Tag Archives: tiap

Catatan Kaki 90: Belajar Mengalahkan, dan Bukan Pembunuhan!

Standar

Tak terasa, sudah 90 hari aku menulis ‘Catatan Kaki’.

Catatan yang kutulis di sela-sela sibuknya meniti hari. Di sela-sela sempitnya waktu, yang kalau dikalkulasi sebenarnya sudah tak ada kesempatan untuk menulis lagi.

Karena sehari-hari, secara formal aku kerja di sebuah surat kabar. Yang karena harus terbit pagi, maka semua pengerjaan digarap malam hari. Maka di antara teman kerja, jam kerja yang terbalik itu pun berefek pada waktu tidur yang terbalik. Yaitu saat di mana orang lain tidur, kami para pekerja media justru harus bekerja. Sedangkan di saat orang lain bekerja, kami harus menjaga keseimbangan kesehatan dengan tidur.

Namun yang demikian, tak berlaku bagiku. Karena kalau aku tidur di siang hari, anak-anakku justru tidak makan. Sebab gajiku di koran, sudah habis untuk biaya terapi anakku. Yang tiap bulan sudah menghabiskan dana minimal 1,5 juta. Jadi siang, tidak bisa kugunakan untuk tidur, namun harus digunakan untuk bekerja lagi.

Maka dengan ‘bismillah’, kunikmati hari-hari yang kalau dikalkulasi menjadi 14 jam kerja sehari. Karena kerja malam sudah 8 jam, ditambah kerja siang yang 6 jam.

Kerja malam hari, berangkat jam 4 sore, pulang jam 1 pagi. Sampai rumah sudah hampir jam 2 dini hari. Dan sebagai insomnia sejati, aku baru bisa tidur antara jam 2  sampai jam 3. Untuk kemudian harus sudah bangun lagi jam 5 pagi.

Sementara di pagi harinya pekerjaan lain sudah menghadang. Deadline novel keduaku yang sudah berkali-kali dikejar-kejar penerbit membuatku tak bisa lagi bersantai-santai. Dengan novel ketebalan 700an halaman, berarti aku harus menulis dalam 400an halaman ketikan. Yang itu harus diselesaikan dalam waktu 4 sampai 5 bulan. Hingga kalau dihitung harian, berarti harus menulis 3 sampai 4 halaman ketikan. Sementara waktu tiap hari hanya tersisa 4 jam, yakni di rentang antara jam 8 sampai jam 12 siang.

Maka untuk menulis ‘Catatan Kaki’ ini, aku menyempatkan waktu antara shubuh sampai dengan jam 8 pagi. Waktu yang ada ketika aku bangun sampai dengan antar anak sekolah. Yang di sela-sela itu  telah terisi kegiatan rutin, antara membantu pekerjaan rumah, mengantar istri berbelanja ke pasar, hingga menunggui anak, dan sarapan.

Maka setelah shalat shubuh, sambil menikmati dingin segarnya pagi, aku ke halaman depan. Sambil menyandar pada sriban di beranda rumahku, aku menulis apa saja yang sedang terlintas membersit di hatiku. Sesuatu yang sedang terkenang dalam ingatanku. Segala yang mendadak membayang dalam pikiranku.

Dan tulisan yang kubuat itu, tak kumaksudkan sebagai tulisan tentang pemikiran yang hebat. Yang tersususun dalam kata-kata dan kalimat yang dahsyat. Namun sebuah tulisan yang sederhana saja. Amat sangat sederhana. Tulisan yang hanya sekadar latihan tangan saja. Yakni latihan mengetik dengan sangat cepat. Apa yang ada di kepala langsung dikeluarkan begitu saja. Dan tak perlu harus kubaca ulang.

Sengaja aku memaksa diri, agar apa yang ada di kepala bisa mengalir lancar dan segar menjadi tulisan. Apa saja. Sesuatu yang sangat remeh-temeh saja yang aku tuliskan. Tentang kenangan masa kecil yang ‘membahagiakan’. Atau pun tentang perjalanan hidupku yang telah berlalu dan ‘membanggakan’.

Dan sepertinya memang itulah yang paling bisa kulakukan. Dengan waktu yang aku batasi hanya satu jam, aku tak bisa membuat tulisan yang hebat-hebat. Tentang ragam pemikiran yang bersliweran. Atau apa pun tentang wacana yang sempat kubaca dan ingin kukomentari penuh kekritisan.

Pada mulanya, aku membatasi ketikan hanya 2 halaman saja. Dengan asumsi, 5 menit untuk berpikir apa yang akan kusampaikan. Lima menit untuk sejenak bernafas melegakan jiwa dan perasaan. Dan selebihnya kukebut otak dan tanganku untuk lancar mengalirkan apa yang segar dalam pikiran. Dan tepat, ketika satu jam sudah habis, aku hentikan. Dan sekali lagi, tanpa membaca ulang.

Maka sungguh sangat berbahagia ketika bisa menepati waktu yang kusediakan. Bahkan lebih berbahagia, ketika jam di pojok kiri bawah laptopku masih menyisakan waktu barang beberapa menit sebelum waktunya. Yang artinya, aku telah bisa merampungkan tulisan sebelum tepat satu jam. Kebahagiaan, bahwa aku telah mampu mengejar waktuku.

Namun kebahagiaan menulis pagi tak bisa berlangsung lama. Hanya sebulan saja. Karena kemudian, pagi hariku tersita untuk harus mengedit novel keduaku. Yang semakin sering dikejar penerbit, dan juga pembaca. Beberapa pembaca yang suka, mengirim email, pesan di FB, bahkan sms. Dan aku sendiri pun sudah ingin segera merampungkannya.

Novelku ini tertunda jadwal penerbitannya, karena waktu siangku habis untuk mengurusi anakku. Yang harus kuantar ke empat rumah sakit untuk bermacam terapi. Yang itu sudah menghabiskan sebagian besar jam kerjaku. Baik untuk menulis, atau pun untuk menggarap order desain grafis demi memenuhi kebutuhan bulanan.

Hingga waktu yang kucuri di pagi hari, kugunakan untuk merampungkan novel. Waktu yang sebelumnya kugunakan untuk menulis ‘Catatan Kaki’ aku pakai untuk mengedit novel yang sudah selesai. Yang karena naskah ketikan terlampau panjang, hingga harus ada yang kupotong dan kubuang.

Sejak awal, aku mematok ketikan 400 halaman, namun karena asyiknya menulis, justru memanjang menjadi 450 halaman. Sementara pengerjaan mengedit, memotong dengan penuh perhitungan, ternyata bukan pekerjaan mudah. Selalu ada sayang ketika harus membuang. Padahal waktu sudah tinggal 2 bulan untuk kusetorkan ke penerbit.

Namun dengan ‘bismillah’, tiap bangun pagi selama 1 jam kupusatkan konsentrasi untuk membabat seluruh isi novelku hingga bisa berkurang 50 halaman. Yang dengan begitu, aku harus pamitan pada istri, untuk tidak bisa membantu apa pun pekerjaan rumah di pagi hari. Dengan konsekuensi yang kuberikan pada istri, tiap pagi tak perlu belanja dan masak untuk sarapan pagi. Namun cukup dengan membeli nasi rames, untuk makan pagi kami. Agar pekerjaannya tidak menumpuk, sementara harus mengurusi dua anak. Yang satu harus sekolah, yang satu harus bersiap untuk terapi di rumah sakit.

Karena waktunya sudah tak ada lagi untuk menulis ‘Catatan Kaki’, aku pun harus mencuri waktu yang lain lagi.

Dan waktu curian itu kutemukan, justru di saat jam kerja. Di saat aku masuk kantor, sambil menunggu pekerjaan yang sedang diedit redaktur, aku gunakan untuk menulis 1 atau 2 paragraf. Beberapa menit yang tersisa, selalu kugunakan semaksimal mungkin. Dan biasanya, dalam waktu ‘curian’ yang sangat sempit itu, aku bisa menuliskan sampai 1 halaman.

Menulis di sela waktu yang demikian padat, kendalanya adalah hilangnya mood. Di saat semangat menulis, konsentrasi pikiran penuh, tiba-tiba harus dihentikan karena kerjaan harus diselesaikan. Dan begitu pekerjaan selesai, dilanjutkan meluangkan menulis, justru mood yang ada sudah tidak seperti ketika sebelumnya.

Awalnya hal semacam ini menjadi masalah. Di sela riuhnya para redaktur bekerja, aku justu harus memusatkan sepenuh konsentrasi menulis ‘Catatan Kaki’. Yang untuk itu, seluruh suara yang ada di ruangan redaksi, harus bisa untuk tidak didengarkan.

Dan masalah itu justru kemudian kujadikan tantangan. Di sela ramainya orang berdiskusi, berdebat, bernyanyi, dan saling bercanda, aku justru harus menutup telinga. Memusatkan otak, untuk merangkai kata yang sedang terbersit dalam kenangan dan pikiran.

Akhirnya tantangan itu bisa kuselesaikan. Hingga sekarang, seribut apa pun suasana di sekelilingku, aku bisa dengan penuh konsentrasi untuk menulis ‘Catatan Kaki’.

Namun waktu yang tersisa itu tak selamanya luang. Di sela-sela kerja yang semakin hari makin padat, membuatku tak ada kesempatan untuk mencuri waktu lagi. Hingga harus memutar otak lagi, agar tiap hari masih tetap bisa menulis ‘Catatan Kaki’.

Hingga setelah memutar otek, kutemukan peluang mencuri waktu lagi. Yakni di jam-jam istirahat. Di sela-sela waktu untuk makan dan sholat, aku curi waktu setengah jam untuk menulis. Dengan hitungan, aku makan lebih cepat daripada teman kerja lainnya, yang setelah makan masih disambung dengan saling bercerita dan bercanda. Aku benar-benar hanya sekadar makan saja. Kemudian kembali ke ruang kerja, untuk menulis selama setengah jam. Dan dalam waktu itu aku bisa merampungkan 1 sampai 2 halaman.

Dan peluang lainnya kutemukan pada malam hari, setelah semua pekerjaan selesai, sambil menunggu jam pulang. Aku sempatkan waktu untuk menambah 1 halaman. Namun kalau di waktu istirahat aku sudah menulis 2 halaman, maka waktu malam aku gunakan untuk sekadar membaca ulang. Untuk mengedit sebentar, sebelum kemudian kuapload di FB.

Tentu, karena waktunya adalah waktu sisa, maka tulisanku pun kadang tanpa makna. Bahkan mungkin meloncat tanpa ritme yang seirama. Karena memang sekenanya saja, apa yang saat itu sedang ada dalam kepala. Dan bagiku, itu sah-sah saja.

Dan juga, karena waktu mengeditnya pun hanya waktu sisa, tentu hasil editannya pun tidak sempurna. Tapi bagiku, biar saja. Toh ini hanya latihan tangan saja. Agar tanganku bisa membaca apa yang ada dalam pikiranku.

Maka setelah ‘Catatan Kaki’ telah kutulis selama 90 hari, rasanya aku telah bisa mengalahkan waktu. Bahwa di segala waktu, bahkan di sela waktu yang tak ada lagi pun, aku masih tetap bisa mencoba menulis.

Jadi sekali lagi, ‘Catatan Kaki’ adalah sebuah tulisan remeh temeh belaka, yang kugunakan sebagai latihan tanganku saja. Sekadar latihan mengejar dan mengalahkan kesempatan di antara kesempitan waktu yang sering tidak tersedia. Dan rasanya, aku tak perlu lagi menyalahkan waktu yang tak ada, sebagai alasan untuk tidak membuat tulisan.

Maka sungguh, tulisan itu hanyalah sebuah latihan untuk mengalahkan waktu. Dan bukan untuk membunuh waktu. Karena setahuku, tak ada seorang pun yang mampu membunuh waktu.

Buktinya, sampai sekarang tak pernah kutemukan adanya kuburan waktu.

oleh Nassirun Purwokartun pada 30 Maret 2011 pukul 18:35
Iklan

Catatan Kaki 77: Taman Paling Indah di Dunia

Standar

Karena tiap hari ke perpustakaan, aku malah yang jadi kebingungan.

Karena begitu naik kelas dua, dalam satu tahun, hampir semua buku sastra di perpustakaan sekolah sudah kubaca. Buku-buku sastra di sekolah para tukang yang memang tidak seberapa banyak itu, telah kuhabiskan semua.

Namun lapar-dahaga akan bacaan masih tetap menggejala. Aku butuh bacaan tiap hari. Sementara untuk beli buku sendiri jelas tak mungkin. Sebab biaya sekolah pun, orang tuaku ternyata minta dibantu saudara, dengan perjanjian akan dibayar dengan tanah selepas aku lulus nanti.

Jadi biaya sekolahku selama di STM ditanggung dengan tanah yang akan dianggap sebagai pembayaran hutang. Kadang aku bersyukur, masih ada yang bisa diagunkan untuk biaya sekolah. Tapi kadang aku kecewa , karena harus merelakan empat tempat tanah orang tuaku melayang untuk selembar ijazahku, yang di kemudian hari tak pernah bisa kugunakan melamar pekerjaan.

Tapi yang lebih sering membuatku sedih, adalah tentang mahalnya biaya pendidikan. Hingga setelah lulus STM terpaksa aku tak bisa kuliah, karena orang tuaku tak punya lagi yang bisa diagunkan. Maka cukup sampai di STM akhir pendidikan formalku. Tapi aku bertekad, bahwa sekolah bukan satu-satunya tempat untuk menimba ilmu dan menangguk pengetahuan. Akan kucari dan kudapatkan di luar bangku perkuliahan.

Karena butuh bacaan, akhirnya aku menjadi pelanggan Perpustakaan Daerah Kabupaten. Tiap dua hari sekali, aku jalan kaki sepulang sekolah untuk pinjam di sana.

Letak Perpusda dari sekolahku agak jauh, ada sekitar tiga kilometer. Sepulang sekolah, aku mampir dulu ke sana, untuk baca dan pinjam. Tapi kalau sedang capai setelah seharian pelajaran praktek, aku hanya pinjam saja. Tidak membaca di situ. Meminjam dua tiga buku untuk kubawa pulang, dan kukembalikan tiga hari berikutnya.

Perpusda buku-bukunya memang lebih banyak macamnya daripada buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahku. Tapi buku-buku sastranya tak jauh beda. Tak ada buku sastra terbitan baru yang tersedia di sana. Hanya terbitan Balai Pustaka dan beberapa terbitan Proyek Bacaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tapi kemudian aku mendapatkan tempat yang kuidamkan.

Ada sebuah perpustakaan besar milik yayasan Kristen yang tak sengaja kutemukan. Sepulang sekolah, seperti biasa aku jalan kaki ke terminal yang jaraknya sekitar enam kilometer. Sambil jalan kaki di bawah terik yang menyengat, tak sengaja mataku menatap gedung tua yang selama ini luput dari perhatian. Di papan namanya jelas terpampang sebuah perpustakaan untuk umum.

Dengan agak takut dan malu karena bersebelahan dengan gereja, aku masuk ke gedung itu. Setelah berkeliling untuk melihat-lihat isinya, ternyata perpustakaan ini menyediakan banyak buku-buku sastra. Meskipun bukan terbitan baru, tapi lebih lumayan baru daripada buku-buku yang ada di perpustakaan sekolahku atau di Perpusda.

Aku pun kemudian mendaftar jadi anggota perpustakaan itu.

Ada dua jenis keanggotaan di perpustakaan tersebut, Pelanggan Baca dan Pelanggan Pinjam. Karena kalau jadi anggota Pelanggan Pinjam uang pendaftarannya mahal, aku hanya mampu menjadi Pelanggan Baca. Jadi hanya datang, dan baca di tempat. Buku tidak boleh dibawa pulang.

Dengan keuanganku yang minim, tak mungkin aku menjadi Pelanggan Pinjam. Uang pendaftarannya saja dua kali lebih besar dari SPPku waktu itu. Dan lebih tidak mungkin lagi, ketika harus meminjam dengan biaya pinjaman tiap buku yang lebih besar dari uang jajanku. Maka kupuaskan hanya baca di sana.

Aku cukup menjadi pelanggan baca saja. Yang biaya pendaftarannya terjangkau. Dan dapat kartu anggota baca yang berlaku untuk 20 kali datang. Setelah habis masanya, harus bayar kartu lagi. Persis seperti karcis.

Tapi karena hanya langganan baca, pasti ada kelemahannya. Misalnya kalau aku sedang baca sebuah novel. Novel yang rata-rata tebal itu, tak mungkin kubaca dalam waktu sekali datang. Perlu tiga empat kali, dengan waktu baca 2-3 jam. Itu kalau lancar, dan bukunya selalu ada. Bisa saja terjadi, ketika kemarin baru aku baca seperempat bagian, hari ini buku tersebut tak kudapatkan di rak. Bisa karena sedang dibaca orang lain, atau bahkan sedang dipinjam Pelanggan Pinjam. Tak bisa lain, harus menunggu sampai buku itu selesai dibaca orang, atau sampai dikembalikan oleh peminjam. Maka sering terjadi, selama seminggu aku hanya mampu membaca bagian-bagian awal dari sebuah novel, yang tiap hari berganti-ganti judul bukunya, karena tak kudapatkan lagi di hari besoknya.

Tapi bagaimanapun, aku bersyukur ada perpustakaan yang mampu memberikan penawar dahagaku akan buku, tanpa harus membelinya.

Waktu itu, aku sangat suka datang ke perpustakaan. Karena bagiku, itulah taman paling indah di dunia.

oleh Nassirun Purwokartun pada 20 Maret 2011 pukul 20:58