku tebal di tangannya. Sampulnya berwarna hitam putih merah dan terbaca judulnya, ‘Catatan Seorang Demonstran.’ Sepintas aku sama sekali tak tertarik menerima tawarannya atas buku kumal di tangannya. Apalagi nama pengarangnya pun tidak aku kenal.

Namun karena saat itu aku sedang tak punya uang untuk beli buku sastra terbaru, buku itu pun kupinjam juga. Dan ketika pulang, di atas angkot, mulai kubuka-buka lembaran buku kumal itu. Kertasnya sudah sebagian sobek, dengan kekumuhan yang sangat, seolah memang sudah berpuluh tangan yang membukanya.

“Buku ini sangat langka, dan pemikirannya sungguh luar biasa,” kata temenku itu, seorang perempuan aktivis pramuka mencoba meyakinkanku bahwa aku memang harus membacanya. “Buku ini menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa aktivis. Aku mendapatkannya ketika kemarin mengikuti kemah di Gunung Slamet, dari temenku yang aktivis kampus.”

Aku hanya mendengarkan saja iklan temenku, yang selalu berpenampilan nyentrik itu. Seorang perempuan, yang sesungguhnya di STM merupakan makhluk langka, namun tak pernah menampilkan diri dengan keanggunan seorang perempuan. Hobbynya mendaki gunung dan susur pantai, membuatnya lebih berkesan kekar daripada lembut.

Dan satu yang masih teringat dalam kenanganku tentangnya, adalah gelang yang melingkar di lengan kirinya. Sebuah sendok garpu yang dibengkokkan membentuk hiasan tangan putih keperakan. Sebuah gelang yang konon dibuatnya sendiri ketika berkemah, setelah bosan dengan akar bahar yang selama ini melingkari lengannya.

Setelah membuka lembar buku itu, aku pun mulai membaca pengantarnya. Dari paparan sang sahabat, Rudi Badil, aku mulai tertarik dengan sosok Gie. Seorang pemikir muda, aktivis 66 yang meninggal dengan tragis di gunung Semeru. Seorang perenung yang meninggal di usia muda, dengan menyimpan kekecewaan pada sesuatu yang diperjuangkannya.

Gie adalah mahasiswa Fakultas Sastra UI jurusan Sejarah, yang turut menggerakkan demonstran 66. Sosok pemikir yang turut menumbangkan Orde Lama di bawah kediktatoran Bung Karno.

Selama membaca catatan harian Gie, aku menangkap potret seorang anak muda yang sejak kecil telah teguh memegang prinsip. Yang juga rajin mecatatkan perjalanan hidupnya dalam sebuah cataan harian. Dan itu yang mendadak membuatku makin terpesona padanya. Karena aku pun saat itu sedang tekun-tekunnya menuliskan kejadian yang kualami dalam sebuah buku harian.

Saat itu, entah kenapa aku merasa ruh Gie begitu menggelegak dalam jiwaku. Sebagai seorang pemurung dan perenung, aku seperti menemukan sosok panutan. Dalam diamnya, Gie selalu mengamati seluruh kejadian yang ada di sekelilingnya. Dan itu telah dimulai ketika dia kecil. Ketika di SMP harus berdebat dengan gurunya, yang menurut Gie kurang wawasan sebagai seorang guru. Karena tentang Andre Gide saja guru itu tak mengenalinya.

Dan kepeduliannya sebagai seorang humanis telah muncul pula sejak kecil. Ketika ia harus menyaksikan pengemis yang makan kulit mangga, yang dipungutnya dari tong sampah. Sementara Bung Besar pemimpin revolusi, yang konon penyambung lidah rakyat, justru sedang mabuk pesta pora di istananya. Yang bergelimang kemewahan dan dikelilingi banyak wanita muda. Sebuah sikap yang sangat ditentang Gie, bahkan ketika kemudian harus bertatap muka dengan Bung Karno, sebagai wakil mahasiswa.

Dan lagi-lagi soal baju. Dalam pertemuan dengan Bung Karno itu pun, Gie sempat diledek oleh sang presiden, karena jas yang dikenakan terlihat kedodoran. Tak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang kurus kering. Tentu tak pas di badannya, karena sesungguhnya jas yang dikenakan Gie bukanlah miliknya. Melainkan jas pinjaman.

Sejak aku membaca catatan awalnya, aku seperti tak mau berhenti melanjutkan kisah hidupnya. Kisah yang dituliskan tiap hari, selama bertahun-tahun sejak SMP hingga ia meninggal, setelah ia lulus kuliah dan menjadi dosen di almamaternya.

Sosok Gie  begitu mempesona jiwa mudaku. Seorang penulis super produktif yang kerap muncul di media dengan tulisan-tulisannya yang keras namun cerdas. Yang karena keberaniannya mendobrak kebobrokan di awal Orde Baru, membuat dirinya terkucil. Dan memang begitulah konon jalan hidup seorang idealis, yang harus berani hidup tegar dalam kesepian.

Sejak membaca ‘Catatan Seorang Demonstran’ itu, aku jadi tertarik dengan pemikirannya. Hingga setelah lulus STM, aku berburu bukunya. Yang kebetulan pada waktu itu baru saja diterbitkan kumpulan artikelnya. Kumpulan tulisan yang sarat pencerahan pemikiran dalam menatap Indonesia yang antara kenyataan dan impian selalu tidak sejalan. Tulisan yang sempat dimuat di harian Kompas Kompas, harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Dan sangat berbahagia ketika kemudian bisa menikmati tulisannya, yang telah terkumpul dalam buku bersampul coklat berjudul ‘Zaman Peralihan, yang diterbitkan penerbit Bentang.

Entah mengapa, sampai sekarang aku masih merasa, bahwa jiwa Gie lah yang telah mewarnai hari-hari remajaku. Bahkan membentuk pandangan hidupku, untuk terus merasa tertantang dengan dunia wacana dan pemikiran. Untuk terus menjadikan tulisan sebagai senjata menegakkan kebenaran dan keadilan, seperti yang dulu Gie lakukan.

Maka ketika kemudian kisah hidup Gie difilmkan aku pun mengkoleksinya. Meski sempat kecewa dengan pemerannya, yang menurutku tak mampu memerankan Gie yang sangat kuidolakan. Nicholas Saputra seolaah masih membawa sosok Rangga yang dingin, ketika menjadi Gie yang sangat ceria dan usil namun cerdas. Gie bukanlah sosok pendiam, namun dia sangat ceria dan menikmati masa mudanya dengan bermacam gejolaknya.

Dan setelah 17 tahun berlalu, kenanganku tentang Gie tak hilang dan lekang oleh waktu. Mungkin aku tidak secemerlang Gie, yang meninggal dalam usia 26 tahun, namun namanya terkenang hingga melebihi batas umurnya.

Skripsi sarjana mudanya yang menuliskan tentang sejarah Syarikat Islam menjadi kajian yang sangat berharga. Sebuah skripsi yang kemudian dibukukan dengan judul ‘Di Bawah Lentera Merah’. Sedang skripsi sarjananya, yang mengulas tuntas tentang pemberontakan PKI Madiun pun turut memberikan referensi sejarah yang sekian lama disembunyikan pemerintah. Yang sekarang telah diterbitkan dengan judul ‘Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Hari ini aku sadari sepenuhnya, bahwa diriku tidaklah sekuku hitam Gie, kalau diukur pencapaian pemikiran dan perenungan. Sampai usiaku yang sudah berkepala tiga, aku hanya sibuk menggambar dan menulis yang jauh dari kualitas pemikiran dan tulisan Gie yang bernas dan cerdas.

Bahkan buku-buku harianku nanti, yang kutulis sejak kelas 4 SD pun, mungkin tak akan seberuntung catatan harian Gie. Yang diterbitkan dan dibaca banyak orang, karena turut menjadi catatan sejarah, tentang pergolakan pemikiran mahasiswa, dalam menatap gejolak jamannya. Menjadi jejak sejarah tumbangnya orde lama dan berdirinya orde baru. Bahkan menjadi inspirasi para aktivis, ketika orde baru harus ditumbangkan di masa krisis.

Aku memang tidak seberuntung Gie dalam catatan harian. Puluhan buku harianku yang masih kusimpan dalam kotak di lemari bajuku, ketika aku mati nanti, mungkin tak akan pernah dibaca orang. Bahkan mungkin hanya menjadi sampah, yang hanya layak dijual ke loakan dengan harga kiloan.

Namun paling tidak, hari ini aku masih menyimpan kebahagiaan. Sebuah keberuntungan, karena pernah mengenal Gie. Pernah menikmati pemikiran dan perenungan Gie. Bahkan sempat benar-benar merasa ‘menjadi’ seorang Gie.

Jadi sekali lagi, mungkin aku tak akan seberuntung Gie dalam meninggalkan kenangan pemikiran. Dalam meninggalkan tulisan-tulisan yang sarat inspirasi kemanusiaan.

Namun hari ini aku sepertinya lebih beruntung dari Gie, dalam soal pakaian.

Karena Gie dulu hanya punya satu kemeja. Sementara sekarang aku punya tiga!

Alhamdulillah…..

oleh Nassirun Purwokartun pada 31 Maret 2011 pukul 23:41
Iklan

Catatan Kaki 78: Honor Pertama yang Tak Pernah Kuterima

Standar

“Aku Ingin Jadi Penulis.”

Itulah judul yang kubuat dalam ulangan catur wulan Tes Hasil Belajar kelas 4 SD. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia ada soal mengarang dengan pilihan tema: berlibur ke rumah nenek, belajar kelompok, dan cita-citaku. Aku memilih yang terakhir.

Ternyata, hampir separuh teman sekelasku memilih tema itu. Tapi di antara teman-temanku, ternyata hanya aku yang membuat karangan dengan cita-cita sebagai penulis. Karena tata-rata mereka memilih cita-cita yang tinggi, macam dokter, insinyur, polisi, guru, tentara, bahkan presiden.

Tapi entah kenapa, meskipun dengan cita-cita yang sederhana itu, justru aku mendapat perhatian lebih dari guruku. Setelah pembagian rapot, aku disuruh maju untuk membacakan karanganku itu. Bangga sekali rasanya. Dan bahagia.

Menginjak kelas 5, aku mulai mencoba mengirimkan tulisanku ke majalah anak SD. Kebetulan untuk karesidenan Banyumas, ada majalah MITRA yang terbit tiap bulan. Mungkin hasil kerjasama dengan Dinas P dan K Kabupaten. Ini majalah khusus untuk sekolahan, karena tidak dijual di toko buku.

Pertama kali, aku mencoba mengirimkan tulisanku yang berbentuk puisi. Kebetulan saat itu aku memang sedang senang-senangnya dengan puisi. Hingga aku selalu jadi wakil sekolah ke Porseni kecamatan untuk lomba baca puisi.

Untuk majalah MITRA, aku mengirim puisi hampir tiap minggu. Dengan uang jajan yang kukumpulkan selama seminggu untuk beli prangkonya. Puisi-puisi itu kutulis tangan di kertas buku tulis dengan rangkap dua. Satu untuk dikirimkan, satu untuk disimpan. Sampai lulus SD, aku punya kumpulan puisi sebanyak 2 buku tebal tulisan tangan.

Namun berbulan-bulan kemudian, bukan puisi yang dimuat di MITRA. Melainkan gambarku yang muncul dan dimuat di majalah itu.

Memang selain puisi, aku juga mengirimkan gambar, yang ruang rubriknya bareng dengan puisi. Aku masih ingat, gambarku waktu itu adalah gambar seekor burung beo putih dengan jambul kuning. Gambar yang kutiru dari kalender toko mas yang terpasang di dinding bambu rumahku. Kugambar dengan tinta boxi di selembar kertas buku gambar cap ‘Burung Gelatik’.

Dari pemuatan itulah, aku merasa menjadi mulai dikenal. Baik antar sekolahan, maupun di tingkat kecamatan. Teman-teman lain kelas yang sekomplek dengan sekolahku jadi mengenalku, anak kelas 5 yang gambarnya pernah dimuat di majalah kabupaten. Juga teman-teman siswa sekolah lain, yang ketemu waktu jadi perwakilan siswa teladan.

Aku bangga sekali dikenal oleh mereka. Karena waktu itu, untuk tingkat kecamatan baru aku yang karyanya bisa dimuat di MITRA. Padahal aku datang dari SD yang selama ini tak pernah diperhitungkan dalam perlombaan apa pun di tingkat kecamatan. Jadi meskipun tidak terpilih jadi siswa teladan, dada ini serasa sesak menerima pujian.

Bahkan meskipun dari pemuatan gambar tersebut aku tidak mendapatkan honor, aku tetap merasa bangga dan bahagia.

Mestinya, kata guru-guruku waktu itu, honor pemuatan di MITRA adalah 5.000 rupiah. Tapi mungkin karena letak sekolahku jauh dari kabupaten, jadinya honor tidak dikirimkan. Apalagi petugas pos pun, hanya datang seminggu tiga kali. Itu pun hanya diantar ke balai desa, tidak langsung ke alamat tujuan. Pak Kebayan lah yang bertugas mengantarkan.

Mungkin memang bukan honor yang menjadi alasanku untuk menulis dan mengirimkan tulisan. Tapi memang ada bara yang menyala-nyala di dada untuk dipijarkan dalam kata-kata.

Padahal tanpa sepengetahuanku, orang tuaku yang juga tahu dari tetanggaku yang guru, sudah menunggu-nunggu datangnya honor itu.

Lima ribu rupiah untuk ukuran keluarga kami adalah uang yang sangat besar. Kala itu, nilainya sama dengan 15 kilo beras.

Yang berarti bisa untuk makan kami sekeluarga selama setengah bulan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Maret 2011 pukul 23:41