Tag Archives: tertawa

Catatan Kaki 84: Rinai Rindu

Standar

“Aku mau mati!”

Dan aku hanya tertawa menanggapi, “Mau apa ingin?”

Tapi kamu menjawab pasti,  “Mau mati.”

“Mau dan ingin itu beda, lho….”

“Mau mati,” sekali lagi ucapmu mantap. Sepenuh hati.

Sebagai orang yang sama sekali tak mengenalmu, aku pun mendukung rencana itu. Sepenuh hatiku, setulus jiwaku, kusampaikan dukunganku padamu.

“Tapi kayaknya lebih baik disegerakan saja. Karena makhluk paling menyebalkan di dunia tak pernah ada dua.”

Dan kamu pun akhirnya mati. Benar-benar mati. Namanya tiada lagi. Dan mungkin aku salah satu orang yang kau pamiti. Justru setelah kau benar-benar mati.

Maka malam ini, sekadar untuk menyebut namamu, aku kenangkan sebuah puisi. Larik kata yang paling lama yang pernah kau ucapkan. Dibandingkan sepuluh puisi yang kau cipta dalam sebulan silam.

“Kita berbicara tentang kebahagiaan!”

Aku pun sepakat, dan kudengarkan bisikmu yang selalu tanpa suara. Tapi bisa terbaca. Bisa tereja. Bisa termakna. Bahasa jiwa, selalu bisa didengarkan oleh jiwa. Bukan dengan telinga. Sekali lagi, bukan dengan telinga.

 

“Berbisik angin gelisah pada kelam malam

Ketika petir mendesir ceritakan kisah

Tentang gelegar rindu yang telah lalu”

 

“Katanya tentang kebahagiaan. Kok malah kerinduan?” aku mencoba bertanya. Meski ‘petir mendesir’ itu langsung kusuka.

“Sudah. Dengarkan dulu. Ini rindu serindu-rindunya. Dan bukan kisah cengeng remaja!”

Sebagai orang yang mengenalmu sebagai si kepala granit, aku pun terdiam. Dan mendengarkan.

 

“Tiada lagi rintik penantian pada gerimis pagi

bila rinai penentuan telah menderas di hati

bahagia jiwa membasah tanpa jeda”

 

Dan aku langsung tertawa mendengar ‘bahagia membasah tanpa jeda’. Namun sekali lagi aku suka. Bahkan aku pun sepakat. Tanpa sepatah pun menyela, aku mantap menganggukkan kepala. Penentuan dan penantian yang berakhir bahagia, adalah puncak kerinduan terindah.

Aku kembali bisa meraba. Pasti karena kau masih teringat pohon pisang di dekat jendela. Ketika daunnya koyak diterjang angin utara. Pada kembang sepatu di halaman depan, yang turut berduka dalam tiupan. Kau masih terkenang pada gumam lirih dari daun-daun sirih. Tentang penantian dan penentuan yang berakhir sedih.

Tapi demi menghormati rasamu, menghargai bisik jiwamu, tak kuucapkan semua kataku. Aku hanya membatin saja. Kita sudah sepakat tak perlu membuka luka lama. Membuka segala kisah yang pernah menggelisah. Tutup sudah!

Dan ternyata, seperti kau mendengar kata dalam hatiku, apa yang kau ucapkan sama dengan apa yang sedang kurasakan. Apa yang sedang ingin kukatakan, sama dengan apa yang kemudian kautuliskan.

 

“Biarlah segala yang pernah mengesah

lenyap bersama senyap hujan membasuh tanah

biarlah segala yang pernah mengisah

kering seiring rebak aroma tanah basah.”

 

Saat itu hujan yang kaurindukan datang memenuhi janjinya. Ada petir yang tak lagi menggelegar, tapi hanya mendesir. Ada senyap hujan membasuh tanah yang harumnya menusuk penciuman. Sesuatu yang paling kau suka.

Dan entah kenapa, lagi-lagi aku sepakat tanpa banyak bertanya. Kita biarkan segala yang pernah mengisah, kering seiring rebak aroma tanah basah. Menguaplah sudah.

Maka inilah akhir perbincangan itu. Ketika kita sama-sama yakin telah membasuh jiwa dengan rinai rindu yang paling purna. Ketika kita juga sepakat yakin tak ada gelisah pada sesuatu yang tak perlu ada.

Kita cukupkan semua cerita. Kita tutup semua berita. Dan bukan derita. Hanya kisah. Bukan kesah. Sedikit kasih.

 

“Cukuplah cahaya cinta itu adalah engkau

jawaban rindu yang mampu memupus ragu

bak mentari hangatkan gigil kalbuku.”

 

Dan aku tak lagi bertanya tentang apa pun itu.

Hanya aku kembali setuju. Inilah jawaban rindu tanpa ragu.

“Kebahagiaan, bukan?” tanyamu.

oleh Nassirun Purwokartun pada 25 Maret 2011 pukul 17:39

Iklan

Catatan Kaki 83: In Memoriam si Dul

Standar

Namanya Dal.

Tapi kami sudal deal memanggilnya Dul. Kepalanya dari batu granit. Keras bukan main. Kalau dijitak bunyi ‘thing’. Konon karena ada isinya. “Think!”, katanya.

Kami sama-sama tak suka tertawa, tapi sangat keranjingan membaca. Membaca apa saja. Dan apa yang kubaca, dia baca. Tapi ujung-ujungnya harus tertawa. Karena ternyata kami satu selera.

Kami sama-sama tak doyan nasi, tapi maniak puisi. Kalau bicara puisi, bisa sampai pagi. Hingga mendarah daging, semua kata-kata kami pun menjadi puisi.

Seperti malam itu. Dia menuliskan puisi untukku. Puisi paling romantis yang pernah ditulisnya. Setelah kehilangan bayang-bayangnya yang hilang ke Palembang. Setelah kehilangan kunang-kunang yang timbul tenggelam dan benar-benar terbang. Setelah layang-layangnya melayang jauh ke negeri awang-awang karena putus benang.

Malam itu dia tuliskan puisi paling romantis untukku. Namun bukan untukku. Sekali lagi, bukan untukku.

“Kau Ada Karena”, begitu judulnya.

Dan bait pertama pun masuk ke hapeku.

 

“tak tahukah kau getar bahagia ini

bintang yang dulu hanya bisa kutatap

kini terdekap erat menjadi mentari hati

lelap sudah dalam takdir tersurat”

 

“Mau bicara tentang getar bahagia?” tanyaku.

Dan dia menerangkan dengan penuh penghayatan. Tentang harapan adalah bintang. Tentang keinginan adalan tatapan. Tentang kenyataan adalah dekapan. Dan kebahagiaan adalah takdir suratan.

Aku tertawa mendengar penuturannya. Persis sebuah pelangi. Yang warnanya tak kunjung aku mengerti. Tapi mentari hati, dan lelap yang tersurat, cukup aku sukai.

Kami pun deal menamakannya sebuah pertanyaan yang tak butuh jawaban.

Pembicaran pun beralih kisah tentang gelisah. Berlanjut ke rasa resah. Namun bukan tentang sesuatu yang salah.

Kalimatnya pun meluncur lancar. Penuh janji-janji dan puji puja. Tentang tak perlu menengok ke belakang. Tak perlu mengenang yang telah hilang. Cerita lama yang sudah saatnya dilupa. Tentang bayang-bayang yang tak lagi sepanjang badan.

 

“tak usahlah lagi kisah

tentang segala yang menebar resah”

 

Aku sepakati kesepakatan itu. Tak usah ada lagi kisah yang membuat resah. Tak perlu lagi membuka cerita lama, kisah-kisah kesah penuh kesyahduan tak syah. Juga segala apa yang membuat hati terluka. Luka dan bisa kubawa berlari, hingga hilang pedi peri. Aku terkenang teriak Chairil membaca baitnya yang sederhana tapi dalam maknanya.

Dan kami pun deal untuk tak membahas lagi apa pun yang bernama kisah.

Cerita berlanjut tentang kebahagiaan. Ketika kenyataan seindah harapan. Ketika apa yang diinginkan menjelma nyata di depan mata. Ketika apa yang diangan inginkan telah terlaksana sesuai yang dipinta.

 

“kau yang dulu bertakhta dalam doa

kini telah bermahkota istana kalbu

rasakan seutuh alunan syukurku”

 

Dan syukur itu meluncur serupa mantra. Hatinya penuh bunga bahagia. Doa-doanya terkabul semua. Sesuatu yang dulu sangat diharap, sekarang telah ditatap. Tanpa jarak, tanpa jeda. Sebuah bahagia yang purna.

 

“kasih, kau ada karena

cintaku pada Cinta”

 

Aku tertawa membaca bait terakhirnya. Cinta itu masih dipertahankan dengan C besar. Dan aku berdoa untuknya. Ia mendapatkan cinta-Nya. Tepatnya, Cinta-Nya.

Namun tertawaku tak berakhir mengeja puisinya. Namun juga sms pamitannya.

“Aku mau mati!”

Awalnya tak aku mengerti. Tapi setelah penjelasan yang tak jelas dan tak berarti, aku justru sangat bisa memahami. Bahwa dia memang sangat butuh mati.

Maka sejak tiga hari kemarin, dia telah benar-benar mati. Dia sudah tak ada lagi.

Ada yang hilang. Ada yang harus hilang. Tapi tak harus ada yang kehilangan.

“Kelingan. Kelangan.” Aku membalas pamitannya.

Ada haru. Juga sendu. Tapi tak lebih dari sedetik, telah berlalu. Kami sama-sama kembali tertawa. Hidup adalah belajar, katanya. Dan kembali granit di kepalanya membukit.

“Ra sah digagas, lak wis!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 24 Maret 2011 pukul 23:32