Category Archives: Catatan Kaki 91 – 100

Catatan Kaki 95: Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (2)

Standar

“Bagaimana tentang hukum menggambar makhluk bernyawa?”

Membincangkan kartun dan karikatur, selalu terhubungkan dengan pro kontra boleh tidaknya membuat gambar makhluk bernyawa.

Dan untuk memantapkan niatku, aku bersandar pada fatwa yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Qardhawi. Dalam buku ‘Islam Bicara Seni’, disebutkan tentang kesimpulan hokum menggambar, sebagai berikut:

Satu, jenis gambar yang paling berat keharamannya dan dosanya adalah gambar sesuatu yang disembah selain Allah. Karena ia menyebabkan pembuatnya kafir, apabila ia mengetahui hal itu dan sengaja berbuat.

Dua, menggambar suatu objek yang tidak disembah, namun dengan tujuan meniru ciptaan Allah. Dan menganggap diri bisa mencipta sebagaimana Allah mencipta.

Tiga, menggambar tokoh-tokoh yang tidak disembah, tapi dipajang dan ditempelkan untuk diagung-agungkan. Seperti gambar raja-raja, panglima, pemimpin, dan tokoh idola lainnya.

Empat, menggambar yang tidak diagungkan, tapi menjadi gaya hidup mewah dan berlebih-lebihan. Seperti untuk menghias dinding dan semacamnya. Hal ini hukumnya makruh.

Lima, menggambar yang tidak bernyawa, seperti pohon, gunung, laut, sawah, yang merupakan pemandangan alam, maka yang menggambar dan merawatnya tidak berdosa. Asalkan hal itu tidak melalaikannya dari ketaatan atau mengarah pada kemewahan hidup. Jika itu terjadi, makruh hukumnya.

Enam, karya fotografi, hukumnya mubah, asalkan objeknya tidak mengandung unsur haram.

Tujuh, gambar yang diharamkan atau dimakruhkan, apabila sudah dialihfungsikan, maka bergeser hukumnya dari haram dan makruh kepada mubah.

Dengan bersandar itulah, aku meniatkan, agar gambarkut terhindar dari keharaman dan kemakruhan. Melainkan sesuatu yang telah difungsikan sebagai penyampai pesan pendidikan dan kebenaran, hingga bisa bermanfaat. Dan mubahlah hukumnya.

Sebab aku mantap berkartun pun sesungguhnya berawal dari sebuah keprihatinan.

Ketika kartun pun bisa menjelma menjadi senjata untuk memojokan Islam, sementara kita tak punya senjata untuk melawannya.

Di waktu kecil, tetanggaku yang aktivis agama lain sering membagi-bagikan buku-buku komik yang ceritanya diambil dari kitab mereka. Ternyata banyak yang suka, dan ajarannya pun mudah dicerna oleh teman-teman sebayaku.

Hingga timbul pertanyaan, apakah kita tidak bisa membuat hal yang serupa. Mengemas ajaran-ajaran Islam dengan bentuk komik dan cergam. Hingga mudah diterima dan disukai oleh anak kecil?

Kemudian beranjak ketika remaja, aku berkenalan dengan banyak kartun dari banyak media. Yang masing-masing mereka membawa misinya sendiri-sendiri. Aku pun mulai berkenalan dengan media Islam. Tapi tak kutemukan kartun di sana.

Kalaupun ada, adalah saduran dari majalah-majalah Timur Tengah, yang kurang dimengerti pesan-pesannya. Karena beberapa ilustrasinya ditambah dengan huruf-huruf Arab gundul, yang tak semua orang bisa mudah membacanya.

Hingga timbul pertanyaan serupa, apakaah tidak ada kartunis muslim yang tergerak ke sana?

Maka sepertinya aku setuju pada Iqbal, bahwa ‘seni adalah juga merupakan sebagian dari bentuk manuver musuh-musuh Islam’.

Maka aku mantapkan aku akan berseni kartun, untuk menghadapi manuver tersebut. Aku mantap terjun ke dalamnya.

Kalau orang lain berdakwah dengan khotbah-khotbahnya, dengan tulisan-tulisannya, dengan pedangnya, dengan uangnya, dengan segala potensinya, maka biarlah aku mencoba dengan gambar-gambarku saja.

Akan kuasah mata pena gambarku sejatam pedang, sebagai senjata untuk mengajak kebenaran dan menghunus kemungkaran.

Itulah niatanku berdakwah lewat kartun, yang telah hamper 17 tahun aku pancangkan.

Dan niatan itu belum padam, meski belum banyak yang memahami niatan ini.

Namun aku terus mencoba. Terus berusaha. Semampu kekuatanku saja, tentunya.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 April 2011 pukul 23:16

Iklan

Catatan Kaki 94: Mengapa Aku Tetap Mantap Menjadi Kartunis (1)

Standar

Kartun dan karikatur itu ibarat binatang dan gajah.

Begitu yang dulu kudapatkan dari Pramono R. Pramoedjo, kartunis senior Indonesia, pendiri Persatuan Kartunis Indonesia. Kalimat yang diucapkannya dalam pembukaan Pameran Kartun Nasional, di Gedung Purna Budaya Jogja, pada tahun 1994 silam.

Kartun adalah binatang, sedangkan karikatur adalah gajah. Gajah adalah binatang, karena karikatur adalah bagian dari kartun. Tapi kartun bukan hanya karikatur, karena ada kartun murni (gag kartun), komik kartun, kartun animasi, kartun strip, kartun opini, dan bentuk-bentuk kartun lainnya.

Kartun, konon berasal dari bahasa Italia ‘cartoone’ yang berarti kertas. Kartun secara istilah berarti gambar yang bersifat representasi atau simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor.

Dalam kartun terdapat 2 tipe yang berbeda. Pertama, kartun murni atau kartun humor, yang sering juga disebut dengan gag kartun. Kartun ini mengangkat humor-humor yang sudah dipahami secara umum oleh masyarakat, dan sekarar berfungsi lucu-lucuan atau menghibur.

Kedua, kartun politik atau political cartoone, yang sering disebut juga dengan kartun opini atau kartun editorial. Disebut kartun politik, karena tujuan utamanya adalah menyindir masalah atau peristiwa politik. Dinamakan kartun editorial, karena kartun ini sebenarnya visualisasi dari tajuk rencana atau editorial suatu majalah atau surat kabar.

Kartun opini selalu mengangkat topik tentang situasi politik yang bisa dibuat lelucon segar, namun sarat dengan kritik tajam yang menggigit.

Di dalam pembuatan kartun, humor merupakan salah satu teknik yang harus dikuasai sebagai media kartunis untuk mengemas visualisasi imajenasinya, agar bisa menjadi sarana kritik yang ‘segar’.

Sebagai kartun opini, setidaknya ada empat hal teknis yang harus diingat. Pertama, harus informatif dan komunikatif. Kedua, harus situasional dengan pengungkapan yang hangat. Ketiga, cukup mengandung muatan humor. Keempat, harus mempunyai gambar yang baik. Dan bila kurang salah satu, ibarat mobil beroda empat, maka bobotnya akan berkurang.

Karikatur, konon juga berasal dari bahasa Italia ‘caricatura’, dari asal kata ‘caricare’, yang berarti melebih-lebihkan.

Secara istilah, karikatur adalah potret wajah yang diberi muatan lebih, sehingga anatomi wajah tersebut terkesan distorsif karena mengalamai deformasi bentuk, namun secara fisual masih dapat dikenali objeknya.

Deformasi ini dapat berarti penghinaan, atau bahkan penghormatan. Tidaklah mudah mendeformasikan sesuatu menjadi bentuk yang dianggap aneh dan sangat brilian, bila sang kartunis tidak dapat menjadikannya sebagai bentuk penghormatan. Seperti mencubit tanpa rasa sakit. Atau mengajak tersenyum sambil merenung.

Banyak orang Barat yang justru senang dikarikaturkan daripada difoto. Mantan presiden Amerika, seperti Jimmy Carter dan Ronald Reagan sangat bangga bila dikarikaturkan dengan gigi-geliginya yang besar dan jambulnya yang tinggi. Mereka menganggap, bila dikarikaturkan berarti mendapat penghormatan.

Ini berbeda dengan orang Timur, macam Indonesia, yang cenderung merasa terhina bila wajah dan fisiknya dipletat-pletotkan dengan gaya karikatur.

Pengertian komik, secara umum adalah cerita bergambar dalam majalah, surat kabar, atau buku, yang mudah dicerna dengan kelucuannya, atau keseriusannya. Sosiolog Prancis, F. Lacasin mengatakan bahwa komik adalah sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal, karena menggabungkan gambar dan tulisan.

Komik selain sebagai media hiburan, juga dapat berperan sebagai media propaganda, alat bantu pendidikan dan pengajaran, serta lain sebagainya. Di Jepang, komik atau manga sudah biasa dimanfaatkan untuk kepentingan pengajaran di kalangan masyarakat umum dan pendidikan di sekolah.

“Sebagai aktivis rohis, mengapa antum tetap memilih menjadi kartunis? Bagaimana tentang hukum menggambar makhluk bernyawa?”

Begitu yang dulu selalu dilontarkan teman ketika aku masih STM, dan sudah mengisi rubrik karikatur majalah Ishlah.

Dan entah kekuatan dari mana, saat itu aku justru mantap menjawab,” Karena aku ingin berdakwah lewat kartun.”

Sahabatku yang ketua remaja masjid itu hanya tersenyum. Entah mendukung, atau bahkan meragukan.

Namun dari pertanyaan dan senyuman itu, aku jadi terpacu untuk mewujudkan. Membekali diri dengan pemahaman kartun yang mencukupi, karena itulah senjata utama bagi seorang kartunis. Dan memperdalam pemahaman ilmu agama, karena itulah rambu-rambu yang harus aku patuhi, ketika meniatkan kartun sebagai sarana dakwah.

Seni dan agama bertemu di kedalaman jiwa manusia. Agama memberikan materi dasar bagi ekspresi estetika melalui persepsi dasar tentang Tuhan, alam, manusia, dan kehidupan.

Sementara seni, member respon emosional terhadap muatan-muatan kebenaran yang terdapat dalam persepsi-persepsi dasar itu, melalui suatu bentuk ekspresi yang indah, ilustratif, dan memiliki daya pengaruh yang kuat. Allahu jamilun yuhibbul jamal. Allah itu maha indah, dan mencintai keindahan. Begitu bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Iqbal pun pernah mengatakan bahwa seni adalah juga merupakan bagian dari bentuk manuver musuh-musuh Islam untuk mengembalikan pemikiran, sikap, dan tindak tanduk kaum muslimin kepada nilai-nilai jahili.

Dan Roger Garaudy juga pernah mengungkapkan perasaannya tentang hakikat seni Islam dalam untaian kata, ‘semua seni bisa membawa ke masjid, dan setiap masjid membawa kita kepada sholat.’

Masjid sebagai tempat sholat, pusat menyinarnya segala aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, seni merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perubahan masyarakat yang tengah diemban oleh dakwah Islam. Yang hal itu bagai tak terpisahkannya perasaan dari jiwa manusia.

Karena itu, seni Islam bukan saja bertindak sebagai bagian dari dakwah, namun ia adalah front tersendiri dalam sebuah pertarungan suatu ideologi.

Seni bergerak mengikuti langkah besar dakwah islam di tengah-tengah peradaban manusia. Apa yang tampak pada dunia seni hari ini, adalah sebuah upaya membentuk wajah masyarakat yang akan dihadirkan oleh cita-cita dakwah Islam.

Annis Matta, yang saat itu menjadi redaktur majalah Ishlah tempat kartunku dimuat, pernah mengatakan, bahwa seni Islam memiliki karakter yang kuat pada tendensinya terhadap muatan pemikiran dan esensi nilai. Sebab seni bukan sekadar memiliki fungsi hiburan, tapi yang jauh lebih penting dari itu adalah manfaat untuk turut secara aktif membentuk pola kehidupan manusia.

Namun demikian, itu tidak berarti bahwa seni Islam harus berisi nasehat, hukum, arahan, dan semacamnya.

Bentuk seperti itu justru akan merusak nilai kesenian itu sendiri. Seni di satu sisi, memang mempunyai fungsi tertentu. Tapi ia juga tidak boleh diberi beban melebihi kadar kemampuannya.

Keindahan dan pesona merupakan sifat azali kesenian, dan fungsi apa pun yang dibebankan padanya harus selalu dalam batas-batas yang tidak merusak dan mengurangi keindahan. Bentuk-bentuk ekspresi estetika harus selalu dikembangkan agar kekuatan pesonanya sama besarnya dengan dengan kekuatan pemikirannya.

Dan dari paparan itulah, dari rangkuman pendapat itulah, saat itu, aku mantap untuk meneruskan niat menjadi seorang kartunis.

Kemantapan yang sudah kupasang sejak tujuh belas tahun silam.

Bahwa kemudian sampai hari ini aku merasa belum bisa menganggap diri sebagai kartunis yang bisa berdakwah dengan kartun, aku pikir hanya soal waktu.

Karena yang penting aku sudah berusaha. Membekali dengan pemahaman tentang kartun yang lumayan mencukupi. Dan juga bekal pemahaman keagamaan, agar tidak melewati batas yang dibenarkan dalam hukum-hukum agama.

Bismillah.

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 April 2011 pukul 21:49

Catatan Kaki 93: Bukittinggi dan Buku yang Dibeli Tiga Kali

Standar

“Bukittinggi adalah sebuah kota kecil yang terletak di tengah-tengah dataran tinggi Agam.

Letaknya indah di ujung Gunung Merapi dan Gunung Singgalang dan di sebelah utaranya kelihatan pula melingkung cabang-cabang Bukit Barisan.

Antara Bukittinggi dan Gunung Singgalang terbentang sebuah ngarai yang dalam dan bagus pemandangannya. Agak jauh dari tempat itu, di jurusan sebelah timur, tampak Gunung Sago.”

 

Kalimat itu aku baca sepuluhan tahun belakangan. Ketika aku menemukan sebuah buku bersampul coklat tua, terbitan tahun tujuh puluhan. Sebuah buku langka, yang kudapatkan di kios buku loakan Gladhag, ujung utara alun-alun Solo. Buku tebal berjudul ‘Memoir’, yang merupakan autobiografi Bung Hatta. Yang konon ditulis sendiri oleh Bung Hatta bertahun-tahun lamanya. Sejak akhir tahun enam puluhan, hingga akhir delapan puluhan. Beberapa saat sebelum beliau wafat pada 14 Maret 1980.

Sejak SD aku sudah mengagumi pribadi Bung Hatta. Sejak membaca kisah hidupnya, dalam buku cerita yang kudapatkan di perpustakaan sekolah. Buku bersampul kuning, dengan foto Bung Hatta yang botak kepalanya. Dengan kaca mata dan pandangan mata lurus ke depan mencerminkan keteguhan dan keseriusan. Buku tipis berjudul ‘Bung Hatta Sang Proklamator’, yang sudah aku lupa entah karangan siapa. Namun kalau tak salah, penerbitnya adalah Aries Lima, dan merupakan buku proyek inpres pemerintah.

Aku terpesona dengan sosok Bung Hatta, karena kecintaannya pada buku, yang menurutku sangat mengagumkan. Dan itu sangat membekas di hatiku, sebagai anak kecil yang juga sedang sangat bergelora semangat membacanya. Hingga selama setahun di kelas 6, seluruh buku bacaan yang ada di perpustakaan, yang memang jumlahnya tak lebih dari satu rak saja, sudah habis aku baca.

Menginjak SMP, aku menemukan buku yang lebih berat lagi. Sebuah buku bersampul hitam yang kutemukan di pojok almari perpustakaan sekolah. Buku tebal dengan kertas buram yang terhimpit di antara ratusan buku pelajaran. Buku yang mungkin tak pernah seorang pun sempat memegangnya, apalagi membacanya. Terlihat dari licinnya sampul dan rapatnya kertas isi dalamnya. Buku berjudul ‘Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan’. Buku berisi kumpulan kenangan sahabat-sahabat Bung Hatta, yang dikumpulkan oleh Meutia Farida, anak sulungnya.

Namun sayang sungguh sayang, aku tak sempat merampungkan buku itu. Karena baru beberapa hari membacanya, mendadak buku itu tak kudapatkan lagi di lemari perpustakaan. Dan ketika kutanyakan pada penjaganya, konon dipinjam oleh seorang guru kelas tiga. Namun aku tunggu sekian lama, berhari-hari berbulan-bulan, bahkan sampai kemudian lulus, sepertinya buku itu tak pernah kembali ke perpustakaan.

Dan karena terkenang pada buku itu, aku pun selalu merindukan untuk bisa kembali mendapatkan. Untuk kemudian merampungkan bacanya. Dan baru lima belas tahun kemudian, aku mendapatkan kembali di kios loakan di Pasar Senen, Jakarta. Ketika aku datang ke Jakarta, ketika memenangkan juara I lomba karikatur KPK. Sebagian hadiahnya aku belikan buku di sana, sampai sekardus AQUA banyaknya.

Kekaguman pada Hatta, membuatku ingin terus menelusuri jejaknya. Bahkan ada niatan untuk mendatangi rumah kelahirannya, yang sudah kuidamkan sejak kelas 2 SMP. Yang terus kuniatkan, kalau ada dana dan kesempatan, harus segera kutunaikan.

Dan cita-cita itu baru tertunai setelah aku keluar dari kerja. Dengan tak lagi terikat jam kerja, aku jadi bisa bebas ke mana-mana. Termasuk ke Bukitinggi dan Padang selama delapan hari lamanya. Tentu dengan menabung selama setahun dari honor kartunku di sebuah media. Agar biaya selama perjalanan dan selama di sana tak mengganggu ‘perekonomian’ rumah tangga.

Aku pun berbahagia, bisa tiduran sejenak di lantai kamarnya. Sebuah rumah yang terletak di pusat kota Bukittinggi. Tak jauh dari bangunan Jam Gadang yang merupakan landmark kota itu. Rumah besar peninggalan saudagar kaya kakek Hatta, yang dibangun ulang karena rumah aslinya sudah lama runtuh. Dan karena pelebaran jalan, akhirnya bentuk bangunan pun digeser beberapa meter ke belakang dari letak aslinya.

Satu kenanganku pada Bung Hatta, yang membuatku kagum, adalah kecintaannya pada buku. Yang secara tak sadar, ternyata aku pun kemudian mengikuti jejaknya.

Ketika Hatta dibuang ke Digul, untuk kemudian diasingkan ke Banda, Hatta yang selama di pembuangan rajin menulis, meminta honornya diganti dengan buku. Dan selama bertahun-tahun di Tanah Merah, semakin banyaklah buku yang terkirim dari berbagai koran. Dan terbukti, ketika mendarat di pelabuhan Banda bersama Syahrir yang sama-sama diasingkan di sana, ada 16 peti besar yang berisi buku-buku Hatta.

Kecintaannya pada buku terus berlanjut hingga tua. Hingga saat Hatta tak lagi sepaham dengan karibnya, Bung Karno, yang tengah menjalankan ide demokrasi terpimpin. Akibat provokasi PKI yang tak suka dengan Hatta, akhirnya Dwi Tunggal pun tanggal. PKI yang mengetahui Hatta sosok yang sangat anti komunis, tak ingin pendapatnya tersebut bisa mempengaruhi Bung Karno yang tengah terbuai dengan ide NASAKOMnya. Hingga pada 1 Desember 1956, Hatta pun meletakan jabatannya sebagai wakil presiden Indonesia. Yang otomatis harus pindah dari rumah dinasnya di Jalan Merdeka Selatan 13 ke rumah di Jalan Diponegoro.

Dalam prosesi pindah rumah itulah, Hatta yang sangat cinta buku lebih mendahulukan buku-bukunya daripada perabotan rumah tangga lainnya. Buku-buku yang ribuan itu telah diikat sesuai tanda raknya, dan dimasukan dalam peti aluminium agar terhindar dari kerusakan. Karena memang kehati-hatian dalam merawat buku, sudah menjadi kebiasaannya. Hingga Hatta bisa sangat marah, ketika ada pembantu yang mengotori bukunya, atau bahkan ada yang menatanya dengan terbalik atas bawahnya.

“Mana ada orang yang berjalan dengan kepala di bawah,” begitu selalu hardiknya.

Dan kecintaan pada buku berlanjut ketika perpustakaannya makin banyak koleksinya. Hatta membayar pembantu untuk merawat ribuan bukunya. Yang tugasnya khusus untuk mengelap buku satu per satu buku koleksinya. Yang harus penuh kehati-hatian, supaya tidak terjatuh dan robek.

Dan itu pun terjadi padaku, ketika pindah rumah beberapa tahun lalu. Untuk mengangkut lima ribu bukuku, membutuhkan diangkut pickup sebanyak enam kali. Berikut dengan lemari dan rak-raknya. Sementara perabot lainnya kupindah belakangan. Setelah selesai menata buku di kamar kerjaku.

Kekaguman pada Hatta, membuat aku pun mengoleksi semua karya tulisnya. Dari naskah pidatonya ketika masih jadi mahasiswa di Belanda, kumpulan karangannya ketika dalam pengasingan, kumpulan pidatonya ketika menjadi wakil presiden, kumpulan surat-suratnya kepada Bung Karno setelah tak lagi jadi wakilnya, biografi yang ditulis oleh sejarawan, otobiografi yang ditulisnya sendiri oleh Hatta, bahkan beberapa buku yang berisi kenang-kenangan dari pada sahabat ketika Hatta berulang tahun.

Intinya semua tulisan yang berkaitan dengan Bung Hatta, aku koleksi, dan tak akan terlewatkan untuk menambah kelengkapan pengetahuan.

Maka begitu kemarin ada teman yang memberitahu, bahwa ada buku baru tentang Hatta aku pun langsung mencarinya. Buku baru berjudul ‘Untuk Negeriku’, yang konon ditulis oleh Bung Hatta sendiri. Aku pun langsung tertarik, karena sebelumnya aku sudah mempunyai otobiografi Hatta yang berjudul ‘Memoir’.

Sampai di Gramedia, tanpa banyak tanya, aku langsung membelinya. Harganya 125 ribu rupiah, terdiri dari 3 buku. Termasuk murah untuk buku trilogy semacam itu. Yang jilid satu berjudul ‘Dari Bukittinggi ke Rotterdam Lewat Betawi’, yang menceritakan perjalanan masa kecil Hatta hingga remaja, ketika menjadi mahasiswa di Belanda. Buku kedua berjudul ‘Berjuang dan Dibuang’, berisi kisah hidupnya setelah kembali ke Indonesia, menjadi aktivis pergerakan yang kemudian akrab dengan pembuangan. Sedangkan buku terakhir berjudul ‘Menuju Gerbang Kemerdekaan’, yang bercerita tentang persiapan menuju dan menjelang kemerdekaan yang penuh perdebatan.

Sebuah buku luar biasa, yang begitu sampai rumah langsung aku baca.

Pertama aku baca pengantarnya, yang disampaikan Meutia Farida mewakili pihak keluarga Hatta.

Kekagetan langsung terjadi, ketika baru membaca beberapa paragrafnya. Karena ternyata, buku ‘Untuk Negeriku’ ini adalah bukan buku baru. Melainkan buku lama yang diterbitkan dengan judul baru. Dan buku lama itu adalah ‘Memoir’, yang terbit pada 32 tahun lalu.

Untuk meyakinkan, aku buka lembar berikutnya. Lembar awal dari otobiografi itu, yang berjudul ‘Bukittinggi’. Di sana tertulis kalimat yang masih sangat kuhafal di luar kepala. Yakni tentang pelukisan suasana Bukittinggi, yang sangat indah dan mempesona.

 

“Apabila tidak ada kabut, kelihatan dari jauh barat laut Gunung Pasaman yang tersohor dalam dongeng sebagai gunung yang mengandung emas. Ngarai dan gunung-gunung serta Bukit-bukit Barisan yang kelihatan sekitarnya itu memberikan kepada kota Bukittinggi suatu pemandangan yang indah sekali. Hawanya sejuk, pada malam hari malahan dingin. Berbagai jenis bunga subur tumbuh di sana. Orang-orang yagn datang bertamasya dari daerah pesisir sering menamakan Bukittinggi ‘Kota Kebun Bunga Mawar’.”

 

Aku sempat kecewa, karena ternyata aku membeli buku yang sudah aku miliki sebelumnya.

Ini adalah buku ketiga yang aku beli berulang. Karena ‘Memoir’ yang kubeli pertama dulu dipinjam adikku, namun sampai sekarang tidak dikembalikan. Maka ketika tahun lalu aku menemukan buku langka itu di Jogja, aku langsung membelinya.

Dan ternyata, yang kubeli sekarang pun buku yang sama.

 

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 April 2011 pukul 21:46

Catatan Kaki 92: Kalaulah Memang Anakmu Harus Pergi Meninggalkanmu

Standar

Tadi pagi ibu pulang ke Purwokerto, setelah dua minggu di Solo.

Ibu sengaja datang, karena sudah hampir setahun aku tak bisa pulang. Karena banyaknya pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan anakku yang memang harus selalu terapi selama empat tahun proses penyembuhan.

Aku sebenarnya ingin pulang tiap bulan, menjenguk orang tua dan rumah yang sudah dua puluh tahun kutinggalkan. Apalagi aku adalah anak tunggal, yang sejak kecil sudah jarang berada di rumah. Sejak SD aku sudah jarang tidur di kamarku. Lebih sering menginap di mushola, setelah membantu orang tua dan belajar malam. Begitu pun ketika SMP dan STM, aku lebih sering menginap di masjid dan di rumah saudara.

Awalnya sebenarnya sekadar niatan ’emosional’ seorang anak kecil, ketika aku SD, sering risih dianggap anak manja karena aku anak tunggal. Akhirnya aku menunjukkan, dengan giat belajar agar bisa meraih prestasi tertinggi di sekolahan, dan jarang sekali meminta apa pun pada orang tua. Selain juga karena memang, keadaan orang tua pun tidak berpunya. Jadi tak mungkin meminta yang tidak-tidak, untuk sekedar beli tas atau sepatu, misalnya.

Ketika aku SD, aku punya sepatu hanya waktu kelas 1. Setelah sepatu itu tak lagi muat di kakiku, aku tak beli sepatu lagi. Dan aku gembira-gembira saja sekolah tanpa alas kaki, karena saat itu bukan aku saja yang sekolah dengan kaki nyeker. Banyak teman lainnya, yang orang tuanya tidak berpunya, yang sekolah dengan kaki telanjang.

Aku beli sepatu lagi, setelah naik ke kelas 5. Itu pun karena aku terpilih oleh sekolah untuk menjadi pemimpin regu pramuka, untuk maju ke perlombaan tingkat kecamatan. Sepatu murahan warna hitam, yang kalau dipakai justru bikin kaki lecet. Sepatu yang dibeli setelah ibu dapat arisan RT.

Dan karena sepatu yang bikin lecet itu, ketika sekolah pun aku jarang memakainya. Lebih aman dan nyaman dengan nyeker saja. Aku memakainya hanya setiap hari Senin, kalau bertugas sebagai pemimpin upacara. Itu pun hanya di saat upacara saja. Setelah selesai upacara dan masuk kelas, sepatu kucopot kembali. Dan pulang pun dengan ditenteng.

Setelah itu, tak pernah lagi beli sepatu sampai lulus SD.

Dan sungguh, awalnya aku tak tidur di rumah karena ingin menunjukkan pada tetangga-tetangga yang suka bilang, bahwa anak tunggal pasti manja. Maka dengan prestasi di sekolah, kutunjukkan pada mereka, meski aku anak tunggal, tapi bisa untuk tidak manja.

Namun semangat menunjukkan itu kebablasan. Setelah kelas 5 aku sudah tak pernah di rumah. Setelah pulang sekolah, setelah makan siang, aku membantu ayah ke hutan untuk mencari rumput. Ayahku memelihara seekor sapi, hasil maro dengan tetangga. Jadi sapi itu milik tetangga, yang ketika nanti dipelihara dan beranak, anaknya itu menjadi milik berdua. Separoh milik ayahku, sebagai upah memelihara sekian lama.

Setelah mencari rumput di hutan pinus, aku pulang sambil membawa sekarung rumput. Sementara ayah membawa lebih banyak, dengan dipikul dan berat yang sangat. Sebuah pasokan makan untuk selama dua hari. Karena esoknya, ayah harus menggarap sawah. Sebidang sawah yang harus ditanami, yang juga bukan milik keluarga kami. Melainkan milik saudara, yang orang tuaku hanya menggarapkan saja. Dengan upah, ketika panen akan mendapatkan bagian.

Dari hasil panenan itulah, kami makan sekeluarga. Dan dari anak sapi yang dijual itulah, nantinya yang menjadi biayaku selama SMP.

Hari ini, aku teringat ibu, setelah tadi pagi mengantarkan kepulangannya. Mendadak ada rasa bersalah, ketika dulu aku selalu meninggalkannya.

Setelah mencari rumput, aku membantu ayah lagi. Membersihkan kandang sapi, dari rumput-rumput kering yang tak dimakan, dan dari kotoran yang berserakan. Dibuang ke jugangan yang berada di belakang kandang. Dikumpulkan untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk kandang.

Hari sore aku habiskan dengan menyapu rumah. Lantai yang masih tanah, dibersihkan dengan diperciki air terlebih dulu, agar bersih dari debu. Setelah itu, barulah disapu.

Sambil menunggu senja datang, aku buka buku pelajaran. Kubelajar dengan iringan musik dari RRI, dengan nyanyian lagu-lagu pop cengeng, yang saat itu sedang menjadi trend. Ada banyak lagu romantis yang banyak kudengarkan, dan kuhafalkan, dan masih terkenang sampai sekarang.

Setelah malam datang, waktu maghrib menjelang, aku berangkat ke mushola. Sholat maghrib dan mengaji di sana. Dan setelah isya, bermain di pelataran. Untuk kemudian menginap di mushola bersama-sama. Pagi setelah shubuh, barulah kami pulang. Untuk mandi, sarapan, dan berangkat sekolah.

Jadi sejak SD aku memang jarang tidur di rumah. Yang itu berlanjut ketika SMP dan STM. Bahkan setelah lulus, hanya berjarak setengah bulan, aku sudah langsung ke Bandung. Hampir delapan bulan di sana, kemudian pulang ke Purwokerto. Namun itu pun tak lama, karena aku kemudian ke Kalimantan, dan pindah lagi ke Cilacap.

Jadi sejak dulu aku memang tak pernah tidur di rumah. Kamarku hanya kujadikan ruang ganti baju, dan tempat menyimpan ratusan buku.

Dan hari ini, ketika aku tadi pagi mengantarkan kepulangan ibu, tiba-tiba aku terkenang kenangan rumah. Mendadak ada kerinduan untuk mencium pengap kamarku, yang telah dua puluh tahun tak pernah kutempati. Karena ketika pulang ke Purwokerto pun, aku lebih sering tidur di rumah istri.

Maka malam ini, entah mengapa, mendadak aku terkenang rumah. Dan mungkin, bulan depan aku niatkan untuk pulang. Untuk sekadar tidur di kamar tengah. Kamar yang dulu kujadikan gudang buku, dengan berantakan dan serakan buku yang memenuhi tempat tidurku. Buku-buku yang ketika kutinggal ke Solo, entah telah hilang ke mana. Konon banyak dipinjam orang, tapi tak pernah dikembalikan.

Dan setelah sepuluh tahun menetap di Solo, sungguh malam ini aku ingin merasakan kepengapan kamarku. Kamar dengan jendela kecil di sebelah barat, yang kordennya dari jarik ibu yang disobek menjadi empat. Kamar yang konon menjadi tempatku dilahirkan oleh ibuku, pada tiga puluhan tahun silam.

Malam ini aku belum bisa tidur di kamar itu.

Namun tadi aku sempat pesan, agar malam ini ibu mau tidur di kamarku.

Ada yang menyesak dalam batinku, ketika tadi ibu sempat memintaku untuk pulang. Setelah sepuluh tahun menetap di Solo menjadi perantauan sebagai kaum kabur kanginan. Namun dengan keadaanku yang sekarang, sepertinya aku belum berani pulang.

Maka malam ini, dengan terkenang pada ibu, aku teringat sebuah puisi yang kutulis sepuluh tahun lalu, ketika  berpamitan pada ibu.

 

“kalaulah memang

anakmu harus pergi meninggalkamu

sebab buah tak harus menggantung

di pohon selamanya

sesekali anak panah

harus lepas dari busurnya

tuk coba cari arah mata angin

sendiri

 

bebas

lepas

seperti anak burung

yang coba susun sarang

di dahan tinggi

 

tak usah khawatir

tak perlu bimbang

anakmu tak akan lupa

jalan pulang

 

yakinlah

sebab sesekali kapal pasti merapat

di pelabuhan

tuk membongkar muatan

 

dan kerbau pun akan pulang kandang

bila datang petang

 


(‘Catatan Kaki’ paling cepat yang pernah aku buat. Hanya 34 menit! Karena dari pagi hingga malam ini, sulit sekali ‘mencuri waktu’.)

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 April 2011 pukul 23:47

Catatan Kaki 91: Kemeja kotak-kotak biru dan kotak lemari penuh buku

Standar

Hari ini aku memakai kemeja kotak-kotak warna biru.

Mendadak, ingatanku terkenang pada Soe Hok Gie, sosok idealis idolaku.

Dalam sebuah tulisan untuk mengenang pribadi Gie, Dien Pranata menceritakan tentang hubungan baju dan acara sang adik. Yang dari baju yang pakai, Dien bisa menebak dengan tepat acara yang hendak Gie datangi.

“Kalau pakai kemeja kotak-kotak biru, berarti dia akan pergi nonton film. Namun kalau Gie memakai kemeja biru kotak-kotak, itu pasti mau menjadi pembicara dalam sebuah diskusi. Karena hanya itulah satu-satunya baju yang Gie miliki.”

Sungguh aku tertawa ketika membacanya. Dan sekarang pun masih tersenyum saat mengenangnya. Seorang pemikir cerdas, dengan kemeja satu-satunya yang dianggap pantas.

Dan aku pun sama, kemeja kotak-kotak biru ini adalah satu dari tiga baju yang kuanggap pantas untuk tampil rapi. Dan ketiga kemeja ini kubeli, karena harus bekerja ‘kantoran’ lagi. Kalau tidak untuk keperluan itu, aku pun malas beli dan memakainya. Karena sejak dulu, aku paling nyaman dengan memakai kaos.

Namun soal sedikitnya kemeja, sejak dulu aku paling malas membelinya. Hingga sekarang pun, kalau dibandingkan anak dan istriku, pakaiankulah yang paling sedikit.

Anakku yang pertama punya lemari baju sendiri. Begitu pun dengan anakku yang kedua. Sementara istri punya dua lemari. Sedangkan aku, justru numpang di lemari gantung milik istri. Dan hanya dua rak saja sudah cukup untuk menampung seluruh pakaianku.

Dulu aku sebenarnya punya lemari baju sendiri. Dengan dua rak untuk pakaian, dan delapan rak lainnya untuk menyimpan buku. Namun karena bukuku semakin banyak, dua rak bajuku pun tergusur. Akhirnya pakaianku kutitipkan di lemari gantung milik istri. Pada rak yang sebelumnya dipakai untuk menyimpan kain-kain, sekarang kusimpan baju-baju, kaos, dan celanaku. Dan dua rak cukup untuk menampung semuanya.

Aku mengenal sosok Gie ketika kelas 1 STM. Seorang teman sekelasku yang aktivis pramuka, membawa buku tebal ke sekolahan. Buku kumal dengan sampul belakang yang sudah sobek. Yang sobekannya bukan hanya pada sampul, namun sampai ke isi. Jadi bagian akhir buku itu sudah hilang, hingga tak tuntas ketika kubaca.

“Buku ini penting kamu baca, sebagai penulis yang gemar merenung,” kata temanku waktu itu.

Sekilas saja  kulirik buku tebal di tangannya. Sampulnya berwarna hitam putih merah dan terbaca judulnya, ‘Catatan Seorang Demonstran.’ Sepintas aku sama sekali tak tertarik menerima tawarannya atas buku kumal di tangannya. Apalagi nama pengarangnya pun tidak aku kenal.

Namun karena saat itu aku sedang tak punya uang untuk beli buku sastra terbaru, buku itu pun kupinjam juga. Dan ketika pulang, di atas angkot, mulai kubuka-buka lembaran buku kumal itu. Kertasnya sudah sebagian sobek, dengan kekumuhan yang sangat, seolah memang sudah berpuluh tangan yang membukanya.

“Buku ini sangat langka, dan pemikirannya sungguh luar biasa,” kata temenku itu, seorang perempuan aktivis pramuka mencoba meyakinkanku bahwa aku memang harus membacanya. “Buku ini menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa aktivis. Aku mendapatkannya ketika kemarin mengikuti kemah di Gunung Slamet, dari temenku yang aktivis kampus.”

Aku hanya mendengarkan saja iklan temenku, yang selalu berpenampilan nyentrik itu. Seorang perempuan, yang sesungguhnya di STM merupakan makhluk langka, namun tak pernah menampilkan diri dengan keanggunan seorang perempuan. Hobbynya mendaki gunung dan susur pantai, membuatnya lebih berkesan kekar daripada lembut.

Dan satu yang masih teringat dalam kenanganku tentangnya, adalah gelang yang melingkar di lengan kirinya. Sebuah sendok garpu yang dibengkokkan membentuk hiasan tangan putih keperakan. Sebuah gelang yang konon dibuatnya sendiri ketika berkemah, setelah bosan dengan akar bahar yang selama ini melingkari lengannya.

Setelah membuka lembar buku itu, aku pun mulai membaca pengantarnya. Dari paparan sang sahabat, Rudi Badil, aku mulai tertarik dengan sosok Gie. Seorang pemikir muda, aktivis 66 yang meninggal dengan tragis di gunung Semeru. Seorang perenung yang meninggal di usia muda, dengan menyimpan kekecewaan pada sesuatu yang diperjuangkannya.

Gie adalah mahasiswa Fakultas Sastra UI jurusan Sejarah, yang turut menggerakkan demonstran 66. Sosok pemikir yang turut menumbangkan Orde Lama di bawah kediktatoran Bung Karno.

Selama membaca catatan harian Gie, aku menangkap potret seorang anak muda yang sejak kecil telah teguh memegang prinsip. Yang juga rajin mecatatkan perjalanan hidupnya dalam sebuah cataan harian. Dan itu yang mendadak membuatku makin terpesona padanya. Karena aku pun saat itu sedang tekun-tekunnya menuliskan kejadian yang kualami dalam sebuah buku harian.

Saat itu, entah kenapa aku merasa ruh Gie begitu menggelegak dalam jiwaku. Sebagai seorang pemurung dan perenung, aku seperti menemukan sosok panutan. Dalam diamnya, Gie selalu mengamati seluruh kejadian yang ada di sekelilingnya. Dan itu telah dimulai ketika dia kecil. Ketika di SMP harus berdebat dengan gurunya, yang menurut Gie kurang wawasan sebagai seorang guru. Karena tentang Andre Gide saja guru itu tak mengenalinya.

Dan kepeduliannya sebagai seorang humanis telah muncul pula sejak kecil. Ketika ia harus menyaksikan pengemis yang makan kulit mangga, yang dipungutnya dari tong sampah. Sementara Bung Besar pemimpin revolusi, yang konon penyambung lidah rakyat, justru sedang mabuk pesta pora di istananya. Yang bergelimang kemewahan dan dikelilingi banyak wanita muda. Sebuah sikap yang sangat ditentang Gie, bahkan ketika kemudian harus bertatap muka dengan Bung Karno, sebagai wakil mahasiswa.

Dan lagi-lagi soal baju. Dalam pertemuan dengan Bung Karno itu pun, Gie sempat diledek oleh sang presiden, karena jas yang dikenakan terlihat kedodoran. Tak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang kurus kering. Tentu tak pas di badannya, karena sesungguhnya jas yang dikenakan Gie bukanlah miliknya. Melainkan jas pinjaman.

Sejak aku membaca catatan awalnya, aku seperti tak mau berhenti melanjutkan kisah hidupnya. Kisah yang dituliskan tiap hari, selama bertahun-tahun sejak SMP hingga ia meninggal, setelah ia lulus kuliah dan menjadi dosen di almamaternya.

Sosok Gie  begitu mempesona jiwa mudaku. Seorang penulis super produktif yang kerap muncul di media dengan tulisan-tulisannya yang keras namun cerdas. Yang karena keberaniannya mendobrak kebobrokan di awal Orde Baru, membuat dirinya terkucil. Dan memang begitulah konon jalan hidup seorang idealis, yang harus berani hidup tegar dalam kesepian.

Sejak membaca ‘Catatan Seorang Demonstran’ itu, aku jadi tertarik dengan pemikirannya. Hingga setelah lulus STM, aku berburu bukunya. Yang kebetulan pada waktu itu baru saja diterbitkan kumpulan artikelnya. Kumpulan tulisan yang sarat pencerahan pemikiran dalam menatap Indonesia yang antara kenyataan dan impian selalu tidak sejalan. Tulisan yang sempat dimuat di harian Kompas Kompas, harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Dan sangat berbahagia ketika kemudian bisa menikmati tulisannya, yang telah terkumpul dalam buku bersampul coklat berjudul ‘Zaman Peralihan, yang diterbitkan penerbit Bentang.

Entah mengapa, sampai sekarang aku masih merasa, bahwa jiwa Gie lah yang telah mewarnai hari-hari remajaku. Bahkan membentuk pandangan hidupku, untuk terus merasa tertantang dengan dunia wacana dan pemikiran. Untuk terus menjadikan tulisan sebagai senjata menegakkan kebenaran dan keadilan, seperti yang dulu Gie lakukan.

Maka ketika kemudian kisah hidup Gie difilmkan aku pun mengkoleksinya. Meski sempat kecewa dengan pemerannya, yang menurutku tak mampu memerankan Gie yang sangat kuidolakan. Nicholas Saputra seolaah masih membawa sosok Rangga yang dingin, ketika menjadi Gie yang sangat ceria dan usil namun cerdas. Gie bukanlah sosok pendiam, namun dia sangat ceria dan menikmati masa mudanya dengan bermacam gejolaknya.

Dan setelah 17 tahun berlalu, kenanganku tentang Gie tak hilang dan lekang oleh waktu. Mungkin aku tidak secemerlang Gie, yang meninggal dalam usia 26 tahun, namun namanya terkenang hingga melebihi batas umurnya.

Skripsi sarjana mudanya yang menuliskan tentang sejarah Syarikat Islam menjadi kajian yang sangat berharga. Sebuah skripsi yang kemudian dibukukan dengan judul ‘Di Bawah Lentera Merah’. Sedang skripsi sarjananya, yang mengulas tuntas tentang pemberontakan PKI Madiun pun turut memberikan referensi sejarah yang sekian lama disembunyikan pemerintah. Yang sekarang telah diterbitkan dengan judul ‘Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Hari ini aku sadari sepenuhnya, bahwa diriku tidaklah sekuku hitam Gie, kalau diukur pencapaian pemikiran dan perenungan. Sampai usiaku yang sudah berkepala tiga, aku hanya sibuk menggambar dan menulis yang jauh dari kualitas pemikiran dan tulisan Gie yang bernas dan cerdas.

Bahkan buku-buku harianku nanti, yang kutulis sejak kelas 4 SD pun, mungkin tak akan seberuntung catatan harian Gie. Yang diterbitkan dan dibaca banyak orang, karena turut menjadi catatan sejarah, tentang pergolakan pemikiran mahasiswa, dalam menatap gejolak jamannya. Menjadi jejak sejarah tumbangnya orde lama dan berdirinya orde baru. Bahkan menjadi inspirasi para aktivis, ketika orde baru harus ditumbangkan di masa krisis.

Aku memang tidak seberuntung Gie dalam catatan harian. Puluhan buku harianku yang masih kusimpan dalam kotak di lemari bajuku, ketika aku mati nanti, mungkin tak akan pernah dibaca orang. Bahkan mungkin hanya menjadi sampah, yang hanya layak dijual ke loakan dengan harga kiloan.

Namun paling tidak, hari ini aku masih menyimpan kebahagiaan. Sebuah keberuntungan, karena pernah mengenal Gie. Pernah menikmati pemikiran dan perenungan Gie. Bahkan sempat benar-benar merasa ‘menjadi’ seorang Gie.

Jadi sekali lagi, mungkin aku tak akan seberuntung Gie dalam meninggalkan kenangan pemikiran. Dalam meninggalkan tulisan-tulisan yang sarat inspirasi kemanusiaan.

Namun hari ini aku sepertinya lebih beruntung dari Gie, dalam soal pakaian.

Karena Gie dulu hanya punya satu kemeja. Sementara sekarang aku punya tiga!

Alhamdulillah…..

oleh Nassirun Purwokartun pada 31 Maret 2011 pukul 23:41