Monthly Archives: April 2012

Catatan Kaki 54: Slow in Solo, Alon-Alon Waton Keraton!

Standar

 

Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan ulang yang telah banyak diketahui orang.

Aku justru ingin, sesekali bercerita tentang Solo dari sudut pandang yang lainnya. Solo yang tidak selalu identik dengan keraton atau pun budaya Jawa.

Karena sesungguhnya, masih banyak sisi menarik yang membuatku selalu terpikat dan terpesona dengan ranah rantauku ini. Pernik-pernik unik denyut kehidupan kota yang senantiasa membuat jatuh cinta. Hal-hal yang menjadikanku seperti menemukan masa lalu sekaligus masa depan, justru ketika jauh dari kampung halaman. Kisah-kisah kehidupan yang remeh temeh namun sangat membahagiakan.

Tapi sepertinya kisah-kisah seperti itu harus kutunda untuk diceritakan. Sebab tiap saudara atau sahabatku dolan ke rumahku, yang pertama mereka ingin kuantarkan, adalah keraton. Seolah-olah hanyalah keraton, yang ada dalam pikiran semua orang tentang kota bengawan ini.

Maka mau tidak mau, aku pun akan bercerita tentang perjalananku ke sana. Perjalanan panjang yang pernah kulakukan, untuk menelusuri kisah masa silam yang telah terlupa. Mengenang kejayaan kekuasaan yang selalu menyisakan legenda. Juga cerita-cerita dari bangunan tua yang mengajakku memaknainya.

Sebuah ziarah sejarah menyisir derak kehidupan dan pergantian jaman, yang terjadi di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat. Apa boleh buat!

Keraton Solo, begitu orang lebih gampang menyebutnya. Namun sebutan lengkapnya adalah Keraton Kasunanan Surakartahadiningrat. Yang berarti ‘istana tempat sang raja yang bergelar Sunan bertakhta di negeri Surakarta yang terindah di muka semesta’. Keraton yang merupakan peninggalan Mataram Islam di pedalaman pulau Jawa. Sebuah kerajaan hasil pemindahan dari keraton Kartasurahadiningrat.

Keraton Solo adalah kelanjutan dari kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di pulau Jawa sebelumnya.

Setelah kejayaan Majapahit runtuh karena perang Paregreg yang berkepanjangan, Kesultanan Demak Bintoro di pesisir utara Jawa berdiri tegak menggantikan. Raden Patah mampu membawanya mengalami puncak kejayaan. Namun setelah wafatnya Sultan Trenggono, Demak mengalami kegoncangan. Sebuah perebutan takhta yang menjadi awal kemundurannya. Bahkan kemudian sampai pada keruntuhannya.

Kesultanan Demak hancur karena sengketa keturunan Raden Patah. Hingga akhirnya kekuasaan dilanjutkan Kerajaan Pajang di pedalaman Jawa. Namun dengan meninggalnya Sultan Hadiwijaya, Pajang pun turut tenggelam. Kekuasaan beralih ke Mataram, di pesisir selatan Tanah Jawa.

Panembahan Senopati, sang raja Mataram mula-mula membangun kerajaannya di Kota Gede. Namun di masa Sultan Agung berkuasa, pusat pemerintahan Mataram dipindah ke Kerta. Dan raja penggantinya, Amangkurat Agung memindahkan lagi ke Plered, sebuah istana megah yang letaknya di selatan Kerta dan Kota Gede.

Kemudian setelah terjadi pemberontakan Trunojoyo, ibu kota Mataram pun berpindah lagi. Amangkurat Amral memilih Wonokerto menjadi pengganti Keraton Plered. Dan istana yang baru itu dinamakan Keraton Kartasurahadiningrat.

Pemberontakan terjadi lagi pada masa Mataram di bawah kuasa Paku Buwono II. Istana yang telah diduduki musuhnya, Sunan Kuning, dianggap tak lagi bisa dilanjutkan. Maka pusat pemerintahan pun berpindah ke arah timur Kartasura, menuju ke desa Solo.

Sejak itu desa di pinggiran Bengawan Semanggi itu pun berganti nama menjadi Surakarta, karena menjadi ibu kota Keraton Surakartahadiningrat.  Sebuah perubahan nama dari Kartasura menjadi Surakarta. Mengingatkan kita pada Tokyo dan Kyoto!

Kita bisa datang ke keraton Solo dengan naik apa saja. Bisa dengan becak, angkot, bus kota, taxi, atau pun mobil pribadi. Tergantung selera dan kenikmatan tamasyanya. Namun dari mana pun datangnya, berhentilah di Gladag.

Perempatan Gladhag adalah gerbang utama menuju keraton Solo. Orang lebih mengenalnya sebagai Gapura Gladag.

Kata gapura konon berasal dari kata ‘ghafura’ yang berarti pengampunan. Melambangkan niatan untuk mendekatkan diri pada Tuhan, yang diawali dengan meminta pengampunan atas segala kesalahan.

Gapura Gladhag merupakan bangunan peninggalan Paku Buwono III, raja kedua yang menempati keraton Solo. Sebuah pintu gerbang yang dibangun kembali dengan megah oleh Paku Buwono X pada tahun 1913. Hingga kalau diteliti, ada penanda berupa 48 pilar pagar dengan hiasan 48 plenthon pada bangunan ini. Sebuah penanda peringatan 48 tahun usia Paku Buwono X pada saat membangun gapura itu.

Di depan gapura, terdapat dua patung besar yang mengerikan. Orang-orang menyebutnya sebagai Reca Gladag, atau Patung Gladag. Sosok raksasa yang berada di kanan kiri gapura ini bernama Gupala Pandhitayaksa. Sebuah perlambang akan datangnya bermacam godaan dan rintangan, pada setiap niatan kebaikan yang hendak kita lakukan.Termasuk niatan untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Selepas meninggalkan gapura Gladag, kita akan memasuki satu gerbang lagi, yakin gapura Pagrogolan.

Kawasan ini konon, dulunya merupakan kandang hewan ketika sang raja gemar berburu binatang. Sebuah perlambang, bahwa setiap manusia memiliki sifat-sifat kebinatangan. Hewan-hewan buruan yang akan disembelih dikandangkan terlebih dulu di kanan-kiri gapura ini. Sebuah perlambang, agar kita semua bisa mengendalikan nafsu hewani yang ada pada diri kita.

Saat ini, setelah dua setengah abad sejak ditanam, pohon-pohon beringin di sekitar gapura telah sangat lebat. Daun-daunnya rimbun hingga menawarkan suasana kesejukan dan kedamaian. Menjadikan paru-paru kita sehat ketika melewatinya, dan bisa bernafas lega seperti tengah berada di sebuah alam bebas. Namun ini, justru berada di tengah jantung kota.

Dulu, trotoar di sepanjang kawasan ini sumpek oleh pedagang kaki lima. Namun sekarang, ada pelarangan dari pemerintah untuk berjualan di sini. Maka yang ada sekarang, tinggal jajaran ….. para pengemis.

Masuk lagi ke selatan, kita akan melewati gerbang satu lagi, yakni gapura Pamurakan.

Di sinilah binatang-binatang buruan yang sebelumnya berada di kandang itu disembelih. Sebuah petuah, bahwa untuk mendekat pada Tuhan, jalan pertama yang ditempuh adalah menyembelih nafsu kebinatangan kita. Membunuh nafsu hewani yang ada.

Sekarang, masih terdapat peninggalan masa lalu. Yakni sebuah batu landasan, yang dulu dijadikan alas penyembelihan hewan. Namun kini telah diabaikan orang, bahkan dijadikan alas penjual makanan menggelar dagangan. Inilah yang disebut orang dengan nama Sela Kentheng atau batu penyembelihan.

Memasuki sepanjang gapura ini, bersiap-siaplah menjadi orang terkenal, yang akan langsung dikerubuti banyak penggemar.

Karena begitulah yang dulu terjadi denganku. Aku yang selama hidup hanya orang biasa, serasa menjadi orang penting yang tiba-tiba disambut banyak orang.

Yakni para tukang becak yang menyambutku  penuh semangat keramahan.

“Keliling, Mas. Ke museum, ke keraton, cuma lima ribu!”

“Keliling keraton, pasar Klewer, batik Kauman. Sepuluh ribu saja, Mas!”

Namun dengan senyuman termanisku, keramahan yang sangat hangat itu kutolak dengan hormat. Aku ingin berjalan-jalan dengan jalan kaki saja. Selain biar bisa menikmati suasanan yang ada, juga demi kesehatan.

Tentu, kesehatan badan dan terutama kesehatan kantong.

Maka dimulailah ‘Slow in Solo!’

oleh Nassirun Purwokartun pada 11 Februari 2011 pukul 22:29

Iklan

Catatan Kaki 53: Di Kamar Mandi, Buku-Buku itu Kuhabisi!

Standar

 

Tak pernah kusangka, ternyata buku sudah menjadi bagian hidupku.

Menjadi makanan sehari-hari sejak kecil dulu. Hingga membuatku seperti pecandu, yang lebih mementingkan membeli buku, dibandingkan baju, celana, apalagi sepatu.

Maka membaca pun seolah telah menjadi bagian penting dari kehidupanku. Merupakan kebutuhan utama, seperti bernafas, makan, minum, dan tidur. Hingga di mana pun berada, aku tak pernah bisa lepas dari memegang buku.

Termasuk ke mana pun pergi, tak bisa tanpa membawa satu-dua buku di dalam tas punggungku. Untuk dibaca di dalam bus atau kereta, ketika perjalanan ke luar kota.

Pokoknya ke mana pun pergi, bekal buku harus selalu kubawa. Termasuk ketika mengantar anakku terapi. Aku merasa tak bisa bengong tanpa mengerjakan apa-apa, ketika menunggui anak yang sedang difisioterapi. Maka untuk membunuh waktu yang membosankan, aku habiskan dengan membaca di ruang tunggu Rumah Sakit.

Kebiasaan menjadi pecandu buku, ternyata berdampak pada berantakannya rumahku.

Karena di mana pun ruangan, akan ditemui serakan buku. Dari mulai ruang tamu, ruang keluarga, kamar Ummi, kamar tidur, kamar kerja, sampai ke gudang, bahkan juga di kamar mandi. Selain tentu saja perpustakaan pribadiku, yang memang khusus untuk menyimpan beberapa ribu buku koleksiku. Kamar sumpek ukuran empat meter pesegi yang keempat dindingnya telah rapat oleh lemari dan jajaran rak buku.

Kalau kurenungkan, berserakannya buku itu, sebenarnya hanya buah kemalasanku saja. Yang selalu malas untuk merapikannya kembali. Atau tepatnya enggan mengembalikan ke perpustakaan, untuk buku-buku yang belum selesai kubaca. Dengan alasan, biar gampang ketika mencarinya, maka kutaruh begitu saja, di mana tadi kubaca.

Dan ini sebenarnya kebiasaan buruk yang terbawa sejak kecil dulu. Kebiasaan jelek yang terbawa sampai tua. Hal yang pada awal-awal pernikahan sering membuat Ummi ‘bernyanyi’, karena ruangan yang sudah tertata rapi selalu berantakan tiap hari.

Berantakan yang sebenarnya juga disebabkan oleh kebiasaan jelekku lainnya. Yang tak bisa membaca sambil duduk, dan tak suka menghabiskan buku dalam sekali baca.

Aku tak pernah bisa bertahan duduk untuk membaca. Bisa bertahan 15 menit, itu sudah luar biasa. Karena sejak kecil telah terbiasa membaca sambil tiduran. Dengan begitu aku bisa membaca berjam-jam. Kebiasaan jelek yang telah berjalan puluhan tahun, hingga membuat mataku makin rusak saja. Dan kaca mataku bertambah tebal minusnya.

Dan itu diperparah dengan kebiasaanku yang tak suka menghabiskan satu buku dalam sekali baca. Aku lebih menikmati membaca bermacam buku, dalam waktu bersamaan. Misalnya ketika di ruang tamu, aku membaca buku sastra. Sementara di ruang keluarga, kulanjutkan dengan buku agama. Dan di kamar tidur, kunikmati buku filsafat dan humaniora. Sementara di kamar kerja kuteruskan mengeja buku budaya Jawa.

Jadi dalam sehari, aku bisa membaca bermacam ragam buku. Tergantung di mana membacanya, menemukan buku apa, dan sedang ingin membaca buku yang mana.

Karena itulah, perpustakaan hanya untuk menyimpan buku saja. Bukan kamar untuk membaca. Apalagi entah kenapa pula, aku tak pernah bisa membaca di sana. Aku lebih menikmati membaca buku di mana saja.

Termasuk ketika menemani anakku menonton tivi. Sambil menungguinya menonton CD lagu-lagu Islami, aku tiduran di karpet dengan tivi. Dan sebuah buku kubuka untuk kubaca. Setelah selesai, buku itu tak kukembalikan ke perpustakaan. Tapi hanya ditaruh di atas tivi. Atau kulempar begitu saja ke pojokan lemari.

Begitu pun ketika kemudian pindah ke ruang tamu. Dengan tiduran di sofa sudut, melihat anakku membuat mainan, aku membuka buku. Sambil membantu anakku, aku membaca buku yang ada di bawah meja. Dan begitu selesai, aku geletakkan kembali di sana.

Demikian juga ketika pindah ke kamar Ummi. Setelah menemani menidurkan anak dan Ummi pun turut tertidur, aku sempatkan membaca. Sebelum kemudian pindah ke kamar tidurku sendiri. Yang dilanjutkan membaca buku lagi. Buku yang biasanya sedang kutargetkan untuk segera kuhabiskan, karena sedang menjadi referensi tulisanku.

Aku dan Ummi memang beda kamar tidur. Kami tidur sendiri-sendiri. Semua karena aku tak bisa tidur di kamar Ummi, dan Ummi pun tak suka tidur di kamarku. Ummi tidur dengan anakku yang kedua, sementara aku tidur di kamar depan yang jendelanya lebar. Aku tak bisa tidur bersama Ummi yang jendela kamarnya sempit. Sebab aku suka sesak nafas, yang membutuhkan kamar yang luas serta sirkulasi udara yang lebih bebas.

Karena kamar kami berlainan, maka kamar tidurku lebih berantakan dibanding kamar Ummi. Itu pula alasannya kenapa tak mau tidur di kamarku. Karena ranjang kamarku penuh sesak oleh serakan buku. Sementara Ummi pun tak berani merapikan. Karena seringkali malah mangacaukan susunan yang sudah kuhafalkan.

Banyaknya buku di kamarku, karena di ranjang itulah aku bisa berjam-jam membaca. Terutama ketika sedang malas menulis atau menggambar. Apalagi aku memang sulit sekali tidur awal. Penderita insomnia berat, yang bisanya tidur di atas jam 1 malam. Dan sambil menunggu kantuk datang, aku banyak menghabiskan buku dengan tiduran.

Namun itu dulu. Kenikmatan yang bisa kudapatkan sebelum aku bekerja. Ketika masih punya waktu 24 jam sehari, yang tak terkurangi dengan jam kerja seperti sekarang ini.

Sekarang aku tidak bisa lagi membaca di beranda seperti dulu lagi. Sambil melihat anakku bermain di halaman, atau ketika menikmatinya hujan-hujanan. Sambil tiduran di sriban depan, sesekali bercanda dengannya yang sangat menikmati main air hujan.

Aku pun tak bisa lagi menikmati membaca di kamar tidurku sambil menunggu kantuk. Karena setelah pulang kerja pada dini hari, penat dan kantuk sudah menyerang. Apalagi sering kali sampai rumah, anak dan istri sudah lelap dan tertidur nyenyak.

Begitu pun dengan kenikmatan membaca di ruang tamu dan di ruang keluarga. Waktu yang 4 jam tak memungkinkan lagi untuk itu. Hanya bisa kugunakan untuk menulis dan menulis saja setiap harinya. Untuk merampungkan novel yang sudah berulang kali dikejar penerbit, dan juga ditanyakan pembaca kapan terbitnya.

Maka sungguh, kenikmatan membaca telah hilang dari waktuku. Aku tak punya waktu seluang dulu. Karena kalau aku gunakan untuk membaca, maka jatah waktu 4 jam itu untuk menulis menjadi terkurangi. Dan aku tak ingin melakukan itu.

Maka aku harus mencari waktu lagi. Tepatnya ‘mencuri’ dari seluruh waktu yang sudah sangat sempit itu. Untuk bisa menikmati membaca, seperti dulu lagi.

Dan waktu ‘curian’ itu, kemudian kutemukan di kamar mandi.

Inilah kebiasaan jelekku yang berikutnya, yang merasa sangat nyaman berada di sana sambil membaca buku. Sejak kecil dulu, ketika ke ‘belakang’ aku pasti membawa buku. Kebiasaan yang terus terbawa sampai tua. Hingga ketika sudah berkeluarga, aku pun memasang rak buku di kamar mandi. Hal yang membuat saudara dan beberapa teman yang sempat melihatnya dibuat keheranan, bahkan menertawakan.

Tapi memang di kamar mandi itulah aku menemukan sisa waktuku.

Sisa-sisa dari seluruh kesempitan kesempatanku. Dan dalam kenyamanan kamar mandi, banyak sudah buku-buku yang kuhabiskan di sana. Terutama buku-buku yang mendukung tulisanku. Buku-buku tebal yang menjadi rujukan utama penulisan novelku. Terutama serat-serat dalam bahasa Jawa, yang membutuhkan perhatian penuh ketika membaca dan menelaahnya.

Dan kesenyapan kamar mandi, telah menolongku untuk mampu berkonsentrasi tinggi.

Maka ternyata, di antara sempitnya kesempitan masih tersisa kesempatan. Meski aku menemukannya di kamar mandi. Kamar yang bagi orang lain bukan tempat yang nyaman untuk membaca dengan sepenuh kenikmatan.

Sebuah kebiasaan jelek yang tak perlu ditiru, oleh orang yang punya banyak waktu luang dan kesempatan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 10 Februari 2011 pukul 22:35

Catatan Kaki 52: NasSirun PurwOkartun dan Nasruddin Hoja Masih Saudara!

Standar

“Peliharalah ayam di rumahmu, setidaknya 5 ekor saja!”

Begitu nasehat Nasruddin Hoja ketika ada yang curhat padanya. Seorang tetangganya yang terkenal bodoh, yang sedang berkeluh kesah tentang rumahnya yang sesak. Kesumpekan yang makin terasa dengan keributan 7 anaknya yang masih kecil-kecil.

Nasehat itu pun diturutinya. Namun seminggu kemudian, ia datang lagi ke rumah Nasruddin. Dan keluhannya telah bertambah. Soalnya rumah yang sudah sumpek bertambah sesak dengan adanya ayam-ayam yang bebas berkeliaran.

Mendengar itu, Nasruddin pun menenangkan, “Sabar. Semua masih baik-baik saja. Jangan  terburu ingin melihat hasilnya, sebelum semua dikerjakan. Aku kan belum selesai memberikan nasehat untukmu. Sekarang, peliharalah 5 ekor merpati di rumahmu.”

Tetangga itu pun menuruti nasehat Nasruddin. Namun minggu berikutnya dia datang lagi, dan tambah berkeluh kesah. Rumahnya makin berantakan tidak karuan. Ayam dan merpati membuat suasana makin kacau. Karena menjadi mainan ke tujuh anaknya.

Nasruddin pun tersenyum saja, “ Sabar. Aku jamin bulan depan kau akan tenang tinggal di rumahmu. Tapi peliharalah dulu 2 ekor kambing di rumahmu.”

Nasehat itu pun dilakukan juga. Dan pekan depannya, tetangga itu bukan hanya berkeluh kesah, tapi malah marah-marah, “Rumahku makin berantakan. Tambah sempit dan sesak. Ayam, merpati, dan kambing bau itu telah menambah sumpek rumahku!”

Nashrudin kembali tersenyum, “Aku kan bilang butuh waktu sebulan. Coba sekarang kau jual ayam-ayammu itu. Minggu depan kita lihat keadaan rumahmu.”

Pekan berikutnya si tetangga dengan tersenyum cerah melapor padanya. “Benar juga nasehatmu. Rumahku sekarang sudah agak lega. Nah, apa nasehat berikutnya?”

“Sekarang jual semua merpatimu. Kita lihat minggu depan bagaimana keadaan rumahmu.”

Tetangga bodoh itu pun menuruti nasehat itu. Dan minggu depannya, ia menceritakan lagi, tentang rumahnya yang terasa lebih longgar. Nasruddin pun tersenyum. Dan memberikan saran terakhirnya, untuk menjual kedua ekor kambingnya.

Setelah itu, ia pun makin tersenyum lebar, “Rumahku sekarang benar-benar longgar. Terasa luas sekali. Aku bisa tinggal dengan lapang dan lega, tidak seperti sebelumnya. Terimakasih atas segala nasehatnya.”

Nashruddin, sufi bijak dari Turki itu tersenyum simpul. Menertawakan kegembiraan tetangganya yang tak menyadari kebodohannya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat kisah itu. Kisah kebijakan Nasruddin Hoja yang pernah kubaca waktu SMP, dari sebuah buku kecil yang kubeli di kios loakan. Kisah tentang kebodohan dalam melihat apa yang kita miliki, namun sering kali tidak disyukuri.

Mungkin itulah yang terjadi denganku selama ini. Membuang waktuku dengan sia-sia, hingga untuk menulis pun selalu ada alasan tak punya waktu. Dan aku ingin memerbaikinya. Dengan jalan yang sama, sesuai nasehat Nasruddin Hoja.

Maka hari-hari ini, sesungguhnya aku sedang belajar menjadi tetangga Nasruddin yang bodoh itu. Yang ingin menikmati rumahnya yang sempit menjadi longgar. Dan aku sedang ingin menikmati kelonggaran waktuku dalam seluruh kesempitan yang ada. Justru dengan cara menambah kegiatan menulis, pada waktuku yang sudah sangat sempit itu

Bahwa waktuku untuk bisa menulis hanyalah 4 jam setiap hari. Dalam waktu sesingkat itu, aku harus bisa memanfaatkannya dengan membaca, merenung, menyimpulkan, dan menjadikannya tulisan. Dengan target setiap hari menulis 2 sampai 3 halaman.

Menulis sebanyak 3 halaman sebenarnya target yang sangat keras. Karena dari waktu yang sempit itu, tak selamanya otak lancar untuk mengalirkan ide. Meski rancangan bab telah kubuat sebelumnya dan tinggal mengembangkan, namun mood tidak selamanya baik. Maka bisa saja dalam sehari aku hanya menghasilkan halaman kosong saja.

Namun kebuntuan itu, ingin aku pecahkan. Dan caranya adalah dengan menambah tulisan. Dan itulah awal mula mencetuskan ide menulis ‘Catatan Kaki’. Yakni menulis dalam waktu cepat, 1 jam saja setiap hari, sebelum mulai menulis novel. Yang itu kulakukan untuk membuka otakku, agar mood segar, dan ide pun mengalir lancar.

Selama ini aku memilih waktu menulis pada pagi hari. Karena itulah waktu yang paling memungkinkan. Setelah mengantar anakku sekolah pada jam 8 pagi. Sampai jam 12 siang, ketika bersiap dhuhur dan dilanjutkan menjemput anakku kembali.

Dalam hitungan waktu yang sangat singkat itulah, aku harus benar-benar mampu memusatkan perhatian. Sebuah kerja keras yang sangat menguras energi. Namun harus kulakukan, karena hanya itulah waktuku. Dan tak mungkin mengurangi 20 jam waktu lainnya, dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban yang lebih penting.

Maka sesungguhnya, dengan waktu mepet itu, aku benar-benar seperti tetangga yang bodoh itu. Karena dalam waktu yang sudah sempit, aku masih harus menyempatkan menulis ‘Catatan Kaki’ tiap hari. Dengan panjang 2 sampai 3 halaman tiap pagi.

Namun ini akan aku nikmati sepenuh hati, agar makin bisa merasakan betapa nikmatnya punya waktu luang.

Aku ingin belajar menjadi orang yang cerdas, yang bisa memanfaatkan sesempit apapun waktuku. Dan semoga bisa meningkat menjadi orang bijak, yang bisa membuat seluruh kesempitan waktu menjadi kesempatan untuk tetap menghasilkan tulisan. Hingga tak ada lagi alasan tak punya waktu untuk menuliskan pikiran dan perasaaan.

Maka hari ini, sungguh luar biasa bahagia syukurku, pernah mengenal nama Nasruddin Hoja. Bukan untuk menertawakan kebijakannya. Namun untuk mencoba menghikmati nasehat-nasehatnya, yang kadang lepas dari aturan logika normal orang biasa.

Nasruddin Hoja, adalah seorang sufi yang hidup di Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Mongolia.

Sewaktu muda, ia sering membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya. Namun karena itu, teman-temannya menjadi melupakan pelajaran sekolahnya. Hingga konon gurunya yang bijak, pernah berkata: “Kelak ketika dewasa, engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan mentertawakanmu.”

Maka aku pun sepertinya mempunyai nasib begitu juga. Contoh kecilnya, ketika sesekali ingin menulis status facebook yang bijak, teman-teman yang membaca malah tergelak.

Jangan-jangan aku memang masih saudaranya Nasruddin Hoja. Siapa tahu saja.

oleh Nassirun Purwokartun pada 9 Februari 2011 pukul 22:31

Catatan Kaki 51: Sehari Semalam Cuma 4 Jam!

Standar

 

“Tuhan benar-benar Maha Adil. Buktinya, Dia memberikan waktu yang sama pada tiap makhluknya. 24 jam sehari semalam.”

Begitu bunyi status facebook temanku, seorang kartunis ternama. Kata-kata dari orang yang gemar bercanda, namun dari kalimatnya terbaca kedalaman renungannya.

Dan hatiku tersentuh ketika membacanya. Sampai lupa memberi koment untuknya.

Kita semua, ternyata punya modal waktu yang sama. Hingga mestinya, juga mempunyai peluang yang sama, apakah akan berhasil ataukah gagal menggapai cita-cita. Karena kesempatan yang ada tidak berbeda, antara satu dan lainnya. Antara yang sukses dan gagal, sehari semalam sama-sama mempunyai waktu 24 jam.

Namun konon, hanya orang cerdas yang bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Dan hanya orang bijak yang bisa membuat semua kesempitan menjelma kesempatan.

Sayangnya, aku mungkin tidak masuk keduanya. Karena tetap saja merasa tak punya kesempatan, hingga selalu berada dalam kesempitan waktu yang ada.

Dan itulah yang membuatku sampai sekarang tak pernah bisa menulis. Hingga cita-cita masa kecil sebagai penulis pun harus tertunda sepuluhan tahun lamanya.

Entah mengapa, selama ini ada saja alasan untuk tidak menulis. Dan kambing hitam dari segala kesempatan itu adalah karena kesempitan waktu.

Aku selalu merasa kehabisan waktu untuk menulis secara rutin. Hingga selama ini, sepanjang sepuluh tahun ini, seolah tak ada waktu tersisa untuk serius menulis. Yang ada hanyalah sambil lalu saja. Ketika ada keinginan, saat itulah aku giat menulis. Sementara kalau sedang tak ada mood, maka tak ada tulisan apapun yang dihasilkan.

Maka sungguh malu, ketika merasa diriku penulis, bahkan menjadi pengurus organisasi penulis, namun justru tak pernah menulis.

Saking malunya pada diriku sendiri, aku bahkan sampai tercenung lama. Bahwa sempitnya waktu, sepertinya hanya alasan untuk menutupi kemalasan. Hingga ketika aku mengaku penulis namun tidak menulis, rasanya tidak beda dengan orang munafik. Yang mengaku diri beriman, tapi tak meyakini rukun iman. Yang mengaku muslim tapi tidak menunaikan rukun Islam.

Karena perasaan itulah, aku semakin malu untuk selalu menyalahkan sang waktu. Dan terlecut betul ketika menyadari bahwa semua kita mempunyai waktu yang sama, 24 jam sehari semalam. Hanya tinggal kebodohan kita saja, untuk selalu tidak pernah mampu memanfaatkan sebaik-baiknya. Padahal sejak kanak-kanak, sering kali kita hafalkan ayat, “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian!”

Karena tak mau rugi itulah, aku tak ingin mengkambing hitamkan waktu lagi. Tak ingin membuat alasan tidak mempunyai waktu, untuk serius menulis kembali.

Pokoknya, tak ada lagi alasan apa pun, yang berkaitan soal kebobrokanku mengatur waktu, yang menjadi pembenaran untuk tidak menghasilkan tulisan. Aku harus membuang alasan, untuk meraih impian. Karena di balik setiap alasan, yang ada hanyalah kemalasan. “Dan kemalasan pada diri kita, sering kali lebih manis dibanding madu,” begitu nasihat ulama besar Mesir, Ali Thontowi, yang makin membuatku malu.

Jadi mestinya jangan pernah merasa tak punya waktu untuk menulis. Sesempit apa pun itu, harus dijadikan kesempatan. Itulah yang kupancangkan di hatiku.

Meski jujur, sesungguhnya waktuku memanglah sangat sempit. Karena setelah kuhitung-hitung, dari 24 jam waktuku, telah habis 20 jam untuk menunaikan kewajiban-kewajibanku. Hingga untuk hakku sebagai seorang penulis, hanya tersisa 4 jam saja.

Hitungannya adalah begini. Sebagai seorang ‘kuli’ yang harus ngantor tiap hari, aku harus menepati waktu kerja 8 jam sehari. Sementara untuk persiapan dan perjalanan pulang balik kantor sudah menghabiskan waktu 2 jam. Jadi total untuk kewajibanku sebagai orang yang harus ‘ngandang’, telah kehabisan waktu 10 jam tiap hari.

Maka setelah itu, waktuku masih tersisa 14 jam lagi.

Namun itu pun harus terbagi lagi untuk kewajiban yang lain. Yang lebih banyak dan seringkali menghabiskan seluruh waktuku. Yakni kewajibanku sebagai manusia, kewajibanku sebagai suami dan kepala keluarga, serta kewajibanku sebagai seorang ayah.

Kewajiban pertama adalah hakku sebagai manusia normal yang butuh makan, minum, mandi, buang air, menonton berita, membaca, istirahat, tidur, berdoa, berolahraga, dan beberapa kesenangan ‘manusiawi’ lainnya.

Juga kewajiban sebagai seorang suami yang wajib memerhatikan hak istri dan keluarga. Menyediakan waktu untuk membina kehidupan rumah tangga normal, dengan komunikasi yang selalu terjaga. Meski waktu yang ada selalu membuatnya tak bisa berlama-lama menikmati kehangatan keluarga. “Yang penting kualitas, kan, Mi”, begitu alibiku yang sering ku’gombal’kan pada Ummi.

Plus sebagai ayah yang mempunyai anak kecil yang baru bersekolah TK. Harus mengantar jemput sekolah, dan memenuhi kebutuhannya bermain setiap pulang sekolah. Karena anakku memang lebih suka membuat mainan sendiri, daripada membeli mainan yang sudah jadi. Dan mengetahui ayahnya bisa membantu kreativitasnya, selalu membuatku harus meluangkan waktu untuk mengembangkan minatnya. Ada saja mainan yang dibuat tiap hari, dari barang-barang bekas yang ditemukan di mana dia  bermain.

Juga waktu yang harus kusediakan dan perhatian lebih untuk anakku yang kedua. Yang karena menderita mikrosefalus (penderita otak kecil), hingga membutuhkan perawatan ekstra. Harus terapi rutin dua hari sekali ke Rumah Sakit, karena perkembangannya terlambat. Yang mestinya umur 2 tahun sudah bisa apa saja, anakku baru bisa merangkak. Pertumbuhannnya masih seperti bayi 8 bulan. Belum bisa berdiri, memegang makanan, mengunyah makanan, bicara, apalagi berjalan. Dan terapi itu harus dilakukan selama empat tahun ke depan. Butuh kesabaran.

Hingga untuk menunaikan kewajiban-kewajiban itulah, aku sering merasa tak punya waktu untuk memenuhi hakku. Benar-benar kalau dihitung matematis, dengan keinginan untuk menjadi suami idaman dan ayah teladan, tak ada waktu untuk meluangkan memenuhi hakku menulis.

Karena kalau ingin benar-benar total, aku tak ada lagi waktu tersisa. Dari 14 jam itu, telah habis untuk menunaikan ketiga kewajiban itu.

Namun karena aku mau kembali menulis, maka semua itu tak ingin kujadikan alasan.

Dan dengan sepenuh ‘ketegaan’ pada anak istri, aku memberikan waktu 10 jam untuk semuanya. Untungnya, istriku sosok luar biasa, yang selalu mendukungku ‘segila’ apa pun rencana hidupku. Termasuk membagi waktu dengan hitungan sangat matematis begitu. Yang mungkin bagi orang lain terlalu ‘vivere pericoloso’, menyerempet bahaya.

Jadi aku merasa bukan suami yang baik, yang selalu penuh perhatian pada anak istri, karena sedikitnya waktu yang ada. Padahal itu pun sudah dengan konsekuensi berat. Aku harus sangat mengurangi jatah tidurku, yang dulu bisa sampai 4-5 jam.

Karena aku bekerja di koran, maka waktu kerjanya adalah malam hari. Berangkat pukul 4 sore, dan pulang pagi pukul 2 dini hari. Jadi waktu tidurku harus cukup hanya dengan 2 sampai 3 jam saja dalam sehari. Sepulang kerja, hingga menjelang shubuh.

Jadi dari 24 jam, telah habis total 20 jam untuk kewajibanku. Tinggal tersisa 4 jam sebagai hakku. Dan aku harus bisa membaginya untuk menulis, membaca, menggambar.

Dan semua berjalan lancar. Penulisan novel ‘Penangsang’ jilid dua pun bisa kelar. Juga novelgrafis ‘Slow in Solo’ yang penuh gambar.

Karena keadilan Tuhan, aku masih diberikan waktu utuh 24 jam. Namun yang penting lagi, selalu diberi nikmat kesehatan.

Alhamdulillah!

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 Februari 2011 pukul 22:31

Catatan Kaki 50: Ketika Pulau Muria Masih Terpisah dari Pulau Jawa

Standar

rancangan awal, waktu masih berupa lampiran draft novel. sebelum didesain sangat menarik, yang kemudian menjadi bonus novel Penangsang.

“Bonus peta Jawa abad lima belas. Ketika pulau Muria masih terpisah dari pulau Jawa.”

Pada sudut kanan atas novel Penangsang, dalam sebuah desain pojokan buku yang seperti tengah membuka, terbaca kalimat tersebut.

Karena memang itulah bonus dari novelku. Yakni sebuah peta lama yang menggambarkan bahwa dulunya pulau Muria pernah ada. Dan letaknya terpisah dari pulau Jawa.

Mungkin banyak yang tidak mengetahuinya. Bahkan malah bertanya-tanya, “Pulau Muria itu di mana?”

Karena itulah, kemudian kusertakan dalam lampiran novelku. Sekadar untuk memberi pemahaman awal, bahwa ada sesuatu yang bisa untuk menambah pengetahuan. Yang melengkapi semangat novelku, yang ingin menawarkan alternatif penafsiran.

Aku pertama menemukan itu, ketika penasaran dengan letak Demak, yang konon merupakan kerajaan maritim. Sebuah kesultanan yang terletak di tepi laut. Sebagai kejayaan pelanjut Majapahit yang telah runtuh karena kericuhan dari dalam, sejak perang Paregreg.

Dan Demak berjaya lebih dari setengah abad lamanya sebagai negara yang menguasai lautan. Beberapa kali sempat menyerang Portugis di Malaka, dengan armada laut yang sangat tangguh. Bahkan mengusirnya dari Sunda Kelapa dengan penuh kemenangan, hingga mengganti namanya menjadi Jayakarta. Dan semua itu karena ketangguhan kapal perang Demak, sebagai kerajaan maritim yang diakui hingga seberang lautan.

Jadi mestinya, Demak memang berada di tepi lautan, pada pesisir utara pulau Jawa.

Sebab konflik kebijakan kemudian membuat Demak runtuh dari dalam. Ketika Sunan Kalijogo tidak menyetujui kebijakan Demak yang lebih banyak memikirkan daerah pesisir. Sejak era Raden Patah hingga Pati Unus, yang membentangkan kekuasaan dari pesisir kilen hingga bang wetan. Dari Banten, Jayakarta, Cirebon, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Rembang, Lasem, Tuban, Lamongan, Sedayu, Giri, Gresik, hingga Pasuruwan.

Bahkan di akhir kekuasaan Sultan Trenggono, hendak melebarkan kekuasaan sampai ke ujung timur pulau Jawa, ke Panarukan dan Blambangan. Namun rencana itu tidak terlaksana, karena sang Sultan yang menjadi panglima terbunuh di benteng Panarukan.

Menurut Sunan Kalijogo, karena terlalu memikirkan pesisir, Demak sampai melupakan pedalaman. Untuk itulah, ia menyetujui Joko Tingkir ketika memindah kerajaan Demak ke Pajang. Yang kemudian justru menjadi awal keruntuhan Demak sebagai kekuatan maritim.

Penasaranku adalah, mengapa Demak disebut sebagai kerajaan maritim?

Padahal ketika aku datang ke sana, letak kota Demak sangat jauh dari laut. Bahkan jauhnya jarak ke pantai, lebih dari 30 kilometer. Dan hanya ada sungai kecil yang menghubungkan dengan lautan, yaitu sungai Tuntang yang bermata air di Rawa Pening.

Aku pun terus mencoba mencari jawabannya. Dan titik cerah itu kemudian kudapatkan pada beberapa buku yang kubaca.

Pertama aku menemukan penjelasan, dari dua buku penelitian Sjamsudduha, terbitan JP Books. Yang satu berjudul ‘Walisanga Tak Pernah Ada?’ dan satunya ‘ Sejarah Sunan Ampel’. Menurut buku yang merupakan telaah naskah pegon Badu Wanar dan Drajat itu, pendiri kesultanan Demak adalah Raden Hasan. Seorang santri utama Sunan Ampel di pesantern Ampeldenta yang kemudian diangkat menantu. Dan setelah menjadi sultan Demak dikenal sebagai Raden Patah.

Konon pesantren Ampeldenta yang didirikan Sunan Ampel sengaja memilih tempat di tepi lautan, yang juga di daerah pinggiran sungai. Suatu tempat yang subur lahannya, dan strategis karena berhubungan langsung dengan lautan. Yang kemudian dari kapal-kapal yang merapat di pelabuhan, akan mudah mendapatkan bermacam pengetahuan dari seberang lautan. Dan dari pedagang yang singgah akan memudahkan untuk berjual beli barang dagangan.

Dengan pertimbangan yang sama pula, kemudian Raden Patah mendirikan pesantrennya di daerah Glagahwangi. Yang juga berada di tepi laut, dan di pinggiran sungai besar.

Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Sunan Ampel menyuruh Raden Patah untuk mendirikan pesantren. Dan menurutnya, tanah yang baik adalah kalau menemukan tumbuhan glagah yang berbau wangi. Maka berangkatlah ia menuju ke arah barat dari pesantren Ampeldenta. Dan bertemulah dengan lahan yang banyak tumbuhan glagah di sebuah tepian sungai dan lautan, yang menebarkan bau harum.

Maka dibangunlah sebuah pesantren di tanah berawa tersebut. Semakin hari, perkampungan nelayan itu semakin ramai, dan Raden Patah menjadi pemimpinnya. Sebagai putra Prabu Kertabumi, ia kemudian dipercaya mendirikan sebuah kadipaten baru. Kadipaten bawahan Majapahit bernama Kadipaten Glagah Wangi. Dan Raden Patah pun menjadi adipatinya.

Jadi daerah Glagah Wangi, yang menjadi cikal bakal Kesultanan Demak, memang dulunya berada di tepian pantai. Persis seperti pesantren gurunya, Ampeldenta di Surabaya.

Itulah jawaban atas penasaranku yang pertama.

Sedang penjelasan lebih lengkap, kudapatkan dalam tiga buku sekaligus. Pertama adalah buku penelitian H.J. De Graaf dan Th. Pigeaud yang sangat terkenal, ‘Kerajaan Islam Pertama di Jawa’. Penjelasan yang  juga dikuatkan buku Dennys Lombard yang tak kalah monumental, ‘Nusa Jawa Silang Budaya’. Serta buku Prof. Dr. Slamet Muljana, ‘Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.’

Dalam buku ‘Kerajaan Islam Pertama di Jawa’ aku dapatkan keterangan tentang letak Demak yang berada di tepi laut, pada bab yang kedua. Di sana dituliskan, bahwa letak Demak sangat menguntungkan, baik untuk perdagangan maupun pertanian. Karena pada jaman dulu, wilayah Demak terletak di tepi selat antara pulau Muria dan pulau Jawa.

Bahkan dijelaskan pula, sebelumnya selat yang membelah antara pulau Muria dan pulau Jawa lumayan lebar. Sehingga dapat dilayari, dan kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk berlayar ke Rembang. Begitu pun sebaliknya. Tanpa perlu mengitari pelabuhan Jepara di pulau Muria pada ujung utara.

Dalam sejarah juga kita temukan hubungan Demak dan Jepara yang amat dekat. Putri sulung Sultan Trenggono yang bernama Ratu Kalinyamat mendiami wilayah tersebut, bahkan mampu memajukannya. Melebihi pelabuhan Semarang, karena keuntungan pantai Jepara yang tenang terlindung tiga gugusan bukit. Dan pada masa itu, Jepara terletak di pulau Muria.

Jadi dulunya, jalur jalan raya yang menghubungkan Semarang, Demak, Kudus, Pati, Rembang, hingga Lasem masih berupa perairan. Selat yang memisahkan pulau Jawa dan pulau Muria. Namun pada abad tujuh belas, selat tersebut tidak lagi dapat dilayari, karena pengendapan lumpur .

Bahkan pendangkalan yang parah, menyebabkan Demak memindah pelabuhannya ke Jepara. Hingga ketika menyerang portugis yang menjajah Malaka, Pati Unus pun melepas angkatan lautnya dari pantai Jepara. Demikian juga dengan Fatahillah ketika merebut Banten dan Sundakelapa. Dan Sultan Trenggono ketika menaklukan Pasuruwan dan Panarukan. Juga Ratu Kalinyamat ketika kembali mengulang penyerangan terhadap Malaka.

Ulasan dari bab ‘Kelahiran dan Kejayaan Kerajaan Demak’ itu cukup mengobati penasaranku.

Dan makin terpuaskan ketika membaca ‘Nusa Jawa Silang Budaya’. Karena dalam buku yang sangat lama kutunggu penerbitan ulangnya itu, terdapat peta pulau Jawa abad lima belas. Ketika pulau Muria masih merupakan pulau kecil di utara Demak.

Aku sengaja menyertakan peta itu dalam lampiran naskah novelku, karena untuk memudahkan bayangan pembaca. Bahwa dulu Demak memang berada di tepi lautan.

Aku sertakan peta itu bersama lembaran silsilah Raden Patah, Joko Tingkir, dan Penangsang. Agar pembaca semakin mudah memahami tokoh yang ada dalam novelku, dan hubungan antar mereka. Yang kalau tidak dipandu silsilah, mungkin akan meruwetkan.

Karena kepentingan itulah, penerbit menyertakannya sebagai lampiran di belakang novelku. Dan peta Jawa abad lima belas didesain sangat cantik, sebagai bonus untuk novelku.

Aku menyetujuinya. Semoga bermanfaat bagi pembaca, untuk sekadar menambah wawasan sejarah kita semua.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 7 Februari 2011 pukul 22:30

Catatan Kaki 49: Lelaki Buaya Darat; Dari Sinetron Sampai Pasemon

Standar

papan-papan kayu tua di petilasan Pajang, yang konon adalah bekas rakit Joko Tingkir.

“Kok beda dengan yang di sinetron?”

Adikku yang penggemar sinteron ‘Joko Tingkir’ berkomentar setelah membaca novel Penangsang.

Aku tersenyum saja. Karena memang demikianlah yang kuceritakan dalam novelku.

Di dalamnya tidak ada cerita tentang pertempuran Joko Tingkir melawan kawanan buaya. Hingga tidak pula ada kelincahan meloncat-loncat di atas punggung binatang berkulit keras itu. Yang konon kemudian takluk, hingga mengantarkan Joko Tingkir dengan mendorong rakit yang dinaikinya. Seperti yang ditontonnya dalam cerita sinetron.

Dan memang itulah yang kuyakini sebagai sebuah cerita, yang mungkin lebih mendekati kebenaran. Daripada kisah keperkasaan yang selama ini beredar luas, bahwa Joko Tingkir pernah menaklukan 40 ekor buaya di Kedung Srengenge.

Meski pun aku juga tak bisa menjamin seratus persen, bahwa yang kuceritakan dalam novelku lah yang benar. Bahwa cerita tentang Joko Tingkir mengalahkan kawanan buaya, sesungguhnya tak pernah ada. Hanya isapan jempol pemanis cerita babad saja.

Karena waktu yang terentang lima abad lamanya, tak mungkin terlacak pasti, apalagi sumber ceritanya pun hanya berdasarkan pada babad. Sesuatu yang menurut para ahli sejarah, lebih banyak dongengnya, hingga tak layak menjadi rujukan kebenaran sejarah.

Maka benarlah kata Seno Gumira Ajidarma, bahwa untuk mengetahui kebenaran sejarah, hanya mampu mengira-ngira saja dari peninggalan-peninggalan yang ada. Sedangkan untuk mengetahui secara mutlak kebenarannya, hanya mesin waktu yang bisa menjawabnya. Yang dengan mesin itu, kita masuk ke dalam masa dahulu kala, saat di mana Joko Tingkir hidup pada abad ke lima belas.

Dan sayangnya, mesin semacam itu tidak pernah ada. Atau tepatnya, belum ada yang mampu menciptakannya. Kalau pun ada, hanya dalam serial Doraemon saja. Jadi apapun perkiraan tentang sejarah, mestinya tak ada yang menganggap mutlak paling benar.

Apalagi yang kutulis ini pun bukan buku sejarah. Melainkan novel sejarah. Jadi meskipun bersinggungan dengan sejarah, karya ini tidak bernilai sebagai buku kajian sejarah. Namun hanya fiksi belaka. Jadi ketika ada yang meragukan pendapatku, ya aku terima dengan terbuka. Karena mungkin memang kita beda dalam menafsirkannya.

Termasuk ketika dalam sebuah bedah buku Penangsang ini, ada pembaca yang mendebat bahwa ceritaku hanya permainan imajenasi saja. Karena buktinya di petilasan Pajang dan petilasan Butuh, kayu rakit Joko Tingkir masih ada. Dan itu nyata adanya. “Bagaimana mungkin rakitnya ada, buktinya ada, kalau ceritanya tak ada?”

Aku pun hanya tersenyum.

Dan ingatanku terkenang pada sebuah papan kayu tua hitam lapuk yang berada di petilasan Pajang. Belahan kayu yang berdiri di pinggiran sungai Premulung, karena konon setiap kali dirobohkan dan diletakkan di tanah, kayu itu berdiri sendiri. Tegak seperti pohon hidup. Maka sejak saat itu, oleh sang juru kunci papan kayu itu tidak diletakkan di bawah, tapi diberdirikan. Dan sebagai kenang-kenangan, aku pun berfoto dengan kayu itu.

Juga ketika aku datang ke petilasan Ki Ageng Butuh, di Sragen. Kutemukan di sana sebatang kayu tua, seperti yang berada di petilasan Jipang. Sebatang papan kayu tua yang tinggal tersisa sebatang saja, karena konon tiap orang datang selalu mencuil batangnya. Karena mereka percaya, potongan kayu itu bisa mendatangkan berkah. Hingga yang awalnya dulu ada delapan batang, kini hanya tersisa sebatang saja. Yang karena semakin banyaknya orang yang berziarah, sekarang diamankan dalam sebuah kotak kaca, agar keberadaannya tidak hilang semua.

Dan aku pun berfoto dengan kayu kering tua yang konon bernama Kyai Tambak Boro itu. Kayu kering yang diyakini sebagai rakit peninggalan Joko Tingkir. Karena di Butuh itulah, makam Joko Tingkir berada. Lengkap dengan kedua orang tuanya.

Namun apa kita juga bisa memastikan, bahwa kayu itu memang benar-benar rakit yang dibuat oleh murid Ki Ageng Banyubiru, guru Joko Tingkir. Yang telah menyuruh muridnya untuk berangkat dari Getasaji menuju pesanggrahan Prawoto, dengan mengendarai rakit dan menyusuri Bengawan Semanggi. Siapa bisa menjamin pasti?

Lagi-lagi, karena waktu tidak dapat dikumpar, dan kita tidak bisa melongok kejadian yang telah lewat berabad lamanya, maka aku pun tak bisa menyakini itu sebagai sebuah kebenaran sejarah yang mutlak. Lima abad lalu, belum ada video yang merekam bagaimana pertempuran sengit sang Joko Tingkir dengan 40 ekor buaya. Jadi sah-sah saja kalau aku lebih memercayai pendapat yang beredar, bahwa kisah itu hanya kiasan belaka.

Aku mendapatkan kisah itu pada sebuah buku lama. Yang kudapatkan sekitar delapan tahun lalu. Buku tipis karya Andjar Ani yang berjudul ‘Ranggawarsita, Apa yang Terjadi?’ Sebuah buku yang sebenarnya menceritakan misteri meninggalnya sang pujangga Jawa terakhir itu, yang konon mati dibunuh, karena dalam karya terakhirnya sang pujangga bisa menuliskan dengan tepat hari tanggal dan jam kematiannya sendiri.

Tapi dalam salah satu bagiannya, Andjar Ani menuliskan bahwa kisah Joko Tingkir perihal Kebo Ndanu dan pertempuran melawan buaya di Kedung Srengenge adalah sebuah kiasan saja. Sebuah kisah yang tidak sebenarnya terjadi.

Maka bertolak dari pendapat itu, aku mengumpulkan pendapat dari cerita-cerita yang juga berkembang di Jipang. Juga cerita dari pesisiran. Yang aku menemukan kesatuan pendapat, bahwa pujasastra, Babad Tanah Jawi sarat dengan simbol-simbol pasemon.

Dan pendapat itu ternyata dibenarkan oleh juru kunci petilasan Pajang, ketika aku beberapa kali datang ke sana.

Menurutnya, bahkan makam Joko Tingkir bukan berada di Butuh, seperti yang diyakini banyak orang sekarang. Melainkan berada di Pajang, tepat di sebelah timur sendang kecil di pinggiran sungai Premulung. Aku pun diajaknya masuk ke dalam ruangan gelap itu, yang konon di bawahnya bersemayam jasad Joko Tingkir.

Sementara yang terkubur di Butuh adalah kosong belaka, setelah jasad Joko Tingkir dicuri oleh prajurit Mataram utusan Panembahan Senopati. Bahkan untuk meyakinkanku, juru kunci itu mengaku sering berkomunikasi dengan arwah Joko Tingkir, yang oleh dia dipanggil dengan sebutan ‘Eyang’.

Salah satu yang menurutnya sebuah pasemon adalah perihal Joko Tingkir mengalahkan kawanan buaya.

Menurutnya, kisah ini adalah sebuah kiasan untuk kejelekan moral Joko Tingkir, yang telah merenggut keperawanan seorang perempuan. Buaya adalah sebutan untuk orang yang sukanya mengganggu perempuan. Dan itulah yang terjadi dengan Joko Tingkir setelah terusir dari Kesultanan Demak karena kasus Dadung Awuk.

Dikisahkan, Joko Tingkir menghadap kembali pada gurunya, Ki Buyut Banyubiru. Dan oleh gurunya diperintahkan untuk datang ke pesanggrahan Prawoto, menemui Sultan Trenggono. Ki Buyut Banyubiru telah memberikan bekal mantra, yang akan membuat Sultan Trenggono yang telah mengusirnya menjadi menerima kembali Joko Tingkir

Dalam perjalanan ke Prawoto, Joko Tingkir terpikat dengan kecantikan perempuan. Seorang anak gadis lurah Kedung Srengenge. Joko Tingkir pun merenggut kehormatan putri Ki Lurah Baurekso. Namun Joko Tingkir yang telah menodai sang gadis, ternyata lari dari tanggung jawab.

Dalam Babad Tanah jawi dilukiskan bahwa Joko Tingkir bertempur dengan kawanan buaya di Kedung Srengenge. Kawanan buaya di bawah pimpinan raja buaya bernama Baurekso berhasil dikalahkan. Bahkan kemudian Joko Tingkir diantarkan ke Demak dengan kawalan kawanan buaya.

Dari cerita ini kita dikenalkan dengan sebuah lagu yang berbunyi, “Sigro milir, sang gethek sinonggo bajul, kawan doso kang njageni. Ing ngarso miwah ing pungkur. Tanapi ing kanan keri. Sang gethek lampahnya alon…”

Sebuah nyanyian yang kurang lebih artinya adalah, “Bergolak air sungai mengalir, ada rakit yang didukung oleh buaya. Empat puluh ekor yang mendorongnya. Di depan dan juga di belakang. Di sisi kanan dan juga kiri. Rakit pun melaju tenang….”

Namun sesungguhnya, dari kisah itu ada kode sinonggo bajul, atau dikawal dan diantarkan oleh buaya. Bahkan ada yang membacanya sinonggo mbajul, yang artinya diantarkan dengan sifat kebuayaan, mbajul. Yang artinya hampir sama dengan umpatan ‘buaya darat!’

Dan memang, konon buaya daratlah, yang telah merenggut kehormatan anak gadis Ki Baurekso tanpa mau bertanggungjawab. Dikiaskan bisa mengantarkan ke Demak, karena dengan tidak menikahi gadis itu, Joko Tingkir kemudian bisa menikahi putri Sultan Trenggono. Sebuah awalan untuk masuk dalam lingkaran Kesultanan.

Dari kisah-kisah yang penuh pasemon itu, aku pun kemudian menemukan cerita kiasan lainnya. Yaitu tentang Dadung Awuk dan juga Kebo Ndanu. Ternyata tidak seperti yang tertulis harfiah. Namun ada tindak kebejatan moral yang disembunyikan.

Dan itu semua kutuliskan dalam novelku, sebagai sesuatu yang mungkin dianggap baru oleh beberapa kalangan. Hingga mengagetkan mereka, dan kemudian mendebatnya. Namun sesungguhnya telah lama juga menjadi sebuah gunjingan diam-diam. Hanya belum ada yang berani mengungkapkan secara terang-terangan.

Maka aku pun kemudian merenung, menekuri kisah pasemon itu. Sebuah kekhalifahan macam apa yang bisa ditegakkan oleh seorang pemimpin yang cacat moralnya.

Maka tak heran kalau kemudian kita tak menemukan jejak keislaman yang lurus, dari sebuah dinasti panjang kekuasaan yang telah didirikannya.

Maka untuk itulah, aku bersemangat menuliskan. Sekadar sebagai obat penasaran. Untuk kemudian menjadi sebuah tawaran penafsiran.

Dan semoga juga bisa sebagai penyeimbang dari cerita sinetron, yang telah berulang ditayangkan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 Februari 2011 pukul 22:56

Catatan Kaki 48: Penangsang Bukan Pemberontak!

Standar

Terima kasih, untuk Gusti Pangeran Haryo Poeger Suryo Bandono, budayawan-sejarawan Keraton Kasusunan Surakartahadiningrat, yang telah banyak memberikan ‘semangat’ dan masukannya. matur nuwun, Gusti!

“Penangsang bukanlah pemberontak.”

Begitu dengan mantap Gusti Puger menjawab pertanyaanku.

Aku sengaja datang menemuinya, karena novel yang kutuliskan adalah tentang leluhur keraton Solo. Sebab keraton Solo adalah penerus dari kerajaan Mataram, yang didirikan Panembahan Senopati. Sementara Panembahan Senopati sendiri adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang diangkat anak oleh Joko Tingkir. Sedangkan Joko Tingkir adalah raja Pajang, setelah merebut takhta Demak dari tangan Penangsang.

“Jadi sebagai pewaris takhta Demak yang syah, Penangsang hanya menuntut hak.”

Dengan jawaban Gusti Puger tersebut, aku seolah menemukan pembenaran atas dugaanku. Bahwa Penangsang ketika berperang melawan Joko Tingkir, bukanlah memberontak pada Demak. Namun ia hanya menuntut hak atas takhta peninggalan kakeknya. Sebab sebagai cucu Raden Patah, ia merasa lebih layak menggantikan Sunan Prawoto, daripada Joko Tingkir yang hanya seorang cucu menantu.

Dalam silsilah Kesultanan, Joko Tingkir menjadi keluarga Demak, karena ia menikahi Ratu Ayu Cempokoningrum. Yakni anak ke empat Sultan Trenggono dari ibu yang merupakan putri Sunan Kalijogo. Dengan itulah, ia menjadi cucu menantu Raden Patah.

Novel yang sedang kutulis berkisah tentang sosok Penangsang. Tepatnya melihat kekisruhan tenggelamnya kekhalifahan Islam Demak dari sudut pandang Penangsang. Sebab selama ini yang telah beredar berabad-abad lamanya dalam bermacam babad, adalah kisah dari kaca mata Joko Tingkir sebagai sang pemenang. Sedangkan aku menulis kisah sandyakalaning Demak Bintoro itu dari pandangan tokoh yang kalah.

Jadi novelku ini seperti membalik cerita yang selama ini telah beredar.

Karena kisah ini aku tulis dari sudut Penangsang, maka Penangsang lah yang menjadi tokoh utamnya. Penangsang menjadi tokoh protagonisnya. Maka mau tidak mau, sosok Joko Tingkir yang membunuh Penangsang menjadi tokoh antagonisnya. Untuk sebab itulah, maka aku merasa perlu meminta pendapat dari pihak keraton.

Karena bagaimana pun, aku kawatir, kalau nanti ada salah paham dalam membaca novelku. Seolah-olah aku menulis Penangsang karena ingin menjelek-jelekkan sosok Joko Tingkir, yang selama ini kita kenal sebagai raja yang arif bijaksana. Paling tidak, begitu yang tergambar dalam bermacam pagelaran kethoprak.

Dan untuk pendapat dari keraton, aku pun meminta pendapat dari Gusti Puger. Beliau sebagai pengageng sentana keraton yang membawahi bidang budaya, sepertinya tepat untuk tujuan penulisan ini. Apalagi beliau selalu bisa ditemui di kantornya.

Kebetulan aku telah lumayan dekat dengan beliau. Karena selama proses penulisan bukuku yang berjudul ‘Slow In Solo: Alon-Alon Waton Keraton’, aku sudah sering minta masukannya. Buku trilogi novel-grafis tentang sejarah Solo itu telah membuatku sering datang ke kantor Gusti Puger, yang berada di barat Sitinggil keraton Solo.

Di bawah rindangnya pohon kepel batu, aku banyak meminta masukan kesejarahan dari adik Raja Solo tersebut. Karena Gusti Puger adalah putra almarhum SISKS Paku Buwono XII. Yang juga adik dari Gusti Behi, raja Solo sekarang yang bergelar Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SKIS) Paku Buwono XIII.

Dengan semangat itulah, kemantapanku untuk menuliskan sisi gelapnya Joko Tingkir semakin matang. Keraguan yang membayang, sedikit menghilang. Apalagi sebelumnya, aku juga menemui juru kunci Pajang, yang merupakan bekas keraton Joko Tingkir.

Menurutnya, apa yang tertulis dalam Babad Tanah Jawi adalah pasemon. Sesuatu yang sengaja disamarkan karena itu menyangkut kejelekan Joko Tingkir. Menurutnya, dalam membaca kisah Joko Tingkir, kita janganlah menelan mentah-mentah secara harfiah.

Seperti tentang kisah Joko Tingkir yang meremukkan kepala Dadung Awuk. Jangan dimaknai bahwa Joko Tingkir benar-benar membunuh pemuda Kedupingit itu dengan lintingan daun sirih. Juga dengan pembunuhan Kebo Ndanu, yang mengobrak-abik pesanggrahan Prawoto, yang dibunuh dengan rajah tanah merah. Bahkan juga kisah yang terkenal, tentang Joko Tingkir menaklukan 40 ekor buaya di Kedung Srengenge.

Menurutnya, semua adalah pasemon belaka. Kisah itu ditulis begitu hanyalah upaya untuk menutupi kebejatan moral dari Joko Tingkir, yang sesungguhnya mata keranjang.

Maka dengan berbekal dua pendapat itu, dari orang yang ‘dekat’ dengan Joko Tingkir, makin memantapkanku untuk menuliskan kisah seputar Penangsang.

Kisah yang bermula dengan terbunuhnya Sultan Trenggono, yang kemudian dilanjutkan dengan wafatnya Sunan Prawoto. Kisah yang berawal dari kekosongan takhta Demak, karenta kematian rajanya yang berulang dalam selang waktu 4 tahun.

Sebab bermula dari meninggalnya Prawoto, Joko Tingkir yang telah lama mengincar takhta Demak mulai bermain siasat. Anak Prawoto yang bernama Pangiri dinikahkan dengan anak perempuan Joko Tingkir. Maka untuk naik takhta, ia merasa telah mempunyai dua alasan kuat.

Pertama, karena ia telah 4 tahun menjadi pendamping Prawoto, yang menjadi pelaksana pemerintahan Kesultanan. Yang kedua, anak Prawoto masih kecil-kecil, hingga tak layak menjadi Sultan. Joko Tingkir sebagai mertua punya hak menggantikan takhta sang menantu, yakni Pangiri yang merupakan anak sulung Prawoto.

Dan siasat itu berhasil, karena Sunan Kalijogo pun menyetujui usul tersebut. Dan sejak itu Kesultanan Demak pun berada dalam genggaman tangan Joko Tingkir.

Sementara dengan keputusan tersebut, Sunan Kudus semakin merasa Kesultanan Demak berada dalam ancaman.

Karena begitu Joko Tingkir naik takhta, Waliyyul Amri benar-benar dibubarkan. Dewan Wali yang didirikan Sunan Giri, sebagai pengontrol Sultan yang merupakan ulil amri menjadi tiada lagi. Dewan ulama yang selama setengah abad menjadi penasehat pemerintahan, agar jalannya tidak melenceng dari aturan agama, mendadak dihapuskan dengan naiknya Joko Tingkir.

Sebagai gantinya, Joko Tingkir yang telah menjadi Sultan Demak bergelar Sultan Hadiwijaya, kemudian mengangkat para penasehat kerajaan, yang merupakan sahabat lamanya. Tiga orang yang sejak muda telah akrab dengan Joko Tingkir, ketika masih menjadi murid Ki Ageng Selo. Tiga orang yang kemudian sama-sama menjadi tamtama di Demak, yang dikenal sebagai Ki Juru Mertani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Penjawi.

Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan adalah cucu Ki Ageng Selo, yang sempat kecewa pada Demak karena pernah ditolak Raden Patah menjadi pasukan pengawal kerajaan. Sementara Ki Penjawi adalah anak Ki Ageng Ngrawa, yang diangkat anak oleh Ki Ageng Ngenis, ayah Ki Ageng Pemanahan.

Sedangkan Joko Tingkir adalah anak Ki Ageng Pengging, yang diasuh oleh janda Ki Ageng Tingkir. Yang setelah remaja menjadi murid Ki Ageng Selo.

Bertemunya cucu-cucu Ki Ageng Selo dan anak Ki Ageng Pengging benar-benar membuat Sunan Kudus melihat Demak akan semakin suram. Kerja para ulama untuk mengislamkan Tanah Jawa sejak jaman Maulana Malik Ibrahim akan ternodai dengan dikukuhkannya ajaran Syekh Siti Jenar sebagai landasan pemerintahan.

Penangsang pun diperintah untuk menyelamatkan takhta Demak.

Namun dalam perebutan takhta itu, Penangsang mengalami kekalahan.

Joko Tingkir dengan penuh kelicikan mampu membunuh Penangsang dari belakang.

Sejak itu Demak runtuh sebagai sebuah kekhalifahan di Tanah Jawa. Pusat pemerintahan pun dipindah dari pesisir utara ke pedalaman selatan. Sebuah pemikiran Mas Karebet untuk menghidupkan kembali keraton Pengging, istana peninggalan kakeknya, Prabu Handayaningrat, telah terlaksana. Dan ajaran Syekh Siti Jenar, ajaran peninggalan guru ayahnya, Ki Ageng Pengging pun berkembang dengan luasnya, karena telah dijadikan sebagai ajaran negara.

Joko Tingkir yang naik takhta menjadi Sultan Demak, meminta Pangeran Karanggayam untuk menuliskan kisahnya. Kisah yang menjadi cikal bakal tersusunnya Babad Tanah Jawi. Kitab yang sampai sekarang dianggap orang sebagai buku sejarah Tanah Jawa, sejak Nabi Adam hingga era Kartasura.

Babad Tanah Jawi lah yang telah berhasil memutihkan semua hitamnya Joko Tingkir

Dan sebagai pihak yang kalah, Penangsang pun dihitamkan dari sejarah.

Dari rangkaian panjang itu, maka kutemukan jawaban untuk pertanyaanku yang pertama. Bahwa aku meragukan Penangsang, yang merupakan jagonya Sunan Kudus, demikian jelek perangainya.

Maka bukan tidak mungkin, jeleknya Penangsang adalah hasil dari politik kampanye hitamnya Joko Tingkir belaka. Untuk menutupi kejelekannya sendiri.

Karena bagaimana pun, babad adalah sebuah pujasastra. Sebuah karya yang dimaksudkan sebagai bentuk legitimasi dari para penguasa. Ketika Joko Tingkir yang menang, maka Penangsang lah yang dijelekkan.

Maka sepertinya tak salah komentar Prof. Dr. Hasanu Simon pada cover novelku.

Penulis buku best seller ‘Misteri Syekh Siti Jenar’ itu memberikan endorsement,  “Seperti hendak membalik kisah Babad Tanah Jawi. Haryo Penangsang dalam novel ini adalah sosok pemberani. Pembela kebenaran dan keadilan. Serta penganut ajaran Islam yang bersih. Sekaligus penentang sinkretisme di tanah Jawa yang gigih.”

Jadi sekali lagi, menirukan ucapan Gusti Puger, “Penangsang bukanlah pemberontak!”

oleh Nassirun Purwokartun pada 5 Februari 2011 pukul 22:55

Catatan Kaki 47: Menafsir Ulang Joko Tingkir Sang Pemenang

Standar

di petilasan Pajang, keraton Joko Tingkir setelah memindahkan takhta dari Kesultanan Demak.

Aku menulis novel Penangsang, bermula dari rasa penasaran.

Kok bisa, keraton Solo yang konon kelanjutan dari Kesultanan Demak, kekhalifahan Islam di Tanah Jawa, hanya menyisakan sinkretisme-nya saja. Demikian pula dengan keraton lainnya, yakni Kesultanan Jogja, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran.

Sama sekali tak ada warna Islam yang lurus yang bisa kutemui di sana. Benar-benar bertolak belakang dengan yang kupahami dari kisah awal Maulana Malik Ibrahim, ketika pertama kali datang ke Jawa. Ketika bersama 8 ulama lainnya, sebagai utusan Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki yang datang di akhir kekuasaan Majapahit di tangan Wikramawardhana. Juga para ulama Wali Songo yang melanjutkan tugas sucinya, menyebarkan Islam sebagai jalan keselamatan yang anti kemistikan.

Karena penasaran itulah, aku menjadi rakus terhadap bacaan yang berkisah tentang sejarah Jawa. Bermacam serat dan babad aku lahap, untuk memenuhi dahaga atas keingintahuan itu. Aku pun menjadi banyak datang ke teman-teman yang mempunyai minat serupa. Para pemerhati sejarah Jawa dan beberapa budayawan.

Dan setelah banyak membaca juga diskusi dengan mereka, aku temukanlah dugaan sementara. Semua bermula sejak wafatnya Sultan Trenggono yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Sunan Prawoto. Namun tak lama, karena raja yang buta dan sakit-sakitan itu pun wafat setelah berkuasa selama 3 tahun. Dan kekuasaan yang kosong itu digantikan oleh Joko Tingkir, sang menantu Sultan Trenggono.

Sejak itulah, semangat Demak sebagai kekhalifahan Islam sebagaimana amanat suci Sunan Ampel telah hilang. Bahkan kekuasaan sebagai kerajaan maritim pun runtuh ketika dipindahkan ke Pajang, yang berada di pedalaman selatan Jawa.

Pada masa kerajaan Pajang itulah, kemurnian Islam mulai bercampur dengan budaya lama yang telah mengakar di Jawa. Hingga Islam yang berkembang di Jawa bukanlah Islam murni, seperti yang pertama kali disebarkan oleh Walisongo.

Bahkan yang menyedihkan pula, kisah para ulama penyebar agama Islam itupun tak lepas dari pengaruh itu. Bahkan sampai hari ini, yang terkenal dari kisah para wali adalah kehebatannya yang sering kali lebih berbau mistik bercampur takhayul. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan kisah awal perkembangan Islam di Indonesia, sebagai sebuah agama yang sangat keras menentang kemusyrikan.

Kita lebih mengenal sosok-sosok para ulama penyebar Islam itu sebagai pendekar tanpa tanding, yang kisah hidupnya sarat kemistikan. Kisah Sunan Kalijogo, yang tertanam di benak kita adalah karena beliau sangat setia menjaga tongkat gurunya, Sunan Bonang di sebuah tepian kali. Hingga ditumbuhi semak belukar yang menutupi seluruh tubuhnya selama sekian lama, karena sang guru terlupa menjenguknya. Dari kisah itulah muncul nama Kalijaga, karena sang Sunan belajar Islam diawali dari menjaga kali.

Begitupun dengan kisah para sunan lainnya. Seperti Sunan Giri yang menghadapi serbuan prajurit majapahit hanya dengan sebilah pena. Dari pena yang dilemparkan bisa berubah menjadi keris sakti yang berputar kencang menghancurkan wadyabala Majapahit. Keris yang berputar itu kemudian dikenal sebagai Keris Kolomunyeng. Bahkan juga Sunan Ampel yang mempunyai pembantu, yang bisa menentukan arah masjid Ampel dengan mengintip dari lubang angin ke arah Makkah.

Dan hampir semua kisah para Sunan tak pernah lepas dari mitos yang melingkupinya. Dengan cerita mistik yang melengkapi kehebatannya. Padahal mestinya, tidak seperti itu adanya, karena Islam adalah agama lurus yang menentang kemistikan. Sebab Rasulullah sendiri, sang pembawa risalah Islam tidak mengenal mistik. Dalam bermacam kisah peperangan yang dipimpinnya, tak pernah bertindak di luar kehebatan manusiawi. Maka beliau pun terluka ketika berdakwah di Tho’if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang Uhud.

Hingga makin mantaplah aku ingin menuliskan Penangsang, karena kebetulan ia adalah murid Sunan Kudus, seorang ulama yang dikenal tegas dan lurus. Seorang ulama ahli fikih, ahli ekonomi, ahli perang, dan ahli pemerintahan, yang juga seorang saudagar kaya. Jadi bertemulah penasaran pada kisah di seputar Penangsang yang meragukan, dengan semangat ingin menceritakan kisah wali yang terbebas dari kisah-kisah mistik.

Maka penelusuran pun dilanjutkan. Hingga bertemu pada sosok Joko Tingkir, yang dalam perbincangan kami menjadi titik kunci awal mula kekisruhan di Demak. Yang membuat kekhalifahan Islam Demak berubah menjadi sebuah kerajaan yang sarat dengan pencampuradukan ajaran Islam dan budaya lama. Yang ternyata itu berlanjut hingga kini, sepanjang hampir lima abad lamanya.

Maka aku pun tertarik mengamati sosok Joko Tingkir, karena dialah orang yang telah menyingkirkan Penangsang dalam perebutan takhta Demak.

Sebab kalau ditelusuri, sesungguhnya sebuah keanehan telah terjadi di akhir keruntuhan Demak. Ketika Sunan Prawoto wafat, Joko Tingkir yang hanya seorang menantu bisa naik takhta melanjutkan kakak iparnya. Karena mestinya yang menjadi Sultan adalah anak cucu Raden Patah. Yang di dalamnya ada nama Penangsang.

Secara hak, Penangsang lebih tepat menggantikan Sunan Prawoto, karena dia adalah anak dari Pangeran Sekar Sedo Lepen. Penangsang adalah cucu dari Raden Patah, Sultan pertama Demak yang berhasil mengokohkan kekhalifahan Islam di tanah Jawa.

Namun dengan naiknya Joko Tingkir menjadi raja, Penangsang sang pewaris syah atas takhta Demak pun terpinggirkan. Mengikuti nasib Sunan Kudus, gurunya yang juga pemimpin Dewan Wali, yang telah lebih dulu terkucilkan dari Kesultanan.

Padahal jauh-jauh hari, Sunan Kudus sebenarnya telah lama mencium gelagat masuknya Joko Tingkir dalam keluarga Kesultanan Demak, yang menurutnya bukan tanpa alasan.

Pada masa lalu, kakek Joko Tingkir yang bernama prabu Handayaningrat menolak tunduk pada Demak di masa pemerintahan Raden Patah. Penguasa keraton Pengging itu bersekutu dengan Girindrawardhana, penguasa Majapahit untuk menghancurkan Demak. Dalam pertempuran itu, prabu Handayaningrat yang juga menantu Prabu Kertabumi, terbunuh oleh Sunan Kudus, yang saat itu menjabat panglima perang Demak.

Setelah terbunuhnya Handayaningrat, anaknya yang bernama Kebo Kenongo menjadi penerus takhta Pengging. Namun ia berbeda dengan ayahnya yang tak mau masuk Islam. Kebo Kenongo bersedia masuk Islam. Namun belum lama belajar pada Sunan Bonang, ia tertarik pada ajaran Syekh Siti Jenar. Kebo Kenongo yang telah menjadi murid Syekh Siti Jenar itu pun mengganti namanya dengan sebutan Ki Ageng Pengging.

Dan Ki Ageng Pengging pun mengikuti jejak ayahnya, yang tak mau tunduk pada Demak. Bahkan melecehkan musyawarah ulama Waliyyul Amri, yang telah menyatakan pemahaman Syekh Siti Jenar sebagai ajaran sesat.

Ki Ageng Pengging menggalang kekuatan 40 murid Syekh Siti Jenar, untuk tetap menyebarkan ajaran manunggaling kawulo gusti. Maka Sunan Giri sebagai pemimpin Waliyyul Amri menjatuhkan hukuman mati padanya. Sunan Kudus yang diberi amanah menjatuhkan hukuman pada sang pemimpin padepokan Pengging itu. Sebuah nasib yang sama seperti gurunya, Syekh Siti Jenar yang juga telah dijatuhi hukuman mati. Dan yang menjadi pelaksananya pun Sunan Kudus juga.

Setelah meninggalnya Ki Ageng Pengging, sang anak yang masih bayi diasuh dan dirawat oleh keluarga Ki Ageng Tingkir. Bayi bernama Mas Karebet itu pun kemudian lebih dikenal sebagai Joko Tingkir. Dalam asuhannya, ia banyak mendapat pelajaran dari Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan Ki Ageng Banyubiru. Para guru yang juga adalah sahabat Ki Ageng Pengging, sebagai sesama murid Syekh Siti Jenar. Hingga dipastikan bahwa Joko Tingkir dibesarkan dalam ajaran manunggaling kawulo gusti.

Setelah remaja, Joko Tingkir masuk Kesultanan Demak, dengan diawali sebagai prajurit pengawal Sultan. Kemudian naik pangkat menjadi pemimpin prajurit tamtama. Hingga bisa mempersunting putri Sultan Trenggono, dan diberikan takhta menjadi adipati Pajang.

Kecurigaan Sunan Kudus terbukti, ketika Joko Tingkir menjadi adipati Pajang, ia yang merupakan bawahan Demak tak melakukan ajaran Islam secara murni. Yang dikembangkannya di Pajang adalah ajaran Syekh Siti Jenar.

Maka kalau Joko Tingkir menjadi raja Demak, sudah pasti kebijakan Kesultanan Demak pun akan dibawa seperti kebijakannya di kadipaten Jipang. Kesultanan Demak yang berlandaskan islam akan terwarnai dengan pemahaman manunggaling kawulo gusti.

Sunan Kudus pun mendukung Penangsang untuk merebut takhta Demak. Pemimpin Waliyyul Amri itu ingin mengembalikan Demak sebagaimana ketika awal mula diririkan. Menjadi penerus amanat suci Sunan Ampel untuk mengukuhkan Islam dengan jalur kekuasaan. Di samping dengan jalan pendidikan yang telah ditempuh dengan banyaknya didirikan pesantren oleh para wali. Seperti pesantren Ampeldenta, pesantren Girikedaton, pesantren Glagahwangi, pesantren Panti Kudus, dan juga pesantren Gunung Jati.

Maka dengan naiknya Joko Tingkir menjadi raja Demak, Sunan Kudus sangat khawatir kemurnian dakwah Islam di Tanah Jawa akan semakin terancam. Karena itu pula, Penangsang pun melawan. Ia tak mau tunduk pada kekuasaan Joko Tingkir.

Namun dengan penuh kelicikan, Penangsang akhirnya berhasil dimusnahkan. Dan Sunan Kudus pun semakin tersingkir dan terpinggkirkan.

Maka sejak itu, Demak pun runtuh. Tak ada lagi kekhalifahan Islam di tanah Jawa.

Itulah dugaan sementara yang kudapatkan. Yang sedikit mampu mengobati rasa penasaranku. Dan penasaran itu kini telah kutuliskan dalam novel panjang yang telah masuk jilid ke dua. Semoga bermanfaat untuk membuka wawasan kita bersama.

Bismillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 5 Februari 2011 pukul 19:04

Catatan Kaki 46: Inilah Kidung Senjakala, Ketika Umara Tidak Tunduk Pada Ulama!

Standar

 di belakang masjid demak, situs yang tersisa dari kebesaran kesultanan demak bintoro, terbaring tiga makam sultan: raden patah, pati unus, dan trenggono!

“Datanya hebat, Mas. Nggak nyangka, namanya Purwokartun, tapi novelnya dahsyat dan sangat berat! Benar kata Langit Kresna Hariadi, novel ini seperti disertasi.”

Pagi itu, seseorang yang mengaku baru saja selesai membaca novel Penangsang, langsung menelponku. Sepanjang pembicaraan, aku hanya diam mendengarkan. Dan sepertinya ia terprovokasi endorsment Langit Kresna Hariadi, novelis best seller Gajah Mada itu.

Sejenak aku jadi teringat seorang temanku yang lain. Yang sempat memberikan tanggapan sebelum novelku diterbitkan. Katanya, “Novelmu ini sangat berat, sarat semangat. Kayaknya mending penulisnya jangan pakai nama NasSirun PurwOkartun. Biar warna sejarahnya ikut terangkat. Pakai nama asli saja, Nasirun Wijaya!”

Aku tersenyum. Namun seminggu kemudian, usul itu mengganggu benakku. Sempat membuatku ragu, apakah tetap pakai nama PurwOkartun ataukah meninggalkannya.

Karena bingung, aku pun minta pendapat Ummi. Setelah menimbang dan memerhatikan (hehehehe), akhirnya kami memutuskan. Mantap tetap memakai nama PurwOkartun!

Alasan Ummi, karena selama ini aku sudah terlanjur memakai nama itu. Meski pun tidak terkenal-terkenal amat, tapi paling tidak ada satu dua orang yang telah mengenalku. Hingga kalau mereka melihat novelku nanti, pasti langsung mengingat nama itu. Sementara kalau pakai nama asli, malah jadi asing, dan tak ada satu pun yang mengenali. Mungkin yang tahu nama Nasirun Wijaya, hanya orang tua, pak RT, dan Ummi saja.

Sedangkan alasan kedua datang dariku. Sebagai penulis sajakkartun, sekali-sekali pengin juga menghayati hasil karyanya. “Buah manggis buah kedondong, seorang kartunis boleh serius dong?” Buah manggis rasanya manis, enak juga kalau dibikin jus, seorang kartunis boleh dong jadi novelis, apalagi kalau novelnya berat dan serius. Hehehe.

Maka kemudian nama PurwOkartun pun terpasang di novelku. Novel yang berusaha untuk menawarkan tafsir ulang tentang sejarah Penangsang. Novel yang berawal dari rasa penasaran pada kisah tragis dan konflik yang melengkapinya. Penasaran yang bermula dari sebuah pagelaran kethoprak tobong, pada 20 tahun silam.

Penasaran masa kecil yang terus menguntit hingga aku remaja, bahkan setelah dewasa.

Entah mengapa, ada pertanyaan yang selalu berkembang dan tak juga mendapatkan jawaban memuaskan, meski bermacam buku telah tuntas kubaca. Ada penasaran yang kemudian berbuah curiga, hingga berujung pada rasa tidak percaya. Aku menyangsikan bahwa begitulah yang sebenarnya terjadi, pada kisah di seputar Penangsang.

Penasaran dan pertanyaan itu pada mulanya hanya ada dua.

Satu, apakah mungkin sosok Sultan yang dijagokan oleh Sunan Kudus, sebagai ulama ahli fikih yang dikenal lurus aqidahnya adalah seorang pribadi yang berangasan?

Dua. Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah pecahan dari Kerajaan Mataram Islam, selain Pura Pakualaman Jogja dan Pura Mangkunegaran Solo. Sedangkan Mataram Islam adalah kelanjutan dari Kesultanan Pajang, yang merupakan peralihan dari Demak Bintoro. Padahal Kesultanan Demak adalah pemerintahan yang didirikan oleh para ulama untuk menyebarkan Islam lewat jalan kekuasaan. Namun mengapa justru sinkretisme yang begitu kental yang tersisa, pada keempat keraton tersebut?

Dan dalam proses pencarian, ternyata jawaban atas pertanyaan kedualah yang justru pertama kutemukan. Yakni ketika kuurut jauh ke belakang, ke masa sandyakalaning Majapahit. Ketika kerajaan besar itu runtuh dan Demak muncul menggantikan.

Bahwa Kesultanan Demak adalah sebuah kekhalifahan Islam yang didirikan oleh 13 murid Sunan Ampel, sebagai kelanjutan dakwah Maulana Malik Ibrahim. Sebuah amanat suci untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa dengan jalur kekuasaan. Dan untuk menjaga agar kebijakan penguasa tidak melenceng dari aturan hukum-hukum agama, dibentuklah musyawarah Waliyyul Amri, yang menjadi cikal bakal sebutan Wali Songo.

Sebagai pemegang pemerintahan, diberikan amanah pada Sunan Demak, yang kemudian dikenal sebagai Raden Patah. Kesepakatan ini dibuat, karena Raden Patah adalah anak dari Prabu Kertabumi, raja Majapahit. Sebuah kebutuhan legitimasi bagi rakyat Tanah Jawa atas berdirinya kerajaan baru setelah keruntuhan Majapahit. Selain itu, Raden Patah juga merupakan murid utama sekaligus menantu Sunan Ampel.

Sedangkan sebagai pemimpin Waliyyul Amri yang bertugas menjadi penasehat Kesultanan, dimandatkan pada Sunan Giri. Seorang ulama yang dikenal sebagai mufti Tanah Jawa, yang merupakan anak Sunan Ampel sendiri.

Kekhalifahan Islam pun berdiri tegak sebagai penopang penyebaran Islam di Tanah Jawa. Namun kemesraan antara pemegang kekuasaan dan penasehatnya hanya berumur setengah abad. Hubungan umaro sebagai panotoprojo dan ulama sebagai panotogomo mulai merenggang dengan beralihnya generasi, setelah wafatnya Raden Patah.

Awal kerenggangan itu bermula ketika Sultan Trenggono naik takhta.

Anak Raden Patah yang naik takhta menggantikan sang adik, Pati Unus, ini lebih condong pada pendapat mertuanya, Sunan Kalijogo, daripada kesepakatan musyawarah Dewan Wali di bawah pimpinan Sunan Bonang. Sebuah perbedaan pendapat, yang menjadi sebab sang pemimpin Dewan Wali meletakkan jabatannya sebagai penasehat Kesultanan.

Sunan Bonang memilih mundur dari jalan dakwah lewat kekuasaan, dengan beralih cara menjadi seorang pujangga. Sunan Bonang pun pamit dari Demak, dan menetap di Tuban hingga akhir hayatnya. Dari tangannya banyak menghasilkan karya-karya seni sastra yang sarat perenungan tentang ketuhanan. Salah satu yang paling terkenal adalah Suluk Wujil yang indah dan dalam penuturannya, tentang hakikat ketuhanan. Serta  tembang ‘Tombo Ati’ yang sampai sekarang masih sering dinyanyikan orang.

Sepeninggal Sunan Bonang, jabatan penghulu Waliyyul Amri diberikan pada Sunan Kudus, yang tak lain adalah menantunya. Namun jumlah ulama penasehat Kesultanan telah berkurang, dengan meninggalnya Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Hanya tersisa Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijogo, dan Sunan Muria.

Secara pemahaman, hanya Sunan Gunung Jati lah yang sepemikiran dengan Sunan Kudus. Sunan Gunung Jati adalah ulama Samudra Pasai ahli fikih, seperti juga Sunan Kudus yang keturunan Sayyid Usman Haji, ulama Palestina. Kedua ulama inilah yang berkeras agar kemurnian Islam disebarkan di Tanah Jawa, seperti amanat Sunan Ampel.

Namun Sunan Kalijogo menentangnya. Karena menurutnya, yang penting ajaran Islam menyebar terlebih dahulu hingga seluruh pelosok Tanah Jawa. Asal seluruh rakyat Jawa telah beralih keyakinan, sementara pemurnian pemahaman dikerjakan belakangan. Maka dipakailah jalan kebudayaan untuk memasukan ajaran Islam. Pemahaman yang mendapat dukungan dari Sunan Muria, yang tak lain adalah anak Sunan Kalijogo.

Dalam keadaan terjepit, Sunan Kudus sebagai penghulu Waliyyul Amri tak bisa lagi menyampaikan pendapatnya. Karena Sultan Trenggono pun lebih condong pada pendapat Sunan Kalijogo. Menurutnya, sang mertua lebih paham tentang Tanah Jawa, karena Sunan Kalijogo adalah putra mahkota Tuban. Ia lebih berdarah ningrat Majapahit daripada Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati yang datang dari luar Jawa.

Puncak pertentangan ketika Sunan Kudus pun mundur pelan-pelan dari Kesultanan Demak. Ia tak ingin di Waliyyul Amri terlihat seperti ada matahari kembar. Ulama Palestina itu minggir ke Tajug dengan membangun kota santri, yang sekarang dikenal sebagai Kudus. Ia lebih banyak mencurahkan pikirannya, membentuk pemerintahan yang benar-benar islami dengan menetap di Kudus. Dan menjadi penasehat kadipaten Jipang yang dipimpin oleh murid tercintanya, Haryo Penangsang.

Kebijakan Demak pun berada dalam kekuasaan Sunan Kalijogo. Sunan Gunung Jati tak bisa berbuat banyak. Setelah menaklukan Banten, Sunda Kelapa, dan Pajajaran, ia menetap di Cirebon. Melanjutkan dakwah mertuanya, Susuhunan Jati.

Demak pun mulai melenceng dari niatan semula, seperti cita-cita Sunan Ampel. Kebijakan Demak semakin menjauh dari nasehat para ulama. Sementara perseteruan diam-diam antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijogo pun semakin meruncing.

Dan permusuhan itu pun semakin nampak dengan meninggalnya Sultan Trenggono.

Sunan Kudus menjagokan Penangsang, sang adipati Jipang untuk menjadi Sultan Demak keempat. Di matanya, Penangsang adalah sosok yang pantas menjadi pengemban amanah Waliyyul Amri untuk mengembalikan Demak sebagai kekhalifahan Islam di Tanah Jawa. Ia pun mendapat dukungan dari Sunan Gunung Jati.

Namun Sunan Kalijogo lebih menjagokan Prawoto, anak Sultan Trenggono yang tak lain adalah cucunya. Ibu Prawoto yang diperistri Trenggono adalah anak Sunan Kalijogo. Pendapat ini mendapatkan dukungan dari Sunan Muria.

Menurut Sunan Kudus, Prawoto tak layak menjadi Sultan Demak, karena di masa lalu ia terlibat pembunuhan pamannya, Pangeran Sekar. Selain itu Prawoto juga seorang yang buta dan sakit-sakitan. Seorang Sultan yang lemah tak akan menjadikan Demak sebagai pemerintahan yang kuat.

Sementara menurut Sunan Kalijogo, Penangsang juga tak layak, karena ia tidak akan membawa kemajuan bagi Demak. Dengan penyebaran Islam yang tak menyatu dengan kebudayaan pedalaman, akan menyebabkan Islam hanya berkembang di daerah pesisir. Seperti yang telah terjadi dalam pemerintahan Raden Patah dan Pati Unus.

Namun dalam pertarungan itu, akhirnya Prawoto lah yang menjadi Sultan Demak.

Sunan Kudus pun semakin terdesak, bahkan Waliyyul Amri terancam dibubarkan.

Sebuah tragedi yang sekarang mendadak kurenungkan terjadi hari ini pada negeri ini. Ketika para pemuka agama telah mengingatkan para pemimpin yang sering berbohong pada rakyatnya. Namun nasihat itu diabaikan dengan bermacam alasan bahkan cemoohan.

Maka aku pun terkenang pada sandyakalaning Demak Bintoro. Ketika umara (pemimpin) tak lagi tunduk pada ulama, maka keruntuhan tengah membayanginya.

Dan inilah mungkin kidung senjakala. Sebuah kidung yang ditulis oleh seorang yang kadang tak dipercaya, “Kartunis kok nulis novel sejarah!”

Ya sudah!

(Inipun catatan kaki senja kala juga. Karena kutulis di saat senja. Karena sejak kemarin laptop error, dan komputer ikutan hank. Hingga baru tadi siang komputer bisa dipakai. Sementara laptop, katanya masih menunggu 3 hari lagi. Ya sudah, tidak jadi Thukul lagi yang  kembali ke laptop. Mulai hari ini aku kembali ke komputer!)

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Februari 2011 pukul 22:32

Catatan Kaki 45: Pada Mulanya adalah Kethoprak Tobong!

Standar

terima kasih pada Anif Sirsaeba El Zhirazy yang telah memberi judul “Tembang Rindu Dendam” pada sekuel pertama PENANGSANG!

“Kang Nas kok bisa nulis novel begini tebal?”

Seorang teman pernah bertanya, ketika ia datang dalam acara bedah bukuku. Novel Penangsang jilid pertama, yang kuberi judul ‘Tembang Rindu Dendam’.

Dia merasa aneh, karena katanya,”  Selama ini aku mengenal Kang Nas sebagai tukang pembuat ketawa dengan kartun-kartun dan sajakkartun saja. Kok sekarang tiba-tiba menulis novel panjang yang berat dan serius sekaligus sangat tebal. Apalagi novel tentang sejarah Tanah Jawa yang juga mempunyai nilai kontroversial.”

Mendengar keheranannya itu, aku pun menanggapi dengan senyuman saja, “Wong aku sendiri juga tidak nyangka, mas. Kok aku bisa seserius itu ya? Hehehehe.”

Dan memang begitulah sesungguhnya. Karena selama ini, aku menulis hanya berupa puisi lucu-lucuan yang tak berarti dan remeh temeh belaka. Bukan sesuatu yang bermutu atau serius, yang dalam penulisannya membutuhkan penelitian serta riset panjang.

Maka kalau sampai membuat novel dengan ketebalan 700an halaman, dan ditulis selama 4 bulan, aku pun masih sering tidak percaya. Dan ketidakpercayaan itu ternyata sekarang berulang. Ketika naskah Penangsang jilid ke 2 yang sedang kuselesaikan, malah melonjak menjadi  800 halaman.

Namun itulah yang terjadi. Novel pertama itu telah terbit. Mendapat sambutan hangat dari para pembaca. Rata-rata menyampaikan salut atas keberanian mengungkap sejarah yang selama ini masih remang-remang. Dan dengan dukungan literatur yang banyak, hingga hampir tiap halaman terdapat footnote. Sebuah novel yang,  menurut mereka, kaya dengan pengetahuan sejarah dan budaya, hingga mampu memperluas wawasan pembacanya.

Bahkan ada yang menyejajarkan dengan karya Pramoedya dan ‘Mushashi’nya Eiji Yoshikawa. Sebuah sanjungan yang berlebihan, sebab dua nama itu adalah maestro sastra dunia. Sedangkan aku, masih benar-benar berada pada tahap belajar di tingkat dasar.

Namun terlepas dari itu semua, aku ingin sedikit bercerita di balik penulisan novel yang sesungguhnya. Bahwa novel itu memang kutulis dalam waktu 4 bulan. Tapi sebenarnya, proses di belakangnya sangatlah panjang. Bahkan untuk sekadar mengumpulkan keberanian saja, aku butuh mencari dukungan sejarawan, budayawan, dan kerabat keraton. Sekaligus mengumpulkan data-data sejarahnya, hingga membutuhkan waktu lebih dari lima tahun, sampai dengan yakin untuk memulai menuliskannya.

Semua kulakukan, karena yang kutulis adalah semangat untuk membalik pemahaman yang selama ini sudah tertanam. Bahwa Penangsang, sosok yang sekian lama dikenal sebagai antagonis, dalam novelku kuceritakan sangat berkebalikan. Menjadi sosok protagonis, bahkan bisa menjadi anutan. Suatu usaha menawarkan alternatif pembacaan kitab sejarah, yang seperti memutihkan yang telah dihitamkan.

Sementara sosok yang sekian lama dikenal sebagai protagonis, dalam ceritaku menjadi tokoh antagonis. Benar-benar sangat berkebalikan dengan pemahaman banyak orang. Namun memang itulah yang ingin kuungkap. Bahwa kecurigaanku, ada sesuatu yang sengaja dikaburkan dalam kisah Babad Tanah Jawi. Sesuatu yang tidak dituliskan sebagaimana apa adanya. Tidak yang sebenarnya, melainkan sebagaimana yang diinginkan penguasa yang kala itu memenangkan perebutan takhta.

Maka novel yang kutulis ini, secara isi memang sangat berat dan serius. Namun aku sangat semangat menuliskannya. Karena semua didasari pada ‘dendam’ lama. Pada penasaran yang terpendam 20 tahun lamanya.Yang itu semua bermula ketika aku kecil dulu. Yang sangat suka menonton kethoprak.

Waktu SD, ada rombongan kethoprak tobong yang berbulan-bulan menetap di desaku. Tiap malam mereka memanggungkan lakon-lakon cerita yang berlatarkan sejarah. Dan sepertinya, itulah pelajaran sejarah yang sangat mengena di otak dan hatiku, daripada yang tercatat dalam buku-buku pelajaran sekolah.

Dengan di-kethoprak-kan, semua rangkaian kronik sejarah sejak jaman Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, hingga Mataram menjadi mudah dicerna. Intrik kekuasaan dan konflik berdarah sejak Ken Arok hingga Trunojoyo sangat membekas dalam benak kecilku, yang waktu itu baru naik kelas 4 SD.

Hingga bisa dikatakan, kethoprak benar-benar menjadi hiburan yang mencerdaskan untuk otakku, yang memang tak akrab dengan televisi. Rumahku baru pasang listrik ketika aku kelas 6 SD. Dan tak punya televisi, hingga aku remaja, bahkan sampai dewasa.

Karena itulah, aku pun menjadi penonton setia kethoprak setiap malam.

Dengan modal nekat, karena memang tak pernah punya uang untuk membeli karcis. Namun demikian, aku tetap selalu bisa menonton dengan caraku sendiri. Kadang dengan mendompleng orang, tak jarang pula dengan menelusup dari belakang panggung.

Setiap loket mulai dibuka, aku memerhatikan orang-orang yang membeli karci. Kalau ada mereka yang membeli karcis sendirian, tidak membawa istri atau anak, aku langsung mendekatinya. Kusampaikan maksudku, untuk ndompleng karcisnya dan dianggap sebagai anaknya atau keponakannya. Dengan dituntun dan berjalan bersamanya, aku pun bisa masuk tanpa bayar. Sampai di dalam, aku berpisah dengan orang itu. Berkumpul dengan kawan-kawanku yang telah ndompleng orang duluan.

Sering pula dengan teman-teman yang nekad dan berani, aku harus main kucing-kucingan dengan petugas hansip. Yaitu masuk dengan cara menyelinap diam-diam dari belakang tobong. Pagar keliling lapangan yang terbuat dari terpal, kami singkap ke atas seukuran badan, untuk bisa mblodos masuk ke dalam. Satu per satu anak-anak masuk, sementara yang paling berani masuk terakhir, untuk melihat-lihat keadaan.

Entah mengapa ada kebanggaan luar biasa ketika berhasil masuk tanpa karcis dengan mblodos, daripada numpang masuk dengan karcis orang. Kebahagiaannya lebih terasa di dada, dan tertawanya ketika bertemu teman lain di dalam juga lebih lebar. Apalagi kalau sempat sport jantung karena hampir kena pentungan hansip sebelumnya.

Dan di antara lakon-lakon yang dipentaskan hingga tengah malam itu, adalah kisah Haryo Penangsang yang paling membetot emosiku.

Kisah yang bercerita tentang perebutan takhta antara keturunan Raden Patah. Kisah yang penuh intrik, yang kemudian (menurutku!) menjadi pangkal semua keruwetan dakwah Islam di Tanah Jawa.

Dalam panggung kethoprak, sosok Penangsang adalah orang yang gila kekuasaan dan berangasan. Hatinya panas dan jiwanya mudah marah. Dan itulah yang menjadi penyebab kekalahan, bahkan kemudian kematiannya. Sementara Mas Karebet adalah seorang pemimpin bijak dan berjiwa arif. Seorang tokoh yang kemudian menjadi pemenang dalam pertarungan melawan Penangsang.

Pemeran Penangsang selalu melotot matanya, merah wajahnya, keras tertawanya, dan berteriak membentak setiap berkata. Sebuah pancaran wajah yang garang dengan kumis lebat melintang. Sedangkan pemain Mas Karebet selalu teduh pandangannya, cerah wajahnya, senyumnya berwibawa, kata-katanya pelan dan dalam, serta lemah lembut perangainya.

Sebuah watak hitam putih yang diterjemahkan langsung dari Babad Tanah Jawi.

“Watakipoen arja penangsang sanget ing wanteripoen sarta panasbaran.”

Sifat Haryo Penangsang sangat mudah marah dan pemberang. Demikianlah Babad Tanah Jawi menggambarkan sosok Penangsang dalam salah satu baitnya.

Sebuah perkataan yang konon berasal dari Ki Juru Mertani, yang sedang bersiasat untuk menjebak Penangsang. Karena Mas Karebet tidak berani melawan Penangsang, maka ia bermain muslihat. Kelemahan Penangsang yang mudah tersulut marahnya, dijadikan pancingan untuk menikamnya dari belakang.

Dan itulah yang terjadi kemudian, kekuatannya kalah karena terpancing amarah. Penangsang pun mati mengenaskan. Ususnya terburai ketika perutnya robek panjang oleh tusukan tombak pendek Kyai Plered yang ditikamkan Sutawijaya. Usus yang kemudian terpotong oleh ketajaman kerisnya sendiri, Kyai Brongot Setan Kober.

Sebuah kematian tragis yang sampai hari ini masih membayang pada penggalan adegan tersebut. Adegan kekalahan jagonya Sunan Kudus yang terus menguntitku hingga dewasa. Yang menggangguku dengan bermacam penasaran dan rasa curiga.

Dan setelah berjarak 20 tahun dari pemanggungan kethoprak malam itu, aku baru bisa merasa lega setelah berhasil menuliskannya. Mengisahkan dengan menawarkan tafsir ulang yang berbeda dengan pemahaman yang selama ini ada di benak orang Jawa .

Maka dengan ditulisnya kisah panjang Penangsang ini, sebenarnya sebuah usaha mengengang kembali pada masa kecilku dulu. Waktu aku merasa sangat bahagia tiap kali bisa mblodos dari belakang panggung kethoprak tobong.

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 Februari 2011 pukul 22:26